• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2. Analisis Semiotika Lirik Lagu “Biru” Karya Efek Rumah Kaca

4.2.2. Analisis Tataran Mitos

Sebelumnya lagu “Biru” karya Efek Rumah Kaca telah peneliti analisis secara denotatif dan konotatif. Telah didapatkan pula isi dari lagu “Biru” baik secara denotatif maupun secara konotatif. Pemaknaan dalam teori Roland Barthes tidak hanya sebatas denotatif dan konotatif saja. Namun Barthes juga melihat makna yang lebih dalam tingkatannya, akan tetapi lebih bersifat konvensional, yaitu makna-makna yang berkaitan dengan mitos. Mitos dalam pemahaman semiotika Barthes adalah pengkodean makna dan nilai-nilai sosial (yang sebetulnya arbiter atau konotatif) sebagai sesuatu yang dianggap alamiah.

Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai „mitos‟, dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan

pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu (Budiman dalam Sobur, 2004: 71). Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda dan tanda, namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau, dengan kata lain, mitos juga suatu sistem pemaknaan tataran kedua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda (Sobur, 2004: 71).

Barthes menempatkan ideologi dengan mitos karena, baik di dalam mitos maupun ideologi, hubungan antara penanda konotatif dan petanda konotatif terjadi secara termotivasi (Budiman dalam Sobur, 2004: 71). Ideologi ada selama kebudayaan ada, dan itulah sebabnya di dalam S/Z Barthes berbicara tentang konotasi sebagai suatu ekspresi budaya. Kebudayaan mewujudkan dirinya di dalam teks-teks dan, dengan demikian, ideologi pun mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang merembes masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda- penanda penting, seperti tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain. Berdasarkan penjelasan mengenai mitos menrut Roland Barthes di atas, maka peneliti akan menjelaskan mitos dari pemaknaan lagu “Biru” karya Efek Rumah Kaca ini.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kedua lagu ini merupakan suatu kesatuan cerita perjalanan Efek Rumah Kaca. Dimana lagu pertama, “Pasar Bisa Diciptakan”, mendeskripsikan bentuk kegelisahan dari band ini sendiri akan industri musik Indonesia saat ini. Sedangkan lagu kedua mendeskripsikan tentang pembuktian pada khalayak bahwasanya mereka dapat membuktikan bahwa kegelisahan itu dapat terbantahkan, dan Efek Rumah Kaca telah membuktikan dengan cara mereka sendiri.

Hal ini jelas terbukti dari pernyataan yang dinyatakan oleh Efek Rumah Kaca pada video wawancara mereka di youtube terkait setiap cipta bisa dipasarkan. Bahwa mereka pernah mengalami penolakan dari major label. Dimana major label berpendapat bahwa musik dari Efek Rumah Kaca tidak sesuai dengan permintaan pasar saat itu. “Ya itu dulu ya sempatlah. Pengalaman Cholil dulu itu ya. Dia sempat mendatangi beberapa label, sambil membawa materi-materinya yang awal dulu. Ya memang karena saat itu industri arah musiknya lagi seru- seruan yang lagunya cinta melulu” Ucap Akbar sambil tertawa. Kemudian dia menambahkan kembali, “Akhirnya, ya kan materi kita ngomongin banyak hal

gitu, ya kayaknya kurang sesuai lah gitu sama selera saat itu. Jadi ya disuruh bikin lagi musiknya yang kayak mereka pengen, ya otomatis kita tolak sih untuk itu”

(https://www.youtube.com).

Akbar juga mengungkapkan pendapatnya terkait alasan lagu “Biru”

diciptakan. “Itu sebenarnya sama seperti judulnya. Jadi benar-benar ya kita langsung aja ngomongnya. Itu kan dua lagu ya kalau di album Sinestesia itu nama judulnya biru. Jadi lagu pertama itu pasar bisa diciptakan, lagu kedua ya cipta bisa dipasarkan. Jadi ya kita bisa meng-create sesuatu yang kita yakinin. Terus ya kita yakin bahwa yang kita create ini pasti ada pasarnya” ucapnya (https://www.youtube.com).

