• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Persamaan dan Perbedaan Penafsiran

BAB IV PENAFSIRAN AYAT-AYAT PERNIKAHAN HARMONIS

B. Analisis Persamaan dan Perbedaan Penafsiran

Dalam menafsirkan ayat-ayat pernikahan harmonis para mufassir disini memliki persamaan dan perbedaan baik dari segi konteks bahasayang digunakan, ataupun teknik penafsiranyang digunakan mufasir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur`an.

1. Dilihat dari tiga tokoh mufassir dalam menafsirkan suarah an-Nisaa ayat 34, mereka sama-sama mengatakan bahwa laki-laki adalah

101

sebagai pemimpin, melindungi, mengurus, mengendalikan hak dalam mahligai rumahtangga.Maksud pemimpin disini ialah pemimpin yang tangguh dan bijaksana dalam memimpin keluarga terhadap istri dan anaknya. Kemudian seoarang suami tidak hanya memimpin akantetapi melindungi istri dan anaknya dan juga menuntun kepada jalan kebaikan, menafkahi keluarganya. Dan seorang istri yang memelihara harta suami serta menjaga aib yang terdapat pada suami.

Namun perbedaan yang dapat penulis simpulkan bahwa ada dua, dalam segi bahasa dan teknik penafsiran mufassir. Adapun dari Abdurra‟uf sendiri menggunakan bahasa “laki-laki dikeraskan atas semua perempuan” sedangkan Hasbi dan Hamka menggunakan bahasa yang sama yaitu sebagai pemimpin tetapi memiliki tujuan yang sama untuk menjadikan kepala keluarga dalam sebuah rumahttangga yaitu adalah seorang laki-laki. Kedua, dari segi penafsiran Abdurra‟uf menjelaskan sesuai penafsirannya sendiriia tanpa menggunakan bahasa panjang lebar hanya secara singkat dan jelas. Dan Hasbi mengaitkan penafsirannya dengan perintah laki-laki untuk berperang karena laki-laki berfungsi melindungi. Sedangkan Hamka mengaitkan penafsirannya dengan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dari penjelasan tafsir terhadap surah an-Nisa ayat 34 dapat penulis simpulkan untuk membangun tatanan pernikahan harmonis ialah Pertama, kepemimpinan dalam keluarga.

Kedua, istri memilki tugas selain dari pada suami yaitu untuk memelihara harta suami dan juga menjaga aib yang terdapat pada suami. Sehingga dengan melaksankan tugasnya masing-maka jauh dari perasaan untuk saling mengusai dalam rumahtangga.

2. Persamaan dari Abdurra‟uf, Hasbi, dan Hamka mereka dalam menafsirkan ayat ini memilki maksud yang sama yaitu pergaulan

suami istri secara biologis. Namun perbedaan yang dapat penulis simpulkan disini pertama dari kontek penafsiran mufassir.

Abdurra‟uf dalam menafsirkan redaksi “hunnalibasullakum wa antum libasullahunna” bahwa mereka adalah pakaian bagi kamu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Beliau tidak menjelasakan makna dari pakaian tersebut, makna pakaian secara umum ialah penutup tubuh serta pelindung bagi yang memakaianya. Sedangkan Hasbi dan Hamka memiliki keterkaitan dalam menjelaskan makna redaksi ayat tersebut ialah pergaulan suami istri secara biologis. Namun perbedaan yang dapat penulis disimpulkan dari teknik penafsiran yang digunakan oleh mufassir sendiri seperti Abdurra‟uf hanya menafsirkansecaraijmali. Sehingga bagi masyarakat yang awam tidak akan memahami maksud dari pakaian tersebut. Hasbi dan Hamka menafsirkan ayat sebagai majazi dari pakian itu bermakna pergaulan suami istri secara biologis. Adapaun pendapatnya M. Quraish Shihab33 maksud dari redaksi ayat tersebut, mereka (istri-istri) adalah pakaian untuk kamu (para suami), dan kamu (para suami), adalah pakaian para istrimu.Perisai yang dipakai dalam peperangan memberi rasa aman.Pakaian tebal memberi kehangatan, sebaliknya kepanasan, dengan pakaian yang lembut dan halus sehingga kepanasan tersebut terkurangi. Jika demikian halnya pakaian, masing-masing pasangan dinamai al-Qur`an sebagai “pakaian”, maka tidak diragukan lagi bahwa salah satu fungsi keluarga ialah saling melindungi.Kemudian dari penjelasan mufassir di atas dapat penulis simpulkan bahwa untuk membangun sebuah tatanan pernikahan harmonis harus saling melindungi baik dalam keadaan apapun. Seperti pakaian yang selalu

33 M. Quraish Shihab, Pengantin al-Qur`an, (ciputat: Lentara Hati, 2007), Cet. 6, h.

169

103

manusia butuhkan, begitu pula hubungan antara suami istri dalam mahligai rumahtangga.

