LAPORAN AKHIR
ANALISIS KOTA DAN DAERAH
Dosen Pengampu : Aditya Saputra, M. Si., Ph.D.
M Iqbal Taufiqurrahman Sunariya, M.Sc., M.URP.
Umar El Izzudin Kiat, S.Si., M.GIS.
Disusun Oleh :
1. Dimas Rizky Pangestu (E100190258) 2. Rahma `Afifah Nur Faridah (E100200010)
3. Maya Intan Arini (E100200221)
4. Surya Chalik Perdana Dirgantara (E100190143) 5. Bunga Putri Fadhillah (E100190158) 6. Shintiya Nurul Baiti (E100190160)
7. Aldi Putra Dwi P (E100190211)
8. Arya Rahmaddani (E100190242)
9. M. David Eko N.S (E100190247)
10. Ferry Cahya P (E100190252)
11. Nisa Pajriah (E100190254)
12. Yuda Adi Prasetyo (E100190262)
FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2022
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
DAFTAR ISI... ii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vii
1. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 2
1.2. Tujuan ... 2
2. METODE ... 2
2.1.Data Yang Digunakan ... 2
2.1.1. Karakteristik Fisik ... 2
2.1.2. Karakteristik Sosial ... 2
2.1.3. Sarana Prasarana ... 4
2.1.4. Karakteristik Ekonomi Regional ... 4
2.1.5. Karakteristik Tata Ruang ... 4
2.2.Metode Analisa Data ... 4
2.2.1. Analisis Fisik ... 4
2.2.2. Analisis Sosial ... 4
2.2.3. Analisis Sarana Prasarana ... 4
2.2.4. Analisis Ekonomi Regional ... 4
2.2.5. Analisis Tata Ruang ... 4
3. HASIL ... 5
3.1.Karakteristik Wilayah... 5
3.1.1. Karakteristik Fisik ... 5
3.1.1.1.Profil Wilayah ... 5
3.1.1.2.Topografi ... 5
3.1.1.3.Kemiringan ... 6
iii
3.1.1.4.Geologi ... 7
3.1.1.5.Jenis Tanah ... 14
3.1.1.6.Klimatologi ... 15
3.1.1.7.Hidrologi ... 17
3.1.1.8.Bencana Alam ... 18
3.1.2. Karakteristik Sosial ... 20
3.1.2.1.Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ... 20
3.1.2.2.Penduduk Menurut Mata Pencaharian ... 22
3.1.2.3.Penduduk Menurut Pendidikan ... 24
3.1.2.4.Kepadatan Penduduk ... 29
3.1.2.5.Migrasi Penduduk ... 35
3.1.2.6.Tingkat Kelahiran dan Kematian ... 36
3.1.2.7.Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ... 37
3.1.3. Karakteristik Ekonomi ... 39
3.1.3.1.PDRB Konstan dan Berlaku Kabupaten Bandung ... 39
3.1.3.2.Komoditas Pertanian ... 48
3.1.3.3.Industri Kabupaten Bandung... 49
3.1.4. Karakteristik Sarana Prasarana ... 50
3.1.4.1.Sarana Pendidikan ... 50
3.1.4.2.Sarana Kesehatan ... 53
3.1.4.3.Sarana Perdagangan ... 54
3.1.5. Karakteristik Keruangan/Tata Ruang ... 55
3.1.5.1.Perencanaan Pola Ruang ... 55
3.1.5.2.Perencanaan Struktur Ruang ... 56
3.1.5.3.Perencanaan Pariwisata ... 57
3.1.5.4.Perencanaan Sistem Perairan ... 58
3.1.5.5.Perencanaan Sarana Prasarana dan Transportasi ... 59
iv
3.1.5.6.Perencanaan Kawasan Strategis ... 61
3.2.Analisis Wilayah ... 62
3.2.1. Analisis Fisik ... 62
3.2.1.1.Analisis Profil Wilayah ... 62
3.2.1.2.Analisis Topografi ... 63
3.2.1.3.Analisis Kemiringan Lereng ... 64
3.2.1.4.Analisis Geologi ... 65
3.2.1.5.Analisis Jenis Tanah ... 72
3.2.1.6.Analisis Klimatologi ... 73
3.2.1.7.Analisis Hidrologi ... 75
3.2.1.8.Analisis Bencana Alam ... 76
3.2.2. Analisis Aspek Sosial Kependudukam ... 77
3.2.3. Analisis Pertumbuhan Ekonomi ... 96
3.2.4. Analisis Sarana Prasarana ... 97
3.2.5. Analisis Keruangan atau Tataruang ... 100
4. POTENSI DAN MASALAH ... 107
4.1.Potensi Wilayah ... 107
4.2.Masalah Wilayah ... 108
5. PERENCANAAN WILAYAH ... 108
5.1.Analisis SWOT ... 108
5.2.Rencana 1 ... 109
5.3.Rencana 2 ... 109
DAFTAR PUSTAKA ... 110
v
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1.1 Klasifikasi Kemiringan Kabupaten Bandung ... 7
Tabel 3.1.2 Geologi Kabupaten Bandung ... 10
Tabel 3.1.3 Klasifikasi Jenis Tanah di Kabupaten Bandung ... 15
Tabel 3.1.4 Rerata Curah Hujan di Kabupaten Bandung... 16
Tabel 3.1.5. Indeks Kerawanan Bencana Alam di Kabupaten Bandung ... 19
Tabel 3.1.6 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ... 21
Tabel 3.1.7 Penduduk Menurut Mata Pencaharian ... 22
Tabel 3.1.8 Penduduk Menurut Pendidikan SD Negeri/Swasta Kabupaten Bandung 2012- 2021 ... 24
Tabel 3.1.9 Penduduk Menurut Pendidikan SMP Negeri/Swasta Kabupaten Bandung 2012- 2021 ... 26
Tabel 3.1.11 Kepadatan Penduduk Per Kecamatan Kabupaten Bandung 2012-2021 ... 29
Gambar 3.1.11 Tingkat Kepadatan Penduduk Kabupaten Bandung Tahun 2011-2016 ... 32
Tabel 3.1.12 Migrasi Kabupaten Bandung 2012-2021 ... 35
Tabel 3.1.13 Tingkat Kelahhiran dan Kematian Kabupaten Bandung 2014-2018 ... 36
Tabel 3.1.14 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2012-2021 ... 37
Tabel 3.2.1 Klasifikasi Kemiringan di Kabupaten Bandung ... 64
Tabel 3.2.2 Geologi kabupaten Bandung ... 66
Tabel 3.2.3 Klasifikasi Jenis Tanah di Kabupaten Bandung ... 72
Tabel 3.2.4 Rerata Curah Hujan di Kabupaten Bandung... 74
Tabel 3.2.5 Indeks Kerawanan Bencana Alam di Kabupaten Bandung ... 77
Tabel 3.2.6 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Bandung 2011-2020 ... 78
Tabel 3.2.7 Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2011-2020 ... 79
Tabel 3.2.8 Proyeksi Penduduk Kabupaten Bandung ... 80
Tabel 3.2.9 Jumlah Penduduk Kabupaten Bandung ... 81
vi
Tabel 3.2.10 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Ha)... 85
Tabel 3.2.11 kepadatan Penduduk Berdasarkan Luas Wilayah Per Kecamatan (Jiwa/Ha) ... 85
Tabel 3.2.12 Kepadatan PEnduduk Agraris Kabupaten Bandung Tahun 2018 ... 89
Tabel 3.2.12 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) ... 93
Tabel 3.2.13 Tingkat Penganguran Kabupaten Bandung 2016-2021 ... 94
Tabel 4.1. Potensi Unggulan di Kabupaten Bandung ... 107
Tabel 5.1. Analisis SWOT Kabupaten Bandung ... 108
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1.1 Topografi Kabupaten Bandung ... 6
Gambar 3.1.2 Kemiringan Lereng Kabupaten Bandung ... 7
Gambar 3.1.3 Geologi Kabupaten Bandung ... 14
Gambar 3.1.4 Jenis Tanah Kabupaten Bandung ... 15
Gambar 3.1.1.6 Rerata Curah Hujan Kabupaten Bandung ... 17
Gambar 3.1.1.7 Hidrologi (Sungai) Kabupaten Bandung ... 18
Gambar 3.1.1.8 Banjir Kabupaten Bandung ... 19
Gambar 3.1.1.8 Longsor Kabupaten Bandung ... 20
Gambar 3.1.2.2 Peta Rata-Rata Mata Pencaharian Tahun 2017-2021 ... 24
Gambar 3.1.10 Tingkat Kepadatan Penduduk Kabupaten Bandung Tahun 2011-2016 ... 32
Gambar 3.1.11 Tingkat Kepadatan Penduduk Kabupaten Bandung Tahun 2017-2021 ... 35
Gambar 3.1.14 Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Bandung 2012-2021 ... 38
Gambar 3.1.14 Peta Jumlah Industri Kabupaten Bandung Tahun 2012-2021 ... 50
Gambar 3.1.15 Peta Persebaran Pendidikan SD ... 51
Gambar 3.1.16 Peta Persebaran Pendidikan SMP ... 51
Gambar 3.1.17 Peta Persebaran Pendidikan SMA... 52
Gambar 3.1.18 Peta persebaran fasilitas kesehatan ... 54
Gambar 3.1.19 Peta Persebaran Pasar... 55
Gambar 3.1.20 Peta Perencanaan Pola Ruang Kabupaten Bandung ... 56
Gambar 3.1.21 Peta Rencana Struktur Ruang Kabupaten Bandung ... 57
Gambar 3.1.22 Peta Wisata Kabupaten Bandung ... 58
Gambar 3.1.22 Peta Perencanaan Sistem Perairan Kabupaten Bandung ... 59
Gambar 3.1.23 Peta Perencanaan Transportasi Kabupaten Bandung ... 60
Gambar 3.1.24 Peta Perencanaan Sarana Prasarana Kabupaten Bandung ... 61
viii
Gambar 3.1.25 Peta Rancangan Kawasan Stategis Kabupaten Bandung ... 62
Gambar 3.2.1 Topografi Kabupten Bandung ... 63
Gambar 3.2.2 Kemiringan Lereng Kabupaten Bandung ... 64
Gambar 3.2.3 Geologi Kabupaten Bandung ... 66
Gambar 3.2.4 Jenis Tanah Kabupaten Bandung ... 72
Gambar 3.2.5 Rerata Curah Hujan Kabupaten Bandung ... 74
Gambar 3.2.6 Hidrologi (Sungai) Kabupaten Bandung ... 75
Gambar 3.2.7 Banjir Kabupaten Bandung ... 76
Gambar 3.2.8 Longsor Kabupaten Bandung ... 76
Gambar 3.2.5.8 Peta Perencanaan Pola Ruang Kabupaten Bandung ... 100
Gambar 3.2.5.9 Peta Perencanaan Pola Ruang Kabupaten Bandung ... 101
Gambar 3.2.5.10 Peta Perencanaan Pariwisata Kabupaten Bandung ... 102
Gambar 3.2.5.11 Peta Perencanaan Sistem Perairan Kabupaten Bandung ... 103
Gambar 3.2.5.12 Peta Perencanaan Transportasi Kabupaten Bandung ... 104
Gambar 3.2.5.12 Peta Perencanaan Sistem Perairan Kabupaten Bandung ... 105
Gambar 3.2.5.13 Peta Rancangan Kawasan Strategis Kabupaten Bandung... 106
1 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembahasan yang berkaitan dengan mengembangkan wilayah akan selalu berkaitan dengan karakteritik wilayah tersebut, baik dari aspek fisik maupun sosial.
