• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Sarana Prasarana

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR ANALISIS KOTA DAN DAERAH (Halaman 106-116)

3. HASIL

3.2. Analisis Wilayah

3.2.4. Analisis Sarana Prasarana

Sekolah Dasar

Pendidikan sekolah dasar adalah jenjang Pendidikan terendah Pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan, keterampilan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk tinggal dan mempersiapkan siswa untuk memenuhi persyaratan untuk masuk ke Pendidikan menengah (Sumantri,2003). Jenjang Pendidikan harus dimiliki di seluruh wilayah secara merata begitu pula di Kabupaten Bandung.

Berdasarkan dari data diagram batang yang telah disajikan diketahui bahwa beberapa kecamatan memiliki jumlah sarana Pendidikan yang lebih sedikit disbanding kecamtan lainnya. Kecamata Cangkuang dan Cilengkrang memiliki jumlah sekolah tingkat dasar kurang dari 20 sekolah pada tahun 2011 – 2016 dengan sedikit peningkatan jumlah sekolah sampai tahun 2020.

Sdangkan pada Kecamatan Pangalengan, Paseh, Rancaekek, Majalaya, Ciparay dan Baleendah memiliki jumlah sarana Pendidikan dengan jumlah lebih dari 60 sekolah, tetapi pada beberapa tahun mengalami penurunan sarana Pendidikan di kelima kecamatan tersebut. Pada proyeksi Peta

98

Persebaran Sekolah Dasar kabupaten bandung Tahun 2022 menunjukkan persebaran sarana mengelompok pada wilayah bagian utara sedangkan bagian selatan jarang. Hal ini menunjukkan bahwa pemerataan jumlah sarana Pendidikan tingkat dasar belum merata di beberapa kecamatan di Kabupaten Bandung.

Sekolah Menengah Pertama

Sekolah Menengah Pertama (SMP) merupakan jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal di Indonesia (Badan Standar Nasional Pendidikan). SMP dapat ditempuh setelah lulus dari Sekolah Dasar (atau sederajat). Ketersediaan sarana Pendidikan sekolah menengah pertama sangat penting sama halnya dengan sarana Pendidikan dasar untuk memenuhi kebutuhan Pendidikan masyarakat disuatu wilayah termasuk Kabupaten Bandung.

Berdasarkan data diagram batang yang telah disajikan diketahui ada beberapa kecamatan yang memiliki jumlah sarana Pendidikan SMP kurang dari 5 sarana sekolah yaitu kecamatan ciwidey, Cangkuang dan Kutawaringin walaupun jumlah tersebut meningkat pada tahun 2020, dengan artian pada kecamatan tersebut ada evaluasi untuk meningkatkan kualitas Pendidikan melalui penambahan sarana sekolah. Berbanding terbalik dengan kecamatan Ciparay yang memiliki lebih dari 20 sarana Pendidikan SMP dan tiga kecamatan lainnya seperti Kecamatan Pacet, Rancaekek dan Baleendah yang memiliki jumlah sarana Pendidikan lebih dari 15 sekolah pada tahun 2020. Ditinjukkan pada Peta Persebaran SMP Kabupaten Bandung Tahun 2022 terlihat bahwa persebaran SMP juga mengelompok di bagian utara (atas) hal ini menunjukkan bahwa wilayah Kabupaten Bandung bagian bawah (peta) memiliki sarana Pendidikan yang sedikit, hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa factor seperti akses jalan raya dan jumlah penduduk.

Sekolah Menengah Akhir

Sekolah Menengah Akhir (SMA) merupakan lanjutan dari jenjang Pendidikan SMP, sama halnya dengan SMP dan SD Pendidikan jenjang SMA juga penting. Sarana Pendidikan yang tersedia harus merata termasuk di Kabupaten Bandung. Berdasaarkan data diagram batang yang telah tersaji sarana pendidikaan SMA paling banyak berada di Kecamatan Ciparay

99

dengan jumlah lebih dari 10 sarana Pendidikan dan jumlah paling sedikit terletak di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Pasir Jambu, Ngagreg, Katapang dan Kutawaringin dengan jumlah satu sarana Pendidikan pada tiap kecamatan. Begitu pula yang ditunjukkan pada Peta Persebaaran SMA Kabupaten Bandung Tahun 2022 pusat dari sarana Pendidikan berada di bagian atas (pada peta).