Kondisi industri musik Indonesia saat ini yang menjadi objek utama pada lagu “Biru”. Dimana perlu kita ketahui bahwasanya industri musik Indonesia telah bekembang sangat dinamis dari masa ke masanya. Dimulai dari era sebelum 70-an misalnya. Pada era ini musik Indonesia lebih banyak bertemakan perjuangan, keberanian, semangat dan kebangsaan. Tema-tema heroik seperti ini tentu saja berkaitan dengan kondisi Indonesia saat itu yang sedang melakukan perjuangan melawan Belanda dan Jepang. Tentunya masyarakat Indonesia masih hapal dengan lagu; Maju Tak Gentar, Bandung Lautan Api, dan lain-lain. Lagu-lagu pada era ini kebanyakan telah dijadikan sebagai lagu nasional. Pengarang lagu yang paling terkenal pada masa itu adalah Ismail Marzuki (1946) (http://www.last.fm).

Beranjak ke musik di era 70-an. Pada masa ini Koes Bersaudara menjadi rajanya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya lagu mereka yang mencapai Hits dan mereka juga dijuluki sebagai The Beatles-nya Indonesia. Di tengah perjalanan mereka, Toni Koeswoyo memilih bersolo karir dan kemudian digantikan dengan Murry. Dikarenakan Murry bukan bagian dari keluarga Koeswoyo maka

“bersaudara” diganti menjadi “plus”. Koes Plus pun pernah beberapa kali dicekal dan masuk penjara dikarenakan mereka menggunakan lirik berbahasa asing, yang menurut pemerintahan Soekarno hal ini tidak mencerminkan watak nasionalisme dan bisa membahayakan (Sen & Hill, 2001:196). Berbeda dengan era 70-an, di era 80-an lagu yang mendominasi adalah lagu pop yang mendayu-dayu, bertempo lambat dan cenderung memiliki kesan cengeng. Nama-nama pencipta lagu yang

cukup produktif di era ini seperti Rinto Harahap, Pance Pondaag, A Rianto, dan Obbie Mesakh. Beberapa nama yang merupakan spesialis lagu sedih adalah Nia Daniaty, Betharia Sonata, Ratih Purwasih, Iis Sugianto. Lagu-lagu balada juga lumayan laku, mungkin ini dikarenakan temponya yang juga lambat. Seperti Ebiet G Ade juga termasuk yang familiar kala itu (http://www.last.fm).

Di tengah banyaknya aliran yang cengeng dan mendayu-dayu ini, sebenarnya terdapat beberapa musisi yang tidak terbawa arus dan konsisten dengan aliran mereka. Mereka tidak memainkan musik yang meratap-ratap. Di antaranya ada nama Fariz RM, Vina Panduwinata, Gombloh, dan lain-lain (http://www.last.fm). Musik mereka sering disebut sebagai musik pop kreatif.

Bahkan lagu Vina yang berjudul “Burung Camar” jadi hits dimana-mana.

Di era ini musik rock juga sempat berjaya meski hanya sebentar, beberapa namanya seperti, Ikang Fauzy, Nicky Astria, dan Gito Rollies (http://www.last.fm). Nicky Astria bahkan menjadi ikon Lady Rocker Indonesia.

Selain itu, group rock seperti God Bless sempat berkibar yang kemudian berubah menjadi GONG 2000 (http://www.last.fm). Kemudian group musik baru mulai bermunculan di akhir era ini, atau lebih tepatnya di tahun 90-an awal. Group musik tersebut seperti Dewa 19, Slank, Boomerang, Vodoo, dan masih banyak lagi.

