Wike, Endah Setyowati, Rita Parmawati, Tulus Sabrina Program Studi Kajian Wanita Universitas Brawijaya
Abstrak
Fenomena tindak kekerasan terhadap anak adalah salah satu permasalahan yang ada di berbagai negara dan sangat rumit. Baik dunia internasional maupun pemerintah Indonesia sudah mulai menekankan pentingnya perlindungan bagi anak. Isu kekerasan pada anak sudah menjadi agenda penting di tingakt internasional maupun di Indonesia. Sedangkan di Indonesia sendiri, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan sebagai upaya perlindungan terhadap anak seperti UU tentang perlindungan anak No.23 Tahun 2003 yang kemudian di rubah ke UU No.35 Tahun 2014; Instruksi Presiden Republik Indonesia No.5 Tahun 2014 mengenai perlindungan anak, dan lain-lain. Kondisi kekerasan di kota Malang dari data polres Kota Malang yang datang melapor pada tahun 2014 mencapai 55 kasus kekerasan pada anak. Pada tahun 2015 mencapai 55 kasus pada anak, sedangakan pada tahun 2016 sampai bulan Mei mencapai 17 kasus pada anak. Pemerintah kota Malang sudah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) tentang perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan No. 12 Tahun 2015. Namun, pada kenyataannya implementasi kebijakan ini perlu ditinjau kembali, apakah sudah berjalan efefkti atau tidak. Mengingat masih banyak terjadi kasus kekerasan yang menimpa anak. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisa implementasi kebijakan perlindungan terhadap anak, serta menganalisis dampak pelaksanaan kebijakan perlindungan bagi anak. Jenis penelitian ini kualitatif deskriptif, dengan narasumber dalam penelitian ini adalah Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Kota Malang, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memiliki perhatian terhadap perlindungan anak di kota Malang. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, penarikan kesimpulan serta analisis isi (content analysis) kebijakan. Pemerintah Indonesia sudah menekankan pentingnya perlindungan terhadap perempuan dan anak dari tindakan kekerasan baik kekerasan secara fisik, seksual, ataupun psikis. Namun, dalam kenyataan riilnya, masih banyak ditemukan berbagai problematic tingkat kekerasan terhadap anak. Disisi lain, pelaksanaan dari kebijakan yang dimaksud masih belum maksimal dalam menjalankan perannya. Hal ini disebabkan oleh lemahnya alat dukung terhadap berjalannya kebijakan itu sendiri.
Kata kunci: implementasi, perlindungan, anak.
PENDAHULUAN
Fenonema tindak kekerasan terhapa anak adalah salah satu permasalahan yang terjadi diberbagai negara, termasuk Indonesia. Dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) hingga tahun 2015 ditemukan sebanyak 6006 kasus anak berhadapan dengan hukum, 3160 kasus pengasuhan, dibidang pendidikan ditemukan sebanyak 1764 kasus, dibidang kesehatan dan napza sebanyak 1366 kasus, sebanyak 1032 kasus pornografi dan cybercrime [1]. Di Kota Malang ditemukan jumlah kasus kekerasan terhadap anak sebanyak 55 kasus pada tahun 2014 dan 2015, dan 17 kasus pada tahun pertengahan 2016 [2]. Oleh karena itu perlindungan terhadap anak perlu mendapatkan perhatian yang sangat serius dari berbagai lapis masyarakat mulai dari pemerintah, LSM, dan masyarakat itu sendiri. Salah satu bentuk perhatian dari pencegahan tindak kekerasan seksual, sangat diperlukan kebijakan perlindungan bagi anak.
Tindak kekerasan terhadap anak adalah tindak kekerasan secara fisik, seksual, psikis ataupun pengabaian terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua atau wali anak, atau orang yang ada di sekitar anak tersebut. Dalam kasus kekerasan terhadap anak, peran keluarga yang seharusnya menjadi pelindung bagi anak justru menjadi lingkungan yang berpotensi melakukan kekerasan terhadap anak [3]. Dampak bagi korban yang mengalami kekerasan pun sangat rentang mengalami masalah kesehatan, sosial, perilaku bahkan psikologis. Bahkan tidak sedikit yang mengalami dampak psikologi yang berkepanjangan. Fuadi menyatakan banyak korban yang mengalami kekerasan akan rentang mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau stres pasca traumatik, serta pandangan negatif pada dirinya yang nantinya akan menjadi negative belief [4].
