• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

2. Analisis

Analisis bivariat digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel bebas dan terikat. Dalam penelitian ini analisis bivariat yang digunakan adalah uji statistik chi-square pada aplikasi SPSS.

H. Etika Penelitian

Penelitian dilakukan melalui pengajuan permohonan izin kepada instansi tempat penelitian ini dilakukan. Setelah mendapatkan persetujuan dari instansi tersebut, penelitian dilakukan dengan menekankan masalah pada etika penelitian.

Pembuatan Surat perizianan penelitian dari Pihak fakultas Memasukan surat permohonan izin untuk melakukan penelitian

pada Puskesmas Bunta

Pengambilan data sekunder pada Puskesmas Bunta Meminta Informed Consent kepada calon responden

Mengumpulkan data

Melakukan analisis data dan pengolahan data

1. Setiap subjek penelitian (sampel) akan dimintai persetujuannya (informed consent) untuk terlibat sebagai responden dalam penelitian ini. Peneliti akan melampirkan lembar informed consent yang akan di tandatangani oleh responden sebagai tanda setuju untuk terlibat dalam penelitian.

2. Setiap subjek penelitian (sampel) yang tidak bersedia untuk terlibat dalam penelitian tidak akan dilibatkan dalam penelitian ini.

3. Peneliti menjaga kerahasian dari informasi yang diberikan oleh reponden dan hanya melaporkan data yang didapatkan dari hasil penelitiannya sesuai dengan persetujuan dari responden

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah kerja Puskesmas Bunta pada tanggal 23 oktober 2021 sampai dengan tanggal 24 Oktober 2021 dengan jumlah sampel sebanyak 48 Responden.

1. Univariat

Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang berada di wilayah pesisir pantai yang mencakup 3 kelurahan dan 1 desa di wilayah kerja puskesmas bunta sebanyak 48 orang. Penelitian ini menggunakan total sampling dengan memperhatikan kriteria inklusi dan ekslusi yang telah ditentukan.

Proses pengumpulan data pada penelitian ini berupa data primer dengan menyebarkan kuesioner kepada sampel dengan total 12 pertanyaan.

Setelah data di dapatkan di lakukan analisis data dengan program spss, sebagai berikut.

Tabel 4.1 Distribusi berdasarkan karakteristik responden di Wilayah kerja Puskesmas Bunta

Karakteristik Frekuensi %

Usia 11-20 tahun 12 25,0%

21-30 tahun 26 54,2%

31-40 tahun 9 18,8%

41-50 tahun 1 2,1%

Jumlah Gestasi 1 17 35,4%

2 12 25,0%

3 8 16,7%

4 6 12,5%

5 3 6,3%

6 1 2.1%

9 1 2.1%

Kesehatan Ibu Hamil Sehat 24 50%

Sakit 24 50%

Sumber Air Sumur 26 54,2%

Air PAM 22 45,8%

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Di halaman 16 33,3%

Di tanam 7 14,6%

Di bakar 25 52,1%

Tempat BAB Di laut 20 41,7%

Di kamar mandi umum

13 27,1%

Di kamar mandi pribadi

15 31,3%

Pembuangan Air Limbah Rumah Tangga Di halaman 19 36,9%

Di Laut 11 22,9%

Saluran Pembuangan

air limbah

18 37,5%

Total 48 100%

Table 4.1 diatas menunjukkan distribusi ibu hamil berdasarkan kelompok usia di wilayah kerja puskesmas bunta. Berdasarkan tabel tersebut, dari total jumlah responden 48 ibu hamil terdapat 12 ibu hamil yang berusia 11-20 tahun, 26 ibu hamil yang berusia 21-30 tahun, 9 ibu hamil yang berusia 31-40, dan terakhir 1 ibu hamil yang berusia 41-50. Distribusi kelompok jumlah gestasi didapatkan hasil jumlah gestasi tertinggi yaitu 1 gestasi dengan jumlah responden 17 ibu hamil dan terendah pada 9 gestasi dengan jumlah responden 1 ibu hamil.

