BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Analisis dan Interpretasi (Pembahasan)
Pengelolaan Dana Desa dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Peraturan Negeri (Permendagri) Nomor 73 Tahun 2020 ditegaskan bahwa:
Pengelolaan Dana Desa adalah tindakan umum yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban keuangan Desa. Peraturan Menteri Dalam Negeri berbicara tentang pengawasan dan asas-asas dalam Pengelolaan Dana Desa. Sebelumnya terdapat Permendagri Nomor 20 Tahun 2018 mengenai Asas-Asas Pengelolaan Dana desa.
Sampai saat ini Permendagri Nomor 20 Tahun 2018 masih berlaku untuk digunakan sebagai alasan untuk menetapkan peraturan berkaitan dengan Pengelolaan Dana Desa. Kemudian, sebagai bentuk perwujudan asas pengelolaan dana desa yakni transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi maka perlu adanya peraturan mengenai pengawasan pengelolaan dana desa.
Dengan cara ini, aturan yang ditetapkan Permendagri Nomor 73 Tahun 2020 tentang Pengawasan Pengelolaan Dana Desa. Permendagri ini mengatur mengenai pengawasan oleh beberapa pihak antara lain camat, BPD, dan
masyarakat Desa. Keuangan Desa dikelola berdasarkan asas-asas, Keuangan Desa dikelola berdasarkan asas-asas, yaitu: Transparan, Akuntanbel, Partisipatif, Serta Tertib dan Disiplin Anggaran
1. Prinsip Transparan
Dalam mewujudkan transparansi pengelolaan dana desa, maka diperlukan struktur pengelolaan keuangan di Desa. Menurut Permendagri Nomor 73 Tahun 2020 Pasal 1 disebutkan bahwa pengelolaan keuangan desa harus berjalan secara transparan, akuntabel, tertib dan disiplin anggaran, serta partisipatif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kemudian, menurut aturan tersebut juga disebutkan bahwa Kepala Desa merupakan PKPKD (Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Desa). Kepala Desa sebaogai pemegang kekuasaan penuh atas pengelolaan dana desa bertanggung jawab dalam menerapkan salah satu asas pengelolaan yaitu transparansi.
Dengan memberikan akses dan kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui informasi mengenai pengelolaan dana desa, maka dapat mempermudah upaya masyarakat dalam menilai keberpihakan pemerintah desa terhadap kepentingan masyarakat desa. Kemudian, dalam Permendagri No. 73 Tahun 2020 Pasal 23 menyebutkan bahwa masyarakat desa berhak untuk mendapatkan informasi mengenai APB Desa yang paling sedikit memuat mengenai APB Desa, pelaksana kegiatan anggaran dan tim yang melaksanakan kegiatan; dan alamat pengaduan. Permendagri tersebut juga menekankan bahwa adanya pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat desa. Dalam
pelaksanaannya, pemerintah Desa Sapanang telah memasang baliho serta menyebarkan informasi melalui media elektronik whatsapp dan facebook, hanya saja tidak berlangsung lama. Serta informasi dalam baliho tidak memuat secara rinci penggunaan dana desa selama tahun 2021. Sehingga, masyarakat belum memahami secara jelas penggunaan dana desa tersebut. Sedangkan berdasarkan prinsip transparansi dijelaskan bahwa informasi harus dapat dipahami dan dimonitor. Baliho yang kurang menampilkan secara rinci arus penggunaan dana desa serta waktu pemasangan terbilang cepat menjadi alasan masyarakat desa menyebutkan bahwa pemerintah desa masih kurang transparan dalam pengelolaan dana desa. Baliho yang sempat terpasang hanya pada rumah Kaur Keuangan Desa juga menjadi hal yang perlu didiskusikan kembali oleh pemerintah desa sebab kurang tersebarnya informasi mengenai penggunaan dana desa menjadikan masyarakat kurang dalam hal mengawasi atau monitoring pengelolaan dana desa tersebut.
Pemerintah Desa Sapanang cenderung mengabaikan kebutuhan masyarakat dan kurang transparan mengenai informasi dana desa.
