BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. ANALISIS PERILAKU PEDAGANG KAKI LIMA DALAM
68
juga memberikan kemudahan bagi penjual. Alasan tiga informan tersebut tidak memberi informasi karena masih ada pembeli yang ingkar dengan janji nya untuk membayar hutang sesuai dengan kesepakatan. Pengalaman tersebut membuat mereka memilih untuk tidak memberikan hutang kepada pembeli.
Melihat kondisi tersebut, gambaran tentang pemahaman pedagang kaki lima mengenai Etika Bisnis Islam di pasar Sentral dompu dapat disimpulkan bahwa para pedafgang tidak mengetahui etika bisnis islam.
Akan tetapi, dalam melaksanakan transaksi jual beli sebagiann besar menggunakan aturan yang telah diatur oleh agama islam
C. Analisis Perilaku Pedagang Kaki Lima dalam Perspektif Etika Bisnis
69
pedagang lain dagangan
Informan B
tidak melalaika n shalat wajib (tepat waktu)
tidak menyembun yikan cacat
tidak memaksa pembeli dan tidak menjual dengan harga yang jauh lebih murah dari pedagang lain
menepati janji dan tanggung jawab atas kualitas barang dagangan
ramah terhadap pelanggan, member bonus diskon sebagai ucapan terimakasih Informan
C
melalaikan shalat wajib (tidak tepat waktu)
tidak
menyembun yikan cacat
tidak memaksa pembeli dan tidak menjual dengan harga yang jauh lebih murah dari pedagan lain
menepati janji dan tanggung jawab atas kualitas barang dagangan
ramah terhadap pelanggan
Informan D
tidak melalaikan shalat wajib
tidak menyembu nyikan
tidak memaksa pembeli dan tidak menjual
menepati janji dan tanggung
ramah dan memberi diskon
70
dan
bersedekah
cacat dan adil dalam timbangan
dengan harga yang jauh lebih murah dari pedagan lain
jawab atas kualitas barang dagangan
hadiah
Informan E
melalaikan shalat wajib dan
bersedekah tidak menyembu nyikan cacat
tidak memaksa pembeli dan tidak menjual barang dengan harga yang jauh lebih murah dari pedagang lain
tidak menepati janji pada waktu yang dijanjikan tetapi tetap tanggung jawab atas kualitas barang dagangan
ramah terhadap pelanggan
Informan F
tidak melalaikan shalat wajib, niat berdagang untuk
tidak menyembu nyikan cacat dan adil dalam timbangan
tidak memaksa pembeli dan tidak menjual dengan harga yang jauh lebih murah dari
menepat i janji dan tanggun g jawab atas
memberi kelonggaran waktu kepada pihak terhutang
71
ibadah (jujur) pedagang lain kualitas barang daganga n
dan ramah terhadap pelanggan
Informan G
melalaikan shalat wajib
tidak menyembu nyikan cacat dan adil dalam timbangan, mendahulu kan pembeli yang datang lebih dulu
tidak memaksa pembeli dan tidak menjual barang dengan harga yang jauh lebih murah dari pedagang lain
Menepati janji dan tanggung jawab atas kualitas barang dagangan
ramah terhadap pelanggan
Informan H
melalaikan shalat wajib
adil dalam timbangan
tidak memaksa pembeli dan tidak menjual dengan harga yang jauh lebih murah dari pedagan lain
tanggung jawab atas kualitas barang dagangan
ramah terhadap pelanggan
Informan I
melalaikan shalat
adil dalam timbangan,
tidak memaksa pembeli dan
tanggung jawab
ramah terhadap
72
wajib mendahuluk an pembeli yang datang lebih dulu
tidak menjual dengan harga yang jauh lebih murah dari pedagang lain
atas kualitas barang dagangan ,
melayani dengan cepat sehingga pembeli tidak menungg u lama
