BAB IV Analisis Efektivitas Hukum tentang Pelayanan SIMKAH di KUA Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo, merupakan bab yang
A. Analisis Terhadap Implementasi Pelayanan Pendaftaran dan Pencatatan Nikah Melalui Website SIMKAH di KUA Kecamatan
64 BAB IV
ANALISIS EFEKTIVITAS HUKUM TERHADAP PELAYANAN SIMKAH DI KUA KECAMATAN BABADAN KABUPATEN PONOROGO
A. Analisis Terhadap Implementasi Pelayanan Pendaftaran dan
melakukan terobosan baru dengan mengeluarkan sebuah aplikasi yang bernama Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH).
Tujuan diterbitkannya SIMKAH ini adalah untuk mengumpulkan data pernikahan yang ada di KUA seluruh Indonesia secara online. Selain itu, SIMKAH ini dapat menggantikan sistem pencatatan yang sebelumnya masih dilakukan secara manual dengan ditulis tangan oleh petugas KUA.
Artinya, hadirnya SIMKAH pada KUA Kecamatan selaras dengan diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam) Nomor DJ.II/369 Tahun 2013 tentang Penerapan Sistem Informasi Manajemen Nikah pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan.
Di KUA Kecamatan Babadan, SIMKAH sudah diterapkan dengan baik. Sebelumnya, pendaftaran dan pencatatan nikah masih dilakukan secara manual yakni dengan cara ditulis tangan oleh petugas KUA.
Adapun SIMKAH yang lebih dulu diterapkan di KUA Kecamatan Babadan adalah SIMKAH Berbasis Web, sebelum akhirnya mengalami pembaharuan menjadi SIMKAH Gen 4. SIMKAH Berbasis Web ini hadir atas Keputusan Menteri Agama (KMA) Republik Indonesia Nomor 892 Tahun 2019 tentang Penerapan Sistem Informasi Manajemen Nikah Berbasis Web Pada Kantor Urusan Agama Kecamatan.
Terdapat kelebihan dalam SIMKAH Berbasis Web, diantaranya terdapat integrasi dengan Dukcapil, sehingga dengan memasukkan NIK saja, maka data yang dibutuhkan akan muncul secara otomatis melalui
sistem. Namun setelah muncul Peraturan Kementerian Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 102 Tahun 2019 tentang Pemberian Hak Akses dan Pemanfaatan Data Kependudukan, SIMKAH sudah tidak bisa menginput dan memvalidasi data secara otomatis. Sehingga untuk menginput data calon pengantin, maka harus diketik dan dimasukkan satu-persatu. Adapun mengenai proses validasi, KUA membutuhkan data fisik calon pengantin yang nantinya akan dicocokkan dengan data yang sudah diinput dalam SIMKAH.
Selain terdapat integrasi dengan Dukcapil, di era SIMKAH Berbasis Web ini, Kemenag memerintahkan KUA untuk mengeluarkan kartu nikah fisik. Dalam kartu nikah tersebut terdapat barcode yang berisi data akurat yang telah tervalidasi oleh server pusat. Namun, hanya beberapa waktu saja, penerbitan kartu nikah fisik dihilangkan oleh Kemenag untuk selanjutnya diganti dengan kartu nikah digital. Hal ini terjadi karena adanya kendala biaya dalam operasionalnya. Kartu nikah digital ini nantinya bisa di download melalui aplikasi SIMKAH.
Seiring perkembangan waktu, terjadi pembaharuan, yang semula SIMKAH Berbasis Web kemudian beralih menjadi SIMKAH Gen 4.
Setelah melakukan beberapa uji coba, akhirnya pada tahun 2023 KUA Babadan secara resmi menerapkannya. Dalam SIMKAH Gen 4 memiliki beberapa menu tambahan yang tidak dimiliki oleh SIMKAH sebelumnya, yakni menu saran dan masukan. Namun, yang lebih istimewa lagi yakni terdapat tambahan inegrasi dengan Kementrian Keuangan, sehingga pada
saat melakukan pembayaran layanan nikah akan terlihat statusnya, apakah sudah lunas atau belum. Hal ini terjadi karena invoice pembayaran akan tergenerate secara otomatis oleh sistem, yang ketika pembayaran sudah lunas maka billing bisa langsung dicetak.
KUA juga melakukan upaya untuk memperkenalkan SIMKAH, mulai dari intern KUA maupun kepada masyarakat. Dapat dilihat, bahwa operator SIMKAH di KUA yang berjumlah 3 orang ini sudah cukup cakap dalam pengoperasian SIMKAH. Selain itu, KUA juga memperkenalkan kehadiran SIMKAH ini kepada Modin, karena disini Modin juga sebagai mitra kerja KUA yang juga secara tidak langsung berkecimpung dalam hal ini, untuk membantu memberikan informasi SIMKAH kepada masyarakat.
