• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

C. Tempe Besar Minggu 1

4.2 Analisis Hasil

IV-65

Gambar 4.60 Tampilan hasil running program

Sebagai hasil running program yaitu hasil kombinasi antara batas bawah sampai batas atas standar deviasi setiap jenis produk yang telah ditentukan.

Kemudian melakukan perhitungan hasil pendapatan untuk setiap kombinasi.

Bagian akhir output, yaitu kombinasi kuantitas produksi setiap jenis produksi dan hasil konversi yang tidak melebihi kapasitas bahan baku yang diproduksi dan menghasilkan pendapatan yang maksimal.

IV-66

berdistribusi normal sedangkan data rata-rata persentase produk return berdistribusi uniform. Selanjutnya menentukan batas atas dan batas bawah masing-masing jenis produk dengan melakukan perbandingan antara standar deviasi setiap jenis tempe selama 1 bulan dan setiap minggu. Batas atas dan bawah masing-masing produk akan menjadi alternatif solusi penentuan kombinasi tingkayt produksi. Dimana kombinasi tingkat produksi tersebut tidak melebihi kapasitas bahan baku yang tersedia.

Dari hasil pengolahan data yang didapatkan berupa tingkat produksi, yaitu jumlah produk yang direncanakan untuk diproduksi. Angka tersebut dianggap paling baik dalam menghadapi ketidakpastian datangnya permintaan karena memberikan hasil pendapatan yang maksimal bagi perusahaan.Profit perusahaan diperoleh dengan melakukan perkalian kuantitas produksi dengan harga satuan masing-masing jenis produk kemudian dikurangi dengan gaji karyawan, biaya operasional perusahaan, dan biaya pembelian bahan baku.

Berdasarkan hasil pengolahan data, jumlah yang sebaiknya diproduksi untuk produk tempe kecil sebanyak 65.355 bungkus dengan produk yang di diskon sebanyak 80 bungkus dan produk return sebanyak 13 bungkus, produk tempe sedang sebanyak 77.250 bungkus dengan produk yang di diskon sebanyak 41 bungkus dan produk return sebanyak 13 bungkus, produk tempe besar sebanyak 25.364 bungkus dengan produk yang di diskon sebanyak 81 bungkus dan produk return sebanyak 12 bungkus. Bila dikonversikan kedalam penggunaan bahan baku kedelai dalam satuan kilogram untuk masing-masing produk secara berurutan adalah 19.606 kg, 46.350 kg, 20.291 kg dengan total 86.247 kg yang

IV-67

masih berada dibawah kapasitas bahan baku yang tersedia dari perusahaan yaitu sebanyak 100 ton atau sama dengan 100.000 kg. Sedangkan untuk produk kecil, sedang, dan besar return akan diolah kembali secara berurutan sebanyak 3,9 kg, 7,8 kg, 9,6 kg sehingga total keseluruhan bahan baku yang akan diolah kembali untuk produksi selanjutnya sebanyak 21,3 kg. Hasil tingkat produksi tersebut memberikan profit bagi perusahaan sebesar Rp.67.091.450,-.

Hasil yang didapat dari penelitian kemudian dibandingkan dengan kebijakan dari perusahaan yang dibuat berdasarkan perkiraan permintaaan. Data perusahaan yang digunakan untuk perbandingan adalah data pada tanggal 2 April 2018 ketika permintaan dalam kondisi normal. Perbandingan hasil pengolahan data terhadap kebijakan perusahaan tanggal 2 April 2018 ditunjukkan pada Tabel 4.45.

Tabel 4.45 Perbandingan kuantitas produksi hasil penelitian dengan kebijakan perusahaan

Produk

Kuantitas Produksi Hasil penelitian

(bungkus)

Kebijakan perusahaan tanggal 2 April 2018

(bungkus)

Tempe Kecil 65.355 62.000

Tempe Sedang 77.250 75.000

Tempe Besar 25.364 22.550

Berdasarkan kuantitas produksi hasil penelitian dan kebijakan perusahaan maka profit yang didapatkan perusahaan dapat dilihat pada Tabel 4.46.

Tabel 4.46 Profit perusahaan

Metode Rincian Perhitungan Profit Profit (Rp)

Hasil penelitian (65.355 x 300) + ( 77.250 x 450) + ( 25.364 x 500) + (80 x 150) + (41 x 200) + (81 x 250)

67.091.450,- Kebijakan perusahaan (62.000x 300) + (75.000x 450) + (22.550 x 500) 63.625.000,- Usulan tingkat produksi berdasarkan hasil penelitian memberikan profit bersih bagi perusahaan sebesar Rp.67.091.450,-. Jumlah ini lebih besar dari profit

IV-68

yang dihasilkan dari metode yang digunakan oleh perusahaan saat ini, yaitu Rp.

