#A7AD01
SAMBUTAN
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Sehat dan Damai Sejahtera Bagi Kita Semua. Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah menganugerahkan kesehatan dan kebahagiaan bagi kita semua.
Tenaga kesehatan merupakan elemen terpenting dalam terlaksananya upaya kesehatan yang komprehensif. Pengelolaan tenaga kesehatan meliputi upaya: perencanaan, pengadaan, pendayagunaan, pembinaan dan pengawasan Tenaga Kesehatan.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2019 tentang
Pengelolaan Tenaga Kesehatan, pada pasal 9 dinyatakan bahwa perencanaan tenaga kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah disusun untuk jangka waktu 1 (satu), 5 (lima), dan 25 (dua puluh lima) tahun. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 33 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Kebutuhan Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK), bahwa perencanaan tenaga kesehatan diselenggarakan sebagai upaya sistematis untuk dasar pelaksanaan kegiatan pengadaan, pendayagunaan, pembinaan dan pengawasan tenaga kesehatan, serta bertujuan untuk menghasilkan rencana kebutuhan SDMK yang tepat meliputi jenis, jumlah, dan kualifikasi sesuai kebutuhan organisasi berdasarkan metode yang sesuai dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan. Perencanaan tersebut dilaksanakan melalui perhitungan kebutuhan yang dapat dilakukan dengan Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK Kes), Standar Ketenagaan Minimal (SKM), serta “Ratio Penduduk” yakni Rasio Tenaga Kesehatan terhadap Jumlah Penduduk di suatu wilayah.
Target rasio tenaga kesehatan diperlukan untuk merumuskan perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan jangka menengah maupun jangka panjang di level nasional.
Tahun 2022, dengan adanya transformasi kesehatan diperlukan adanya penghitungan target rasio tenaga kesehatan yang dilanjutkan dengan penghitungan proyeksi tenaga kesehatan berdasarkan supply demand yang mengakomodir perubahan-perubahan yang terjadi pada pelayanan kesehatan baik primer, rujukan, dan tersier. dalam hal ini penghitungan target rasio dilakukan dengan metodologi Data Envelopment Analysis (DEA) yang dirasakan cukup efektif dalam proses penghitungan target rasio yang terbaik.
Dokumen Target Rasio Tenaga Kesehatan dapat dimanfaatkan dengan baik bagi semua pemangku kepentingan/stake holder yang membutuhkan dan menjadi bahan acuan kebijakan di tingkat nasional dan bermanfaat bagi pembangunan kesehatan secara sistematis. Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi hingga diterbitkannya dokumen ini. Semoga Allah SWT selalu memberikan balasan atas kebaikan dan memberikan kemudahan serta perlindungan kepada kita semua.
Syukur Alhamdulillah, dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat, taufik serta hidayah dari-Nya, Dokumen Target Rasio Tenaga Kesehatan dapat disusun dengan baik.
Pada Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Tenaga Kesehatan, dinyatakan bahwa perencanaan tenaga kesehatan digunakan sebagai acuan sistematis untuk dasar pelaksanaan, kegiatan pengadaan,
pendayagunaan, serta pembinaan dan pengawasan tenaga kesehatan. Perencanaan tenaga kesehatan secara teknis memastikan bahwa jumlah tenaga kesehatan yang tersedia dalam wilayah tertentu tersedia sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, memiliki keterampilan yang sesuai standar kompetensinya, dan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat untuk memberikan layanan yang tepat kepada mereka yang membutuhkan.
Tenaga Kesehatan memiliki peran sangat besar dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, sehingga masyarakat dapat mencapai derajat kesehatan setinggi-tingginya. Perumusan kebijakan tenaga kesehatan membutuhkan perencanaan berbasis bukti untuk merasionalisasi pengambilan keputusan.
Penetapan nilai rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk memproyeksikan kebutuhan jumlah tenaga kesehatan, sehingga dapat tergambarkan dengan baik kondisi tenaga kesehatan di masa sekarang dan masa mendatang. Target Rasio Tenaga Kesehatan diperlukan untuk merumuskan perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan jangka menengah maupun jangka panjang di level nasional. Tahun 2022, dengan adanya Transformasi Kesehatan diperlukan adanya penghitungan target rasio tenaga kesehatan yang dilanjutkan dengan penghitungan proyeksi tenaga kesehatan berdasarkan supply demand yang mengakomodir perubahan-perubahan yang terjadi pada pelayanan kesehatan baik primer, rujukan, dan tersier.
Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penghitungan target rasio tenaga kesehatan, penyusunan dan penyelesaian Dokumen Target Rasio Tenaga Kesehatan.
Dokumen ini dapat menjadi salah satu bahan acuan kebijakan di tingkat nasional.
Jakarta, 6 Desember 2022
Direktur Perencanaan Tenaga Kesehatan
Dr. Sugiyanto, M.App.Sc
KATA PENGANTAR
TIM PENYUSUN
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 2
TIM PENYUSUN 3
DAFTAR ISI 4
DAFTAR GAMBAR 8
DAFTAR TABEL 11
BAB I
PENDAHULUAN 12
1.1. Latar Belakang 13
1.2. Tujuan 14
1.3. Ruang Lingkup 16
1.4. Dasar Hukum 16
1.5. Keterbatasan 18
1.6. Sistematika Penulisan 19
BAB II
METODOLOGI PENGHITUNGAN TARGET RASIO TENAGA KESEHATAN 20
2.1 Tahapan Penetapan Target Rasio Tenaga Kesehatan 21
2.2 Perhitungan Target Rasio Tenaga Kesehatan dengan Metode DEA 21 2.3 Dialog Deliberatif Penetapan Target Rasio dengan Organisasi Profesi 23 2.4 Benchmarking Perhitungan Rasio Tenaga Kesehatan di Dunia 24 2.4.1 Rasio Tenaga Medis (Dokter, Dokter Gigi, dan Dokter Spesialis) 24
2.4.2 Rasio Tenaga Perawat dan Bidan 27
2.4.3 Rasio Tenaga Kesehatan Lainnya 28
2.5 Rasio Tenaga Kesehatan di Indonesia 30 BAB III
HASIL PENGHITUNGAN TARGET RASIO TENAGA KESEHATAN 31
3.1. Hasil Penghitungan Target Rasio Dokter Spesialis 32
3.1.1. Dokter Spesialis Anak 32
3.1.2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam 33
3.1.3. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi 34
3.1.4. Dokter Spesialis Bedah 35
3.1.5. Dokter Spesialis Anestesi 37
3.1.6. Dokter Spesialis Patologi Klinik 38
3.1.7. Dokter Spesialis Patologi Anatomi 39
3.1.8. Dokter Spesialis Radiologi 41
3.1.9. Dokter Spesialis BTKV 42
3.1.10. Dokter Spesialis Paru 43
3.1.11. Dokter Spesialis Urologi 45
3.1.12. Dokter Spesialis Saraf 46
3.1.13. Dokter Spesialis Bedah Saraf 47
3.1.14. Dokter Spesialis Onkologi Radiasi 48
3.1.15. Dokter Spesialis Jantung Pembuluh Darah 50
3.1.16. Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir 51
3.2. Hasil Penghitungan Rasio Tenaga Kesehatan Lainnya di Indonesia 53
3.2.1. Dokter 53
3.2.2. Dokter Gigi 54
3.2.3. Perawat 55
3.2.4. Bidan 56
3.2.5. Tenaga Apoteker 58
3.2.6. Tenaga Teknis Kefarmasian 59
3.2.7. Tenaga Kesehatan Masyarakat 60
3.2.8. Tenaga Kesehatan Lingkungan 61
3.2.9. Tenaga Radiografer 62
3.2.10. Tenaga Gizi 63
3.2.11. Tenaga Ahli Teknologi Laboratorium Medis 64
3.2.12. Tenaga Okupasi Terapi 65
3.2.13. Tenaga Terapis Wicara 66
BAB IV 68
ANALISIS RASIO TENAGA KESEHATAN 68
4.1 Analisis Rasio Tenaga Spesialis 69
4.1.1 Analisis Rasio Tenaga Dokter Spesialis 69
4.1.1.1 Dokter Spesialis Anak 75
4.1.1.2 Dokter Spesialis Penyakit Dalam 76
4.1.1.3 Dokter Spesialis Obsgyn 78
4.1.1.4 Dokter Spesialis Bedah 79
4.1.1.5 Dokter Spesialis Anestesi 81
4.1.1.6 Dokter Spesialis Patologi Klinik 82
4.1.1.7 Dokter Spesialis Patologi Anatomi 84
4.1.1.8 Dokter Spesialis Radiologi 86
4.1.1.9 Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler 87
4.1.1.10 Dokter Spesialis Paru 88