pelanggan
Informan J
melalaikan shalat wajib (tidak tepat waktu) dan bersedeka h
tidak
menyembun yikan cacat, memberitah ukan kelebihan dan
kelemahan barang yang dijual
tidak memaksa pembeli dan tidak menjual barang dengan harga yang jauh lebih murah dari pedagang lain
menepati janji dan tanggung jawab atas kualitas barang dagangan
Memberi kelonggaran waktu pada pihak
terhutang dan ramah terhadap pelanggan
Berdasarkan table di atas berikut adalah analisis mengenai perilaku pedagang di pasar sentral dompu dalam perspektif etika bisnis islam :
73
1. Prinsip Tauhid (Ketauhidan/Unity)
Konsep tauhid dapat diartikan sebagai dimensi yang bersifat vertical sekaligus horizontal. Karena dari dua dimensi tersebut akan lahir satu bentuk hubungan yang sinergis antara tuhan dan hambanya, sekaligus hamba dengan hamba ang lain. Prinsip tauhid juga dapat diartikan sebagai seorang mahluk harus benar- benar tunduk, patuh dan berserah diri sepenuhny atas apa ang menjadi kehendaknya. Bentuk penyerahan diri yang dilakukan oleh pedagang bermacam- macam berupa menjalankan sholat tepat waktu, berdoa dan bersedekah.
Dalam hal ini, prinsip tauhid yang ditunjukkan oleh Informan F pedagang sembako dalam keterangan hasil wawancara peneliti mengatakan bahwa :
Dalam menjalankan usaha, saya selalu menyertakan niat ibadah, dan sebelum berangkat berdagang saya selalu mebaca basmalah terlebih dahulu dan berniat berdagang untuk menafkahi keluarga saya supaya menjadikan keberkahan tersendiri dalam menjalankan usaha dan keberkahan dalam keluarga saya.
.
Berdasarkan dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa segala sesuatu yang kita lakukan bernilai ibadah, apabila dilakukan dengan ikhlas dan niat karena Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam sebuah Hadist :
“Sesungguhnya amal itu berdasarkan niat, dan sesungguhnya bagi setiap manusia pahala menurut apa yang diniatkannya)”.
Selain itu perilaku ketakwaan yang ditunjukkan dengan menjalankan sholat tepat waktu. Dari 10 Informan yang melakuakn sholat tepat waktu hanya satu Informan yaitu pedagang Es Campur (Informan B). dalam hali ini, Informan B dalam keterangan hasil
74
wawancara peneliti mengatakan bahwa :
Saya berusaha meninggalkan barang dagangan saya ketika mendengar suara adzan yang berkumandang. Menurut saya setelah melaksanakan kewajiban kita kepada Allah SWT hati merasa tenang dan tidak ada beban sama sekali.
Sementara Sembilan Informan para pedagang ada yang mementingkan menyelesaikan transaksi jual beli ketimbang melaksanakan shalat, akan tetapi ada juga ang ketika mereka telah menyelesaikan transaksi jual beli baru melaksanakan shalat. Tindakan seperti itu yang dilakukan oleh para pedagang, menurut peneliti lalai dalam melaksanakan shalat tepat waktu. Seharusna yang dilakukan adalah bersegera menunaikan kewajiban shalat karena keuntungan akhirat pasti lebih utama ketimbang keuntungan dunia. Seperti firman Allah SWT dalam Surah An-nur : 37
ْوُفا َخَيَۙ ِةو ٰك زلا ِهَاَتْيِا َو ِةو ٰل صلا ِماَقِا َو ِّٰاللّ ِرْكِذ ْنَع ٌعْيَب َلَ و ٌةَراَجِت ْمِهْيِهْلُت لَ ٌلاَجِر َتَت اًم ْوَي َن
ِهْيِف ُب لَق
َۙ ُراَصْبَ ْلَا َو ُب ْوُلُقْلا Yang Artinya :
"orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.
