• Tidak ada hasil yang ditemukan

efektivitas pembentukan awik-awik gubuk dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "efektivitas pembentukan awik-awik gubuk dalam"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS PEMBENTUKAN AWIK-AWIK GUBUK DALAM PENCEGAHAN PERZINAAN DI DESA PERESAK BATUKLIANG

LOMBOK TENGAH

Oleh :

Muhammad Affandi Yusuf NIM. 180202089

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM 2022

(2)

EFEKTIVITAS PEMBENTUKAN AWIK-AWIK GUBUK DALAM PENCEGAHAN PERZINAAN DI DESA PERESAK BATUKLIANG

LOMBOK TENGAH Skripsi

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar

Sarjana Hukum

Oleh :

Muhammad Affandi Yusuf NIM. 180202089

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ( UIN ) MATARAM 2022

(3)
(4)
(5)
(6)

MOTTO

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung

(7)

PERSEMBAHAN

“Dengan rahmat dan kasi sayang Allah SWT serta Kemulian baginda Nabi Muhammad SAW. “Kupersembahkan Skripsi ini untuk kedua orang tuaku, Ibu Hj. Nurul Laily Isnawati dan Bapak H. Kamarudin, S.Pd, serta almamaterku, semua guru, dosen dan orang-orang yang selalu ada dalam hidupku”.

(8)

KATA PENGANTAR

Alhamudulillah, segala puji hanya bagi Allah SWT, tuhan semesta alam dan shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarga, sehabat dan semua pengikutnya.

Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut:

1. Bapak Dr Muhammad Harfin Zuhdi, M.A. dan Bapak Dr. Arino Bemi Sado, M.H. sebagai pembimbing I dan II, yang selalu memberikan bimbingan, motivasi dengan keramahan dan koreksi secara terus-menerus tanpa bosan di tengah kesibukannya sehingga skripsi ini slesai selesai.

2. Bapak Prof. Dr. Masnun Tahir, M.Ag. selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram yang telah memberikan tempat untuk penulis untuk menimba ilmu.

3. Bapak Dr. Asyiq Amrulloh,M.Ag. selaku Dekan Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.

4. Ibu Hj. Ani Wafiroh, M.Ag. selaku ketua jurusan Hukum Keluarga Islam. yang senantiasa membantu dan mendukung untuk menyelesaikan skripsi tepat waktu.

5. Bapak/Ibu Dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram yang telah mengajarkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, semoga dengan ilmu yang telah diajarkan bermanfaat bagi penulis, masyarakat, agama dan bangsa.

6. Bapak Ahmad Nurjihadi, M.H selaku wali dosen saya.

7. Kedua orang tuaku Bapak H. Kamarudin, S.Pd dan Hj Nurul Laily Isnawati yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun materil serta doa-doa sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

8. Sahabat saya Lalu Kukuh Mahendra yang selalu memberikan tumpangan kos untuk beristirahat dan Nera Artati Lafiana yang selalu memberikan doa dan dukungan.

(9)

9. Semua keluarga, kerabat dan teman-teman yang selalu memberikan semangat, motivasi, bantuan tanpa pamrih.

10. Masyarakat Desa Peresak yang dengan tulus hati memberikan infomasi, data dan dukungan terhadap penulis.

11. Teman-teman kelas C HKI 2018 yang selalu membersamai dan memberikan pertolongan secara sukarela.

12. Dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang juga telah memberikan kontribusi sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebu mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT dan semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semesta alam. Amiin

Mataram, 02 Juni 2022 Penulis,

Muhammad Affandi Yusuf

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

NOTAS DINAS PEMBIMBING... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

ABSTRAK ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 5

D. Ruang Lingkup Penelitian ... 6

E. Setting Penelitian... 6

F. Telaah Pustaka ... 6

G. Kerangka Teori... 11

H. Metode Penelitian ... 15

I. Sistematika Pembahasan ... 18

BAB II AWIK-AWIK GUBUK DI PERESAK, KEC.BATUKLIANG, KAB. LOMBOK TENGAH .... A. Gambaran Umum Desa Peresak... 19

B. Keadaan Sosial Keagaamaan Masyarakat Desa Peresak ... 23

C. Penerapan Awik-Awik Gubuk ... 26

BAB III ANALISIS PEMBENTUKAN AWIK AWIK GUBUK ... A. Sejarah dan Proses Pembentukan Awik-Awik Gubuk... 33 C. Efektivitas Pembentukan Awik-Awik Gubuk ...

(11)

Dalam Mencegah Perzinaan. ... 36

BAB IV PENUTUP ... 47

A. Kesimpulan ... 47

B. Saran ... 47

DAFTAR PUSTAKA ... 48

LAMPIRAN ... 52

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 53

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Daftar jumlah penduduk Desa Peresak, Kec. Batukliang, Kab. Lombok Tengah, 25.

Tabel 2.2 Daftar mata pencaharian masyarakat Desa Peresak. Kec.

Batukliang, Kab. Lombok Tengah, 27.

Tabel 2.3 Daftar aturan Awik-Awik Gubuk empat Dusun di Desa Peresak, Kec. Batukliang, Kab. Lombok Tengah, 34.

(13)

EFEKTIVITAS PEMBENTUKAN AWIK-AWIK GUBUK DALAM PENCEGAHAN PERZINAAN DI DESA PERESAK, KEC.

BATUKLIANG, KAB. LOMBOK TENGAH.

Oleh:

Muhammad Affandi yusuf NIM 180202089

ABSTRAK

Latar balakang dilakukannya penelitian ini yaitu berawal dari terbentuknya Awik-awik Gubuk di Desa Peresak dalam mencegah perzinaan. Awik-awik Gubuk merupakan cerminan sosial-religius masyarakat yang dibuat oleh kepala Dusun, BPD, tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk mengatur tata kehidupan masyarakat beserta sanksi dan pelaksanaannya. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini yaitu, untuk mengetahui sejarah dan proses terbentuknya Awik-awik Gubuk beserta efektivitas pembentukan Awik-awik Gubuk dalam mencegah perzinaan.

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data yang peneliti gunakan yaitu melalui: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan metode analisis data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, display data dan verifikasi data.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur hukum dalam pembentukan Awik-awik Gubuk ini meliputi, anggota BPD, Kepala Dusun, Tokoh Agama, Tokoh masyarakat. Isi materi atau norma hukum yang terdapat dalam Awik-awik telah sesuai dengan sosio-religius masyarakat.

Budaya hukum masyarakat desa peresak patuh terdahap hukum yang telah dibuat berdasarkan musyawarah. Awik-awik Gubuk dalam mencegah perzinaan di Desa Peresak kurang efektif, ini terbukti dengan adanya kasus baru dan tidak ditindak tegas. Kurangnya penegakkan hukum diakibatkan struktur hukum dari pembentukan Awik-awik Gubuk tidak menjalankan fungsinya dengan baik.

Kata Kunci: Awik-awik Gubuk, Penegakan Hukum, Perzinaan

(14)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Dalam kehidupan sosial terdapat berbagai macam tata aturan seperti Hukum, moral dan agama. Dengan adanya tata aturan ini, baik tertulis maupun tidak tertulis maka sudah ada aturan yang harus diikuti. Masyarakat Desa Peresak berada pada wilayah hukum Kabupaten Lombok Tengah sudah tentu masyarakat Desa Peresak taat terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan dari Negara Republik Indonesia maupun peraturan daerah Provinsi dan Kabupaten.

Berdasarkan pasal 7 ayat (1) undang-undang no 11 tahun 2012 hirarki peraturan perundang-undang di Indonesia terdiri atas:1 a. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.

b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

c. Undang-undan/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang.

d. Peraturan Pemerintah.

e. Peraturan Presiden.

f. Peraturan Daerah provinsi; dan g. Peraturan Daerah Kabupaten.

Peraturan satu tingkat di bawah peraturan daerah Kabupaten adalah peraturan Desa. Peraturan Desa biasanya bersifat formal yang dibuat secara resmi dan legal berlaku untuk semua masyarakat yang mewilayahi daerah tersebut. untuk peraturan yang tidak bersifat formal dan tidak tertulis, yang hidup di masyarakat untuk mengatur tata kehidupan masyarakat disebut dengan hukum adat. Setelah amandemen Konstitusi hukum hukum adat diakui sebagaimana dinyatakan dalam Undang-ndang Dasar 1945 pasal 18B ayat (2) yang menyatakan: “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat berserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan

1 Undang-undang No 11 Tahun 2012

(15)

perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang.2

Untuk peraturan di bawah peraturan Desa di Lombok, biasanya disebut dengan Awik-awik Gubuk. Mengutip dari tulisan Liwa Irrubai Awik-awik Gubuk adalah hukum adat yang mengatur tata kehidupan bagi warga desa adat beserta sanksi dan aturan pelaksaannya.3 Menurut I Nyoman Sirtha Awik-Awik Desa adat merupakan pencerminan dari jiwa masyarakat yang bercorak sosio- religius.4 Pendapat ini sejalan dengan kondisi sekarang ini, karena masih banyak peraturan undang-undang yang tidak sesuai dengan sosio-religius masyarakat. Peraturan perundang-undangan saat ini merupakan adopsi dari undang-undang Hindia Belanda, khusunya Kitab Undang Undang Hukum Pidana ( KUHP ), akibatnya sering terjadi penyimpangan sosial yang tidak sesuai dengan sosio religius masyarakat setempat, namun dalam KUHP tidak dilarang.

