(Nutrisioni s) Gizi
(Dietisien) 0,007
12 ATLM 0,31 0,354 0,354 0,28
13 Okupasi
Terapi 0,015 0,015
14 Terapis
wicara 0,015 0,015
Tabel 4.4 Perbandingan Target Rasio Tenaga Kesehatan Lainnya Per 1.000 Penduduk Dengan Pencapaian Rasio Tenaga Saat Ini
No Jenis tenaga kesehatan Ketetapan Rasio
Rasio Saat Ini (data SISDMK per 8 September 2022)
Rasio saat ini (data KKI/KTKI per 1 September 2022)
1 Dokter 1 0,32 0,58
2 Perawat 2,4 1,78 2,34
3 Bidan 2 1,00 1,63
4 Dokter Gigi 0,2 0,06 0,14
5 Apoteker 0,91 0,09 0,29
6 TTK 1 0,04 0,19
7 Kesmas
(Epidemiologi)
1 per RS Prov/Kab/Kota,
Dinkes Prov/Kab/Kota,
BTKL, KKP, Puskesmas
NA NA
8 Kesmas (Promkes)
1 per RS Prov/Kab/Kota,
Dinkes Prov/Kab/Kota,
BTKL, KKP, Posyandu Prima,
Puskesmas
NA NA
9 Kesling (Sanling) 0,21 0,07 0,09
10 Radiografer 0,18
11 Tenaga Gizi 0,35 0,11 0,14
12 ATLM 0,354 0,24 0,07
13 Okupasi Terapi 0,015 NA 0,01
14 Terapis wicara 0,015 NA 0,009
Gambar 4.32 Capaian Target Rasio Tenaga Kesehatan
Berikut adalah analisis terhadap sebaran berdasarkan provinsi pada masing- masing tenaga kesehatan di Indonesia mengacu pada data KKI/KTKI per September 2022.
4.2.1 Tenaga Dokter
Sebaran tenaga dokter yang belum merata masih menjadi masalah sekaligus tantangan di Indonesia. Secara umum, dokter telah ada di setiap provinsi, tetapi ketersediaan tersebut belum mencukupi kebutuhan di beberapa provinsi.
Proporsi tenaga dokter tertinggi adalah di Provinsi Jawa Barat (15,30%) dan tertinggi selanjutnya adalah DKI Jakarta (12,93%) dan Jawa Timur (11,57%).
Sementara itu, tiga provinsi dengan proporsi dokter terendah adalah Sulawesi Barat (0,13%), Kalimantan Utara (0,20%), dan Maluku Utara (0,22%).
Gambar 4.33 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Tahun 2022 Apabila dihitung dengan rasio terhadap populasi penduduk, provinsi DKI Jakarta (1,97 per 1.000 penduduk) memiliki rasio dokter lebih tinggi dibanding Jawa Barat (0,50 per 1.000 penduduk). Provinsi yang telah
mencapai target rasio dokter (1 per 1.000 penduduk) antara lain Bali (1,15 per 1.000 penduduk), DI Yogyakarta (1,12 per 1.000 penduduk), DKI Jakarta (1,97 per 1.000 penduduk), dan Sulawesi Utara (1,96 per 1.000 penduduk).
Sementara itu, provinsi dengan Rasio tenaga dokter terendah adalah Maluku Utara (0,276 per 1.000 penduduk), NTT (0,222 per 1.000 penduduk), dan Sulawesi Barat (0,145 per 1.000 penduduk).
Gambar 4.34 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Per 1.000 Penduduk di Indonesia Tahun 2022
4.2.2 Tenaga Dokter Gigi
Distribusi dari tenaga dokter gigi di Indonesia masih menumpuk di kota-kota besar serta provinsi yang padat penduduk. Sebagian besar proporsi tenaga dokter gigi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (15,9%), Jawa barat (15,3%), dan Jawa Timur (15,2%). Disisi lain, Provinsi seperti Maluku (0,2%), Sulawesi Barat (0,2%), Kalimantan Utara (0,2%), Gorontalo (0,2%), Papua Barat (0,2%), dan Maluku Utara (0,1%) memiliki proporsi tenaga dokter gigi yang sangat rendah.