Pembahasan yang mengaitkan denga karakteristik fisik dan sosial akan melahirkan potensi dan masalah yang akan muncul dari wilayah tersebut, dalam menentukan potensi wilayah harus mempertimbangkan kemungkinan masalah yang muncul setelah pengembangan potensi wilayah tersebut, sehingga diperlukan pertimbangan dari berbagai aspek yang harus diarahkan agar menguntungkan bukan merugikan.
Pertimbangan mengenai pengembangan potensi yang berada di suatu wilayah diharuskan dilakukan perencanaan wilayah terlebih dahulu, perencanaan ini sangat erat berkaitan dengan wilayah perencanaan atau planning region yang dapat diartikan sebagai wilayah yang menjadi target perencanaan wilayah. Kabupaten Bandung menjadi planning region, wilayah ini memiliki berbagai karakteristik fisik dan sosial cukup kompleks, salahsatunya perbedaan topografi antara Kabupaten Bandung bagian utara dengan bagian selatan. Disisi lain, bagian utara Kabupaten Bandung lebih berkembang jika dibandingkan dengan bagian selatan, hal ini disebabkan bagian utara tersebut berbatasan atau bersinggungan secara langsung dengan Kota Bandung yang memiliki laju pertumbuhan cukup tinggi.
Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bandung dapat dikatakan cukup dipengaruhi oleh Kota Bandung, ekonomi yang pesat secara langsung membutuhkan supplay atau pasokan listrik dalam jumlah yang besar. Potensi panas bumi Gunung Wayang Windu yang berada di Pengalengan menjadi perencanaan yang perlu dikembangkan, mengingat emisi karbon yang diakibatkan oleh batubara sudah semakin memburuk. Disisi lain, potensi panas bumi tersebut mempunyai pertimbangan dalam hal lain, seperti wilayah Pengalengan didominasi oleh lahan perkebunan dan pertanian, sehingga pengembangan potensi ini akan mempengaruhi penggunaan lahan tersebut. Namun, berbagai masalah yang timbul dalam pegembangan wilayah harus di analisis dalam strenght, weakness, oppurtunity, threat atau lebih dikenal dengan analisis SWOT.
2
Aspek fisik dan sosial perlu dilibatkan dalam perencanaan, seperti halnya sarana dan prasarana yang menunjang jalannya perencanaan tersebut. Kabupaten Bandung berpotensi dikembangkan dalam sektor industri pakaian atau fashion, hal ini dikarenakan faktor pendukung yaitu banyaknya pabrik garment atau tekstil di Kabupaten Bandung dan wilayah strategis dengan taget pasar Kota Bandung, disisi lain terdapat kekurangan seperti meningkatnya perubahan penggunaan lahan dan pencemaran lingkungan akibat pabrik tekstil.
1.2. Tujuan
1. Menganalisis dan mengetahui kondisi fisik, sosial, ekonomi Kabupaten Bandung.
2. Melakukan identifikasi dan analisis terkait potensi yang perlu dikembangkan di Kabupaten Bandung.
3. Melakukan identifikasi dan analisis yang muncul akibat pengembangan potensi wilayah di Kabupaten Bandung.
4. Menentukan perencanaan wilayah Kabupaten Bandung berdasarkan potensi dan permasalahan wilayah.
2. METODE
2.1. Data Yang Digunakan 2.1.1. Karakteristik Fisik
Data yang digunakan adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif meliputi profil wilayah, kondisi topografi, hidrologi, jenis tanah, geologi, kelerengan, klimatologi, dan bencana alam. Sedangkan data kualitatif meliputi data peta wilayah studi.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian yaitu berupa data sekunder yang diperoleh melalui instansi terkait guna mengetahui data kuantitatif yang meliputi kondisi topografi dan kelerengan, hidrologi, penggunaan lahan, klimatologi, bencana alam, geologi dan jenis tanah. Data tersebut dapat diperoleh melalui Biro Pusat Statistik Kabupaten Bandung, hasil riset dan referensi/jurnal.
2.1.2. Karakteristik Sosial
Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif dan kualitatif. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif meliputi:
3 1. Sex rasio
Merupakan perbandingan jumlah penduduk laku-laki dengan jumlah penduduk perempuan. Biasanya dinyatakan dalam banyaknya penduduk laki-laki per100 penduduk perempuan.
2. Proyeksi penduduk
Merupakan perkiraan jumlah penduduk pada suatu Perhitungan ilmiah yang didasarkan pada asumsi dari komponenkomponen laju pertumbuhan penduduk, berupa kelahiran, kematian dan migrasi.
3. Laju pertumbuhan penduduk
Merupakan angka yang menunjukan presentase pertumbuhan penduduk dalam jangka waktu tertentu. Data tersebut dapat di hitung dengan tiga metode yaitu aritmatika, geometric dan eksponesial.
4. Penduduk menurut mata pencaharian
Merupakan sebuah kegiatan ekonomi yang dapat membantu pendapatan ekonomi masyarakat. Terdapat jenis pekerjaan mulai dari usaha sendiri hingga pegawai karyawan. Data tersebut di dapat dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung
5. Penduduk menurut pendidikan
Merupakan tingkatan penduduk yang melakukan kegitan untuk meningkatkan pengetahuan secara luas di wilayah tersebut untuk menjadikan angka partisipasi sekolah yang tinggi dari penduduk Kabupaten Bandung.
6. Kepadatan penduduk
Merupakan perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas wilayah dengan menggunakan satuan jiwa/km2. Semakin tinggi jumlah penduduk yang tidak sebanding dengan luas wilayah, maka kepadatan penduduknya semakin tinggi.
7. Migrasi penduduk masuk dan keluar
Merupakan kegiatan perpindahan peduduk dari satu titik ke titik lainnya melalui batas – batas politik/ negara atau batas – batas otoritatif suatu negara. Kegiatan migrasi tejadi dikarenakan beberapa faktor yaitu seseorang memiliki tujuan untuk hidup lebih baik dari sisi pekerjaan, kesehatan ataupun keadilan.
8. Tingkat kelahiran dan kematian
Merupakan salah satu faktor penambah jumlah penduduk di samping migrasi masuk, tingkat fertilitas di masalalu mempengaruhi tingginya tingkat fertilitas 9. Indeks pembangunan manusia
4
Merupakan pengukuran perbandingan antara harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup bagi seluruh negara
2.1.3. Sarana Prasarana
Metode yang digunakan untuk kajian karateristik Sarana Prasarana yaitu observasi tidak langsung dengan menggunakan data sekunder. Populasi pada penelitian ini merupakan sarana dan prasarana yang ada di kabupaten Bandung, terdiri dari sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana perdagangan, keterjangkauan sarana fasilitas pendidikan, keterjangkauan sarana fasilitas kesehatan, kaitan keterjangkauan sarana fasilitas pendidikan dengan keterhubungan wilayah (konektivitas). Data tersebut dapat di peroleh dari portal resmi dan sumber instansi Bappeda, BPS dan Rencana RTRW Kabupaten Bandung.
2.1.4. Karakteristik Ekonomi Regional
Jenis data yang digunakan untuk kajian karateristik ekonomi berupa data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung Tahun 2020 berupa data PDRB Harga Berlaku, PDRB atas Harga Konstan, Komoditas Pertanian, Industri, dan Perdagangan.
2.1.5. Karakteristik Tataruang
Data yang digunakan untuk kajian karateristik keruangan/tata ruang Kabupaten Bandung berupa data sekunder yang bersumber dari Dokumen RTRW Kabupaten Bandung Tahun 2016 – 2036, Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung serta hasil riset dari referensi dan jurnal.
