BAB II PEMIKIRAN ISLAMIC SCIENCE RESEARCH NETWORK
C. Analisis Pemikiran Islamic Science Research Network (ISRN)
Pada tahun 2016 Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengadakan agenda temu ahli fikih dan hisab Muhammadiyah di Yogyakarta, tepatnya pada bulan Agustus. Dalam agenda tersebut membahas mengenai kalender Islam global, hingga presentasi mengenai hipotesa waktu shalat Subuh dan Isya di Indonesia yang mungkin terlalu awal untuk Subuh dan terlalu terlambat untuk waktu Isya‟. Dalam agenda tersebut terdapat pemateri yang menerangkan mengenai penggunaan alat Sky Quality Meter (SQM), yakni alat yang merekam data mengenai kecerlangan langit yang diperjelas dalam unit MPSAS yang merupakan akronim dari magnitudeper square arc second. Namun dari setiap pemaparan pemateri tidak ada yang melampirkan data real berapa menit nilai awal untuk waktu shalat Subuh pada dip -20 derajat, dan Isya pada dip -18 derajat yang dipraktekkan di Indonesia. Sehingga karena faktor tersebut membuat Prof. Tono Saksono mulai curiga bahwa memang waktu Subuh dan Isya harus segera dikoreksi kebenerannya.40
Prof. Dr, Tono Saksono dalam risetnya terhadap waktu shalat Isya dalam buku Premature Dawn The Global Twilight Pattren menerangkan bahwa beliau dan tim ISRN seperti yang diterangkan diatas setidaknya menggunakan dua alat utama, yakni Sky Quality Meter (SQM) yang diaplikasikan guna mengukur besaran magnitude (nilai kecerlangan pada langit) yang dinyatakan dalam unit magnitude per square arc second (MPSAS). Alat utama ke dua yakni all-sky camera, yakni kamera yang mempunyai kualitas resolusi tinggi, terutama untuk geometris atau spasial. Lensa yang digunakan tersebut mampu menghasilkan citra panoramic 360 derajat, ketika melakukan riset di statsiun utama Depok.
39 Laela Fitri Handayani, “TINJAUAN FIKIH DAN ASTRONOMI TERHADAP PEMIKIRAN TONO SAKSONO DALAM PENENTUAN AWAL WAKTU SHALAT SHUBUH DI INDONESIA,” UIN MATARAM (UIN MATARAM, 2020).
40 Ibid.
22
Memasuki tahun 2017 ISRN lebih progresif dalam melakukan kajian terhadap nilai dip shalat Isya, yakni dengan pemutakhiran alat- alat yang digunakan seperti hasil wawancara terbaru melalu via WhatsApp pada 15 September 2021 lalu dengan peneliti. Prof Tono Saksono mempertegas bahwa ISRN dalam meneiliti waktu shalat Isya telah menggunakan berbagai sensor modern tidak cuma SQM yang sulit diverifikasi, alat sensor mutakhir lain tersebut ialah, DSRL Camera, drone, Gadget Camera, dan lain-lain. Selanjutnya prosesan datanya akurat. Peneliti lain hanya melakukan secara manual (visual).
ISRN membangun algoritma pemrosesan datanya sendiri (genuine).
Kemudian pada setiap langkah memperoleh hasil sementara maupun hasil akhir, kami selalu menyertakan (menghitung) statistical measure untuk mencetak akurasinya, untuk data yang kami miliki di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Kami melakukan uji statistik secara komprehensif.”41
Kemudian untuk membuktikan bahwa nilai dip -18 derajat untuk Isya yang dipraktikkan selama ini keliru, ISRN telak mengolektifkan data sejak tahun 2015 hingga 2021 untuk melihat dip matahari setelah tenggelam. Dari data tersebut jelas ISRN memperoleh data untuk dip shalat Isya pada rentang -11.5 derajat dengan a posteriori σ = 1,4. yang data sebagian besar diperoleh dari stasiun Depok, Medan, dan Sumatra Utara. Fakta saintifik ini merupakan rekomendasi kuat supaya umat Islam segera mempertimbangkan bahkan merubah nilai dip untuk penentuan waktu shalat Isya.