Salah satu penyimpangan yang terjadi adalah perzinaan.

Terminologi perzinaan dalam KUHP berbeda dengan terminologi masyarakat yang lebih bersifat religius. Atas dasar itulah warga masyarakat Desa Peresak termotivasi untuk membuat aturan yang lebih spesifik sesuai dengan sosio religius masyarakat setempat, karena salah satu sumber hukum adalah ideal masyarakat sesuai dengan pancasila dan UUD 1945. Awik-awik termasuk hukum adat. Soepomo menganjurkan memandang hukum adat sama sebagai hukum tidak tertulis, yang meliputi peraturan-peraturan hidup, meskipun tidak di buat secara resmi oleh negara namun tetap ditaati dan didukung oleh rakyat.5

2 Marco Manarisip, “Eksistensi Pidana Adat Dalam Hukum Nasional”, Lex Crimen, Vol. 1, Nomor 4, Oktober-Desember 2012, hlm. 24

3 Mohammad Liwa Irrubai. “Reeaktualisasi Awik-Awik Dalam Melestarikan Sosial Budaya Masyarakat Desa Landah Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah”.

Sosio Didaktika, Social Science Education Journal, Vol. 4 Nomor 2, september 2017, hlm. 22

4 Titib, I made, dkk, Dialog Ajeg Bali Persfektif Agama Pengalaman Agama Hindu, (Surabaya: Paramita, 2006), hlm. 53.

5 Tobing, Sekitar Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta Pusat: Erlangga, 1983), hlm.

32.

(16)

Berkaitan dengan perbuatan zina, semua orang mengecam dan tidak setuju perilaku tersebut. Perbuatan zina merupakan salah satu dari penyebab yang menghancurkan peradaban, masa depan orang yang melakukannya, dan menularkan penyakit. Praktik zina penyebab utama dari tindakan pencabulan dan pelacuran. Karena sebab-sebab tersebut masyarakat Desa Peresak yang mayoritas beragama Islam mengecam perzinaan terlebih lagi dalam ajaran Islam sudah jelas-jelas sangat dilarang. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S Al-Isra’ ayat 32, sebagai berikut:

َءۤاَس َوۗ ًةَش ِّحاَف َناَك ٗهَّنِّا ٓىٰن ِّ زلا اوُب َرْقَت َلَ َو ًلْيِّب َس

Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk” (Q.S [17] Al-Isra’: 32).6

Ayat diatas adalah suatu perintah Allah SWT kepada orang-orang mukmin memelihara kehormatannya dan larangan yang mengakibatkan hilangnya martabat dan kehormatannya.

Selain mendapatkan dosa yang besar, Pelaku zina tentunya akan mendapatkan sanksi yang berat. Menurut Ahmad Hanafi, tiga hukuman yang telah ditetapkan bagi pelaku zina, yaitu: dera (jilid), pengasingan (tadrib) dan rajam. Hukum dera dan pengasingan ditetapkan bagi pezina tidak muhshan, yaitu kedua pelaku zina belum menikah atau berstatus gadis dan jejaka. Sedangkan hukuman rajam dikenakan terhadap pezina Muhshan, yaitu pelaku zina telah menikah dan sudah mempunyai suami istri. Jika kedua pelaku zina tidak muhshan maka keduanya dijilid dan diasingkan, akan tetapi kedua pelaku zina muhshan maka dijatuhi hukuman rajam.7

Sanksi rajam bagi pelaku zina Muhshan secara eksplisit tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, akan tetapi eksistensinya pernah dilakukan oleh Rasulullah. Di dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa beliau melaksakan sanksi rajam terhadap Maiz

6 QS al-Isra’ (17) :32.

7 Ahmad Syafi’i, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 2006), hlm. 263.

(17)

bin Malik dan Al Ghamidiyah, sanksi ini juga diakui oleh ijma sahabat dan tabi’in serta pernah dilakukan pada zaman Khulafa Al- Rasyidin.8

Awik-awik di Desa peresak di bentuk guna mencegah terjadinya perzinaan. Pembentukan Awik-awik Gubuk di sepakati bersama empat dusun, yaitu: Dusun Subahnala 1, Dusun Subahnala 2, Dusun Sandik, dan Dusun Dompu. Kesepakatan empat Dusun ini berdasarkan kesamaan Masjid tempat solat dan ibadah.

Pembentukan Awik-awik Gubuk di awali dengan terjadinya kasus perzinaan dikalangan remaja yang diketahui oleh masyarakat.

Dengan berkaca pada kasus tersebut maka dibuatlah Awik-awik Gubuk guna mencegah terjadinya perzinaan dikalangan masyarakat terlebih lagi di kalangan remaja untuk menjaga generasi yang bermoral dan menjaga nama baik empat Dusun tersebut. Awik-awik dibentuk oleh kepala Dusun, anggota BPD, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Pembentukan Awik-awik Gubuk berlaku bagi pelaku zina baik yang sudah menikah atau belum menikah. Terkait dengan perzinaan yang diatur dalam Awik-awik adalah dilarang kumpul kebo, dilarang melakukan tindak asusila dan perzinaan yang mengakibatkan kehamilan. Apabila masyarakat melanggar maka akan dikeluarkan dari empat Dusun yang telah bersepakat.

Setelah Seiring berjalannya waktu dengan kondisi masyarakat yang semakin modern, Awik-awik Gubuk tetap dianggap ada dan masih ditakuti oleh masyarakat setempat, walaupun dalam proses pelaksanaan sanksi kurang tegas tidak seperti pelaksanaan awal Awik awik Gubuk dimana terdapat kasus tindakan asusila yang dilakukan oleh seorang yang telah beristri dengan seorang gadis.

Perbuatan tindak asuslia tersebut diketahui oleh masyarakat dan dilaporkan kepada kepala dusun, anggota BPD dan tokoh masyarakat, kedua pelaku dipanggil untuk di sidang dengan menghadirkan saksi pelaku terbukti melakukan tindakan asusila, berdasarkan Awik-awik Gubuk pelaku dikeluarkan dari empat Dusun yang telah bersepakat. Seiring berjalanya waktu ada kasus

8 Nurul Irfan Dan Masyrofah, Fiqih Jinayah, (Jakarta: Imprint Bumi Aksara, 2013), hlm. 20

(18)

perzinaan dimana pelaku zina hanya meninggalkan empat Dusun yang telah bersepakat hanya beberapa saat saja dan masyarakat tidak merespon hal tersebut, setelah dibentuk Awik awik kasus pelanggaran tetap terjadi, terdapat 4 (empat) kasus pelanggaran terhadap Awik-awik. Ini merupakan masalah yang harus diselesaikan guna mencapai apa yang menjadi tujuan pembentukan Awik-awik Gubuk.

Fungsi Kontrol sosial dari Awik-awik Gubuk dalam pencegahan perzinaan harus berjalan dengan baik. Kepala Dusun anggota BPD dan tokoh masyarakat sebagai penegak hukum harus bertindak sebagaimana tahap pelaksanaan awal Awik Awik Gubuk.

Sistem Hukum harus berjalan baik agar hukum efektif, baik dari segi materi hukum, penegak hukum dan budaya hukum masyarakat. Keberhasilan dari suatu hukum menurut Soerjono Soekanto ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu: pertama Faktor hukumnya sendiri, kedua faktor penegakan hukum, ketiga faktor fasilitas penegakan hukum, keempat faktor masyarakat, kelima Faktor Kebudayaan.9

Berdasarkan uraian latar belakang di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Efektivitas Pembentukan Awik-Awik Gubuk Dalam Pencegahan Perzinaan Di Desa Peresak Batukliang Lombok Tengah”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis dapat mengemukakan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana sejarah dan proses dibentuknya Awik-awik Gubuk di Desa peresak ?

2. Bagaimana efektivitas pembentukan Awik-awik Gubuk dalam pencegahan perzinaan di Desa Peresak ?

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada rumusan masalah di atas tujuan yang ingin dicapai peneliti yaitu :

9 Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta : PT Grafindo Perkasa, 2008), hlm. 8

(19)

a. Untuk mengetahui begaimana proses dan sejarah dibentuknya Awik-awik Gubuk di Desa Peresak

b. Untuk mengetahui efektivitas pencegahan perzinaan melalui pembentukan Awik-awik Gubuk di Desa Peresak.

