• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3. Musik Sebagai Media Kritik Sosial

4.3.1. Kritik Sosial Pada Lagu “Biru” Karya Efek Rumah Kaca

Pada pembahasan sebelumnya telah disimpulkan bahwasanya musik merupakan salah satu media yang patut untuk dipertimbangkan dalam menyampaikan aspirasi seseorang atau sekelompok orang. Hal ini juga tentu dapat berkaitan dengan kritik sosial. Dewasa ini, bentuk dari kritik sosial beraneka ragam, seperti telah peneliti paparkan pada kerangka teori. Musik merupakan salah satu bentuknya dengan lagu ,atau lebih tepatnya lirik, sebagai media nyatanya. Seperti halnya lagu “Biru” yang terdiri dari dua judul ini, yaitu “Pasar Bisa Diciptakan” dan “Cipta Bisa Dipasarkan”, yang menjadi salah satu bentuk kritik sosial yang ingin disampaikan oleh Efek Rumah Kaca.

Pada lagu “Biru” yang dijadikan peneliti sebagai objek penelitian ini dapat dikatakan sebagai lagu yang berawal dari “kemarahan” si penulis lagu, Cholil Mahmud. Kemarahan Cholil ini tertuju pada homogenisasi industri musik di Indonesia yang seperti kita ketahui bahwa kebanyakan lagunya mengandalkan tema percintaan dengan musik yang jenisnya itu-itu saja, demi kepentingan pasar.

Kondisi keseragaman dan dikte dari pasar ini justru jadi mengesampingkan kualitas dan kreativitas dari para musisi dan pemusik.

Hal ini jelas bahwa yang Efek Rumah Kaca lakukan merupakan bentuk dari pengungkapan pikiran dan perasaan Efek Rumah Kaca lewat unsur-unsur musik. Hal ini lantas membenarkan teori yang peneliti bahas pada bab sebelumnya mengenai musik, Jamalus (dalam Muttaqin, 2008:15-16) mengatakan bahwa musik adalah karya seni bunyi berbentuk lagu dan komposisi musik yang menungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-unsur musik yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk dan struktur lagu dan ekspresi sebagai suatu kesatuan.

Telah peneliti paparkan pada kerangka teori, bahwasanya penyebab terjadinya kritik adalah perubahan sosial. Lebih tepatnya, perubahan sosial yang membawa dampak negatif. Seperti yang dikatakan oleh Cholil, bahwa industri musik Indonesia yang kini lebih dominan mengangkat tema percintaan dalam liriknya dengan bungkusan musik yang seragam, ternyata telah banyak mengalami perubahan dibandingkan dengan industi musik Indonesia dulunya. Dahulu di Indonesia tema musik lebih beragam, seperti mengenai sosial, alam, religi, keluarga, politik, pendidikan, budaya dan masih banyak lagi. Hal ini lah yang lantas membuat kejengahan pada diri Cholil dan akhirnya terciptalah lagu “Biru”

ini.

Di era sekarang, banyak sekali major label yang mengedepankan profit daripada kualitas. Berbeda dengan zaman dulu. Dalam lagu ini, Efek Rumah Kaca mengkritik band-band yang beredar di industri musik Indonesia yang memilih major label yang mengedapankan profit ini. Karena band-band yang seperti ini yang mengikuti keinginan si produser yang hanya menginginkan keuntungan, dan semua akhirnya mengikuti keinginan pasar dan mulai melupakan identitas band itu sendiri.

Seperti halnya yang terjadi saat ini, dimana tema lagu selalu tentang percintaan. Sudah tidak beragam lagi. Jika diibaratkan pergi ke pasar swalayan, kita biasanya dapat membeli berbagai macam barang yang berbeda-beda, namun yang terjadi sekarang justru pasar swalayan tersebut hanya menyediakan barang- barang yang seragam. Hal ini terjadi sama seperti yang telah peneliti jelaskan sebelumnya, yaitu dikarenakan keinginan produser akan profit, sehingga harus menekan si pembuat lagu untuk membuat lagu yang easy listening, yang mudah

laku di pasaran. Selayaknya masyarakat Indonesia yang memang dominan menyukai lagu yang bertemakan percintaan, maka jadilah pasar industri musik Indonesia menjadi seragam dengan lagu bertemakan percintaan. Cholil Mahmud pada lagu “Biru” ini menyampaikan pesan dengan berbagai analogi. Analogi- analogi ini bermakna konotatif. Cholil menyanyikan dengan intonasi yang lantang layaknya kebanyakan lagu protes.