Gambar 4.35 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Gigi Tahun 2022 Jika menggunakan target rasio dokter gigi yang sudah ditetapkan yaitu 0,2 dokter gigi per 1000 penduduk, provinsi yang sudah mencapai target rasio adalah Provinsi DKI Jakarta (0,60), DI Yogyakarta (0,33), Bali (0,31), Sulawesi Selatan (0,22), dan Sumatera Barat (0,21). Hal ini berkebalikan dengan fakta bahwa proporsi dokter gigi pada Jawa Barat dan Jawa Timur lumayan besar namun belum memenuhi target rasio yang ditetapkan.
Gambar 4.36 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Gigi Per 1.000 Penduduk di Indonesia Tahun 2022
4.2.3 Tenaga Perawat
Perawat merupakan tenaga kesehatan dengan akumulasi total terbesar dibanding tenaga kesehatan lainnya. Namun, ketidakmerataan tenaga perawat masih menjadi masalah di Indonesia. Tiga provinsi dengan proporsi tenaga perawat terbesar adalah Provinsi Jawa Timur (11,96%), Jawa tengah (11,94%), dan Jawa Barat (11,29%). Proporsi tenaga perawat yang terendah ada pada Provinsi Kalimantan Utara (0,32%). Namun, ketika ditinjau dengan menggunakan rasio terhadap populasi penduduk, rasio perawat tertinggi ada di Provinsi DKI Jakarta (6,298 per 1.000 penduduk), meskipun proporsi tenaga perawat di DKI Jakarta bukan yang tertinggi.
Gambar 4.37 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Perawat Tahun 2022
Secara umum, rasio tenaga perawat (2,4 per 1.000 penduduk) telah tercapai di beberapa Provinsi di Indonesia. Provinsi yang belum mencapai target rasio perawat antara lain: (1) Banten (1,288 per 1.000 penduduk); (2) Jawa Tengah (2,222 per 1.000 penduduk); (3) Jawa Barat (1,464 per 1.000 penduduk); (4) Jawa Timur (1,937 per 1.000 penduduk); (5) Kepulauan Riau (2,134 per 1.000 penduduk); (6) Lampung (1,679 per 1.000 penduduk); (7) Papua (1,628 per 1.000 penduduk); (8) Riau (1,578 per 1.000 penduduk); (9) Sumatera Selatan (2,335 per 1.000 penduduk); dan (10) Sumatera Utara (1,942 per 1.000 penduduk).
Gambar 4.38 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Perawat Per 1.000 Penduduk di Indonesia Tahun 2022
4.2.4 Tenaga Bidan
Proporsi untuk tenaga bidan di setiap provinsi dinilai lebih merata dan tidak terlalu berbeda jauh. Ini menandakan maldistribusi tidak terlalu masif dan perbedaan antar provinsi tidak terlalu signifikan. Provinsi dengan proporsi besar masih dipenuhi oleh provinsi di pulau jawa yaitu Jawa Barat (10,20%), Jawa Tengah (8,58%), dan Jawa Timur (10,42%). Namun, Provinsi di luar Pulau Jawa seperti Sulawesi Selatan (6,77%) Sumatera Selatan (4,77%) dan Sumatera Utara (8,94%) memiliki proporsi yang cukup besar. Walaupun provinsi memiliki proporsi yang cukup besar seperti Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Daerah tersebut belum memenuhi target rasio Tenaga Bidan. Sebaliknya, di beberapa provinsi dengan proporsi yang kecil seperti Gorontalo (0,57%), Kalimantan Utara (0,33%), Maluku Utara (0,77%), dan Sulawesi Barat sudah mencapai target rasio tenaga bidan per 1000 penduduk.
Gambar 4.39 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Bidan Tahun 2022 Provinsi yang belum mencapai target rasio tenaga kesehatan antara lain: Bali, Banten, D.I Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kep Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Papua, Papua Barat, Riau, dan Sulawesi Utara.
