• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Hasil Pengujian Dengan tambahan OLI BEKAS 10%

Dalam dokumen Grafik KerapatanVariasi Oli Bekas 5% (Halaman 104-113)

BAB I PENDAHULUAN

2. Asbuton Pra Campur (pre-blended)

4.3. Data Hasil Uji Dengan Alat Marshall

4.3.2. Analisis Hasil Pengujian Dengan tambahan OLI BEKAS 10%

Gambar 4.7 Diagram hubungan variasi limbah OLI BEKAS 5% dengan variasi perendaman berulang terhadap nilai MQ

Dilihat dari gambar diatas bahwa penam bahan OLI BEKAS dari kadar aspal yang direndam secara bervariasi mengalami penurunan namun semua variasi perendaman memenuhi spesifikasi. Nilai Marshall Quotient sangat dipengaruhi oleh nilai stabilitas dan flow. Semakin tinggi nilai stabilitas terhadap nilai flow, maka nilai MQ (Marshall Quotient) juga akan semakin tinggi.

a. Kerapatan

Nilai density (kerapatan) menunjukkan besarnya kerapatan suatu campuran yang sudah dipadatkan. Campuran dengan density tinggi dalam batas tertentu akan lebih mampu menahan beban yang lebih berat dibandingkan dengan campuran yang mempunyai density yang rendah.

Nilai density suatu campuran dipengaruhi oleh kualitas dan komposisi bahan susun serta cara pemadatan, suatu campuran akan memiliki density yang tinggi apabila mempunyai bentuk butir yang tidak seragam dan porositas butiran rendah. Nilai kerapatan campuran beraspal panas Asbuton dihampar dingin (CPHMA) dengan penambahan OLI BEKAS 10%, dapat dilihat pada gambar4.8:

Gambar 4.8 Diagram hubungan penambahan campuran OLI BEKAS 10% dengan variasi perendaman terhadap kerapatan.

Dari gambar 4.8menunjukkan bahwa penambahan OLI BEKAS

2,35

2,33

2,32

2,30

2,27 2,28 2,29 2,30 2,31 2,32 2,33 2,34 2,35

Kerapatan

Variasi Perendaman

Grafik Kerapatan Variasi Oli Bekas 10 %

Normal 5 Hari 10 Hari 15 Hari

kepadatan menurun. Hal ini di sebabkan karena semakin lama campuran terendam maka daya lekat aspal terhadap agregat semakin menurun.

b. Stabilitas Minimum 500 (Kg)

Nilai stabilitas menunjukkan besarnya kemampuan perkerasan menahan beban tanpa mengalami perubahan bentuk (deformasi) tetap, dinyatakan dalam satuan beban lalu lintas, perkerasan yang memiliki nilai stabilitas yang tinggi akan mampu menahan beban lalu lintas besar, akan tetapi stabilitas yang terlalu rendah akan mengakibatkan perkerasan akan mudah mengalami alur (rutting) oleh beban lalu lintas. Hasil pengujian stabilitas dengan berbagai variasi OLI BEKAS diperlihatkan pada gambar 4.9

Gambar 4.9 Diagram hubungan variasi penambahan campuran OLI BEKAS 10% dengan variasi perendaman terhadap stabilitas.

1454,04

1241,67

1092,67

1023,13

0,00 500,00 1000,00 1500,00

Stabilitas (kg)

Variasi Perendaman

Grafik Stabilitas Variasi Oli Bekas 10 %

Normal 5 Hari 10 Hari 15 Hari

Dari gambar 4.9. diatas menunjukkan bahwa stabilitas campuran yang dilakukan perendaman berulang nilai stabilitas mengalami penurunan.

Ketika campuran aspal direndam dalam air dalam waktu yang lama, air akan berusaha untuk mengisi rongga-rongga dalam campuran dan berinteraksi dengan material penyusun yaitu agregat dan aspal. Air yang berinteraksi dengan agregat akan terserap kedalamnya dan menyelimuti permukaan agregat pada bagian yang tidakterselimutisempurna oleh aspal.