Lagu protes memiliki fungsi, yaitu (1) Lagu protes berusaha mengumpulkan dan membangun dukungan dan simpati terhadap gerakan sosial dan politik; (2) Lagu protes dapat mempengaruhi individu untuk mendukung gerakan sosial atau ideologi; (3) Lagu protes dapat menciptakan dan membangun kohesi, solidaritas, dan moril yang tinggi di dalam organisasi atau kelompok gerakan; (4) Lagu protes dapat menarik individu bergabung ke dalam gerakan sosial yang spesifik; (5) Lagu protes bertujuan untuk menuntut solusi terhadap fenomena sosial; (6) Isi lagu protes adalah gambaran permasalahan di dalam masyarakat yang dibawakan secara emosional (Sumahar, 2014). Jika dikaitkan dengan fungsi lagu protes yang berusaha mengumpulkan dan membangun dukungan dan simpati terhadap gerakan sosial dan politik di atas, maka lagu

“Biru” karya Efek Rumah Kaca merupakan lagu yang berusaha mengumpulkan dan membangun dukungan dan simpati terhadap gerakan yang mereka lakukan, yakni gerakan protes dan melawan dikte pasar industri musik Indonesia saat ini.

Dimana Efek Rumah Kaca lewat lagu “Biru” nya lebih memilih jalur indie dalam berkarya di dunia musik Indonesia, dikarenakan ketidaksesuaian antara pemikiran Efek Rumah Kaca akan kebebasan berkarya dengan pemikiran dari major label dan para musisi mainstream yang saat itu hanya mengedepankan profit semata.

Jadi lewat lagu “Biru” ini Efek Rumah Kaca bertekad untuk mengajak para pendengarnya agar mengikuti yang mereka katakan. Bahwa setiap orang pasti punya karakter dalam berkarya, dan jangan pernah takut konsisten dalam hal ini, karna setiap karya pasti akan menemui pasarnya masing-masing. Hal ini sesuai dengan fungsi lagu protes yaitu mempengaruhi individu untuk mendukung gerakan sosial atau ideologi dan menarik individu bergabung ke dalam gerakan sosial yang spesifik.

Fungsi dari lagu protes lainnya adalah isi lagu protes merupakan gambaran permasalahan di dalam masyarakat yang dibawakan secara emosional. Jelas hal ini menggambarkan fungsi dari lagu “Biru” karya Efek Rumah Kaca juga. Karena terciptanya lagu ini juga merepakan bentuk keresahan dan kemarahan band Efek Rumah Kaca atas kondisi yang terjadi di masyarakat, dalam hal ini adalah kondisi orang-orang yang berada dalam industri musik Indonesia.

Kata “kritik” bermakna: “suatu penilaian yang dikemukakan baik dalam bentuk tulisan maupun lisan tentang suatu hal” (Sanjaya, 2013). Sosial adalah:

“suatu hal berkenaan dengan prilaku interpersonal, atau berkaitan dengan proses sosial”, (Soekanto, 2006: 464). Kritik sosial dipahami sebagai sebuah bentuk komunikasi yang dikemukakan baik dalam bentuk tulisan maupun lisan, berkenaan dengan masalah interpersonal, serta bertujuan mengontrol jalannya sistem sosial.