3. Dari penjelasan tiga tokoh mufassir terhadap surah ar-Rum ayat 30 di atas dapat disimpulkan mereka memilki persamaan dalam menafsirkan ayat ini bahwa Allah menciptakan manusia berpasang- pasangan dari jenismu sendiri agar dirimu lebih merasa tenang dan tentram bersamanya. Sedangkan perbedaan terdapat pada kontek penafsiran yang dilakukan oleh mufassir. Abdurra‟uf hanya menafsirkan ayat tersebut tanpa menggunakan bahasa panjang lebar tidak jauh berbeda dengan Hasbi, akan tetapi ia menafsirkan ayat ini sesuai dengan penafsirannya sendiri. Sedangkan Hamka ketika menafsirkan ayat tersebut ia menjelaskan tentang makna “agar tentramlah kamu kepadanya”, makana dari mawaddatan, serta makna rahmatan, ia mengaitkan penafsirannya dengan ayat-ayat yang lain seperti suarah as-Sajdah ayat 7 dan 8. Kemudian dari penjelaan tafsir di atas dapat penulis simpulkan untuk membangun sebuah tatanan pernikahan harmonis yaitu saling menumbuhkan rasa kasih sayang sesama pasangan, bersikap setia sesama pasangan karena menikah tidak hanya tujuan untuk mawaddatan saja, akan tetapi sampai mendapatkan rahmatan.

4. Kemudian dari uaraian di atas dapat penulis simpulkan persamaan dari ketiga tokoh mufassir dalam menafsirkan ayat tersebut wajib bagi laki-laki meperlakukan istri dengan ma‟ruf dan menafkahinya dan membuat hati bahagia. Apabila istri terdapat sebuah kekurangan jangan langsung membencinya karena di balik semua terdapat hikmah yang baik.Adapun perbedaan yang dapat penulis ambil ialah dari dua teknik yaitu penggunaan bahasa yang digunakan oleh mufassir dan teknik penafsiran yang digunakan oleh mufassir sendiri.

Pertama dilihat dari bahasa yang digunakan mufassir dalam memaknai kata ma‟ruf . Abdurra‟uf menggunakan kata elok, dalam kamus melayu elok34ialah tidak jahat kelakuan, budi pekerti.

Maksud Abdurra‟uf disini mengunakan kata elok bahwa seoarang suami harus berbaik budi dalam bertutur kata, menafkahi dan bermalam dengan istrinya tidak hanya bagus saja. Pada abad ke-17 ulama tafsir ini menggunakan bahasa elok. Kemudian ulama pada abad ke-19 penulis menemukan bahasa yang digunakan oleh Hamka

“dengan cara yang patut” dalam kamus melayu makna patut35 ialah baik lagi elok tentang perangai, kelakuan, senonoh, wajar, pantas.

Maksud penafsiran Hamka menggunakan kata patut ialah meperlakukan istri dengan cara yang wajar. Sedangkan Hasbi menggunakan bahasa baik sesuai dengan ketentuan syara‟ dalam masyarakat. Walaupun berbeda bahasa yang digunakan oleh muafssir yang berasal dari Nusantara mereka memilki tujuan dan makna yang sama. Kedua perbedaan teknik penafsiran Abdurra‟uf menafsirkan tanpa menggunakan bahasa panjang lebar secara singkat dan jelas.

Hasbi ia menafsirkan ayat ini menjelaskan sesuai dengan penafsiran beliau sendiri. Sedangkan Hamka ia mengaitkan dengan ayat yang lain penafsirannya dengan riwayat-riwayat Nabi mencantumkan bagaimana sikap Nabi dalam memperlakukan istri-istrinya. Namun dari penjelasan tafsir diatas dapat diambil beberapa hal yang dapat membentuk mahligai rumahtangga yang harmonis diantaranya.

