• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi dan Strategi Pengembangan Wisata di Sintang

Amin Setyo Leksono*, Endah Setyowati, Abdul Hakim Pascasarjana Universitas Brawijaya

Abstrak

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan potensi wisata dan menyusun strategi pengembangan wisata di Kecamatan Kelam Permai Kabupaten Sintang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode survei dan wawancara secara mendalam. Informan kunci dalam penelitian ini terdiri atas Kepada Desa Ensaid Panjang, pengelola rumah tradisional Betang (tetua adat), dan perwakilan masyarakat Ensaid Panjang. Focus group discussion dilakukan untuk merumuskan strategi berdasarkan partisipasi pemangku kepentingan. Analisis digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi kawasan pariwisata Sintang, Kalimantan Barat dan strategi yang perlu dikembangkan dilakukan melalui analisis Strength , Weakness, Opportunity, dan Threat (SWOT). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 lokasi wisata unggulan yaitu Bukit Kelam, Wisata Rohani Bukit Maria, Rumah Betang dan Air Terjun. Selain Rumah Betang, potensi wisata yang lain berupa potensi wisata alam. Namun demikian potensi wisata yang ada tersebut masih belum dikembangkan. Kelemahan mendasar adalah ketersediaan fasilitas yang masih terbatas. Kualitas jalan, ketersediaan angkutan wisata, sarana pariwisata, promosi dan fasilitas pusat informasi wisatawan juga masih terbatas. Strategi yang bisa dikembangkan yaitu perbaikan fasilitas dan infrastruktur, promosi wisata, peningkatan partisipasi masyarakat dan pelibatan sector swasta

Kata kunci: Analisis SWOT, Bukit kelam, Wisata berkelanjutan

PENDAHULUAN

Pengembangan perencanaan strategis pariwisata khususnya di daerah pedesaan telah mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Perhatian ini bertujuan untuk mengelola pariwisata secara berkelanjutan [1, 2].

Indonesia adalah negara dengan sumber daya alam yang melimpah, seperti hutan, air terjun, sungai, kawah, padang rumput, kaldera, dan danau. Namun, ada kebutuhan untuk melibatkan masyarakat dalam pengembangan tujuan wisata untuk mendapatkan dukungan dari pihak lokal.

Di bidang pariwisata berkelanjutan berkembang berpendapat bahwa manajemen tujuan komprehensif penting untuk menciptakan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Pariwisata berkelanjutan didasarkan pada prinsip-prinsip berikut keseimbangan antara pelestarian sumber daya alam, partisipasi semua pemangku kepentingan dan peningkatan ekonomi masyarakat lokal [3].

Dalam prakteknya, ekowisata sering gagal untuk memberikan manfaat yang diharapkan kepada masyarakat local khususnya masyarakat adat karena berbagai alasan, termasuk minimnya dalam modal manusia, keuangan dan sosial,serta lemahnya mekanisme untuk pembagian manfaat ekonomi ekowisata yang adil, dan ketidakamanan lahan [4]. Keberhasilan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan ditentukan oleh keadilan pembagian dari manfaat ekonomi sumber daya alam dan ekowisata [5]

Salah satu potensi wisata alam yang besar di Kalimantan Barat Indonesia terletak di Desa Ensaid Panjang. Di lokasi ini, terdapat Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kelam dan Rumah Tradisional Betang. Berdasarkan survei awal, lokasi ini diklasifikasikan sebagai desa tertinggal karena memiliki fasilitas komunikasi dan transportasi yang terbatas.

Potensi wisata alam dan budaya di desa ini sangat menarik karena keindahan alam dan rumah adat. Rumah Tradisional Betang adalah suku Dayak suku besar dan panjang di Kalimantan. Seluruh rumah dibangun dari kayu.

Potensi ekologi sangat bagus karena terletak di kawasan NTP Bukit Kelam. Di kawasan ini terdapat berbagai flora langka, seperti meranti (Shorea sp), bangeris (Koompassia sp), tengkawang (Dipterocarpus sp), anggrek (Orchidaceae), dan kantong semar (Nepenthes spp.). Di puncak bukit ada gua dan di dalamnya ada banyak burung layang-layang. Bukit Kelam ini juga dikelilingi oleh hutan tropis dan air terjun dengan ketinggian mulai dari 50-900 meter di atas permukaan laut (dpl). Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan potensi wisata dan menyusun strategi pengembangan wisata di Kecamatan Kelam Permai Kabupaten Sintang.