Seiring surutnya aliran musik cengeng, musik pop Indonesia pun seperti kehilangan arahnya. Hal ini yang terjadi di era 90-an. Namun di tengah itu semua terdapat dampak positif bagi musik dangdut, karena pada era ini musik dangdut menjadi lebih hidup dan meriah. Bahkan tidak sedikit penyanyi yang tadinya beraliran musik pop dan rock mulai beralih ke dangdut sehingga yang tercipta adalah jenis musik baru, yaitu pop dangdut.

Lagu seperti “Mobil dan Bensin” ciptaan Obbie Mesakh yang dinyanyikan oleh Santa Hokki kemudian menjadi merajalela. Hal ini terbukti dari lagu Nini Karlina, “Gantengnya Pacarku” yang kemudian menjadi booming. Hal ini semakin memperkuat mulai eksisnya jenis musik ini dan kemudian mulai mengarah ke jenis musik rancak sedikit disko. Jefry Bule adalah contoh pencipta lagu dengan musik jenis ini. Hal ini membuatnya menjadi sangat terkenal. Karya- karyanya banyak yang menjadi Hits. Doel sumbang pun yang biasanya

menyanyikan lagu daerah dan protes sosial mencoba keberuntungan di jenis musik ini (http://www.last.fm).

Di era ini, sesungguhnya banyak group musik yang potensial untuk mencetak hits yang lumayan, namun gaungnya tetap kalah. Seperti lagu “Kangen”

dari Dewa 19, “Terlalu Manis” yang dinyanyikan oleh Slank, serta Indra Lesmana dengan lagu “Aku ingin bebas”.

Saat musik pop Indonesia sedang kehilangan auranya, Ami Search seorang musisi dari negeri Jiran, Malaysia, menjadi hits dengan lagunya yang berjudul

“Isabela”. Lagu ini pulalah yang kemudian memancing lagu-lagu Malaysia lainnya untuk menghiasi musik Indonesia. Salim Iklim, Ella, Nora adalah beberapa nama yang terkenal di Indonesia. Saat itu musik Malaysia berhasil merajai musik Indonesia.

Hal ini menjadikan beberapa musisi Indonesia kemudian meniru gaya mereka. Kemudian terciptalah trend musik baru, yaitu “pop rock”. Dedy Dores, Nike Ardilla, Inka Christie, Nafa Urbach dengan seragamnya menyanyikan lagu dengan musik jenis ini. Bahkan Nike Ardilla sampai membuat terobosan terbaru dalam gaya penampilannya yang bernuansa Rock. Kemudian mulai bermunculan lagi nama-nama baru di dunia rekaman Indonesia, seperti Kahitna, Java Jive, Krisdayanti dan Jingga (http://www.last.fm).

Pada akhir tahun 90-an, terdapat gebrakan baru yang dibuat oleh Sheila on 7 dengan lagunya yang berjudul “Dan” yang sempat menjadi hits di Indonesia juga Malaysia. Reza Artamevia juga mengusung musiknya yang beraliran R&B, dan dapat dibilang cukup berhasil memukau pecinta musik Indonesia.

Sekarang kita telah memasuki era 2000-an. Pada era ini, masyarakat lebih menyukai grup-grup musik dibandingkan dengan penyanyi-penyanyi yang bersolo karir. Para penyanyi solo yang pada era sebelumnya sempat berjaya, perlahan meredup di era ini. Peyanyi solo yang masih bertahan adalah Krisdayanti, Rossa, Chrisye, Titi DJ, dan Glen Freddly. Selebihnya didominasi oleh grup-grup musik.

Peterpan, Ungu, Dewa, Gigi, Ten2Five, Maliq & d‟esentials, Samson, Nidji dan Radja adalah contoh grup musik yang mendominasi tersebut. Solois yang tampak pada masa ini adalah Tompi, Rio Febrian, Resa Herlambang, Bunga Citra Lestari, Shanty, Dewi Sandra. Namun tetap saja gaungnya tidak dapat mengalahkan grup-

grup musik. Namun era ini menempatkan Indonesia berjaya bahkan sampai ke negeri tetangga.