2. Manfaat Penelitian

Setiap penelitian diharapkan memberikan manfaat, secara umum manfaat penelitian ini dibedakan menjadi dua, diantaranya sebagai berikut :

a. Manfaat Teoritis

1) Dari hasil penelitian diharapkan bermanfaat menambah wawasan, khususnya dibidang Hukum keluarga Islam, dimana Awik-awik Gubuk dapat menjadi alternatif hukum untuk mencegah permasalahan yang akan timbul dalam bidang Hukum Keluarga Islam.

2) Dari hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat menjadi data acuan untuk peneliti yang akan melakukan penelitian yang sejenis dengan penelitian ini. Terutama terkait dengan Hukum Keluarga Islam dan hukum adat.

b. Manfaat Praktis.

1) Diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi masyarakat, terutama masyarakat Desa Peresak. Supaya lebih memperhatikan lagi Awik-awik Gubuk yang telah di buat.

2) Penelitian ini diharapkan juga bermanfaat bagi pemerintah, dengan adanya Awik-awik Gubuk pemerintah lebih memperhatikan regulasi kearifan local untuk membantu menyelesaikan permasalahan masyarakat.

3) Selain kepada pemerintah dan masyarakat penelitian ini juga diharapkan berguna untuk Fakultas Syariah UIN Mataram dalam upaya mengkaji hukum adat untuk dikontekstualisasikan ke dalam konsep hukum Islam.

D. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk mengorganisir penelitian agar lebih baik dan menghindari terjadinya bias masalah dalam penelitian ini, fokus penelitian adalah pada masalah efektivitas pembentukan Awik-awik Gubuk dalam pencegahan perzinaan di Desa Peresak, Kec.

Batukliang, Kab. Lombok tengah.

(20)

E. Setting Penelitian

Seting penelitian bertempat di Desa Peresak, Kec.

Batukliang, Kab. Lombok Tengah. Pemilihan lokasi penelitian ini dikarenakan di Desa Peresak, Kec. Batukliang, Kab. Lombok Tengah telah dibentuk Awik-awik Gubuk dalam pencegahan perzinaan.

F. Telaah Pustaka

Telaah Pustaka adalah penelusuran terhadap karya-karya terdahulu yang berkaitan dengan penelitian saat ini. Untuk menghindari plagiasi, duplikasi dan menjamin kerorisinilan penelitian yang akan dilakukan. Penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian saat ini, diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Muhammad Sardi meneliti tentang “dampak Awik-awik Gubuk

terkait pembatasan mahar nikah terhadap kerukunan rumah tangga (studi kasus di dusun Pepekat Lauk dan Pepekat Daye Desa Batunyala).10

Penelitian Muhammad Sardi fokus membahas tentang Awik-awik Gubuk yang membatasi mahar nikah. Apabila laki- laki dan perempuan yang melakukan pernikahan berasal dari kedua dusun tersebut maka sudah ditetapkan standar mahar nikah, yaitu : sesuai dengan harga padi kering tiga kwintal, sudah termasuk pisuke. Tiga kwintal padi tersebut dibagi menjadi dua, satu kwintal untuk mempelai perempuan (mahar) dan 2 kwintal untuk Pisuke kepada orang tua. Dampak dari pembatasan ini adalah seringnya terjadi perceraian karena mahar yang diberikan tidak seberapa dan mahar yang ditetapkan tidak sesuai dengan perkembangan zaman mengakibatkan permasalahan dalam keluarga.11

Persamaan penelitian Muhammad Sardi dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah sama-sama membahas tentang Awik-awik Gubuk. Sedangkan Perbedaan penelitian

10Muhammad Sardi,” Dampak Awik-awik Gubuk tentang pembatasan mahar nikah terhadap kerukunan rumah tangga (studi kasus di dusun Pepekat Lauk dan Pepekat Daye Desa Batunyala” (Skripsi, Fakultas Hukum dan Bisnis Islam IAIN MATARAM, 2016 )

11 Ibid, hlm.75

(21)

Muhammad Sardi dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah penelitian Muhammad Sardi terfokus pada Awik-awik Gubuk yang membatasi mahar nikah di Dusun Pepekat Lauk dan Pepekat Daye, Desa Batunyala. Sedangkan penelitian yang peneliti lakukan terfokus pada efektivitas pembentukan Awik-awik Gubuk dalam pencegahan perzinaan di Desa Peresak.

2. Mohammad Liwa Irrubai meneliti tentang “kearifan local Awik-awik Desa Sesaot dalam persfektif hukum islam”.12

Mohammad Liwa Irrubai meneliti tentang Awik-awik Desa Sesoat yang terkait dengan pentingnya menjaga kelestarian hutan. Awik awik Desa Sesoat memiliki larangan dan sanksi yang oleh penulis dianalisis sebagai adat ‘Urf yang tidak bertentangan dengan syara’ sehingga dapat di aktualisasikan dalam menjaga lingkungan hidup manusia13.

Persamaan penelitian Mohammad Liwa Irrubai dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah sama sama membahas Awik awik Gubuk. Sedangkan perbedaaan penelitian Mohammad Liwa Irrubai dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah, penelitian Mohammad Liwa Irrubai terfokus pada masalah Awik-awik yang berkaitan dengan lingkungan hidup sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan terfokus pada masalah Awik-awik yang berkaitan dengan efektivitas pencegahan perzinaan di Desa Peresak 3. Mohammad Liwa Irrubai meneliti tentang “reaktualisasi Awik-

awik dalam melestarikan sosial budaya masyarakat Desa Landah kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah”.14

Penelitian Mohammad Liwa Irrubai membahas tentang bagaimana mengoptimalkan Awik-awik yang telah dibuat di

12 Mohammad Liwa Irrubai, “Kearifan Local Awik-awik Desa Sesaot Persfektif Hukum Islam”, Istibath, Vol. 16, Nomor 2, Desember 2017.

13 Ibid. hlm. 413.

14 Mohammad Liwa Irrubai, “Reeaktualisasi Awik-Awik Dalam Melestarikan Sosial Budaya Masyarakat Desa Landah Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah”, Sosio Didaktika, Sosial Science Education Jounral, Vol. 4, Nomor 2, September 2017

(22)

Desa Landah dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam hal pembentukan, sosialisasi dan pengawasan guna melestarikan sosial budaya dalam kehidupan masyarakat15.

Persamaan penelitian Mohammad Liwa Irrubai dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah sama-sama membahas Awik-awik Gubuk dari sisi penerapannya. Sedangkan perbedaan penelitian Mohammad Liwa Irruubai dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah, penelitian Mohammad Liwa Irrubai terfokus pada bagaimana mengoptimalkan Awik-awik yang telah dibuat di Desa Landah sedangkan penelitian yang peneliti lakukan terfokus kepada efektivitas pembentukan Awik-awik Gubuk dalam pencegahan perzinaan di Desa Peresak.

4. Nazar Naamy meneliti tentang “revitalisasi krame banjar dalam menangkal wacana radikalisme di Lombok Barat”.16

Penelitian Nazar Naamy membahas tentang revitalisasi krame banjar dalam menangkal radikalisme, krame banjar membnetuk Awik-awik. Revitalisasi ini dapat dilaksanakan melalui musyawarah Desa sehingga membentuk aturan yang legal formal. Sifat kekeluargaan dari Krame Banjar membuatnya lebih efektif dalam menangkal wacana radikalisme dan hoax yang tersebar.17

Persamaan penelitian Nazar Naamy dengan penelitian peneliti adalah sama-sama membahas tentang aturan tidak tertulis yang dibentuk melalui musyawarah (Krame Banjar) di lombok, yang dinamakan Awik-awik. Perbedaan penelitian Nazar Naamy dengan penelitian peneliti adalah, penelitian Nazar Naamy terfokus pada revitalisasi krame banjar dalam menangkal wacana radikalisme di Lombok Barat sedangkan penelitian yang peneliti lakukan terfokus pada efektivitas pembentukan Awik-awik Gubuk dalam mencegah perzinaan di Desa Peresak.

15 Ibid. hlm.21

16 Nazar Naamy, “revitalisasi krame banjar dalam menangkal wacana radikalisme di Lombok Barat”. Tasamuh, Vol. 16, Nomor 2, Juni 2018

17 Ibid, hlm. 97

(23)

5. Riza Wahyuni, Meneliti tentang “Efektivitas pelaksanaan peraturan daerah kebupaten mandailing natal nomor 7 tahun 2003 tentang pencegahan dan pemberantasan penyakit masyarakat di Kabupaten Mandailing Natal studi Kec.

