• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PEMBENTUKAN

pemahaman tentang larangan perzinaan yang berkembang di dalam masyarakat khususnya masyarakat empat Dusun di Desa Peresak.

Materi yang ada dalam Awik-awik Gubuk serapan dari dalil tentang larangan mendekati zina yang ada dalam Islam, yaitu surah : Al-Isra ayat 32

َءۤاَس َوۗ ًةَش ِّحاَف َناَك ٗهَّنِّا ٓىٰن ِّ زلا اوُب َرْقَت َلَ َو ًلْيِّب َس

Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk”

(Q.S [17] Al-Isra’: 32).50

Pembentukan Awik-awik Gubuk di Desa Peresak berdasarkan kesepakatan bersama, dapat dijadikan legitimasi untuk mencegah perzinaan dan memberikan sanksi kepada pelaku perzinaan. Ini terbukti dengan kasus yang ada pada data penelitian dimana pelaku dikeluarkan dari empat Dusun. Awik-awik Gubuk memiliki arti yang sangat penting pengikat persatuan dan kesatuan masyarakat empat Dusun, disamping Masjdi At-Taqwa Subahnala sebagai simbol pemersatu dari empat Dusun tersebut.

Awik-awik Guhuk yang ditetapkan tidak berdasarkan aturan formal pemberlakuan hukum namun tetap disetujui oleh kepala Desa. Awik-awik biasanya dibentuk untuk melestarikan kearifan local dari sebuah Desa. Awik-awik Gubuk empat Dusun di Desa Peresak bertujuan untuk mencegah perzinaan untuk menjaga nilai- nilai sosial-religius dari masyarakat. Proses pembuatan Awik-awik Gubuk secara sederhana dan cepat tidak membuat kekuatan mengikat dari Awik-awik Gubuk berkurang, masyarakat dapat menerima Awik-awik sehingga dapat diketahui sampai sekarang.

Secara teoritis pembentukan Awik-awik Gubuk dilakukan oleh masyarakat adat yang memiliki sejarah sosial budaya yang kental dengan aturan dan proses pemberian sanksi dan jenis sanksi yang telah ditentukan secara jelas. Menurut paparan data penelitian, Desa Peresak tidak bisa dikategorikan Desa Adat sebagaimana Desa-Desa di Bali yang memiliki pemangku adat.

50 QS al-Isra’ (17) :32.

Awik-awik yang dibuat sejak tahun 2007 tidak begitu lama sebagaimana Awik-awik Desa Adat yang telah berdiri sejak puluhan bahkan ratusan tahun. Terlepas dari hal tersebut, menurut peneliti secara kontekstual Awik-awik Gubuk di Desa peresak tetap bisa dikatakan Awik-awik karena Memiliki aturan dan sanksi dan dibuat berdasarkan kesepakatan bersama dan masyarakat di lombok menyebut aturan yang dibuat berdasarkan kesepakatan bersama dinamakan Awik-awik. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqhiyah, yaitu :

ةَمَّكَحُم ُةَداَعْلَا

Artinya : “Adat kebiasaan dapat dijadikan hukum51

Awik-awik Gubuk sebagai adat yang dibuat berdasarkan nilai-nilai agama dan moral masyarakat dan dapat diterima oleh masyarakat dan tidak bertentangan dengan agama karena mengatur tentang pencegahan perzinaan maka Awik-awik Gubuk sebagai varibel sosial dapat dikatakan sebagai adat yang baik.52

Berdasarkan paparan data penelitian. Awik-awik Gubuk adalah hukum adat yang merupakan kearfian local dari masyarakat Lombok dan isi materi Awik-awik Gubuk merupakan penyerapan dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Nilai yang terkandung dalam Awik-awik Gubuk merupakan sesuatu yang ingin dicapai, dijunjung tinggi oleh masyarakat. Antara Awik-awik Gubuk Sebagai hukum adat dan isi materi Awik-awik Gubuk yang bersumber dari nilai-nilai yang ada dalam masyarakat terutama nilai religius tentang perzinaan terdapat keselarasan dengan hukum Islam yaitu Awik-awik Gubuk dan Hukum Islam bersifat public ethics tidak seperti yang diatur dalam pasal 284 KUHP yang bersifat private ethics hanya negara yang dapat memberikan hukuman atau ganjaran. Awik-awik Gubuk sebagai hukum adat memandang perzinaan sebagai suatu yang sumbang, merusak keseimbangan sosial dan lingkungan, mencemarkan nama baik