Gambar 4.40 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Bidan Per 1.000 Penduduk di Indonesia Tahun 2022
4.2.5 Tenaga Apoteker
Secara persebaran proporsi, terdapat penumpukan jumlah Apoteker di beberapa wilayah yaitu di Jawa Barat (19,27%), Jawa Tengah (14,53%), dan Jawa Timur (12,66%). Hal ini tampaknya menggambarkan maldistribusi Apoteker karena perbedaan signifikan jumlah Apoteker di provinsi lain.
Pencapaian target rasio Apoteker belum dicapai oleh seluruh provinsi, bahkan untuk provinsi dengan proporsi yang besar.
Gambar 4.41 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Apoteker Tahun 2022
Gambar 4.42 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Apoteker Per 1.000 Penduduk di Indonesia Tahun 2022
4.2.6 Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK)
Proporsi tenaga teknis kefarmasian yang besar terdapat pada Provinsi Jawa Timur (16,3%), Jawa Barat (12,8%), Gorontalo (10,9%) dan Kalimantan Barat (10,3%). Proporsi tenaga teknis kefarmasian sangat kecil berada pada bagian Indonesia timur yaitu Provinsi Maluku Utara (0,11%), Papua Barat (0,04%), dan Maluku (0,02%).
Gambar 4.43 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Teknis Kefarmasian Tahun 2022
Berdasarkan target rasio Tenaga Teknis Kefarmasian yang ditetapkan yaitu 1 TTK per 1000 penduduk, hanya 4 provinsi yang dapat memenuhi target rasio TTK yaitu Provinsi Gorontalo (4,7), Bengkulu (1,29), Sulawesi Tengah (1.04) dan Kalimantan Barat (1,03).
Gambar 4.44 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Teknis Kefarmasian Per 1.000 Penduduk di Indonesia Tahun 2022
4.2.7 Tenaga Epidemiologi (Tenaga Kesehatan Masyarakat)
Untuk tenaga epidemiologi, provinsi dengan proporsi tertinggi adalah provinsi Sulawesi Tenggara (16,2%), Jawa Tengah (12,0%), dan Sulawesi Selatan (10,7%). Meskipun Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan termasuk dalam provinsi dengan proporsi tenaga epidemiologi tertinggi kedua dan ketiga, kedua provinsi tersebut belum memenuhi kebutuhan tenaga epidemiologi di daerah masing-masing. Sementara itu, provinsi dengan proporsi tenaga epidemiologi terendah adalah Kepulauan Bangka Belitung (0,1%), Bengkulu (0,2%), dan Bali (0,3%).
Gambar 4.45 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Epidemiologi Tahun 2022
Provinsi yang telah memenuhi target rasio kebutuhan minimal tenaga epidemiologi yaitu 1 di setiap RS Provinsi, Kabupaten, Kota, Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten, Kota, BTKL, KKP, dan Puskesmas adalah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Gorontalo.
Gambar 4.46 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Epidemiologi Tahun 2022
4.2.8 Tenaga Promosi Kesehatan/Promkes (Tenaga Kesehatan Masyarakat) Untuk tenaga promosi kesehatan/promkes, provinsi dengan proporsi tertinggi adalah Jawa Tengah (15,1%), Jawa Barat (13,7%), dan Sumatera Utara (7,0%). Meskipun Jawa Barat termasuk dalam provinsi dengan proporsi tenaga promosi kesehatan tertinggi kedua, provinsi tersebut belum memenuhi kebutuhan tenaga promosi kesehatan di daerahnya. Sementara itu, provinsi dengan proporsi tenaga promosi kesehatan terendah adalah provinsi Papua Barat dan Kalimantan Utara (0,1%), serta Papua dan Sulawesi Barat (0,2%).
Gambar 4.47 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Promosi Kesehatan Tahun 2022
Provinsi yang kebutuhan promosi kesehatannya terpenuhi adalah Provinsi Bengkulu, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Provinsi Kalimantan Selatan, dan Provinsi Sulawesi Tenggara.