4.1.1.11 Dokter Spesialis Urologi 90
4.1.1.12 Dokter Spesialis Saraf 92
4.1.1.13 Dokter Spesialis Bedah Saraf 94
4.1.1.14 Dokter Spesialis Onkologi Radiasi 95
4.1.1.15 Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah 95
4.1.1.16 Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir 97
4.2 Analisis Rasio Tenaga Kesehatan Lainnya 99
4.2.1 Tenaga Dokter 101
4.2.3 Tenaga Perawat 104
4.2.4 Tenaga Bidan 105
4.2.5 Tenaga Apoteker 107
4.2.6 Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) 108
4.2.7 Tenaga Epidemiologi (Tenaga Kesehatan Masyarakat) 109 4.2.8 Tenaga Promosi Kesehatan/Promkes (Tenaga Kesehatan Masyarakat) 111
4.2.9 Tenaga Kesehatan Lingkungan 112
4.2.10 Tenaga Radiografer 114
4.2.11 Tenaga Gizi 115
4.2.12 Tenaga ATLM 116
4.2.13 Tenaga Okupasi Terapi 117
4.2.14 Tenaga Terapis Wicara 119
4.3 Pertimbangan Produksi Tenaga Kesehatan 120
BAB V
REKOMENDASI TARGET RASIO TENAGA KESEHATAN DI INDONESIA 124 5.1. Rekomendasi Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis 125 5.2. Rekomendasi Target Rasio Tenaga Kesehatan Lainnya 125 5.3. Rekomendasi Dalam Upaya Pencapaian Rasio Tenaga Kesehatan 126 BAB VI
PENUTUP 128
DAFTAR PUSTAKA 130
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Tahapan Penetapan Target Rasio Tenaga Kesehatan 19 Gambar 4.1 Ketercapaian Rasio Dokter Spesialis Terhadap 1.000 Penduduk Tahun
2022 71
Gambar 4.2 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Spesialis Anak
Tahun 2022 73
Gambar 4.3 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis Anak Per
1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 74
Gambar 4.4 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Spesialis
Penyakit Dalam Tahun 2022 75
Gambar 4.5 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis Penyakit
Dalam Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 75
Gambar 4.6 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Spesialis Obsgyn
Tahun 2022 76
Gambar 4.7 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis Obsgyn Per
1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 77
Gambar 4.8 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Spesialis Bedah
Tahun 2022 78
Gambar 4.9 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis Bedah Per
1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 78
Gambar 4.10 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Spesialis
Anestesi Tahun 2022 79
Gambar 4.11 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis Anestesi
Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 80
Gambar 4.12 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Spesialis
Patologi Klinik Tahun 2022 81
Gambar 4.13 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis Patologi
Klinik Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 81
Gambar 4.14 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Spesialis
Patologi Anatomi Tahun 2022 82
Gambar 4.15 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis Patologi
Anatomi Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 83
Gambar 4.16 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Spesialis
Radiologi Tahun 2022 84
Gambar 4.17 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis Radiologi
Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 85
Gambar 4.18 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Spesialis Bedah
Toraks Kardiovaskuler (BTKV) Tahun 2022 85
Gambar 4.19 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler (BTKV) Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 86
Gambar 4.20 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Spesialis Paru
Tahun 2022 87
Gambar 4.21 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis Paru Per
1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 88
Gambar 4.22 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Spesialis
Urologi Tahun 2022 89
Gambar 4.23 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis Urologi
Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 90
Gambar 4.24 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Spesialis Saraf
Tahun 2022 91
Gambar 4.25 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis Saraf Per
1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 91
Gambar 4.26 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Spesialis Bedah
Saraf Tahun 2022 92
Gambar 4.27 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis Bedah
Saraf Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 93
Gambar 4.28 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Spesialis
Jantung Pembuluh Darah Saraf Tahun 2022 94
Gambar 4.29 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis Jantung
Pembuluh Darah Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 95 Gambar 4.30 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Spesialis
Kedokteran Nuklir Tahun 2022 95
Gambar 4.31 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Spesialis
Kedokteran Nuklir Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 96
Gambar 4.32 Capaian Target Rasio Tenaga Kesehatan 99
Gambar 4.33 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Tahun 2022 99 Gambar 4.34 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Per 1.000
Penduduk di Indonesia Tahun 2022 100
Gambar 4.35 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Dokter Gigi Tahun
2022 101
Gambar 4.36 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Dokter Gigi Per 1.000
Penduduk di Indonesia Tahun 2022 101
Gambar 4.37 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Perawat Tahun 2022 102 Gambar 4.38 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Perawat Per 1.000
Penduduk di Indonesia Tahun 2022 103
Gambar 4.39 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Bidan Tahun 2022 104 Gambar 4.40 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Bidan Per 1.000 Penduduk
di Indonesia Tahun 2022 104
Gambar 4.41 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Apoteker Tahun 2022 105 Gambar 4.42 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Apoteker Per 1.000
Penduduk di Indonesia Tahun 2022 105
Gambar 4.43 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Teknis Kefarmasian
Tahun 2022 106
Gambar 4.44 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Teknis Kefarmasian Per
1.000 Penduduk di Indonesia Tahun 2022 107
Gambar 4.45 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Epidemiologi Tahun
2022 108
Gambar 4.46 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Epidemiologi Tahun 2022 108 Gambar 4.47 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Promosi Kesehatan
Tahun 2022 109
Gambar 4.48 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Promosi Kesehatan Tahun
2022 110
Gambar 4.49 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Kesehatan Lingkungan
Tahun 2022 111
Gambar 4.50 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Kesehatan Lingkungan
(Sanitarian) Per 1.000 Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 111 Gambar 4.51 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Radiografer Tahun
2022 112
Gambar 4.52 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Radiografer Per 1.000
Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 113
Gambar 4.53 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Gizi Tahun 2022 114 Gambar 4.54 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Gizi Per 1.000 Penduduk
Di Indonesia Tahun 2022 114
Gambar 4.55 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga ATLM Tahun 2022 115 Gambar 4.56 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga ATLM Per 1.000
Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 115
Gambar 4.57 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Okupasi Terapi Tahun
2022 116
Gambar 4.58 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Okupasi Terapi Per 1.000
Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 116
Gambar 4.59 Distribusi Proporsi dan Capaian Rasio Tenaga Terapis Wicara Tahun
2022 117
Gambar 4.60 Pemetaan Pencapaian Target Rasio Tenaga Terapis Wicara Per 1.000
Penduduk Di Indonesia Tahun 2022 118
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Rasio dokter dan dokter gigi per 1.000 penduduk 22
Tabel 2.2 Rasio Dokter Spesialis Per 1000 Penduduk 23
Tabel 2.3 Rasio Perawat Dan Bidan Per 1.000 Penduduk 25
Tabel 2.4 Rasio Tenaga Kesehatan Lainnya Per 1.000 Penduduk 26
Tabel 2.5 Rasio Tenaga Kesehatan Indonesia 28
Tabel 4.1 Perbandingan Rasio Tenaga Dokter Spesialis Terhadap 1.000 Penduduk
Dengan Berbagai Rujukan 68
Tabel 4.2 Perbandingan Rasio Tenaga Dokter Spesialis Terhadap 1.000 Penduduk
Dengan Berbagai Rujukan 69
Tabel 4.3 Perbandingan Rasio Tenaga Kesehatan Terhadap 1.000 Penduduk dengan
Berbagai Rujukan 97
Tabel 4.4 Ketercapaian Rasio Tenaga Kesehatan Terhadap 1.000 Penduduk Tahun
2022 98
Tabel 4.5 Estimasi Kebutuhan Tenaga Kesehatan Pada Tahun 2022, 2025 dan 2030 119
1.1. Latar Belakang
Tenaga kesehatan merupakan komponen esensial dalam sebuah sistem kesehatan. Sistem kesehatan tidak dapat berfungsi tanpa dukungan tenaga kesehatan yang memadai. Ketersediaan tenaga kesehatan yang memadai berkorelasi positif yang sangat kuat dengan jangkauan pelayanan kesehatan dan outcome kesehatan. World Health Organization (WHO) mendefinisikan tenaga kesehatan sebagai individu yang terlibat dalam tindakan yang tujuan utamanya adalah untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan. Secara umum, tenaga kesehatan dapat terdiri dari penyedia layanan kesehatan dan manajemen kesehatan serta tenaga pendukung. Menurut Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, tenaga kesehatan didefinisikan sebagai individu yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Penyediaan tenaga kesehatan harus disertai dengan kemampuan untuk memeratakan distribusi, akses, kinerja dan produktivitas. Agar dapat memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan secara jumlah, distribusi maupun kompetensi diperlukan perencanaan tenaga kesehatan yang baik.
Pada Peraturan Pemerintah Nomor 67 tahun 2019 tentang Pengelolaan Tenaga Kesehatan, perencanaan tenaga kesehatan digunakan sebagai acuan sistematis untuk dasar pelaksanaan, kegiatan pengadaan, pendayagunaan, serta pembinaan dan pengawasan tenaga kesehatan. Perencanaan tenaga kesehatan secara teknis memastikan bahwa jumlah tenaga kesehatan yang tersedia dalam wilayah tertentu tersedia sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, memiliki keterampilan yang sesuai standar kompetensinya, dan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat untuk memberikan layanan yang tepat kepada mereka yang membutuhkan. Perumusan kebijakan tenaga kesehatan membutuhkan perencanaan berbasis bukti untuk merasionalisasi pengambilan keputusan. Penetapan nilai rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk memproyeksikan kebutuhan jumlah tenaga kesehatan. Nilai ambang batas (threshold) rasio tenaga kesehatan per 1.000 penduduk sebelumnya telah dirumuskan dalam dokumen Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan (RPTK)
DOKUMEN TARGET RASIO TENAGA KESEHATAN 13
Tahun 2011-2025. Perubahan lingkungan termasuk agenda Millenium Development Goals (MDGs) yang berkembang selanjutnya menjadi Sustainable Development Goals (SDGs), serta perkembangan kebutuhan pelayanan kesehatan secara nasional secara umum menuntut penyesuaian terhadap ambang batas rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk.
Penyesuaian dalam ambang batas rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk juga terjadi secara global. Dalam Laporan Kesehatan Global 2006 oleh WHO menunjukkan bahwa densitas tenaga kesehatan adalah minimal 2,3 tenaga kesehatan terampil (dokter/perawat/bidan) per 1.000 penduduk untuk dapat mencapai cakupan minimal 80% pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan. Lebih dari 10 tahun, ambang batas rasio tersebut telah menjadi acuan bagi berbagai negara untuk memperhatikan dan mendukung pengembangan tenaga kesehatan guna mencapai tujuan pembangunan kesehatan. Namun, penetapan ambang batas rasio tersebut belum mempertimbangkan berbagai pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat terutama dalam mencapai target-target dalam SDGs termasuk cakupan pelayanan penyakit menular dan penyakit tidak menular.
Untuk merespon kebutuhan Universal Health Coverage (UHC), International Labor Organization (ILO) mengembangkan perhitungan untuk identifikasi ambang batas rasio tenaga kesehatan yang dilaporkan dalam The World Social Security Report 2010-2011 dengan memperoleh angka ambang batas rasio adalah 3,4 tenaga kesehatan per 1.000 penduduk yang selanjutnya angka tersebut diperbaharui menjadi 4,1 tenaga kesehatan per 1.000 penduduk.
WHO juga merespon target agenda SDGs yang berdasarkan dua belas indikator terpilih termasuk pelayanan penyakit tidak menular, penyakit menular dan pelayanan kesehatan reproduksi, ibu, maternal, bayi dan anak, untuk menghitung ambang batas rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk. Angka yang diperoleh adalah 4,45 per 1.000 penduduk dengan asumsi untuk dapat mencapai 80% cakupan pada dua belas indikator terpilih SDGs.
Perubahan dinamika seperti pertumbuhan penduduk, supply tenaga kesehatan, perubahan kebijakan serta regulasi dalam mendukung transformasi kesehatan yang terjadi pada tingkat global maupun nasional, maka pemerintah perlu melakukan penyesuaian terhadap target rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk.
1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Tersedianya hasil perhitungan target rasio enam belas dokter spesialis dan empat belas jenis tenaga kesehatan lainnya di Indonesia.
1.2.2. Tujuan Khusus
1. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis anak per 1.000 penduduk.
2. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis penyakit dalam per 1.000 penduduk.
3. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis obgyn per 1.000 penduduk.
4. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis bedah per 1.000 penduduk.
5. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis anestesi per 1.000 penduduk.
6. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis patologi klinik per 1.000 penduduk.
7. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular (BTKV) per 1.000 penduduk.
8. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis jantung pembuluh darah per 1.000 penduduk.
9. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis radiologi per 1.000 penduduk.
10. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis kedokteran nuklir per 1.000 penduduk.
11. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis paru per 1.000 penduduk.
12. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis urologi per 1.000 penduduk.
13. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis onkologi radiasi per 1.000 penduduk.
14. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis patologi anatomi per 1.000 penduduk.
15. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis saraf per 1.000 penduduk.