Sebagai seorang pedagang muslim sekali- kali tidak boleh menyibukkan dirinya semata- mata untuk mencari keuntungan materi dengan meninggalkan keuntungan akhirat. Sehingga jika dating waktu shalat, mereka harus menghentikan aktivitas bisnisnya, begitu pula dengan kewajiban- kewajiban yang lain. Sekali- kali seorang pedagang uslim hendaknya tidak melalaikan kewajiban agamanya dengan alasan
75
kesibukan perdagangan.
Pedagang yang mengindahkan norma- norma Al- Qur‟an tidak akan melalaikan tugasna kepada Allah lantaran mengurus dan melakukan aktivitas perdagangan. Selain itu, pedagang yang berbekal kecerdasan spiritual perilaku pedagang tidak akan menyimpang dari aturan agama islam dalam praktek bisnis seperti menjual barang haram dan penimbunan barang tertentu dengan maksud untuk mendapatkan untung yang banyak. Para pedagang di pasar sentral dompu telah memahami kategori barang yang haram diperdagangkan dalam islam.
Para pedagang di pasar sentral kabupaten dompu bekerja sangat giat, mereka memulai aktivitas berdagangya sejak pagi hingga siang. Mereka berharap dengan bekerja dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Selain itu disamping untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka tidak lupa untuk berbagi kepada sesam, dengan menyisihkan pendapatannya, memberikan sedekah kepada peminta- minta. Para pedagang percaya dengan mengeluarkan sebagian rezeki yang mereka dapatkan Allah SWT akan mengganti dengan kemulyaan di dunia maupun akhirat. Membantu sesame menjadi keinginan mereka untuk melihat orang lain menjadi lebih baik. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa para pedagang tidak hanya mementingkan diri sendiri tetapi juga mementingkan lingkungan sekitar.
Motivasi Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan usaha semata- mata demi menckupi kebutuhan sehari- hari bukan untuk menjadi jutawan. Beliau tidak pernah memperlihatkan kecintaan yang sangat besar terhadap harta kekayaan. Hal itu membuktikan bahwa
76
beliau mencukupi keutuhan duniawi secukupnya saja dan tidak pernah melupakan akan pentingnya mempersiapkan untuk hidup di akhirat kelak. (Arifin, 2009)
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku pedagang sudah sesuai dengan prinsip Tauhid akan tetapi dalam pelaksanaan shalat tepat waktu masih ada yang lalai, seharusna para pedagang bersegera menunaikan kewajiban shalat karena keuntungan akhirat pasti lebih utama ketimbang keuntungan dunia. Seperti yang dilakukan orang- orang di masa Rasulullah begitu cinta kepada perdagangan ang cenderung melebihi kecintaan kepada Allah dan Rasulnya sehingga mereka tega meninggalkan Rasulullah yang sedang berkhotbah karena menyambut kafilah dagang yang baru dating. (Rifai, 2012)
2. Prinsip Kesimbangan (Keadilan/Equilibrium)
Prinsip keseimbangan menggambarkan dimensi kehidupan pribadi ang bersifat horizontal. Hal itu disebabkan karena lebih banyak berhubungan dengan sesam. Prinsip perilaku adil sangat menentukan perilaku kebijkan seseorang. Dalam dunia bisnis prinsip keadilan harus diwujudkan dalam bentuk penajian produk- produk yang bermutu dan berkualitas, selain itu ukuran kuantitas serta takaran atau timbangan harus benar- benar sesuai dengan prinsp kebenaran. (Arifin, 2009)
Prinsip kesimbangan (keadilan) yang dilakukan oleh para pedagang di pasar sentral dompu berupa para pedagang dengan memberitahu tentang spesifikasi dari barang yang akan dijual kepada pembeli. Satu dari sepuluh informan menyembunyikan cacat barang yang ditawarkan kepada calon pembeli. Seperti yang dilakukan oleh
77
informan A pedagang ikan seringkali menyembunyikan cacat barang yaitu ikan yg sudah tidak segar namun kelihatan masih bagus karena sudah diawetkan sehingga pembeli banyak yang terkecoh untuk membelinya karena porsinya yang lebih banyak dari ikan-ikan lain di sekitarnya. Akan tetapi 9 dari 10 informan tidak menyembunyikan cacat serta adil dalam timbangan dan mendahulukan pembeli yang lebih dulu menunggu. Ada juga pedagang yang mebberikan saran kepada pembeli agar para pembeli mengetahui kondisi barang yang akan dibeli, agar mengetahui alasan menawarkan harga yang berbeda, juga agar pembeli tidak bingung untuk membeli barang yang diinginkan.
