• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN

3.2. Analisa dan Pembahasan Tugas Khusus

3.2.1. Latar Belakang

PT Madubaru yang terletak di Kabupaten Bantul Jawa Tengah merupakan sebuah pabrik gula dan pabrik alkohol yang didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada tahun 1955. PT Madubaru telah memproduksi gula sejak tahun 1958 dan produksi alkohol atau spirtus sejak tahun 1959. Pembangunan pabrik gula ini bertujuan supaya dapat memenuhi kebutuhan bahan pokok gula masyarakat yogyakarta, membuka lapangan pekerjaan, hingga sebagai sarana edukasi. Pada awal beroperasi, PT Madubaru atau biasa disebut sebagai PG Madukismo memiliki kapasitas sebesar 1110 TCD dan terus mengalami kenaikan hingga saat ini kapasitasnya mencapai 3500 TCD. Sedangkan untuk produksi awal spirtus kapasitasnya sebesar 15.000 liter/ hari dan terus meningkat hingga saat ini mencapai 25.000 liter/ hari. Masa produksi pabrik berlangsung selama 5-6 bulan dan beroperasi secara continue atau selama 24 jam/ hari dengan produk gula SHS (Super High Sugar) I dengan kapasitas produksi mencapai 40.000 ton/ tahun.

PT Madubaru terus beroperasi selama 24 jam/ hari, oleh karena itu jumlah pasokan tebu atau jumlah bahan baku utama harus dipastikan dapat memenuhi kebutuhan tebu per harinya. Proses produksi yang berjalan secara continue di PT Madubaru menggunakan uap panas atau steam dari boiler dengan bahan bakar dari ampas tebu sisa proses penggilingan. Pada tiap proses produksi, harus ada cadangan bahan baku tebu sebanyak 30% dari banyak bahan baku total yang digunakan, hal tersebut dilakukan guna memastikan bahwa ampas yang dihasilkan cukup untuk digunakan sebagai bahan bakar boiler selama 24 jam. Dengan tercukupinya bahan bakar boiler maka tidak memerlukan bahan bakar lain seperti kayu bakar dan minyak yang akan berdampak pada bertambahnya pengeluaran atau cost perusahaan. Steam atau uap yang dihasilkan dari boiler digunakan untuk menggerakkan turbin uap pada

penggilingan serta menghasilkan uap untuk digunakan pada alat proses yang lain seperti pemurnian, kristalisasi, serta penguapan atau evaporasi.

Proses evaporasi atau penguapan adalah salah satu proses yang dilakukan untuk mengurangi kadar air dalam nira mentah, proses penguapan nira mentah menjadi nira kental di PT Madukismo dilakukan pada stasiun penguapan. PT Madubaru memiliki lima unit evaporator yang dipasang secara seri. Uap Bekas yang dihasilkan dari boiler digunakan sebagai uap pemanas pada evaporator I, sedangkan uap pemanas yang digunakan pada evaporator II hingga IV menggunakan uap yang dihasilkan dari evaporator sebelumnya. Nira mentah yang akan diuapkan memiliki %brix sebesar 11- 15% dan output yang harus dicapai di stasiun penguapan adalah nira kental dengan

%brix sebesar 60-65%.

3.2.2. Tujuan

Menghitung neraca massa, neraca panas, serta optimasi desain evaporator di PG Madubaru PT Madukismo.

3.2.3. Tinjauan Pustaka

Evaporator merupakan unit operasi teknik yang berfungsi untuk mengurangi kadar air atau memekatkan larutan yang mengandung zat yang sulit menguap atau non- volatile solute dan pelarut yang mudah menguap atau volatile solvent dengan menguapkan sebagian pelarutnya. Salah satu industri yang menggunakan evaporator untuk proses pemekatan larutannya yaitu industri gula tebu, pabrik gula menggunakan evaporator untuk memekatkan nira mentah atau encer menjadi lebih kental (Kern, 1950).

Dalam proses penguapan di evaporator, panas berupa uap air ditambahkan ke larutan untuk menguapkan air yang terlarut dalam cairan. Pada evaporator terjadi proses pertukaran panas antara cairan dengan uap pemanas. Secara umum alat evaporator ini memiliki beberapa jenis seperti berikut (Geankoplis. C. J dkk, 2018).