Dengandemikianternyatasemakin lama campuranterendamdalam air, makaadhesicampuranakanberkurang dan peluang terjadinya kehilangan durabilitas atau keawetan campuran juga semakin besar.

c. Pelelehan (Flow) Minimum 3 - 5 (mm).

Nilai Flow menyatakan besarnya deformasi yang terjadi pada suatu lapis perkerasan akibat beban lalulintas. Suatu campuran dengan nilai Flow tinggi akan cenderung lembek sehingga akan menyebabkan deformasi permanen apabila menerima beban. Sebaliknya jika nilai Flow rendah maka campuran menjadi kaku dan mudah retak jika menerima beban yang mengalami daya dukungnya.

Grafik nilai Flow campuran beraspal panas Asbuton dihampar dingin (CPHMA) untuk penambaha OLI BEKAS dapat dilihat pada gambar 4.10

Gambar 4.10 Diagram hubungan penambahan campuran OLI BEKAS 10%

dengan variasi perendaman terhadap flow.

Dari gambar 4.10. menunjukkan bahwa penambahan campuran OLI BEKAS yang direndam secara berulang menyebabkan mengalami peningkatan nilai Flow. Semakin lama perendaman, air akan berusaha mengisi rongga-rongga dalam campuran dan berinteraksi dengan material penyusun baik agregat maupun aspal. Air yang berinteraksi dengan agregat akan terserap kedalam dan menyelimuti permukaan agregat pada bagian yang tidak terselimuti sempurna oleh aspal. Hal ini mengurangi daya rekat aspal. Sehingga semakin lama perendaman maka daya rekat aspal semakin berkurang.

d. Rongga Dalam Agregat (VMA) Min 16%

Void In Mineral Aggregates (VMA) menunjukkan presentase rongga antar butir agregat, termasuk didalamnya adalah rongga yang terisi udara dan rongga yang terisi aspal efektif.

3,17

4,13 4,23 4,37

2,00 3,00 4,00 5,00 6,00

Flow (mm)

Variasi Perendaman

Grafik Flow Variasi Oli Bekas 10 %

Normal 5 Hari 10 Hari 15 Hari

Faktor-faktor yang mempengaruhi VMA antara lain adalah jumlah tumbukan, gradasi agregat dan kadar aspal. Nilai VMA berpengaruh pada sifat, kekedapan dan keawetan campuran terhadap air dan udara bebas serta kekakuan campuran. Semakin tinggi nilai VMA berarti semakin banyak rongga dalam campuran yang terisi aspal sehingga kekedapan campuran terhadap air dan udara semakin tinggi

Grafik nilai VMA campuran beraspal panas Asbuton dihampar dingin(CPHMA) untuk berbagai penambahan OLI BEKAS dapat dilihat pada gambar 4.11.

Gambar 4.11 Diagram hubungan penambahan campuran OLI BEKAS 10%

dengan variasi perendaman terhadap VMA.

Dari gambar 4.11menunjukkan bahwa penambahan campuran OLI BEKAS kedalam campuran yang direndam secara bervariasi menyebabkan nilai VMA berubah. Hal ini di sebabkan karena semakin lama campuran

16,23 16,96 17,14 17,91

0,00 4,00 8,00 12,00 16,00 20,00 24,00

VMA (%)

Variasi Perendaman

Grafik VMA Variasi Oli Bekas 10 %

Normal 5 Hari 10 Hari 15 Hari

e. Rongga Dalam Campuran (VIM) Minimum 4% – 10%

VIM(void in mixture) merupakan presentase rongga udara dalam campuran antara agregat dan aspal setelah dilakukan pemadatan. VIM atau rongga dalam campuran adalah parameter yang biasanya berkaitan dengan durabilitas dan kekuatan dari campuran.Semakin kecil nilaiVIM, maka akan bersifat kedap air. Namun nilai VIM yang terlalu kecil dapat mengakibatkan keluarnya aspal kepermukaan. Grafik nilaiVIM campuran beraspal panas Asbuton dihampar dingin (CPHMA) untuk penambahan OLI BEKAS 10%

Gambar 4.12 Diagram hubungan penambahan campuran OLI BEKAS 10%

dengan variasi perendaman terhadap VIM.