2.1.6. Pengembangan Berdasarkan Karakteristik Fisik dan Sosial 2.1.7. Karakteristik dan Analisa Tata Ruang
2.2. Metode Analisa Data 2.2.1. Analisis Fisik 2.2.2. Analisis Sosial
2.2.3. Analisis Sarana Prasarana 2.2.4. Analisis Ekonomi Regional 2.2.5. Analisis Tata Ruang
5
2.2.6. Pengembangan Berdasarkan Karakteristik Fisik dan Sosial 2.2.7. Karakteristik dan Analisa Tata Ruang
3. HASIL
3.1. Karakteristik Wilayah 3.1.1. Karakteristik Fisik
3.1.1.1. Profil Wilayah
Kabupaten Bandung merupakan salah satu kabupaten yang berada di provinsi Jawa Barat dan termasuk ke dalam zona Selatan pulau Jawa.
Kondisi geografis wilayah Kabupaten Bandung yang terletak pada koordinat 1070 22' - 1080 - 50 Bujur Timur dan 60 41' - 70 19' Lintang Selatan terletak di wilayah dataran tinggi. Kabupaten Bandung memiliki luas 1762,40 Km2 dan terdiri dari 31 kecamatan dengan 280 desa/kelurahan pada tahun 2020 dengan ibukota Soreang. Kecamatan terluas adalah kecamatan Pasir Jambu yang memiliki luas 239,58 Km2, sedangkan kecamatan terkecil adalah kecamatan Margahayu yang memiliki luas 10,54 Km2. Batas administrasi Kabupaten Bandung yaitu :
Utara: Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang
Timur: Kabupaten Sumedang, Kabupaten Garut
Selatan: Kabupaten Garut, Kabupaten Cianjur
Barat: Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur, Kota Bandung 3.1.1.2. Topografi
Ketinggian wilayah di kabupaten Bandung berkisar antara 500 hingga 1.800 m dpl. Kecamatan Kertasari merupakan wilayah tertinggi yang ada di kabupaten Bandung, yaitu dengan ketinggian mencapai 1.512 mdpl.
Ketinggian wilayah ini menjadikan masyarakat sekitar berprofesi sebagai petani sayur dan perkebunan teh. Selain itu, kecamatan Kertasari ini merupakan wilayah hulu dari Citarum (sungai utama yang ada di Bandung) yang di mana air Citarum berasal dari sebuah danau buatan yang menampung 7 mata air yang berada di sekitar danau tersebut. Ketujuh mata air tersebut
6
yakni mata air Pangsiraman, Cikolebere, Cikawadukan, Cikahuripan, Cisadana, Cihaniwung, dan Cisanti. Danau buatan tersebut diberi nama Situ Cisanti. Kecamatan terendah adalah kecamatan Dayeuhkolot dan kecamatan Baleendah, di mana ketinggian dari kedua wilayah ini berkisar pada 664 mdpl.
Gambar 3.1.1 Topografi Kabupaten Bandung (Sumber: BIG) 3.1.1.3. Kemiringan
Morfologi Kabupaten Bandung terdiri dari wilayah datar/landai, kaki bukit, dan pegunungan dengan kemiringan lereng beragam antara 0 – 8%, 8% - 15% hingga di atas 45%. Sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung adalah pegunungan. Di antara puncak-puncaknya adalah: sebelah utara terdapat Gunung Bukittunggul (2.200 m). Sebelah selatan terdapat Gunung Patuha (2.334 m), Gunung Malabar (2.321 m), serta Gunung Papandayan (2.262 m) dan Gunung Guntur (2.249 m), keduanya berbatasan dengan Kabupaten Garut (Profil Kabupaten Bandung, 2009).
Dataran Kabupaten Bandung terhampar luas di bagian tengah Cekungan Bandung dengan kemiringan 0 – 2% dan 2 – 8% ke arah barat dan ke arah Sungai Citarum yang membelah wilayah dari timur ke barat. Wilayah ini merupakan kawasan pesawahan yang subur yang sebagian diantaranya rawan
7
banjir. Kotakota yang merupakan satelit dan sembrani tandingan (counter magnet) dari Kota 44 Bandung terdapat di wilayah ini.
Tabel 3.1.1 Klasifikasi Kemiringan di Kabupaten Bandung No. Klasifikasi Luasan (Km2)
1 Datar 417,37
2 Landai 430,35
3 Agak Curam 280,93
4 Curam 458,60
5 Sangat Curam 136,87 Sumber : Analisis Studio, 2022
Gambar 3.1.2 Kemiringan Lereng Kabupaten Bandung (Sumber: BIG, 2022) 3.1.1.4. Geologi
Secara keseluruhan, daerah Bandung bagian selatan tersusun oleh batuan hasil kegiatan gunung api. Cekungan Bandung hampir dikelilingi oleh gunung api dan bahkan di tengah- tengahnya juga terdapat batuan gunung api.
Menurut Alzwar dkk (1992) dan Silitonga (1973) dalam (Bronto dkk, 2006) Satuan batuan tertua adalah Formasi Beser dan batuan terobosan. Formasi Beser (Tmb) tersebar di pojok barat laut peta lembar Garut, di daerah Soreang, dan di
8
wilayah Kecamatan Arjasari, Baleendah, dan Ciparay di sebelah timur kota Banjaran. Satuan batuan ini berupa batuan gunung api yang terdiri atas breksi tufan dan lava bersusunan andesit basal.
Menurut Martodjojo (2003) dalam (Bronto dan Hartono, 2006) mengatakan bahwa pola kelurusan sesar pada umumnya memiliki arah barat laut - tenggara, timur laut – barat daya dan sedikit yang berarah utara – selatan.
Sesar-sesar dengan arah timur laut - barat daya akan mengikuti pola sesar arah Meratus, sesar dengan arah barat laut – tenggara akan mengikuti pola sesar arah Sumatera, dan sesar dengan arah utara – selatan dikontrol oleh sesar pada batuan dasar. Pergerakan sesar ini mengakibatkan proses pengangkatan kerak bumi yang semula bandung merupakan lautan berubah menjadi sebuah daratan, dan proses tektonik ini pula yang mengakibatkan munculnya gunung-gunung api yang mengelilingi cekungan Bandung. Kondisi geologi cekungan Bandung adalah hasil dari proses tektonik dan vulkanik. Dimana didominasi oleh batuan hasil gunung api, seperti breksi, Tuf dan andesit.
Di bawah gunung Wayang bagian terdapat satuan batuan lava andesit piroksen kapur alkali yang merupakan hasil dari proses vulkanisme gunung api pada zaman Miosen (12 jtl). Komposisi dasit dan andesit membentu Gunung Soreang (SV) dan Gunung Baleendah (BV) yang merupakan akibat dari proses vulkanisme yang terjadi pada 4 – 2,6 jtl (Pliosen). Komposisi basal menyusun kerucut Gunung Pangalengan purba pada masa Plistosen. Gunung Tanjaknangsi (TV) merupakan bagian gunung Pangalengan yang muncul di lereng bagian barat laut. Letusan Gunung Pangalengan membentuk sebuah Kaldera dan menghasilkan Batuan Piroklastika di bawah Pangalengan (PV). Kaldera ini kemudian tertutupi oleh satuan batuan Gunung Kuda (KV) di bagian barat dan Gunung Kendang (KdV) di bagian timur. Gunung Dogdog (DV) adalah parasite gunung Pangalengan yang terbentuk di bagian lereng Utara. Sementara itu, pada tengah kaldera terbentuk Gunung Windu (WV) dengan komposisi andesit, serta pada tepi Utara kaldera muncul gunung dengan komposisi basal hingga andesit basal, yaitu Gunung api Malabar (MV). Satuan batuan Piroklastika Pangalengan bagian atas (PP) terbentuk akibat dari letusan gunung api purba. Kemudian terendapkan di dataran tinggi Pangalengan dan mengalami proses pengerjaan
9
ulang batuan. Akibatnya, terbentuk lah endapan aluvium yang tersalur melalui aliran Ci Tarum yang kemudian diendapkan di Cekungan Bandung.
Satuan Batuan Gunung Api Soreang (SV)
Satuan ini tersebar di sudut barat laut kota Soreang/ibu kota Kabupaten Bandung. Satuan ini memiliki relief paling kasar dibandingkan kawasan gunung lainnya. Menurut Sunardi dan Koesoemadinata (1999) dalam Bronto dkk (2006) di Selacau dan Paseban terdapat batuan beku berelief kasar, sangat keras yang berwarna abu terang, berstruktur massif hingga berlubang, bertekstur porfiroafanitik, serta mengandung kuarsa, fenokris plagioklas,dan horenblend yang diperkirakan berumur Pliosen Bawah atau ± 4,0 juta tahun yang lalu.
Satuan Batuan Gunung Api Baleendah (BV)
Aliran lava andesit menyusun satuan ini. Satuan ini terletak di bagian tengah Kabupaten Bandung dan memiliki sebaran ke arah utara hingga selatan Kecamatan Baleendah hingga Kecamatan Arjasari, Bentuk dari satuan batuan ini adalah perbukitan yang memiliki puncak dengan nama Gunung Geulis (1.154 mdpl) di Barat, Puncak Pipisan (1.071 mdpl) di Tengah, dan Puncak Bukitcula (1.073 mdpl) di Timur.
Satuan Batuan Gunung Api Pangalengan (PV)
Lapisan aliran lava basal Menyusun satuan batuan ini. Satuan ini dapat dijumpai di barat laut, selatan, hingga tenggara dari Dataran Tinggi Pangalengan.
Satuan Batuan Gunung Api Tanjaknangsi (TV)
Batuan yang Menyusun satuan ini terdiri dari aliran lava, batulapili, breksi, piroklastik, tuf, serta breksi lahar. Dilihat dari bentuk fisiknya, aliran lava ini berupa breksi autoklastik yang kemudian membentuk batuan beku massif dengan andesit basal sebagai komposisinya.