Penyambungan Kota” 18

Penelitian Riza wahyuni membahas tentang bagaimana penegakan peraturan daerah nomor 7 tahun 2003 tentang pencegahan perzinaan dan pemberantasan penyakit masyarakat di Kabupaten Mandailing Natal. Penegakan peraturan daerah sudah dilaksanakan oleh polisi pamong praja dengan razia rutin, problematika yang dialami adalah masing kurangnya sosialisai terhadap peraturan daerah sehingga masih banyak masyarakat belum mengetahui peraturan tersebut, sehingga masih banyak terjadi pelanggaran terhadap peraturan daerah tersebut.19

Persamaan penelitian Riza wahyuni dengan penelitian peneliti adalah sama-sama membahas tentang pencegahan perzinaan. Sedangkan perbedaan penelitian Riza Wahyuni dengan penelitian peneliti adalah, penelitian Riza Wahyuni terfokus pada pencegahan perzinaan melalui peraturan daerah nomor 7 tahun 2003 tentang pencegahan perzinaan dan penyakit masyarakat di Kabupaten Mandailing. Sedangkan penelitian peneliti terfokus pada efektivitas pembentukan Awik-awik Gubuk dalam mencegah perzinaan di Desa Peresak Kec. Batukliang, Kab. Lombok Tengah.

6. Muhammad Abdul Thoyyibi meneliti tentang “peran tokoh masyarakat dalam mencegah pernikahan akibat hamil di luar Nikah di kelurahan Bulukerto Kabupaten Wonogiri”.20 Penelitian Muhammad Abdul Thoyyibi membahas tentang

18 Riza Wahyuni, “Efektivitas Pelaksanaan Peraturan Daerah Kebupaten Mandailing Natal Nomor 7 Tahun 2003 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Penyakit Masyarakat Di Kabupaten Mandailing Natal Studi Kec. Penyambungan Kota”, (Skripsi, Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, IAIN Padangsidimpuan, 2019).

19 Ibid, hlm. 63

20 Muhammad Abdul Thoyyibi, “Peran Tokoh Masyarakat Dalam Mencegah Pernikahan Akibat Hamil Di Luar Nikah Di Kelurahan Bulukerto Kabupaten Wonogiri”

(Skripsi, Fakutltas Syariah, IAIN PONOROGO, 2019).

(24)

remaja yang hamil diluar nikah mayoritas disebabkan karena akibat dari pergaulan bebas dan kurangnya perhatian orang tua dan peran tokoh masyarakat dalam mencegah kehamilan di luar nikah.21

Persamaan penelitian Muhammad Abdul Thoyyibi dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah, sama-sama membahas tentang perzinaan yaitu terkait dengan hamil diluar nikah dan pencegahannya yang melibatkan tokoh Masyarakat.

Sedangkan perbedaan penelitian Muhammad Abdul Thoyyibi dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah Muhammad Abdul Thoyyibi terfokus pada peran tokoh masyarakat dalam mencegah hamil di luar nikah sedangkan penelitian yang peneliti lakukan terfokus pada efektivitas pencegahan Awik- awik Gubuk dalam mencegah perzinaan.

7. Usman, Sri Rahayu dan Elizabeth Siregar meneliti tentang

“urgensi penyerapan nilai hukum Islam dan hukum adat dalam pengaturan tindak pidana perzinaan”.22 Penelitian Usman, Sri Rahayu dan Elizabeth membahas tentang adanya kekosongan hukum pidana di Indonesia untuk perzinaan yang dilakukan oleh orang yang belum terikat perkawinan dengan berbagai bentuknya. Ketidakselarasan nilai peraturan tentang perzinaan dalam pasal 284 KUHP dengan nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat yang tercermin dari hukum Islam dan hukum adat adalah penyebab dari kekosongan hukum perzinaan dari yang dilakukan oleh orang yang belum menikah.23

Persamaan penelitian Usman, Sri Rahayu dan Elizabeth Siregardengan penelitian yang dilakukan adalah sama-sama membahas tentang perzinaan dan hukum adat yaitu Awik-awik Gubuk. Perbedaan penelitian Usman, Sri Rahayu dan Elizabeth Siregar dengan penelitian yang dilakukan adalah

21 Ibid, hlm. 87

22 Usman, Sri Rahayu dan Elizabeth Siregar, “Urgensi Penyerapan Nilai Hukum Islam Dan Hukum Adat Dalam Pengaturan Tindak Pidana Perzinaan”, Undang: Jurnal Hukum, Vol 4, Nomor 1, 2021.

23 Ibid, hlm. 153

(25)

penelitian Usman, Sri Rahayu dan Elizabeth Siregar terfokus pada urgensi penyerapan nilai hukum Islam dan hukum adat dalam pengaturan tindak pidana perzinaan sedangkan penelitian yang peneliti lakukan terfokus pada efektivitas pembentukan Awik-awik Gubuk dalam mencegah perzinaan.

G. Kerangka Teori 1. Awik-awik

Awik-awik adalah hukum adat berupa peraturan atau undang-undang yang disusun dan ditetapkan oleh anggota masyarakat desa, banjar dan subak tentang aturan tata kehidupan masyarakat di bidang agama, budaya, dan sosial ekonomi.24

Awik-awik berasal dari kata a artinya tidak dan wik artinya rusak, jika digabungkan menjadi awik artinya tidak rusak atau baik. Awik-awik artinya sesuatu yang menjadi baik.

Konsep ini kemudian dituangkan dalam bentuk peraturan sehingga membentuk suatu pengertian. Awik-awik memuat aturan dasar yang menyangkut wilayah adat, krama desa adat dan sanksi.25 Awik-Awik Gubuk Desa Peresak merupakan Awik-awik yang dibuat untuk mengatur secara khusus warga masyarakat desa Peresak dibidang agama, budaya.

Menurut Edi Muhammad dan Soeamarno, Awik-awik merupakan kearifan local dalam bentuk aturan-aturan adat (hukum adat). sedangkan menurut Mukhtar, dkk menjelaskan bahwa, Awik-awik desa adalah kearifan local yang dimiliki oleh masyarakat Bali dan Lombok yang berisi nilai-nilai atau norma yang tumbuh dan berkembang, menyatu dengan budaya, kepercayaan yang diekspresikan dengan mitos dengan simbol-simbol tertentu, serta diwariskan secara turun temurun.26 Sedangkan Awik-awik di Lombok berdasarkan

24 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) , http://Kbbi. .web. id/awik-awik.html diakses tanggal 19 januari 2022, pukul 20.00.

25Kusumadi Pujosewoyo, “Pedoman Pelajaran Tata Hukum Indonesai”, (Jakarta:Universitas Indonesia, 1983), hlm.23.

26 Mohammad Liwa Irrubai. “Kearifan Local Awik-awik Desa Sesaot Persfektif Hukum Islam”. Istibath, Vol. 16, Nomor 2, Desember 2017, hlm. 411

(26)

nilai tradisi yang hidup dan pengalaman masyarakat dari waktu ke-waktu. Desa-desa di pulau Lombok memiliki corak kearifan local, yaitu berupa adanya musyawarah, dialog dan berdiskusi dan menyelesaikan masalah dengan masyarakat setempat yang dipimpin oleh tokoh agama, tokoh masyarakat yang biasanya dilakukan di Masjid, balai Desa dan tempat lainnya, hasil musyawarah ini dinamakan Awik-awik. 27

Dapat dipahami bahwa konsep Awik-awik adalah aturan atau norma-norma yang berasal dari tradisi yang hidup di tengah masyarakat untuk menjaga lingkungan, sosial budaya, dan lainnya berupa anjuran, larangan dan sanksi yang disepakati bersama dan bercorak sesuai dengan tempat tinggalnya, kemudian berkelanjutan diwariskan ke generasi berikutnya.28 Teori Awik-awik Gubuk ini akan peneliti gunakan untuk menganalisis sejarah dan proses pembentukan Awik-awik di Desa Peresak, Kec. Batukliang, Kab. Lombok Tengah.

2. Penegakan Hukum

Hukum dapat dikatakan efektif apabila masyarakat yang berada pada wilayah berlakunya hukum bertingkah laku sesuai dengan apa yang diatur dalam aturan hukum tersebut dan hukum dapat dikatakan efektif apabila aparat penegak hukum menerapkan dan menegakkan aturan hukum. Teori penegakan hukum yang peneliti gunakan yaitu teorinya Lawrence M.

Friedman yang mengatakan bahwa penegakan hukum itu tergantung pada tiga unsur hukum, yaitu: struktur hukum (legal structure), substansi hukum (legal substance), dan budaya hukum(legal culture).29

Struktur hukum (legal structure) menyangkut kelembagaan pelaksana hukum, kewenangan lembaga dan

27 Nazar Naamy, “revitalisasi krame banjar dalam menangkal wacana radikalisme di Lombok Barat”. Tasamuh, Vol. 16, Nomor 2, Juni 2018, hlm. 95

28 Mohammad Liwa Irrubai. “Kearifan Local Awik-awik Desa Sesaot Persfektif Hukum Islam”. Istibath, Vol. 16, Nomor 2, Desember 2017, hlm. 411

29 Lawrence M.Friedman, Hukum Amerika; Sebuah Pengantar, Terj Dari American Law An Introduction, 2nd Edition, Alih Bahasa: Wisnu Basuki,(Jakarta:

Tatanusa, 2001), hlm. 6-8.

(27)

penegak hukum. Substansi hukum (legal subtance) meliputi materi hukum yang diantaranya dituangkan dalam peraturan perundang-undangan, dalam penelitian yang akan peneliti lakukan terkait dengan isi materi dari Awik-awik Gubuk.