Berdasarkan data yang ditemukan di lapangan maka dapat disimpulkan bahwa pemerintah Desa Sapanang saat ini belum memenuhi syarat- syarat transparansi. Sehingga dalam implementasinya, pemerintah Desa Sapanang belum bisa memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Oleh karena itu, hak untuk memperoleh informasi mengenai pengelolaan dana desa masuk ke dalam hak asasi setiap warga desa agar dapat melakukan penilaian dan pendukung terhadap kinerja dari pemerintah desa secara tepat. Hasil penelitian sesuai dengan penelitian
yang dilakukan (Mercy Yusup, Julie Abdullah, Wahyudin Hasan, 2019) menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan dana desa di DesaDulamayo Barat, Pilohayanga, dan Pilohayanga Barat Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo belum sesuai dengan Peraturan Mentri dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014. Terdapat pada tahap pelaksanaan Desa Dulamayo Barat pada pasal 25 ayat 2 yaitu bendahara desa tidak menyimpan uang dalam kas desa pada jumlah tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan operasional pemerintah desa kemudian pasal 26 ayat 3 yaitu tidak membuat penggunaan biaya tak terduga yang harus dibuat RAB telah disahkan Kepala Desa, serta Tahap Pertanggungjawaban pada pasal 40 yaitu tidak menginformasikan penggunaan dana desa tahun 2018 kepada masyarakat hal ini terjadi karena kurangnya kemampuan sumber daya manusia serta keterbasan akses yang mereka miliki sedangkan untuk Desa Pilohayanga dan Pilohayanga Barat pasal 26 ayat 3 tidak sesuai karena tidak menggunakan biaya tak terduga
2. Prinsip Akuntabel
Pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran harus dapat dipertanggungjawabkan dengan baik mulai dari proses perencanaan hingga pertanggungjawaban. Prinsip ini menuntut Kepala Desa mempertanggungjawabkan dan melaporkan pelaksanaan APBDesa secara tertib, kepada masyarakat maupun kepada jajaran pemerintahan di atasnya, sesuai peraturan perundang-undangan.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa adanya inkonsisten yang terjadi antara pemerintah desa dan masyarakat.
(Darwin, 1996: 98) menekankan bahwa birokrasi publik dapat disebut memiliki akuntabilitas publik apabila mereka dinilai secara objektif oleh masyarakat. Dengan demikian, akuntabilitas publik dalam pengelolaan dana desa merupakan kewajiban pemerintah desa untuk menyampaikan pertanggungjawaban dengan menjelaskan dan menjawab atas tindakan yang mereka lakukan (atau mereka tidak lakukan) kepada masyarakat desa sebagai pemberi amanah. Berdasarkan konsep tersebut, pemerintah Desa Sapanang wajib menyampaikan laporan pertanggungjawabannya secara rinci mulai dari besaran dana yang digunakan, penyaluran dana desa untuk apa saja, hingga sisa dana desa tertuang minimal dalam baliho yang terpasang di tiap sudut desa agar masyarakat bisa mengetahui pengelolaan dana desa selama tahun tersebut. Pemerintah Desa menyatakan bahwa dengan adanya LPJ dan baliho yang terpasang di depan rumah kaur keuangan menjadi tanda bahwa transparansi dan akuntabel di Desa Sapanang telah terlaksana dengan baik. Adanya baliho dan LPJ merupakan salah satu bentuk transparansi dan akuntabilitas namun, dalam prosesnya terdapat penyebaran informasi yang dapat dipahami oleh masyarakat mengenai baliho dan LPJ tersebut. Masyarakat berhak mengetahui tidak hanya anggaran, tetapi juga berhak menuntut apabila terdapat kesalahan dalam perencanaan atau pelaksanaan anggaran. Masyarakat Desa Sapanang menyatakan masih kurangnya transparansi dan akuntabel dari pemerintah desa yang didukung oleh pernyataan masyarakat bahwa hanya orang-orang tertentu yang bisa mengetahui laporan pertanggungjawaban dana desa dari pemerintah Desa Sapanang serta
tidak ada akses bagi masyarakat untuk mengetahui dan memberikan usulan. Saat ini proses penyetoran LPJ sudah melalui aplikasi siskeudes sehingga pemerintah desa cenderung melakukan pelaporan hanya kepada otoritas yang lebih tinggi. Hal tersebut tidak sejalan dengan prinsip akuntabel yang menyebutkan bahwa para pembuat keputusan dalam pemerintahan bertanggung jawab kepada publik dan lembaga- lembaga. Pelaporan pertanggungjawaban tidak hanya kepada otoritas yang yang lebih tinggi melainkan masyarakat juga turut mengetahui dan dapat mengevaluasi penggunaan anggaran dana desa pemerintah desa selama periode tersebut. Berdasarkan fakta dan data tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam implementasi akuntabilitas pemerintah Desa Sapanang belum terlaksana dengan baik sebab arus pelaporan yang cenderung hanya kepada otoritas yang lebih tinggi dan baliho yang terpasang tidak tertuang informasi secara rinci mengenai penggunaan anggaran dana desa.