Satuan Batuan Gunung Api Kuda (KV)
Batuan yang Menyusun satuan ini sudah menjadi tanah yang berwarna merah kecoklatan, serta berkomposisi andesit basal berwarna
10
abu, memiliki tekstur porfiro afanitik, berstruktur masif hingga berlubang Satuan
Batuan Gunung Api Kendang (KdV)
Satuan ini terdiri atas andesit dan andesit basal berstruktur kekar lembar, berwarna abu dengan bintik putih, berstruktur halus hingga masif, dan terdiri atas plagioklas dan piroksen, serta bertekstur porfiroafanitik
Satuan Batuan Gunung Api Dogdog (DV)
Penyusun satuan ini adalah batuan massif berwarna abu gelap dengan tekstur porfiroafanitik, dan tersusun atas plagioklas & piroksen berbutir halus, yaitu batuan andesit basal.
Satuan Batuan Gunung Api Wayang-Windu (WV)
Tersusun atas batuan dengan komposisi andesit horenblend.
Batuan ini memiliki warna abu dengan tekstur porfiroafanitik, berstruktur halus hingga sedang, serta tersusun atas plagioklas, horenblend, dan kuarsa.
Satuan Batuan Gunung Api Malabar (MV).
Satuan ini memiliki batuan penyusun yang sangat bervariasi, mulai dari batuan basal hingga batuan andesit basal. Batuan basal dan andesit basal ini terdiri atas plagioklas dan piroksen.
3. Formasi Rajamandala
Formasi Rajamandala adalah satu-satunya formasi non-gunung api yang menyusun wilayah Bandung. Formasi ini tersusun atas batuan berumur Oligosen, yaitu gamping, batu lempung, napal dan batu pasir.
Formasi Beser
Batuan gunung api Gunung Kromong dan Soreang termasuk ke dalam Formasi Beser yang memiliki umur Pliosen. Batuan Pliosen ini pula dapat dijumpai pada kompleks Gunung Malabar hingga Papandayan, serta Selacau - Paseban di selatan Cimahi.
Tabel 3.1.2 Geologi Kabupaten Bandung
No Jenis Geologi Luasan (Km2)
11
1 Produk Gunungapi Muda 38,23
2 Produk Gunungapi tua tak teruara 0,39
3 Tuff berbatuapung 0,47
4 Tuff berbatuapung 24,21
5 Tufa pasiran 0,002
6 Produk Gunungapi tua tak teruara 59,41
7 Koluvial 1,99
8 Lava 0,30
9 Batuan gunungapi muda 31,85
10 Tuff berbatuapung 0,11
11 Produk Gunungapi tua tak teruara 0,13
12 Tuff berbatuapung 0,02
13 Tuff berbatuapung 0,02
14 Tuff berbatuapung 0,10
15 Unit Basal 0,23
16 Breksi Tufaan 0,16
17 Breksi Tufaan 0,07
18 Andesite 0,23
19 Breksi Tufaan 1,44
20 Unit Basal 0,05
21 Kubah dan aliran lava 0,03
22 Kubah dan aliran lava 0,31
12
23 Andesite 0,23
24 Formasi Beser 36,82
25 Lava hasil batuan gunungapi tua 0,68
26 Andesite 0,08
27 Lava hasil batuan gunungapi tua 4,18 28 Lava hasil batuan gunungapi tua 0,05
29 Andesite 7,10
30 Lava hasil batuan gunungapi tua 0,38
31 Batugamping Terumbu 316,66
32 Breksi Produk Batuan GunungapiTu 1,07 33 Gunungapi Mandalawangi-Mandalagi 50,27
34 Batugamping Terumbu 0,006
35 Formasi Beser 9,25
36 Tuff batuapung dan breksi 2,18
37 Formasi Bulu 13,20
38 Andesit 0,11
39 Batugamping Terumbu 0,03
40 Waringin-Bedil Andesit 22,27 41 Batuan Gapi Guntur-Pangkalan dan 186,21
42 Batuan Gunungapi Muda 4,59
43 Formasi Lidah 339,04
44 Batugamping Terumbu 243,43
13
45 Formasi Cimapag 0,04
46 Anggota Sindangkerta 0,01
47 Lava dan Lahar G. Patuha 145,97 48 Endapan efflata gunungapi tua 64,05
49 Anggota Sindangkerta 0,33
50 Anggota Sindangkerta 0,03
51 Endapan efflata gunungapi tua 89,78 52 Waringin-Bedil Andesit 9,06
53 Batuan gunungapi Muda 5,96
54 Batuan Gunungapi Muda 12,64
55 Waringin-Bedil Andesit 6,66 56 Waringin-Bedil Andesit 11,05
57 Batuan Terobosan 11,31
58 Waringin-Bedil Andesit 0,18 59 Anggota tufa dan breksi 9,45
60 Danau 1,75
61 Danau 1,68
62 Danau 0,05
63 Danau 0,53
64 Danau 0,02
65 Batugamping Terumbu 0,57
66 Endapan Breksi & Lahar Gunung Ge 1,15 Sumber : Analisis Studio, 2022
14
Gambar 3.1.3 Geologi Kabupaten Bandung (Sumber: onemap.esdm.go.id) 3.1.1.5. Jenis Tanah
Bagian kerak bumi yang_tersusun atas mineral-dan bahan-organik yang telah mengalami pelapukan dinamakan tanah. Peran_penting_tanah bagi kehidupan makhluk hidup yakni berperan dalam mendukung kehidupan tumbuhan sebagai penopang akar. Kandungan hara dan air dalam tanah membantu tumbuhan dalam bertahan hidup dan berkembang. Rongga- rongga tanah berfungsi baik untuk akar tumbuhan bernafas. Selain itu, tanah berperan sebagai tempat hidup berbagai makhluk hidup seperti mikroorganisme. Tanah adalah tempat bergerak dan beraktivitas Untuk sebagian besar hewan darat. Berdasarkan topografi, Kabupaten Bandung yaitu wilayah berdominasi pegunungan dengan iklim tropis serta rerata curah hujan 1.500 mm hingga 4.000 mm. Temperatur udara di Kabupaten Bandung berkisar antara 12° C hingga 24° C dengan tingkat kelembaban berkisar 79%
per tahun pada musim hujan dan 71% per tahun pada musim kemarau.
Sebagian besar wilayah di Kabupaten Bandung mempunyai kulaitas tanah yang baik dan subur dengan jenis tanah yang cukup beragam.
Persebaran jenis tanah di Kabupaten Bandung didasarkan pada kondisi topografinya, dimana jenis tanah andosol dan podsolik mendominasi di
15
wilayah pegunungan, sedangkan jenis tanah regosol, latosol, grumusol, aluvial, dan glei mendominasi pada wilayah yang memiliki ketinggian lebih rendah.
Tabel 3.1.3 Klasifikasi Jenis Tanah di Kabupaten Bandung No Jenis Tanah Luasan (Km2)
1 Orthic Acrisols 1,26 2 Humic Andosols 157,13 3 Distric Nitosols 0,63 4 Ochric Andosols 973,18 5 Eutric Cambisols 355,28 6 Eutric Fluvisols 165,00 7 Lithosols 117,70
Sumber : Analisis Studio, 2022
Gambar 3.1.4 Jenis Tanah Kabupaten Bandung (Sumber: 2003) 3.1.1.6. Klimatologi
Data yang digunakan berupa data digital spasial Kabupaten Bandung tahun 2021 dan data curah hujan kabupaten Bandung 2012-2021. Tahapan
16
yang digunakan untuk mendapatkan data curah hujan rata rata tahunan melalui aplikasi Arcgis dengan menggunakan metode penggabungan data curah hujan setiap tahun dan di rata rata kemudian diubah menjadi data point dan di interpolasi sehingga memperoleh data intensitas curah hujan.
Kemudian mengklasifikasi data sesuai dengan skor class curah hujan.
Hasil dari klasifikasi data curah hujan di kabupaten bandung masuk dalam kategori curah hujan sedang sampai sangat basah dimana curah hujan paling rendah yaitu 2.417 mm/tahun dan yang paling tinggi yaitu 4.198mm/tahun. Luasan dari curah hujan sedang sebesar 15,15km, luasan curah hujan basah yaitu sebesar 683,3km sedangkan untuk curah hujan yang sangat basah sebesar 1054,3 km, sehingga dapat diketahui lebih dari separu luas kabupaten Bandung memiliki curah hujan lebih dari 3000 mm (iklim sangat basah).
Tabel 3.1.4 Rerata Curah Hujan di Kabupaten Bandung No Rerata Curah Hujan Luasan (Km2)
1 2001-2500 mm 15,14 2 2501-3000 mm 683,30 3 >3000 mm 1054,33
Sumber : Analisis Studio, 2022
17
Gambar 3.1.1.6 Rerata Curah Hujan Kabupaten Bandung (Sumber:
www.chc.ucsb.edu) 3.1.1.7. Hidrologi
Terdapat satu sungai utama di Bandung, yaitu Ci Tarum. Hulu Ci tarum berhulu dari danau Cisanti yang berada di kaki gunung Wayang. Danau Cisanti merupakan danau buatan yang terletak di desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung dengan luas sekitar 5 hektare. Danau Cisanti menampung 7 mata air yang berada di sekitar danau. Muara Ci tarum berada di laut Jawa.
Masyarakat sekitar danau memanfaatkan danau cisanti untuk keperluan sehari- hari karena kualitas air yang masih terbilang baik dibandingkan setelah mengalir ke Ci Tarum. Danau cisanti pula dijadikan sebagai tempat wisata yang cukup digandrungi oleh masyarakat Bandung karena suasana yang asri dan nyaman. Sedangkan air Ci Tarum tidak dapat dikonsumsi oleh masyarakat, bahkan untuk pengairan pula tidak cukup baik dikarenakan banyaknya zat-zat berbahaya yang terkandung dalam air Ci Tarum. Namun air Ci Tarum yang dibendung di waduk Saguling dimanfaatkan sebagai PLTA.