A. Jenis-jenis Evaporator

1. Open kettle or pan. Evaporator ini merupakan jenis paling sederhana yang terdiri dari bejana/ketel terbuka di mana cairan didihkan. Panas disuplai oleh uap kondensasi dalam selubung (jaket) atau dari pipa spiral yang dicelupkan. Dalam beberapa kasus, ketel dipanaskan api secara langsung. Kelebihan jenis evaporator ini adalah sederhana dalam pengoperasiannya dan tidak terlalu mahal, namun koefisien perpindahan panas dan luas perpindahan panasnya sangat kecil dikarenakan konveksi natural dan bentuk dari bejana tersebut. Akan tetapi hal

tersebut dapat ditingkatkan dengan penambahan proses pengadukan. Kekurangan lain, adalah penggunaan yang terbatas karena kapasitas penguapan yang rendah.

2. Horizontal-tube natural circulation evaporator. Merupakan evaporator yang telah lama digunakan. Pada evaporator jenis ini larutan yang akan diuapkan berada di luar tabung horizontal dan uap akan mengalir di dalam tabung horizontal. Tabung horizontal akan dikelilingi sirkulasi alami yang berasal dari cairan mendidih sehingga meminimalkan prose pengadukan. Evaporator jenis ini relative murah dan cocok digunakan untuk cairan viskositas rendah dengan koefisien perpindahan panas yang tinggi dan cairan tidak mengendapkan kerak. Selain itu, kekurangan evaporator jenis ini memiliki sirkulasi yang kurang baik sehingga tidak sesuai untuk cairan dengan viskositas tinggi (cairan kental). Dalam hamper banyak kasus, evaporator horizontal dioperasikan secara terus-menerus yakni umpan masuk pada laju konstan dan konsentrat keluar dengan laju konstan.

3. Vertikal-type natural circulation evaporator. Evaporator jenis ini memiliki prinsip kerja berkebalikan dengan jenis horizontal evaporator, dimana dalam prosesnya cairan ada di dalam tabung sedangkan uap mengembun di luar tabung. Evaporator tipe ini tidak digunakan oleh cairan kental atau sering dikenal evaporator tabung pendek. Variasi untuk jenis basket, dimana pipa vertikal digunakan tetapi elemen pemanas ditahan di dalam bejana sehingga ada ruang terbuka berbentuk lingkaran sebagai downcomer. Jenis basket ini banyak diaplikasikan dalam industri garam, gula, dan soda kaustik.

4. Long-tube vertikal-type evaporator. Jenis ini mempunyai koefisien perpindahan panas di uap sangat tinggi dibandingkan dalam evaporating-liquid. Pada tipe vertikal tabung panjang koefisien perpindahan panasnya dapat lebih tinggi, karena pipa-pipa transfer panas dibuat lebih panjang sekitar 3 – 10 meter, dalam proses penguapan cairan berada pada dalam pipa dengan pembentukan gelembung uap di dalam pipa. Umumnya, cairan akan melewati pipa hanya sekali dan tidak menyebar Kembali. Keunggulan dari evaporator jenis ini adalah waktu kontak cairan dan uap bisa sangat rendah. Sehingga kualitas produk yang sensitif panas dapat terjaga.

Dalam beberapa kasus, seperti ketika rasio umpan terhadap laju penguapan rendah, resirkulasi alami produk melalui evaporator dilakukan dengan menambahkan pipa besar yang menghubungkan antara saluran konsentrat outlet dan saluran umpan.

Umumnya evaporator ini digunakan pada industri yang memproduksi susu kental.

5. Falling-film-type evaporator. Salah satu jenis dari evaporator long-tube adalaha falling-film evaporator, dimana cairan diumpankan ke atas tabung dan mengalir ke bawah dinding tabung sebagai film tipis. Pemisahan uap-cair umumnya terjadi pada bagian bawah. Jenis evaporator ini banyak digunakan untuk memusatkan bahan peka panas seperti jus jeruk dan jus buah lainnya, karena waktu tinggal sangat kecil sekitar 5 hingga 10 detik atau lebih, serta koefisien perpindahan panas yang tinggi.

6. Forced-circulation-type evaporator. Dalam perpindahan panas film cair koefisien dapat ditingkatkan dengan pemompaan untuk proses sirkulasi cairan di dalam tabung. hal ini bisa dilakukan dalam tipe evaporator vertikal long-tube dengan menambahkan sambungan pipa antara saluran keluar konsentrat dan saluran umpan. Namun pada evaporator ini, tabung vertikal biasanya lebih pendek daripada jenis vertikal long-tube. Forced-circulation-type evaporator ini cocok digunakan untuk cairan dengan viskositas tinggi (kental).