3. Prinsip Partisipatif
Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dana desa di Desa Sapanang jelas diatur pada Peraturan Bupati Jeneponto Nomor 3 Tahun 2019 Pasal 16 menyebutkan bahwa pemberdayaan masyarakat desa meliputi partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan Desa.
Pelibatan masyarakat dalam proses pengelolaan dana desa di Desa Sapanang jika dilihat dari tahapan pelaksanaan maka tingkat partisipasinya cukup tinggi di mana pemerintah desa memberikan ruang agar masyarakat berpartisipasi dalam realisasi kegiatan atau program
kerja, tetapi dalam pengelolaan dana desa terdapat berbagai tahapan lainnya dan saling berkesinambungan. Masyarakat Desa Sapanang ingin terlibat dalam setiap proses pengelolaan dana desa agar komunikasi antar aparatur desa dan masyarakat dapat terjalin secara terbuka.
Pelibatan masyarakat di desa Sapanang cukup baik dari satu tahapan namun masih perlu pembenahan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dengan melibatkannya melalui tahapan pengelolaan dana desa lainnya seperti perencanaan serta pelaporan pertanggungjawaban.
Hal tersebut juga didukung oleh konsep partisipasi yang menyebutkan bahwa pemerintah harus melibatkan masyarakat menjadi bagian dalam proses pengambilan keputusan serta dibangun atas dasar kebebasan berbicara dan berpartisipasi secara konstruktirf.
4. Prinsip Tertib dan Disiplin Anggaran
Tertib dan disiplin anggaran yaitu, khususnya APBDesa, harus diawasi secara ideal dan kuat dengan didukung oleh bukti regulasi yang dapat diwakili dan diarahkan oleh regulasi dan pedoman berpedoman pada peraturan perundangan yang berlaku.
Anggaran harus dilaksanakan secara konsisten dengan pencatatan atas penggunaannya sesuai dengan prinsip akuntansi keuangan di desa. Hal ini dimaksudkan bahwa pengelolaan keuangan desa harus sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa Anggaran dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan prinsip akuntansi keuangan desa karena menurut kepala desa sekarang ini terlalu banyak aturan jadi aparatur desa terkadang bingung ketika anggaran dilaksanakan sesuai dengan
prinsip akuntansi keuangan desa. Hasil penelitian sesuai dengan penelitian yang dilakukan (Mercy Yusup, Julie Abdullah, Wahyudin Hasan, 2019) bahwa proses pelaporan dalam pengelolaan keuangan dana desa yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Dulamayo Barat, Pilohayanga, dan Pilohayanga Barat sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa Pasal 37 dan sudah diterapkan azas pengelolaan Tertib dan Disiplin.
62 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang Dinamika Pengelolaan Dana Desa Di Tengah Krisis Kepercayaan Masyarakat Desa Di Desa Sapanang Kabupaten Jeneponto yang dielaborasikan dengan Pengelolaan Dana Desa Sesuai Dengan Permendagri No. 73 Tahun 2020 maka dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Implementasi Prinsip Transparanyaitu, Pemerintah Desa Sapanang saat ini belum memenuhi syarat-syarat transparansi. Sehingga dalam implementasinya, pemerintah Desa Sapanang belum bisa memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Oleh karena itu, hak untuk memperoleh informasi mengenai pengelolaan dana desa masuk ke dalam hak asasi setiap warga desa agar dapat melakukan penilaian dan pendukung terhadap kinerja dari pemerintah desa secara tepat.
2. Implementasi Prinsip Akuntabilitas yaitu, Pemerintah Desa Sapanang belum terlaksana dengan baik sebab arus pelaporan yang cenderung hanya kepada otoritas yang lebih tinggi dan baliho yang terpasang tidak tertuang informasi secara rinci mengenai penggunaan anggaran dana desa.