Lainnya menurut Prof. Dr. Tono Saksono faktor lain yang mempengaruhi nilai dip Isya sehingga -18 derajat ialah sebagai berikut
a. Sikap skeptis umat Islam terhadap penetapan suatu hukum, terutama hukum yang telah ditetapkan oleh ulama terdahulu yang tidak boleh digugat kebenarannya. Menurut ISRN hal demikian harus dikoreksi secara proporsional, apalagi yang ditinjau adalah mengenai suatu masalah yang titik temunya hanya dapat dibuktikan dengan alasan sains dan teknologi secara akurat.42
41 Interview dengan Prof. Tono Saksono Via WhatsApp, 15 September 2021.
42 Saksono, Evaluasi Awal Waktu Shalat Subuh & Isya Persfektif Sains, Teknologi, Dan Syariah.
23
b. Kajian kitab pada kitab klasik yang menerangkan bahwa dip Isya 16 derajat di daerah Timur Tengah. Yang mana menurut Tono Saksono astrolabe dan rubu‟ Mujayyab merupakan alat kuno yang berkisar 1.500 tahun dan tidak lagi akurat dijadikan sebagai instrumen alat hisab waktu shalat.
c. Seperti yang diterangkan di atas faktor alat yang digunakan menjadi penentu. Menurut Prof Tono, hal tersebut tidak lagi kredibel untuk menunjukkan nilai dip. Sedangkan semakin dinamisnya zaman alat semakin mutakhir dan akurat serta spesifik.
d. Letak geografis daerah, secara saintifik menurut Prof Tono Saksono jika ditinjau dari derah Timur Tengah yang menjadi acuan dip -18 derajat untuk Subuh dan -16 derajat untuk Isya, maka di Indonesia seharusnya lebih rendah dari nilai tersebut, dikarenakan Indonesia terletak pada geografis ekuator, dan nilai dip di Indonesia diturunkan menjadi -20 derajat untuk Subuh, dan -18 derajat untuk Isya, yang mana bukti saintifknya belum dapat dibuktikan. Perlu ada bukti saintifik, tegas Prof. Tono Saksono.43
Berkorelasi dengan pengamatan waktu shalat Isya, dan menjawab polemik penelitian waktu Isya yang diduga mengalami kepincangan, hasil riset ISRN sendiri telah tiba pada Kementerian Agama RI. Namun hasil tersebut justru ditolak oleh Badan Hisab Rukyat dengan alasan subjektif, bahwa ISRN hanya melakukan riset di pulau Jawa yang sudah terpapar polusi secara kronis, baik udara hingga sinarnya. Atas rijeksi tersebut Prof. Tono Saksono kembali menegaskan bahwa riset yang dilakukan oleh ISRN bukan hanya di pulau Jawa melainkan juga di luar Jawa. Karena hal demikian Prof Tono kemudian menduga bahwa data yang dikoleksi oleh badan Hisab Rukyat Kemenrian Agama hanya bertahan pada hasil riset ketinggian matahari yang diperoleh di Labuan Bajo, dan beliau menyebutkan bahwa BHR kemenag telah bias dan cacat, karena terlalu subjektif.44
43 Ibid.
44Ibid
24
Seperti yang dilansir Berita Satu pada 12 Mei 2019, Pakar Astronomi Kemenag Prof Thomas Djamaluddin juga memberikan doktirn pada masyarakat bahwa ketentuan syar‟i dan astronomi untuk waktu shalat Isya sudah valid pada dip -18 derajat, jadi tidak perlu risau apabila ada penelitian yang mengatakan bahwa wakti Isya terlambat.45 Pernyataan Prof Thomas tidak hanya sebatas doktrin melainkan diikuti dengan penjelasan lanjutan bahwa hasil oleh (SQM dan DSRL) yang digunakan kemenag menunjukkan bahwa dip waktu shalat Isya di Indonesia memang jatuh pada titik -18 derajat dan mengatakan ISRN terlalu matematis dalam menganalisa, padahal jelas jelas secara fisis mega merah pada titik dip -11.5 derajat syafaq masih terlihat di ufuk barat.