Pemerintah Indonesia mulai menekankan pentingnya perlindungan bagi anak, dengan dibuatnya berbagai kebijakan perlindungan anak, salah satunya tertuang dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia No.5 Tahun 2014 mengenai perlindungan anak [5]. Selain itu dalam Rancangan Awan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (2014- 2019) pemerintah mencantumkan perlindungan terhadap
anak dalam agenda kerja pemerintah dengan membuat kebijakan strategi yang mencakupi memperkuat sistem perlindungan serta meningkatkan kapasitas perlindungan dari berbagai tindak kekerasan [6].
Kebijakan perlindungan anak merupakan salah satu upaya dalam pencegahan tindak kekerasan serta bentuk perlindungan negara terhadap warganya. Namun dalam kenyataannya, implementasi kebijakan perlindungan terhadap perempuan dan anak perlu ditinjau kembali, apakah sudah berjalan efektif atau tidak, terutama jika dilihat dari sudut korban. Melihat masih banyak terjadi kasus kekerasan yang menimpa anak.
Implementasi kebijakan-kebijakan perlindungan terhadap anak ini masih dihadapkan pada berbagai konsekuensi kebijakan yang harus segera ditemukan solusinya, untuk itu dibutuhkan penelaahan (analisis) kebijakan. Analisis kebijakan merupakan tahapan kebijakan yang penting karena bisa membantu pembuat dan pelaksana keputusan dengan memberikan informasi yang diperoleh melalui penelitian lapangan dan analisis, sehingga mampu memberikan alternatif baru kedalam kebijakan-kebijakan agar menjadi mudah diwujudkan dan dilaksanakan.
Berdasarkan uraian diatas, tampak sekali tentang begitu pentingnya permasalahan perlindungan terhadap anak untuk segera ditangani, karena pada akhirnya permasalahan ini juga berimplikasi terhadap permasalahan pembangunan sosial secara keseluruhan di Kota Malang. Dengan menggunakan penelaahan masalah model analisis retrospektif maka akan dilakukan analisis kebijakan perlindungan terhadap anak dalam rangka pengentasan dari segala bentuk eksploitasi. Hal tersebut dilakukan sebagai salah-satu langkah untuk menganalisis apakah kebijakan perlindungan terhadap anak yang selama ini telah ada sudah bisa berjalan maksimal, sehingga mampu mereduksi jumlah anak dari segala bentuk eksploitasi. Oleh karena itu, rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana implementasi kebijakan perlindungan terhadap anak di Kota Malang. Tujuan dari penelitian analisis implementasi kebijakan perlindungan terhadap anak di Kota Malang adalah:
1. Mendeskripsikan dan menganalisa implementasi kebijakan perlindungan terhadap anak.
2. Menganalisis dampak pelaksanaan kebijakan perlindungan bagi anak.
TINJAUAN PUSTAKA Analisis Kebijakan
Banyak definisi yang dibuat oleh para ahli untuk menjelaskan arti kebijakan. Thomas Dye dalam Abidin [7] menyebutkan kebijakan sebagai pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Selanjutnya Anderson Nurcholis [8] mengklasifikasikan kebijakan (policy) menjadi dua yaitu subtantif menyangkut apa yang seharusnya dikerjakan oleh pemerintah dan prosedural menyangkut siapa dan bagaimana kebijakan tersebut diselenggarakan. Suharto [9] mengatakan bahwa kebijakan publik adalah keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan tindakan yang bersifat strategis atau garis besar yang secara langsung mengatur pengelolaan dan pendistribusian sumber daya publik (alam, finansial dan manusia) demi kepentingan rakyat banyak, penduduk, masyarakat atau warga negara. Sebagai keputusan yang mengikat publik, maka kebijakan publik haruslah dibuat oleh mereka yang memegang otoritas politik. Mereka harus menerima mandat dari publik atau orang banyak, umumnya melalui proses pemilihan umum (pemilu) yang bertindak atas nama dan mewakili kepentingan rakyat.