63.625.000,-. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa metode yang digunakan penelitian lebih baik dari metode perusahaan karena memberikan profit atau keuntungan yang lebih besar dari metode yang digunakan perusahaan saat ini.

Proses produksi tempe sampai dengan proses packaging membutuhkan waktu selama ± 2 jam. Mesin produksi tempe yang dimiliki sebanyak 5 mesin, setiap mesin mampu menampung 5000 kg kedelai sehingga setiap mesin melakukan produksi sebanyak 4 kali. Tenaga kerja yang dibutuhkan setiap mesin sebanyak 6 karyawan dimana 4 karyawan bekerja bagian packing dan 2 karyawan bagian operator mesin. Packaging dilakukan sekaligus dalam mesin produksi sehingga proses akhir tempe sudah dalam bentuk kemasan. Pembagian mesin produksi yaitu mesin 1 dan 2 melakukan produksi untuk tempe ukuran kecil, mesin 3 dan 4 produksi untuk tempe ukuran sedang, dan mesin 5 produksi untuk tempe ukuran besar. Proses packaging membutuhkan waktu ± 20 detik untuk 100 bungkus sehingga untuk 1 kali produksi dengan 5000 kg kedelai sama dengan 16.700 bungkus tempe kecil membutuhkan waktu ± 3.340 detik atau sama dengan

±55 menit, untuk 5000 kg kedelai sama dengan 8.400 bungkus tempe sedang membutuhkan waktu ± 1.680 detik atau sama dengan ±28 menit, untuk 5000 kg kedelai sama dengan 6.250 bungkus tempe besar membutuhkan waktu ± 1.250 detik atau sama dengan ±21 menit. Bagian tungku perapian dikerjakan oleh 3 karyawan yang bertugas menambah kayu bakar. Waktu operasional kerja selama 8 jam, dimana mesin akan beroperasi mulai pukul 07.00-11.00 WIB, beristirahat pukul 12.00-13.00 WIB, dan beroperasi kembali pukul 13.00-17.00 WIB.

IV-69

Proses produksi dalam pematangan tempe membutuhkan waktu selama 2 hari. Sehingga untuk memenuhi permintaan konsumen, perusahaan melakukan produksi 2 hari sebelum pengiriman. Jumlah armada yang digunakan yaitu 1 buah truk Isuzu elf box, 2 buah mobil Grandmax pick up box, 1 buah motor Viar.

Untuk kapasitas tempe setiap kendaraan menggunakan ukuran tempe besar sehingga 1 truk Isuzu elf box mampu membawa 109.680 bungkus, 2 mobil Grandmax pick up box mampu membawa 47.520 bungkus, dan 1 motor Viar mampu membawa 7.680 bungkus. Pendistribusian produk tempe akan dilakukan ke 15 outlet Warung Spesial sambal “SS” dengan menggunakan truk Isuzu elf box, 5 outlet Bu Rum dengan menggunakan motor Viar, 15 outlet rumah makan Penyetan Mas Kobis dengan menggunakan 1 buah Grandmax pickup box, pengiriman ke pasar – pasar dan toko – toko kelontong menggunakan 1 buah Grandmax pickup box.

V-1 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Dalam penelitian ini dilakukan untuk melakukan perencanaan tingkat kuantitas produksi dengan memaksimalkan pendapatan perusahaan. Sebagai studi kasus digunakan data produksi 3 jenis tempe yang sering dipesan oleh konsumen UD Super Dangsul Yogyakarta yaitu tempe kecil, tempe sedang, dan tempe besar khususnya pada bulan April 2018. Berdasarkan hasil pengolahan data, jumlah yang sebaiknya diproduksi untuk produk tempe kecil sebanyak 65.355 bungkus dengan produk yang di diskon sebanyak 80 bungkus dan produk return sebanyak 13 bungkus, produk tempe sedang sebanyak 77.250 bungkus dengan produk yang di diskon sebanyak 41 bungkus dan produk return sebanyak 13 bungkus, produk tempe besar sebanyak 25.364 bungkus dengan produk yang di diskon sebanyak 81 bungkus dan produk return sebanyak 12 bungkus. Hasil tingkat produksi tersebut memberikan profit bagi perusahaan sebesar Rp.67.091.450,-.

Usulan tingkat produksi berdasarkan hasil penelitian memberikan profit bagi perusahaan sebesar Rp.67.091.450,00. Jumlah ini lebih besar dari profit yang dihasilkan dari metode yang digunakan oleh perusahaan saat ini, yaitu Rp.

63.625.000,00. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa metode yang digunakan penelitian lebih baik dari metode perusahaan karena memberikan profit atau keuntungan yang lebih besar dari metode yang digunakan perusahaan saat ini.

V-2

Dokumen terkait