Kondisi air tanah di Cekungan Bandung sangat bervariasi, hal ini dipengaruhi oleh kegiatan tektonik dan vulkanisme yang pernah terjadi sebelumnya. Kedalaman akuifer tanah berbeda tiap morfologi wilayahnya. Contoh di kecamatan Baleendah,
18
akuifer tanah dapat ditemukan pada kedalaman 15 meter dan di wilayah yang lebih tinggi seperti Pangalengan dapat mencapai kedalaman 30 meter lebih. Namun, saat musim kemarau kondisi air tanah di wilayah kecamatan Baleendah dapat dikatakan mengalami kekeringan. Hanya beberapa titik saja yang masih memiliki cadangan air tanah. Sehingga masyarakat sekitar banyak membuat sumur dengan kedalaman di atas 15 meter, bahkan kedalaman sumur rumah saya mencapai 30 meter.
Gambar 3.1.1.7 Hidrologi (Sungai) Kabupaten Bandung (Sumber: BIG) 3.1.1.8. Bencana Alam
Data yang digunakan pada peta kerawanan banjir daerah kabupaten bandung berupa data InaRISK dimana data tersebut berasal dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Pada kabupaten bandung memiliki 3 indeks kerawanan banjir yaitu rendah (hijau), sedang (kuning), tinggi (merah). Terlihat pada peta bahaya banjir di kecamatan Rancaekek, kecamatan Bojongsoang, kecamatan solokanjeruk, kecamatan Bojongsoang, dan kecamatan baleendah memiliki tingkat bahaya banjir yang tinggi, tingkat bahaya banjir sedang ada di beberapa daerah pada setiap kecamatan dan hanya beberapa kecamatan yang memiliki tingkat bahaya banjir yang rendah.
19
Gambar 3.1.1.8 Banjir Kabupaten Bandung (Sumber: inarisk.bnpb.go.id) Tabel 3.1.5. Indeks Kerawanan Bencana Alam di Kabupaten Bandung
No Indeks Kerawanan Banjir Luasan (Km2)
1 Rendah 2,28
2 Sedang 113,25
3 Tinggi 153,20
Indeks Kerawanan Longsor No
1 Rendah 42,86
2 Sedang 230,42
3 Tinggi 800,03
Sumber: Analisis Studio, 2022
Data yang digunakan dalam peta menggunakan data spasial digital Rupa Bumi Indonesia tahun 2004 dan Data Kerawanan Bencana Longsor Kabupaten Bandung Tahun 2022. Tahapan untuk penentuan daerah rawan longsor menggunakan aplikasi arcgis dengan menggunakan metode pengolahan dari sumber lain sehingga diaplikasikan untuk memperoleh data intensitas rawan bencana longsor. Dalam hasil
20
klasifikasi dari kerawanan bencana Longsor di Kabupaten Bandung terbagi menjadi 3 kategori class yaitu kelas rawan rendah, kelas rawan sedang dan kelas rawan tinggi.
Luasan yang diperoleh dari kerawanan bencana longsor rendah sebesar 42,68km, luasan kerawanan bencana longsor sedang sebesar 230,42 km, dan luasan kerawanan bencana longsor tinggi sebesar 800,03 km. Sehingga kerawanan bencana longsor di Kabupaten Bandung ini memiliki rawan longsor tinggi.
Gambar 3.1.1.8 Longsor Kabupaten Bandung (Sumber: inarisk.bnpb.go.id) 3.1.2 Karakteristik Sosial
3.1.2.1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Perkembangan Penduduk Selama Kurun Waktu 10 Tahun Terakhir. Dapat terlihat pada data yang sudah disajikan dibawah yakni jumlah penduduk menurut jenis kelamin di Kabupaten Bandung, dengan rentang waktu selama 10 tahun terakhir. Laju pertumbuhan penduduk yang berada di Kabupaten Bandung, di setiap tahun nya mengalami kenaiakan yang cukup siginifikan. Tidak hanya sebatas itu saja, baik perbandingan jumlah penduduk laki-laki maupun perempuan memiliki selisih yang sangat tipis. Saat melihat perbandingan diagram yang ada maka, jumlah penduduk laki-laki lebih banyak jika disandingkan dengan penduduk perempuan.
21
Tabel 3.1.6 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Tahun
Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Bandung Laki-laki Perempuan Total Laki-laki +Pepempuan
2011 663629 609199 272828
2012 1696810 1642874 339684
2013 1729395 1676080 3405475
2014 1761460 1708933 3470393
2015 1792867 1741247 3534114
2016 1823708 1772915 3596623
2017 1853615 1803986 3657601
2018 1882917 1834374 3717291
2019 1911189 1864090 3775279
2020 1938631 1892874 3831505 Sumber: BPS, Kabupaten Bandung 2011-2020
Grafik 3.1.1 Perbandingan Penduduk Laki-Laki & Perempuan Kabupaten Bandung 2011- 2020 (BPS, Kabupaten Bandung)
22
Grafik 3.1.2 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Bandung Tahun 2011-2020 (BPS, Kabupaten Bandung)
3.1.2.2. Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Jika mengacu pada jenis mata pencaharian yang berdasarkan BPS, terdiri enam macam mata pencaharian. Data yang tersajikan merupakan akumulasi dari lima tahun terakhir.
Jenis mata pencaharian yang paling banyak di Kabupaten Bandung ialah Pekerja Bebas, dengan angka partisipasi rata-rata tertinggi dibandingkan golongan pekerjaan lainnya.
Mata pencaharian tertinggi berikutnya yakni Buruh/Karyawan/Pegawai, dengan tren yang begitu siginifikan.
Tabel 3.1.7 Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Selama Seminggu yang Lalu Menurut Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Kabupaten Bandung Status Pekerjaan Utama 2017 2018 2019 2020 2021
Berusaha Sendiri 243.174 243.174 329.813 264.027 308.113 Berusaha dibantu buruh
tidak tetap/buruh tidak di bayar
160.939 160.939 156.164 178.477 177.987
Berusaha dibantu
tetap/buruh dibayar 57.623 57.623 46.096 51.363 46.980 Buruh/Karyawan/Pengawai 799.160 799.160 909.107 773.338 734.458
23
Pekerja Bebas 210.419 210.419 156.863 163.178 236.979 Pekerja Keluarga/tak
dibayar 113.076 113.067 90.163 139.591 168.502 Jumlah/Total 1.584.391 1.584.391 1.688.206 1.569.974 1.673.019
Sumber: BPS, Kabupaten Bandung 2017-2021
Grafik 3.1.3 Mata Pencaharian Kabupaten Bandung 2017-2021 (BPS, Kabupaten Bandung)
24
Gambar 3.1.2.2 Peta Rata-Rata Mata Pencaharian Tahun 2017-2021 (BPS, Kabupaten Bandung)
3.1.2.3. Penduduk Menurut Pendidikan
Jumlah murid dengan pendidikan Sekolah Dasar baik negeri maupun swasta, yang berada di Kabupaten Bandung. Kecamatan yang memiliki jumlah murid terbanyak dari kurun waktu 10 tahun terakhir, berada di Kecamatan Baleendah. Untuk kecamatan yang memiliki jumlah murid yang sedikit ialah Kecamatan Nagreg, yang dimana selama 10 tahun terakhir jumlah penambahan muridnya sedikit.