51 Muhammad Harfin Zuhdi, Qawaid Fiqhiyah, (Mataram: Elhikam Pres Lombok, 2018), hlm. 85

52 Ibid, hlm.174

keluarga dan Desa, hukum Islam juga memandang perbuatan perzinaan sebagai sesuatu yang tercela, perbuatan keji, jalan yang buruk, dan pelaku mendapatkan dosa besar. Dapat disimpulkan bahwa Awik-awik Gubuk selarah dengan konsep hukum Islam.

B. Efektivitas Pembentukan Awik-Awik Gubuk Dalam Pencegahan Perzinaan

Hukum sebagai salah satu kaidah hidup berfungsi sebagai pedoman atau patokan yang bersifat membatasi atau mematoki para warga masyarakat dalam bersikap tindak, khususnya yang menyangkut aspek hidup antara pribadi masyarakat setiap masyarakat dari bentuk yang paling sederhana sampai modern tentu mengenal dan mempunyai hukum yang dijadikan pedoman atau patokan kehidupan. Seperti Awik-awik Gubuk yang diterapkan di masyarakat yang sederhana.

Masyarakat empat Dusun di Desa Peresak efektivitas hukum dalam masyarakat merupakan bagian dari studi yang terletak di luar bidang studi dogmatik hukum. hal ini berarti bahwa suatu kajian terhadap efektivitas hukum tidak hanya mengkaji kaidah-kaidah hukum dan pengertian-pengertian dalam hukum, akan tetapi berbagai kajian dan hubungan hukum dengan faktor- faktor non hukum perlu memperoleh perhatian, terlebih lagi yang peneliti meneliti tentang Awik-awik Gubuk yang ada di Desa Peresak, Kec. Batukliang, Kab. Lombok Tengah.

Efektivitas hukum dapat diartikan dengan kemampuan hukum untuk menciptakan atau melahirkan keadaan atau situasi seperti yang dikehendaki atau diharapkan oleh hukum. Dalam kenyataanya hukum tidak hanya berfungsi sebagai sosial control seperti Awik-awik Gubuk yang dibuat untuk mencegah perzinaan dan dapat juga sebagai perekayasa sosial. Efektivitas hukum dapat dilihat baik dari sudut fungsi sosial control maupun dari sudut singsinya sebagai alat untuk melakukan perubahan. Awik-awik Gubuk sebagai sosial control empat Dusun yang berada di Desa peresak dapat efektif apabila ditegakkanya Awik-awik Gubuk tersebut.

Dalam menjalakan Awik-awik Gubuk diperlukannya sebuah sistem yang baik agar tercapainya efektivitas hukum. Lawrence

M.friedmann dalam bukunya “American Law An Introduction”, menyebutkan sistem penegakan hukum itu meliputi :53

1. Struktur Hukum 2. Substansi Hukum 3. Budaya Hukum

Ketiga komponen sistem hukum tersebut harus berkaitan satu sama lain. Penegakan hukum merupakan usaha untuk menegakkan norma-norma hukum dan nilai-nilai yang ada dibelakang norma tersebut.54 Para penegak hukum harus memahami spirit hukum yang menjadi dasar dari pembentukan hukum yang harus ditegakkan. Penegakkan hukum dapat dilakukan dengan pendekatan sistem. Menurut Sudikno Martokusumo sistem hukum adalah suatu kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur yang mempunyai interaksi satu sama lain dan bekerja sama untuk mencapai tujuan kesatuan tersebut.55 Teori penegakan hukum Lawrence M.Friedmann yang peneliti gunakan sejalan dengan teori efektivitas hukum Soerjono Soekanto, yaitu sebagai berikut : 1. Faktor hukumnya sendiri