William Dunn dalam Nugroho [10] mengemukakan bahwa “Policy analysis is an applied social science discipline wich uses multiple method of inquiry and argument to produce and transform policy- relevant information that may be utilized in political settings to resolve policy problem”. Palumbo dalam Prasetyo, mengemukakan bahwa dalam analisis kebijakan terdapat beberapa komponen, antara lain agenda setting, problem devinition, policy design, policy legitimation, policy implementation, policy impact hingga termination [11]. dalam melakukan analisis kebijakan setidaknya perlu dilakukan analisa pada masing-masing komponen tersebut sehingga dapat diketahui apakah sebuah kebijakan dalam prosesnya sudah berjalan secara tepat dan sudah mampu memberikan sebuah pemecahan terhadap sebuah perasalahan atau sebaliknya kebijakan tersebut bermasalah dan harus dihentikan.
Dari definisi kebijakan publik dapat disadari bahwa pembuatan kebijakan publik itu akan selalu melibatkan pemerintah dengan cara tertentu. Garston dalam Wahab, kiranya tidak keliru ketika ia menegaskan bahwa “semua pembuatan kebijakan publik melibatkan pemerintah dalam beberapa cara”
[12]. Untuk itu kebijakan yang dibuat akibat adanya suatu permasalahan, akan melibatkan pihak-pihak yang terkait dalam pembutan kebijakan tersebut dan kelompok kepentingan sebagai sasaran terealisasikannya peraturan yang sudah dibuat tersebut. Disinilah pentingnya sebuah analisis kebijakan agar permasalahan dalam kebijakan tersebut dapat teridentifikasi dan ditemukan solusinya.
Implementasi Kebijakan
Kata implementasi kebijakan berasal dari bahasa Inggris yaitu “implementation” yang didalam bahasa Indonesia menjadi implementasi sebagaimana di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pelaksanaannya dan penerapannya. Studi implementasi kebijakan merupakan suatu kajian yang mengarah pada proses pelaksanaan dari suatu kebijakan. Untuk melukiskan kerumitan dalam proses implementasi tersebut dapat dilihat pada pernyataan yang dikemukakan oleh Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier [13]
mendefinisikan implementasi kebijakan sebagai: “Pelaksana keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undang- undang, perintah-perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang penting. Dimana keputusan tersebut untuk mengidentifikasikan masalah yang akan diatasi, dalam pencapaian tujuan yang ingin dicapai, serta cara untuk mengatur proses implementasi”.
Van Meter dan Van Horn dalam Abdul Wahab, menyatakan bahwa proses implementasi adalah
“those action by public or private individuals groups that are directed the achivement of objectives set forth in prior decisions” (tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan) [14].
Menurut Sunggono, proses implementasi kebijakan terdiri dari empat tahap yaitu kebijakan, proses pelaksanaan, dampak segera kebijakan dan dampak akhir kebijakan [15]. Untuk mencapai keberhasilan dalam implementasi kebijakan, Soenarko mengatakan ada tiga kegiatan pokok yang penting, yaitu interpretation, oraganization dan application [16].
Implementasi kebijakan adalah suatu fungsi dari implementasi program. implementasi kebijakan sangat tergantung atas implementasi program dengan asumsi bahwa program-program kenyataanya secara tepat menjadi tujuan kebijakan yang disampaikan Merilee S. Grindle dalam Ekowati [17]. Jadi pada dasarnya implementasi kebijakan sama dengan implementasi program itu sendiri.
Implementasi kebijakan merupakan tahap yang krusial dalam proses kebijakan publik. Suatu program kebijakan harus diimplementasikan agar mempunyai dampak atau tujuan yang diinginkan [18].
Implementasi kebijakan dipandang dalam pengertian yang luas, merupakan alat administrasi hukum dimana berbagai aktor, organisasi, prosedur dan teknik yang bekerja bersama-sama untuk menjalankan kebijakan guna meraih dampak atau tujuan-tujuan yang diinginkan. Implementasi pada sisi yang lain merupakan fenomena yang kompleks yang mungkin dapat dipahami sebagai proses, keluaran (otput) maupun sebagai hasil James P. Lester dan Joseph Stewart Winarno [18].