Tabel 3.1.8 Penduduk Menurut Pendidikan SD Negeri/Swasta Kabupaten Bandung 2012- 2021 (BPS, Kabupaten Bandung)
Kecamatan
SD Negeri/Swasta
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
25
CIWIDEY 8.922 8.976 8.980 8.786 8.603 8.632 8.632 8.581 8.709 8.730 RANCABALI 6.657 6.415 6.156 5.970 5.867 5.689 5.689 5.588 5.567 5.749 PASIRJAMBU 9.978 9.800 9.659 9.544 9.458 9.272 9.272 9.201 9.142 8.871 CIMAUNG 9.370 9.147 9.203 8.916 9.046 8.938 8.938 8.780 8.712 8.578 PANGALENGAN 18.461 18.152 18.024 13.461 16.999 16.778 16.778 16.446 16.550 16.323 KERTASARI 8.587 8.005 7.726 7.546 12.463 7.778 7.778 7.635 7.594 7.300 PACET 11.817 11.817 11.415 11.363 11.085 10.817 10.817 10.719 10.818 10.719 IBUN 10.195 10.074 10.011 9.664 9.724 9.657 9.657 9.324 9.182 8.933 PASEH 15.270 15.241 15.013 14.978 14.999 14.964 14.964 14.550 14.559 14.055 CIKANCUNG 11.706 11.721 11.633 11.359 11.467 11.415 11.415 11.105 10.846 10.640 CICALENGKA 15.223 15.041 14.693 13.975 14.170 13.961 13.961 13.628 13.526 13.493 NAGREG 6.872 6.704 6.551 6.243 6.471 6.543 6.543 6.472 6.417 6.149 RANCAEKEK 21.307 21.081 20.702 14.986 19.814 19.604 19.604 19.281 19.552 19.134 MAJALAYA 21.053 20.802 20.562 19.027 19.186 18.897 18.897 18.232 17.480 16.731 SOLOKANJERUK 9.848 9.793 9.738 9.702 9.548 9.488 9.488 9.176 9.230 9.001 CIPARAY 18.391 18.016 17.946 16.899 17.613 17.385 17.385 17.400 17.310 16.869 BALEENDAH 27.035 27.422 27.720 13.962 27.129 27.009 27.009 27.132 27.508 26.958 ARJASARI 11.857 11.285 11.501 11.137 11.078 10.894 10.894 10.848 11.000 10.906 BANJARAN 14.396 14.428 14.294 13.962 13.547 13.398 13.398 13.135 12.794 12.502 CANGKUANG 7.534 7.496 7.515 7.779 7.241 7.221 7.221 7.004 7.069 6.932 PAMEUNGPEUK 8.274 8.301 8.177 7.967 7.853 7.803 7.803 7.747 7.792 7.935 KATAPANG 11.963 12.115 12.235 10.751 7.594 12.571 12.571 12.732 13.138 12.767 SOREANG 12.608 12.396 12.215 12.141 11.932 11.784 11.784 11.613 11.729 11.650 KUTAWARINGIN 10.583 10.518 10.447 10.564 10.311 10.411 10.411 10.519 10.750 10.674 MARGAASIH 12.000 11.715 11.804 10.612 11.262 11.160 11.160 11.315 11.746 12.701 MARGAHAYU 14.402 14.001 13.902 9.967 13.158 13.213 13.213 13.107 13.234 12.598 DAYEUHKOLOT 14.304 14.224 10.080 13.266 13.326 13.103 13.103 12.786 12.394 12.093 BOJONGSOANG 10.278 10.245 14.315 9.867 9.914 9.988 9.988 10.023 10.036 9.901 CILEUNYI 16.137 16.607 16.771 13.645 16.911 17.308 17.308 17.312 17.501 17.316 CILENGKRANG 4.790 4.608 4.586 4.407 4.583 4.731 4.731 4.773 5.465 5.398 CIMENYAN 10.654 10.517 10.355 8.857 10.345 10,331 10.331 10.418 10.741 10.635
Sumber: BPS Kabupaten Bandung 2012-2021
26
Grafik 3.1.4 Penduduk Menurut Pendidikan SD Negeri/Swasta Kabupaten Bandung 2012- 2021 (BPS, Kabupaten Bandung)
Tabel 3.1.9 Penduduk Menurut Pendidikan SMP Negeri/Swasta Kabupaten Bandung 2012- 2021 (BPS, Kabupaten Bandung)
Kecamatan
SMP Negeri/Swasta
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 CIWIDEY 2.476 2.512 2.504 2.350 2.362 2.442 2.442 2.478 2.650 2.506 RANCABALI 2.403 2.439 2.454 1.519 2.229 2.822 2.822 2.189 2.193 2.102 PASIRJAMBU 2.503 2.340 2.332 1.618 2.835 2.612 2.612 2.693 2.772 2.968 CIMAUNG 2.575 2.580 2.479 1.269 2.578 4.859 4.859 2.474 2.744 2.784 PANGALENGAN 4.739 4.985 4.889 4.035 4.755 2.559 2.559 4.763 4.895 4.825 KERTASARI 2.701 2.846 2.861 2.122 2.699 4.957 4.957 2.512 2.446 2.152 PACET 4.172 4.441 4.639 2.247 4.811 3.914 3.914 4.961 5.696 5.725 IBUN 3.828 3.835 4.015 2.511 4.061 6.376 6.376 3.835 3.859 3.740 PASEH 5.656 5.992 6.427 2.978 6.431 2.753 2.753 6.186 6.520 6.357
27
CIKANCUNG 2.994 3.041 2.954 2.449 2.827 6.352 6.352 2.728 2.882 2.751 CICALENGKA 6.113 6.232 6.607 2.263 6.521 8.176 8.176 6.092 5.716 5.405 NAGREG 2.692 2.674 2.594 1.345 2.625 6.255 6.255 2.246 2.110 2.080 RANCAEKEK 7.900 8.043 8.055 5.048 8.206 9.540 9.540 8.111 7.920 7.949 MAJALAYA 5.546 5.699 6.110 1.310 6.518 9.850 9.850 5.706 5.519 5.409 SOLOKANJERUK 3.287 3.331 3.453 2.078 3.450 4.319 4.319 3.579 3.533 3.470 CIPARAY 8.390 8.950 9.260 3.262 9.222 7.576 7.576 9.220 9.419 9.422 BALEENDAH 8.712 8.824 9.033 5.253 9.622 2.718 2.718 9.631 9.702 9.522 ARJASARI 4.324 4.491 4.552 1.451 4.317 4.018 4.018 4.249 4.420 4.161 BANJARAN 6.635 6.692 7.048 2.819 7.733 4.149 4.149 7.223 6.965 6.810 CANGKUANG 1.695 1.656 1.689 1.371 1.790 3.354 3.354 1.756 2.096 1.991 PAMEUNGPEUK 2.593 2.623 2.611 2.002 2.692 6.474 6.474 2.584 2.625 2.701 KATAPANG 4.220 4.159 4.183 2.548 4.140 5.220 5.220 3.881 4.013 4.019 SOREANG 3.521 3.509 3.669 2.979 4.071 3.100 3.100 4.020 3.975 3.757 KUTAWARINGIN 2.376 2.519 2.557 1.326 2.519 7.407 7.407 2.718 2.889 2.841 MARGAASIH 3.164 3.266 3.396 1.931 3.395 1.404 1.404 3.321 3.405 3.386 MARGAHAYU 5.151 5.478 5.913 3.727 6.445 3.203 3.203 6.379 6.556 6.381 DAYEUHKOLOT 4.879 4.967 3.081 2.730 5.375 2.293 2.293 5.036 5.196 5.019 BOJONGSOANG 2.982 2.993 5.199 1.632 2.939 2.414 2.414 2.886 3.242 3.212 CILEUNYI 5.480 5.865 6.530 3.776 7.305 3.600 3.600 7.358 7.631 7.354 CILENGKRANG 1.156 1.304 1.336 1.026 1.256 1.757 1.757 1.663 1.834 1.720 CIMENYAN 2.409 2.616 2.749 1.658 3.034 2.655 2.655 3.222 3.622 3.878
Sumber: BPS, Kabupaten Bandung 2012-2021
28
Grafik 3.1.5 Penduduk Menurut Pendidikan SMP Negeri/Swasta Kabupaten Bandung 2012- 2021 (BPS, Kabupaten Bandung)
Pada tingkatan pendidikan Sekolah Menengah Pertama negeri atau swasta, yang dimana jumlah murid tahun 2015 merupakan yang paling terendah selama rentang 10 tahun terakhir.
29
Grafik 3.1.6 Penduduk Menurut Pendidikan SMP Negeri/Swasta Kabupaten Bandung 2012- 2021 (BPS, Kabupaten Bandung)
Pada tabel dan grafik yang sudah tersedia di atas, merupakan jumlah murid SMA negeri/swasta yang berada di Kabupaten Bandung. Dapat terlihat pada grafik tersebut, pada Kecamatan Ciparay memiliki jumlah murid lebih banyak dibandingkan seluruh kecamatan di Kabupaten Bandung selama 10 tahun terakhir.
3.1.2.4. Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk yang berada di Kabupaten Bandung terkonsentrasi di sebelah utara. Hal tersebut terlihat pada kedua peta yang masing-masing memiliki retang 2011-2016 dan 2017-2021, yang menunjukan wilayah kecamatan dengan berbatasan Kota Cimahi dan Kota Bandung.