2. Faktor penegakan hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum

3. Faktor sarana masyarakat, terkait dengan ruang lingkup berlakunya hukum dan diterapkan.

4. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.56

Jika disesuaikan dengan teori sistem penegakan hukum Lawrence M.Friedmann maka faktor penegakan hukum dan sarana mayarakat dikategorikan sebagai struktur hukum. Faktor efektivitas hukum yang di pengaruhi dari hukumnya sendiri bersesuaian dengan subtansi hukum, dan yang selanjutnya adalah faktor kebudayaan. Efektivitas hukum dapat dicapai diukur dengan

53 Abdul Halim Barkatullah, “Budaya Hukum Dan Masyarakat,” e.

Prints.ulm.ac.id, diakses 19 april 2022, pukul 21:00 Wita, Hal. 11

54 Lutfil Ansori, “Reformasi Penegakan Hukum Persfektif Hukum Progresif”, Jurnal Yuridis, Vol. 4, Nomor 2. Desember 2017, Hal. 150.

55 Ibid, Hal. 150

56 Seorjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hlm.8

dari sejauh mana hukum itu dimengerti atau tidak di mengerti ditaati atau tidak ditaati. Jika aturan hukum di mengerti dan ditaati oleh sebagai besar target yang menjadi sasaran ketaatannya maka akan dikatakan aturan hukum efektif dalam hal ini adalah Awik- awik Gubuk.

Komponen pertama dari sistem hukum itu adalah struktur hukum. Struktur hukum berkaitan dengan tatanan kelembagaan dan kinerja kelembagaan beserta dengan aparatnya dalam melaksanakan dan menegakkan hukum, termasuk di dalamya pola bagaiamana hukum itu dilaksanakan dan ditegakkan. Dalam sistem hukum nasional bagian yang termasuk ke dalam struktur hukum adalah praktisi hukum, yaitu: polisi, jaksa, hakim, pengacara.

Peneliti menganalogikan bahwa dalam pembentukan Awik- awik Gubuk di Desa Peresak yang berperan sebagai bagian dari struktur hukum berdasarkan pengamatan peneliti adalah sebagai berikut: Kepala Dusun, anggota BPD, dan tokoh masyarakat.

Struktur hukum dari pembentukan Awik-awik Gubuk harus berperan aktif, baik dari sisi pengawasan dan penegakan hukum.

Struktur hukum harus paham bagaimana spirit dari Awik-awik Gubuk dan norma yang ada didalamya yaitu untuk mencegah terjadinya perzinaan guna menjaga masa depan remaja yang ada di empat Dusun dan mencegah terjadinya permasalahan yang lebih kompleks yang timbul setelahnya yaitu permasalahan keluarga.

Struktur hukum dari Awik-awik Gubuk akan berpengaruh terhadap efektivitas hukum tergantung pada beberapa pada hal berikut : 1. Sampai sejauh mana petugas terikat oleh paraturan-peraturan

yang ada.

2. Sampai sejauh mana petugas diberikan kebijaksanaan.

3. Teladan macam apa yang sebaiknya diberikan oleh petugas kepada masyarakat.

4. Sampai sejauh mana sinkronisasi penugasan yang diberikan kepada petugas sehingga memberikan batas-batas yang tegas pada wewenangnya.57

57 Ibid, hlm.80

Awik-awik Gubuk dibuat oleh masyarakat empat Dusun di Desa Peresak mengikat empat Kepala Dusun, BPD, tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk menegakkan Awik-awik Gubuk, karena masyarakat menyerahkan semuanya representasi dari semua aspirasi masyarakat. dalam melaksanakan tugasnya sebagai penegak hukum seharusnya mereka tidak diskriminatif terhadap pelanggaran Awik-awik Gubuk sehingga Awik-awik Gubuk tetap ditaati oleh masyarakat dan tidak menjadi sia-sia. Struktur hukum dari Awik-awik Gubuk memiliki hak untuk melakukan persidangan dan memiliki kekuatan menggerakkan masyarakat untuk melakukan musyawarah bersama untuk mendiskusikan tentang bagaimana meneggakkan Awik-awik Gubuk yang telah dibuat.