Dari definisi-definisi tersebut diatas dapat diketahui bahwa implementasi kebijakan menyangkut tiga hal, yaitu: (1) adanya tujuan atau sasaran kebijakan; (2) adanya aktivitas atau kegiatan pencapaian tujuan; dan (3) adanya hasil kegiatan. Perlu dicatat bahwa implementasi kebijakan merupakan tahapan yang sangat penting dalam keseluruhan struktur kebijakan, karena melalui prosedur ini proses kebijakan secara keseluruhan dapat dipengaruhi oleh tingkat keberhasilan atau tidaknya pencapaian tujuan.
Dalam pendekatan top down, implementasi kebijakan yang dilakukan tersentralisir dan dimulai dari aktor tingkat pusat, dan keputusannya pun diambil dari aktor tingkat pusat. Pendekatan top down bertitik tolak dari perspektif bahwa keputusan-keputusan politik (kebijakan) yang telah ditetapkan oleh pembuat kebijakan harus dilaksanakan oleh administrator- administrator atau birokrat-birokrat pada level bawahnya. Beberapa model implementasi kebijakan menurut beberapa ahli sebagaimana yang dikutip dalam Agustino [19] yang dapat digunakan untuk menganalisis implementasi kebijakan, salah satunya adalah Model Donald Van Metter dan Carl Van Horn .
Dari beberapa pendapat diatas, peneliti menyimpulkan bahwa implementasi kebijakan publik bisa dipahami sebagai serangkaian tindakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka melaksanakan kebijakan publik yang telah dibuat.
Keberhasilan Implementasi Kebijakan
Keberhasilan Implementasi menurut Merilee S. Grindle dalam Nawawi [20] dipengaruhi oleh dua variabel besar, yakni isi kebijakan (content of policy) dan lingkungan implementasi (context of implementation), variable isi kebijakan yang diungkapkan oleh Merrilee S. Grindle ini mencakup hal sebagai berikut, (1) sejauh mana kepentingan kelompok sasaran atau target group termuat dalam isi kebijakan publik; (2) jenis manfaat yang diterima oleh target group, (3) sejauh mana perubahan yang diinginkan oleh kebijakan, (4) Apakah letak sebuah program sudah tepat, (5) Apakah sebuah kebijakan telah menyebutkan Implementornya dengan rinci dan (6) sumber daya yang disebutkan apakah sebuah program didukung oleh sumberdaya yang memadai.
Sedangkan variabel lingkungan kebijakan mencakup hal-hal sebagai berikut, yaitu: (1) Seberapa besar kekuasaan, kepentingan, dan strategi yang dimiliki oleh para aktor yang terlibat dalam Implementasi kebijakan; (2) karakteristik institusi dan rezim yang sedang berkuasa; (3) tingkat kepatuhan dan responsivitas kelompok sasaran. Dari Isi dan Konteks tersebut Grindle menjelaskan dibawah ini:
a) Interest Affected (kepentingan-kepentingan yang mempengaruhi)
Interest Affected berkaitan dengan berbagai kepentingan. Indikator ini berargumen bahwa suatu kebijakan dalam pelaksanaannya pasti melibatkan banyak kepentingan, dan sejauhmana kepentingan-kepentingan tersebut membawa pengaruh terhadap implementasinya, hal inilah yang ingin diketahui lebih lanjut.
b) Type of Benefit (tipe manfaat)
Isi kebijakan berupaya untuk menunjukkan atau menjelaskan bahwa dalam suatu kebijakan harus terdapat beberapa Jenis manfaat yang menunjukkan dampak positif yang dihasilkan oleh pengimplementasian kebijakan yang hendak dilaksanakan. sebagai contoh, masyrakat di wilayah A lebih suka menerima program air bersih dan pelistrikan daripada menerima program kredit sepeda motor.
c) Extent of change Envision (derajat perubahan yang ingin dicapai)
Setiap kebijakan mempunyai target yang hendak dan ingin dicapai. Isi kebijakan yang ingin dijelaskan pada poin ini adalah bahwa seberapa besar perubahan yang hendak atau ingin dicapai melalui suatu implementasi kebijakan harus mempunyai skala yang jelas.