METODE

Penelitian ini dilakukan di desa Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia. Jarak lokasi penelitian dengan ibukota Kabupaten Sintang sekitar 34 km. penelitian ini tergolong penelitian lapangan (field research) yang dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui pengamatan langsung objek wisata, wawancara dan mengisi daftar pertanyaan.

Serangkaian wawancara mendalam dilakukan untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.

Observasi langsung kelapangan untuk mengetahui kondisi dan keadaan suatu daerah atau obyek wisata yang akan diteliti, serta bertujuan untuk mendapatkan data-data yang lebih valid karena berasal langsungdari sumber data yang telah peneliti amati.

Informan dipilih dari actor kunci dalam kegiatan pariwisata di Desa Ensaid Panjang. Peneliti harus mengetahui beberapa informan kunci terlebih dahulu dan kemudian meminta mereka untuk memperkenalkan informan lain yang dapat menjelaskan fokus penelitian. Informan kunci dalam penelitian ini terdiri atas Kepada Desa Ensaid Panjang, Pengelola Rumah Tradisional Betang (tetua adat), dan perwakilan masyarakat Ensaid Panjang.Focus group discussion dilakukan untuk memperjelas strategi berdasarkan partisipasi pemangku kepentingan. Durasi diskusi adalah 120 menit.

Sumber informasi lain dalam penelitian ini adalah dokumen-dokumen yang relevan dengan penelitian yang diperoleh melalui Sekretariat Kabupaten Sintang melalui bidang hukum dan informasi, dan berbagai dokumen kebijakan. Informasi dan data yang diperoleh dari lapangan dan informan melalui wawancara tidak terstruktur secara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi.

Proses analisis data dilakukan dengan tahapan deskripsi hasil penelitian, yaitu dengan cara menulis data yang diperoleh di lapangan dalam bentuk uraian atau laporan yang terperinci. Selanjutnya data direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal pokok yang difokuskan pada hal-hal yang penting, dan disusun secara lebih sistematis, sehingga nantinya akan lebih mudah untuk dianalisis. Metode triangulasi digunakan untuk memverifikasi datayaitu dengan cara memperluas informasi dari informan satu ke informan lain hingga informasi yang diperoleh bersifat jenuh.Analisis digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi kawasan pariwisata Ensaid Panjang di Kalimantan Barat melalui analisis Strength, Weakness, Opportunity, dan Threat (SWOT).

HASIL

3.1. Potensi Wisata Desa Ensaid Panjang a. Rumah betang

Rumah Betang adalah rumah adat khas suku Dayak, Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan (Gambar 1). Rumah Betang memiliki bentuk sebagai rumah panggung yang panjang. Panjangnya bisa mencapai 100 meter serta lebarnya dapat mencapai sekitar 15 meter, memiliki tiang yang tingginya sekitar 3-5 meter. Di dalam rumah ini terdapat bilik-bilik yang masing-masing dihuni oleh satu keluarga. Secara keseluruhan terdapat 25 – 30 keluarga (100-150 jiwa) dalam satu rumah. Rumah ini biasanya dihuni oleh masyarakat Dayak, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat permukiman suku. Betang dapat dikatakan sebagai rumah suku, karena selain di dalamnya terdapat satu keluarga besar yang menjadi penghuninya dan dipimpin pula oleh seorang tetua adat.

Rumah Betang bentuknya memanjang serta terdapat sebuah tangga dan pintu masuk ke dalam Betang.

Tangga sebagai alat penghubung pada rumah ini dinamakan hejot. Rumah ini dibangun tinggi dari permukaan tanah dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang meresahkan para penghuni Betang, seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba-tiba, binatang buas, ataupun banjir yang terkadang datang melanda. Di dalam rumah ini terdapat ruang untuk kegiatan umum dan ada ruang-ruang khusus yang ditempati masing-masing keluarga.

Di dalam Rumah Betang berlangsung kehidupan masyarakat suku Dayak yang masih mempertahankan budaya dan tradisi yang diwariskan turun temurun. Para laki-laki bertani atau berkebun (karet), sementara perempuan menenun kain. Kegiatan utama para wanita adalah menenun (Gambar 2). Proses menenun memakan waktu 3-6 bulan.