Meski diberi kebebasan penuh untuk mengakses SIMKAH, namun masyarakat di beberapa desa wilayah Kecamatan Babadan ini rata-rata lebih memilih untuk meminta jasa modin guna mengurus segala keperluan pernikahan seperti halnya dalam hal pemenuhan berkas pernikahan.
Selanjutnya, terkait pelayanan pendaftaran dan pencatatan nikah melalui SIMKAH khususnya di KUA Kecamatan Babadan Kabupaten ponorogo akan ditinjau melalui teori efektivitas hukum. Sebelumnya, efektitivitas ini memiliki pengertian tercapainya sebuah tujuan yang sebelumnya ditetapkan.1 Adapun pengertian dari teori efektivitas hukum sendiri adalah sebuah teori yang mengkaji dan menganalisis tiga kajian, diantaranya keberhasilan dalam pelaksanaan hukum, kegagalan dalam
1 Sabian Usman, Dasar-Dasar Sosiologi, 12.
pelaksanaan hukum, serta faktor yang mempengaruhi keberhasilan hukum.2
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat efektivitas hukum ini, diantaranya faktor substansi hukumnya, faktor penegak hukumnya, faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum, faktor masyarakatnya, dan faktor kebudayaannya.3 Hal ini dilihat berdasarkan beberapa data dan keterangan yang telah didapat dari wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan beberapa responden, bahwa jika dikaji dari substansi hukumnya, penerapan SIMKAH pada KUA Kecamatan Babadan ini sudah selaras dengan peraturan pemerintah yakni Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam) Nomor DJ.II/369 tahun 2013, karena di KUA Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo SIMKAH sudah diterapkan dan diberlakukan dengan baik sesuai peraturan yang diberlakukan pemerintah yakni Dirjen Bimas Islam Nomor DJ.II/369 Tahun 2013 tentang pemberlakuan SIMKAH di KUA Kecamatan. Semua pendaftaran dan pencatatan nikah di KUA Kecamatan Babadan dilakukan melaui SIMKAH. Karena sebagai sebuah instansi yang bersosialisasi langsung dengan masyarakat, harus mematuhi dan tetap berada dalam aturan hukum yang berlaku.
Dari sudut aparat pelaksana hukumnya, KUA sebagai aparat pelaksana memiliki tujuan terkait diterapkannya SIMKAH di KUA Kecamatan Babadan. Tujuan diterapkannya SIMKAH ini karena
2 Hans Kelsen, Teori Umum Tentang Hukum dan Negara, 39.
3 Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, 5.
mematuhi aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Selain itu, penerapan SIMKAH ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan KUA terhadap masyarakat khususnya dalam bidang pendaftaran dan pencatatan nikah. KUA juga melakukan upaya untuk memperkenalkan SIMKAH kepada masyarakat melalui bantuan Modin.
Ditinjau dari faktor masyarakatnya, rata-rata masyarakat sekitar Kecamatan Babadan kurang mengetahui informasi terkait adanya SIMKAH ini. Karena belum mendapat informasi langsung terkait SIMKAH dari Modin. Sehingga untuk mendaftarkan atau mengurus berkas biasanya masyarakat (calon pengantin) meminta bantuan Modin setempat. Juga menurut keterangan dari Penghulu KUA Kecamatan Babadan yakni bapak Ahmad Mudjiono, bahwa masyarakat tidak memiliki keharusan untuk bisa mengoperasikan SIMKAH. Namun, masyarakat tetap diberi kebebasan untuk bisa mengakses SIMKAH.
Ditinjau dari faktor sarana dan fasilitasnya, KUA Kecamatan Babadan sudah memiliki sarana dan fasilitas yang cukup memadai, diantaranya terdapatnya laptop atau komputer yang kondisinya masih sangat baik serta jaringan internet yang cukup lancar. Hal ini tentunya mendukung penerapan pelayanan SIMKAH di KUA Kecamatan Babadan secara lebih maksimal.
Ditinjau dari faktor kebudayaannya, bahwa rata-rata masyarakat Babadan meminta bantuan Modin untuk membantu mengurus berkas pernikahan yang dibutuhkan oleh KUA.
Berdasarkan analisa diatas, terkait implementasi pelayanan pendaftaran dan pencatatan nikah melalui SIMKAH di KUA Kecamatan Babadan belum efektif dan kurang maksimal.
B. Analisis Tentang Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat dalam