Distribusi kelompok kesehatan ibu hamil selama kehamilan didapatkan hasil yang sakit dengan jumlah responden 24 ibu hamil, dan yang sehat dengan jumlah responden 24 ibu hamil di daerah pesisir pantai di wilayah kerja Puskesmas Bunta. Distribusi kelompok sumber air bersih didapatkan hasil tertinggi yaitu sumur dengan jumlah responden 26 ibu hamil dan terendah pada air PAM dengan jumlah responden 22 ibu hamil. Distribusi kelompok pengelolaan sampah rumah tangga didapatkan hasil tertinggi yaitu di bakar dengan jumlah responden 25 ibu hamil dan terendah di halaman dengan jumlah responden 16 ibu hamil.

Distribusi kelompok tempat BAB didapatkan hasil tertinggi yaitu di laut dengan jumlah responden 20 ibu hamil dan terendah di kamar mandi umum dengan

jumlah responden 13 ibu hamil. Distribusi kelompok pembuangan limbah rumah tangga didapatkan hasil tertinggi yaitu di laut dengan jumlah responden 19 ibu hamil dan terendah di laut dengan jumlah responden 11 ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Bunta.

Sumber : Data Primer 2. Bivariat

Analisis bivariat bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat yaitu hubungan antara sanitasi lingkungan dan kesehatan ibu hamil

a. Hubungan antara Sumber air dengan kesehatan Ibu hamil Hasil analisis hubungan antara sumber air dan kesehatan ibu hamil, di dapatkan hasil sebagai berikut.

Tabel 4.8 Tabel tabulasi silang hubungan sumber air dan kesehatan ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Bunta.

Kesehatan

Ibu Hamil Total Nilai

Sehat Sakit p r

Sumber Air Sumur 7 19 26

0,001 0,448

Air PAM 17 5 22

Total 24 24 48

Berdasarkan tabel tabluasi silang diatas menunjukkan bahwa sumber air dari sumur dengan kesehatan ibu hamil yang sehat memiliki 7 responden, dan yang sakit ada 19 responden, lalu sumber air dari Air PAM dengan kesehatan ibu hamil yang sehat ada 17 responden dan yang sakit ada 5 responden.

b. Hubungan antara pengelolaan sampah dengan kesehatan Ibu hamil

Hasil analisis hubungan antara pengelolaan sampah rumah tangga dan kesehatan ibu hamil, di dapatkan hasil sebagai berikut.

Kesehatan Ibu Hamil

Total Nilai

Sehat Sakit p r

Pengelolahan Sampah

rumah tangga

Halaman 3 13 16

0,008 0,409

Ditanam 4 3 7

Dibakar 17 8 25

Total 24 24 48

Tabel 4.9 Tabel tabulasi silang hubungan pengelolaan sampah rumah tangga dan kesehatan ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Bunta.

Berdasarkan tabel tabluasi silang diatas menunjukkan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga di buang di halaman dengan kesehatan ibu hamil yang sehat memiliki 3 responden, dan yang kesehatan ibu hamil yang sakit ada 13 responden, lalu yang pengelolaan sampahnya di tanam dengna kesehatan ibu hamil yang sehat memiliki 4 responden dan kesehatan ibu hamil yang sakit ada 3 responden. Kemudian pengelolaan sampah yang di bakar dengan kesehatan ibu hamil yang sehatn memiliki 17 responden dan yang sakit ada 8 responden.

c. Hubungan antara Tempat BAB dengan kesehatan Ibu hamil Hasil analisis hubungan antara tempat BAB dan kesehatan ibu hamil, di dapatkan hasil sebagai berikut.

Tabel 4.10 Tabel tabulasi silang hubungan Tempat BAB dan kesehatan ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Bunta.