Gambar 1. Rumah Betang yang merupakan rumah adat Suku Dayak di Desa Ensaid Panjang

Gambar 2. Aktivitas utama kaum perempuan adalah menenun b. Bukit kelam

Bukit Kelam merupakan bukit batu yang besar. Bukit Kelam terletak 20 Km dari kota Sintang, Kalimantan Barat ini merupakan sebongkah batu raksasa yang monolit, sehingga sering diklaim sebagai batu terbesar di dunia.

Batu ini sering diklaim sebagai batu terbesar di dunia. Karena itu, Bukit Kelam sangat berpotensi dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata yang unik. Sebagai sebongkah batu raksasa, Bukit Kelam menawarkan pemandangan alam yang eksotis. Di Bukit Kelam terdapat air terjun yang airnya dimanfaatkan penduduk setempat untuk mengairi sawah, goa alam yang dihuni oleh kelelawar, juga terdapat tumbuhan langka seperti meranti, kantong semar, anggrek hitam yang sedang mekar.

Gambar 3. Bukit Kelam merupakan Kawasan Wisata Alam yang menjadi ikon pariwisata di Sintang c. Wisata rohani

Wisata rohani merupakan tempat ibadah yang juga sekaligus menjadi tempat wisata yang terdapat di wisata rohani bukit kelam. Wisata rohani ini menjadi tempat ibadah sekaligus berwisata terletak di kaki bukit kelam dan di bawah pohon-pohon membuat tempat wisata ini menjadi tempat terbaik untuk menumbuhkan iman, suasana yang sepi dan tenang juga sangat mendukung kegiatan wisata. Obyek yang bisa diamati adalah adanya telaga yang terdapat ikan-ikan, rumah ibadah dan gua.

d. Air tejun Bukit Rentap dan Telaga Surat

Air terjun Bukit Rentap dan Telaga Surat terletak disebelah utara Desa Ensaid Panjang. Air terjun ini memiliki ketinggian 30 m. berbeda dari air terjun pada umumnya, bentuk air terjun ini miring. Air terjun ini menjadi sumber air minum bagi penghuni rumah betang.

3.2. Strategi Pengembangan Pariwisata

Penelitian ini mengidentifaikasi beberapa kekuatan dan kelemahan. Kekuatan utama yang ada meliputi keindahan alam, kebersihan dan kelestarian lingkungan, sedangkan kelemahan utama adalah jarak dengan ibukota

Sintang, kualitas jalan, ketersediaan angkutan wisata sarana pariwisata, kios yang menyediakan makanan maupun souvenir, kurangnya promosi dan keberadaan Tourist Information Centre. Yang termasuk peluang adalah kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan, kondisi ekonomi nasional, peran serta masyarakat dalam melestarikan budaya, transportasi, informasi, kebijakan pemerintah dalam pengembangan pariwisata, keamanan kawasan wisata, serta daya tarik obyek wisata, sedangkan yang termasuk ancaman adalah adanya perubahan ilkim, kondisi ekonomi global, kondisi politik global dan kondisi politik nasional.

a. Pengembangan Obyek Wisata

Objek wisata adalah ciri khas suatu daerah yang ditunjang oleh keadaan alam dan budaya suatu daerah.

Pengembangan obyek wisata dapat dilakukan dengan meningkatkan sarana dan prasarana obyek wisata dan pembenahan fasilitas objek wisata. Pemerintah daerah harus melakukan berbagai upaya dalam pengembangan sarana dan prasarana. Sarana sesuai dengan namanya menyediakan kebutuhan pokokyang ikut menentukan keberhasilan suatu daerah menjadi daerah tujuan wisata. Fasilitas yang tersedia dapat memberikan pelayanan kepada para wisatawan, baik secara langsung atau tidak langsung.

Pemenuhan sarana pariwisata pada gilirannya akan menjadikan pariwisata sebagai sebuah industri. Dalam pemahaman ini maka dimensi sosial akan terwujud dimana kegiatan pariwisata akan memperluas kesempatan tenaga kerja baik dari kegiatan pembangunan sarana dan prasarana maupun dari berbagai sektor usaha yang langsung maupun yang tidak langsung berkaitan dengan kepariwisataan. Pariwisata akan dapat menumbuhkan dan meningkatkan pengenalan dan cinta terhadap tanah airnya, sehingga dapat memotifasi sikap toleransi dalam pergaulan yang merupakan kekuatan dalam pembangunan bangsa, selain itu juga pariwisata mampu memperluas cakrawala pandangan pribadi terhadap nilai-nilai kehidupan.