Teori di atas menunjukkan bahwa di dalam lagu “Biru”, Efek Rumah Kaca mengemukakan penilaiannya tentang kondisi industri musik Indonesia. Hal ini jelas berkaitan dengan proses sosial yang terjadi di masyarakat dewasa ini. Lantas dengan diciptakannya lagu “Biru” ini, Efek Rumah Kaca berharap dapat memperbaiki suatu sistem sosial yang sedang berlangsung. Karena seperti juga ungkap dari Rendra (2001:15),“…kritik sosial adalah sebagai masukan untuk menyegarkan kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan”.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

1. Makna lagu “Biru” secara analisis semiotika Rholand Barthes yang didalamnya terdiri dari tiga tataran analisis, yaitu analisis tataran denotatif, analisis tataran konotatif, dan analisis tataran mitos.

a. Secara analisis tataran denotatif, lagu “Biru” menceritakan tentang keluhan Efek Rumah kaca. Pada lagu pertama, yaitu “Pasar Bisa Diciptakan” mereka mengatakan keinginannya akan sesuatu yang lebih baik, bukan sesuatu yang biasa pada umumnya. Pada lagu kedua, yaitu

“Cipta Bisa Dipasarkan” secara denotatif mereka bercerita tentang kegelisahan serta kekecewaan yang mereka alami sebelum pada akhirnya mencapai satu titik terang. Efek Rumah Kaca lewat lagu ini menggambarkan kegembiraan mereka.

b. Pada analisis tataran konotatif, pada sub lagu pertama, yaitu “Pasar Bisa Diciptakan” bercerita tentang harapan dan keyakinan Efek Rumah Kaca dalam menjalani hidupnya dalam dunia musik. Kondisi industri musik Indonesia yang kini kebanyakan hanya mengedepankan profit, sehingga mengakibatkan keseragaman dalam hal tema dan materi musik, membuat mereka menuntut dan memprotes untuk adanya perbaikan dalam bidang ini. Lagu “Cipta Bisa Dipasarkan” sebagai sub judul kedua lagu “Biru”

secara analisis tataran konotatif bercerita tentang karya cipta mereka yang terbukti dapat diterima oleh pasar. Lagu “Cipta bisa dipasarkan” bisa diartikan sebagai pembuktian atas keresahan, komitmen dan keoptimisan yang dimiliki Efek Rumah Kaca.

c. Sedangkan pada analisis tataran mitos, lagu “Biru” menyampaikan bahwa setiap pasar pasti bisa untuk diciptakan, dan setiap cipta atau karya pasti bisa dipasarkan. Efek Rumah Kaca lewat liriknya berpesan bahwa setiap orang pasti memiliki karakter masing-masing dalam berkarya. Jangan

pernah takut jika karya tersebut tidak diterima pasar, karena setiap karya pasti akan menemukan pasarnya sendiri jika tetap berusaha dan konsisten di karakternya masing-masing. Hal ini sendiri telah dibuktikan Efek Rumah Kaca lewat kekonsistenannya di dunia musik Indonesia yang tetap membawa karakter mereka dalam bermusik, sehingga akhirnya mereka tiba di pencapaian mereka seperti sekarang. Mereka telah membuktikan bahwa setiap pasar bisa diciptakan dan setiap cipta bisa dipasarkan.

2. Bentuk kritik sosial pada lagu “Biru” karya Efek Rumah Kaca bisa disimpulkan sebagai bentuk lagu protes. Dimana pada lagu ini Efek Rumah Kaca menyampaikan pesan dengan berbagai analogi yang bermakna konotatif. Lagu protes sendiri memiliki enam fungsi. Pertama, berusaha mengumpulkan dan membangun dukungan dan simpati terhadap gerakan sosial dan politik. Kedua, mempengaruhi individu untuk mendukung gerakan sosial atau ideologi. Ketiga, menciptakan dan membangun kohesi, solidaritas, dan moril. Keempat, menarik individu bergabung ke dalam gerakan sosial yang spesifik. Kelima, menuntut solusi terhadap fenomena sosial. Keenam, gambaran atas permasalahan masyarakat yang dibawakan secara emosional. Kesemuanya ini tergambar jelas dari tujuan Efek Rumah Kaca menciptakan lagu “Biru” untuk mengumpulkan dan membangun dukungan dan simpati terhadap gerakan mereka, yakni gerakan protes melawan industri musik Indonesia.