Pertama, selalu bersikap positif terhadap aib yang terdapat pada pasangan. Kedua bersikap setia dan sabar. Ketiga, tidak

34 Dato Paduka Haji Mahmud bin Haji Bakyr, Kamus Bahasa Melayu Nusantara, (Brunei Darussalam: Pustaka Dewan Bahasa, 2003), Cet. 1, h. 674

35 Dato Paduka Haji Mahmud bin Haji Bakyr, Kamus Bahasa Melayu Nusantara, h.

674

105

memperdulikan hal-hal sepele yang mengakibatkan percekcokan dalam pernikahan. Ketiga, bermuasyarah bil ma‟ruf.

5. Kemudian dari penjelasan mufassir terhadap surah al-Baqarah ayat 228 bahwa persamaan yang dapat disimpulkan dari tiga tokoh mufassir mufassir dalam menafsirkan redaksi ayat tersebut ialah suami istri sama-sama memilki hak, namun hak istri berbeda dengan hak yang dilakukan suami. Dan laki-lakilah yang memimpin mahligai rumahtangga. Namun perbedaan yang penulis dapat simpulkan dari teknik penafsiran yang digunakan oleh mufassir sendiri dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur`an, seperti Abdurra‟uf ia hanya menafsirkan dengan bahasa yang singkat. Sedangkan Hasbi dan Hamka sama-sama menggunakan bahasa panjang lebar, namun perbedaan dengan Hamka, beliau mengaitkan penafsirannya dengan kehidupan dimasyarakat sekitar. Kemudian Dari penjelasan tiga tokoh mufassir dapat penulis ambil untuk membangun tatanan pernikahan harmonis suami istri harus melakukan hak dan kewajiban terhadap sesama pasangan. Seperti suami melaksanakan kewajibannya terhadap istri dengan cara yang ma‟ruf , dan istri memilki hak terhadap suami serta menghormatinya, dan lelakilah yang memimpin dalam rumahtangga.

6. Penjelasan mufassir terhadap surah an-Nur ayat 26 memilki persamaan dalam menafsirkan ayat ini, seperti Abdurra‟uf dan Hasbi sama-sama menafsirkan tentang wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. Namun perbedaan trdapat dua bagian, pertama dalam Penafsiran Hamka dalam menafsirkan ayat tersebut bahwa tentang perbuatan orang yang baik akan mengahasilkan yang baik pula, perbuatan yang baik tidak menghasilkan yang kotor. Dalam penafsiran Hamka memilki

keterkaiatan terhadap penafsiran Abdurra‟uf dan Hasbi. Kedua, dilihat dari teknik penafsiran mufassir Abdurra‟uf hanya menggunakan bahasa yang singkat, dan Habi menafsirkan sesuai dengan tafsirnya, kemudian Hamka menafsirkan secara panjang lebar. Kemudian untuk membangun sebuah tatanan pernikahan harmonis kita harus selalu memperbaiki diri menjadi lebih baik, sehingga Allah akan memberi yang baik. Karena hasil yang baik berupa dari perbuatan yang baik.

7. Penjelasan tiga tokoh mufassir terhadap surah al-Baqarah ayat 237.

Persamaan dilihat dari penafsiran mereka sama-sama menafsirkan jangan sesekali melupakan kebaikan seseorang, terlebih sekali dalam hubungan suami istri. Namun perbedaan yang dapat penulis ambil ialah dari teknik mufassir dalam menafsirkan ayat seperti Abdurra‟uf hanya menafsirkan secara singkat dan jelas, Hasbi dan Hamka menjelaskan secara lebih panjang lebar penjelasan Hasbi tidak jauh beda dengan Hamka. Kemudian dari penjelasan ketiga mufassir ini bisa kita ambil untuk membangun sebuah mahligai rumahtangga yang bahagia dengan cara suami istri saling mengingat kebaikan, sehingga tertutupi segala keburukan yang terajdi.

8. Kemudian dari penjelasan mufassir terhadap surah al-Furqan ayat 74 bahwa persamaan yang dapat disimpulkan dari Abdurra‟uf, Hasbi, dan Hamka sama menafsirkan ini adalah doa yang dipanjatkan oleh hamba yang taat kepada Allah untuk meminta istri dan keturunan yang menyenangkan mata, jika dilihat oleh mata mendapat kesenagan demikialah akan mendapatkan kesenangan dalam hati.