Tabel 3.1.11 Kepadatan Penduduk Per Kecamatan Kabupaten Bandung 2012-2021 (BPS, Kabupaten Bandung)
Kepadatan Penduduk Per km² Nama
Kecamatan 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
CIWIDEY
1.54 3
1.55 6
1.58 1
1.60 3
1.62 7
1.64 9
1.67 6
1.70 3
1.78 3
1.81 2 RANCABALI 328 331 337 342 346 350 356 362 344 346
30 PASIRJAMB
U 342 345 350 356 362 367 373 379 381 385
CIMAUNG
1.37 7
1.38 6
1.40 7
1.43 1
1.45 4
1.47 6
1.50 0
1.52 4
1.56 5
1.58 9 PANGALEN
GAN 728 736 747 759 770 781 794 807 790 797
KERTASARI 441 443 450 459 465 471 479 487 469 472
PACET
1.12 9
1.14 1
1.15 9
1.18 6
1.20 4
1.22 0
1.24 0
1.26 0
1.25 2
1.26 7
IBUN
1.42 8
1.44 9
1.47 2
1.50 1
1.52 3
1.54 5
1.57 0
1.59 5
1.59 5
1.61 5
PASEH
2.41 8
2.45 8
2.49 6
2.54 7
2.58 7
2.62 5
2.66 8
2.71 0
2.66 9
2.70 2
CIKANCUNG
2.14 3
2.18 1
2.21 5
2.27 1
2.30 5
2.33 8
2.37 6
2.41 4
2.40 9
2.44 7 CICALENGK
A
3.12 3
3.16 8
3.21 8
3.28 3
3.34 2
3.40 0
3.45 5
3.50 9
3.39 4
3.43 0
NAGREG
1.00 4
1.02 2
1.03 8
1.06 0
1.07 9
1.09 6
1.11 3
1.13 1
1.18 5
1.20 4 RANCAEKE
K
3.80 0
3.87 2
3.93 3
3.99 7
4.07 5
4.15 2
4.22 0
4.28 6
4.09 9
4.14 1
MAJALAYA
6.12 4
6.17 9
6.27 8
6.40 9
6.53 1
6.65 2
6.76 0
6.86 6
6.33 3
6.36 5 SOLOKANJE
RUK
3.32 4
3.35 1
3.40 4
3.46 9
3.53 1
3.59 2
3.65 1
3.70 8
3.61 5
3.65 2
CIPARAY
3.36 9
3.41 2
3.46 6
3.53 4
3.59 8
3.65 8
3.71 8
3.77 6
3.73 7
3.78 4 BALEENDA
H
5.76 6
5.96 8
6.06 3
6.17 3
6.28 9
6.40 5
6.50 9
6.61 1
6.34 6
6.44 7
ARJASARI
1.44 7
1.46 2
1.48 5
1.51 4
1.54 0
1.56 5
1.59 1
1.61 6
1.62 5
1.64 8
BANJARAN
2.75 5
2.79 9
2.84 3
2.89 5
2.94 7
2.99 8
3.04 7
3.09 5
3.08 0
3.12 2
31 CANGKUAN
G
2.81 2
2.91 0
2.95 6
3.00 5
3.06 3
3.11 9
3.16 9
3.21 9
3.23 7
3.30 3 PAMEUNGP
EUK
4.96 0
5.02 8
5.10 8
5.20 8
5.30 0
5.38 8
5.47 6
5.56 2
5.78 4
5.88 5
KATAPANG
7.45 0
7.69 9
7.82 2
7.96 8
8.12 1
8.27 0
8.40 5
8.53 6
8.29 6
8.44 0
SOREANG
4.26 9
4.35 4
4.42 3
4.50 3
4.58 7
4.66 9
4.74 5
4.81 9
4.57 3
4.62 2 KUTAWARI
NGIN
1.97 0
2.01 9
2.05 1
2.08 8
2.12 3
2.15 7
2.19 2
2.22 6
2.16 6
2.19 4
MARGAASIH
7.73 2
7.93 7
8.06 3
8.22 7
8.38 3
8.53 7
8.67 6
8.81 1
8.09 5
8.17 5 MARGAHAY
U
11.6 87
11.7 77
11.9 65
12.1 72
12.4 05
12.6 34
12.8 40
13.0 41
11.5 38
11.5 39 DAYEUHKO
LOT
10.3 96
10.4 30
10.5 97
10.8 11
11.0 21
11.2 24
11.4 07
11.5 84
9.71 8
9.71 9 BOJONGSOA
NG
4.06 3
4.21 8
4.28 5
4.36 1
4.44 8
4.53 2
4.60 6
4.67 8
4.05 1
4.08 6
CILEUNYI
5.70 9
5.99 4
6.08 9
6.18 7
6.31 1
6.42 7
6.53 1
6.63 4
5.90 7
5.98 8 CILENGKRA
NG
1.63 7
1.68 5
1.71 2
1.73 8
1.76 7
1.79 5
1.82 4
1.85 3
1.86 0
1.89 4
CIMENYAN
2.06 9
2.10 9
2.14 2
2.17 5
2.21 0
2.24 8
2.28 5
2.32 1
2.15 8
2.17 8
Sumber: BPS, Kabupaten Bandung 2012-2021
32
Gambar 3.1.11 Tingkat Kepadatan Penduduk Kabupaten Bandung Tahun 2011-2016 (BPS, Kabupaten Bandung)
Kepadatan Penduduk Per km² Nama
Kecamatan 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
CIWIDEY
1.54 3
1.55 6
1.58
1 1.603 1.62 7
1.64 9
1.67 6
1.70 3
1.78 3
1.81 2 RANCABAL
I 328 331 337 342 346 350 356 362 344 346
PASIRJAMB
U 342 345 350 356 362 367 373 379 381 385
CIMAUNG
1.37 7
1.38 6
1.40
7 1.431 1.45 4
1.47 6
1.50 0
1.52 4
1.56 5
1.58 9
33 PANGALEN
GAN 728 736 747 759 770 781 794 807 790 797
KERTASARI 441 443 450 459 465 471 479 487 469 472
PACET
1.12 9
1.14 1
1.15
9 1.186 1.20 4
1.22 0
1.24 0
1.26 0
1.25 2
1.26 7
IBUN
1.42 8
1.44 9
1.47
2 1.501 1.52 3
1.54 5
1.57 0
1.59 5
1.59 5
1.61 5
PASEH
2.41 8
2.45 8
2.49
6 2.547 2.58 7
2.62 5
2.66 8
2.71 0
2.66 9
2.70 2 CIKANCUN
G
2.14 3
2.18 1
2.21
5 2.271 2.30 5
2.33 8
2.37 6
2.41 4
2.40 9
2.44 7 CICALENGK
A
3.12 3
3.16 8
3.21
8 3.283 3.34 2
3.40 0
3.45 5
3.50 9
3.39 4
3.43 0
NAGREG
1.00 4
1.02 2
1.03
8 1.060 1.07 9
1.09 6
1.11 3
1.13 1
1.18 5
1.20 4 RANCAEKE
K
3.80 0
3.87 2
3.93
3 3.997 4.07 5
4.15 2
4.22 0
4.28 6
4.09 9
4.14 1
MAJALAYA
6.12 4
6.17 9
6.27
8 6.409 6.53 1
6.65 2
6.76 0
6.86 6
6.33 3
6.36 5 SOLOKANJE
RUK
3.32 4
3.35 1
3.40
4 3.469 3.53 1
3.59 2
3.65 1
3.70 8
3.61 5
3.65 2
CIPARAY
3.36 9
3.41 2
3.46
6 3.534 3.59 8
3.65 8
3.71 8
3.77 6
3.73 7
3.78 4 BALEENDA
H
5.76 6
5.96 8
6.06
3 6.173 6.28 9
6.40 5
6.50 9
6.61 1
6.34 6
6.44 7
ARJASARI
1.44 7
1.46 2
1.48
5 1.514 1.54 0
1.56 5
1.59 1
1.61 6
1.62 5
1.64 8
34 BANJARAN
2.75 5
2.79 9
2.84
3 2.895 2.94 7
2.99 8
3.04 7
3.09 5
3.08 0
3.12 2 CANGKUAN
G
2.81 2
2.91 0
2.95
6 3.005 3.06 3
3.11 9
3.16 9
3.21 9
3.23 7
3.30 3 PAMEUNGP
EUK
4.96 0
5.02 8
5.10
8 5.208 5.30 0
5.38 8
5.47 6
5.56 2
5.78 4
5.88 5
KATAPANG
7.45 0
7.69 9
7.82
2 7.968 8.12 1
8.27 0
8.40 5
8.53 6
8.29 6
8.44 0
SOREANG
4.26 9
4.35 4
4.42
3 4.503 4.58 7
4.66 9
4.74 5
4.81 9
4.57 3
4.62 2 KUTAWARI
NGIN
1.97 0
2.01 9
2.05
1 2.088 2.12 3
2.15 7
2.19 2
2.22 6
2.16 6
2.19 4 MARGAASI
H
7.73 2
7.93 7
8.06
3 8.227 8.38 3
8.53 7
8.67 6
8.81 1
8.09 5
8.17 5 MARGAHA
YU
11.6 87
11.7 77
11.9
65 12.172 12.4 05
12.6 34
12.8 40
13.0 41
11.5 38
11.5 39 DAYEUHKO
LOT
10.3 96
10.4 30
10.5
97 10.811 11.0 21
11.2 24
11.4 07
11.5 84
9.71 8
9.71 9 BOJONGSO
ANG
4.06 3
4.21 8
4.28
5 4.361 4.44 8
4.53 2
4.60 6
4.67 8
4.05 1
4.08 6
CILEUNYI
5.70 9
5.99 4
6.08
9 6.187 6.31 1
6.42 7
6.53 1
6.63 4
5.90 7
5.98 8 CILENGKRA
NG
1.63 7
1.68 5
1.71
2 1.738 1.76 7
1.79 5
1.82 4
1.85 3
1.86 0
1.89 4
CIMENYAN
2.06 9
2.10 9
2.14 2
31 310 Cimen yan 53,08
2.21 0
2.24 8
2.28 5
2.32 1
2.15 8
2.17 8
35 115.47 5 2.175
Gambar 3.1.11 Tingkat Kepadatan Penduduk Kabupaten Bandung Tahun 2017-2021 (BPS, Kabupaten Bandung)
Kepadatan penduduk yang berada di Kabupaten Bandung terkonsentrasi di sebelah utara. Hal tersebut terlihat pada kedua peta yang masing-masing memiliki retang 2011-2016 dan 2017- 2021, yang menunjukan wilayah kecamatan dengan berbatasan Kota Cimahi dan Kota Bandung.
3.1.4.5. Migrasi Penduduk
Migrasi penduduk Kabupaten Bandung, melonjak dari tahun 2019 menuju tahun 2020. Tidak hanya berhenti di tahun 2020 saja, melainkan masih bertambah menuju tahun 2021.
Tabel 3.1.12 Migrasi Kabupaten Bandung 2012-2021 (BPS, Kabupaten Bandung)
36
Tahun 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 Migrasi
Kabupate n
Bandung 2012- 2021
5.03 4
5.85 9
6.65 9
6.89 7
7.56 9
8.55 8
8.94 3
10.17 0
28.50 1
30.26 5
Sumber: BPS, Kabupaten Bandung 2012-2021
Grafik 3.1.7 Migrasi Kabupaten Bandung Tahun 2012-2021 (BPS, Kabupaten Bandung) 3.1.4.6. Tingkat Kelahiran dan Kematian
Data yang yang ditampilkan hanya rentang waktu 2014-2018, hal ini dikarenakan data-data tersebut yang muncul pada BPS. Efeknya tidak dapat memberikan times series selama 10 tahun.
Tabel 3.1.13 Tingkat Kelahhiran dan Kematian Kabupaten Bandung 2014-2018 Tingkat Kelahiran dan Kematian Kabupaten Bandung 2014 -2018
Tahun Kelahiran Kematian
2014 70,54 6,7
37
2015 73,03 13,3
2016 73,1 7,8
2017 73,14 4,9
2018 73,17 7,7
Sumber: BPS, Kabupaten Bandung 2014-2018
Grafik 3.1.8 Tingkat Kelahiran dan Kematian Kabupaten Bandung Tahun 2014-2018 (%) (BPS, Kabupaten Bandung)
3.1.4.7. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Dalam kurun waktu 10 tahun, Indeks Pembangunan Manusia di wilayah Kabupaten Bandung teruslah meningkat dengan cukup signifikan. Hal ini dapat terlihat pada grafik, yang menunjukan tren peningkatan di setiap tahun nya. Dengan demikian pemerintah daerah setempat, telah menaikan kualitas sumber daya manusia di berbagai sektor, terutama pada sektor pendidikan.