3.2.4.2. Sarana Kesehatan

Upaya peningkatan Kesehatan suatu wilayah dalam sarana dan pelayanan Kesehatan. Kesehatan merupakan salah satu tolak ukur dari pebangunan kesejahteraan masyarakat Indonesia tak terkecuali di Kabupaten Bandung. Berdasarkan UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Jumlah dan pemerataan sarana Kesehatan harus di perhatikan dalam pembangunan suatu wilayah. Berdasarkan Peta Persebaran Rumah Sakit dan Puskesmas Kabupaten Bandung Tahun 2022 sarana Kesehatan berpusat di wilayah bagian tengah. Cangkupan wilayah yang mengelompok di bagian tengah akan menyulitkan wilayah pinggir untuk medapatkan akses pelayanan Kesehatan. Penambahan jumlah sarana Kesehatan diperlukan terutama di bagian wilayah yang tidak atau belum memiliki sarana Kesehatan.

3.2.4.3. Sarana Perdagangan

Kebutuhan sarana perdagangan yang menjadi pusat kegiatan adalah pasar. Kebutuhan pasar akan meningkat seiring dengan jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan Peta Persebaran Pasar Kabupaten Bandung Tahun 2022 menunjukkan setiap kecamatan memiliki setidaknya satu pasar guna memenuhi kebutuhan harian masyarakat. Titik lokasi pasar cenderung berada di bagian utara sedangkan pada bagian selatan kabupaten lokasi pasar jarang atau sedikit, hal ini menunjukkan bahwa pusat perekonomian Kabupaten Bandung masih terpusat di bagian utara. Faktor factor yang mempengaruhi hal tersebut antara lain ketersediaan bahan baku, mobilitas perekonomian penduduk, dan sarana transportasi.

100 3.2.5. Analisis Keruangan/Tata Ruang

3.2.5.1. Perencanaan Pola Ruang

Gambar 3.2.5.8 Peta Perencanaan Pola Ruang Kabupaten Bandung

Pola ruang yang digunakan di Kabupaten Bandung terdapat 10 kategori, antara lain Cagar Alam, Hutan Lindung, Hutan Produksi Terbatas, Kawasan Perikanan, Kawasan Pemukiman, Kawasan Peruntukan Industri, Peternakan, Taman Buru, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam. Berdasarkan peta perencanaan pola ruang Kabupaten Bandung ini didominasi oleh Kawasan Pemukiman dan pada kawasan bagian utara berpusat lebih banyak dibandingkan dengan di kawasan bagian selatan. Kawasan Peruntukan Industri hanya tersebar di kawasan bagian utara karena daerah tersebut merupakan daerah datar sehingga digunakan untuk aktivitas masyarakat. Pengembangan kawasan peruntukan perindustrian di Kabupaten Bandung dilakukan dengan pengembangan sentra industri kecil dan menengah yang dilengkapi fasilitas pengelolaan lingkungan yang memadai, khususnya untuk industri kecil dan menengah yang bergerak dalam bidang washing berupa IPAL Gabungan di Kecamatan Kutawaringin dan Kecamatan Rancaekek. Pengembangan kawasan pariwisata Kabupaten Bandung diarahkan pada kegiatan ekowisata, agrowisata, wisata pendidikan dan wisata olahraga.