Dan sebagai imam yang baik taat kepada Allah yang menjadikan panutan bagi keluarga dan orang lain. Adapun perbedaan yang dapat penulis simpulkan dilihat dari teknik penfasiran bahwa Abdurra‟uf ia

107

hanya menjelaskan secara ijmali.36 Hasbi mengaitkan penafsirannya dengan pendapat penafsir lain seperti as-Suyuthi, dan al-Kirimani dan al-Qaffal az-Zumakhsyari dan beliau juga menafsirkan secara ijmali.Kemudian Hamka sendiri menceritakan tentang keshalihannya seorang hamba yang rahman dalam penafsirannya dalam menafsirkan ayat tersebut. Teknik penafsiran Hasbi dan Hamka secara tahlili37.Kemudian dari penjelasan mufassir dapat penulis simpulkan untuk mebangun sebuah tatanan pernikahan harmonis maka seoarang suami harus menjadi imam dan panutan bagi istri dan anaknya. Dan bagi yang belum dan sesudah memilki pasangan tetaplah memperbanyak membaca firman-Nya tersebut agar mendapatkan pasangan dan keturunan yamg menyenagkan hati serta taat kepada Allah.

36 Tafsir ijmali ialah penafsiran al-Qur`an yang dilakukan dengan cara mengemukakan isi kandungan al-Qur`an melalui pembahasan yang bersifat umum, tanpa uraian atau pemabahasan secara panjang dan luas dan juga tidak dilakukan secara rinci.

Baca Selengkapnya di M. Amin suma, Ulumul Qur`an, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014), Cet. 2, h. 381

37 Secara harfiah tahlili berarti menjadi lepas atau terurai. Yang dimaksud dengan al-Tafsir al-Tahlili ialah metode penafsiran ayat-ayat al al-Qur`an yang dilakukan dengan cara mendeskripsikan uraian-uraian makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur`an dengan mengikuti tertib urutan surat dan ayat-ayat alQur`an itu sendiri dengan sedikit banyak melakukan analisis di dalamnya. Baca Selengkapnya di M. Amin suma, Ulumul Qur`an, h. 379

109 PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang dipaparkan sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Secara umum Abdurra’uf, Hasbi, dan Hamka memilki pandangan dan prinsip yang sama terhadap lima ayat alqur`an mengenai konsep pernikahan harmonis yaitu, memiliki pemimpin yang bertanggung jawab, pasangan suami istri harus saling melindungi, saling menumbuhkan kasih dan sayang agar terjalin sebuah mahligai rumahtangga yang tenang dan penuh kemesraan, dan harus berinteraksi dengan baik dan sabar terhadap pasangan, saling bertanggung jawab sesuai kewajiban masing-masing, tidak pernah melupakan segala kebaikan pasangan, melakukan hal-hal yang baik agar menuai yang baik pula, kemudian memperbanyak doa kepada Allah agar menjadi imam yang baik serta memiliki istri dan anak yang shaleh.

2. Persamaan penafsiran dari tiga tokoh mufassir terhadap surah an-Nisa 34, surah ar-Rum ayat 21, surah al-Furqan ayat 74, dan surah an-Nisa ayat 19, surah al-Baqarah ayat 228 dan 237, mereka memiliki kesamaan dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut. Kemudian surah al- Baqarah ayat 187 Hasbi dan Hamka saling berkaitan dalam menafsirkan redaksi ayat “hunnalibasullakum wa antum libasullahunna” yang dimaksud ialah hubungan biologis. Perbedaan dapat penulis kategorikan menjadi dua bagian pertama, dari segi linguistik yang digunakan mufassir pada lafad “qawwamun”

Abdurra’uf menggunakan bahasa “dikeraskan” , Hasbi dan Hamka

110

menggunakan bahasa sebagai “pemimpin”. Kemudian pada lafad

ma’ruf” Abdurra’uf menggunakan bahasa “elok”, Hasbi menggunakan bahasa “baik sesuai syara”, Hamka sendiri menggunakan bahasa “Patut” namun maksud dan tujuannya sama.

Dalam surah an-Nur ayat 26 Hamka menjelaskan tentang orang yang melakukan perkara yang baik akan menuai yang baik pula, penafsirannya saling berkaitan dengan Abdurra’uf dan Hasbi “wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik”. Kedua perbedaan dari teknik penafsiran mufassir gunakan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur`an. Abdurra’uf hanya menjelaskan secara ijmali. Hasbi terkadang dengan bil ro’yi dan bil ma’qul sedangkan Hamka mengambil beberapa riwayat-riwayat Nabi, dan contoh yang terdapat dimasyarakat (tahlili).

