• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Persepsi Aktivis Dakwah Jamaa’ah Tabligh

Dalam dokumen SKRIPSI - IAIN Repository - IAIN Metro (Halaman 81-118)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Analisis Persepsi Aktivis Dakwah Jamaa’ah Tabligh

seperti kesediaan bahan pokok makanan dan lainnya.24

Menurut penulis persoalan muncul ketika kewajiban seorang suami dan menjadi hak isteri seperti nafkah, yang seharusnya hal tersebut dapat dipenuhi oleh seorang suami dengan bekerja, usaha maupun berdagang setiap hari dan diberikan sesuai dengan ukuran nafkah seperti biasanya. Namun dengan adanya metode dakwah oleh Jama'ah Tabligh pemenuhan nafkah tersebut bagi istri, ketika isteri ditinggal untuk berdakwah dapatkah nafkah tersebut terpenuhi sebab suami ketika berdakwah mereka pada dasarnya tidak bekerja secara duniawi untuk kebutuhan rumah tangganya.

C. Analisis Persepsi Aktivis Dakwah Jamaa’ah Tabligh terhadap Nafkah

yaitu selalu menjaga keseimbangan hak dan kewajiban diantara mereka. Hak dan memenuhi kewajibannya kepada istri merupakan suatu kebahagiaan tersendiri karena dia akan memperolah perlakuan yang sama dari istrinya.

Nafkah merupakan hak dan kewajiban terhadap isteri harus dipenuhi, nafkah, Memenuhi semua kebutuhan dan keperluan hidup meliputi: makanan, pakaian, tempat tinggal, serta biaya rumah tangga dan pengobatan bagi istri sesuai dengan kebutuhan. Berbicara tentang hak dan kewajiban terhadap istri, pasti tidak lepas dari yang namanya nafkah lahir dan bathin.

Padahal yang namanya manusia hidup di lingkungan masyarakat, seringkali kebutuhan lainnya selain kebutuhan tetap yang tidak terduga itu muncul dan tidak dapat ditolelir lagi. Pernyataan di atas menimbulkan pertanyaan bagi penulis, bagaimana tanggapan istri/keluarga, apakah mereka menerima atau menolak praktek nafkah rumah tangga tersebut.

Uraian di atas tanggapan istri Jamaa’ah Tabliqh tidak dapat menerima bahkan mereka para istri dan anak hidup dalam kekurangan dalam memenuhi kebutuhn sehari-hari, bahkan biaya-biaya yang tidak terduga.

Sedangkan tanggapan keluarga besar kebanyakan mereka kurang mendukung dengan apa yang dilakukan oleh anggota keluarganya yang menjadi anggota Jamaa’ah Tabliqh, hal ini disebabkan karena anggota keluarga mereka yang ikut menjadi anggota Jamaa’ah Tabliqh biasanya lebih mengutamakan khuruj dibandingkan dengan keluarga, dan tidak sedikit keluarga Jamaa’ah Tabliqh yang akhirnya terabaikan baik dari segi nafkah rumah tanga seperti sandang

menjadi terlantar akibat ditinggal oleh suami ada pula yang istrinya menginginkan untuk bercerai dengan suaminya.

Uraian di atas bahwa para istri dapat menerima apa yang diberikan oleh suami menurut kemampuan suaminya, akan tetapi menurut data yang ada yang menyebutkan bahwa tidak jarang keluarga yang ditinggal menjadi terabaikan, oleh karena itu hendaknya para anggota Jamaa’ah Tabliqh lebih bisa memilih yang lebih utama, antara khuruj atau keluarga. Hidup berumah tangga merupakan tuntutan fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Keluarga atau rumah tangga muslim adalah lembaga terpenting dalam kehidupan kaum muslimin umumnya, karena peran besar yang dimainkan oleh keluarga.