3. Implementasi Prinsip Partisipatif, yaitu Pelibatan masyarakat di desa Sapanang cukup baik dari satu tahapan namun masih perlu pembenahan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dengan melibatkannya melalui tahapan pengelolaan dana desa lainnya seperti perencanaan serta pelaporan pertanggungjawaban
4. Implementasi Prinsip Tertib dan Disiplin Anggaran yaitu, Anggaran dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan prinsip akuntansi keuangan desa karena menurut kepala desa sekarang ini terlalu banyak aturan jadi aparatur desa terkadang bingung ketika anggaran dilaksanakan sesuai dengan prinsip akuntansi keuangan desa.
B. Saran
Bagi Pemerintah Desa, masyarakat terutama pemuda semakin meningkat kesadaran akan lingkungan desanya. Pemerintah desa perlu mengoptimalkan kembali prinsip transparansi dan akuntabilitas dengan cara sosialisasi yang lebih luas dan informasi-informasi terkait pengelolaan dana desa dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat desa. Selain itu, perlunya menjalin kerja sama kepada seluruh masyarakat tanpa tebang pilih agar tidak terjadi kesalahpahaman antar aparatur desa dan masyarakat.
64
DAFTAR PUSTAKA
Agustiningsih, M. 2019. Penerapan Good Governance Dalam Pengelolaan Dana Desa Studi Kasus Pada Kabupaten Kampar. Pekbis (Jurnal Pendidikan Ekonomi Dan Bisnis Universitas Riau 235–247.
https://pekbis.ejournal.unri.ac.id/index.php/JPEB/article/viewFile/7888/6800 Arifiyanto, D. F., & Kurrohman, T. 2014. Akuntabilitas pengelolaan alokasi Dana
desa di Kabupaten Jember. Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan, 2(3), 473- 485.
Asoka, R. 2018. Analisis Pengelolaan Keuangan Dana Desa. Jemasi: Jurnal Ekonomi Manajemen Dan Akuntansi, 14(1), 84–100.
https://doi.org/10.35449/jemasi.v14i1.22
Bobby Briando, O. S. 2019. Dinamika Pengelolaan Dana Desa Di Era Revolution 4.0. Manajemen Pemerintahan Di Era Revolusi Industri4.0, November, 5.
https://www.researchgate.net/profile/Bobby-Briando
2/publication/337570966_dinamika_pengelolaan_dana_desa_di_era_revol usi_industri_40/links/5ddf132292851c83644e35ab/DINAMIKA-
Bonaldy, S., Lengkong, F. D., & Londa, V. Y. 2018. Transparansi Pengelolaan Dana Desa Di Desa Paslaten Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal Administrasi Publik, 4(54).
Buku Pintar Dana Desa. 2017. Kementrian Keuangan Republik Indonesia
Dalam, M., & Republik, N. 2020. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2020 tentang Pengawasan Pengelolaan Keuangan Desa.
Dwiyanto, Agus. 2011. Mengembalikan Kepercayaan Publik Melalui Reformasi Birokrasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Imawan, A., Irianto, G., & Prihatiningtias, Y. W. 2019. Peran Akuntabilitas Pemerintah Desa Dalam Membangun Kepercayaan Publik. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 10(1). https://doi.org/10.18202/jamal.2019.04.10009
Kristina Eti, S. D. R. 2019. Analisis Pengelolaan Alokasi Dana Desa Dalam Pembangunan Desa. Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 8(3), 120–124.
http://www.albayan.id
Koetjaningrat. 1981. Dasar Dasar Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta
Mahartini, K. L., & Anantawikrama Tungga Atmadja, M. A. P. 1967. Implementasi Permendagri 113 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Alokasi Dana Desa (Studi Kasus Pada Desa Jinengdalem, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng). Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 113, 5–24.
Menteri Dalam Negeri. 2014. Permendagri No 113 Tahun 2014. Republik Indonesia, 51(1), 51.
Meutia, I., & Liliana. 2017. Pengelolaan Keuangan Dana Desa. Jurnal Akuntansi
Multiparadigma. https://doi.org/10.18202/jamal.2017.08.7058
Pakdosen. 2021. Desa Adalah. Pakdosen.co.id. https://pakdosen.co.id/desa- adalah/
Parlupi, B. 2020. Pengertian Desa otonomi dan wewenang.
Pustakaborneo.org.http://www.pustakaborneo.org/berita/seputarpembangun anberkelanjutan/engertian-desa-otonomi-dan-wewenang.html#gsc.tab=0 Peraturan Menteri Dalam Negeri. 2018. Permendagri no 20 tahun 2018.