B. Saran-sara

1. Terasa sekali bagi penulis bahwa untuk menulis karya ini, membutuhkan pengetahuan yang luas, penulis merasa jauh dari kesempurnaan pengetahuan yang luas, penulis merasa jauh dari kesempurnaan pengetahuan, ilmu tafsir dan ilmu-ilmu lainnya. Oleh karena itu janganlah merasa puas dengan apa yang kita dapatkan akan tetapi tetaplah haus akan ilmu dan marilah kita menacari ilmu dan mengkaji ilmu.

2. Di harapkan bagi yang membaca tulisan ini, semoga dapat memahami dan mengambil pelajaran yang terkait dalam kehidupan sehari-hari tentang makna ayat-ayat pernikahan harmonis. Untuk membangun sebuah pernikahan harmonis butuh usaha yang kuat sesama pasangan dan untuk selain itu kita menyerahkan diri kepada- Nya.

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Adil Abdul Mun‟im Abu Ketika Menikah Jadi pilihan, Penerjemah:

Gazi Saloom, Jakarta: PT Almahira, 2001

Adhim, Fauzil, Disebabkan Oleh Cinta, Kupercayakan Rumahku Padamu, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003

Adlah, Siti “Pembinaan Keluarga Menurut Perspektif al-Qur`an Studi Komperatif Antara Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Al-Maraghi dalam Al- Qur`an Surah at-Tahrim/66:6)”, Skripsi diajukan program sarjana Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta: 2005

Akbar, Ali, Merawat Cinta Kasih, Jakarta: PT Pustaka Antara, 1995

Alkhasyt, Muhammad Utsman, Sulitnya Berumah Tangga, Jakrta: Gema Insani Press, 1996

Alwi, Hasan, Kamus Bahasa Besar Indonesia Edisi Ketiga, Jakarta: Balai Pustaka, 2005

Amir, Mafri Literatur Tafsir Indonesia, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2011

Anam, Syahrul, Kado untuk Sang Tunangan, Jakarta:Majlis Musyawarah Kutubuddiniyah, 2010

Baidan, Nasruddin, Metode Penafsiran al-Qur`an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002

Bakri, Sidi Nazar, Kunci Keutuhan Rumah Tangga (Keluarga yang Sakinah), Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1993

Bakyr, Dato Paduka Haji Mahmud bin Haji Kamus Bahasa Melayu Nusantara, Brunei Darussalam: Pustaka Dewan Bahasa, 2003

Basri, Hasan, Keluarga Sakinah (Tinjuan Pustaka dan Psikis dan Agama), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994

Al- Buhiy, Muhammad Labib, Hidup Bekeluarga Secara Islami, Bandung:

PT Al Ma‟arif, 1983

112

Daudy, Ahmad, Tasawuf Aceh, Banda Aceh: CV. Diandra Primamitra Media, 2008

Dinata, Nana Syaudin Sukma, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung:Remaja Rosda Karya, 2010

Ghazali, Imam, Etika Perkawinan, Jakarta: Pustaka Panjimas , 1993

Ghofur, Saiful Amin, Profil Para Mufassir Al-Qur`an, Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008

Habib, Ali Mansur Usman, Muhadharat Fi al-Ahwalil asy-Syakhsiayati ‘Ala Mazhab Imam Syafi’i, Kairo: Al-Azhar, 2016

Haikal, Abdutawwab, Rahasia Perkawinan Rasulullah, Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1993

Hamka, Tafsir Al-Azhar jilid 1, Jakarta:Pustaka Panjimas, 1982, , Tafsir al-Azhar Juzu’ V, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983 , Tafsir al-Azhar Juzu’ XIX, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983 , Tafsir al-Azhar Juzu’ 4, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1987

Hamid, M. Abdul Halim Bagaimana Membahagiakan Suami, Penerjemah:

Wahid Ahmadi, Jakarta: Intermedia, 1997

Al-Hamid, Zaid. , Rumah Tangga Muslim, Semarang: Mujahidin, 1981 Hasibuan, Akmal Rizki Gunawan, Dimensi Politik Tafsir Al-Azhar Hamka:

Kajian Nilai-Nilai Pancasila, Tangerang Selatan: CB Media, 2016 Hawari, Dadang, Al-Qur`an Ilmu kedokteran jiwa dan kesehatan Jiwa

Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1995

Hidayati, Nurul “Peran Suami dalam Pembentukan Keluarga Sakinah (Studi Tafsir Tematik)”, Skripsi diajukan program sarjana Institut Ilmu Al- Qur`an (IIQ) Jakarta: 2015