Akses menuju obyek wisata di Desa Ensaid Panjang memerlukan perhatian serius agar wisatawan tertarik untuk datang ke obyek wisata tersebut. Mengingat saat ini akses jalan menuju obyek wisata tidak dibangun dengan baik yang memudahkan trasportasi menuju lokasi obyek wisata. Apalagi jika turun hujan kondisi jalan dapat menganggu kenyamanan dan keamanan wisatawan yang akan mengunjungi obyek wisata. Bahkan dibutuhkan trasportasi khusus agar dapat sampai ke lokasi obyek wisata khususnya wisata Air Bukit Rentap dan Air Terjun Surat.

Hanya kendaraan roda dua yang bisa akses ke tempat tersebut. Hal ini perlu segera ditindaklanjuti karena wisatawan adalah orang yang melakukan perjalanan sementara waktu ke tempat atau daerah yang sama sekali masih asing baginya.

Beberapa langkah di atas diupayakan agar sebuah obyek wisata dapat dilihat, di nikmati dan menimbulkan kesan tersendiri apabila di dukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Jika sarana dan prasarana tidak memadai maka akan merusak dan membahayakan bagi wisatawan.

b. Promosi Wisata

Jika sarana dan prasarana kepariwisataan sudah disediakan dengan baik maka strategi selanjutnya adalah promosi wisata. Mengingat suatu objek wisata tidak akan berarti banyak bila aksesbilitas ke objek wisata tersebut sulit di jangkau, baik lewat darat maupun lewat udara. Agar pariwisata dapat berkembang dengan baik, maka suatu destinasi haruslah bisa di datangi dengan mudah. Oleh karena itu aksebilitas menuju dan di sekitar objek wisata perlu menjadikan perhatian utama sebelum promosi byek wisata. Aksebilitas yang di maksud disini seperti jalan dan trasportasi serta fasilatas pendukung lainnya.

Dengan demikian strategi ini diambil dengan cara pemerintah daerah membentuk/meningkatkan peran badan promosi daerah yang melibatkan stakeholder, seperti persatuan travel, hotel, dan usaha jasa lainnya seperti restoran. Media promosi dilakukan dengan mencetak brosur dan disebarkan di bandara, restoran, dan travel.

c. Meningkatkan Partisipasi Masyarakat

Dalam mengembangkan objek wisata daerah di Desa Ensaid Panjang sangatpenting dibutuhkan peran aktif dari masyarakat sekitar. Karena secara tidak langsung upaya pengembangan pariwisata daerah akan berdampak juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Hal ini merupakan bagian dari pemahaman sudut ekonomi bahwa kegiatan pariwisata dapat memberikan sumbangan terhadap penerimaan daerah bersumber dari pajak, retribusi parkir dan karcis atau dapat mendatangkan devisa dari para wisatawan mancanegara yang berkunjung. Adanya pariwisata juga akan menumbuhkan usaha-usaha ekonomi yang saling merangkai dan menunjang kegiatannya sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

d. Melibatkan Sektor Swasta

Sesuai dengan prinsip good governance maka era sekarang pemerintah daerah perlu menggandeng sektor swasta dalam memenuhi kebutuhan publik termasuk didalamnya mengembangkan pariwisata. Sektor swasta akan tergerak untuk menanamkan investasi jika ada kemudahan dalam mengurus izin usaha dan prospek usaha tersebut mendatangkan keuntungan. Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Sintang harus berusaha keras menjalin kerjasama dengan pihak swasta dan memfasilitasi swasta mengembangkan pariwisata di Desa Ensaid Panjang. Cara yang dapat dilakukan antara lain memberi kemudahan izin usaha, segera memperbaiki sarana dan prasarana menuju Desa Ensaid Panjang agar investor tertarik dan memberikan edukasi ke masyarakat bahwa keterlibatan

sektor swasta dalam mengembangkan pariwisata akan dapat membuka lapangan pekerjaan penduduk setempat.

Disamping itu Pemerintah Kabupaten Sintang perlu menyusun kluster pariwisata yang dinamis dan sadari potensi- potensi yang sebelumnya tidak / kurang diperhatikan dari aset-aset pariwisata yang ada dengan menitikberatkan pada hubungan-hubungan dan saling ketergantungan antara pemain usaha didalam rantai nilai, dalam memproduksi produk dan pelayanan pariwisata, menciptakan lingkungan yang memampukan baik bagi investasi pariwisata maupun pengembangan produk. Kluster yang dimaksud bisa pariwisata berbasis kuliner, pariwisata berbasis lingkungan dan lainnya. Dengan demikian pariwisata sebagai industri dengan adanya kerjasama dengan swasta akan menjadikan pariwisata yang dapat meningkatkan sektor ekonomi, social dan tetap mempertahankan kelestarian lingkungan.