3.2.5.2. Perencanaan Struktur Ruang

101

Gambar 3.2.5.9 Peta Perencanaan Pola Ruang Kabupaten Bandung

Peta perencanaan struktur ruang di Kabupaten Bandung ini menjelaskan mengenai pusat kegiatan, pengolahan air limbah, jaringan drainase, jaringan persampahan, jaringan infrastruktur transportasi, jaringan listrik, jaringan telekomunikasi, system irigasi, dan rencana struktur transportasi. Pemetaan perencanaan struktur ruang ini sebagai pendukung kegiatan social-ekonomi yang sangat berhubungan secara fungsional. Dalam perencanaan struktur ruang ini berguna untuk perencanaan yang berkelanjutan dengan memperhatikan saat ini dan tidak mengesampingkan efek yang akan timbul di masa mendatang. Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Bandung no 27 tahun 2016 menunjukkan terdapat wilayah di Kabupaten Bandung yang diperuntukkan mengembangkan wilayah tersebut. Bagian selatan Kabupaten Bandung sangat berpotensial dalam pengembangan wilayah ke arah wisata, terdapat kebijakan untuk peningkatan jalur kereta api yang mendukung mobilitas ke Kecamatan Ciwedey.

3.2.5.3. Perencanaan Pariwisata

102

Gambar 3.2.5.10 Peta Perencanaan Pariwisata Kabupaten Bandung

Berdasarkan Peta Wisata Kabupaten Bandung ini memiliki berbagai objek wisata yang tersebar di seluruh kecamatan yang ada pada Kabupaten Bandung. Objek wisata yang ada di Kabupaten Bandung ini sebagian besar adalah objek wisata alam. Kabupaten Bandung ini juga memiliki Desa Wisata, dengan memberdayakan masyarakatnya dan juga potensi wilayah yang ada pada desa tersebut. Desa wisata yang ada di Kabupaten bandung ini, antara lain Desa Wisata Alam Endah, Desa Wisata Mekarsari, Desa Wisata Panundaan, Desa Wisata Rawabogo, Desa Wisata Lebak Muncang, Desa Wisata Panundaan, Wisata Pedesaan Jelekong, Desa Wisata Lamajang, Desa Wisata Cinunuk, dan Desa Wisata Laksana. Dengan adanya pemberdayaan Desa Wisata, dapat juga menambah dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi penduduk.

Perencanaan pariwisata ini juga didukung dengan adanya Peta Rencana Kawasan Strategis yang ada di Kabupaten Bandung. Kawasan strategis ini dibagi menjadi beberapa kawasan, antara lain Kawasan Strategis Nasional (KSN), Kawasan Strategis Provinsi (KSP), dan Kawasan Strategis Kabupaten (KSK). Maka dari itu, potensi pariwisata yang ada di

103

Kabupaten Bandung harus memperhatikan kawasan strategis untuk menunjang sebaran potensi wisata.

Posisi Strategis kawasan wisata di Kabupaten Bandung terletak pada jalan penghubung antara Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Garut, yaitu pada Desa Laksana Kecamatan Ibun. Kecamatan Ibun termasuk dalam Kawasan cagar budaya yang terdiri dari pelestarian benda sejarah, situs, dan kampung adat. Kecamatan Ibun sebagai kawasan pariwisata berupa wisata alam, yaitu Kawah Kamojang dan Situ Ciharus. Wisata Unggulan yang terdapat di Kabupaten Bandung adalah Kawah Kamojang. Kawah ini merupakan kawah yang terbentuk dari letusan gunung berapi. Kawah ini tidak hanya dijadikan kawasan pariwisata, tetapi juga dijadikan pengobatan alternatif bagi pengunjung, dikarenakan air dan uapnya mengandung belerang. Macam-macam penyakit bisa diobati, salah satunya penyakit kulit.

3.2.5.4. Perencanaan Sistem Perairan

Gambar 3.2.5.11 Peta Perencanaan Sistem Perairan Kabupaten Bandung

Prasarana sumber daya air adalah bangunan air beserta bangunan lain yang menunjang kegiatan pengelolaan sumber daya air, baik langsung maupun tidak langsung. Prasarana tersebut terdiri dari berbagai macam antara lain, bangunan irigasi, IPAL, drainase, dan

104

TPA. Alokasi pola ruang berupa perairan Kabupaten Bandung berdasarkan RTRW Kabupaten Bandung Tahun 2016 - 2036 yaitu seluas 483,92 Ha.