Hal lain sebenarnya apabila ISRN lebih mengandalkan metode penggunaan alat SQM, atau media akurat lainnya seperti kamera gadget dan kamera DSRL yang mampu menangkap kecerlangan langit dengan baik, seperti pernyataan Prof Thomas di atas juga telah menggunakan SQM dan kamera DSRL, jadi dapat disimpulkan bahwa isu menganai pro kontra antara ISRN dengan lembaga kementrian agama menganai waktu shalat Isya memang harus benar-benar dikaji secara ideal, baik berdasarkan pada tinjauan fikih, maupun astronomi.
1. Analisa Pemikiran Islamic Science Research Network (ISRN) Berdasarkan Tinjuan Fikih
Tinjauan utama yang menjadi acuan dalam penetapan waktu shalat ialah dari segi fikih syar‟i yang sumber refrensinya langsung dari ayat-ayat al-Qur‟an dan hadits Rasulullah SAW. Misal dalam penetapan shalat Isya, para ulama ber-istinbath atau mengambil kesepakatan bahwa waktu shalat Isya berawal ketika hilangnya awan atau asy syafaq.
Sebagian para ulama memang menyatakan bahwa asy syafaq yang dimaksud ialah asy syafaq al ahmar atau awan kemerahan, lainnya juga menyebutkan asy syafaq maksudnya
45 Yud, “Astronom: Waktu Salat Tidak Perlu Dirisaukan,” Berita Satu, 2019, https://www.beritasatu.com/digital/553751/astronom-waktu-salat-tidak-perlu-dirisaukan.
25
ialah asy syafaq al abyadh atau awan putuh. Namun sebagian besarnya lagi lebih condong pada pendapat bahwa asy-syafaq yang dimaksud ialah asy syafaq al-ahmar atau awan merah.46
Kemudian dari Jabir Bin Abdullah radiallahuanhu.
Bahwa Nabi Muhammad SAW didatangi oleh malaikat Jibril alaihissalam dan berkata kepada Rasulullah. “Bangunlah dan dirikanlah shalat.” Maka beliau melaksanakan shalat dzuhur ketika matahari tergelincir. Selanjutnya di menjelang waktu Ashar Jibril berkata,” Bangun dan dirikanlah shalat.” Maka Rasulullah melaksanakan shalat Ashar tatkala panjang benda sama dengan bayangannya. Kemudian menjelang waktu magrib, jibril berkata, “Bangun dan dirikanlah shalat”. Maka Rasulullah melaksanakan shalat Magrib ketika matahari terbenam di ufuk barat. Kemudian waktu Isya menjelang, Jibril berkata,” Bangun dan dirikanlah shalat.” Maka Rasulullah kemudian melaksanakan shalat Isya ketika Syafaq yang dimaksud ialah (mega merah) sudah menghilang. Kemudian di waktu Shubuh menjelang, Jibril berkata, “Bangun dan dirikanlah shalat.” Maka Rasulullah melaksanakan shalat ketika waktu fajar merekah atau menjelang.
(HR. Ahmad, Nasai dan Tirmidzi.) Al Bukhari pernah menerangkan di Nailul Authar bahwa hadits tersebut merupakan hadits paling Shahih tentang waktu-waktu shalat.47
Ihwal diatas juga dipertegas oleh Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani bahwa yang dimaksud dengan asy syafaq ialah asy syafaq al-ahmar.48 Kemudian dalam penentuan awal waktu Isya sendiri beliau mengklasifikasikan 8 waktu sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Nihayat Az-Zain.49 Berikutnya dalam kitab Fiqh As-Sunnah oleh Syaikh Sabiq mendefinisikan dengan makna yang sama mengenai asy syafaq.50 Lainnya dalam kitab
46 Dr. H. Arwin Juli Rakhmadi Butar Butar, MA, Pengantar Ilmu Falak (Depok:
Rajawali Press, 2018) hal. 36
47 Ahmad Sarwat, “Era Muslim.Pdf,” Era Muslim, 2021, https://www.eramuslim.com/shalat/dalil-dalil-tentang-waktu-shalat.htm#.YaKw_9BBzIU.