16. Diperolehnya target rasio tenaga dokter spesialis bedah saraf per 1.000 penduduk.
17. Diperolehnya target rasio dokter per 1.000 penduduk.
18. Diperolehnya target rasio dokter gigi per 1.000 penduduk.
19. Diperolehnya target rasio tenaga perawat per 1.000 penduduk.
20. Diperolehnya target rasio tenaga bidan per 1.000 penduduk.
21. Diperolehnya target rasio tenaga apoteker per 1.000 penduduk.
22. Diperolehnya target rasio tenaga tenaga teknis kefarmasian (TTK) per 1.000 penduduk.
23. Diperolehnya target rasio tenaga epidemiologi per 1.000 penduduk.
24. Diperolehnya target rasio tenaga promosi kesehatan per 1.000 penduduk.
25. Diperolehnya target rasio tenaga sanitasi lingkungan per 1.000 penduduk.
26. Diperolehnya target rasio tenaga gizi per 1.000 penduduk.
27. Diperolehnya target rasio tenaga ahli teknologi laboratorium medik (ATLM) per 1.000 penduduk.
28. Diperolehnya target rasio tenaga radiografer per 1.000 penduduk.
29. Diperolehnya target rasio tenaga okupasi terapi per 1.000 penduduk.
30. Diperolehnya target rasio tenaga terapi wicara per 1.000 penduduk 1.3. Ruang Lingkup
Dokumen target rasio tenaga kesehatan ini memuat hasil perhitungan rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk untuk 16 jenis dokter spesialis serta 14 jenis tenaga kesehatan lainnya. Hasil perhitungan target rasio ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi perencanaan tenaga kesehatan kedepannya.
1.4. Dasar Hukum
1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 - 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
4. Undang-undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
5. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi;
6. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran;
7. Undang-Undang Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara;
8. Undang-Undang Nomor 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa;
9. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
10. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 20141 Nomor 298, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5607);
11. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan;
12. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2019 tentang Kebidanan;
13. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja;
14. Peraturan Pemerintah Nomor 52 tahun 2017 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran;
15. Peraturan Pemerintah Nomor 2 tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal;
16. Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2018 tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja;
17. Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Tenaga Kesehatan;
18. Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Perumahsakitan;
19. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 193);
20. Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024;
21. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Okupasi Terapis;
22. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 80 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Fisioterapis;
23. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 tahun 2014 tentang Klinik;
24. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 81 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Terapi Wicara;
25. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Tugas Belajar SDM Kesehatan
26. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 33 tahun 2015 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Kebutuhan SDM Kesehatan;
27. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 80 tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2013 tentang Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan
28. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 90 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kawasan Terpencil dan Sangat Terpencil
29. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2016 tentang Program Percepatan Peningkatan Kualifikasi Pendidikan Tenaga Kesehatan
30. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan
31. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2017 tentang Apotek;
32. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 tahun 2017 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan
33. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 40 Tahun 2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur Kesehatan
34. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 26 tahun 2019 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 38 tahun 2014 tentang Keperawatan
35. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35 tahun 2019 tentang Wahana Pendidikan Bidang Kesehatan
36. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 tahun 2019 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat;
37. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 83 tahun 2019 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan
38. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 tahun 2020 tentang Kualifikasi dan Perizinan Rumah Sakit
39. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 26 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas
40. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 27 Tahun 2021 tentang Program Afirmasi Pendidikan Tinggi Tenaga Kesehatan
41. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 34 Tahun 2021 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Klinik
42. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 13 Tahun 2022 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan
43. Peraturan Bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 61 tahun 2014, Nomor 68 Tahun 2014, dan Nomor 08/SKB/MenPAN-RB/10/2014, tentang Perencanaan dan Pemerataan Tenaga Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Milik Pemerintah Daerah;
44. Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 5 Tahun 2019 tentang Tata Cara Pelaksanaan Mutasi;
45. Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.01.07-MENKES-316-2020 tentang Standar Profesi Radiografer.
46. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/3648/2021 tentang Standar Profesi Terapis Wicara
47. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor 54 Tahun 2013 tentang Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan tahun 2011-2025.
1.5. Keterbatasan
Penetapan target rasio tenaga kesehatan disusun berdasarkan ketersediaan data 16 dokter spesialis dan 14 tenaga kesehatan lainnya yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan, Kementerian Kesehatan, dan pemangku kepentingan lainnya. Adapun perhitungan untuk tenaga kesehatan lainnya belum dapat dilakukan karena keterbatasan data yang tersedia.
1.6. Sistematika Penulisan
Dokumen target rasio tenaga kesehatan ini terdiri dari lima bab yang disusun secara sistematis untuk memudahkan pembaca memahami kesinambungan langkah penyusunan target rasio tenaga kesehatan. Susunan dan deskripsi isi dari setiap bab adalah sebagai berikut:
BAB I. Pendahuluan : Menyajikan justifikasi yang melatarbelakangi urgensi penyusunan dokumen, tujuan, ruang lingkup, landasan hukum serta keterbatasan yang dimiliki dalam menyusun dokumen.
BAB II. Metodologi : Menyajikan metode dan benchmarking yang digunakan dalam proses perumusan perhitungan penetapan target rasio tenaga kesehatan dengan merujuk pada beberapa referensi hasil perhitungan.
BAB III. Hasil perhitungan
Menyajikan hasil perhitungan rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk yang ditetapkan sebagai rujukan dalam melakukan pemenuhan tenaga kesehatan untuk 16 jenis dokter spesialis serta 14 jenis tenaga kesehatan lainnya.
BAB IV. Analisis : Menyajikan interpretasi dan kajian empirik terkait dengan hasil perhitungan target rasio tenaga kesehatan.
BAB V.
Rekomendasi
Menyajikan rekomendasi yang aplikatif dalam mengoptimalisasi penerapan target rasio tenaga kesehatan di Indonesia.
DOKUMEN TARGET RASIO TENAGA KESEHATAN 20
2.1 Tahapan Penetapan Target Rasio Tenaga Kesehatan
Penetapan target rasio tenaga kesehatan dilakukan melalui empat tahapan yaitu: 1) Perhitungan target rasio berdasarkan data envelopment analysis (DEA); 2) Usulan dari organisasi profesi; 3) pencarian nilai pembanding (benchmarking) nilai rasio tenaga kesehatan di beberapa negara maju dan negara berkembang; 4) kesepakatan target rasio. Tahapan kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk akuntabilitas scientific dalam menghitung target rasio tenaga kesehatan (Gambar 2.1).
Gambar 2.1. Tahapan Penetapan Target Rasio Tenaga Kesehatan 2.2 Perhitungan Target Rasio Tenaga Kesehatan dengan Metode DEA
Dalam perhitungan dari target rasio tenaga kesehatan, beberapa opsi perhitungan dapat dilakukan. Untuk studi ini sendiri, pemilihan metodologi dalam studi sendiri secara umum didasari oleh perbandingan tiga metodologi utama: i) regresi multivariat; ii) data envelopment analysis (DEA); serta iii) stochastic frontier analysis (SFA). Dalam praktiknya, masing-masing metodologi memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing yang perlu dipertimbangkan.
Sebagai contoh, dalam konteks penggunaan metodologi regresi multivariat, beberapa kelebihan yang dimiliki oleh metode yang umum digunakan ini adalah di antaranya, parameterisasi yang jelas akan berapa peningkatan variabel outcome atau target, untuk masing-masing variabel bebas (termasuk di dalamnya rasio tenaga
DOKUMEN TARGET RASIO TENAGA KESEHATAN 21
kesehatan), sehingga interpretasi dari kebutuhan tambahan tenaga kesehatan dapat mudah dihasilkan. Metode ini juga dapat mempertimbangkan variabel-variabel yang bersifat kontrol/karakteristik, artinya sebuah kondisi yang sulit dicapai dengan menggunakan dua pendekatan alternatif di atas (DEA maupun SFA)1.