Sekilas telah kita bahas mengenai perkembangan musik di Indonesia. Pada masa sebelum tahun 2000-an, media massa belum terlalu berperan dalam menghegemoni dunia musik. Namun, sudah terlihat adanya semacam percobaan untuk menyeragamkan setiap era. Di era 2000-an hingga saat ini, musik Indonesia banyak difasilitasi oleh media dengan cara menciptakan program musik seperti Dahsyat, Inbox, Derings, dan lainnya untuk menampilkan musik-musik yang baru. Sayangnya, dilihat dari kemasan atau genre musik yang dihadirkan terdapat keseragaman yang dapat mematikan kreatifitas dan inovasi untuk musisi lainnya dalam bersaing dan berkembang. Semua ini dilakukan untuk memberi keuntungan bagi pemilik media seperti yang disampaikan oleh Adorno dalam teori musik popnya beberapa dekade yang lalu.

Dominasi industri budaya yang menjadi kesimpulan pada teori musik Adorno, terlihat jelas dalam sejarah industri musik Indonesia. Musisi-musisi yang dipopulerkan oleh media mempunyai ciri yang tidak jauh berbeda dalam setiap trend-nya. Seperti genre musik pop melayu yang menjamur belakangan ini. Trend ini kemudian melahirkan band-band seperti ST12, Hijau Daun, Wali, Kangen Band, dan lainnya yang dari segi karya cukup seragam. Jauh lagi ke belakang, tentu kita mengingat trend musik ska yang memunculkan band-band seperti Type- X, Shaggy Dog, Souljah, dan lainnya, ke permukaan untuk kemudian digantikan oleh trend berikutnya. Sempat pula musik Indonesia diwarnai oleh tren K-Pop, dimana menghasilkan banyak boyband dan girlband di Indonesia. Pada setiap trend tersebut, terdapat standarisasi yang tak pernah berubah. Kemiripan- kemiripan karya musik pop Indonesia, baik dari tema, lirik, serta nada dari lagu- lagu yang dimainkan bisa dilihat dengan jelas. Hal ini pula lah yang akhirnya membuat kegelisahan dalam diri Efek Rumah Kaca.

Major label adalah salah satu jalan untuk memproduksi musik. Major label memungkinkan seniman maupun penyanyi untuk membantu mereka memproduksi lagu untuk dipasarkan. Ranah Major label merupakan pasar mainstream, budaya popular yang menguntungkan bagi perusahaan (Tantagode, 2008:34).

Di Indonesia, major label telah memiliki koneksi dengan pertelevisian, dikarenakan sistem pembiayaan dan kontrak kerjasama major label yang lebih menguntungkan, serta memiliki sistem distribusi secara nasional. Sedangkan indie lebih bisa menggapai acara-acara off air dan promo off air dan juga on air radio saja. Seperti band beraliran punk, yang termasuk jenis musik underground, hadir bukan untuk kepentingan industri yang komersil, melainkan merupakan jenis musik yang idealis, mempunyai pesan-pesan moral, kritik atas fenomena sosial politik, kebijakan, maupun kekuasaan (Herlambang, 2008:v).

Banyak grup band yang sering mengisi acara di televisi seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu Dahsyat, Inbox, Hip-Hip Hura, dan lain sebagainya.

Banyak juga yang mengisi acara-acara televisi dengan panggung besar. Semua acara musik ini merupakan bagian dari budaya pop (pop culture). Mereka hanya menampilkan band-band yang seragam, mengusung lirik tentang percintaan dan musik-musik easy listening yang mudah laku di pasaran.