d) Site of decision Making (Letak pengambilan keputusan)
Pengambilan keputusan dalam suatu kebijakan memegang peranan penting dalam pelaksanaan suatu kebijakan, maka pada bagian ini harus dijelaskan dimana letak pengambilan keputusan dari suatu kebijakan yang akan diimplementasikan.
e) Program Implementer (pelaksana program)
Dalam menjalankan suatu kebijakan atau program harus didukung dengan adanya pelaksana kebijakan yang kompeten dan kapabel demi keberhasilan suatu kebijakan.Ap sebuah program didukung oleh sumber
f) Resources Committed (sumber-sumber daya yang harus digunakan)
Pelaksanaan suatu kebijakan juga harus didukung oleh sumberdaya-sumberdaya yang mendukung agar pelaksanaannya berjalan dengan baik.
Sedangkan Context of Policy (lingkungan kebijakan) menurut Grindle mencakup beberapa hal, yaitu:
a) Power, Interest, and strategy of actor Involved (kekuasaan, kepentingan-kepentingan, dan strategi dari actor yang terlibat)
Dalam suatu kebijakan perlu diperhitungkan pula kekuatan atau kekuasaan, kepentingan, serta strategi yang digunakan oleh para aktor yang terlibat guna memperlancar jalannya pelaksanaan suatu implementasi kebijakan. Bila hal ini tidak diperhitungkan dengan matang sangat besar kemungkinan program yang hendak diimplementasikan.
b) Institution dan Regime Characteristic (Karakteristik lembaga dan rezim yang berkuasa) Lingkungan dimana suatu kebijakan tersebut dilaksanakan juga berpengaruh terhadap keberhasilannya, maka pada bagian ini ingin dijelaskan karakteristik dari suatu lembaga yang akan turut mempengaruhi suatu kebijakan.
c) Compliance and Responsiveness (Tingkat kepatuhan dan adanya respon dari pelaksana)
Hal lain yang dirasa penting dalam proses pelaksanaan suatu kebijakan adalah kepatuhan dan respon dari para pelaksana, maka yang hendak dijelaskan pada poin ini adalah sejauhmana kepatuhan dan respon dari pelaksana dalam menanggapi suatu kebijakan.
Setelah kegiatan pelaksanaan kebijakan yang dipengaruhi oleh isi atau konten dan lingkungan atau konteks yang ditetapkan, maka akan dapat diketahui apakah para pelaksana kebijakan dalam membuat sebuah kebijakan sesuai dengan apa yang diharapkan, juga dapat diketahui apakah suatu kebijakan dipengaruhi oleh suatu lingkungan, sehingga terjadinya tingkat perubahan yang terjadi.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif. Menurut Strauss dan Corbin penelitian kualitatif adalah penelitian non matematis, temuan yang diperoleh dari data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan beragam sarana [21]. Sarana tersebut meliputi pengamatan dan
wawancara, namun bisa juga mencakup dokumen, buku, kaset vidio dan bahkan data yang dihitung untuk tujuan lain . Sedangkan berdasar tujuannya, penelitian ini termasuk dalam metode penelitian deskriptif.
Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk mengetahui peran-peran pemerintah/LSM/aparat dalam melakukan kebijakan terhadap perempuan dan anak di Kota Malang, serta bagi korban kekerasan itu sendiri.
Menurut Nawawi, “Metode penelitian deskriptif yaitu sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya” [22]. Peneliti berupaya menggambarkan serta mendeskripsikan secara sistematis untuk mengetahui bagaimana implementasi kebijakan perlindungan kepada perempuan dan anak di Kota Malang. Sedangkan focus penelitian akan melihat beberapa hal yaitu: policy contents, policy actors, target population dari kebijakan serta dampak atas implementasinya. Atas dasar tersebut maka riset ini akan menggunakan studi kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
Waktu Dan Tempat
Kegiatan penelitian ”Analisis Implementasi Kebijakan Perlindungan Terhada Anak” ini mengambil lokasi di Kota Malang. Jangka waktu pelaksanaan penelitian adalah selama 4 (empat) bulan kalender sejak Agustus – Desember 2016.