Kesehatan Ibu

Hamil Total Nilai

Sehat Sakit p r

Tempat BAB

Di Laut 12 8 20

0,001 0,467 Kamar mandi

pribadi

1 12 13

Kamar mandi umum

11 4 15

Total 24 24 48

Berdasarkan tabel tabluasi silang diatas menunjukkan bahwa ibu hamil yang Tempat BAB di laut dengan kesehatan ibu hamil yang sehat memiliki 12 responden, dan yang kesehatan ibu hamil yang sakit ada 8 responden, kemudian yang tempat BAB di kamar mandi umum dengan kesehatan ibu hamil yang sehat memiliki 1 responden dan kesehatan ibu hamil yang sakit ada 12 responden. Kemudian ibu hamil yang tempat BAB nya di kamar mandi pribadi dengan kesehatan ibu hamil yang sehat memiliki 11 responden dan yang sakit ada 4 responden.

d. Hubungan antara Tempat pembuangan air limbah dengan kesehatan Ibu hamil

Hasil analisis hubungan antara tempat pembuangan air limbah dan kesehatan ibu hamil, di dapatkan hasil sebagai berikut.

Tabel 4.11 Tabel tabulasi silang hubungan Pembuangan air limbah rumah tangga dan kesehatan ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas

Bunta.

Kesehatan Ibu Hamil

Total Nilai

Sehat Sakit p r

Pembuanga n Air Limbah

Halaman 2 17 19

0,000 0,568

Laut 6 5 11

Saluran Pembuangan

air limbah

16 2 18

Total 24 24 48

Berdasarkan tabel tabluasi silang diatas menunjukkan bahwa ibu hamil yang tempat pembuangan air limbah di halaman dengan kesehatan ibu hamil yang sehat memiliki 2 responden, dan yang kesehatan ibu hamil yang sakit ada 17 responden, kemudian yang tempat pembuangan air limbah di laut dengan kesehatan ibu hamil yang sehat memiliki 6 responden dan kesehatan ibu hamil yang sakit ada 5 responden. Kemudian ibu hamil yang tempat pembuangan nya di saluran pembuangan air limbah dengan kesehatan ibu hamil yang sehat memiliki 16 responden dan yang sakit ada 2 responden.

Hasil dari masing-masing kelompok ini selanjutnya dilakukan uji korelasi bivariat Pearson yang mendapatkan nilai keofisien korelasi (r) untuk hubungan sumber air terhadap kesehatan ibu hamil sebesar 0.448 dengan tingkat hubungan yang sedang, lalu hubungan pengelolaan sampah rumah tangga terhadap kesehatan ibu hamil sebesar 0.409 dengan tingkat hubungan yang sedang, kemudian hubungan tempat BAB terhadap kesehatan ibu hamil sebesar 0.467 dengan tingkat hubungan yang sedang, dan terakhir hubungan pembuangan limbah rumah tangga terhadap kesehatan ibu hamil sebesar 0.568 dengan tingkat hubungan yang sedang. Nilai signifikansi pada masing- masing kelompok yaitu p=0.00 (p<0.05) untuk hubungan sumber air terhadap kesehatan ibu hamil, lalu nilai p=0.00 (p<0.05) untuk hubungan pengelolaan sampah rumah tangga terhadap kesehatan ibu hamil, kemudian nilai p=

(p<0,05) untuk hubungan tempat BAB terhadap kesehatan ibu hamil, dan nilai p= (p=<0,05) untuk hubungan pembuangan limbah rumah tangga terhadap kesehatan ibu hamil yang artinya bahwa keempat kelompok terdapat korelasi dengan kesehatan ibu hamil di daerah pesisir pantai di wilayah kerja puskemas bunta.