Meski demikian, penggunaan regresi multivariat memiliki beberapa kelemahan yang perlu dipertimbangkan, di antaranya yang utama adalah hubungan dan signifikansi variabel input pada variabel output/outcome yang dapat kontradiktif.
Hal ini dapat menghasilkan estimasi di mana, sebagai contoh, rasio tenaga kesehatan untuk spesialisasi tertentu berhubungan negatif signifikan terhadap angka capaian yang ingin dicapai, sehingga berimplikasi perlunya rasio tenaga kesehatan justru dikurangi secara drastis (hal ini juga dapat ditemui dalam perhitungan SFA).
Sementara itu, DEA secara umum digunakan sebagai alat benchmarking yang mengevaluasi populasi DMU (decision making unit) dalam kinerjanya dalam mengubah input menjadi output. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengidentifikasi provinsi yang paling efektif mengubah input menjadi output. Unit- unit ini terletak di perbatasan efektivitas.
DEA adalah metode non-parametrik untuk melihat efisiensi/kinerja dari proses dari input hingga menghasilkan output, secara relatif terhadap observasi lain dalam perhitungan. Observasinya bisa berupa perusahaan, personel, unit kerja, lembaga dan lain-lain. Dalam DEA, bisa digunakan multi-input dan multi-output secara bersamaan di dalam model. DEA dapat dikerjakan dalam berbagai software statistic seperti Microsoft Excel, STATA, R, Python, MATLAB, dll2.
Dengan mempertimbangkan beberapa kelebihan dan kelemahan dari masing- masing metodologi, penggunaan DEA menjadi salah satu opsi yang memiliki fisibilitas yang baik, dikarenakan beberapa faktor. Pertama, DEA dapat mengakomodir data sampel yang kecil. Kedua, DEA dapat digunakan untuk melakukan estimasi multi-input dan multi-output. Hal ini berguna dalam konteks di mana ada kebutuhan di depan di mana rasio tenaga kesehatan tertentu dianggap relevan untuk lebih dari satu variabel output/capaian sebagai target. Lebih lanjut, salah satu karakteristik utama yang membuat penggunaan DEA menjadi salah satu metodologi utama dalam studi adalah asumsi bahwa setiap variabel input berkontribusi non-negatif terhadap peningkatan variabel output/capaian sebagai target.
Dalam penggunaannya, DEA sendiri menghasilkan “ranking” atau penilaian akan unit analisis mana (sebagai contoh, desa mana, individu mana, perusahaan mana, kabupaten kota mana, dll) yang menggunakan input yang mereka dengan paling efisien guna menghasilkan output/capaian tertentu. Penilaian kinerja tersebut diperhitungkan sebagai parameter “theta” dari setiap unit analisis. Dalam studi ini,
1Thore, S. and Tarverdyan, R. (2022). Beyond Gross Domestic Product. Measuring Sustainable Development Goals Performance, [online] pp.101–114. doi:10.1016/b978-0-323-90268-7.00001-3
2Laboratory Binus. (2019). Data Envelopment Analysis (DEA). [online] Available at:
https://bbs.binus.ac.id/bbslab/2019/11/data-envelopment-analysis-dea/ [Accessed 15 Sep. 2022]
DEA dilaksanakan pada level unit analisis kabupaten kota, di mana data dari baik variabel input (termasuk rasio tenaga kesehatan di dalamnya) dan variabel output/capaian tersedia secara konsisten.
Dengan demikian, perhitungan rasio tenaga kesehatan yang lebih relevan untuk setiap kabupaten kota diperhitungkan dengan mempertimbangkan jarak dari level kinerja (theta) masing-masing daerah kepada titik optimumnya.
Secara umum, berikut tiga manfaat yang diperoleh dari pengukuran efisiensi dengan DEA, diantaranya: i) pertama, sebagai tolak ukur untuk memperoleh efisiensi relatif yang berguna untuk mempermudah perbandingan antar unit ekonomi yang sama; ii) kedua, mengukur berbagai variasi efisiensi antar unit ekonomi untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebabnya; iii) ketiga, menentukan implikasi kebijakan sehingga dapat meningkatkan tingkat efisiensinya.
Lebih lanjut, beberapa studi kasus terdahulu juga telah memperhitungkan tingkat optimal dari kebijakan dengan menggunakan DEA. Sebagai contoh, Jin dkk (2018)3 menggunakan DEA untuk menentukan besaran pajak karbon berdasarkan input pendapatan pemerintah dari pajak karbon dan pengeluaran pemerintah untuk program ramah lingkungan, serta output adalah emisi karbon di lingkungan. Dalam studi lain, Duompos dan Cohen (2014)4 menggunakan DEA untuk menentukan efisiensi dari penggunaan anggaran pada pemerintah daerah (di Yunani) dengan input dana transfer pemerintah pusat dan pendapatan daerah, serta output adalah level pengeluaran pemerintah daerah. Lebih lanjut, Zbranek (2013)5 menggunakan DEA untuk menentukan kinerja pegawai berdasarkan input-input berupa faktor-faktor motivasi bekerja (gaji, kondisi kantor, dan tunjangan), dan multi-output level motivasi kerja, kepuasan kerja, dan komitmen ke perusahaan.
2.3 Dialog Deliberatif Penetapan Target Rasio dengan Organisasi Profesi
Deliberatif dialog merupakan sebuah pendekatan metodologi yang digunakan untuk melakukan serangkaian diskusi untuk mengintegrasikan dan menginterpretasikan scientific dan contextual evidence untuk membantu pengembangan kebijakan6. Dialog deliberatif dinilai dapat menjadi faktor kunci yang berimplikasi pada bukti nyata dalam pembuatan kebijakan karena melibatkan interaksi antara peneliti dan pembuat kebijakan. Dialog deliberatif dapat memfasilitasi penyampaian nilai, tujuan, dan kepentingan pemangku kebijakan.
3Jin, M., Shi, X., Emrouznejad, A. and Yang, F., (2018). Determining the optimal carbon tax rate based on data envelopment analysis. Journal of Cleaner Production, 172, pp.900-908.
4Doumpos, M. and Cohen, S., (2014). Applying data envelopment analysis on accounting data to assess and optimize the efficiency of Greek local governments. Omega, 46, pp.74-85.
5Zbranek, P., (2013). Data envelopment analysis as a tool for evaluation of employees’ performance. Acta Oeconomica et Informatica, 16(394-2016-24293), pp.12-21.
6Lavis, J. N., Boyko, J. A., & Gauvin, F.-P. (2014). Evaluating deliberative dialogues focussed on healthy public policy. BMC Public Health, 14(1), 1287. doi:10.1186/1471-2458-14-1287
Dalam proses penetapan rasio tenaga kesehatan per 1.000 penduduk dilakukan melalui serial pertemuan dan diskusi dengan organisasi profesi. Tujuannya adalah untuk menjembatani kepentingan antara organisasi profesi dan pembuat kebijakan.
Serial pertemuan dan diskusi tersebut menghimpun berbagai masukan, saran, dan pandangan sekaligus exercising data untuk menghasilkan kesepakatan rasio tenaga kesehatan per 1.000 penduduk dengan mempertimbangkan variabel-variabel terkait.