3. Efek Rumah Kaca menyampaikan kritikannya lewat lagu, dan ini membenarkan akan fungsi lagu sebagai ungkapan pengalaman fisik ataupun pengalaman emosional dan pengungkapan ide-ide. Ide bisa muncul dari keinginan untuk merubah atau memperbaiki sesuatu yang sudah ada atau bahkan memunculkan sesuatu yang baru. Efek Rumah Kaca menggunakan media musik untuk menyampaikan bentuk kritik mereka terhadap kehidupan sosial yang terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa music ternyata cukup efektif digunakan sebagai media kritik sosial.

Bahkan tidak sedikit yang berpengaruh bagi masyarakat luas baik secara langsung maupun tidak. Sejatinya walaupun hanya merupakan buah pikiran dari si pencipta lagu, namun tidak sedikit yang dapat membentuk opini publik. Maka dari itu musik dapat dijadikan salah satu media yang patut untuk dipertimbangkan dalam menyampaikan kritik sosial.

5.2. Saran

1. Saran Secara Akademis

Dikarenakan masih jarangnya penelitian mengenai musik sebagai media kritik sosial, disarankan kepada peneliti lain, khususnya mahasiswa ilmu komunikasi FISIP USU, agar melakukan penelitian sejenis dengan mengambil objek yang berbeda. Sehingga dapat menambah referensi terkait tema ini.

2. Saran Secara Teoritis

Disarankan bagi peneliti lain agar dapat melakukan penelitian lebih mendalam terkait tema musik sebagai media kritik sosial dengan menggunakan teori serta teknik analisa data yang berbeda, sehingga dapat menyimpulkan dari sudut pandang yang lain.

3. Saran Secara Praktis

Disarankan kepada para musisi yang berkiprah pada industri musik Indonesia untuk berani berkarya berdasarkan kegemarannya dalam dunia musik, sehingga tidak serta-merta terjebak dalam pasar industri musik.

Memaksakan diri untuk mengikuti trend pasar industri musik Indonesia pada akhirnya hanya akan menjadi hambatan dalam menghasilkan karya- karya terbaik. Efek Rumah Kaca telah membuktikan bahwa esensi sebenarnya dari bermusik adalah bagaimana kita dapat berekspresi di ruang yang kita gemari, dan bentuk ekspresi itu adalah cerminan dari pemahaman kita dalam memandang serta memahami dunia.

Daftar Pustaka

Baidah, Siti. 2010. Pemutaran Musik Klasik Sebagai Upaya Membangun Konsentrasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika di SMA N 1 Kedungwaru Tulungagung (Studi Kasus di Kelas X-P dan X-H Tahun Ajaran 2009/2020). Malang: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang.

Basrowi M.S. 2005. Pengantar Sosiologi. Bogor: Ghalia Indah

Djohan. 2006. Terapi Musik: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Galangpress.

Eagleton, Terry. 2003. Fungsi Kritik. Yogyakarta: Kanisius.

Herlambang, Sugiarto, Baskara Said Kelana. 2004. Ekonomi Makro: Analisis dan Kebijakan. Jakarta: Gramedia pustaka Utama.

Idrus, Muhammad. 2009. Metode Penelitian Sosial: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta: Erlangga.

Kamtini dan Husni. 2005. Bermain Melalui Gerak dan Lagu di Taman Kanak- Kanak. Jakarta:Depdiknas

Mack, Dieter. 1995. Ilmu Melodi Ditinjau dari Segi Budaya Musik Barat.

Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.

McQuail. 2010. Mcquail’s Mass Communication Theory. London: Sage Publication.

Morrisan, M.A. 2009. Teori Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia.

Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya.

Muttaqin, Moh, Kustap. 2008. Seni Musik Klasik: Untuk Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Narwoko, J. Dwi, Bagong Suyanto, eds. 2007. Sosiologi: Teks Pengantar dan

Terapan. Jakarta: Kencana.

Nawawi, Hadari. 2001. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada. University Press.

Negus, Keith. 1996. Popular Music in Theory. Middletown: Wesleyan University Press.

Pujileksono, Sugeng. 2015. Metode Penelitian Komunikasi: Kualitatif. Jakarta:

Intrans Publishing.

Rendra, W.S. 2001. Penyair dan Kritik Sosial. Yogyakarta: Kepel Press.