Melihat kondisi Awik-awik Gubuk yang telah dibuat terdapat kelemahan dalam sisi penegakkan hukum. Lemahnya penerapan sanksi dan pengawasan membuat para pelaku tidak mengikuti sanksi, hal ini dapat menyebabkan terjadinya kasus- kasus baru, karena masyarakat tidak takut lagi untuk melanggar.

Ini terbukti dengan adanya pertambahan kasus baru tahun 2021 di Dusun Subahnala II. Seharusnya Awik-awik Gubuk yang dibentuk tetap di sosialisasikan, dengan di adakannyaa rapat dusun oleh Kepala Dusun, BPD, tokoh agama, dan tokoh masyarakat karena Awik-awik Gubuk yang dibentuk sudah lama.

Dengan bertambahnya jumlah penduduk dan generasi pemuda yang semakin banyak Awik-awik Gubuk perlu diefektifkan oleh para aparat hukum pembentukan Awik-awik Gubuk.

Keberlanjutan merupakan salah satu ciri dari Awik-awik.

Keberlajutan penegakan hukum seharusnya dilakukan secara efektif, bukan hanya sekedar mengetahui isi materi dari Awik-awik tersebut melainkan juga penegakan hukum Awik-awik Gubuk.

Adapun halangan dari penegakan hukum yang sering ditemukan adalah :

1. Keterbatasan kemampuan untuk menempatkan diri dalam peranan pihak lain dengan siapa dia berinteraksi. Kepala Dusun dari empat dusun yang relatif muda tidak bisa melakukan dialog atau interaksi dengan warga masyarakat dengan baik.

Ketidakmampuan aparat penegak hukum dari Awik-awik

Gubuk disebabkan karena kepala dusun masih muda, kurang berani mengambil resiko untuk melakukan krame gubuk seperti yang telah terjadi sebelumnya.

2. Tingkat aprisiasi relative masih belum tinggi. Apresiasi masyarakat terhadap Kepalad Dusun, BPD, tokoh agama dan tokoh masyarakat semakin berkurang sehingga mereka tidak mampu untuk mengerahkan semua masyarakat untuk melakukan musyawarah untuk menegakkan Awik-awik Gubuk.

Penyebab dari kurangnya apresiasi ini karena masyarakat semakin maju banyak pekerjaan yang dulunya memiliki sifat ketergantungan dengan kepala dusun atau tokoh masyarakat namun masyarakat sekarang dapat melakukannya sendiri.

3. Kurangnya kasadaran bersama untuk memikirkan masa depan.

Untuk mendapatkan generasi yang lebih baik seharusnya masyarakat menjaga generasinya dengan memperhatikan kembali regulasi local seperti Awik-awik untuk menjaga anak dan cucu dari tindak perzinaan

4. Kurangnya daya inovatif. Struktur hukum dari Awik-awik seharusnya memiliki inovasi untuk menghidupakan kembali Awik-awik agar tidak terjadi deskriminatif. Inovasi dengan pendekatan kepada masyarakat untuk melakukan reformulasi kembali Awik-awik Gubuk

Faktor halangan penegakan hukum diatas menurut soerjono seokanto dapat diatasi dengan cara membiaskan diri untuk mempunyai sikap terbuka, senantiasa siap menerima perubahan, peka terhadap masalah yang terjadi, senantiasa mempunyai informasi yang lengkap, orientasi kini dan masa depan, menyadari potensi yang dapat dikembangkan, berpegang pada perencanaan, percaya pada kemampuan, menyadari dan menghormati hak dan kewajiban, berpegang tuguh pada keputusan yang diambil. 58