Dari gambar 4.12 menunjukkan bahwa penambahan OLI BEKAS dalam campuran yang direndam secara bervariasi mengalami peningkatan pada nilai VIM. Semakin naiknya nilai VIM pada campuran aspal ini disebabkan karena pada saat campuran aspal direndam dalam air semakin

5,42 6,25 6,46 7,32

0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00

VIM (%)

Variasi Perendaman

Grafik VIM Variasi Oli Bekas 10 %

Norma l 5 Hari 10 Hari 15 Hari

lama air akan terinfiltrasi kedalam rongga-rongga yang tersisadalamcampuran. Rongga yang meningkat dan terisi air inilah yang mengurangi durabilitas atau keawetan campuran.

f. Rongga Terisi Aspal (VFB) Minimum 60 (%)

Nilai VFB menyatakan prosentase rongga yang dapat terisi aspal besarnya nilai VFB menentukan tingkat keawetan campuran. Nilai VFB yang besar menunjukkan jumlah aspal yang mengisi rongga besar sehingga kekedapan campuran akan meningkat.

Gambar 4.13 Diagram hubungan penambahan campuran OLI BEKAS 10%

dengan variasi perendaman berulang terhadap VFB

Dari gambar 4.13. menunjukkan bahwa penambahan OLI BEKAS kedalam campuran yang direndam secara bervariasi akan mengalami penurunan nilai VFB. Hal ini di sebabkan karena volume pori beton aspal

66,64

63,14 62,35

59,16

40,00 45,00 50,00 55,00 60,00 65,00 70,00

VFB (%)

Variasi Perendaman

Grafik VFB Variasi Oli Bekas 10 %

Normal 5 Hari 10 Hari 15 Hari

g. Marshall Quotient (MQ) Minimum 250 (kg/mm)

Hasil bagi Marshall atau Marshall Quotient adalah perbandingan antara stabilitas dan kelelehan yang juga merupakan indicator terhadap kekuatan campuran secara empiris. Semakin tinggi nilai MQ maka kemungkinan akan semakin tinggi kekakuan suatu campuran dan semakin rentan terhadap keretakan. Nilai MQ dapat dilihat pada gambar 4.14.

Gambar 4.14 Diagram hubungan penambahan OLI BEKAS 10% dengan variasi perendaman terhadap nilai MQ.

Dilihat dari gambar diatas bahwa penambahan OLI BEKAS dari kadar aspal yang direndam secara berulang mengalami penurunan dan pada perendaman 15 hari tidak memenuhi spesifikasi. Hal ini disebabkan karena nilai stabilitas pada campuran rendah dan nilai flow tinggi sehingga memmpengaruhi nilai marshall quotien. Nilai Marshall Quotient sangat dipengaruhi oleh nilai stabilitas dan flow. Semakin tinggi nilai stabilitas

459,34

305,48

259,94

236,08

0,00 50,00 100,00 150,00 200,00 250,00 300,00 350,00 400,00 450,00 500,00

Marshall Quitient )

Variasi Perendaman

Grafik Marshall Quotient Variasi Oli Bekas 10

%

Normal 5 Hari 10 Hari 15 Hari

terhadap nilai flow, maka nilai MQ (Marshall Quotient) juga akan semakin tinggi.

Dalam dokumen Grafik KerapatanVariasi Oli Bekas 5% (Halaman 104-113)

Dokumen terkait