Permendagri No 20 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa, Nomor 65(879), 2004–2006.
Prestoroika, E. P. 2021. Analisis Pemanfaatan Dana Desa di Desa Sebunga, Kecamatan Sajingan Besar Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2019. JIAP (Jurnal Ilmu Administrasi Publik), 9(1), 13.
https://doi.org/10.31764/jiap.v9i1.4067
PiotSztmok. 2004. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada
Raharjo, Muhamad Mu’iz. 2021. Pengelolaan Dana Desa. Jakarta Timur : PT.
Bumi Aksara
Rahayu, Amy Y.S dan Vishnu Juwono. 2019. Birokrasi Dan Governace, Teori, Konsep, dan Aplikasinya. Depok: Rajawali Pers
Satriajaya, J., & Handajani, L. 2017. Turbulensi dan Legalisasi Kleptokrasi dalam Pengelolaan Keuangan Desa. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 244–261.
https://doi.org/10.18202/jamal.2017.08.7052
Thomas. 2013. Pengelolaan alokasi dana desa dalam upaya meningkatkan pembangunan di Desa Sebawang Kecamatan Sesayap Kabupaten Tana Tidung. Ejurnal Pemerintahan Integratif, 1(1), 51–64.
Triani, N. N. A., & Handayani, S. 2018. Praktik Pengelolaan Keuangan Dana Desa.
Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 9(1), 136–155.
https://doi.org/10.18202/jamal.2018.04.9009
Wijayanti, P., & Hanafi, R. 2018. Pencegahan Fraud pada Pemerintahan Desa.
Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 9(2), 331–345.
Yunita, A., & Christianingrum, C. 2019. Evaluasi Akuntabilitas dan Efektivitas Pengelolaan Dana Desa di Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung:
Suatu Kajian Komprehensif. Accounthink : Journal of Accounting and Finance, 4(1), 66–78. https://doi.org/10.35706/acc.v4i1.1822
66
L A M
P
I
R
A
N
URAIAN ANGGARAN SEBELUMNYA
(Rp)
ANGGARAN SETELAH PERUBAHAN (Rp)
KET
2 3 4
PENDAPATAN
Pendapatan Asli Desa -
Hasil Usaha PAD
Swadaya, Partisipasi dan Gotong Royong Lain-lain Pendapatan Asli Desa yang sah
Pendapatan Transfer 2.225.927.554 2.204.102.935
Dana Desa 1.424.650.000 1.424.650.000 DD
Bagian dari hasil pajak & retribusi daerah kabupaten/kota 31.512.334 30.460.228
Alokasi Dana Desa 769.765.220 748.992.707 ADD
Bantuan Keuangan -
Pendapatan Lain-Lain -
Hibah dan Sumbangan dari pihak ke 3 yang tidak mengikat -
Lain-lain Pendapatan Desa yang sah
JUMLAH PENDAPATAN 2.225.927.554 2.204.102.935
BELANJA
Bidang Penyelenggaraan Pemerintah Desa 677.177.554 717.813.554 ADD/DBH
Penyelenggaraan Belanja Siltap, Tunjangan dan Operasional Pemerintahan Desa 623.377.554 622.877.554 ADD
Penyediaan Penghasilan Tetap dan Tunjangan Kepala Desa 57.600.000 57.600.000
- Penghasilan Tetap @Rp. 3.000.000,-x12 36.000.000 36.000.000
- Tunjangan Kepala Desa @Rp. 1.800.000,- x 12 21.600.000 21.600.000
Penyediaan Penghasilan Tetap dan Tunjangan Perangkat Desa 403.200.000 403.200.000
- Penghaslian Tetap 322.800.000 322.800.000
* Sekretaris Desa @Rp. 2.300.000 x 12 Bln x 1 Org 27.600.000 27.600.000
* Kepala Urusan @Rp. 2.050.000 x 12 Bln x 3 Org 73.800.000 73.800.000
* Sekretaris Desa @Rp.700.000 x 12 Bln x 1 Org 8.400.000 8.400.000
* Kepala Urusan @Rp. 500.000 x 12 Bln x 3 Org 18.000.000 18.000.000
* Kepala Seksi @Rp. 500.000 x 12 Bln x 3 Org 18.000.000 18.000.000
* Kepala Dusun @Rp. 500.000 x 12 Bln x 6 Org 36.000.000 36.000.000
Penyediaan Operasional Pemerintahan Desa 25.777.554 25.777.554
Alat Tulis Kantor 1.777.554 1.777.554