Luas sawah yang terairi irigasi di tahun 2019 baru mencapai 72,5%. Jaringan irigasi yang ada belum memenuhi kebutuhan perairan. Di samping itu, permasalahan utama dalam pengelolaan irigasi adalah terkait pengendalian fungsi irigasi khususnya untuk jaringan irigasi yang berubah fungsi menjadi jaringan drainase. Selanjutnya masih terdapat permasalahan mengenai pengelolaan dan pemanfaatan jaringan irigasi yang berada di sekitar kawasan yang mengalami perubahan guna lahan, seperti yang berdekatan dengan kawasan industri maupun pemukiman, sehingga kualitas airnya berpotensi mengalami pencemaran.

3.2.5.5. Perencanaan Sarpras dan Transportasi

Gambar 3.2.5.12 Peta Perencanaan Transportasi Kabupaten Bandung

105

Gambar 3.2.5.12 Peta Perencanaan Sistem Perairan Kabupaten Bandung

Perencanaan jangka panjang di Kabupaten Bandung ialah menyediakan sarana transportasi massal antar wilayah khususnya yang menunjang pergerakan yang mengarah ke Kota Bandung dan Kota Cimahi. Arahan transportasi Kabupaten Bandung adalah transportasi kereta api atau light rail transportation (monorel). Guna meningkatkan kapasitas dan tingkat pelayanan jalan dan memperbaiki sistem manajemen lalu lintas, rencana jangka pendek transportasi untuk Kabupaten Bandung ialah penataan angkutam umum untuk Angkutan Kota Antar Provinsi (AKAP), Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP), angkutan kota dan angkutan perdesaan.

Perencanaan jangka menengah adalah melakukan pembangunan jalan baru, pengembangan terminal, serta pengembangan sistem angkutan massal. Beberapa ruas jalan yang diusulkan untuk dibangun adalah jalan tol Soreang-Pasirkoja, jalan tol CileunyiSumedang-Dawuan dan jalan tol dalam Kota Bandung. Pengembangan terminal yang diusulkan adalah pembangunan terminal terpadu di Gedebage, pembangunan terminal tipe B di Soreang, Cicalengka, Padalarang, Tanjungsaru dan Lembang, pembangunan terminal tipe C di Banjaran, Ciparay, Rancaekek. Sistem angkutan massal yang diusulkan untuk Metropolitan Bandung berupa monorail, double decker, busline, LRT, kereta api cepat Jakarta-Bandung, dan peningkatan jalur kereta api. Sementara itu, rencana sistem transportasi udara di Kabupaten Bandung meliputi Bandara khusus pertahanan dan keamanan di Kecamatan Margahayu dan ruang udara untuk penerbangan.

106

Rencana pengembangan jaringan telekomunikasi di Kabupaten Bandung adalah pengembangan sistem jaringan telepon tetap (kabel) dan pengembangan sistem jaringan telepon bergerak (nirkabel) yang diimplementasikan dengan pembangunan Tower BTS Terpadu, pengembangan jaringan internet dan pengembangan jaringan cyber province yang mencakup keseluruhan wilayah Kabupaten Bandung terutama pada wilayah pusat kegiatan (PKL, PKLp, dan PPK).

3.2.5.6. Perencanaan Kawasan Strategis

Gambar 3.2.5.13 Peta Rancangan Kawasan Strategis Kabupaten Bandung

Rancangan kawasan strategis dibagi menjadi kawasan khusus dan kawasan strategis. KSK Agropolitan Pangalengan, KSK Agropolitan Ciwidey, KSP Hulu Sungai Citarum, KSN Bandung Utara, KSP Panas Bumi Kamojang, Darajat, Papandayan merupakan rancangan kawasan strategis yang ada di Kabupaten Bandung. Kawasan khusus yang ada di Kabupaten Bandung antara lain, Kawasan Ind Margaasih, Kawasan Ind Tegalluar, dan Kawasan Sekitar Stadion. pembuatan kawasan srategis ini bertujuan juga untuk mempermudah integrasi antara kawasan pekotaan dengan kawasan pedesaan yang ada di kabupaten bandung, serta juga mempermudah interasi dengan wilayah disekitar kabupaten bandung. Kawasan strategis di Kab.Bandung dibagi menjadi dua yaitu kawasan strategis provinsi dan kawasan strategis kabupaten. Setiap kawasan strategis memiliki kegunaannya sendiri-sendiri dalam penentuan kawasannya. Kawasan yang memiliki luasan paling lebar