2.4 Benchmarking Perhitungan Rasio Tenaga Kesehatan di Dunia
Dalam laporan ini penulis melakukan benchmarking terkait dengan rasio tenaga kesehatan di beberapa negara. Untuk tenaga kesehatan dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga gizi, dan radiografer, kami melakukan benchmarking terhadap 7 negara: Britania Raya (United Kingdom – UK), Amerika Serikat (AS), Norwegia, Thailand, Singapura, dan India. Sedangkan untuk dokter spesialis, kami melakukan benchmarking terhadap 5 Negara: Britania Raya (United Kingdom – UK), Amerika Serikat (AS), Norwegia, Thailand, dan Singapura.
Akibat keterbatasan data tidak seluruh tenaga kesehatan dapat dilakukan benchmarking dengan negara lainnya.
2.4.1 Rasio Tenaga Medis (Dokter, Dokter Gigi, dan Dokter Spesialis) 2.4.1.1 Dokter dan Dokter Gigi
Tabel 2.1. Rasio dokter dan dokter gigi per 1.000 penduduk Jenis tenaga
kesehatan UK US Aus- tralia
Nor- wegia
Thai- land
Singa-
pura India
Dokter 3,00 2,61 4,13 5,05 0,95 2,60 0,74
Dokter Gigi 0,54 0,61 0,62 0,90 0,27 0,40 0,16
Sumber: diolah dari berbagai macam sumber.
Data tahun 2020, atau tahun terakhir yang tersedia
Indikator yang digunakan dalam membandingkan rasio ketersediaan dokter adalah medical doctors per 10.000 population (WHO, 2022)7 dan doctor per 1.000 population (Ministry of Health Singapore, 2022)8 untuk Singapura. Sedangkan untuk melihat kondisi ketersediaan dokter gigi, indikator yang digunakan adalah dentist per 1.000 population untuk Singapura (Ministry of Health Singapore, 2022) dan dentists per 10.000 population (WHO, 2022b)9 untuk enam negara lainnya. Dari tabel di atas, seluruh negara maju yang dijadikan benchmark dalam studi ini, UK, US, Australia, Norwegia, dan Singapura, memiliki rasio dokter per penduduk lebih dari 1 per 1.000 penduduk, atau rasio yang direkomendasikan oleh WHO. Sedangkan
7 World Health Organization. (2022a). Medical doctors (per 10 000 population). The Global Health Observatory.
8 Ministry of Health Singapore. (2022). Healthcare Workforce Statistics
9 World Health Organization. (2022b). Dentists (per 10 000 population). The Global Health Observatory.
rasio dokter di Thailand dan India, sebagai negara berkembang, masih berada dibawah rasio yang disarankan oleh WHO. Untuk dokter gigi, rasio dokter gigi di Britania Raya, Amerika Serikat, Australia, dan Norwegia lebih dari 0,5 per 1.000 penduduk, sedangkan Singapura hanya memiliki dokter gigi 0,4 per 1.000 penduduk, lebih rendah dibandingkan dengan empat negara maju lainnya. Membandingkan antar negara, Norwegia memiliki rasio dokter dan dokter gigi yang paling tinggi (dokter 5,05/1.000 penduduk dan dokter gigi 0,9/1.000 penduduk).
Sedangkan rasio dokter dan dokter gigi di India merupakan yang terendah di antara tujuh negara yang dijadikan sebagai pembanding.
Jumlah penduduk yang besar dapat menjadi salah satu penyebab ketimpangan kondisi antara negara maju dengan negara berkembang.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2020, jumlah penduduk di Norwegia adalah 5.379.475, sedangkan penduduk India adalah 1.380.004.385, atau sekitar 257 kali lebih besar dibandingkan penduduk Norwegia(World Bank, 2022)10. Hal ini juga dapat menjadi indikasi jika permasalahan kekurangan dokter dan dokter gigi, tidak hanya terjadi di Indonesia.
Melainkan menjadi permasalahan yang umum ditemui di negara berkembang lainnya.
2.4.1.2 Dokter Spesialis
Tabel 2.2 Rasio Dokter Spesialis Per 1.000 Penduduk
Dokter Spesialis UK US Aus- tralia
Nor- wegia
Singa- pura
Spesialis Obstetri Ginekologi (Sp.OG)
0,08 0,13 0,09 0,16 0,06
Spesialis Bedah (Sp.B) 0,28 0,27 0,25 0,62 0,17 Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) 0,20 0,37 0,47 0,42 0,03 Spesialis Anak (Sp.A) 0,12 0,18 0,08 0,16 0,08 Spesialis Anestesiologi (Sp.An) 0,20 0,13 0,22 0,23 0,09 Spesialis Patologi Klinik (Sp.PK)
dan Spesialis Patologi Anatomi (Sp.PA)
0,06 0,04 0,09 0,06 0,03
10 World Bank. (2022). World Development Indicators. World Development Indicators.
Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular (Sp.BTKV)
0,02 0,01 0,02 0,04 0,01
Spesialis Radiologi (Sp.Rad) 0,12 0,09 0,11 0,19 0,07 Spesialis Jantung dan Pembuluh
Darah (Sp.JP)
0,05 0,07 0,06 0,10 0,05
Spesialis Kedokteran Nuklir (Sp.KN)
0,00 - 0,01 0,01 0,01
Spesialis Paru (Sp.P) 0,04 0,02 0,03 0,05 0,03 Spesialis Urologi (Sp.U) 0,03 0,03 0,02 0,04 0,02 Spesialis Saraf (Sp.S) 0,02 0,04 0,03 0,10 0,02 Spesialis Bedah Syaraf (Sp.BS) 0,01 0,02 0,01 0,02 0,01
Sumber: diolah penulis dari berbagai macam sumber.
Data tahun 2020, atau tahun terakhir yang tersedia
Tabel diatas menunjukkan rasio 15 dokter spesialis per 1.000 penduduk di lima negara, yakni Britania Raya, Amerika Serikat, Australia, Norwegia, dan Singapura. Data tersebut didapatkan dari konsil kedokteran kelima negara tersebut (Association of American Medical Colleges, 2022; Australian Health Practitioner Regulation Agency Medical Board, 2022; General Medical Council, 202211; Den Norske Legeforeningen, 202212; Singapore Medical Council, 2021)131415. Dalam benchmarking ini kami menggabungkan dokter Spesialis Patologi Klinik (Sp.PK) dan Spesialis Patologi Anatomi (Sp.PA) dikarenakan hampir seluruh negara tersebut hanya mempublikasikan data jumlah dokter spesialis patologi. Dari kelima negara tersebut, secara umum Norwegia memiliki rasio dokter spesialis per 1000 penduduk yang tertinggi.
Seperti contoh, Norwegia memiliki 0,16 dokter spesialis Obstetri Ginekologi per 1.000 penduduk. Angka tersebut merupakan dua kali rasio dokter spesialis Obstetri Ginekologi di Britania Raya dan 2,6 kali rasio di Singapura. Tingginya jumlah dokter spesialis atau tenaga kesehatan secara umum di Norwegia juga tercermin di dalam kualitas
11 General Medical Council. (2022). Key stats from the medical register. Retrieved October 5, 2022, from Key stats from the medical register
12 Den Norske Legeforeningen. (2022). Spesialister./
13 Association of American Medical Colleges. (2022). Physician Specialty Data Report.
14 Australian Health Practitioner Regulation Agency Medical Board. (2022). Registration Data Statistics.
15 Singapore Medical Council. (2021). Singapore Medical Council Annual Report 2020.
layanan kesehatan mereka. Seperti contoh, berdasarkan laporan dari European Commission (2020)16, tingkat kesembuhan kanker di Norwegia merupakan salah satu yang tertinggi di Eropa dan tingkat kematian dari penyakit yang dapat dicegah dan diobati (mortality from treatable and preventable causes) merupakan yang terendah di Eropa.