Provinsi padat penduduk justru belum terpenuhi kebutuhannya seperti DKI Jakarta dengan total kekurangan 254 promosi kesehatan, Jawa Barat dengan total kekurangan 121 promosi kesehatan, dan Jawa Timur dengan total kekurangan 615 promosi kesehatan. Hal ini menandakan kurangnya tenaga promosi kesehatan di Kota Besar
Gambar 4.48 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Promosi Kesehatan Tahun 2022
4.2.9 Tenaga Kesehatan Lingkungan
Ketidakmerataan sebaran tenaga juga terjadi untuk jenis tenaga kesehatan lingkungan. Provinsi dengan proporsi tenaga kesehatan lingkungan (sanitarian) terbanyak adalah Sumatera Utara (14,39%), Jambi (14,22%), dan Lampung (7,05%). Namun, jika dihitung dalam rasio tenaga kesehatan terhadap populasi, rasio tenaga kesehatan lingkungan (sanitarian) Kalimantan Utara ( 1,151 per 1.000 penduduk) lebih besar dibanding Sumatera Utara (0,272 per 1.000 penduduk). Rasio tenaga kesehatan lingkungan (sanitarian) terbesar tetap masih berada di Kalimantan Utara ( 1,151 per 1.000 penduduk) dan Jambi (1,105 per 1.000 penduduk). Sedangkan rasio tenaga kesehatan lingkungan (sanitarian) terendah adalah Banten (0,005 per 1000 penduduk), Sumatera Barat (0,009 per 1000 penduduk), dan Jawa Barat (0,012 per 1000 penduduk.
Gambar 4.49 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Kesehatan Lingkungan Tahun 2022
Sebaran provinsi yang telah memenuhi target rasio untuk tenaga kesehatan lingkungan (0,21 per 1.000 penduduk) pada tahun 2022 adalah Aceh, Gorontalo, Jambi, Kalimantan Utara, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sumatera Utara.
Gambar 4.50 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Kesehatan Lingkungan (Sanitarian) Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022
4.2.10 Tenaga Radiografer
Secara persebaran proporsi, terdapat penumpukan jumlah tenaga radiografer di beberapa wilayah di pulau jawa yaitu di DKI Jakarta (14,19%), Jawa Tengah (13,70%), dan Jawa Barat (13,19%). Hal ini tampaknya menggambarkan maldistribusi tenaga radiografer karena perbedaan signifikan jumlah tenaga radiografer di provinsi lain. Namun, pencapaian target rasio tenaga radiografer yang sudah ditetapkan (0,25 per 1.000 penduduk belum dicapai oleh seluruh provinsi, bahkan untuk provinsi dengan proporsi yang besar.
Gambar 4.51 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Radiografer Tahun 2022
Peta Rasio Nakes Radiografer, yang memenuhi target (>=0.18) ada 1 Provinsi yaitu DKI Jakarta. Selain DKI Jakarta, tidak memenuhi target.
Gambar 4.52 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Radiografer Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022
4.2.11 Tenaga Gizi
Provinsi dengan proporsi tenaga gizi terbanyak adalah Jawa Timur (11,4%), DKI Jakarta (11,00%) dan Jawa Tengah (9,83%). Sedangkan untuk rasio tenaga gizi terbesar adalah di Gorontalo (0,508 per 1.000 penduduk), DKI Jakarta (0,413 per 1.000 penduduk) dan Sulawesi Tenggara (0,404 per 1.000 penduduk). Sedangkan rasio tenaga gizi terendah adalah Banten (0,060 per 1.000 penduduk), Jawa Barat (0,067 per 1.000 penduduk) dan Kepulauan Riau (0,077 per 1.000 penduduk).
Gambar 4.53 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Gizi Tahun 2022
Provinsi yang telah mencapai target rasio tenaga gizi hanya beberapa provinsi saja yaitu Gorontalo, DKI Jakarta, Sulawesi Tenggara, dan DI Yogyakarta.