7. Agitated-film evaporator. Evaporator jenis ini berbentuk tabung (shell) vertikal atau horizontal, dengan pemanas berada diluar tabung. Dalam evaporator dilengkapi batang yang dapat berputar dengan sirip-sirip terletak pada sumbu tabung. Saat tabung berputar cairan bergerak kebawah dan akan terlempar ke tepi bagian pemanas (tabung) karena putaran sirip. Cairan tepi tabung ini akan kembali terpental ke tengah tabung. Di dalam evaporator terdapat ruang untuk memisahkan uap cairan yang terdapat di bagian atas tabung. Kelebihan jenis ini adalah mempunyai kemampuan tinggi dalam mentransfer panas terhadap cairan yang kental dan memiliki koefisien lebih tinggi dibanding evaporator jenis forced- circulation-evaporator. Sedangkan, untuk kekurangannya adalah biaya alat yang mahal, kapasitas produksi sedikit, biaya produksi tinggi, dan diperlukan banyak perawatan alat.

8. Open-pan solar evaporator. Proses penguapan ini merupakan metode yang sangat tua namun masih diterapkan pada penambak garam tradisional dimana proses penguapannya memerlukan cahaya matahari, dimana cairan diletakkan pada bejana atau bak terbuka yang dangkal dan dibiarkan menguap perlahan di bawah sinar matahari untuk mengkristalkan garam.

Gambar 3. 6 Perbedaan tipe evaporator: (a) horizontal-tube type, (b) vertikal-tube type, (c) long-tube vertikal type, (d) forced-circulation type.

B. Tipe Operasi Evaporator 1. Single Effect Evaporator

Pada single effect evaporator adalah proses penguapan dimana produk hanya melewati satu buah evaporator dengan panas diberikan oleh satu luas permukaan perpindahan panas. Terdapat beberapa bagian dalam evaporator tipe ini antara lain: penukar panas, bagian penguapan tempat cairan mendidih dan menguap, dan pemisah uap yang meninggalkan cairan untuk kemudian mengalir ke kondensor atau peralatan lainnya.

2. Multiple Effect Evaporator

Tipe evaporator ini pertama kali dibuat oleh Norbert Rillieux seorang Amerika keturunan Perancis pada tahun 1830 di Louisiana. Penemuan penguapan efek ganda ini masuk ke dalam kemajuan terpenting dan paling signifikan dalam sejarah pabrik gula. Pada tipe Multiple Effect proses penguapan produk akan melewati dua atau lebih evaporator dalam sekali proses penguapan. Prinsip dari tipe ini adalah uap yang dihasilkan dari evaporator sebelumnya akan digunakan

kembali untuk evaporator selanjutnya. Tujuannya agar dapat menghemat panas secara keseluruhan, sehingga mampu mengurangi biaya produksi. Saat ini, tipe ini banyak digunakan di dalam industri pembuatan gula dari tebu atau lainnya karena dinilai ekonomis dan hasil nira menjadi lebih pekat. Namun, jenis multiple effect evaporator memiliki kelemahan yaitu memerlukan instalasi untuk kondisi vakum pada evaporator.

Multiple effect evaporator terdiri dari silinder vertikal yang dibuat di atas tabung calandria dimana pertukaran panas dalam evaporator terjadi. Badan silinder evaporator berhenti di bagian atas dalam “save-all” bertujuan untuk memisahkan tetesan cairan yang mungkin terbawa dengan uap dari jus.

Konstruksi badan evaporator umumnya terbuat dari besi tuang dan terbaru terbuat dari pelat baja yang memungkinkan evaporator menjadi lebih ringan, kurang rapuh, dan lebih murah.

Berat satuan uap pemanas yang masuk pada calandria evaporator pertama multiple effect tanpa bleeding akan menghasilkan penguapan berat satuan air dari nira di setiap evaporator (Hugot, 1960). Sehingga multiple effect evaporator yang mempunyai n effect tanpa blending uap akan menguapkan n unit air dari nira per unit berat uap pemanas yang diperlukan ke alat. Contohnya dalam quadruple effect dimana 1 kg uap pemanas dapat menguapkan sekitar 4 kg uap air. Menurut Hugot (1960) air yang teruapkan pada seluruh evaporator dapat diperoleh dengan persamaan berikut:

𝑊 = 𝑁𝐸 𝑥 (1 −%𝑏𝑛𝑒

%𝑏𝑛𝑘) 3.1

Dimana, W merupakan air teruap (kg/jam), NE adalah massa nira encer (kg/jam),

%bne adalah brix nira encer, dan %bnk adalah brix nira kental.