48 Syaikh Muhammad Nawawi Al Bantani, Nihayat Az Zain fi Arsyad Al Mubtadi‟in syarh Qurrat Al „Ain bi Muhimmat Ad Diin (Beirut: Dar Al Kutub Al Ilmiyah, 1434 H / 2013 M) hal. 51
49 Ibid.
50 Sayyid Sabiq, Fiqh As Sunnah (Kairo: Dar Al Fath Al I‟lam Al Arabi, 1439 H / 2017 M) hlm. 71
26
Al- Mukaddimah al- Hadhramiyah Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Bafadhol Al-Hadhrami menerangkan bahwa para ulama dari mazhab Syafi‟i dan Maliki berargumentasi bahwa waktu Isya masuk ditandai dengan hilangnya asy Syafaq al ahmar. 51
Pendapat tentang asy Syafaq al ahmar tidak selesai sampai pada beberapa pandangan diatas, terdapat juga para mazhab lain yang memberikan asumsi bahwa asy syafaq al ahmar merupakan awan putih, misal mazhab Hanafi dan Hanbali berargumentasi demikian. Dijelaskan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Ad Dimasyqi, bahwa memang kedua Mazhab itu berpendapat bahwa waktu Isya ditandai dengan hilangnya cahaya putih sesudah hilangnya mega merah yang terdapat di ufuk Barat.52
Dalam konteks zaman sekarang semua serba praksis dan dibuktikan dengan pandangan ilmiah, hal demikian yang telah di upayakan oleh Islamic Science Research Network (ISRN) terutama dalam penetapan awal waktu shalat Isya yang sering menjadi polemik dikalangan pengambil kebijakan mengenai penetapan waktu shalat seperti di Indonesia saat ini antara Kementrian Agama dan ISRN sendiri yang berselisih pandang terkait hisab awal shalat Isya.
Dalam menentukan awal shalat Isya berkorelasi dengan tinjauan Fiqih, ISRN sendiri pada dasarnya tidak memiliki pandangan yang bertolak belakang atau berbeda, tinjauan Fiqih dan pendapat ISRN sama-sama berpatokan ataupun berpedoman pada hilangnya al- syafaq sebagai permulaan masuknya waktu Isya‟ terlepas dari dualisme pemaknaan dari al-syafaq itu sendiri.
ISRN berpendapat bahwa hilangnya syafaq al ahmar menjadi tolak ukur dari masuknya waktu shalat Isya, yakni tatkala dip matahari berada pada titik -11,5 derajat. Hal demikian tidak jauh berbeda dengan pendapat final Imam Syafi‟i dalam kitab Al-Umm tentang waktu-waktu shalat. terutama waktu shalat isya dimulai tatkala hilangnya al-syafaq. Dan al syafaq yang dimaksud Imam
51 Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Ad Dimasyqi, Fiqih Empat Mazhab, terj.
Abdullah Zaki Alkaf (Bandung: Hasyimi, 2010) hal. 50
52 yaikh Muhammad bin Abdurrahman Ad Dimasyqi, loc. Cit
27
Syafi‟i ialah, syafaq al-ahmar. Hal demikian secara tersurat tertuang dalam qaul jadidnya dalam kitab al-Umm jilid ke dua, berikut pendapat Imam Syafi‟i tentang al-syafaq;
Asy-Syafi‟i berkata : Saya lebih suka shalat Isya ini dinamakan Isya, sebagaimana nama yang telah diberikan oleh Rasulullah saw padanya. Awal waktunya dimulai ialah tatkala syafaq telah lenyap. syafaq ialah mega merah yang muncul pada waktu Magrib. Ketika mega merah itu hilang dan tidak tersisa sedikitpun. Maka telah tibalah waktu Isya. Barangsiapa yang telah mengawali shalat Isya sedangkan mega merah masih terlihat, maka dia harus mengulanginya.53
Adapun sebagai penguat bahwa syafaq yang di maksud Imam Syafi‟i ialah mega merah, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh H.R. Ad-Daruthny
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Mukhallid, sudah diceritakan oleh Waki‟, sudah diceritakan oleh al-Amriy, dari Nafi‟
dari Ibn Umar berkata : Mega itu merah. (H.R.Ad.Darquthny)54 Dalam hadits diatas, diterangkan bahwa yang dimaksud dengan syafaq ialah mega merah. Maka dari hadits tersebut Imam Syafi‟i menguatkan argumentasinya mengenai al-syafaq al ahmar sebagai tanda dimulainya shalat Isya. Jadi kesimpulan mengenai tinjauan fiqih terhadap awal waktu shalat Isya menurut ISRN secara generik tidak antitesis dengan penentuan waktu shalat Isya yang ditetapkan oleh kementrian agama Indonesia melainkan pada satu acuan yang sama dalam penentuan waktu Isya, yakni hilangnya mega merah atau astronomical twillight, namun bedanya ISRN memberikan tambahan kongkrit yang bersifat matematis yakni menjelaskan posisi kedalaman matahari setelah tenggelam sebagai tanda al-syafaq al ahmar telah hilang yakni pada dip -11.5 derajat, pada riset yang di lakukan lebih utama di Depok, Sumatra Utara, dan Medan. Yang hasilnya berbeda 7,5 derajat dengan kementrian agama yakni -18 derajat.