Dikarenakan keterbatasan data, kami tidak mendapatkan data rasio dokter spesialis di India dan Thailand, sehingga tidak dapat dilakukan benchmarking dengan negara berkembang lainnya.
2.4.2 Rasio Tenaga Perawat dan Bidan
Tabel 2.3 Rasio Perawat Dan Bidan Per 1.000 Penduduk
Jenis tenaga kesehatan UK US
Aus- tralia
Nor- wegia
Thai- land
Singa-
pura India
Perawat 8,46
15,69
12,26 18,01
3,15 7,40 1,75
Bidan 0,49 0,80 0,55
Sumber: diolah dari berbagai macam sumber.
Data tahun 2020, atau tahun terakhir yang tersedia
Dalam melakukan benchmarking ketersediaan tenaga perawat dan bidan, indikator yang digunakan adalah practising nurses per 1.000 population untuk perawat dan practising midwifes per 1000 population untuk bidan untuk Britania Raya, Australia, dan Norwegia (Organisation for Economic Co- operation and Development, 2022)17. Sedangkan untuk empat negara lainnya menggunaan indikator nursing and midwifery personnel per 10.000 population dari WHO ( 2022c)18. Perbedaan penggunaan indikator tersebut disebabkan karena tidak semua negara melaporkan jumlah perawat dan bidan secara terpisah. Berdasarkan tabel di atas, Norwegia rasio jumlah perawat dan bidan tertinggi dibandingkan dengan enam negara lainnya (18,01 per 1.000 penduduk untuk perawat dan 0,55 per 1.000 penduduk untuk bidan). Secara umum, negara-negara maju memiliki jumlah rasio perawat dan bidan lebih dari 7 per 1.000 penduduk. India, salah satu negara berkembang yang dijadikan benchmark, memiliki rasio terendah, yakni 1,75 perawat dan bidan per 1.000 penduduk. Hal ini kembali mengindikasikan jika negara berkembang mengalami kekurangan tenaga kesehatan.
16 European Commission. (2020). State of Health in the EU: Norway Country Health Profile 2019.
17 Organisation for Economic Co-operation and Development. (2022). Health Care Resources.
18 World Health Organization. (2022c). Nursing and midwifery personnel (per 10 000 population). The Global Health Observatory.
2.4.3 Rasio Tenaga Kesehatan Lainnya
Tabel 2.4 Rasio Tenaga Kesehatan Lainnya Per 1.000 Penduduk
Jenis tenaga kesehatan UK US
Aus- ralia
Nor- wegia
Thai- land
Sing-
pura India
Farmasi 0,84 - 0,90 0,88 0,63 0,60 0,87
Kesehatan Masyarakat - - - - 0,57 - 0,80
Gizi 0,18 0,19 0,28 0,15 0,06 - -
Radiografer 0,41 0,65 0,34 0,59 - 0,31 -
Sumber: diolah dari berbagai macam sumber.
Data tahun 2020, atau tahun terakhir yang tersedia
Tabel di atas menunjukkan empat tenaga kesehatan lainnya, farmasi, kesehatan masyarakat, gizi, dan radiografer, yang kami bandingkan dengan negara lainnya. Dalam laporan ini, kami menggunakan beberapa indikator sebagai berikut:
1. Tenaga farmasi: pharmacists per 10.000 population (WHO, 2022d)19 dan pharmacist per 1.000 population untuk Singapura (Ministry of Health Singapore, 2022);
2. Tenaga kesehatan masyarakat: number of community health workers (WHO, 2022e)20;
3. Tenaga gizi: nutrition professionals density (per 100.000 population) (WHO, 2022f)21 tahun 2017;
4. Radiografer: Britania Raya dan Norwegia menggunakan indikator radiographers/inhabitants (European Society of Radiology, 2022)22 pada tahun 2012, Australia menggunakan indikator dari jumlah anggota Australian Society of Medical Imaging and Radiation Therapy (ASMIRT, 2022) pada tahun 202123, Amerika Serikat menggunakan menggunakan indikator radiologic technologists and technicians employment (United States Bureau Of Labor Statistics, 2022)24 pada tahun 2021, dan Singapura menggunakan indikator number of
19 World Health Organization. (2022d). Pharmacists (per 10 000 population). The Global Health Observatory.
20 World Health Organization. (2022e). Community Health Workers (number). The Global Health Observatory.
Retrieved October 5, 2022,
21 World Health Organization. (2022f). Nutrition Landscape Information System (NLiS).
22 European Society of Radiology. (2022). Human Resources. Retrieved October 5, 2022
23 Australian Society of Medical Imaging and Radiation Therapy. (2022). Australian Society of Medical Imaging and Radiation Therapy Annual Report. Melbourne.
24 United States Bureau Of Labor Statistics. (2022). Occupational Employment and Wage Statistics.
diagnostic radiographers and radiation therapists registered (Allied Health Professions Council, 2008) pada tahun 201725.
Selain empat tenaga kesehatan diatas, kami tidak dapat melakukan benchmarking untuk tenaga kesehatan lainnya dikarenakan keterbatasan data.
Melihat secara detail, untuk tenaga kesehatan masyarakat, tidak semua negara melaporkan jumlah tenaga kesehatan komunitas kepada WHO, hanya Thailand dan India yang memiliki data tenaga kesehatan komunitas. India memiliki 0,8 tenaga kesehatan komunitas per 1.000 penduduk dan Thailand memiliki 0,57 per 1.000 penduduk. Berdasarkan yang penelitian yang dilakukan oleh Perry, Zulliger, & Rogers, (2014)26, mayoritas kegiatan yang terkait tenaga kesehatan komunitas berada di negara berkembang. Sehingga, konteks benchmarking dengan negara berkembang lainnya lebih sesuai dilakukan untuk tenaga kesehatan masyarakat.
Australia memiliki rasio tenaga farmasi dan gizi tertinggi diantara negara lainnya, yakni 0,9 per 1.000 penduduk dan 0,28 per 1.000 penduduk.
Berdasarkan laporan dari The Pharmacy Guild of Australia (2018)27, rata-rata penduduk Australia mengunjungi farmasi 14 kali dalam setahun dan berdasarkan farmasi merupakan pekerjaan dengan tingkat kepercayaan tertinggi, Bersama dengan dokter dan perawat. Hal tersebut menjadikan tenaga farmasi di Australia merupakan salah satu tenaga kesehatan yang cukup penting.
Tabel di atas juga menunjukkan ketimpangan rasio tenaga gizi di negara maju dan negara berkembang. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Australia memiliki rasio tenaga gizi tertinggi. Hal yang berbeda terjadi dengan Thailand, dimana hanya ada 0,06 tenaga gizi per 1.000 penduduk. Sama seperti dokter, dokter gigi, perawat, dan bidan, hal ini menguatkan argumen jika negara berkembang mengalami kekurangan tenaga kesehatan dalam jumlah yang memadai. Namun demikian, hal ini agar dapat diinterpretasikan secara hati-hati, karena ada yang tersedia hanya pada tahun 2017. Kondisi ini juga mengindikasikan jika kedepannya, studi benchmarking dilakukan berdasarkan konteks setiap tenaga kesehatan, dikarenakan perbedaan karakteristik.