107

adalah kawasan argopolitanyang di gunakan sebagai sentra pertanian lahan basah dan holtikultur dengan pengembangan argowisata, industry rumah tangga skala UKM dan pendidikan.

4. POTENSI DAN MASALAH 4.1. Potensi Wilayah

Pontensi Kecamatan di Kabupaten Bandung mengacu pada 6 (enam) sektor, yaitu: pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, industri, dan pariwisata. Setiap kecamatan belum tentu memiliki potensi seluruh sektor tersebut, tergantung pada sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing kecamatan.

Tabel 4.1. Potensi Unggulan di Kabupaten Bandung Potensi Unggulan Kecamatan

Kecamatan Peringkat Sektor

Perkebunan Pertanian Peternakan Industri Pariwisata Majalaya 4(0,149) 2(0,254) 5(0,107) 1(0,326) 3(0,163) Banjaran 1(0,294) 4(0,165) 5(0,128) 2(0,207) 3(0,205) Soreang 3(0,208) 1(0,278) 5(0,093) 2(0,222) 4(0,199) Cimenyan 4(0,129) 2(0,223) 5(0,081) 3(0,195) 1(0,373)

Sektor industri merupakan sektor yang dinilai cukup penting untuk dikembangkan walaupun tidak menjadi sektor unggulan. Untuk kecamatan Majalaya, sektor yang menjadi potensi unggulan adalah sektor industri, kemudian sektor pertanian diurutan kedua. Untuk Kecamatan Banjaran, sektor yang dinilai menjadi potensi unggulan adalah sektor perkebunan, kemudian sektor industri di urutan prioritas kedua. Potensi unggulan untuk kecamatan Soreang adalah sektor pertanian di urutan pertama dan sektor industri di urutan kedua, sedangkan untuk kecamatan Cimenyan sektor yang menjadi potensi unggulan adalah sektor pariwisata di urutan pertama dan sektor pertanian di urutan kedua. Melihat keberagaman sektor yang menjadi potensi unggulan setiap kecamatan yang diamati, maka

108

pemerintah Kabupaten Bandung perlu menyesuaikan rencana pengembangan Kabupaten Bandung sesuai dengan potensi unggulan kecamatan.

4.2. Masalah Wilayah

Kabupaten Bandung merupakan kawasan yang paling sering terjadi banjir. Bencana banjir tersebut tidak hanya disebabkan faktor alam, tetapi juga dipengaruhi faktor sosial seperti terjadinya peningkatan jumlah penduduk yang kemudian memperlebar wilayah pemukiman sehingga tidak sejalan lagi dengan daya dukung lingkungan yang ada.

Kawasan Kabupaten Bandung sendiri secara geografis dilalui tiga sungai besar yaitu Sungai Citarum, Citanduy dan Cisangkuy. Disaat musim penghujan muara pertemuan ketiga sungai tersebut meluap dan menggenangi pemukiman warga yang lokasinya semakin mendekati bantaran sungai. Konsentrasi penduduk yang padat di kawasan titik muara tiga anak sungai di Kabupaten Bandung menyebabkan mereka tidak bisa menghindar dari bencana banjir.