Tabel 3.1.14 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2012-2021 (BPS, Kabupaten Bandung) Tahun 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
Indeks Pembanguna
68,1 3
68,5 8
69,0 6
70,0 5
70,6 9
71,0 2
71,7 5
72,4 1
72,3 9
72,7 3
38 n Manusia
Kabupaten Bandung Tahun 2012 - 2021 (%)
Sumber: BPS, Kabupaten Bandung 2012-2021
Grafik 3.1.9 Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Bandung 2012-2021 (BPS, Kabupaten Bandung)
39
Gambar 3.1.14 Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Bandung 2012-2021 (BPS, Kabupaten Bandung)
3.1.3. Karakteristik Ekonomi
3.1.3.1. PDRB Konstan & Berlaku Kabupaten Bandung
PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar. PDRB harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun. dibawah ini merupakan PDRB Kab Bandung Atas Dasar Harga Konstan di tiap tahunnya.
Grafik 3.1.10 PDRB Kabupaten Bandung Atas Harga konstan Tahun 2011
40
Grafik 3.1.11 PDRB Kabupaten Bandung Atas Harga konstan Tahun 2012
Grafik 3.1.12 PDRB Kabupaten Bandung Atas Harga konstan Tahun 2013
Grafik 3.1.13 PDRB Kabupaten Bandung Atas Harga konstan Tahun 2014
41
Grafik 3.1.14 PDRB Kabupaten Bandung Atas Harga konstan Tahun 2015
Grafik 3.1.15 PDRB Kabupaten Bandung Atas Harga konstan Tahun 2016
42
Grafik 3.1.16 PDRB Kabupaten Bandung Atas Harga konstan Tahun 2017
Grafik 3.1.17 PDRB Kabupaten Bandung Atas Harga konstan Tahun 2018
43
Grafik 3.1.18 PDRB Kabupaten Bandung Atas Harga konstan Tahun 2019
PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun berjalan, lalu PDRB dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi. Dibawah ini merupakan diagram PDRB Kab Bandung Atas Dasar Harga Berlaku dari tahun 2011 hingga 2020.
Grafik 3.1.19 PDRB Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga berlaku tahun 2011
44
Grafik 3.1.20 PDRB Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga berlaku tahun 2012
Grafik 3.1.21 PDRB Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga berlaku tahun 2013
45
Grafik 3.1.22 PDRB Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga berlaku tahun 2014
Grafik 3.1.23 PDRB Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga berlaku tahun 2015
46
Grafik 3.1.24 PDRB Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga berlaku tahun 2016
Grafik 3.1.25 PDRB Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga berlaku tahun 2017
47
Grafik 3.1.26 PDRB Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga berlaku tahun 2018
Grafik 3.1.27 PDRB Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga berlaku tahun 2019
48
Grafik 3.1.28 PDRB Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga berlaku tahun 2020
3.1.3.2. Komoditas Pertanian
Potensi ekonomi pada sektor pertanian di Kabupaten Bandung Barat cukup menjanjikan. Terlebih sebagian besar wilayahnya menghasilkan komoditi sayuran dengan kualitas yang mampu bersaing dipasaran lokal bahkan internasional. Karena hal itu bupati bandung barat, berencana menjadikan sektor pertanian sebagai mata pencaharian, bagi generasi milenial di Kabupaten Bandung Barat. Terlebih, 30 persen penduduk KBB di dominasi oleh usia muda dan 25% diantaranya berpotensi menjadi seorang petani modern. Pasalnya, jika bertani ditekuni dengan serius, tidak menutupi kemungkinan menjadi profesi yang menjanjikan dari sisi ekonomi. Gambar dibawah ini merupakan diagram pertumbuhan potensi dari komoditas pertanian, kehutanan dan perikanan di Kab Bandung.
49
Grafik 3.1.29 Diagram pertumbuhan potensi
3.1.3.3. Industri Kabupaten Bandung
Perusahaan atau industri adalah suatu unit (kesatuan) usaha yang melakukan kegiatan ekonomi, bertujuan menghasilkan barang atau jasa, terletak pada suatu bangunan atau lokasi tertentu, dan mempunyai catatan administrasi tersendiri. Dari data tersebut hasilnya di rata-rata setiap 10 tahun dan sabagian dari data setiap 10 tahun ada yang tidak lengkap datanya atau dari data bps tidak lengkap. Berikut ini adalah peta jumlah perusahaan industri besar dan sedang di wilayah Kabupaten Bandung pada tahun 2012- 2021.
50
Gambar 3.1.14 Peta Jumlah Industri Kabupaten Bandung Tahun 2012-2021
3.1.4. Karakteristik Sarana Prasarana 3.1.4.1. Sarana Pendidikan
Berdasarkan peta persebaran sarana pendidikan di Kabupaten Bandung, maka di setiap kecamatan sudah memiliki sarana pendidikan mulai dari tingkat SD sampai SMA. Rata - rata fasilitas pendidikan di Kabupaten Bandung tidak mengalami penurunan. Fasilitas pendidikan cenderung mengalami peningkatan meskipun tidak terlalu fluktuatif. Untuk lebih jelas maka data tersebut ditampilkan dalam bentuk statistik dan peta persebaran Pendidikan Kabupaten Bandung seperti berikut.
51
Gambar 3.1.15 Peta Persebaran Pendidikan SD
Gambar 3.1.16 Peta Persebaran Pendidikan SMP
52
Gambar 3.1.17 Peta Persebaran Pendidikan SMA
Grafik 3.1.30 Statistik Pendidikan SD
53
Grafik 3.1.31 Statistik Pendidikan SMP
Grafik 3.1.32 Statistik Pendidikan SMA 3.1.4.2. Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan di dapat dari data BPS Fasilitas kesehatan di setiap kecamatan yang ada di kabupaten bandung dan google earth untuk
54
menentukan titik fasilitas kesehatan. berdasarkan pada data dan peta persebaran fasilitas kesehatan setiap kecamatan di kabupaten bandung telah memiliki fasilitas kesehatan sehingga sarana kesehatan pada kabupaten bandung cukup untuk melayani masyarakat. Berikut peta kesehatan.
Gambar 3.1.18 Peta persebaran fasilitas kesehatan.
3.1.4.3. Sarana Perdagangan
Jumlah pasar di Kabupaten Bandung secara keseluruhan dapat dilihat di data BPS Kabupaten Bandung tahun terbaru, untuk pemetaan lokasi pasar di Kabupaten Bandung menggunakan data koordinat software Google Earth lalu dilakukan konversi data menggunakan software Microsoft Excel dengan format file CSV (comma delimited). Dalam peta persebaran pasar Kabupaten Bandung terlihat pasar cenderung dominan berada di bagian utara yang berdekatan dengan Kota Bandung, ditambah keadaan topografi yang relatif datar, hal ini berbeda dengan bagian selatan yang sedikit ditemukan pasar karena wilayahnya didominasi pegunungan dengan kemiringan lereng cukup tinggi. Berikut terdapat peta perdagangan.
55
Gambar 3.1.19 Peta Persebaran Pasar
3.1.5. Karakteristik Keruangan/Tata ruang 3.1.5.1. Perencanaan Pola Ruang
Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya. Berdasarkan peta perencanaan pola ruang di Kabupaten Bandung, maka di setiap kecamatan sudah memiliki kawasan pemukiman.
Rata - rata pola ruang di Kabupaten Bandung banyaknya kawasan hutan produksi dan cagar alam. Pengembangan kawasan peruntukan perindustrian di Kabupaten Bandung dilakukan dengan pengembangan sentra industri kecil dan menengah yang dilengkapi fasilitas pengelolaan lingkungan yang memadai, khususnya kawasan pariwisata Kabupaten Bandung diarahkan pada kegiatan ekowisata, agrowisata, wisata pendidikan dan wisata olahraga, Berikut peta Perencanaan Pola ruang kabupaten Bandung.
56
Gambar 3.1.20 Peta Perencanaan Pola Ruang Kabupaten Bandung
3.1.5.2. Perencanaan Struktur Ruang
Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Bandung no 27 tahun 2016 menunjukkan terdapat wilayah di Kabupaten Bandung yang diperuntukkan mengembangkan wilayah tersebut. Masalah banjir di Kabupaten Bandung merupakan masalah lingkungan yang harus diperhatikan, menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, terdapat tiga kecamatan yang sering terjadi banjir, antara lain Kecamatan Rancaekek, Dayeuhkolot, dan Bojongsoang. Ketiga kecamatan tersebut berbatasan langsung dengan Kota Bandung yang merupakan pusat perekonomian dan aspek sosial maupun budaya, sehingga apabila banjir tersebut tidak sesegera mungkin diatasi akan berdampak ke wilayah lain. Keberadaan Instalasi Pengelolaan Air Limbang (IPAL) cenderung dominan berada di bagian utara, hal ini dikarenakan banyak adanya pemukiman dan industri yang banyak menghasilkan limbang yang harus diolah agar tidak menimbulkan masalah lingkungan. Berikut disajikan peta struktur ruang Kabupaten Bandung menurut Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Bandung no 27 tahun 2016.
57
Gambar 3.1.21 Peta Rencana Struktur Ruang Kabupaten Bandung
3.1.5.3. Perencanaan Pariwisata
Berdasarkan Peta Wisata Kabupaten Bandung ini memiliki berbagai objek wisata yang tersebar di seluruh kecamatan yang ada pada Kabupaten Bandung. Objek wisata yang ada di Kabupaten Bandung ini sebagian besar adalah objek wisata alam. Kabupaten Bandung ini juga memiliki Desa Wisata, dengan memb