Sen, Krishna, David T. Hill. 2001. Media, Budaya dan Politik Indonesia. Jakarta:

ISAL.

Sobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Strinati, Dominic. 2007. Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta: Jejak.

Sugiarto, Eko. 2015. Menyusun Proposal Penelitian Kualitatif Skripsi dan Tesis.

Jakarta: Suaka Media.

Sugihastuti dan Suharto. 2002. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung: CV.

Alfabeta.

Tantagode, Jube. 2008. Revolusi Indie Label. Yogyakarta: Harmoni.

Tjahjono, Libertus Tengsoe. 1988. Sastra Indonesia: Pengantar, Teori dan Apresiasi. Ende-Flores: Nusa Indah.

Wibowo, Indiawan Seto Wahyu. 2011. Semiotika Komunikasi: Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Skripsi Komunikasi. Jakarta: Mitra Wicana Media.

Williams, Ramond. 1983. A Vocabulary of Culture and Society. New York:

Express University Press.

Sumber Jurnal:

Nurahim. 2009. Kritik dan Realitas Sosial dalam Musik: Suatu Studi atas Lirik Lagu Slank. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta.

Sanjaya, Bima Agung. 2013. Makna Kritik Sosial dalam Lirik Lagu “Bento”

Karya Iwan Fals ( Analisis Semiotika Roland Barthes). Universitas Mulawarman. Samarinda.

Sumahar, Muarif Pebriansyah. 2014. Analisis Wacana Dominasi Major Label pada Industri Musik Indonesia: Di Dalam Lirik Lagu “Cinta Melulu” dan

“Pasar Bisa Diciptakan, Cipta Bisa Dipasarkan (Biru)” dari Band Efek Rumah Kaca. Universitas Airlangga. Surabaya.

Sumber Internet:

www.efekrumahkaca.net, diakses pada 3 Desember 2016.

www.provoke-online.com/index.php/musicnews/4557-efek-rumah-kaca-rilis- sequel-dari-lagu-pasar-bisa-diciptakan-berjudul-biru, diakses pada 5 Desember 2016.

http://www.loop.co.id/articles/mengenal-band-indie-dan-sejarah- perkembangannya, diakses pada 8 Januari 2017.

http://m.cnnindonesia.com/hiburan/kisah-efek-rumah-kaca-yang-terjerumus- dunia-musik-indie, diakses pada 8 Januari 2017.

www.youtube.com/watch?v=qo8ASrR3aWc, diakses pada 12 Mei 2017 http://www.last.fm/music, diakses pada 17 April 2017.

www.youtube.com/watch?v=7j6-LiLoCj8, diakses pada 12 Mei 2017.

http://m.rollingstone.co.id/2013/live-efek-rumah-kaca, diakses pada 13 Mei 2017.

http://www.whiteboardjournal.com/pukau-efek-rumah-kaca-melalui-konser- sinestesia, diakses pada 16 Mei 2017

www.youtube.com/watch?v=I4sW770crRc&t=7O4s, diakses pada 16 Mei 2017.

BIODATA PENELITI IDENTITAS DIRI

NAMA LENGKAP : Hilfani Shaliha

TEMPAT/ TGL LAHIR : Desa Tangsi Lama, 11 Mei 1995

USIA : 22 Tahun

JENIS KELAMIN : Perempuan

AGAMA : Islam

STATUS : Belum Menikah

ANAK KE- : 2 dari 2 Bersaudara

KEWARGANEGARAAN : Indonesia

ALAMAT : Dusun Rahmat, Desa Alur Manis

KECAMATAN : Rantau, Aceh Tamiang, Nanggroe Aceh Darussalam

NO HP : 085277063333

EMAIL : [email protected]

PENDIDIKAN FORMAL

2001-2007 SD SWASTA DHARMA PATRA RANTAU, ACEH TAMIANG

2007-2010 SMP SWASTA DHARMA PATRA RANTAU, ACEH TAMIANG

2010-2013 SMA SWASTA SUTOMO 2, MEDAN

2013-Sekarang UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

Dokumen terkait