Indonesia, Ensikopedia , Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1990, Vol. II

Al-Iraqy, Butsainan As-Syyid, Rahasia Pernikahan Yang Bahagia, Penerjemah: Khatur Suhardi, Jakarta: Pustaka Azzam, 1995

Iskandar, Metodologi Penelitian Kualitatif, Jakarta: Gaung Persada, 2009 Al-Jawi, Abdurra‟uf bin Ali al-Fansuri, Tarjuman al-Mustafid, Beirut

Libanon: Dar al-Fikr, 1990

Kauma, Duad Membangun Sorga Rumah Tangga, Solo: CV. Aneka, 1996 Kuzari, Ahmad, Nikah Sebagai Perikataan, Jakarta: PT Raja Grafindo

Persada, 1995

Manshur , Shaleh bin Abdul „Aziz Alu, Nikah dengan Niat Talak, Surabaya:

Pustaka Progresif, 2004

Mardani, Hukum Keluarga Islam di Indonesia, Jakarta: Prenadamedia, 2016 Munawir, Ahmad Warson, al-Munawwir Kamus Arab Indonesia, Surabaya:

Penerbit Pustaka Pregessif, 2002

an-Naisaburi, Muslim Bin al-Hajjaj Abul Hasan al-Qusyairi Ensiklopedia Hadis 3, Shahih Muslim 1, Jakarta: Almahira, 2012

Nayil, Najla‟ as-Sayyid, Menuju Rumah Tangga Bahagia, Jakarta:Pustaka Al-Inabah, 2013

Riswarni, “Konsep Keluarga sakinah Menurut Tafsir Al-Maraghi”, Skripsi diajukan program sarjana Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta: 2001 Sabiq, Sayyid Fiqih Sunah Sayyid Sabiq jilid 2, Penerjemah: Amir Hamzah,

Jakarta: IKPI al-I‟tishom, 2010

Shalih, Syaikh Fuad, Penerjemah M. Yasir Abdul Muthalib, Untukmu yang Akan Menikah dan Telah Menikah, Jakarta timur: Pustaka Al-Kautsar, 2006

Ash Shiddiqy, Teungku Muhammad Hasbi Tafsir al-Qur`an Majid An-Nur, semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1995

Shihab, M. Quraish Wawasan Al-Qur`an Tafsir Maudhu’i atas Berbagai Persoalan Ummat, Bandung: Mizan, 2000

, KaidahTafsir, Ciputat: Lentera Hati, 2013

, Tafsir al-Misbah, Jakarta: Lentara Hati, 2002, Vol. 1 , Pengantin al-Qur`an, Ciputat: Lentara Hati, 2007

114

Subhan, “Metode dan Corak Penafsiran Abdul Rauf Al-Singkili”, Skripsi diajukan pogram sarjana tafsir Hadis Universitas Syarif Kasim Riau:

2011

Syakir, Muhammad Fuad Perkawinan Terlarang, Jakarta: CV Cendekia Sentra Muslim, 1997

Syarifuddin, Amir, Garis-Garis Besar Fiqh, Jakarta: Kharisma Putra utama, 2013

Tihami, M.A., Fikih Munakahat: Kajian fikih Nikah Lengkap, Jakarta: PT Raja Grafindo, 2010

Tim Penyusun, Tafsir al-Qur`an Tematik jilid 2, Jakarta: Kamil Pustaka, 2014

Al-„Umr, Nashir bin Sulaiman, Sendi-sendi Kebahagian Suami Istri, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kausar, 1993

, Menuju Kebahagian Suami istri, Jakarta: CV.

Muria Putra Pressindo: 1995

Al-`utsaimin, Syaikh Muhammad bin Shalih, Shahih Fiqh Wanita Menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, Jakarta: Akbarmedia, 2009

Winarto, Ilmu Pengantar Ilmiah Dasar Metode Teknik, Bandung: Trasinto, 1978

Yanggo, Huzaimah T., dkk, Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, Disertasi Institut Ilmu al-Qur`an (IIQ)Jakarta, Jakarta:IIQ Press, 2011 , Hukum Keluarga dalam Islam, Jakarta: Ikapi, 2013 Zuhaili, Wahbah Al-Fiqhu Asy-Syafi’i Al-Muyassar, Darul Fikr, Beirut: 2008

Dokumen terkait