BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Data dan Hasil Analisis
4.2.2 Hasil Analisis
4.2.2.6 Analisis Perbandingan Tax Planning dengan Penundaan
61
dikarenakan bertambahnya pembelian dimana bagian keuangan melewatkan untuk mengkreditkan pajak masukan, sehingga pajak masukan yang seharusnya dapat dimaksimalkan menjadi tidak maksimal jika tidak adanya ketelitian dari bagian keuangan. Ketelitian sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya kerugian bagi perusahaan. Dapat disimpulkan bahwa dengan melakukan perencanaan pajak menggunakan metode pembelian BKP/JKP dengan PPN mampu mencapai efisiensi dalam Pajak Pertambahan Nilai.
4.2.2.6 Analisis Perbandingan Tax Planning dengan Penundaan
sebanyak 7,92%. Pada masa Mei Pajak Masukan yang semula Rp. 238.850.731,- naik menjadi Rp. 246.088.971,- atau sebanyak 3,03%. Pada masa Juni Pajak Masukan yang semula Rp. 72.437.198,- naik menjadi Rp. 72.564.277,- atau sebanyak 0,17%. Pada masa Juli Pajak Masukan yang semula Rp. 104.208.423,- naik menjadi Rp. 107.697.623.- atau sebanyak 3,34%. Pada masa Agustus Pajak Masukan yang semula Rp. 61.554.517,- naik menjadi 78.429.362,- atau sebanyak 27,41%. Pada masa September Pajak Masukan yang semula Rp. 149.273.980,- naik menjadi 152.432.755,- atau sebanyak 2,11%. Pada masa Oktober Pajak Masukan yang semula Rp. 23.435.594,- naik menjadi Rp. 23.959.230,- atau sebanyak 2,23%. Pada masa November Pajak Masukan yang semula Rp.
110.273.848,- naik menjadi Rp. 110.657.038,- atau sebanyak 0,34%. Pada masa Maret, April dan Desember tidak ada perubahan dikarenakan tidak ada penambahan pajak masukan pada bulan tersebut. Perbedaan dari kedua perencanaan adalah penundaan pengkreditan pajak masukan hanya mampu meratakan dan belum mencapai efisiensi, jika pembelian BKP/JKP dengan PPN mampu mencapai efisiensi Pajak Pertambahan Nilai yaitu dapat menghemat pembayaran pajak.
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan sebelumnya bahwa penting bagi perusahaan untuk menerapkan perencanaan pajak, dengan menerapkan perencanaan pajak perusahaan dapat meminimalkan pajak yang dibayarkan kepada negara sehingga dapat mengalokasikan dana tersebut untuk mengatur cash flow perusahaan.
63
4.1 Interpretasi
Berdasarkan data-data perusahaan dan hasil analisis diatas, maka interpretasinya yaitu pada dasarnya mulai dari perhitungan Pajak Pertambahan Nilai, mekanisme pengkreditan pajak masukan, dan penerapan tax planning yang dilakukan PT. Rahmi Ida Nusantara telah sesuai dengan peraturan perpajakan yaitu Undang-undang No. 42 Tahun 2009 (UU PPN).
Perencanaan pajak dengan penundaan pengkreditan pajak masukan masih belum mampu mencapai efisiensi tetapi hanya mampu meratakan pembayaran pajak setiap bulannya. Perencanaan pajak pembelian BKP/JKP dengan PPN mampu mencapai efisiensi sebesar 6,59% dikarenakan bertambahnya transaksi pembelian. Pentingnya perusahaan dalam menerapkan perencanaan pajak yaitu dapat mengatur cash flow perusahaan sehingga dapat digunakan untuk jalannya operasional perusahaan.
Sebagai wajib pajak yang taat terhadap kewajiban perpajakan, maka PT. Rahmi Ida Nusantara tetap berpedoman dan menerapkan Pajak Pertambahan Nilai sesuai dengan Undang-undang No. 42 Tahun 2009.
64 5.1 Simpulan
Berdasarkan perhitungan dan hasil penelitian yang telah disampaikan pada bab–bab sebelumnya, maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan mengenai perencanaan pajak di PT. Rahmi Ida Nusantara, antara lain:
1. Dalam menerapkan tax planning Pajak Pertambahan Nilai, PT. Rahmi Ida Nusantara telah sesuai berdasarkan Undang-undang No. 42 Tahun 2009, namun masih terdapat kendala pada penjualan kredit yaitu dalam penerbitan faktur pajak sebelum adanya pembayaran dari pihak customer.