Subtansi hukum, adalah keseluruhan dari norma dan asas hukum atau isi dari materi hukum yang bersesuaian dengan kehidupan masyarakat baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Materi hukum Awik-awik Gubuk di Desa Peresak

bersesuaian dengan falsafah hidup masyarakat. Masyarakat Desa Peresak mayoritas ber-agama Islam tentunya dalam kehidupan keseharian mengikuti tuntunan dari syariat Islam termasuk Perzinaan. Awik-awik Gubuk dibuat atas aspirasi masyarakat, oleh karenanya secara subtansi Awik-awik Gubuk dapat dikatakan sesuai dengan kehidupan masyarakat.59Awik-awik Gubuk di Desa Peresak apabila diterapkan secara berkelanjutan sesuai dengan materi hukum yang berasal dari nilai-nilai hidup masyarakat Desa Peresak akan menciptakan rasa tentram dalam kehidupan masyarakat.

Terkait dengan proses persidangan dan pemberian sanksi perlu di pertimbangkan kembali, karena dalam Awik-awik Gubuk tidak dijelaskan bagaimana proses dari persidangan apabila terjadi pelanggaran. Perzinaan memerlukan saksi dan keterangan saksi yang kuat, sehingga perlu adanya keterangan adanya saksi di Awik- awik Gubuk yang telah dibuat. Melihat materi hukum dan sanksi yang ada pada Awik-awik Gubuk tidak mengikuti hukum pidana Islam, yang dimana ada klasifikasi pezina muhsan dan gairu muhsan,

Dari segi sanksi mengikuti hukum pengasingan dari daerah tempat tinggal. Menurut peneliti ini merupakan kearifan local yang menyerap nilai-nilai agama dan adat yaitu Awik-awik, yang tidak bertentangan dengan Islam. Secara substansial Awik-awik Gubuk dapat mudah dipahami oleh masyarakat karena materi Awik-awik sangat sederhana tidak seperti seperti peraturan perundang- undangan yang memerlukan frasa yang panjang dan pasal-pasal yang banyak.

Awik-awik Gubuk secara materi dapat diadakan penyempurnaan sesuai dengan kesepakatan bersama.

Penyempurnaan materi hukum sangat perlu sekali, terutama terkait dengan sanksi. Perlu adanya klasifikasi pelanggaran yang diberikan sanksi melalui Kerame Gubuk. Faktor ekonomi seharusnya menjadi pertimbangan dalam pemberlakuan sanksi melalui Kerame Gubuk, menurut paparan data penelitian salah satu

59 Ibid, hal. 14

penyebab kembalinya pelaku ke empat Dusun adalah tidak adanya tanah dan rumah yang dapat ditempati. Pertimbangan waktu mengenai jangka dikeluarkannya pelaku

perlu diperhatikan lagi, dan upaya-upaya dari pemulihan hak sebagai masyarakat bagi pelaku perlu diperhatikan kembali.

Seperti sanksi-sanksi yang ada pada Awik-awik di Desa adat Bali, misalnya apabila pelaku menyadari dan bersedia menerima sanksi adat, maka dapat diterima kembali.

Sistem hukum selain struktur hukum dan subtansi hukum, budaya hukum merupakan suatu hak yang vital di dalam sistem hukum. budaya hukum merupakan kebutuhan yang datangnya dari masyarakat dan pemakai jasa hukum. budaya hukum berkaitan dengan ide, keyakinan dan harapan mengenai hukum. Oleh karena itu budaya hukum masyarakat dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan sikap serta perilaku anggota masyarakat dalam kehidupan hukum.60 nilai nilai yang mendasari hukum yang berlaku, nilai- nilai yang merupakan konsepi-konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap baik (hingga anuti) dan apa yang dianggap buruk (sehingga dihindari). Nilai yang lazimnya merupakan pasangan yang mencerminkan dua yang harus diselaraskan. Menurut Soerjono Soekanto pasangan nilai tersebut adalah sebagai berikut:61

1. Nilai ketertiban dan nilai ketentraman 2. Nilai jasmani/kebendaan dan nilai rohaniah 3. Nilai konservatisme dan nilai kebaruan.

