BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
4.5. Analisis Hasil Penelitian
4.5.1. Pengaruh Masa Penugasan Audit (MPA) terhadap Opini Audit Going Concern
Lamanya masa penugasan audit KAP terhadap klien yang diukur melalui banyaknya jumlah tahun ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap opini audit going concern. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebijakan KAP untuk memberikan opini audit going concernataupun opini audit non going concernatas laporan keuangan klien itu tidak didasari oleh lamanya masa penugasan audit. Nilai p- value hitung dibawah nilai p-value tabel (0,05) menunjukkan adanya tidak ada pengaruh yang signifikan dan tanda nilai koefisien yang tidak sesuai dengan hipotesis yang diajukan (negatif) menunjukkan bukti bahwa independensi auditor tidak terganggu dengan terjadinya perikatan yang lama antara klien (auditee) dengan KAP. Hasil ini sesuai dengan penelitian Januarti dan Fitrianasari (2008), Januarti (2009), Junaidi dan Hatono (2010), serta AN Muttaqin (2012) yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh masa penugasan audit (tenure) terhadap opini audit going concern. Tanda koefisien pada masa penugasan audit menunjukkan hasil negatif. Menurut Carey dan Simnett (2006), kondisi yang paling dikhawatirkan dari KAP (auditor) adalah timbulnya keakraban yang berlebihan antara KAP (auditor) dengan klien, sehingga akan mendorong terjadinya kolusi .
“Di Indonesia pergantian KAP yang sama dilakukan setiap 5 tahun, sedangkan untuk auditor yang sama setiap 3 tahun” (Bapepam, 2002). Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 17/PMK.01/2008 tentang jasa akuntan publik menyebutkan bahwa pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas dilakukan oleh KAP paling
lama enam tahun buku berturut-turut. KAP dan akuntan publik tersebut dapat menerima kembali jasa audit umum setelah satu tahun tidak mengaudit klien tersebut. Hasil penelitian ini belum cukup akurat untuk menyangkal peraturan Bapepam (2002) dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 17/PMK.01/2008 tentang jasa akuntan publik mengenai masa penugasan audit, karena pada objek penelitian tidak ada perusahaan yang menggunakan jasa KAP lebih dari 5 atau 6 tahun. Jika auditor (KAP) menemukan adanya masalah dengan kelangsungan hidup perusahaan auditee, maka KAP akan akan mengeluarkan opini audit going concern tanpa mempedulikan kehilangan fee audityang akan diperoleh di masa yang akan datang karena kehilangan klien tersebut.
4.5.2. Pengaruh Ukuran KAP (KAP) terhadap Opini Audit Going Concern
Pengukuran ukuran KAP dalam penelitian ini menggunakan ukuran KAP Big-4 atau Non Big-4. Pada hasil penelitiannya menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara ukuran KAP dengan opini audit going concern. Hasil ini ditunjukkan melalui nilai p-value yang lebih kecil dari p-value tabel (0,05). Pada nilai koefisien penelitian ini pun menunjukkan tanda positif yang berarti semakin besar ukuran KAP, maka semakin independen KAP memberikan opini audit going concernterhadap auditee(klien).
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Junaidi dan Hartono (2010). Junaidi dan Hartono (2010) mengungkapkan bahwa semakin besar ukuran (reputasi) Kantor Akuntan Publik, maka semakin besar kualitas audit yang diberikan oleh KAP tersebut untuk memberikan opini audit going concern. Choi et al.
(2010) juga menyatakan bahwa KAP besar adalah KAP yang mempunyai nama besar berskala internasional (Big-4 Auditors), dimana KAP yang besar menyediakan mutu audit
mempunyai reputasi. “Perusahaan KAP The Big-4 menyediakan kualitas audit yang tinggi, karena KAP The Big-4 memiliki program pelatihan yang banyak, metodologi standar audit yang tinggi, dan banyaknya pilihan rekomendasi peer review” (Lawrence et al., 2011). “Peer review merupakan suatu penelaahan yang dilakukan terhadap Kantor Akuntan Publik untuk menilai apakah Kantor Akuntan Publik tersebut mengembangkan secara memadai kebijakan dan prosedur pengendalian mutu” (Agoes, 2012: 15).