Seperti yang dilakukan Informan J pedagang pakaian, beliau mengatakan bahwa :
Saya memberitahu kelebihan dan kelemahan atas barang yang saya jual, karena dengan saya menjelaskan tentang barang yang saya tawarkan pembeli tidak akan kesulitan dalam menawar barang tersebut.
Perilaku keseimbangan dan keadilan dalam bisnis secara tegas dijelaskan dalam konteks perbendaharaan bisnis (klasik) agar pengusaha muslim menyempurnakan takaran bila menakar dan menimbang dengan neraca yang benar, karena hal itu merupakan perilaku yang terbaik dan membawa akibat yang terbaik pula.
Sebagaimana Allah SWT berfirman yang artinya :
“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat Para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah Amat besar kekuatan dan Amat keras siksaan (Nya).”
Perlu disadari oleh setiap muslim, bahwa dalam situasi apapun, ia dibimbing oleh aturan- aturan dan prosedur- prosedur ang didasari
78
pada ketentuan- ketentuan tuhan dalam syariatnya yang dicontohkan melalui Rasulnya. Oleh karena itu “kebebasan meilih” dalam hal apapun, termasuk dalam bisnis
3. Prinsip Pertanggung jawaban (Responsibility)
Islam sangat menekankan konsep tanggung jawab dalam kehidupan manusia, Allah mengaruniai manusia tanggung jawab yang tidak dimiliki mahluk lainnya, manusia menjadi khalifah di muka bumi membangun, memakmurkan dan menikmati kenikmatan di bumi, mengeksploitasi bumi dengan segala kecanggihan teknologi yang dimiliki itu semua mempunyai beban tanggung jawab yang senantiasa dipikul oleh manusia yang kemudian hari akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT.
Selanjutnya dalam dunia bisnis, tanggung jawab terlihat dalam peran lembaga bisnis dalam meningkatkan kehidupan para pelanggan, karyawan, dan pemegang saham, dengan membagikan kekayaan yang dihasilkannya para pemasok dan pesaing pun berharap bahwa lembaga-lembaga bisnis menghormati kewajiban- kewajiban mereka dengan semangat kejujuran dan keadilan, sebagai warga yang bertanggungjawab terhadap komunitas local, nasional, regional dan global dimana mereka beroperasi. Lembaga- lembaga bisnis ikut dalam menentukan masa depan komunitas- komunitas itu. Nilai lembaga bisnis bagi masyarakat ialah kekayaan dan lapangan pekerjaan yang diciptakan serta produk dan jasa yang dipasarkan kepada konsumen dengan harga yang wajar yang sebanding dengan mutunya. Untuk mampu menciptakan nilai itu, sebuah lembaga bisnis harus mampu
79
mempertahankan kesehatan dan kelangsungannya.
Menurut islam, segala aktivitas bisnis hendaklah dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Tanggung jawab muncul karena manusia adalah mahluk mukallaf, yaitu mahluk yang diberi beban hukum berbeda dengan mahluk lain seperti binatang dan tumbuh- tumbuhan, karena Taqlid itulah manusia harus mempertanggung jawabkan segala aktivitasnya dank arena itu pula manusia oleh Rasulullah disebut sebagi pemimpin karena setiap manusia yang dewasa atau akhil balik serta mumayyiz (dapat memebdakan yang baik dan yang buruk) adalah pemimpin dan mempertanggung jawabkan kepemimpinannyaa. Tangunggung jawab erat dengan pelaksanaan amanat karena orang yang betanggung jawab akan melaksanakan yang dibebankan kepadanya dengan sebaik- baiknya.