Insentif Penjaga Kantor @Rp. 1.000.000,- x 2 orang x 12 bulan 24.000.000 24.000.000
Penyediaan Tunjangan BPD 87.600.000 87.600.000
* Ketua @Rp. 1.200.000 x 12 Bln x 1 Org 14.400.000 14.400.000
* Wakil Ketua @Rp. 1.000.000 x 12 Bln x 1 Org 12.000.000 12.000.000
* Sekretaris @Rp. 900.000 x 12 Bln x 1 Org 10.800.000 10.800.000
* Anggota @Rp. 700.000 x 12 Bln x 6 Org 50.400.000 50.400.000
Penyediaan Operasional BPD 8.400.000 7.900.000
Pengadaan Baju BPD 5.400.000 5.400.000
ATK Bpd 1.000.000 500.000
Foto Copy dan Penggandaan 2.000.000 2.000.000
Penyediaan Insentif/Operasional RT/RW 40.800.000 40.800.000
Insentif RK @Rp. 200.000 x 12 Bln x 17 Org 40.800.000 40.800.000
Administrasi Kependudukan, Catatan Sipil, Statistik dan Kearsipan - 26.136.000 DD
Penyusunan/Pendataan/Pemutahiran profil Desa - 26.136.000
Pendataan SDGs 26.136.000
Penyelenggaraan Tata Praja Pemerintahan, Perencanaan, Keuangan dan Pelaporan 53.800.000 68.800.000 ADD
Penyelenggaraan Musyawarah Perencanaan Desa 900.000 900.000
Pelaksanaan Musyawarah Pembahasan dan Penetapan APBDes 900.000 900.000
Penyusunan Dokumen Perencanaan Desa 2.000.000 2.000.000
Pelaksanaan Musrenbangdes 1.100.000 1.100.000
Pelaksanaan Musyawarah Pembahasan dan Penetapan RKPDes 900.000 900.000
Penyususnan Laporan Kepala Desa LPPDesa dan Informasi Kepada Masyarakat 900.000 900.000
Musyawarah Laporan Ralisasi Penggunaan Dana dan LKPPD 900.000 900.000
BIDANG PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DESA 712.475.000 806.100.000 DD/ADD/DB H
Bidang Pendidikan 133.800.000 204.900.000 DD
Penyelenggaraan PAUD/TK/TPA/TPQ/Madrasah Non Formal Milik Desa 109.800.000 118.800.000 DD
Insentif Guru TK/PAUD 8 Org x Rp. 200.000 x 12 Bulan 19.200.000 19.200.000
Insentif Guru TKA/TPA 6 Org x Rp. 350,000 x 12 Bln 25.200.000 25.200.000
Insentif Guru Hafidz Qur'an Rp. 3.500.000,- x 1 org x 12 bulan 42.000.000 42.000.000 Insentif Petugas Kebersihan PAUD/TK/TPA 6 Org x @200.000,- x 12 bln 14.400.000 14.400.000
Pengadaan Baju Seragam Pengajar Santri 9.000.000 9.000.000
Pengadaan Baju Seragam Santri 9.000.000
Bantuan Sarana Prasarana PAUD/TK/TPA/Madrasah Non Formal - 50.000.000
Bantuan Pembangunan tempat belajar Hafidz dan Hafidzah - 50.000.000
Pembinaan Sanggar Seni dan Belajar - 9.100.000
Pengadaan Meja Komputer - 9.100.000
Bantuan Pendidikan Untuk Siswa Miskin 24.000.000 27.000.000 DD
Bantuan pendidikan untuk Santri Hafidz @Rp. 500.000,- x 12 bulan x 4 org 24.000.000 24.000.000 Bantuan pendidikan untuk Santri Hafidzah @Rp. 500.000,- x 6 bulan x 1 org 3.000.000
Bidang Kesehatan 178.800.000 178.800.000 DD
Penyelenggaraan Posyandu 46.800.000 46.800.000 DD
Honor Kader Posyandu 20 Org x Rp. 150,000 x 12 Bln 36.000.000 36.000.000
Kegiatan Posyandu PMT (Pemberian Makanan Tambahan) 4.800.000 4.800.000
Insentif Kader Pembangunan Manusia (KPM) 1 Org x @ Rp.500.000 x 12 Bln 6.000.000 6.000.000
Penyelenggaraan Desa Siaga Kesehatan 114.000.000 114.000.000 DD
Desa Aman Covid 19 114.000.000 114.000.000
Pengadaan Sarana Prasarana Posyandu 18.000.000 18.000.000 DD
Kursi Panjang Posyandu @Rp. 1.500.000,- x 3 unit x 4 posyandu 18.000.000 18.000.000
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 10.000.000
Pem eliharaan Monumen/Gapura/Batas Desa 10.000.000
Pembangunan/Pemeliharaan/Peningkatan Jamban Keluarga 22.000.000 -