Sedangkan untuk benchmarking radiografer, kami tidak dapat menemukan satu indikator yang tersedia di seluruh negara, sehingga kami menggunakan berbagai macam indikator seperti yang sudah disebutkan pada paragraf sebelumnya. Berdasarkan data tersebut, Amerika Serikat memiliki
25 Allied Health Professions Council. (2008). Supplement to the Annual Report 2016: The Registration Of Diagnostic Radiographers & Radiation Therapists.
26 Perry, H. B., Zulliger, R., & Rogers, M. M. (2014). Community health workers in low-, middle-, and high- income countries: An overview of their history, recent evolution, and current effectiveness. Annual Review of Public Health, 35, 399–421.
27 The Pharmacy Guild of Australia. (2018). Vital facts on community pharmacy.
rasio radiografer tertinggi, yakni 0,65 per 1.000 penduduk. Sementara itu, Singapura memiliki jumlah radiografer terendah diantara kelima negara lainnya, yakni 0,31. Namun demikian, dikarenakan ketersedian data pada periode yang berbeda, perbandingan tersebut perlu dilakukan dengan lebih hat- hati. Hal ini juga semakin menguatkan argumen jika studi benchmarking dapat difokuskan untuk setiap tenaga kesehatan sendiri dikarenakan perbedaan karakteristik dan ketersediaan data untuk setiap tenaga kesehatan.
2.5 Rasio Tenaga Kesehatan di Indonesia
Saat ini Rasio Tenaga Kesehatan yang digunakan sebagai acuan merujuk pada beberapa referensi, antara lain:
Tabel 2.5 Rasio Tenaga Kesehatan Indonesia
Tenaga Kesehatan
RPTK Kemenkokesra
No 54 Tahun 2013
Bappenas 2018 (Unpublish)
Studi Pelayanan JKN (Unpublish) Urban Rural
Dokter Spesialis 0,12 0,28 0,09 0,06
Dokter Umum 0,5 1,12 0,44 0,24
Dokter Gigi 0,14 0,11 0,125 0,125
Perawat 2 1,58 2 1,76
Bidan 1,3 0,75 1,2 1,16
Apoteker 0,15 0,84 0,164 0,164
TTK 0,3 0,84 0,164 0,164
Kesmas 0,18 0,63- 0,09 0,09
Kesling 0,2 - 0,052 0,052
Gizi 0,18 0,56 0,132 0,132
Radiografer 0,18 - - -
ATLM 0,06 0,28 - -
-
DOKUMEN TARGET RASIO TENAGA KESEHATAN 31
Dalam upaya pemenuhan tenaga kesehatan khususnya tenaga medis, salah satu langkah awal yang penting adalah dengan merencanakan target rasio tenaga kesehatan.
Penentuan target rasio ini didasari pada kebutuhan tenaga medis di masyarakat yang akan menangani masalah atau penyakit yang terjadi, dan pentingnya pemenuhan kebutuhan tersebut. Selanjutnya, penentuan target rasio ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk penyediaan dan pendayagunaan tenaga medis yang akan bekerja untuk masyarakat dengan optimal dalam meningkatkan kesembuhan dan kesehatan masyarakat.
3.1. Hasil Penghitungan Target Rasio Dokter Spesialis 3.1.1. Dokter Spesialis Anak
Dokter anak adalah dokter yang merawat bayi baru lahir, anak-anak, remaja, dan dewasa muda. Dokter anak memainkan peran penting dalam kesehatan dan kesejahteraan anak Anda. Mereka memiliki tanggung jawab yang luas mulai dari melakukan pemeriksaan kesehatan anak secara teratur hingga mendiagnosis dan mengobati penyakit, cedera, dan kondisi kesehatan lainnya28.
Dokter anak adalah dokter yang berfokus pada kesehatan bayi, anak- anak, remaja, dan dewasa muda. Perawatan pediatrik dimulai saat lahir dan berlangsung hingga ulang tahun ke-21 anak atau lebih lama. Dokter anak mencegah, mendeteksi, dan mengelola masalah fisik, perilaku, dan perkembangan yang memengaruhi anak-anak. Beberapa dokter anak bekerja dalam praktik umum. Lainnya mengkhususkan diri dalam merawat anak- anak dengan kondisi kesehatan tertentu.
Dokter anak memiliki tanggung jawab yang luas. Mereka melakukan segalanya mulai dari melakukan pemeriksaan bayi dengan baik hingga mengelola kondisi medis kronis. Dokter anak memberikan perawatan pencegahan dan juga mendiagnosis dan mengobati infeksi, cedera, dan
28 Cleveland Clinic (2021) What is a doctor of internal medicine, or internist?, ACP. Available at:
https://www.acponline.org/acp-newsroom/what-is-a-doctor-of-internal-medicine-or-internist (Accessed: October 28, 2022).
DOKUMEN TARGET RASIO TENAGA KESEHATAN 32
penyakit. Saat ini terdapat 5226 Spesialis Anak di Indonesia menurut data KKI per 1 September 2022.
a. Gambaran Masalah Spesialis Anak
Meningkatnya jumlah dan jenis penyakit anak dan balita berimplikasi pada pelayanan kesehatan anak dan balita yang harus dilakukan oleh dokter spesialis anak. Maka, kebutuhan atas dokter spesialis anak turut meningkat. Namun, distribusi dokter spesialis anak belum adil dan merata. Maka, pemerataan tenaga kesehatan menjadi hal yang sangat penting agar tenaga kesehatan tidak menumpuk di kota-kota besar.
b. Hasil penghitungan DEA
Setelah dilakukan perhitungan DEA dengan mempertimbangkan variabel input serta variabel output maka didapati hasil rasio 0,155 Spesialis Anak per 1000 penduduk.
c. Pertimbangan OP, Kolegium, Konsil
Organisasi profesi Ikatan Dokter Anak Indonesia – IDAI, mengusulkan rasio untuk dokter spesialis anak yang sama dengan perhitungan DEA yaitu sebesar 0,06 spesialis anak per 1000 anak dan jika dikonversikan menjadi 0,024 per 1000 penduduk.
d. Kesepakatan
Rasio tenaga kesehatan spesialis Anak yang disepakati adalah sebesar 0,024 per 1000 penduduk.
3.1.2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Dokter penyakit dalam adalah spesialis yang menerapkan pengetahuan ilmiah dan keahlian klinis untuk diagnosis, pengobatan, dan perawatan penuh kasih orang dewasa di seluruh spektrum dari kesehatan hingga penyakit kompleks. Mereka sangat terlatih dalam mendiagnosis masalah medis yang membingungkan, dalam perawatan berkelanjutan untuk penyakit kronis, dan dalam merawat pasien dengan lebih dari satu penyakit.
Dokter penyakit dalam juga berspesialisasi dalam promosi kesehatan dan pencegahan penyakit. Dokter penyakit dalam dapat disebut "internis",
"internis umum", dan "dokter penyakit dalam"29.
Dokter Penyakit Dalam secara rutin memeriksa pasien dengan kondisi kronis seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes, obesitas, dan penyakit paru. Seorang dokter penyakit dalam dapat berkonsultasi dengan dokter di bidang kedokteran lain, atau dapat dipanggil untuk berkonsultasi pada pasien oleh spesialis lain.
29 Acponline.org. (2021). What is a Doctor of Internal Medicine, or Internist? | ACP
Newsroom | ACP.