Keluarga adalah minimal terdiri atas seorang suami dan seorang istri yang selanjutnya muncul adanya anak atau anak-anak dan seterusnya. Sebuah keluarga juga dibutuhkan adanya seorang pemimpin keluarga yang tugasnya membimbing dan mengarahkan sekaligus mencukupi kebutuhan baik itu kebutuhan yang sifatnya dhohir maupun yang sifatnya batin di dalam rumah tangga, supaya terbentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

Sebagai pemimpin keluarga, seorang suami atau ayah mempunyai tugas dan kewajiban yang tidak ringan yaitu memimpin keluarganya. Dia adalah orang yang bertanggung jawab terhadap setiap individu dan apa yang berhubungan dengannya dalam keluarga tersebut, baik yang berhubungan dengan jasadiyah, ruhiyah, maupun aqliyahnya. Pada masa ini, upaya-upaya yang harus diusahakan adalah terpenuhinya kebutuhan lahiriyah, bathiniyah,

lainnya tidak begitu berbeda. Misalnya dalam hal terpenuhinya kebutuhan lahiriyah seperti nafkah keluarga, maka suamilah yang berkewajiban untuk memenuhinya bagi keluarganya. Hal ini dimaksudkan agar istri dapat mencurahkan perhatiannya untuk melaksanakan kewajibannya dengan baik yaitu membina keluarga yang sehat dan mempersiapkan generasi yang shaleh dan suami bertugas untuk memenuhi nafkah keluarganya.

Nafkah pada umumnya adalah tanggung jawab suami untuk mencukupinya. Meskipun istri bersedia untuk ikut membantu, akan tetapi itu tidak mengurangi kewajiban suami terhadap nafkah keluarganya tersebut.

Menyinggung mengenai praktek pemberian nafkah keluarga, Jamaa’ah Tabligh mempunyai cara yang sama, mengenai praktek nafkah rumah tangga mereka, untuk nafkah keluarga biasanya. mereka menyiapkan terlebih dahulu sebelum melakukan khuruj. Akan tetapi untuk berdakwah mereka juga harus mengeluarkan dana sendiri. Itu berarti, selain harus mencukupi nafkah kelurganya, anggota Jamaa’ah Tabliqh juga harus mengeluarkan biaya sendiri.

Sebelum pergi khuruj suami biasanya sudah mempersiapkan biaya hidup bagi keluarganya dalam jangka waktu tertentu, tergantung berapa lama suami akan pergi berdakwah, jadi sebelumnya sudah disesuaikan terlebih dahulu. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan selama berkhuruj, karena nafkah selama suami pergi khuruj sudahlah dipersiapkan terlebih dahulu.

Akan tetapi mereka juga menyatakan bahwa, mereka tidak menyangkal kalau kegiatan (khuruj) tersebut seringkali membuat orang yang pernah ikut khuruj

Maka, biasanya yang terjadi pada orang yang kecanduan adalah tidak begitu memikirkan hal lain selain bagaimana caranya memuaskan keinginannya.

Berdasarkan faktanya bahwa di lapangan ada keluarga yang pada waktu ditinggal khuruj ternyata nafkah rumah tangga yang ditinggalkan suami tidaklah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, selama suami melakukan khuruj. Ada keluarga Jamaa’ah Tabliqh yang terpaksa berhutang guna memenuhi nafkah untuk keluarganya, ini dikarenakan harta yang ditinggalkan suami ketika hendak khuruj ternyata tidak mencukupi kebutuhan ekonominya. Selain itu data ternyata jumlah nafkah yang diberikan selama khuruj pada salah satu keluarga Jamaa’ah Tabliqh yang sangat minim, menurut penulis sangat tidak mencukupi untuk jangka waktu mereka khuruj.

Contoh fakta pengakuan salah satu anggota Jamaa’ah Tabliqh, konsepnya, Jama’ah Tabliqh melarang istri untuk keluar rumah tanpa seizin suami, kecuali didampingi oleh mahramnya hanya diperbolehkan untuk yang penting.