Gambar 4.54 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Gizi Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022
4.2.12 Tenaga ATLM
Secara umum, sebaran tenaga ATLM juga masih menunjukkan ketidakmerataan di berbagai provinsi di Indonesia. Provinsi dengan proporsi tenaga ATLM terbanyak adalah Jawa Barat (12,55%), Jawa Timur (11,75%) dan Jawa Tengah (11,08%). Sedangkan untuk rasio tenaga ATLM terbesar tetap masih berada di DKI Jakarta (0,557 per 1.000 penduduk), Bengkulu (0,477 per 1.000 penduduk) dan Maluku Utara (0,457 per 1.000 penduduk).
Sedangkan rasio tenaga ATLM terendah adalah Sulawesi Barat (0,125 per 1.000 penduduk), Banten (0,133 per 1.000 penduduk) dan Jawa Barat (0,167 per 1.000 penduduk).
Gambar 4.55 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga ATLM Tahun 2022 Provinsi yang sudah memenuhi target rasio tenaga ATLM (0,354 per 1.000 penduduk) pada tahun 2022 adalah DKI Jakarta, Bengkulu, Maluku Utara, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Selatan.
Gambar 4.56 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga ATLM Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022
4.2.13 Tenaga Okupasi Terapi
Distribusi tenaga okupasi terapi belum merata dan masih menjadi tantangan tersendiri di Indonesia. Sejauh ini, provinsi yang tidak memiliki tenaga
okupasi terapi adalah Gorontalo, Kalimantan Utara, Kepulauan Bangka Belitung, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Sulawesi Barat. Sementara itu, provinsi dengan proporsi tenaga okupasi terapi tertinggi adalah Jawa Tengah (32,9%), DKI Jakarta (20,3%), dan Jawa Barat (15,5%).
Gambar 4.57 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Okupasi Terapi Tahun 2022
Gambar 4.58 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Okupasi Terapi Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022
Apabila dihitung berdasarkan rasio terhadap jumlah penduduk, provinsi dengan rasio tenaga okupasi terapi tertinggi adalah DKI Jakarta (0,03432 per 1.000 penduduk). Rasio ini lebih tinggi daripada rasio tenaga okupasi terapi Jawa Tengah (0,01690 per 1.000 penduduk). Provinsi yang telah memenuhi target rasio tenaga okupasi terapi (0,015 per 1.000 penduduk) adalah DKI Jakarta (0,03432 per 1.000 penduduk) dan Jawa Tengah (0,01690 per 1.000 penduduk).
4.2.14 Tenaga Terapis Wicara
Untuk tenaga terapis wicara, provinsi dengan proporsi tertinggi adalah Jawa Tengah (32,43%), Jawa Barat (21,11%), dan DKI Jakarta (20,02%).
Sementara itu, provinsi dengan proporsi tenaga terapis wicara terendah adalah Gorontalo, Maluku Utara, Kalimantan Utara, Papua, Papua Barat, dan Sulawesi Tenggara dengan masing-masing proporsi 0%. Artinya, hingga tahun 2022, kedua provinsi tersebut belum memiliki tenaga terapis wicara.
Namun, apabila dilihat dengan rasio terhadap jumlah penduduk, rasio tenaga terapis wicara Jawa Tengah (0,0172) lebih besar dibanding Jawa Barat (0,0078) tetapi lebih kecil dibanding DKI Jakarta (0,0348). Provinsi DKI Jakarta memiliki rasio tenaga terapis wicara tertinggi dibanding provinsi yang lain, lalu disusul dengan Jawa Tengah (0,0172), DI Yogyakarta (0,0140), dan Sumatera Barat (0,0110). Sementara itu, rasio tenaga terapis wicara terendah ada pada provinsi-provinsi dengan proporsi tenaga terapis wicara 0%.
Gambar 4.59 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Terapis Wicara Tahun 2022
Provinsi yang telah memenuhi target rasio tenaga terapis wicara (0,015 per 1.000 penduduk) adalah DKI Jakarta (0,0348) dan Jawa Tengah (0,0172 per 1.000 penduduk).
Gambar 4.60 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Terapis Wicara Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022