4.5.3. Pengaruh Kondisi Keuangan (ALTMAN) terhadap Opini Audit Going Concern
Pada kondisi keuangan ini diproksikan melalui Altman Revised Model, dimana baik/tidaknya kesehatan keuangan dapat dilihat melalui model prediksi kebangkrutan.
Nilai p-value hitungnya lebih kecil daripada p-value tabel (0,05) dan nilai koefisiennya menunjukkan tanda negatif. Hal ini membuktikan adanya pengaruh kondisi keuangan tehadap opini audit going concern. Tanda koefisien yang negatif menunjukkan bahwa semakin buruk kondisi keuangan perusahaan klien, maka semakin besar kemungkinan KAP memberikan opini audit going concern.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Susanto (2009) serta Gusnita, Nur DP, dan Darlis (2013) yang menunjukkan bahwa kondisi keuangan perusahaan berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern. Kondisi keuangan yang buruk dapat dijadikan pertimbangan bagi auditor (KAP) guna memberikan opini audit going concern. Hal ini sesuai dengan SPAP SA Seksi 341 paragraf 6 IAPI (2011) yang menyatakan bahwa dalam pelaksanaan prosedur audit, auditor dapat mengidentifikasi informasi mengenai kondisi atau peristiwa tertentu yang jika dipertimbangkan secara
keseluruhan, menunjukkan adanya kesangsian besar tentang kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas. Salah satu kesangsian perusahaan klien tersebut adalah trend negatif, yaitu dapat dilihat dari keuangan perusahaan klien.
4.5.4. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Opini Audit Going Concern
Ukuran perusahaan diukur melalui total aset perusahaan pada penelitian ini. Nilai p-value hitungnya lebih besar daripada p-value tabel (0,05) dan nilai koefisiennya menunjukkan tanda positif. Pada hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara ukuran perusahaan dengan opini audit going concern. Berdasarkan hasil statistik p-value yang tidak berpengaruh signifikan dan nilai koefisien yang tidak sesuai dengan hipotesis yang diajukan (positif). Hasil ini tidak dapat disimpulkan bahwa semakin besar ukuran perusahaan, maka semakin besar kemungkinan auditor (KAP) memberikan opini audit going concern.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian-penelitian terdahulu, dimana Januarti dan Fitrianasari (2008), Junaidi dan Hatono (2010), serta AN Muttaqin (2012) tidak menemukan kecenderungan variabel ukuran perusahaan dalam mempengaruhi opini audit going concern, walaupun koefisien yang dihasilkan berbeda. Koefisien yang berbeda ini bisa saja terjadi, karena ukuran perusahaan (total aset) berasal dari pendanaan utang, dimana utang pada perusahaan tersebut sedang bermasalah. KAP dalam melaksanakan auditing juga tidak terpengaruh pada ukuran perusahaan yang mungkin memberikan fee audit yang lebih tinggi dibandingkan ukuran perusahaan yang kecil.
4.5.5. Pengaruh Masa Penugasan Audit, Ukuran KAP, Kondisi Keuangan, dan Ukuran Perusahaan terhadap Opini Audit Going Concern
Nilai p-valuehitung pada pengujian simultan (masa penugasan audit, ukuran kap, kondisi keuangan, dan ukuran perusahaan) terhadap opini audit going concern lebih kecil daripada p-value tabel (0,05). Hal ini menunjukkan adanya pengaruh masa penugasan audit, ukuran kap, kondisi keuangan, dan ukuran perusahaan secara bersama-sama terhadap opini audit going concern. Adanya perubahan faktor keuangan (kondisi keuangan dan ukuran perusahaan) dan non keuangan (masa penugasan audit dan ukuran KAP) dapat mempengaruhi pertimbangan KAP (auditor) dalam memberikan opini audit going concern.