Budaya hukum (legal culture) menyangkut perilaku (hukum) masyarakat.30

Syarat agar hukum dapat berjalan dengan efektif adalah melihat peraturan yang berlaku di masyarakat adanya pelaksanaan hukum, dan kondisi sosio masyarakat. peraturan yang dibuat harus dirancang dengan baik dan substansinya yang meliputi isi dari peraturan tersebut bersifat melarang, mengandung sanksinya dan mengandung moralitas. Pelaksana hukum berperan dengan sebagai mestinya, berperan dalam melaksanakan hukum.

Efektivitas hukum juga harus dilihat dari kondisi sosial masyarakat, semakin baik masyarakat dalam mentaati hukum, tidak ada pelanggaran yang dilakukan maka efektif peraturan yang berlaku. Ahmad Ali berpendapat sejalan dengan teorinya Lawrence M. Friedman efektivitas suatu hukum adalah profesional dan optimal dalam pelaksanaan peran dari penegak hukum baik dalam menjalankan tugas dan menjalankan isi dari peraturan tersebut. 31

Dalam implementasinya Awik-awik Gubuk dapat efektif apabila memenuhi tiga unsur tersebut. Teori penegakan hukum ini akan peneliti gunakan untuk menganalisis efektivitas pembentukan Awik-awik Gubuk dalam pencegahan perzinanaan di Desa Peresak.

3. Perzinaan

Zina harfiah berarti fashiyah, yaitu perbuatan keji. Zina dalam pengertian istilah adalah hubungan kelamin antara seorang lelaki dengan seorang wanita yang satu sama lain

30 Lutfi Ansori, “Reformasi Penegakan Hukum Persfektif Hukum Progresif”, Jurnal Yuridis, Vol.4 No. 2 Desember 2017, hlm. 148.

31 Acmad Ali, Menguak Teori Hukum Dan Teori Keadilan, ( Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 375.

(28)

tidak terikat dalam hubungan perkawinan. 32 para fuqaha mengartikan zina, yaitu melakukan hubungan seksual dalam arti memasukkan zakar (alat kelamin pria) ke dalam vagina wanita yang diharamkan, bukan karena subhat dan atas dasar syahwat. Dalam islam mendekati zina saja dilarang, apalagi jika melakukan perbuatan zina sudang barang tentu sangat dilarang. Unsur-unsur pidana perzinaan adalah persetubuhan dan dalam keadaan kemauan sendiri.33

Sedangkan dalam KUHP tindak perzinaan yang dimaksudkan dalam pasal 284 (1) merupakan suatu tindak pidana yang harus dilakukan dengan sengaja, undang-undang menentukan bahwa terhadap pelaku tindak pidana perzinaan tidak dilakukan penuntutan, kecuali ada pengaduan dari suami atau istri yang merasa terkena dan apabila suami-istri bagi suami istri berlaku pasal 27 BW, di dalam waktu tiga bulan pengaduan tersebut diajukan harus diikuti oleh pengaduan dengan gugatan perceraian atau gugatan perceraian dari meja makan dan tempat tidur, yang harus berkenaan dengan terjadinya perzinaan yang bersangkutan34.

Konsep perzinaan peneliti gunakan untuk menganalisis isi materi dari Awik-awik Gubuk di Desa Peresak, Kec.

Batukliang, Kab.Lombok Tengah.

H. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.35 Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian didasarkan pada elit-elit keilmuan yang rasional, empiris dan sistematis. Rasional berarti kegiatan peneliti dilakukan dengan cara yang masuk akal sehingga terjangkau oleh penalaran manusia, empiris berarti cara yang dilakukan ini dapat diamati oleh panca indra manusia, sistermatis

32 Hendra Surya, Rusjdi Ali Muhammad, Mohd, Din, “Studi Permbandingan Tentang Konsep Perzinaan Menurut Hukum KHUP Dengan Hukum Islam”, Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 1, Nomor 3, Agustus 2013. hlm.7

33 Ibid, hlm.7

34 Ibid, hlm.6

35 Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif Dan RD, Cet. 19 (Bandung: Alfabeta, 2013 ), hlm. 2

(29)

artinya proses yang digunakan dalam penelitian menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis dan masuk akal.36

Guna mendapatkan data-data yang relevan dan mendukung keabsahan penelitian, penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut :

1. Jenis Dan Pendekatan penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif peneliti gunakan, karena peneliti ingin mengungkap fenomena efektivitas pembentukan Awik-awik Gubuk di Desa Peresak dalam pencegahan perzinaan.

2. Kehadiran Peneliti

Kehadiran peneliti adalah sebagai instrumen utama dalam penelitian, dan juga sebagai pengumpul data. Kehadiran peneliti sangat penting untuk mendapatkan data-data yang akan diteliti. Sebelum melakukan penelitian di lokasi, terlebih dahulu peneliti memberikan penjelasan maksud dan tujuan peneliti, sehingga informan mengetahui kehadiran dan tujuan peneliti untuk mengungkap fenomena efektivitas pembentukan Awik-awik Gubuk dalam pencegahan perzinaan.

3. Lokasi Penelitian

Penelitian yang dilakukan bertempat di Desa Peresak, Kec.

Batukliang, Kab. Lombok Tengah. Alasan memilih lokasi ini sebagai tempat penelitian, karena di Desa Peresak telah dibentuk Awik-awik Gubuk dalam pencegahan perzinaan, dalam hal ini peneliti akan melihat Efektivitas Pembentukan Awik-awik Gubuk dalam pencegahan perzinaan.

4. Sumber Data a. Data Primer

Sumber data primer merupakan sumber data utama dalam penelitian yang dilakukan. Sumber data primer peneliti peroleh dari wawancara lansung dengan masyarakat Desa Peresak, Pemerintah Desa Peresak dan para tokoh yang terlibat lansung dalam pembuatan Awik-awik Gubuk.

36 Ibid. hlm. 2

(30)

b. Data Sekunder

Sumber data sekunder merupakan sumber data pendukung dalam penelitian yang dilakukan. Sumber data sekunder peneliti peroleh dari literatur-literatur, buku-buku, artikel, jurnal ilmiah dan sumber lainnya yang sesuai dengan tema penelitian.

5. Tehnik pengumpulan data

Untuk memperolah data yang valid dalan penelitian ini peneliti menggunakan tehnik pengumpulan data sebagai berikut : a. Observasi

Observasi yang peneliti lakukan dalam menggali data penelitian ini yaitu dengan cara mengamati pelaksanaan Awik-awik Gubuk dalam mencegah perzinaan di Desa Peresak.

b. Wawancara

Wawancara yang peneliti lakukan dalam menggali data penelitian ini adalah wawancara yang tidak terstruktur.

Wawancara tidak terstruktur peneliti gunakan, guna menciptakan suasana yang harmonis antara peneliti dengan responden, sehingga bisa mendapatkan data yang valid dan mendalam. Peneliti melakukan wawancara tidak terstruktur dengan beberapa responden yaitu sebagai berikut:

Kamarudin, Jalaludin, Mahnan, Napsun, Amaq. Paridah, Sahirudin.

c. Dokumentasi

Dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti dengan menggali data-data terkait penelitian ini yaitu dengan cara mengumpulkan dokumen-dokomen, catatan-catatan yang relevan dengan judul penelitian ini. Adapun dokumen dan data-data yang peneliti gunakan yaitu, Awik-awik Gubuk, data-data dari kantor Desa Peresak.

6. Tehnik Analisis Data

Tehnik analisis data yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut :

a. Reduksi Data

(31)

Reduksi data yang peneliti lakukan dalam menganalisis data penelitian adalah, dengan cara menyerderhanakan dan membuang data yang tidak diperlukan, agar data yang diperoleh dapat memberikan informasi yang bermakna sehingga dapat mempermudah menarik kesimpulan.

d. Display Data

Display data yang peneliti lakukan yaitu, dengan cara menyusun data yang didapatkan secara sistematis sesuai dengan fokusnya masing-masing, sehingga data-data tersebut mudah dipahami.

e. Verifikasi Data

Verifikasi data yang peneliti lakukan adalah, dengan cara melihat hasil reduksi data, yang mengacu pada tujuan analisis yang hendak dicapai, dengan bukti-bukti yang valid, sehingga dapat ditarik kesimpulan yang kredibel dan objektif sebagai jawaban dari permasalahan yang ada.

7. Pengecekan Keabsahan Data

Dalam melakukan pengecekan data yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan cara sebagai berikut:

a. Triangulasi

Triangulasi yang peneliti lakukan adalah dengan cara menyesuaikan antara data-data yang telah diperolah melalui observasi, wawancara dan dokumentasi sehingga data tersebut sesuai dan valid.

b. Perpanjangan Waktu

Perpanjangan waktu merupakan tahapan apabila data-data yang peneliti dapatkan masih kurang atau tidak sesuai dengan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi, maka peneliti akan terjun kembali ke lapangan untuk menyesuaikan data penelitian.

