• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis dan Pembahasan

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.3 Analisis dan Pembahasan

4.3.1 Pengaruh risiko kredit terhadap profitabilitas

Berdasarkan table 4.5 menjelaskan bahwa hasil penelitian yang dilakukan pada periode 2011 sampai dengan 2015, risiko kredit yang diukur dengan NPL berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA sebagai proksi dari profitabilitas. Hal tersebut ditunjukan dengan hasil koefisien regresi sebesar - 0.170886 dan probabilitas sebesar 0.0000 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi sebesar 0,05. Artinya, semakin kecil risko kredit yang dialami suatu bank maka

akan semakin besar probabilitas bank dalam menghasilkan profitnya.

Risiko kredit yang diproksikan dengan Non Performing Loan (NPL) digunakan oleh bank untuk mengetahui seberapa besar kredit bermasalah yang dialami oleh bank dibandingkan dengan total kredit yang telah diberikan bank kepada debitur (SE BI No.13/24/DPNP tahun 2011). Semakin tinggi nilai NPL suatu bank maka kemungkinan risiko kredit yang dialami bank akan semakin besar. Sebaliknya Risiko kredit yang dihadapi oleh bank akan rendah apabila nilai NPL suatu bank rendah, sehingga kemungkinan tidak tertagihnya piutang terhadap jumlah pinjaman yang diberikan akan rendah yang berarti semakin menguntungkan pihak bank (Rivai et. Al., 2007:731).

Berdasarkan data yang diperoleh bahwa nilai NPL Bank Pembangunan Daerah menunjukan kondisi yang sangat baik, dimana rata-rata nilai NPL yang dimiliki bank sebesar 2.59%, artinya lebih kecil dari pada yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu sebesar 5%. Sehingga dalam menjalankan kegiatan operasionalnya bank mampu mengasilkan kinerja yang baik yang dapat mempengaruhi laba yang dihasilkan. Selain itu Risiko kredit yang diproksikan dengan Non Performing Loan dapat menjadi faktor penentu suatu bank dalam menghasilkan laba dari total aset yang dimilikinya.

Hasil dari penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Arias et. al., (2014), Muniroh (2014), Attar et. Al., (2014), Wantera & Mertha (2015) menyatakan bahwa NPL memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap ROA.

75

Indonesia Banking School

4.3.2 Pengaruh risiko likuiditas terhadap profitabilitas

Hasil regresi pada tabel 4.5 menunjukan bahwa pada periode 2011 sampai dengan 2015 risiko likuiditas yang diukur dengan Loan to Deposit Ratio atau LDR memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Asset (ROA). Hal tersebut ditunjukan dengan hasil koefisien regresi sebesar 0.013125 dan probabilitas sebesar 0.0166 lebih kecil dari tingkat signifikansi sebesar 0.05 yang artinya jika terjadi peningkatan nilai LDR sebesar 1% akan berpengaruh pada meningkatnya nilai ROA sebesar 0.013125 atau 1.3125%.

Risiko likuiditas yang diukur dengan Loan to Deposit Ratio atau LDR digunakan oleh bank untuk mengetahui besarnya risiko yang timbul akibat bank tidak dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya pada saat nasabah ingin mencairkan dana yang dimilikinya dengan mengandalkan pengembalian kredit yang telah disalurkan. Apabila jumlah kredit yang telah disalurkan meningkat maka akan menyebabkan naiknya pendapatan kredit, sehingga kemungkinan bank mendapatkan laba dari total aset yang dimilkinya akan besar. Sebaliknya semakin kecil nilai LDR suatu bank maka akan mengindikasikan semakin besarnya dana pihak ketiga yang tidak digunakan untuk penempatan kredit (Taswan, 2010:167).

Berdasarkan data yang diperoleh bahwa nilai LDR Bank Pembangunan Daerah menunjukan kondisi yang sangat baik, dimana rata-rata nilai LDR yang dimiliki bank sebesar 87.5262% artinya berada pada batas ideal yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu sebesar 78-92%. Tinggi atau rendahnya nilai LDR suatu bank maka dapat mempengaruhi dari besarnya laba yang dihasilkan oleh

bank tersebut melalui total aset yang dimilikinya. Selain itu Risiko Likuiditas yang diukur dengan Loan to Deposit Ratio bisa dijadikan faktor penentu suatu bank dalam menghasilkan laba dari aset yang dimilikinya. Hasil ini sesuai dengan penelitian Widati (2012), Margaretha & Zai (2013), Capriani & Dana (2016) yang menyatakan bahwa LDR memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ROA.

4.3.3 Pengaruh risiko operasional terhadap profitabilitas

Berdasarkan tabel 4.5 menunjukan bahwa hasil penelitian yang dilakukan pada periode 2011 sampai dengan 2015, risiko operasional yang diukur dengan LnBIA berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA sebgai proksi dari profitabilitas. Hal tersebut ditunjukan dengan hasil koefisien regresi sebesar - 0.007132 dan probabilitas sebesar 0.0295 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi sebesar 0.05. Artinya semakin kecil risiko operasional yang dialami suatu bank maka semakin besar probabilitas bank dalam menghasilkan profit melalui aset yang dimiliki bank tersebut.