Pengadaan Buis Beton @Rp. 1.000.000,- x 22 KK 22.000.000
Pembangunan/Pemeliharaan/Peningkatan Jaringan Listrik/Penerangan
Listrik 31.500.000 48.400.000
Pemeliharaan Lampu Jalan dan accessories 5.500.000 5.500.000
Pengadaan Lampu Jalan dan Accessories 33 Unit x@Rp. 1.300.000,- 26.000.000 42.900.000 Pembangunan/Pemeliharaan/Peningkatan Jaringan Listrik Keluarga
Miskin 32.500.000 17.500.000 ADD/DBH
Pemasangan KWH Bagi Keluarga Miskin 20 KK x @Rp2.500.000,- 32.500.000 17.500.000
Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup 215.000.000 244.000.000 DD
Pengelolaan Lingkungan Hidup Milik Desa 215.000.000 244.000.000 DD
Penghijaun/Penanaman Pohon dan Pagar 2.000 pohon 200.000.000 227.500.000
Biaya Perawatan Tanaman/Penghijauan 15.000.000 16.500.000
Bidang Perhubungan, Komunikasi dn Informatika 2.000.000 2.000.000 DD
Penyelenggaraan Informasi Publik Desa 2.000.000 2.000.000 DD
Baliho Transparansi 2.000.000 2.000.000
Bidang Pembinaan Kemasyarakatan 70.591.345 70.591.345 ADD
Bidang Kebudayaan dan Keagamaan 51.600.000 51.600.000 ADD
Pembinaan Kegiatan Keagamaan dan Guru Agama 51.600.000 51.600.000 ADD
Honor Petugas Imam Desa @Rp. 300.000 x 1 Org x 12 Bln 3.600.000 3.600.000
Honor Petugas Imam Dusun @Rp. 300.000 x 5 Org x 12 Bln 18.000.000 18.000.000
Honor Petugas Pengelola Mesjid 18.000.000 18.000.000
Majelis Taqlim Perempuan 12.000.000 12.000.000
Bidang Kepemudaan dan Olah Raga 6.491.345 6.491.345 ADD
Pembinaan Karang Taruna Desa 6.491.345 6.491.345 ADD
Bidang Kelembagaan Masyarakat 12.500.000 12.500.000 ADD
Pembinaan PKK 12.500.000 12.500.000 ADD
Bidang Pemberdayaan Masyarakat 616.480.000 501.500.000 DD
Sub Bidang Pertanian dan Peternakan 555.980.000 469.500.000 DD
Pembangunan Sumur Pompa untuk Lahan Pertanian 52.980.000 - DD
Pembangunan Sumur Dangkal Pertanian 2 Unit 52.980.000
Sub Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 2.000.000 2.000.000 DD
Peningkatan Produksi Tanaman Pangan 2.000.000 2.000.000 DD
Pelatihan KPM 2.000.000 2.000.000 DD
Sub Bidang Koperasi, Usaha Mikro kecil dan menengah (UMKM) 53.500.000 30.000.000 DD
Pengembangan Sarana Prasarana Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi 50.000.000 30.000.000 DD
Bantuan Alat Perbengkelan 4 Klp x @Rp.5.000.000,- 40.000.000 20.000.000 DD
Bantuan Alat Pertukangan 2 Klp X @Rp. 5.000.000,- 10.000.000 10.000.000
Pengelolaan TTG 3.500.000 - DD
Pelatihan TTG 3.500.000 DD
Sub Bidang Dukungan Penanaman Modal 5.000.000 -
Pelatiahn Pengelolaan BUM Desa 5.000.000 - DD
Pelatihan BUM Desa 5.000.000 DD
Bidang Penanggulangan Bencana, Darurat dan Mendesak Desa 108.000.000 108.000.000 DD
Sub Bidang Keadaan Mendesak 108.000.000 108.000.000
Penanganan Keadaan Mendesak 108.000.000 108.000.000
Pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) Penanganan COVID 19 108.000.000 108.000.000 DD
JUMLAH BELANJA 2.184.723.899 2.204.004.899
SURPLUS/DEFISIT 41.203.655 98.036
PEMBIAYAAN 41.203.655 98.036
Penerimaan Pembiayaan 41.203.655 98.036
SILPA - -
Pencairan Dana Cadangan -
Hasil Kekayaan Desa Yang dipisahkan 41.203.655 98.036
JUMLAH (Rp) 41.203.655 98.036
Pengeluaran Pembiayaan 20.195.000 98.036
Pembentukan Dana Cadangan -
72 LAMPIRAN 2
PEDOMAN WAWANCARA
NO PERTANYAAN CODING
1 Bagaimana implementasi Prinsip
Transparan terhadap Pengelolaan Dana Desa di Desa Sapanang?