Dari data yang diperoleh penliti, para pedagang sebagian masih belum bisa menepati janji karena beliau takut tidak bisa menepati janji.
Adapun ketidaktepatan janji yang dilakukan oleh Informan E pedagang alat kosmetik berupa ketidak tepatan waktu yang dijanjikan kepada konsumen karena stok barang dagangannya habis. Berbeda denga Sembilan Informan, mereka berusaha untuk memenuhi janji sesuai kesepakatan dengan pembeli. sebelum para pedagang menyepakati peprjanjian selalu memastikan kepada pembeli mengenai ketepatan waktu penyerahan barang dan ketepatan waktu pembayaran.
Sebagiamana yang dikatakan Informan G pedagang rempah- rempah, beliau mengatakan bahwa :
Ketika ada pesanan saya erusaha untuk memenuhi sesuai kesepakatan dan saya tidak mengurangi pesanan pembeli sedikitpun.
80
Islam sangat menganjurkan agar umatnya menunaikan amanat dengan sebaik- baikna sebagaimana firman Allah Qs. An-Nisa : 58
َح اَذِا َو َۙاَهِلْمَا ىْٰٓلِا ِت ٰن ٰمَ ْلَا اوُّد َؤُت ْنَا ْمُكُرُمْأَي َ ّٰاللّ نِا ۞ ا مِثِن َ ّٰاللّ نِا ِلْدَثْلاِب ا ْوُمُكْحَت ْنَا ِسا نلا َنْيَب ْمُتْمَك
ا ًرْي ِصَب ٌۢاًثْيِمَس َناَك َ ّٰاللّ نِا هِب ْمُكُظِثَي Yang Artinya :
Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.
Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu.
Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.
Rasulullah memerintahkan agar umat islam menunaikan amanat dan tidak berkhianat meskipun kepada orang yang pernah menghianatinya sebagimana sabdanya
“Tunaikan amanat kepada orang yang telah memberikan amanat padamu dan jangan mengkhianati orang yang telah mengkhianati.”
4. Prinsip Kebajikan (Ihsan)
Prinsip ini mengajarkan untuk melakukan perbuatan yang dapat mendatangkan manfaat kepada orang lain, tanpa harus aturan yang mewajibkan atau memerintahkanna untuk melakukan perbuatan itu, atau dalam istilah lainnya adalah beribadah maupun berbuat baik seakan- akan melihat Allah, jika tidak seperti itu, maka yakinlah bahwa Allah melihat apa yang kita kerjakan
Dari data yang diperoleh peneliti bentuk prinsip kebajikan (ihsan) dilandaskan dengan kemurahan hati yaitu dengan memberikan
81
tenggang waktu pembayaran jika pembeli belum bisa membayar kekurangan. Hasil wawancara dengan 10 Informan yang melakukan kemurahan hati dengan memberi tenggang waktu hanya 2 Informan, sedangkan yang lain tidak memberi tenggang waktu. Sebagaimana ang dilakukan Informan F pedagang sembako, beliau mengatakan bahwa
Saa memberi tangguhan waktu apabila pembeli tidak dapat membayar secara tunai. Saya percaya kepada pembeli bahwa pembeli akan membayarnya. Tetapi dalam memberikan tangguhan saya memilih orang yang saya percaya dan melihat karakter pembeli seperti pembeli yang sudah menjadi langganan saya
Perilaku yang dilakukan Informan F pedagang Sembako diikuti oleh Informan D pedagang buah, beliau mengatakan bahwa
Bagi pembeli saya, membayar kekurangan tersebut tanpa memaksa pembeli harus dilunasi hari itu juga. Menurut saya, hal seperti itu merupakan perbuatan baik karena dapat membantu orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Tak jarang saya menyuruh pembeli itu untuk membayar kekurangannya, asal pembeli itu benar- benar orang yang tak mampu.