PEMBAHASAN

Pariwisata merupakan salah satu sektor pendapatan penting bagi Indonesia. Dengan adanya tempat wisata, masyarakat dan pemerintah daerah mendapat pemasukan dari kegiatan pariwisata. Kegiatan sektor ini memiliki hubungan yang saling bergantung dengan pertumbuhan ekonomi dan kegiatan ekonomi lainnya [6,7]. Dalam dua dekade terakhir, pariwisata di Indonesia dalam dekade ini mulai menunjukkan pertumbuhan menjadi industri.

Namun, program pengembangan pariwisata harus terus ditingkatkan karena kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang pariwisata berkelanjutan masih belum optimal. Sejauh ini pemahaman masyarakat tentang pariwisata masih bersifat pariwisata masal.

Berkenaan dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan, kegiatan harus sesuai dengan perencanaan yang matang sehingga bermanfaat baik bagi masyarakat, baik dari segi ekonomi, sosial dan budaya. Sejauh ini peran pemerintah, terutama pemerintah daerah di wilayah terluar masih kurang karena keterbatasan sumber daya manusia yang terbatas dalam birokrasi. Oleh karena itu kontribusi para pemangku kepentingan termasuk sektor swasta dan lembaga non pemerintah perlu ditingkatkan. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan keterlibatan masyarakat.

Pengembangan kawasan wisata berkelanjutan memerlukan beberapa strategi termasuk meningkatkan promosi, melestarikan lingkungan dan melibatkan masyarakat dalam pengembangan pariwisata [8]. Pengembangan pariwisata yang melibatkan partisipasi masyarakat adalah proses yang harus muncul dan dilakukan oleh masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat [9,10]. Sebuah penelitian yang dilakukan di Kosta Rika yang bertujuan untuk mengamati hubungan pelestarian dan pembangunan menunjukkan efektivitas ekowisata dalam strategi konservasi [9].

Jika dilihat dari potensi pariwisata yang sebagaian besar adalah wisata alam, maka upaya pendekatan pariwisata tersebut harus menjaga kelestarian alam. Untuk itu, potensi kearifan lokal perlu dijaga dan terus dilestarikan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal mengandung nilai ekologis, nilai- nilai agama, nilai-nilai sosial-budaya, nilai-nilai praktis, keseimbangan lingkungan, dan keberlanjutan konservasi, konservasi, kontrol dan konservasi fungsi sumber daya alam [5,10]. Pengelolaan sumber daya alam harus melibatkan aktor masyarakat setempat yang terus mempraktekkan kearifan lokal. Selanjutnya, eksploitasi sumber daya alam yang ada harus dicegah. Lahan yang telah dibuka harus ditanam kembali agar keseimbangan ekosistem dapat pulih.

KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 lokasi wisata unggulan yaitu Bukit Kelam, Wisata Rohani Bukit Maria, Rumah Betang dan Air Terjun. Selain Rumah Betang, potensi wisata yang lain berupa potensi wisata alam.

Namun demikian potensi wisata yang ada tersebut masih belum dikembangkan. Kelemahan mendasar adalah ketersediaan fasilitas yang masih terbatas. Kualitas jalan, ketersediaan angkutan wisata, sarana pariwisata, promosi dan fasilitas pusat informasi wisatawan juga masih terbatas. Strategi yang bisa dikembangkan yaitu perbaikan fasilitas dan infrastruktur, promosi wisata, peningkatan partisipasi masyarakat dan pelibatan sector swasta

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Tim pendukung, Pether Sobian, Antonius, Gunawan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Direktur Pascasarjana serta Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Mayarakat (LPPM) Universitas Brawijaya. Kegiatanini didanai oleh LPPM Universitas Brawijaya dengan skema Hibah Doktor Mengabdi tahun 2017

DAFTAR PUSTAKA

[1] Timothy, D.J., 1999, Participatory planning a view of tourism in Indonesia, Annals of Tourism Research, 26,371–

391.

[2] Fons, M. V. S., J. A. M.Fierro and M. G.Patiño. 2011. Rural tourism: A sustainable alternative. Applied Energy 88, 551-557.