Budaya hukum masyarakat Desa Peresak adalah budaya bukum yang mengedepankan musyawarah yang bersumber dari 3 (tiga) nilai diatas untuk menjaga ketertiban dan ketentraman masyarakat Desa Peresak, hal ini terbukti dengan terbentuknya Awik-awik Gubuk.

Selain mengedapankan musyawarah budaya hukum masyarakat Desa Peresak juga memiliki budaya hukum yang patuh terhadap aturan yang ada, menjalankan perintah agama dengan

60 Ibid, hal. 15

baik dan taat terhadap aturan. seharusnya penerapan Awik-awik Gubuk dapat berjalan baik, namun karena Kepala Dusun, anggota BPD, tokoh agama dan tokoh masyarakat tidak bersinergi untuk menegaskan kembali Awik-awik gubuk yang telah dibuat sehingga timbul kasus baru dan tidak dihukum membuat Awik-awik Gubuk tidak efektif. Budaya hukum di Masyarakat merupakan budaya hukum yang sederdahan tidak seperti budaya hukum elit yang harus memerlukan aturan yang canggih, terstruktur seperti undang- undang.

Budaya hukum masyarakat Desa tidak memerlukan itu, aturan hukum yang sederhana yang mudah dipahami masyarakat dapat dipatuhi dengan melibatkan tokoh agama dan masyarakat.

Budaya hukum itu seharusnya dapat dimanfaatkan oleh struktur pembuat hukum Awik-awik Gubuk yaitu para Kepala Dusun, BPD, tokoh agama, tokoh masyarakat. Budaya hukum dapat terbentuk dari mereka-mereka sebagai panutan masyarakat. mereka dapat menggerakkan masyarakat untuk mendiskusikan kembali Awik- awik Gubuk. Menurut H.C Kelman seseorang menaanti atau tidak menaati suatu aturan hukum, tergantung pada kepentingannya, yaitu sebagai berikut:

1. Ketaatan yang bersifat Compliance, seseorang taat terhadap suatu hukum hanya karena takut terkena sanksi.

2. Ketaatan yang bersifat identification, seseorang taat terhadap suatu hukum karena takut hubungan baiknya dengan seseorang menjadi rusak.

3. Ketaatan yang bersifat internalization, seseorang taat terhadap aturan hukum karena benar-benar ia meresa aturan itu sesuai dengan nilai-nilai intrinsik yang di anutnya.

Ketaatan masyarakat adalah ketaatan yang bersifat internalization karena Awik-awik bersumber nilai-nilai agama dan moral masyarakat, namun karena kurangnya penegakan hukum dari struktur hukum mengakibatkan adanya kasus terdahap pelanggaran Awik-awik Gubuk Efektivitas hukum dapat tercapai apabila sistem dari tiga komponen, yaitu Struktur hukum, Substansi hukum, dan budaya hukum berjalan dengan baik. Dapat disimpulkan bahwa lemahnya mentalitas aparat penegak hukum

mengakibatkan aparat penegak hukum dari Awik-awik Gubuk mengakibatkan penegakan hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya, dapat dipertegas bahwa faktor penegak hukum memainkan peran penting dalam memfungsikan hukum. kalau peraturan sudah baik, tetapi kualitas penegak hukum rendah maka akan ada masalah. Demikian juga apabila peraturan buruk sedangkan kualitas penegak hukum baik, kemungkinan munculnya masalah masih terbuka.

Menurut peneliti perlu adanya solusi untuk mengaktiffkan kembali Awik-awik Gubuk, perkembangan zaman yang begitu luar biasa, dengan teknologi semakin canggih, perilaku kehidupan semakin berubah. Keadaan ini membutuhkan media untuk menangkal hilang dan tergerusnya budaya kearifan local seperti Awik-awik Gubuk. Jika ini tidak dilakukan maka tidak hanya Awik-awik Gubuk saja yang terlupakan akan tetapi semua nilai- nilai moral yang lain. Solusi ini ditawarkan oleh Muhammad Harfin Zuhdi dalam Desertasinya, yaitu revitalisasi dan reformulasi kearfian local.