5. Prinsip Bisnis Menurut Rasulullah
Ada 4 hal yang menjadi factor keberhasilan rasulullah dalam mengelola bisnis yaitu SAFT ( Shiddik, Amanah, fathanah, thabligh)
a. Shiddik adalah sifat nabi Muhammad saw, artinya benar dan jujur.
Jika seorang pemimpin, ia senantiasa berperilaku benar dan jujur dalam sepanjang kepemimpinannya. Jika ia seorang pemasar, sifat shiddik haruslah menjiwai seluruh perilakunya dalam melakukan pemasaran, dalam berhubungan dengan pelanggan, dalam bertransaksi dengan nasabah dan dalam membuat perjanjian dengan mitra bisnisnya
b. Amanah artinya dapat dipercaya, bertanggung jawab sikap
82
amanah ini akan membentuk kredibilitas yang tinggi dan sikap penuh tanggung jawab pada setiap individu muslim. Dalam praktek pedagangan yang islami dikenal dengan adanya istilah perdagangan atas dasar amanah
c. Fathanah.
Fathanah dapat diartikan sebagai intelektual kecerdikan atau kebijaksanaan. kecerdasan yang dimaksudkan disini adalah kecerdasan spiritual yaitu kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku kegiatan, melalui langkah-langkah yang bersifat fitrah
d. Tabliq artinya menyapaikan, jika ia seorang pemasar harus menyapaikan keunggulan-keuanggulan produknya dengan jujur dan tidak harus menyembunyikan kekurangannya dan tidak menipu pelanggan
83
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan yang sudah dilaksanakan bisa ditarik kesimpulan tentang sikap pedagang pasar sentral kabupaten Dompu pada pandangan Erika bisnis Islam.
Hasil penelitian yang laksanakan oleh peneliti menunjukkan bahwa pemahaman penjual dipasarkan sentral Dompu tentang etika bisnis Islam dapat ditarik kesimpulan bahwa penjual tidak mengetahui tentang etika bisnis Islam. Tetapi pada saat melakukan transaksi jual beli mereka memakai aturan yang sudah diatur oleh agama Islam. Sikap penjual dipasar sentral Dompu dalam melaksanakan usahanya antar penjual yang terdiri dari kebijakan etika bisnis Islam antara lain tauhid, yang dilakukan oleh para penjual antara lain menjalankan sholat tepat waktu, sedekah dan masih banyak penjual yang masih belum tepat waktu saat mengerjakan sholat wajib, melakukan sedekah antar sesama dan masih banyak juga pedagang yang tidak tepat waktu saat mengerjakan sholat lima waktu.
Prinsip keseimbangan diadakan oleh para pedagang antara lain adil atau tidak plilib memilih, menjaga lingkungan tidak tidak menyembunyikan brang caccat. Kebijakan bisa dikehendaki secara diadakan oleh para penjual yang meliputi Tidka memaksa beli karena untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Tanggung jawab akan diwujudkan eh para penjual yang terdiri dari meliputi janji dan tanggung jawab pada kualitas produk yang akan dijual. Kebijakan ihsan dilaksanakan oleh penjual dengaan sikap ramah dan sabar terhadap pembeli, akan tetapi masih ada juga ditemukan
83
84
pedagang yang tidak bersikapramh dan sopan terhdap pembeli. Adapun ihsan dalam bentuk lain yang diwujudkan dengan memberikan peluang tenggang memberikan bonus kepada pembeli, sikap tersebut sudah dilaksanakan penjual. Akan tetapi sebagian penjual dipasar sentral kabupaten dompu ada juga yang memberikan masa waktu kepada pembeli.
B. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan pada penelitian ini yaitu bermanfaat bagi pihak lain atas hasil penelitian ini, adapun sara yang dapat diberikan antara lain yaitu :
1. Bagi penjual dipasar sentral kabupaten dompu, peneliti berharap saat melakukan usaha tetap berpegang teguh pada nilai dan norma yang telah ditentukan oleh syariah islam.
2. Penjual dihrapkan agar memiliki sifat jujur serta terbuka pada saat memberikan penjelasan mengenai kelebihan ataupun kekurangan produk yang dijual, mampu tanggung jawab terhadap kualitas produk yang dijual, setuju terhadap hal yang sudah menjadi kesepakatan antara kdua belah pihak serta mampu bersikap ramha kepada pembeli.
3. Penjual bisa melaksanakan usaha harus mampu berpegang tegus terhadap etika bisnis islam pada saat keadaan apapun. Hal ini karena usaha yang dilandasi dengan etika bisnis islam juga mendapatkan rezeki yang sudah diperoleh.
4. Pembelajaran yang dlaksanakan oleh peneliti masih memiliki keterbatasan dalam penelitian, sehingga diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian lanjutan dengan objek atau
85
pendapat yang lain agar bisa memperluas wawasan pengetahuan pada bidang ilmu ekonomi.
86
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, J. 2009. Etika Bisnis Islami. Walisongo Press: Semarang
Abi Abdullah Ahmad Bin Muhammad Bin Hambal al-Syaibani al-Marwazi, Musnad Ahmad bin Hanbal, Juz 18 (Beirut: Dar al- Fikr, t.th)
Afrizal. 2015. Metode Penelitian Kualitatif: Sebuah Upaya Mendukung Penggunaan kualitatif Dalam Berbagai Disiplin Ilmu. Rajawali Pers:
Jakarta
Agustin, N. 2014. Implementasi Norma- norma Etika Bisnis Syari’ah pada Pamella swalayan di DIY Ditinjau dari Etika Bisnis Perspektif Al- Ghazali.
Tesis. Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga
Anonim. 2005. Pelaku Pasar. Jurnal Hukum Islam, Vol IV No. 2, Desember Anoraga, P. 1997. manajemen Bisnis. Jakarta: Rineka Cipta & sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi (STIE) dan BPD Jateng
Arijanto, A. 2011. Hukum Bisnis Bagi Pelaku Bisnis. PT. Raja Grafindo Persada.
At- Turmudzi, Seunan at- Turmudzi (Jz lll, Beirut : Dar-alFikr, 1400), h. 153 Azwar, S. 2007. Metode Penelitian. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Buchari Alma, Pengantar Bisnis; Bandung: Alfa Beta, 1993.
Buchari Alma, Ajaran Islam Dalam Bisnis, bandung: CV ALFABETA, 1994.
Damayanti, I. 2011. Analisis Faktor- faktor yang mempengaruhi Tinggi Rendahnya Pendapatan Pedagang Kaki Lima. Skripsi. Surakarta : Fakultas ekonomi Universitas sebelas Maret Surakarta
Damsar. 2002. Sosiologi Ekonomi, Rajawali Pers: Jakarta
Djakfar, M. 2007. Etika isnis Dalam Perspektik Islam. UIN Malang Press: Malang Djafa, Hukum Bisnis: Membangun Wacana Integrasi Perundangan Nasional
dengan Syariah, Yogyakarta: PT LKIS Printing Cemerlang, 2009), h.25.;
Muhammad Djakfar, Etika Bisnis Islami: Tataran Teoritis dan Praktis, Malang: UIN Malang Press, 2008.
Hamzah Hasan Khaeriyah, Fiqih Iqtishad, Ekonomi Islam, Kerangka Dasar, Kerangka Dasar, Studi Toko dan Kelembagaan Ekonomi ( Makassar.
Alauddin University Press, 2013), h.153
Juliansyah, H. 2011, Faktor- faktor yang Mempengaruhi Etika Bisnis OIslam Pedagang Pasar Ciputat. Skripsi. Jakarta: Fakultas Syariah dan hukum
86