B. PEMBAHASAN

Sanitasi lingkungan dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan dan mempertahankan standar kondisi lingkungan yang mendasar yang mempengaruhi kesejahteraan manusia. Kondisi tersebut mencakup pasokan air yang bersih dan aman, pembuangan limbah dari manusia, hewan dan industri yang efisien, perlindungan makanan dari kontaminasi biologis dan kimia, udara yang bersih dan aman; rumah yang bersih dan aman. Dari defenisi tersebut, tampak bahwa sanitasi lingkungan ditujukan untuk memenuhi persyaratan lingkungan yang sehat dan nyaman (Misdayanti,2021).

Penelitian ini dilakukan di Wilayah kerja Puskesmas Bunta, Kabupaten Banggai, provinsi sulawesi tengah dengan Sampel yang diambil dalam

penelitian ini adalah sebanyak 48 ibu hamil. Pada Penelitian ini menunjukkan bahwa total jumlah responden 48 ibu hamil terdapat 12 ibu hamil yang berusia 11-20 tahun, 26 ibu hamil yang berusia 21-30 tahun, 9 ibu hamil yang berusia 31-40, dan terakhir 1 ibu hamil yang berusia 41-50. Berdasarkan karateristik jumlah gestasi tertinggi yaitu 1 gestasi dengan jumlah responden 17 ibu hamil dan terendah pada 9 gestasi dengan jumlah responden 1 ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Bunta.

Dalam penelitian ini, Kelompok sumber air yang responden gunakan dikategorikan menjadi air PAM, Sumur, dan air Hujan. Didapatkan hasil tertinggi yaitu sumber air dari Sumur dengan jumlah responden 36 ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Bunta. Ketika peneliti mengobservasi sumber air dari sumur yang ibu hamil gunakan ada 2 sumur yang tidak memenuhi syarat, dikarenakan airnya keruh dan berbau. Kualitas fisik air minum dikategorikan menjadi dua yaitu memenuhi syarat (tidak keruh, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa) dan tidak memenuhi syarat (keruh, berwarna, berbau dan berasa) (Ustün,2017).

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan, bahwa ada 9 ibu hamil yang menggunakan air tersebut dan mengisi kuisinoner penyakit yang terjadi saat kehamilan yaitu diare. Hal ini sejalan dengan penelitian Harsa dalam jurnal Hubungan Antara Sumber Air Dengan Kejadian Diare Padawarga Kampung Baru Ngagelrejo Wonokromo Surabaya pada tahun 2019 yang menyatakan bahwa Air yang tidak terlindung dapat mempengaruhi kesehatan salah satunya adalah penyakit diare, Pencemaran air oleh zat-zat pencemar, salah satu diantaranya dapat berupa agent penyakit, yang dapat menyebabkan terjadinya water borne disease (penyakit menular yang disebarkan melalui air). Salah satu contohnya water borne disease adalah diare, Mikroorganisme yang paling sering menjadi penyebab diare pada ibu hamil adalah virus, bakteri (misalnya Salmonella, Shigella, E. Coli, atau Campylobacter), dan parasit (misalnya protozoa), yang dimana Kuman penyebab diare saat hamil ini bisa masuk ke tubuh saat ibu hamil, minum air yang tidak di masak, tidak

rajin mencuci tangan sebelum makan dan sesudah pergi ke toilet.

Bahaya diare yang terjadi secara terus-menerus pada ibu hamil dapat membuat volume air ketuban berkurang akibat keluarnya cairan saat Ibu sering BAB. Kondisi ini dapat menyebabkan perkembangan janin menjadi terganggu, bahkan berisiko keguguran (Harsa,2019).