Jenis Data
Menurut Loftlan dalam Moleong “Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, dan tindakan, selain dari itu adalah sumber data pendukung atau tambahan misalnya, dokumen, gambar dan lain-lain” [23]. Menurut Sugiyono sumber data dibagi menjadi dua jenis [24], yaitu:
Data primer
Sumber data primer adalah data yang langsung diperoleh peneliti dari hasil wawancara yang mendapat respon positif dari informan serta pengamatan saat di lapangan. Data primer diperoleh dari beberapa sumber, diantaranya adalah:
- UPPA Polres Kota Malang
- Lembaga Swadaya Masayarakat yang memiliki perhatian terhadap perlindungan perempuan dan anak di kota Malang.
Data sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber yang tidak langsung didapat oleh peneliti, data sekunder juga merupakan data pendukung dalam penelitian ini. Data sekunder tersebut diantaranya adalah Laporan Tahunan dari beberapa lembaga diatas, media berita baik cetak ataupun elektronik, serta peraturan pemerintah.
Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan informasi dan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Participatory Rapid Appraisal (PRA), meliputi:
1. Wawancara, dengan wawancara akan diperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara. Inti dari metode wawancara ini bahwa di setiap penggunaan metode ini selalu ada pewawancara, responden, materi wawancara dan pedoman wawancara. Untuk penelitian ini dilakukan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat di daerah penelitian.
2. Dokumentasi, yaitu metode pengumpulan data sekunder yang dimiliki oleh responden, Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Kota Malang, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kota Malang, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kota Malang, berupa data-data yang terkait dengan gambaran umum lokasi penelitian dan foto visual.
3. Observasi ( pengamatan)
Dalam hal meyakinkan data dan informasi yang diperoleh dari responden, peneliti mengadakan pengamatan dan survei lapang secara langsung terhadap obyek yang diamati, mendengar serta mencatat hasil temuan lapangan
Alur Pikir Penelitian
Untuk lebih jelas mengenai penelitian ini, maka dibuat alur pikir penelitian seperti pada gambar 1 dibawah ini:
Gambar 1. Alur Pikir Penelitian
Analisis Data
Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk mengetahui peran-peran lembaga yang mempunyai wewenang untuk menangani masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak serta bagi korban kekerasan itu sendiri. Sedangkan analisis kebijakan untuk mengkaji substansi dan konsistensi dari suatu kebijakan, program, dan/atau perangkat hukum tertentu yang berkaitan dengan suatu permasalahan tertentu, dalam hal ini perlindungan terhadap perempuan dan anak.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model interaktif oleh Miles, Huberman, dan Saldana [25], seperti gambar di bawah ini.
1. Data collection (Pengumpulan data).
pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara.
Dilihat dari setting data dapat dikumpulkan secara alamiah. Teknik pengumpulan data dapat dilakukan peneliti yaitu dengan wawancara, observasi secara langsung maupun tidak langsung, dan dokumen. Wawancara yang dilakukan peneliti merupakan wawancara secara semi terstruktur kepada partisipan yang bekerja di beberapa lembaga yang memiliki perhatian kepada perlindungan perempuan dan anak.
2. Data condensational (Kondensasi data).
merupakan data yang mengacu pada proses pemilihan, memfokuskan, menyederhanakan, abstraksi, dan yang mendekati keseluruhan bagian dari catatan yang terjadi di lapangan secara tertulis, transkrip wawancara, dokumen, dan bahan empiris lainnya. Dengan data yang kondensasi, kita tidak selalu berarti kuantifikasi. Data kualitatif dapat ditransformasikan dalam banyak cara:
melalui seleksi, melalui ringkasan atau parafrase, melalui yang dimasukkan dalam pola yang lebih besar, dan sebagainya.
3. Data display (Penyajian data)
merupakan sebuah pengorganisasian, menyatukan informasi yang memungkinkan sehingga dapat menggambar kesimpulan dan tindakan. Uraian data yang dibuat dikelompokkan berdasarkan data yang didapat oleh peneliti selama melakukan pengamatan secara langsung dengan turut ikut serta dalam melaksanakan pelayanan, wawancara yang dilakukan secara semi terstruktur dengan menciptakan kondisi yang santai agar proses wawancara berjalan dengan nyaman dan juga mengumpulkan dokumen terkait dengan tema penelitian yang kemudian menyajikan dalam bentuk uraian yang telah disesuaikan dengan fokus penelitian.