Gambar 3. 7 Badan Evaporator dengan calandria (Sumber: Hugot, 1960)

C. Kenaikan Titik Didih

Evaporator dalam pabrik gula berfungsi untuk memekatkan nira sehingga mengalami peningkatan titik didih setiap kenaikan konsentrasi (%brix) daripada pelarut murni atau air. Peristiwa ini disebut dengan Boiling point rise (BPR). BPR terjadi sebagai tekanan uap larutan lebih kecil dari pelarut murni pada suhu yang sama (Polachini T C dkk, 2017). Menurut Hugot (1960) nira akan mendidih pada suhu 100, 25 dibawah tekanan atmosfer. Menurut Geankoplis (2018), kenaikan titik didih nira bergantung pada tekanan dalam multiple effect evaporator dan dapat diestimasi menggunaan persamaan berikut:

𝐵𝑃𝑅 = 1,78𝑥 + 6,22𝑥2 3.2

Keterangan:

BPR : Kenaikan titik didih

x : Konsentrasi nira dalam brix D. Distribusi Penurunan Tekanan

Distribusi penurunan tekanan pada multiple effect evaporator dibutuhkan agar penurunan tekanan setiap evaporator kira-kira sama, namun terdapat sedikit penurunan tekanan sedikit dari evaporator pertama hingga ke terakhir. Tujuan dari distribusi

penurunan tekanan adalah memberikan ketinggian vaccum yang seragam di antara evaporator, untuk menghindari pengembalian jus, air, atau gas yang tidak dapat terkondensasi terlalu besar dalam jumlah tertentu di evaporator lain serta menghindari resiko entrainment meningkat dari evaporator pertama hingga terakhir (Hugot, 1960).

Tabel 3. 5 Distribusi penurunan tekanan multiple effect evaporator Evaporator

I II III IV V

Triple Effect 11/30 10/30 9/10 - -

Quadruple Effect 11/40 10,3/40 9,7/40 9/40 - Quintuple Effect 11/50 10,5 10/50 9,5/50 5/50

(Sumber : Hugot, 1960) E. Konstruksi Evaporator

Evaporator atau bejana penguapan terdiri atas beberapa jenis, jenis yang sering digunakan pada industri gula yaitu Type Robert. Bejana penguapan jenis ini memiliki bentuk menyerupai silinder yang terdiri atas tutup bawah, tromol uap atau calandria, ruang uap nira, dan ruang penangkap percikan nira.

Gambar 3. 8 Konstruksi Evaporator (Sumber: Toat Soemohandojo, 2009) a) Tutup Bawah

Pada tutup bawah pan penguapan terdapat beberapa pipa yang berfungsi untuk tempat masuknya nira jernih dan keluarnya nira kental yang dilengkapi dengan katup.

b) Tromol Uap atau calandria

Pada calandria terdapat pipa-pipa di kedua ujungnya yang terpasang pada tube plate atau pelat pipa, selain itu juga terpasang pipa besar untuk masuknya uap bekas atau uap nira untuk media pemanas. Pipa yang digunakan pada tromol uap biasanya terbuat dari bahan messing (campuran tembaga dan zink dengan rasio 70% : 30%) atau juga dapat terbuat dari stainless steel (SS-304 atau SS-314) namun harganya lebih mahal. Diameter pipa yang banyak digunakan yaitu ukuran 33/36 mm dengan panjang 1,2 sampai 1,5 meter. Namun, untuk evaporator dengan ukuran besar panjang pipa yang dapat digunakan bisa mencapai 4 sampai 4,5 meter. Supaya mendapatkan sirkulasi nira yang baik di dalam badan penguapan maka ditempatkan suatu pipa besar diantara deretan pipa pada tromol uap yang disebut sebagai down take. Pipa down take dapat ditempatkan secara exentris atau sedikit di tepi atau tepat berada di tengah tromol uap. Karena tromol uap atau calandria dioperasikan engan uap bekas bertekanan, maka harus dilengkapi dengan katup pengaman dan pipa untuk menyalurkan gas-gas yang tidak terkondensasi ke udara luar atau ke dalam ruang uap nira sendiri. Pipa penyalur gas tersebut harus tahan terhadap suasana asam dimana bahan atau material yang biasanya digunakan adalah dari tembaga atau messing. Agar penyebaran media pemanas dalam tromol uap dapat tersirkulasi dengan baik maka dipasang penyekat-penyekat diantara pipa pipanya. Adanya penyekatan dimaksudkan supaya terjadi pemasukkan uap ke dalam tromol, dengan harapan dapat terjadi pemanasan yang merata.