Risiko operasional yang diproksikan dengan LnBIA digunakan oleh bank untuk mengukur seberapa besar kerugian yang dialami oleh bank yang disebabkan karena adanya risiko operasional (Idroes & Sugiarto, 2006:146). Semakin besar risiko operasional yang dihadapi oleh suatu bank menunjukan bank belum efisien dalam menjalankan kegiatan usaha operasionalnya, sehingga kesempatan untuk memperoleh profitabilitas yang lebih besar akan semakin kecil. Hal tersebut mengindikasikan bahwa semakin besar nilai LnBIA maka semakin besar juga dana yang disisihkan untuk beban modal risiko operasional, sehingga dapat menurunkan laba bank yang akan mempengaruhi nilai ROA bank tersebut. Risiko

77

Indonesia Banking School

operasional yang diproksikan dengan LnBIA dapat menjadi faktor penentu suatu bank dalam menghasilkan laba dari total aset yang dimilikinya.

Rendahnya nilai LnBIA yang merupakan alat ukur untuk risiko operasional dapat meningkatkan laba yang dihasilkan oleh suatu bank. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Attar et al., (2014), Capriani & Dana (2016), Yulistiani & Suryantini (2016) yang menyatakan bahwa risiko operasional berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas.

4.3.4 Pengaruh Good Corporate Governance terhadap profitabilitas

Hasil regresi pada tabel 4.5 menjelaskan bahwa periode 2011 sampai dengan 2015 Good Corporate Governance (GCG) yang diukur dengan nilai komposit GCG yang tidak berpengaruh terhadap profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Asset (ROA). Hal tersebut ditunjukan dengan nilai probabilitas sebesar 0.2915 yang lebih besar dari tingkat signifikansi sebesar 0.05.

Good Corporate Governance dalam penelitian ini menunjukan hasil yang tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Adanya hubungan yang tidak signifikan antara GCG dengan ROA, dapat disebabkan karena metode self assessment merupakan parameter pengukuran yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dengan cara penilaian sendiri yang wajib dilakukan oleh setiap bank, sehingga memungkinkan bank dalam melakukan penilaian tidak dalam keadaan yang sebenarnya, dikarenakan bank harus memiliki tata kelola yang sangat baik agar tingkat kesehatan bank tersebut terjaga. Sehingga untuk mengukur tinggi atau rendahnya tata kelola pada suatu bank tidak hanya menggunakan nilai komposit self assessment, tetapi dapat dengan faktor-faktor lain yang dapat

mencerminkan tata kelola suatu perbankan. Faktor – faktor tersebut seperti faktor perekonomian Negara, perekonomian global, dan sebagainya.

GCG bukan merupakan faktor penentu yang dapat mempengaruhi profitabilitas bank. Hasil ini didukung dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Muniroh (2014), Suciati (2015), Wantera & Mertha (2015) yang menyatakan bahwa Good Corporate Governance (GCG) tidak berpengaruh terhadap Return on Assets (ROA).

4.3.5 Pengaruh permodalan terhadap profitabilitas

Berdasarkan tabel 4.5 menunjukan bahwa hasil penelitian yang dilakukan pada periode 2011 sampai dengan 2015 yaitu permodalan yang diukur dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Return on asset atau ROA sebagai proksi dari profitabilitas. Hal tersebut ditunjukan dengan hasil koefisien regresi sebesar 0.016063 dan probabilitas sebesar 0.4349 yang lebih besar dari tingkat signifikansi sebesar 0.05, yang artinya semakin tinggi CAR yang dimiliki suatu bank maka semakin besar juga ROA yang dihasilkan oleh bank tersebut.

Permodalan dalam penelitian ini tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas, yang dapat disebabkan karena CAR digunakan oleh bank untuk mengukur besarnya kemampuan bank dalam menutup penurunan aktiva sebagai akibat kerugian yang dialami bank (Rivai et. al., 2007:713). Sehingga semakin besar kerugian yang dialami bank maka semakin besar juga modal yang harus dimiliki bank tersebut. Berdasarkan data yang diperoleh bahwa nilai CAR Bank Pembangunan Daerah menunjukan kondisi yang sangat baik, dimana rata-rata

79

Indonesia Banking School

nilai CAR yang dimiliki bank sebesar 18.05%, artinya lebih besar dari pada yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu sebesar 8%. Hal tersebut menggambarkan bahwa bank tidak sepenuhnya menggunakan modal yang dimilikinya untuk kegiatan yang menghasilkan laba dari total aset yang dimilikinya, dikarena bank harus menghitung kemungkinan adanya peningkatan pada Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Selain itu faktor lain yang dapat mempengaruhi modal suatu bank yaitu dengan adanya ketetapan PBI No. 14/18/PBI/2012 mengenai batas minimum CAR sebesar 8%, dengan adanya ketetapan tersebut bank selalu menjaga nilai CAR yang dimiliki bank agar tidak kurang dari 8%. Sehingga bank lebih berhati-hati dalam mengambil suatu keputusan yang dapat mempengaruhi modal secara langsung maupun tidak langsung.

Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Muniroh (2014) yang menyatakan bahwa CAR tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA. Meskipun demikian berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Widati (2012), Margaretha & Zai (2013) yang menyatakan bahwa CAR bepengaruh positif signifikan terhadap ROA, hasil tersebut berbeda dengan hasil penelitian diatas.

Dokumen terkait