2. Dalam menerapkan perencanaan pajak (tax planning), PT. Rahmi Ida Nusantara menggunakan 2 metode yaitu :
a. Penundaan Pengkreditan Pajak Masukan
PT. Rahmi Ida Nusantara dalam menerapkan penundaan pengkreditan pajak masukan sudah sesuai dengan peraturan perpajakan yaitu UU PPN Pasal 9 Ayat 9. Dengan metode ini masih belum mampu mencapai efisiensi Pajak Pertambahan Nilai, namun hanya mampu meratakan pajak terhutang setiap bulannya agar tidak ada kurang bayar/lebih bayar yang terlalu besar.
b. Pembelian BKP/JKP dengan PPN
PT. Rahmi Ida Nusantara dalam melakukan transaksi pembelian tidak hanya membeli BKP/JKP dengan PPN tetapi juga membeli BKP/JKP tanpa PPN. Dengan metode ini mampu mencapai efisiensi Pajak Pertambahan
65
Nilai sebesar Rp. 41.303.995,-. Hal ini dikarenakan PT. Rahmi Ida Nusantara melakukan pembelian kepada pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak sehingga akan dikenakan PPN setiap transaksi pembelian.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan dari hasil analisis yang telah dibahas sebelumnya, maka penulis memberikan saran kepada perusahaan yaitu:
1. Penulis menyarankan untuk mempertimbangkan kebijakan penjualan dengan sistem kredit terutama pada saat menerbitkan faktur pajak sebelum dilakukannya pembayaran dari pihak pembeli. Hal ini dapat mengurangi tingkat keuntungan perusahaan karena perusahaan menalangi pembayaran PPN kepada negara. PT. Rahmi Ida Nusantara dapat menunda pembuatan/penerbitan faktur pajak sampai akhir bulan berikutnya setelah penyerahan BKP/JKP. Kemudian PT. Rahmi Ida Nusantara juga dapat mempertimbangankan syarat pembayaran yang ideal, yaitu tidak lebih dari 45 hari setelah penyerahan BKP/JKP.
2. Penulis juga menyarankan untuk perusahaan lebih memaksimalkan pajak masukan dengan melakukan pembelian kepada supplier yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Syarat pajak masukan yang dapat dikreditkan dengan pajak keluaran adalah harus ada faktur pajak yang sesuai dengan UU PPN dan faktur pajak dapat dibuat oleh pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Dan untuk bagian keuangan diperlukan ketelitian yang lebih baik dalam melakukan rekap PPN sehingga
tidak mengakibatkan kerugian bagi perusahaan. Dengan memaksimalkan pajak masukan diharapkan dapat menekan beban pajak yang dibayarkan kepada negara.
3. Bagi pihak manajemen pajak diharapkan dapat terus memperbaharui perencanaan pajak seiring dengan peraturan perpajakan yang diperbaharui oleh Direktorat Jenderal Pajak.
67 Daftar Pustaka
Arifin, Moch Zainul 2017, Penerapan Tax Planning Pada Perusahaan Jasa Konstruksi Pada CV. AK Karya Surabaya, Jurnal Equity, Vol. IV, Issue.
3, Hal 139-151.
Budiman, Arif 2018, Optimalisasi Perencanaan Pajak (Tax Planning) Atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Studi Kasus Pada PT. Pembangkitan Jawa Bali, Jurnal Ekonomi Akuntansi, Vol. 3, Issue. 3, Hal 78-93
Hapsari, Mayang 2015, Evaluasi Perencanaan Pajak Pertambahan Nilai Pada PT.
“X” di Kabupaten Kediri, Jurnal Perpajakan (JEJAK), Vol. 6, No. 2, Hal 1-7.
Hartanti, Neneng 2015, Pengantar Perpajakan, Cetakan Pertama, Pustaka Setia, Bandung.
https://www.mas-software.com/blog/faktur-pajak/
https://www.online-pajak.com/tentang-ppn-efaktur/batas-waktu-penerbitan- faktur-pajak
Mardiasmo 2016, Perpajakan, Edisi Terbaru 2016, Andi, Yogyakarta.
Pohan, Chairil Anwar 2015, Manajemen Perpajakan, Edisi 3, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Pujiwidodo, Dwiyatmoko 2017, Analisis Penerapan Tax Planning Dalam Upaya Meminimalkan PPN Terhutang Pada CV. Mikita Cookies, Jurnal Moneter, Vol. 4, No. 1, Hal 9-17.
Republik Indonesia 2009, Undang-Undang No. 42 Tahun 2009 Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Presiden Republik Indonesia, Jakarta.
Resmi, Siti 2015, Perpajakan Teori dan Kasus, Buku 2, Salemba Empat, Jakarta.
Suandy, Erly 2016, Perencanaan Pajak, Edisi Keenam, Salemba Empat, Jakarta.
Sugiyono 2016, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, PT Alfabeta, Bandung.
Waluyo 2017, Perpajakan Indonesia, Buku 2, Salemba Empat, Jakarta.