I. Sistematika Pembahasan

Sebagai gambaran dalam penulisan penelitian ini, maka secara garis besar penulisan ini dilakukan dengan menampilkan 3 pembahasan, yaitu pendahuluan, isi dan penutup yang terbagi menjadi beberapa bab dan sub-sub bab sebagai berikut :

(32)

BAB I Pendahuluan yang meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, ruang lingkup dan setiing penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

BAB II Awik-awik Gubuk di Desa Peresak, Kec. Batukliang, Kab. Lombok Tengah. Bab ini meliputi: gambaran umum Desa Peresak, keadaan sosial keagamaan masyarakat Desa Peresak, penerapan Awik-awik Gubuk di Desa Peresak.

BAB III Analisis pembentukan Awik-awik Gubuk. Bab ini meliputi: sejarah dan proses pembentukan dan efektivitas pembentukan Awik-awik Gubuk dalam pencegahan perzinaan di Desa Peresak.

BAB IV Penutup yang meliputi kesimpulan dan saran-saran.

(33)

BAB II

AWIK-AWIK GUBUK DI DESA PERESAK, KEC. BATUKLIANG, KAB. LOMBOK TENGAH A. Gambaran Umum Desa Peresak

1. Sejarah Desa Peresak

Desa Peresak berasal dari pemekaran Desa Mantang pada tahun 1969 yang berbatasan dengan :

Sebelah Utara : Desa Aik Bukak Sebelah Selatan : Desa Bujak Sebelah Timur : Desa Bebuak Sebelah Barat : Desa Mantang

Desa Peresak mempunyai 17 Kampung (17 Kliang). Yang menjadi Kepala Desa pertama adalah Lalu Juruh ABG selama 5 tahun, dari tahun 1969 s/d 1975, Kepala Desa kedua di jabat oleh Jamali BA selama 1 tahun (tahun 1975 s/d 1976). Kepala Desa ketiga Hanan selama 8 tahun, yaitu dari tahun 1977 s/d tahun 1985. Kepala Desa keempat dijabat oleh FX Rujiarto (anggota POLRI) selama 3 tahun, dari tahun 1986 s/d tahun 1989. Kepala Desa kelima Lalu Darmawit selama 8 tahun, yaitu dari tahun 1989 s/d tahun 1997.

Pada tahun 1994 Desa Peresak dimekar menjadi 1 Desa lagi yaitu Desa Mas-Mas Kecamatan Batukliang dengan pembagian wilayah: Desa Peresak 10 Dusun yaitu Dusun Sandik, Dusun Subahnala, Dusun Lendang Gamang, Dusun Pajangan, Dusun Batulajan, Dusun Bujak Daye, Dusun Penyengak, Dusun Peresak Daye, Dusun Peresak Tengak dan Dusun Peresak Lauk.

Desa pemekaran (Desa Mas – Mas) 7 Dusun, yaitu Dusun Gelogor, Dusun Keranji I, Dusun Keranji II, Dusun Senurus, Dusun Selusuh, Dusun Ponikasih, Dusun Goak dan Dusun Langge Lawe. Kepala Desa keenam di jabat oleh Lalu Masban selama 6 bulan, yaitu dari bulan juni 1997 s/d bulan Desember 1997, Kepala Desa ketujuh Halil selama 8 tahun, dari tahun 1998 s/d tahun 2006.

(34)

Kepala Desa kedelapan dijabat oleh Kadri selama 1 tahun, dari 1 Januari 2006 s/d 31 Desember 2006. Kepala Desa kesembilan adalah Muhamad Nasib, SP dari 1 Januari 2007 s/d 31 Juli 2013 dan Plt Agus Andriawan sampai tahun 2017, dan sekarang dijabat oleh Sahirudin sebagai kepala Desa Kesepuluh.

Desa Peresak saat ini mempunyai 15 Kepala Dusun yaitu Kadus Sandik, Kadus Subahnala I, Kadus Subahnala II, Kadus Dasan Aman, Kadus Pajangan, Kadus Aik Gering, Kadus Batulajan, Kadus Bujak Daye, Kadus Penyengak, Kadus Peresak Daye, Kadus Peresak Tengak, Kadus Peresak Lauk, Kadus Selojan, Kadus Dumpu dan Kadus Boak, dengan batas- batas wilayah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Berbatasan dengan Desa Mas - Mas Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Desa Bujak Sebelah Timur : Berbatasan dengan Desa Bebuak Sebelah Barat : Berbatasan dengan Desa Mantang 2. Demografi Desa Peresak

Penduduk Desa peresak tersebar di 15 dusun. Desa peresak memiliki penduduk yang homogen, sebagian besar beragama Islam dengan mayoritas suku Sasak. Untuk mengetahui jumlah penduduk, dapat kita lihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Desa Peresak

3. Geografis Desa

Tata Guna Lahan Dan Peruntukannya di Desa Peresak dapat dilihat sebagai berikut:

No Keterangan Jumlah ( jiwa )

1. Laki-laki 3.858

2. Perempuan 4.422

3. Jumlah KK 2.760

Total jumlah penduduk 8.280

(35)

a. Tanah Sawah :

Sawah Irigasi : - ha Sawah Irigasi ½ Teknis : 202.00 ha / m2 Sawah Tadah Hujan : - ha

Kolam : 1.250 ha / m2

b. Tanah Kering

Tegal/ladang : 187.0 ha / m2 Pemukiman : 30.00 ha / m2

Lainnya : 14.00 ha / m2

c. Tanah Perkebunan

Milik Negara : - ha

Milik Perseorangan : 196.195 ha / m2

Swasta : - ha

d. Tanah Pasilitas Umum

Kas Desa / Pecatu : 1.600 ha / m2 Perkantoran Pemerintah : 1.000 ha / m2 Lapangan : 1.000 ha / m2 e. Perairan

Pantai : ( ……… )

Bendungan / Embung : 4 Buah

Sungai : 1 buah

4. Kelembagaan di Masyarakat a. Pemdes

b. Kelompok Banjar c. Pamsuakarsa d. Siskambling e. Lempar Madu f. Remaja Masjid g. Karang Taruna h. Kelompok Tani

(36)

i. Gapoktan j. KUD

5. Mata Pencaharian/ Jenis Pekerjaan

Tabel 2.2 Mata Pencaharian/Jenis Pekerjaan masyarakat Desa Peresak.

6. Pemerintahan Desa Peresak b. Pembagian Wilayah

Wilayah Desa Peresak terbagi menjadi 15 Dusun, yaitu sebagai berikut : Subahnala I, Subahnala II, Sandik, Dompu, Pajangan, Aik Gering, Dasan Aman, Solojan, Bujak Daye, Batu Lajan, Penyengak, Peresak Lauk, Peresak Daye, Peresak Tengak, Boak,

Jenis pekerjaan Laki-laki Perempuan Jumlah

Petani 663 218 881

Buruh Tani 476 332 808

PNS/TNI/POLRI 42 16 58

Pengrajin 17 24 41

Pedagang 119 87 206

Peternak 11 6 17

Montir 19 - 19

Para medis 3 5 8

Sopir/ ojek 30 - 30

Tukang 80 - 80

(37)

Luas wilayah desa peresak yaitu 494. 240 (ha), setiap Dusun memiliki RT yang yang terdiri 30 RT yang dibentuk berdarsarkan kebijakan dari Kepala Dusun dengan Pemerintah Desa.

c. Pemerintahan Desa Kepala Desa : Sahirudin Sekdes : Nasrudin Bendahara : Ruslan BPD : Abdul Majid LKMD : Saiful

B. Keadaan Sosial Keagaamaan Masyarakat Desa Peresak

Desa peresak merupakan salah satu desa yang berada pada wilayah kecamatan Batukliang. Masyarakat Desa Peresak mayoritas beragama Islam dengan terdiri dari 11 masjid dan 12 mushola.

Masyarakat Desa Peresak terafiliasi ke berbagai organisasi sosial keagamaan yaitu, NW (Nahdlatul Wathan), NU (Nadlatul Ulama), Yatofa, dan Amphibi. Karakteristik agama disetiap daerah tentunya berbeda-beda, khususnya di daerah desa. Masyarakat Desa Peresak memiliki karakteristik yang komunal, kekeluargaan, gotong royong dan solidaritas yang tinggi terhadap sesama. Nilai-nilai agama menjadi faktor utama dalam menopang segala interaksi dan aktivitas masyarakat. Tokoh agama menjadi sentral pemersatu, setiap ada masalah baik terkait dengan agama atau kegiatan sosial lainnya tokoh agama berperan aktif dalam memberikan solusi.

Masyarakat Desa Peresak memiliki hubungan lebih mendalam dan erat dan sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan. Sebagian besar warga hidup dari pertanian.