Budaya pop bekerja sama dengan industri hiburan yang mempunyai tujuan untuk memburu laba. Akibatnya budaya pop sering disebut dengan “budaya massa” (Strinati, 2007:21). Acara-acara musik tersebut mengusung tema yang sama, yaitu musik mainstream yang dibawahi oleh major label serta menjual musisi musik mainstream dalam industri perauk keuntungan. Dadan Suwarna (dalam Mack, 1995:119) menjelaskan bahwa:

“Kebutuhan dapur ngebul menjadi alasan utama. Artinya, kreatifitas terpola pada kebutuhan yang lain, bukan lagi didasarkan pada sentuhan intuisi dan imajinasi yang memadai. Selera kreatifitas mengikuti selera produser dalam sisi modalitas perdagangan.

Namun selera masyarakat terbentuk dengan kuat karena media elektronik semacam TV turut menumbuhkembangkan eksistensi lagu- lagu tersebut. Artinya, TV menekankan frekuensi pengulangan lagu dengan alasan selera masyarakat. ... Seorang manusia mempunyai jiwa, sedangkan massa tidak memilik apa-apa kecuali kebutuhan.

Kreatifitas lagu berhubungan dengan bagaimana agar memanjakan dan berkompromi dengan penikmat sebagai massa”.

Persepsi musik pop tidak terlepas dari efek visual budaya massa, sehingga penampilan visual dapat mempengaruhi esensi bunyi sendiri dan didukung oleh media-media audio-visual. Selera masyarakat yang terlihat seragam tidak murni

muncul dari keinginan masyarakat itu sendiri, melainkan sudah dikondisikan oleh karakter budaya massa (mack, 1995:119).

Hal ini diperkuat dengan teori musik Adorno. Dimana menurut Adorno, musik pop dihasilkan melalui dua proses dominasi industri budaya, yakni standarisasi dan individualitas semu. Standarisasi menjelaskan mengenai tantangan dan permasalahan yang dihadapi musik pop dalam hal originalitas, autentisitas ataupun rangsangan intelektual. Standarisasi menyatakan bahwa musik pop mempunyai kemiripan dalam hal nada dan rasa antara satu dengan lainnya hingga dapat dipertukarkan (Strinati, 2007:73). Dapat dikatakan bahwa terdapat kemiripan yang mendasar di musik pop dalam berbagai hal yang menjadi kandungannya yang mampu dipertukarkan hingga menjadi komoditas tersendiri.

Hal ini yang mengakibatkan individu maupun masyarakat salah dalam pemujaan mereka atas musik pop.

Sementara standarisasi berjalan, individualitas semu dijalankan demi membuat kabur individualitas rasa yang seharusnya ada dalam diri individu dalam menikmati musik. Individualitas rasa merupakan hal yang dihasilkan produk budaya dalam mempengaruhi suasana individual (Strinati, 2007:70).

Individualitas semu diciptakan demi mengaburkannya. Individualitas semu mengacu pada berbagai perbedaan dalam musik pop yang tercipta melalui pengaburan kemiripan-kemiripan dalam musik pop melalui pemberian variasi.

Kaum industri menciptakan individualitas semu demi menonjolkan detail dalam musik pop. Hal ini ditunjukkan dengan cara memberi kebebasan individu dalam memilih musik pop, namun kebebasan tersebut telah distandarisasi oleh para elit industri. Kemunculan musik pop yang seperti ini, menurut Adorno merupakan keinginan dari kaum kapitalis yang memanipulasi selera musik masyarakat. Kaum kapitalis tergiur untuk menciptakan pasar yang menguntungkan setelah melihat adanya potensi pasar yang besar dalam budaya.

Masyarakat dijadikan aset hidup sekaligus menekan pesaingnya, yaitu budaya yang berperan sebagai filter masyarakat terhadap dominasi kapitalis.