Persepsi aktivis dakwah jamaa’ah tabligh terhadap nafkah keluarga yang dilaksanakan kurang sesuai karena masih banyak kekurang dan terbengkalai dalam keluarganya. Karena menurut penulis bahwa sebagai suami yang shalih seharusnya senantiasa melakukan yang terbaik bagi keluarganya, termasuk mengutamakan nafkah keluarga dalam membelanjakan hartanya di atas kepentingan yang lainnya.

Suami juga hendaknya pandai-pandai membelanjakan hartanya, mana yang lebih penting itulah yang didahulukan. Membelanjakan harta untuk

hanya membahas tentang nafkah lahiriyah, padahal nafkah dalam kehidupan rumah tangga tidak hanya nafkah lahir, adapula yang namanya nafkah bathin, yang mana menurut penulis kedua jenis nafkah tersebut sama pentignya, dan dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga.

Bagaimana pemenuhan nafkah bathin bagi istri anggota Jamaa’ah Tabliqh yang ditinggal lebih dari 4 bulan? Menurut penulis bisa pemenuhan nafkah bathin untuk istri yang ditinggalkan dalam jangka waktu lebih dari 4 bulan itu terabaikan. Wajib bagi suami untuk mengumpuli istrinya minimal sekali pada masa sucinya, jika ia mampu untuk itu. Jika hal itu tidak dilakukan, maka sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah.

Suami sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap pemberian nafkah, dan Islam ingin melindungi wanita dari beban yang berlebihan, padahal seorang wanita sudah menanggung beban kodratnya sendiri, yaitu beban reproduksi yang penuh resiko fisik dan mental. Maka logis jika beban nafkah tersebut diberikan kepada seorang suami karena dia tidak menanggung beban reproduksi. Ini adalah bentuk keseimbangan peran dan fungsi antara suami dan istri. Tanggungjawab seorang suami bukan hanya terhadap keluarganya akan tetapi juga terhadap tumbuh kembang anak-anaknya.

Tugas kaum laki-laki ialah memimpin kaum wanita dengan melindungi dan memelihara mereka. Sebagai konsekuensi dari tugas ini, kaum laki-laki diwajibkan berperang dan kaum wanita tidak, karena perang termasuk perkara perlidungan yang khusus, dan kaum laki-laki memperoleh

kaum laki-laki berkewajiban memberi nafkah.

Maka dari itu aktifitas halaqah dan khuruj membuat Islam lemah, hal itu bisa dilihat dari faktor ekonomi, karena ada fakta keluarga yang ditinggal menjadi terlantar ekonominya. Berbicara tentang nafkah pastinya tidak cukup apabila hanya membahas tentang nafkah lahiriyah, padahal nafkah dalam kehidupan rumah tangga tidak hanya nafkah lahir, adapula yang namanya nafkah bathin, jenis nafkah tersebut sama-sama pentignya, dan sama-sama dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga.

Uraian di atas untuk pemenuhan nafkah bathin di kalangan Jama’ah Tabliqh sudahlah sesuai, tetapi hanya untuk anggota Jamaa’ah Tabliqh yang hanya melakukan khuruj yang tidak lebih dari 4 bulan, yang hanya memperbolehkan bagi sahabat yang hendak berdakwah keluar kota selama 4 bulan saja. Akan tetapi penulis tidak setuju dengan anggota Jamaa’ah Tabliqh yang melaksanakan khuruj melebihi dari batas waktu tersebut karena secara otomatis pemenuhan nafkah bathin bagi istri yang ditinggalkan bisa dikatakan tidak terpenuhi, padahal yang namanya nafkah bathin itu juga sama pentinganya dengan nafkah lahir, dan menurut penulis yang namanya iman itu pasti bisa naik dan turun, dan tidak menutup kemungkinan itu terjadi kepada istri yang ditinggalkan khuruj.