Masyarakat Desa peresak bersifat homogen seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat dan sebagainya. Apabila diadakannya syukuran, baik pernikahan ataupun lainnya, masyarakat saling membantu dan saling mengunjungi dengan membawa hasil

(38)

pertanian, perkebunan dan lainnnya. Gotong royong dan kerja sama identik dengan masyarakat Desa Peresak untuk mencapai kepentingan bersama. Dalam menjalankan ibadah masyarakat Desa Peresak terbilang taat, sholat lima waktu berjamaah dan kegiatan kegaamaan lainnya. Masyarakat Desa Peresak juga sering mengadakan syukuran apabila mendapatkan kebahagian, semisal anaknya lulus sekolah, atau merantau ke luar daerah untuk kerja dan lai sebagainya. Apabila ada anggota masyarakat yang akan menunaikan ibadah haji maka akan diadakan acara zikiran sampe ia kembali dari tanah suci.

Masyarakat Desa Peresak juga gemar membentuk Banjar, adapun bentuk Banjar yang sering di pakek adalah Beras, Kelapa, Gula, dan lain sebagainya. tujuan dari dibentuknya banjar adalah untuk saling membantu tatkala membutuhkan seperti acara pernikahan, sunatan, kepaten dan lain sebagainya.

Dengan berbagai latar belakang organisasi keagamaan, adapun bentuk kegiatan sosial keagamaan masyarakat Desa Peresak adalah sebagai berikut:

1. Zikiran/ Tahlilan

Kegiatan Zikiran dilakukan setiap kamis malem (malam jumatan), kegiatan ini adalah bentuk solidaritas antara masyarakat. kegiatan zikiran biasanya dilakukan secara bergilir ke setiap masing-masing anggota kelompok. Dan apabila ada masyarakat ada yang meninggal dunia maka diadakan tahlilan sampai sembilan hari lamanya.

2. Al-barzanjian

Pembacaan kitab al-barzanji dan solawatan adalah bentuk kegiatan rutin masyarakat Desa Peresak, terutama di hari-hari besar Islam seperti maulid nabi Muhammad SAW dan di saat ada masyarakat desa yang pergi menunaikan ibadah haji.

3. Pengajian

Pengajian dilakukan di setiap masjid yang berada di Desa Peresak dengan mengundang tuan guru, ustaz. Kegiatan diadakan setiap hari-hari besar Islam.

4. Layatan

(39)

Masyarakat Desa Peresak tergabung dalam berbagai organisasi Banjar Layatan, diantaranya : Amphibi, Hizbullah, yatofa.

Bentuk kegiatan-kegiatan rutinitas diatas menjadi bukti bahwa agama menjadi hal yang paling penting dalam kehidupan manusia, agama mampu mengantar setiap orang kepada jalan dan cara yang seharusnya mereka tempuh sehingga timbullah yang namanya tercapainya suatu tujuan hidup dalam bermasyarakat yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan dalam kehidupan masing-masing, terciptanya keamanan, kenyamanan dan juga keadilan. Nilai-nilai agama diserap oleh masyarakat dalam menjalin hubungan sosial, sehingga akan terasa aneh dikalangan masyarakat apabila terjadi perzinaan, mabuk-mabukan dan lain sebagainya yang tidak diatur oleh hukum negara.

Dalam perjalanan kehidupan masyarakat, selain dijadikan tempat ibadah, Masjid juga dapat menjadi sentral hubungan sosial kemasyarakatan. Dengan memanfaatkan masjid hubungan harmonis untuk mencapai kehidupan yang aman dan damai dapat tercapai. Umat Islam sejak zaman Rasulullah masjid fungsikan dalam berbagai kegiatan, M. Qurais Shihab, berpendapat bahwa banyakk peranan masjid, diantaranya adalah sebagai tempay ibadah, tempat konsultasi dan komunikasi masalah-masalah ekonomi, social, dan budaya, tempat perdamaian dan pengadilan sengketa, pusat penerangan dan pembelaan agama.37

Adalah Masjid At-taqwa Subahnala berada di Dusun Subahnala II Desa Peresak. Masjid ini terletak di pusat pemerintahan Desa. Masjid ini telah berdiri cukup lama, menurut wawancara dengan saudara Mahnan sebagai tokoh Masyarakat, mengatakan:

Masjid ini sudah berdiri cukup lama, yaitu dari tahun 1950”

digunakan oleh satu dusun yaitu, Dusun Subahnala sebelum terjadinya pemekaran Desa dan terbentuk Dusun-Dusun

37 Dorajat dan Wahyu Diana, “Memfungsikan Masjid Sebagai Pusat Pendidikan Untuk Membentuk Paradaban Islam”, ISLAMADINA, Vol XII, Nomer 2, Juli 2014, hlm.

8

(40)

baru. yaitu Dusun sandik, Dusun Dompu, Masjid ini direnovasi 2 kali, tahun 1998 dan 2004. 38

Masjid ini digunakan untuk ibadah dan kegiatan sosial keagamaan lainnya oleh masyarakat empat Dusun, yaitu Subahnala I, Subahnala II, Sandik dan Dompu. Selain tempat ibadah, masjid ini digunakan juga untuk bermusyawarah terkait permasalahan masyarakat. seperti yang dijelaskan oleh Jalaludin:

Masjid ini sering menjadi tempat diadakannya musyawarah empat, ke-kadusan, karena masjid ini digunakan dan dibangun bersama warga empat ke-kadusan.39

Dapat kita simpulkan bahwa peran masjid Masjid At- Taqwa Subahnala sebagai fasilitas ibadah dan sebagai tempat bermusyawarah sangatlah signifikan.

C. Penerapan Awik-Awik Gubuk

Dari 15 dusun di desa Peresak. hanya 4 dusun yang bersepakat untuk membentuk Awik-Awik gubuk, yaitu Dusun Subahnala I, Dusun Subahnala II, Dusun Sandik, dan Dusun Dompu. Berlakunya Awik-awik Gubuk didasarkan pada kesatuan masjid, yaitu Masjid At-Taqwa Subahnala. Masyarakat Desa Peresak di luar wilayah pemukiman Masjid At-Taqwa Subahnala tidak ikut bersepakat dan tidak dapat kenakan penerapan Awik- awik Gubuk. Seperti yang dijelaskan Kamarudin, selaku mantan Anggota BPD:

penerapan Awik-awik Gubuk ini hanya pada empat Dusun, yaitu Dusun Subahnala 1, Dusun Subahnala II, Dusun Sandik dan Dompu.40

Awik Gubuk Desa Peresak dibentuk pada tahun 2007.

Masyarakat mengenal peraturan yang dibuat berdasarkan

38 Mahnan, Wawancara, Peresak, 16 April 2022

39 Jalaludin, Wanwancara, Peresak 16 April 2022

39 Jalaludin, Wawancara, Peresak 16 April 2022

40 Kamarudin, Wawancara, Peresak 16 April

(41)

kesepakatan bersama di tingkat Desa dinamakan dengan Awik- awik. Sedangkan untuk kata “Gubuk” mempunyai arti tempat tinggal masyarakat secara berkelompok, menurut penjelasan dari Mahnan:

Gubuk adalah tempat tinggal masyarakat secara berkelompok, yang biasanya dinamai sesuai dengan sejarah dari tempat itu sendiri, seperti Guubuk Karangsukun, Gubuk sandik, Gubuk Murin Gedung.41

Pembentukan Awik-awik ini terjadi karena adanya kasus perzinaan dikalangan remaja yang diketahui oleh masyarakat.

Remaja yang terlibat tersebut sebanyak 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan di subuah kebun. Remaja laki-laki yang terlibat berasal dari Dusun Subahnala 2, Sandik dan Dompu, sedangkan remaja perempuan berasal dari luar Desa.

Kasus perzinaan ini sangat mencederai kehidupan masyarakat. Masyarakat resah dan tidak terima terhadap hal tersebut, karena selain dilarang agama juga dapat mencemarkan nama baik keluarga dan Desa. Menurut keterangan dari Kamarudin: “Selain dilarang agama, masyarakat juga tidak terima jika wilayah Dusun mereka dijadikan tempat tindakan perzinaan”.42

Setelah terjadi kasus tersebut banyak masyarakat mendesak untuk membuat Awik-awik Gubuk untuk mencegah terjadinya perzinaan. Mereka khawatir akan terjadi kasus kasus perzinaan dikemudian hari sehingga menyebabkan masa depan dari masyarakat empat Dusun menjadi rusak dan tidak bermoral.

Berdasarkan hal tersebut dan atas desakan dari masyarkat, anggota BPD, tokoh masyarakat dan empat ke-kadusan yang berada pada wilayah pemukiman masjid At-Taqwa Subahnala mengadakan musyawarah di masjid At-Taqwa Subahnala. Setelah dilakukannya musyawarah, dengan persetujuan bersama dibentuklah Awik-awik

41 Mahnan, Wawancara, Peresak, 16 April 2022

42 Kamarudin, Wawancara, Peresak 18 April 2022

(42)

Gubuk. Isi materi Awik-awik Gubuk di ambil dari ketentuan- ketentuan agama Islam yang dimana mayoritas penduduk empat Dusun ber-agama Islam, peran tokoh Agama dalam memasukkan materi hukum sangat signifikan.