53 Asy-Syafi’i, Al-UMM (Jakarta: Pustaka Azzam, 2014).
54 Sudut Hukum, “Awal Waktu Shalat Isya’ Menurut Imam Syafi’i Dalam Kita Al- Umm | Suduthukum.Com,” Sudut Hukum, 2018, https://suduthukum.com/2018/08/awal- waktu-shalat-isya-menurut-imam.html.
28
2. Analisa Pemikiran Islamic Science Research Network (ISRN) Berdasarkan Tinjuan Astronomi
Dari perspektif Astronomi secara general, bahwa shalat isya dimulai tatkala cahaya merah di langit barat sudah menghilang, atau dalam kosa kata astronomi disebut astronomical twilight. Pada momentum tersebut posisi matahari sendiri berada pada jarak busur 18 derajat dibawah horizon bagian Barat atau pada jarak zenith 108 derajat. Namun ISRN sendiri melalukan riset, bahkan hasil penelitian terbaru yang dipromotor oleh Prof.Dr.Tono Saksono di Islamic Science Research Network mengkonklusikam bahwa awal waktu isya‟diindikasikan dengan hilangnya mega merah dan mulai terlihatnya bintang-bintang ketika posisi matahari berada pada ketinggian - 11.5°.55Keadaan demikian hampir mendekati kriteria yang sudah lazim. dimana secara umum di dunia astronomi menyebutkan bahwa bintang-bintang atau benda langit sudah mulai terdeteksi ketika matahari sudah berada pada titik ketinggian -12°, atau dalam keadaan nautical twilight.
Dari pendapat diatas dapat diilustrasikan bahwasannya deskripsi posisi matahari mendekati waktu tenggelam dan terbit berada pada pola yang konstan sama, kendati demikian durasi waktunya tidak selalu konstan sama disebabkan observer atau pengamat yang berada si lokasi sekitar khatulistiwa akan menemukan durasi waktu yang lebih singkat apabila dikomparasikan dengan pengamat lainnya yang berada di posisi lintang tinggi, baik yang berada di posisi lintang utara maupun di lintang selatan.
Sehingga waktu yang Isya yang dibuktikan oleh ISRN memperoleh hasil ketinggian dip matahari ketika memasuki waktu Isya yakni -11.5 derajat secara astronomis. Menurut Tono Saksono mendeskripsikan perjalanan matahari diakibatkan karena rotasi bumi, sehingga seakan matahari menciptakan pergerakan, dan di setiap pergerakan 1 derajat setidaknya memerlukan waktu 4 menit. Jika solar dip -11.5 derajat dikali 4 menit maka hasilnya adalah 46 menit sebelum syuruq hal tersebut sekaligus hasil yang diberikan oleh Prof Tono.