Selain memberi nafkah lahir dan bathin yang baik, suami juga mempunyai kewajiban memberi bimbingan yang baik kepada istri dan anak- anaknya. Mendidik dan membimbing istri dan anaknya untuk selalu beriman,

bimbingan yang paling penting diberikan oleh suami kepada istrinya adalah pendidikan yang berhubungan kehidupan sehari-hari istrinya, seperti masalah hukum thaharah, haidh, nifas, dan pendidikan akhlak. Jika suami mempunyai kemampuan untuk mengajar sendiri, maka istrinya tidak boleh keluar rumah untuk menanyakan kepada orang lain. Akan tetapi jika suaminya tidak mampu karena minimnya ilmu yang dimiliki, atau karena tidak ada waktu karena kesibukannya, maka sang istri wajib keluar rumah untuk menuntut ilmu.

Seandainya suaminya melarangnya, maka dia akan berdosa. Dengan aktifitas khuruj maka otamatis keluarga yang ditinggal tidak mendapatkan pengajaran dan bimbingan dari seorang suami atau ayah, padahal istri dan anak-anak juga membutuhkan bimbingan dan pendidikan dari seorang suami atau ayah. Apakah Jamaa’ah Tabliqh bisa menjamin istri dan anak-anak mereka sudah cukup pintar atau memahami dalam ilmu agama maupun pendidikan umum, karena dalam keluarga bimbingan seorang suami itu sangat penting, hal itu karena suami mempunyai kedudukan sebagai seorang pemimpin keluarga, maka sudah sepantasnya para Jamaa’ah Tabliqh lebih mengutamakan.dakwah terhadap keluarga terlebih dahulu masyarakat sekitar.

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan tentang persepsi aktivis dakwah jamaa’ah tabligh terhadap nafkah rumah tangga yaitu konsep nafkah keluarga menurut hukum Islam sudah sesuai berupa nafkah, kiswah, dan tempat kediaman bagi istri, biaya rumah tangga, biaya perawatan, dan biaya pengobatan bagi istri dan anak, biaya pendidikan bagi anak. Pemenuhan kadar nafkahnya yang tidak sesuai, yang menyebabkan keluarga yang ditinggal menjadi kekurangan, dilihat dari faktor ekonomi maupun pendidikan keluarga. Dakwah lebih bersifat sunnah, sedangkan nafkah keluarga mutlak wajib. Masalah penafsiran terhadap al-Qur’an, dan al-sunnah terdapat perbedaan, ini yang menyebabkan praktek nafkah mereka berbeda dengan masyarakat pada umumnya.

B. Saran

Uraian yang telah dipaparkan sebelumnya maka penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut:

1. Bagi para istri anggota jama’ah tabligh hendaknya lebih terbuka dengan masyarakat umum, tidak terjadi salah faham antara satu dengan lainnya.

2. Bagi masyarakat umum hendaknya menerima keputusan mereka dan terbiasa dengan pola hidup yang mereka jalankan, selama itu tidak mengusik dan mengganggu ketentraman kehidupan masyarakat lain.

3. Untuk bidang keilmuan: dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan bacaan dan rujukan untuk penelitian selanjutnya.

DARTAR PUSTAKA

A. Mudjab Mahli, Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya Yogyakarta: Mitra, 2014 Abd. Rasyid Shaleh, Manajemen Dakwah Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1996 Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny, Kupas Tuntas Jamaah Tabligh, Jakarta:

Pustaka Nabawi, 2010

Abdurrahmat Fathoni, Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi, Jakarta: Rineka Cipta, 2006

Abu Muhamaad Bin Abduh. Kupas Tuntas Jamaah Tabligh 2, Bandung: Khoiru Ummat 2008

Abu Muhammad Fahim, Kedok Jama'ah Tabligh, (akarta: Yasa, 2009

Ali Hasan. Pedoman Hidup Berumah Tangga dalam Islam, Jakarta: Lantera, 2003 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Antara Fiqh

Munakahat dan Undang-undang perkawinan, Jakarta: Kencana, 2011 Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan

Penelitian Jogjakarta: Ar-Rus Media, 2011

Beni Ahmad Saebani, Metode Penelitian, Bandung: Pustaka Setia, 2008 Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta: Andi, 2005

Budimansyah, Gerakan Islam Ja’maah Tabligh Dalam Tinjauan Maqasid Al-Din, Jurnal Al“Adalah, Vol. X, No. 3, Januari 2012

Burhan Ashaf, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Reinika Cipta, 2004

Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial, (Surabaya: Airlangga University Press, 2001

Cik Hasan Bisri, Model Penelitian Agama dan Dinamika Sosial, Himpunan Rencana Penelitian, Jakarta: Raja Grafindo, 2002

Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, Bandung: Diponegoro, 2016 Erfani, “Implikasi Nafkah dalam Konstruksi Hukum Keluarga”, Jurnal 12, 2011 Husain bin Muhammad bin Ali Jabir, Menuju Jama’atul Muslimin, Jakarta:

Rabbani Press, 2005

Ichtiar Can Hoeve. Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT.Darul Falah, 1999

Kementerian Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Jakarta: Pusat Bahasa, 2016

Khalimi, Ormas-Ormas Islam (Sejarah AkarTeologi dan Politik), Jakarta: Gaung Persada Press, 2010

Lexy J. Moleong,. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya, 2013 Miftah Thoha, Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada, 2007

Mustafa Masyhur, Qudwah di jalan Dakwah, terjemah oleh Ali Hasan, Jakarta:

Citra Islami Press, 1999

Nasruddin Harahap. Dakwah dan Pengembangan Masyarakat, Yogyakatra:

Pustaka Pesantren 2011

Nugroho J Setiadi, Perilaku Konsumen: Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran, Jakarta: Prenada Media Group. 2003

Sudarsono Ardhana. Pokok-Pokok Ilmu Jiwa Umum.Jakarta: Raja Grafindo, 1993 Sugiono, Mamahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2014

Suhailah Zainul 'Abidin Hammad, Menuai Kasih Sayang di Tengah Keluarga Jakarta: Mustaqim, 2002

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:

Rineka Cipta, 2010

Sumadi Suryabrata, Metode Penelitian, Jakarta: Raja Grafindo, 2011

Sutrisno Hadi, Metode Research Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 1994 Syayyid Ahmad Al-Hasyimi, Syarah Mukhtaarul Ahaadits, Bandung: CV. Sinar

Baru. 1993

Tatik Suryani, Perilaku konsumen Implikasi pada strategi pemasaran, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008

Ujang Suwarman, Perilaku Konsumen: Teori Dan Penerapannya Dalam Pemasaran Edisi Kedua,Bogor: Ghalia Indonesia.,2011

Veithzal Rivai,Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2002

W.Gulo, Metodologi Penelitian, Jakarta: PT. Grasindo, 2005

Yahya Abdurrahman, (Red) Mujahidin Muhayan, Fikih Wanita Hami, Jakarta:

Qisthi Press, 2005

Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam di Indonesia Jakarta: Sinar Grafika, 2006 Zuhairi, Dkk. Pedoman Penulisan Skripsi Mahasiswa IAIN Metro, IAIN Metro

Tahun 2018

LAMPIRAN-LAMPIRAN

FOTO DOKUMENTASI

Foto 1. Wawancara dengan Bapak Zaki & Ibu Nurul, selaku Aktivis Jamaah Tabglih

Foto 2. Wawancara dengan Bapak Sefian & Ibu Ulfa, selaku Aktivis Jamaah Tabglih

Foto 3. Wawancara dengan Ibu Salamatun &

Tetangga Aktivis Jamaah Tabglih

Foto 4. Wawancara dengan Bapak Budi & Ibu Maya, selaku Aktivis Jamaah Tabglih

Dalam dokumen SKRIPSI - IAIN Repository - IAIN Metro (Halaman 81-118)

Dokumen terkait