Salah satu penyakit yang disebabkan akibat sumber air yang buruk adalah Demam tifoid yang penyakit infeksi banyak dijumpai di daerah tropis, terutama daerah dengan kualitas sumber air yang tidak memadai dengan standar higiene dan sanitasi yang rendah. Adapun faktor lingkungan yang mempercepat terjadinya penyebaran demam tifoid adalah urbanisasi, kepadatan penduduk, sumber air minum dan standard higiene industri pengolahan makanan yang rendah. Penularan bakteri Selain secara fekal-oral, infeksi bisa juga terjadi secara transplasenta atau persalinan secara fekal-oral dari ibu sebagai penular. Pemakaian air minum yang tercemar kuman secara massal sering bertanggung jawab terhadap terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) (Purnama,2016). Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Nurvina Wahyu Artanti (2012), yang menunjukkan bahwa sarana air bersih dengan kejadian demam tifoid diperoleh dari p value= 0,004 (< 0,05) dan OR sebesar 2,215 yang berarti bahwa responden yang mempunyai sarana air bersih tidak memenuhi syarat mempunyai resiko untuk terkena Demam Tifoid 2,215 kali lebih besar dari pada responden yang mempunyai sarana air bersih memenuhi syarat (Sakinah,2016)

Berdasarkan hasil observsi di sekitaran kelurahan bunta 1 dan bunta 2 ditemukan masih banyak rumah yang tidak memiliki tempat BAB atau jamban sendiri oleh sebab itu ibu hamil masih melakukan kebiasaan BAB di tepi pantai yang kemungkinan tanah pasir di pantai mengandung banyak telur cacing. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan, bahwa ada 23 ibu hamil yang pernah kecacingan selama kehamilan, diantaranya ada dari kelurahan Bunta 1 berjumlah 8 ibu hamil dan kelurahan Bunta 2 berjumlah 6 ibu hamil. Selain itu, ditemukan juga warung-warung kecil di sekitaran pantai yang tidak

tertutup yang mengakibatkan mudahnya tercemar oleh serangga, seperti lalat yang merupakan salah satu serangga pembawa telur cacing (Yanto,2015).

Cacing dewasa didalam usus sangat merugikan bagi manusia karena selama di dalam usus cacing mengisap darah didalam usus dan bekas isapan cacing juga dapat terjadi perdarahan secara terus menerus yang dapat mengakibatkan salah satu faktor resiko dari kejadian anemia pada ibu hamil.

Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Maliya dan Susilaningsih yang berjudul Investigasi Fenomena Anemia pada Wanita Hamil Karena Pengaruh Kecacingan (2014), yang menyatakan bahwa Apabila cacing dewasa masuk ke dalam usus selain menghisap darah dan menyebabkan anemi juga keadaan anemi sendiri dapat menyebabkan komplikasi pada ibu pada saat persalinan. Dan didukung juga dengan penelitian Yanto, et al, dalam judul Hubungan Infeksi Cacing Dengan Tnf Α Dan Kadar Hemoglobin Pada Ibu Hamil (2015) yang menyatakan bahwa Infeksi cacing juga dapat menyebabkan kehilangan darah secara perlahan lahan dan lama sehingga para penderita dapat mengalami kekurangan darah (anemia), keadaan kecacingan ini sering terlupakan oleh tenaga kesehatan karena masih melihat penyebab lain yang lebih difokuskan. Sama halnya yang ditulis oleh Departemen Kesehatan (2006) Manusia merupakan hospes definitif beberapa nematoda usus (cacing perut) yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminths) diantaranya cacing gelang (Ascaris Lumricoides), cacing tambang (Ancylostoma duodenale, Necator Americamus) dan cacing cambuk (Trichuris trichiura). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecacingan adalah kebersihan lingkungan, kebersihan pribadi, penyediaan air bersih, kebersihan lantai rumah, penggunan jamban sehat, serta kebersihan makanan.

Kondisi SPAL di desa pongian dan kelurahan kalaka saat ini sudah baik, dikarenakan Pemerintah daerah setempat bersama dengan masyarakat mulai melakukan perbaikan SPAL di jalan utama sehingga di beberapa lokasi air limbah rumah tangga terlihat mengalir dengan lancar dan tertutup. Namun, karena pembangunan SPAL ini masih baru berjalan beberapa bulan jadi

belum bisa terjangkau ke semua rumah, sehingga beberapa rumah responden terlihat tidak memiliki SPAL atau SPAL tidak dibuat tertutup, air menggenang, mengganggu estetika, dan alirannya langsung dibuang ke laut, hal ini dapat memicu nyamuk untuk bersarang di permukaan air yang tergenang sehingga bisa menyebabkan demam berdarah di sekitara area rumah itu.