55 Tono Saksono, ”Awal subuh dan Isyak: Tinjauan beragam Teknologi dan Proses”, makalah disampaikan pada Halaqah Ahli Hisab Muhammadiyah, Yogyakarta, pada tanggal 5-6 Mei 2018 M
29
Dalam pendekatan astronomis sendiri seperti yang diterangkan secara general di atas ISRN sendiri menggunakan alat pengembangan pendukung dalam penentuan waktu shalat Isya antara lain:
a. Menggunakan SQM atau Sky Quality Meter, yakni alat fotometer modern yang diaplikasikan dalam menghasilkan data untuk kecerlangan langit secara praktis. Kegunaannya ialah untuk mengetahui seberapa bagus kondisi langit malam, membandingkan kecerahan langit di tempat yang berbeda secara kuantitatif, untuk mendokumentasikan tingkat evolusi polusi cahaya, untuk menyelidiki bagaimana kecerahan langit berkorelasi dengan siklus matahari dan aktivitas sunspot dari bulan ke bulan, dan masih banyak lagi kegunaan lainnya. 56
Pada SQM ISRN menggunakan dua jenis instrumen dalam menilai kecerlangan langit tatkala hilangnya sinar syafaq sebagai indikasi awal waktu Isya (berakhirnya waktu magrib). SQM dalam merekam data kecerlangan langit menggunakan formay ASCII57. Jadi karena itu informasi yang yang terekam ialah data alfanumerik persis seperti ketika kita merekam data temperatur tubuh 26 derajat Celcius atau menimbang barang dengan berat 20 kg. Perbedaanya ialah, data yang dibutuhkan terekam secara otomatis ke dalam laptop dan dioperasionalkan dengan resolusi temporal 3 detik.
Karena itu, dalam satu jam akan terdapat sekitar 1,200 data SQM yang terekam.
b. Menggunakan alat all-sky camera, merupakan alat khusus yang digunakan dalam dunia astronomi untuk melihat kenyataan keadaan keseluruhan pada langit. Hasilnya terkadang tidak jauh berbeda dengan SQM.58Adapun jenis alatnya ialah DSRL yang dilengkapi oleh fish-eye lens, untuk tipe nya sendiri ialah ALPHEA 6MW dengan kapasitas 6 mega pixel yang diproduksi oleh Aclor System.
Kamera jenis ini memungkinkan pengamat memperoleh foto ataupun tampilan video panoramik untuk keseluruhan wilayah 360
56 Unihedron, “SQY Quality Meter,” Unihedron.com, 2007, http://www.unihedron.com/projects/darksky/.
57 ASCII :American Standard Code for Information Interchange, yang merupakan standard pengkodean karakter untuk komunikasi elektronik.
58 The Telescope Authority, “ALL SKY CAMERA” (New York: The Telescope Authority, 2021), http://www.unihedron.com/projects/darksky/.
30
derajat langit sekeliling pengamat, baik siang maupun malam, cerah maupun hujan. All sky camera memang terbukti menghasilkan data sangat baik untuk waktu malam di seluruh langit.
Selanjutnya dalam pemrosesan data SQM, ISRN telah membangun setidaknya 4 algoritma. Dengan menggunakan algoritma ini baik secara individual maupun kolektif. Kemudian untuk alat all sky camera pada image processing, akhirnya ISRN mendapati bahwa ternyata waktu shalat terutama Isya terlambat sekitar 19 menit-an apabila dip yang digunakan ialah -18 derajat.
Dari pengembangan penggunaan alat-alat tersebut ISRN kemudian melampirkan hasil atau bukti-bukti mengenai waktu shalat Isya yang berdasarkan kesimpulannya jatuh pada dip -11.5 derajat, hal demikian secara langsung mengoreksi waktu shalat Isya yang dikeluarkan oleh kementrian agama yakni pada dip -18 derajat.
Jadi berdasarkan tinjauan astronomi pada dasarnya ISRN telah memenuhi standard dalam proses riset penentuan waktu shalat, khususnya Isya, mulai dari penggunaan alat, metode pengembangan, serta patokan berakhirnya waktu magrib yakni ketika hilangnya mega merah atau astronomical twillight, hal ini lazim karena lembaga-lembaga lain juga menggunakan alat yang sama dan patokan yang sama seperti kementrian agama. Namun keadaan langit dan segala yang menghiasinya, serta kondisi pribadi pengamat bisa jadi menjadi penentu mengapa hasil berbeda, sebab langit selalu penuh misteri dan teka teki.
31