5. PERENCANAAN WILAYAH 5.1. Analisis SWOT

Tabel 5.1. Analisis SWOT Kabupaten Bandung Rencana

Pembangunan Strength Weakness Oppurtunity Threat

Pembangkit Listrik Tenaga

Panas Bumi (Geothermal)

Potensi Panas Bumi Gunung Api Wayang Windu, dengan

kapasitas 227 Megawatt (MW)

Dominasi

kemiringan lereng yang curam, penggunaan lahan perkebunan dan pertanian

masyarakat

Energi terbarukan, wisata edukasi

Pencemaran cekungan airtanah,

kebocoran pipa gas

109 Energi

terbarukan ramah lingkungan

Biaya awal investasi yang tinggi, sekitar

$ 3-4 juta/MW

Biaya perawatan yang mahal

Peralihan dari

batu bara

(karbon) mengakibatkan penurunan emisi karbon

Bencana

longsor, dapat menyebabkan kerusakan saluran pipa gas

Suplai listrik menjadi lebih tinggi

Pengolahan panas bumi menjadi listrik yang cukup rumit

Penurunan Tarif Biaya Listrik

Penurunan penyedia listrik dari bahan batu bara

Industri Pakaian (Fashion)

Banyaknya pabrik tekstil dan garment di Kabupaten Bandung

Persaingan

dengan Kota Bandung

Peningkatan pemasukkan kas daerah

Pencemaran limbah tekstil

Wilayah strategis

Tingkat

kemacetan yang cenderung tinggi

Perubahan penggunaan lahan semakin tinggi

5.2. Rencana 1 5.3. Rencana 2

110

DAFTAR PUSTAKA

Bidang Infrastuktur Permukiman (DISPERKIMTAN) Kabupaten Bandung Tahun 2020 Bronto, S. & Hartono, U. (2006). Potensi sumber daya geologi di daerah Cekungan Bandung

dan sekitarnya. Jurnal Geologi Indonesia, 1, 9-18. [Januari 27, 2021]

Bronto, S., Koswara, A. & Lumbanbatu, K. (2006). Stratigrafi gunung api daerah Bandung Selatan, Jawa Barat. Jurnal Geologi Indonesia, 1, 89-101. [Januari 27, 2021]

Christiani, C., Tedjo, P., & Martono, B. (2014). Analisis dampak kepadatan penduduk terhadap kualitas hidup masyarakat provinsi jawa tengah. Serat acitya, 3(1), 102.

Darma, Rino Janfa. 2021. Jangkauan Pelayanan Fasilitas Kesehatan Dan Fasilitas Pendidikan Di Kecamatan Limapuluh Berdasarkan Konsep Neighborhood Unit. Tugas Akhir.

Universitas Islam Riau.

Dinas Pertanian Kabupaten Bandung

Erawati, N. K., & Yasa, I. N. M. (2012). Analisis pola pertumbuhan ekonomi dan sektor potensial Kabupaten Klungkung. E-Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana, 1, 44668. https://twitter.com/dispoparkabbdg1/status/583151443449749505

Imansyah, M. (2012). Studi Umum Permasalahan dan Solusi DAS Citarum Serta Analisis Kebijakan Pemerintah. Jurnal Sosioteknologi, 25, 18-33. [Januari 27, 2021]

Indonesia, (2012). Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan. Sekretariat Negara. Jakarta

Kabupaten Bandung Dalam Angka 2021

Kabupaten Bandung Dalam Angka Tahun 2017

Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No 534/KPTS/M/2001. (2001).

Pedoman Standar Pelayanan Minimal Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang , Perumahan Dan Permukiman Dan Pekerjaan Umum. Kementrian Permukiman Dan Prasanara Wilayah, 534, 1–19.

Manoppo, D. P., DEA, D. I., & Suryadi Supardjo, S. M. (2018). Evaluasi Ketersediaan Prasarana Dan Sarana Dasar Pada Fasilitas Pasar Di Kotamobagu. Jurnal Spasial, 5(3), 336-346.

Muhamad Taufik Efendi, dkk. 2021. Analisis Laju Pertumbuhan Penduduk Di Kecamatan Cicendo Kota Bandung. Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Bale Bandung

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR ANALISIS KOTA DAN DAERAH (Halaman 106-116)

Dokumen terkait