Dalam penelitian ini di dapatkan kasus 5 ibu hamil yang pernah mengalami demam berdarah, dan 5 ibu hamil ini tempatnya berada di desa pongian, ketika di observasi Kondisi rumah responden yang saling berdekatan menghalangi sinar/cahaya matahari masuk ke dalam rumah. Sebagaimana diketahui bahwa jentik dari nyamuk Aedes aegypti dapat bertahan lebih baik di ruangan yang gelap dan menarik nyamuk betina untuk meletakkan telurnya. Di dalam ruangan yang beritensitas cahaya rendah atau gelap rata- rata berisi larva lebih banyak dari ruangan yang intensitas cahayanya besar atau terang (WHO, 2005). Penelitian ini sejalan dengan Khairiyah dengan judul Hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian dbd di wilayah kerja puskesmas karang mekar kota banjarmasin tahun 2020 (2020) menyatakan bahwa responden yang tempat penampungan airnya memenuhi syarat sebanyak 81 orang (93,1%), dan responden yang tempat penampungan airnya tidak memenuhi syarat sebanyak 6 orang (6,9%). Tempat penampungan air adalah suatu hal vital yang harus slalu diperhatikan kebersihan nya dan harus di kuras rutin minimal 2 kali setiap satu minggu agar kebersihannya selalu terjaga dan tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes Aegypti. Sebagian besar responden yang pernah menderita DBD sebagia besarnya adalah yang tempat penampungan airnya belum memenuhi syarat atau jarang dilakukan pengurasan (Khairiyah,2020).

Dalam penelitian ini menunjukkan. Di kelurahan Bunta 1 dan Kalaka belum tersedia bak sampah permanen yang mengakibatkan masyarakat yang tinggal di bagian daratan menggolah sampahnya dengan cara dibakar.

Berdasarkan hasil wawancara dengan responden mengatakan bahwa

masyarakat merasa tidak penting disediakannya sarana pengolahan karena sudah tidak ada lagi lahan kosong. Sampah mempunyai potensi untuk menimbulkan pencemaran dan menimbulkan masalah bagi kesehatan.

Pencemaran dapat terjadi di udara sebagai akibat decomposisi sampah, dapat pula mencemari air dan tanah yang disebabkan oleh adanya rembesan leacheat. Tumpukan sampah dapat menjadi sarang atau tempat berkembang biak bagi berbagai vector penyakit (Axmalia,2020).

Dari penelitian ini di dapatkan nilai P-0,001 pada sumber air, dan nilai P- 0,008 pada pengelolaan sampah rumah tangga, dan nilai P-0,001 pada tempat BAB, dan nilai P-0,000 pada pembuangan air limbah rumah tangga. Maka hasil yang didapatkan dari keseluruhan bahwa ada pengaruh antara sumber air, pengelolaan sampah rumah tangga, tempat BAB, dan pembuangan limbah rumah tangga dengan kesehatan ibu hamil. Dengan semua Nilai P (P-value)

<0,05 yang artinya H0 ditolak dan H1 di terima

Kelebihan dari penelitian ini yaitu kita bisa mengetahui apakah ada hubungan sanitasi lingkungan dengan kesehatan ibu hamil di daerah pesisir pantai. Kekurangan dalam penelitian ini karena jumlah sampel yang masih terbatas. Hambatan saat melakukan penelitian ini yaitu saat pengambilan sampel beberapa ibu hamil belum ada dirumah mereka karena masih melakukan aktivitas sehingga waktu terbatas saat melakukan wawancara terkait penelitian ini. Untuk penelitian selanjutnya agar menggunakan metode kualitatif agar bisa mengali lebih dalam lagi alasan ibu hamil masih membuang limbah rumah tangga di halaman dan masih menggunakan sumur sebagai sumber air mereka.

BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian Pengaruh sanitasi lingkungan terhadap kesehatan ibu hamil di daerah pesisir pantai di wilayah kerja puskesmas bunta tahun 2021 dapat disimpulkan bahwa :

1. Terdapat hubungan antara sumber air dengan kesehatan ibu hamil dengan nilai P-0,001 (<0,05) dengan kekuatan hubungan r 0,448 yang artinya korelasinya sedang.

2. Terdapat hubungan antara tempat pembuangan limbah rumah tangga dengan kesehatan ibu hamil dengan nilai P-0,000(<0,05) dengan kekuatan hubungan r 0,568 yang artinya korelasinya sedang.

3. Terdapat hubungan antara tempat BAB dengan kesehatan ibu hamil dengan nilai P-0,001 (<0,05) dengan kekuatan hubungan r 0,467 yang artinya korelasinya sedang.

4. Terdapat hubungan antara pengelolaan sampah rumah tangga dengan kesehatan ibu hamil dengan nilai P-0,008 (<0,05) dengan kekuatan hubungan r 0,409 yang artinya korelasinya sedang.

5. Ada pengaruh antara sumber air, pengelolaan sampah rumah tangga, tempat BAB, dan pembuangan limbah rumah tangga dengan kesehatan ibu hamil. Dengan semua Nilai P (P-value)

<0,05. yang artinya ada hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kesehatan ibu hamil.

B. SARAN

Hasil dari penelitian didapatkan ada pengaruh sanitasi lingkungan dengan kesehatan ibu hamil, maka dari itu ibu hamil harus menjaga sanitasi lingkungannya dengan baik agar terhindar dari komplikasi penyakit yang dapat menyebabkan kematian bayi ataupun BBLR, dan

diharapakan pemerintah untuk mengupayakan pembersihan dan penataan bangunan di sekitaran pesisir pantai, serta dari pihak puskesmas agar melakukan sosislisasi terkait pengaruh sanitasi lingkungan terhadap kehamilan yang buruk.

DAFTAR PUSTAKA

Axmalia, A., & Mulasari, S. A. (2020). Dampak Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Terhadap Gangguan Kesehatan Masyarakat. Jurnal

Kesehatan Komunitas, 6(2), 171-176. From:

https://jurnal.htp.ac.id/index.php/keskom/article/download/536/242

Berendes, D. M., Kirby, A. E., Clennon, J. A., Agbemabiese, C., Ampofo, J. A., Armah, G. E., ... &Moe, C. L. (2018). Urban sanitation coverage and environmental fecal contamination: Links between the house hold and public environments of Accra, Ghana. PloSone, 13(7), e0199304.From:

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29969466/

Benova, L., Cumming, O., & Campbell, O. M. R. (2014). Systematic Review Systematic review and association between water and meta-analysis:

sanitation environment and maternal mortality, Tropical Medicine and International Health 19(4). From:https://doi.org/10.1111/tmi.12275.

Dewi, N. M. N. B. S. (2021). Studi Pengetahuan Dan Sikap Tindakan Mayarakat Terhadap Sanitasi Lingkungan Di Pantai Ballona Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat. Ganec Swara, 15(1), 971-974.

From:http://journal.unmasmataram.ac.id/index.php/GARA/article/download /199/187

Dharmayanti, I., etal. (2019). Pelayanan pemeriksaan kehamilan berkualitas yang dimanfaatkan ibu hamil untuk persiapan persalinan di indonesia. Jurnal

Ekologi Kesehatan, 18(1), 60-69.From:

https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/jek/article/view/1777 Harsa, I. M. S. (2019). Hubungan Antara Sumber Air Dengan Kejadian Diare

Padawarga Kampung Baru Ngagelrejo Wonokromo Surabaya. Journal of Agromedicine and Medical Sciences, 5(3), 124-129.

Dokumen terkait