Menurut Muhammad Harfin Zuhdi “untuk dapat menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan local seperti Awik-awik Gubuk perlu dilakukannya revitalisasi, reformulasi untuk memberikan tekanan terhadap masyarakat”.62 Revitalisasi ini dapat dilakukan dengan dibentuknya aturan yang bersumber dari nilai- nilai masyarakat seperti Awik-awik Gubuk, untuk dapat menjadikan Awik-awik Gubuk menjadi lebih fungsional, dibutuhkan adanya pembentukan hukum yang formal agar supaya ada landasan atau legitimitasi terhadap kearifan local.

Awik-awik Sebagai hukum yang hidup dalam masyarakat dapat diratifikasi oleh pemerintah Desa menjadi aturan yang lebih rapi dan testrukrur dan dapat dijalankan dengan oleh semua eleman yang ada di Desa Peresak, hal ini perlu dilakukan dikarenakan perkembangan dan perubahan zaman yang semakin modern,

62 Muhammad Harfin Zuhdi, “Kontra Radikalisme, Terorisme, Melalui Pendekatan Moderasi Beraagama Dan Kearifan Local, : Studi Kontra Radiklisme Terorisme Forum Kordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) NTB”, (Desertasi, Fakultas Hukum, Universitas Mataram, 2021),

sekarang ini masyarakat tidak bisa kendalikan oleh hanya otoritas yang bersifat karismatik (Tuan Guru/tokoh agama ) atau yang bersifat tradional (tokoh adat) ini karena pengaruh teknologi yang semaki canggih. Mungkin ini penyebab dari tidak berfungsinya struktur Awik-awik Gubuk, maka perlu adanya otoritas yang bersifat legal rasional (pemerintah) untuk menguatkan kembali Awik-awik Gubuk di Desa Peresak. Peran Awik-awik Gubuk dapat maksimal apabila sudah disokong dengan oleh pemerintah Desa, ini untuk menjaga masa depan anak-anak remeja yang ada di Desa Peresak.

Tawaran terhadap Awik-awik Gubuk adalah dengan me- revitalisai-reformulasi Awik-awik Gubuk. Awik-awik Gubuk yang dibentuk di empat Dusun tidak dibuat dengan formal akan tetapi dengan kesepakatan bersama empat dusun. Aturan formal di tingkat Desa dinamakan dengan PERDES (Peraturan Desa), PERDES dibuat bersama semua anggota BPD dengan Kepala Desa. Untuk menjadikan Awik-awik Gubuk lebih tegas maka seharusnya awik-awik perlu dilakukan revitalisasi dan reformulasi di tingkat desa untuk menjadikannya PERDES. Dengan terbentuknya peraturan Desa, peranan penting dari kantor kepala desa harus dimaksimalkan, karena menurut soerjono soekanto fasilitas penegakan hukum mendukung berjalan atau tidaknya hukum itu sendiri. Pemerintah Desa Peresak dapat membentuk Bale Mediasi atau yang sejenisnya untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat di luar pengadilan, yang bersifat lebih kekeluargaan, persaudaraan dan biaya yang ringan.

Dengan terbentuknya Awik-awik Gubuk melalui legal formal yang dibentuk pemerintah Desa maka dengan demikian seluruh dari aparatur desa terutama Kepala Desa dapat terlibat untuk mengawasi dan menegakkan Awik-awik Gubuk, bukan hanya empat kepala Dusun, Anggots BPD, tokoh agama dan tokoh masyarakat di empat Dusun. Artinya Jika telah telah terbentuk Awik-awik Gubuk yang dibuat oleh, Kepala desa, Kepala Dusun, anggota BPD, tokoh agama dan tokoh masyarakkat dan harus ada materi hukum yang dibuat oleh pembuat hukum dan adanya budaya hukum, maka masyarakat harus tunduk dan taat terhadap

Dokumen terkait