4. Conclusions drawing (Penarikan kesimpulan)
Kegiatan untuk menggambarkan kesimpulan. Dari awal pengumpulan data, analis kualitatif menafsirkan hal yang tidak berpola mencatat keteraturan penjelasan, alur kausal, dan proposisi.
Kesimpulan juga diverifikasi sebagai hasil analisis. Langkah selanjutnya pada proses ini peneliti melakukan penarikan kesimpulan, umumnya kegiatan penlitian tidak berhenti pada tahapan ini, bahkan kesimpulan tidak didapat hingga penelitian berakhir. Oleh karena itu peneliti melakukan verifikasi data dengan cara tetap mengikuti kegiatan pelayanan sembari melakukan penarikan kesimpulan agar hasil yang didapat selalu baru. Dari beberapa tahap ini akan dirasa berhasil jika saling melengkapi dan juga menerapkan tahapan-tahapan dengan tepat dan runtut.
Analisis Kebijakan
Analisis Isi (content Analysis), yaitu suatu metode untuk mengkaji substansi dan konsistensi dari suatu kebijakan, program, dan/atau perangkat hukum tertentu yang berkaitan dengan suatu permasalahan tertentu. Dalam hal ini, analisis isi difokuskan untuk menganalisis berbagai kebijakan perlindungan terhadap perempuian dan anak dalam berbagai dokumen daerah dan peraturan perundangan yang berlaku.
Adapun langkah-langkah review kebijakan menggunakan analisis isi (Content Analysis) sebagai berikut:
a. Review literatur dan kebijakan mengenai penelitian dan tulisan multidisipliner lainnya yang berkaitan dengan perlindungan terhadap perempuan dan anak. Tujuan tahapan ini untuk mendekonstruksi tulisan yang ada.
b. Pengenalan Pola – untuk mengidentifikasi pola yang serupa dari informasi yang bersifat acak.
Tujuannya mengklasifikasikan secara umum konsep yang ada dan kemudian melihat kemiripan pola secara lebih detail.
c. Identifikasi konsep perlindungan terhadap perempuan dan anak, serta penerapannya di lapangan.
d. Konsepsualisasi – untuk mengidentifikasikan kekerasan dan pelecehan serta faktor yg mempengaruhi.
Melakukan kajian/kaji ulang (review) terhadap kebijakan perlindungan terhadap perempuan dan anak yang ada. Apabila telah tersedia dokumen sejenis lainnya, maka kajian dilakukan terhadap dokumen tersebut, sedangkan apabila belum tersedia dokumen sejenis lainnya, maka kajian dilakukan terhadap semua dokumen kebijakan yang telah dimiliki dan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kebijakan perlindungan terhadap anak tersebut.
Analisis isi mempunyai tujuan, antara lain :
a. Terinventarisasinya kebijakan dan strategi terkait perlindungan terhadap anak b. Tereviewnya kebijakan dan strategi terkait perlindungan terhadap anak c. Terpetakannya kebijakan dan strategi perlindungan terhadap anak HASIL DAN PEMBAHASAN
Profil Kota Malang
Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya serta merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia menurut jumlah penduduknya. Kota Malang secara astronomis terletak terletak 112,06° – 112,07° Bujur Timur dan 7,06° – 8,02° Lintang Selatan, dan berada pada ketinggian antara 440-667 meter diatas permukaan laut dan berada ditengah-tengah wilayah kabupaten Malang, dengan luas wilayah kota adalah 145,28 km2 . Kota Malang terdiri dari lima kecamatan yaitu, Kedungkandang, Klojen, Blimbing, Lowokwaru, dan Sukun serta terdapat 57 kelurahan. Jumlah penduduk kota Malang sampai pada tahun 2015 menurut Badan Pusat Statistik (BPS,2016) penduduk laki-laki adalah 419.713 jiwa dan jumlah perempuan 431.585 jiwa, dengan kepadatan penduduk Kota Malang mencapai