Adapun bunyi Awik-awik Gubuk yang dibuat oleh masyarakat empat dusun adalah “dengan persetujuan bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda, Awik-awik gubuk yang berlaku untuk warga masyarakat yang berdomisili di di 4 (empat) Dusun yang mewilayahi pemukiman Masjid At-taqwa Subahnala Desa Peresak Batukliang”

Awik-awik Gubuk yang dibentuk di empat Dusun diantaranya adalah masyarakat dilarang dan tidak diperbolehkan untuk melakukan:

Tabel 2.3 Awik-awik Gubuk empat Dusun di Desa Peresak.

No Jenis pelanggaran Sanksi

1 Pelecehan Seksual

Kerame Gubuk

2 Kumpul Kebo

3 Tindakan Asusila

4 Perzinaan

5 Hamil Di luar Nikah 6 Menyimpan wanita/laki laki

yang tidak jelas identitasnya

7 Pemerkosaan

(43)

8 Perbuatan yang tidak bermoral lainnya

Pelanggaran terhadap perbuatan tersebut akan diberikan snaksi Krame Gubuk. Pembentukan Awik-awik ini diterima oleh masyarakat dan tidak ada penolakannya, termasuk sanksi melalui Kerame Gubuk. Kerame Gubuk adalah musyawarah masyarakat untuk di keluarkannya seseorang yang melanggar dari empat wilayah Dusun yang bersepakat. Kerame Gubuk dihadiri oleh masyarakat dipimpin oleh Anggota BPD, kepala Dusun, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Dengan disetujui oleh kepala Desa Peresak, yaitu Muhammad Nasip, S.P, terbentuklah Awik-awik Gubuk. Menurut Sahirudin kepala Desa Peresak yang sedang menjabat mengatakan:

Dengan adanya Awik-awik ini sosial budaya di Desa Peresak dapat dipertahankan seperti dalam hal agama maupun Adat Istiadat.43

Setelah dibuat Awik-awik Gubuk, dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya masyarakat merasa aman dan tentram, merasa terbantu dalam menjaga keluarga dari perbuataan perzinaan, menjaga nama baik Desa dan ada payung hukum untuk menindak perbuatan zina yang dimana dalam Hukum positif tidak atur menurut Islam dan tidak sesuai dengan sosio religius masyarakat. Pada Prinsipnya warga masyarakat empat Dusun menginginkan keselarasan dan keharmonisan dalam bermasyarakat tanpa adanya pelanggaran peraturan yang ada.

Awik-awik Gubuk yang di bentuk oleh masyarakat empat Dusun di Desa peresak seharusnya berjalan sebagaimana mestinya, baik dari segi pengawasan dan penegakan hukum. Setelah dibentuk sejak 2007 kasus pertama yang diproses secara tegas yaitu, kasus

43 Sahirudin, Wawancara, 18 April 2022

(44)

yang terjadi 26 september tahun 2009, sebagaimana yang dijelaskan oleh Amaq. Paridah:

Taok berkasus taun 2009, sak proses empat kadus (Ramli, Amaq Ipah, Hasan, Amaq.Ida), BPD dait tokoh Masyarakat. Taok tesidang elek dese, setelah no iye ampuk mauk krame gubuk, sugul lek wilayah kekadusan sak empat.44

“(saya berkasus tahun 2009, diproses oleh empat kadus (Ramli, Bapak Ipah, Hasan, Bapak Ida) BPD dan tokoh Masyarakat. Tempat saya disidangkan di kantor desa, setelah itu baru saya dapat krama gubuk, keluar dari wilayah empat dusun)”.

Penegakkan Awik-awik Gubuk dilakukan oleh empat kadus, anggota BPD, dan tokoh masyarakat. Apabila terjadi kasus, terlebih dahulu dimusyawarahkan bersama masyarakat, dengan saksi dan pihak-pihak terkait, apakah kasus tersebut benar-benar terjadi atau tidak, dan selalu mengedapankan praduga tak bersalah.

Budaya hukum masyarakat Desa, adalah budaya hukum yang mengedepankan musyawarah. Menurut wawancara dengan Jalaludin: “sebelum dilakukannya Kerame Gubuk terlebih dahulu musyawarah di rumah Kepala Dusun”45

Setelah berjalan sampai sekarang ini, sejak tahun 2009, terdapat 4 kasus, yaitu di Subahnala II 2 kasus, di Sandik 1 kasus, di Subahnala 1 kasus. Dari beberapa kasus semuanya diproses, namun tidak tidak setegas kasus Amaq. Paridah tahun 2009, dari segi sanksi, para pelaku tidak ada yang sampai meninggalkan empat wilayah dusun sampai selamanya, hal ini sangat merugikan dan diskriminatif terhadap pelaku pertama yang sampai saat masih tinggal di luar wilayah empat Dusun. Amaq. Paridah sebagai pelanggar pertama Awik-awik Gubuk, selalu menuntut persamaan

44 Amaq. Paridah, Wanwancara, 16 April 2022

45 Jalaludin, Wanwancara, Peresak, 18 April 2022

(45)

hukum terhadap pelaku-pelaku, sebagaimana keterangannya saat wawancara:

tetapke lalo tuntut, surat kerame gubuk sak lek laek masih tegel, mun arak kasus baru, lalo juk mantan mantan kadus, laguk ndekn arak hasil.46

(selalu saya tuntut, surat Kerame Gubuk dari dulu masih saya pegang, jika ada kasus baru selalu saya pergi ke mantan-mantan kadus, tetapi tidak ada hasil)

Awik-awik Gubuk sampai saat ini masih dianggap ada, para pihak yang terlibat dalam pembuatan Awik-awik Gubuk sudah tidak menjabat sebagai Kepala Dusun, BPD, dan beberapa tokoh agama dan tokoh masyarakat telah meninggal dunia sehingga Kepala Dusun dan anggota BPD yang ada sekarang ini tidak berani mengambil tindakan tegas dalam penegakan hukum. Koordinasi dengan tokoh agama dan masyarakat kurang. Hal ini sebagaimana hasil wawancara dengan, kamarudin:

Awik-awik Gubuk masih dianggap ada, namun sisi penegakan hukum lemah, karena para tokoh sudah banyak yang sudah tua dan meninggal dan kadus-kadus yang dahulu sudah diganti dengan kadus-kadus baru yang lebih muda, kadus baru dan angoota BPD baru belum berani mengambil tindakan terhadap Awik-awik Gubuk.47

Pelaku pelanggaran dari Awik-awik Gubuk yang tidak diproses Krame Gubuk dan pelaku yang meninggal empat Dusun hanya beberapa saat, respon terhadap kasus kembalinya pelaku pelanggaran Awik-awik Gubuk tidak jelas, Anggota BPD tidak pernah melakukan tindakan, Kepala Dusun tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Menurut Napsun kurangnya penegakan hukum ini dikarenakan masyarakat sudah semakin maju dan tidak

46 Amaq. Paridah, Wanwancara, 16 April 2022

47 Kamarudin, Wawancara, Peresak 18 April 2022

Gambar

Tabel 2.1  Daftar  jumlah  penduduk  Desa  Peresak,  Kec.  Batukliang,  Kab. Lombok Tengah, 25
Tabel  2.2  Mata  Pencaharian/Jenis  Pekerjaan  masyarakat Desa Peresak.
Tabel  2.3  Awik-awik  Gubuk  empat  Dusun  di  Desa  Peresak.

Referensi

Dokumen terkait

Sedang urusan upacara adat mempunyai aturan dalam agama islam, oleh sebab itu apabila kita boleh terlepas dari tuntunan serta petunjuk yang ada dan di benarkan menurut agama islam,

Calon Kepala Desa dapat, melakukan kampanye sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat; Calon Kepala Desa yang dinyatakan terpilih adalah calon yang

NARULITA, beliau adalah wanita pertama yang menjabat sebagai Kepala Desa wanita baik tingkat Desa maupun di Kecamatan, berawal dari kader pemperdayaan masyarakat

Beberapa pertanyaan mendasar patut diperhatikan dalam mengkaji trasformasi sosial budaya dalam pemberdayaan modal budaya Desa Adat Kuta sebagai daya tarik wisata dalam hegemoni

Penyelenggaraan Desa Inklusif juga mencakup pengembangan, penguatan dan pelestarian adat budaya dan tradisi di Desa guna memperkuat ketahanan sosial budaya masyarakat Desa.

Kemudian diperkuat oleh responden dari salah satu Tokoh Masyarakat Desa Tibu Sisok mengatakan bahwa hukum adat atau budaya itu bisa berlaku jika tidak

Agus Supriyanto, salah satu ahli waris Sunan Kalijaga yang sekaligus menjabat sebagai ketua yayasan Sunan Kalijaga 11 mengatakan, upacara penjamasan merupakan hukum adat

Dengan menjaga keadilan sosial dan pelestarian keanekaragaman budaya melalui Hukum Adat Minangkabau, pembentukan sistem hukum nasional di Indonesia dapat menjadi lebih inklusif,