Sama seperti individualitas semu yang diungkapkan oleh Adorno, lagu dan lirik yang bertemakan percintaan merupakan garis besar yang paling dominan di dalam produk industri musik Indonesia. Keragaman semu tersebut ditawarkan

oleh industri musik Indonesia dengan memberikan pilihan genre dan package (penyanyi solo, band, duo, dan lain-lain) yang seakan-akan bermacam jenisnya, padahal sesungguhnya keragaman tersebut memiliki standar-standar yang sama, yaitu tema cinta. Hal ini merupakan akibat dari sudah dikuasainya industri musik Indonesia oleh orang-orang yang mengedepankan profit. Hal ini lantas menjadi landasan yang sangat kuat mengapa Efek Rumah Kaca menunjukkan kegelisahannya lewat lagu “Biru” ini.

Apa yang telah disebutkan oleh Efek Rumah Kaca pada analisis konotatif sebelumnya bahwa mereka memprotes dan menuntut kondisi industri musik Indonesia terjadi saat ini, telah peneliti jelaskan bahwa hal tersebut benar-benar terjadi saat ini. Dimana musik telah dianggap pasar yang sangat menggiurkan bagi kaum kapitalis demi memperkaya diri mereka. Hal ini yang lantas menjadikan mereka menuntut para musisi dan pemusik Indonesia untuk selalu menciptakan karya yang sesuai dengan keinginan masyarakat.

Sebelumnya telah dijelaskan mengapa masyarakat Indonesia sekarang dominan menyukai lagu yang bertemakan percintaan dengan genre pop. Hal ini yang kemudian menjadikan banyaknya para musisi dan pemusik Indonesia yang mengharuskan diri untuk berkarya sesuai dengan keinginan pasar tersebut. Hanya agar karya mereka laku di pasaran, sehingga juga mendatangkan keuntungan pada mereka sendiri. Namun hal ini justru dijadikan hal utama dalam bermusik, sehingga menjadikan karya para musisi dan pemusik Indonesia menjadi seragam tanpa mengindahkan kreatifitas mereka sendiri. Hal ini diperkuat dengan pendapat Akbar mengenai kondisi musik Indonesia saat ini,

“Ya akhirnya keterusan ya. Sampai sekarang juga fenomena itu juga masih ada. Banyak band yang bermunculan tapi dengan temanya yang sayangnya sama. Padahal sih saya yakin sebenarnya potensinya mereka itu bisa lebih jauh dari sana. Sebenarnya mereka bisa lebih dari itu. Bisa bawain hal yang lain. Tapi gak tau ya, mungkin yang pendananya itu yang memproduksi musiknya Cuma mau musiknya yang aman-aman aja. Atau yang emang dia pikir bahwa tema itu yang memang menjual. Ya akhirnya dari keresahan itu, dan kita juga sering ngobrolin ini ya kenapa ya musik kok lagunya gini-gini terus, akhirnya kita mikir buat bahas ini di lagu aja. Ya akhirnya terciptalah lagu ini” (https://www.youtube.com).

Perbedaan antara label mayor dan label minor yang mendasar adalah sistem pembiayaan dan promosinya. Label mayor membiayai produksi dan promo dari grup musiknya, memiliki kontrak kerja yang jelas antara label dan group musiknya, sedangkan label minor atau sering disebut label indie membiayai produksi dan promosi mereka sendiri, seperti asal kepanjangan kata indie itu sendiri, yakni independent yang berarti tidak berketergantungan atau berdiri sendiri serta mandiri. Band yang memilih jalur independen disebut band indie, begitu juga dengan band Efek Rumah Kaca.

Menurut Efek Rumah Kaca, kebebasan dalam berkarya merupakan kunci utama kebahagiaan dalam bermusik. Hal yang jelas dituangkan dalam liriknya pada lagu “Pasar Bisa Diciptakan” yang berbunyi “Kami hanya akan mencipta, Segala apa yang kami cinta, bahagia”. Pernyataan Efek Rumah Kaca di atas sangat berkaitan dengan jalur indie yang mereka pilih. Munculnya kelompok musik beraliran indie dirasa mampu mengubah pandangan masyarakat tentang situasi pasar industri musik di Indonesia. Di tengah ideologi kapitalisme yang sedang menguasai pasar industri musik pop Indonesia, kemudian muncul aliran yang mengatasnamakan kebebasan. Dimana ide ini sudah tentu terlepas dari campur tangan para kapitalis dalam menyajikan hiburan kepada masyarakat yang seperti kita ketahui kondisiya sedang haus akan hiburan.