c) Ruang Uap Nira

Diatas tromol uap atau calandria terdapat ruangan uap nira yang teruapkan.

Idealnya, ruangan ini mempunyai ketinggian sekitar 1,5 hingga 2 kali lipat dari panjang pipa pada tromol uap. Pada ruang uap nira terdapat beberapa peralatan bantu yang fungsinya untuk pengontrolan penguapan dalam bejana, berikut peralatan bantu yang digunakan:

1. Sight glass atau kaca penglihat, berbentuk bulat dengan diameter sekitar 20-25 cm yang dipasang di dinding silinder ruang uap bagian depan. Pada bagian belakang silinder juga dipasang sight glass yang dilengkapi dengan lampu agar ketika melihat melalui sight glass bagian depan dapat terlihat jelas pergerakan nira yang mendidih

2. Manometer atau vaccummeter untuk mengetahui tekanan vakum yang terjadi pada ruang uapnya

3. Gelas penduga untuk mengetahui ketinggian nira dalam pipa-pipa nira. Gelas penduga dipasang dibagian bawahnya dengan tutup bagian bawah dan bagian atasnya dihubungkan dengan ruang uap pada silinder uap

4. Pipa untuk masuknya cairan soda atau air untuk pembersihan evaporator 5. Manhole atau lubang untuk pemeriksaan yang terletak 0,5 meter di atas tube

plate.

d) Dom penangkap percikan nira

Diatas ruang uap nira terdapat dom dimana selain berfungsi sebagai penutup bejana penguapan, dom ini juga berfungsi untuk menempatkan save-all untuk penangkap percikan nira yang mungkin ikut bersama uap nira agar tidak ikut masuk kedalam kondensor atau ke badan penguapan berikutnya. Bentul save all tergantung pada desain dari pabrik pembuatnya, namun yang biasa digunakan dalam bejana penguapan pabrik gula adalah jenis Gb-80 (Soemohandojo, 2009).

F. Konstruksi Lain 1) Kondensor

Pada stasiun penguapan, kondensor digunakan untuk mengkondensasikan uap nira yang dihasilkan oleh badan penguapan terakhir. Secara umum ada 2 macam jenis kondensor direct condenser (kondenser langsung) dan indirect condenser (kondensor tidak langsung), Pada direct condenser media pendinginnya (air) dicampurkan atau disinggungkan secara langsung dengan media yang dikondensasikan (uap nira). Oleh karena itu, jenis direct condenser juga dinamakan sebagai jet condenser yang umumnya berupa barometric condenser karena menggunakan vakum di dalam bejana kondensornya. Jenis kondensor yang banyak digunakan pada pabrik gula adalah kondensor barometrik. Terdapat 2 jenis kondensor barometrik yaitu yang media pendinginnya dialirkan sedemikian rupa sehingga menyerupai tirai di dalam badan kondensor dimana uap nira akan menembus tirai air tersebut dari bawah keatas karena adanya tarikan vakum. Jenis kedua adalah yang media pendinginnya disemprotkan dengan tekanan melalui tabung venturi sehingga terjadi kondisi vakum dan uap nira tertarik dan bercampur dengan semprotan uap tersebut.

2) Pompa

Berikut beberapa jenis pompa berdasarkan masing-masing fungsinya yang mendukung berjalannya proses penguapan:

a) Pompa air injeksi: digunakan untuk kondensor pan penguapan dimana untuk keamanan operasi kapasitas pompa selalu dikalikan dengan faktor pengaman yang besarnya 1,2.

b) Pompa vakum: dalam proses penguapan biasanya masih terdapat udara yang mengandung nira yang biasanya disebut sebagai gas tak dapat terkondensasi. Gas tersebut dapat mengganggu proses penguapan sehingga harus disalurkan bersama uap nira badan penguapan terakhir ke kondensor dan dikeluarkan dengan cara dipompa menggunakan pompa vakum. Pada umumnya, pompa vakum pada pabrik gula menggunakan jenis pompa dengan torak yang digerakkan dengan mesin uap trak atau motor listrik dengan kapasitas mencapai 50 m3/ menit.