KD,SD,TMD,MD
2 Bagaimana Bentuk Transparansi yang dilakukan terkait dengan Anggaran Desa?
KD,SD,KK,MD
3 Apakah dalam proses Transparansi Aparatur Desa selalu melibatkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD)?
KD,SD,KK
4 Apakah Transparansi Pengelolaan Dana Desa itu penting?
TMD
5 Berapa Anggaran Dana Desa yang di dapatkan di Desa Sapanang sebelum dan setelah Covid 19?
KK
6 Bagaimana Pelaporan Tanggungjawab Pemerintah Desa di Desa Sapanang?
KK,TMD,MD
7 Apakah di Desa Sapanang sudah
menggunakan Aplikasi Sistem Keuangan Desa (siskeudes)?
SD
8 Bagaimana bentuk pertanggungjawaban yang dilakukan di desa sapanang?
KD
9 Apakah setiap kegiatan selalu melibatkan Masyarakat?
KD,SD,KB,MD
10 Apa kendala yang dialami oleh Masyarakat ketika diajak bergabung di setiap kegiatan Desa?
MD
11 Apa saja bentuk keterlibatan Masyarakat pada Pengelolaan Dana Desa?
KB
12 Apakah pada awal Perencanaan Anggaran sudah melibatkan Masyarakat atau hanya saat Tahap Pelaksanaan?
KT,MD
13 Apakah Anggaran Dana Desa sudah
dilaksanakan dan disalurkan sesuai dengan Prinsip Akuntansi Keuangan?
KD,KK
TRANSKRIP WAWANCARA
NO CODING TRANSKRIP
1 KD Kalau transparansi sekarang, setiap ada kegiatan itu kita memang setiap apa saja selalu adakan pertemuan.
Transparansi baik dari penggunaan anggaran maupun pengelolaan dana desa dan dana anggar desa. setiap kita melakukan penganggaran selalu ada. Kita rincikan dan kita paparkan di depan masyarakat mengenai ini dananya nanti. Kita juga memakai media baliho sebagai bentuk transparansi
SD Jadi yah, kita aparatur desa disini pengelolaannya harus jelas.
KK Transparan mengenai Anggaran kita disini langsung saya ambil yang bisa pengadaan
TMD Akses yang diberikan itu ada untuk orang-orang tertentu saja, saya kira harus lebih transparan lagi ini apalagi masyarakat utamanya pemuda di Desa Sapanang semakin ke sini semakin pintar memaknai kondisi.
MD Ada sosialisasi dan rapat yang dibentuk cuma tidak menyeluruh jadi masih banyak juga masyarakat belum tau bagaimana pengelolaan dana desanya saat ini.
2 KD Selain Media Baliho, Kita juga menggunakan media whatsapp dan facebook untuk mentransparansikan kepada masyarakat mengenai anggaran dan pengelolaan dana desa. Kita juga ada musyawarah atau musrenbang kita undang masyarakat tiap tahun sebagai bentuk transparansi ke masyarakat.
SD Kita juga melalui whatsapp masyarakat dan pengumuman kepada masyarakat mengenai anggaran dan pengelolaan dana desa. Kita juga ada musyawarah atau musrenbang kita undang masyarakat tiap tahun sebagai bentuk transparansi ke masyarakat
KK Proses transparansi dilakukan melalui kegiatan-kegiatan berupa pertemuan ataupun baliho yang terpasang di depan Kantor Desa