Musik indie telah dibahas oleh peneliti pada sub bab sebelumnya. Musik indie dan seni independen yang ada di sekitar masyarakat umumnya merupakan wujud dari penolakan dikte pasar. Indie muncul dari hati, di luar mainstream musik pop dan seni pop pada umumnya. Musik indie biasanya berdiri atas dasar komunitas. Para musisi indie satu sama lainnya tidak saling bersaing. Justru sebaliknya, para musisi indie saling bekerja sama dalam memperluas pengaruh mereka di dunia musik. Hal ini pulalah yang menjadi kekuatan dari label indie atau biasa disebut label non-mainstream.

Kriteria mainstream pada pada musik indie berkaitan dengan industrinya.

Perbedaannya lebih mengacu kepada besarnya nilai investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan rekaman. Tetapi dalam hal bakat, grup musik indie cenderung relatif lebih bagus dibandingkan dengan grup musik mainstream. Hal ini jelas

dikarenakan tidak adanya tekanan dari pihak industri dalam berkarya. Grup musik indie lebih bebas dalam menciptakan karya-karyanya.

Jadi, dalam konteks industri, musik indie tidak berorientasi pada keuntungan finansial. Sementara kondisi industri musik pop Indonesia saat ini dominan berbasis kepada profit dari label. Hal ini jelas dikarenakan label menanamkan modal yang besar kepada musisi sehingga musisi dituntut untuk dapat mencari keuntungan yang lebih besar.

Musik indie ini kemudian tumbuh secara alami di industri musik Indonesia, walaupun di awal mendapat pertentangan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan. Dalam prosesnya, industri musik pop Indonesia cenderung mendapatkan inspirasi dari band-band yang berasal dari luar negeri yang memang sudah terbukti populer di pasar industri. Hal ini juga diperkuat dengan landasan yang mengarah pada ideologi kapitalis yang membentuk impian untuk menjadi musisi terkenal kemudian diekspos melalui media dengan diimingi kesuksesan dan kesenangan. Maka musik indie menolak pandangan seperti itu dengan menunjukkan jenis musik yang merupakan wadah penyaluran hobi. Dalam hal ini unsur kreatifitas yang lebih ditonjolkan. Mereka meniadakan keterlibatan dari kaum kapitalis dalam mengontrol karya musik yang diciptakan.

Jika pada “pasar bisa diciptakan” menceritakan tentang bentuk protes dan alasan dari kegelisahan Efek Rumah Kaca serta solusi yang mereka tawarkan,

“cipta bisa dipasarkan” merupakan bentuk kelanjutan cerita panjang mereka.

Pembuktian yang dari apa yang mereka sebutkan di awal cerita mereka pada lagu

“Biru” ini. Bahwa segala yang mereka kritisi bukanlah hanya sebatas bentuk ucapan belaka. Tapi mereka dengan nyata telah mampu keluar dari penjara tersebut. Efek Rumah Kaca telah membuktikan bahwa jangan pernah takut untuk berkarya sesuai dengan karakter dan kreatifitas masing-masing, karena menurut mereka setiap karya pasti akan menjumpai pasarnya. Seperti halnya ungkap dari vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil,

“Jadi ketika kita membuat sesuatu biasanya kita perlu menajamkan tapi juga ga harus niru orang lain. Jadi kita bisa mengeluarkan karakter kita masing-masing. Jangan khawatir kalau kita buat ini itu, buat sesuatu itu nanti gak ada yang suka, gak ada yang mau beli. Jadi kita yakinin aja bahwa karya kita maksimal, berkarakter.

Pasti akan ada yang sesuai, akan ada yang sama lah seleranya,

Dokumen terkait