Namun, seiring berkembangnya teknologi saat ini telah diciptakan pompa vakum jenis rotary yang lebih sederhana dengan bentuk yang kecil dan dapat digerakkan langsung dengan motor listrik.

c) Pompa kondensat: baik uap bekas maupun uap nira yang telah mentranfer panasnya melalui pipa-pipa dalam calandria kepada nira yang dipanaskan akan mengembun menjadi air (kondensat). Kondensat harus segera dikeluarkan dari calandria pada tiap adan penguapan agar tidak menghambat kinerja penguapan.

Bila badan penguapan bekerja menggunakan media pemanas yang bertekanan diatas tekanan atmosfer (badan penguapan I) maka pengeluaran kondensatnya dapat dialirkan begitu saja melalui pipa pengeluaran. Namun, apabila badan penguapan bekerja dibawah tekanan yang rendah atau dibawah 1 atmosfir (badan penguapan II-IV) maka pengeluaran kondensat tidak dapat dialirkan begitu saja keluar dari calandria. Untuk dapat mengeluarkan kondensat dari badan penguapan yang bekerja dibawah kondisi vakum, perlu digunakan cara khusus untuk untuk mengatasi adanya tekanan vakum tersebut contohnya seperti menggunakan pompa uap otomatis (pompa Michaelis) dan pompa air dengan tarkan negatif.

d) Pompa nira kental: berfungsi untuk mengeluarkan nira kental dari peti atau penyimpanan ke bejana sulfitir nira kental. Karena nira kental memiliki viskositas yang agak tinggi atau sekitar 64° Brix sehingga diperlukan jenis pompa yang dapat memompa cair kental yang baik contohnya pompa jenis torak duplex atau pompa plunyer.

G. Material yang digunakan pada Evaporator

Evaporator biasanya dibuat dengan menggunakan logam serta beberapa bahan bukan logam seperti grafit yang kedap air, kaca, plastik, dan keramik. Pemilihan bahan konstruksi untuk sistem evaporator tergantung pada cairan atau bahan yang digunakan dalam proses, kondisi proses, jenis peralatan yang digunakan, dan keseimbangan investasi modal awal terhadap umur serta biaya pemeliharaan yang ditetapkan. Sifat korosi dari fluida yang diproses seringkali menjadi faktor penentu dalam pemilihan bahan konstruksi yang akan digunakan. Beberapa komponen dari evaporator biasanya berkontak dengan lebih dari satu jenis fluida, oleh karena itu harus kompatibel atau memadai untuk semua jenis fluida atau cairan. Beberapa komponen lain hanya berkontak dengan satu jenis fluida, sehingga bahan yang digunakan hanya perlu kompatibel atau cocok dengan jenis fluida tertentu saja. Clad materials sering digunakan untuk mengurangi biaya dan untuk menyediakan bahan yang berbeda pada kedua sisi komponen.

Perancang sistem evaporator harus dibekali dengan pengetahuan dasar terkait sifat dan aplikasi bahan konstruksi dan efek korosif bahan kimia. Selain itu, pengetahuan terkait standar dan praktik dasar penggunaan bahan konstruksi juga perlu dipahami. Dengan dasar tersebut maka akan memungkinkan perancang untuk:

1. Membuat pemilihan awal bahan

2. Menghindari masalah umum dengan bahan

3. Mengenali kondisi material yang tidak biasa atau belum pernah digunakan 4. Dapat berkomunikasi dengan materials engineer

5. Mengumpulkan semua informasi yang diperlukan untuk pemilihan bahan yang tepat sebagai konstruksi

Bahan konstruksi hanya dapat ditentukan dengan memahami peralatan yang dibutuhkan untuk kondisi proses. Beberapa sifat fluida yang penting untuk pemilihan bahan konstruksi yang tepat meliputi:

1) Komposisi dan konsentrasi termasuk kemungkinan pengotor, inhibitor, produk reaksi, gas terlarut, dan padatan

2) pH 3) Suhu 4) Tekanan

5) Kecepatan aliran, agitasi, dan turbulensi

Dokumen terkait