• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ancaman terhadap Keberlanjutan Sumber Daya Alam

ANALISIS TPB

TPB 10 Berkurangnya Kesenjangan

B. Bencana Non Alam Kebakaran

4.4.2 Ancaman terhadap Keberlanjutan Sumber Daya Alam

Gambar 4-29 Visualisasi dan Keterkaitan Isu Ancaman terhadap Keberlanjutan Sumber Daya Alam

Isu paling strategis Ancaman Keberlanjutan Sumber Daya Alam terkait dengan 5 (lima) isu strategis lainnya.

Kualitas lingkungan hidup yang rendah akibat pencemaran tentunya akan berdampak pada produktivitas dan kualitas sumber daya alam. Hal yang serupa juga terkait dengan tingginya risiko bencana. Bencana kekeringan, banjir dan land subsidence erat kaitannya dengan pola pemanfaatan sumber daya alam lahan, air dan keanekaragaman hayati. Berikut ini merupakan kerangka kajian isu Ancaman keberlanjutan SDA.

Tabel 4-12 Kerangka Kajian Isu Ancaman terhadap Keberlanjutan Sumber Daya Alam

Tujuan/ Deskripsi Kriteria Indikator

Mengkaji upaya Pemanfaatan dan Pengelolaan untuk mencapai keberlanjutan sumber daya alam

Ancaman Keberlanjutan

Sumber Daya Air Daya Dukung Air

Infrastruktur Perkotaan (Penyediaan Air Bersih) Degradasi

keanekaragaman Hayati Kondisi kerusakan keanekaragaman hayati

ANCAMAN KEBERLANJUTAN SUMBER DAYA AIR

Keberlanjutan sumber daya air di DKI Jakarta berada dalam posisi yang rentan. Hal ini ditunjukkan melalui analisis daya dukung dan daya tampung air yang telah dibahas sebelumnya. Kondisi sumber daya air terutama di wilayah daratan 98% wilayahnya berada pada status telah terlampaui. Sementara di Kepulauan Seribu, secara agregat ketersediaan air juga belum mampu mencukupi kebutuhan domestik.

BAB 4 ANALISIS TPB

KLHS RPJMD Provinsi DKI Jakarta 2025 - 2029

168 Gambar 4-30 Status Indikatif DDLH Penyedia Air Wilayah Daratan Provinsi DKI Jakarta 2023

Sumber: SK MENLHK No. 146 Tahun 2023

Ketersediaan air di DKI Jakarta didukung oleh wilayah lain. Sebanyak 81 persen air baku berasal dari Waduk Juanda Jatiluhur, 16 persen berasal dari pembelian air curah PDAM Kabupaten Tangerang, dan 3 persen berasal dari sungai-sungai di Jakarta7. Hal ini menandakan bahwa wilayah fungsional sangat berperan penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air di DKI Jakarta. Padahal, kondisi daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup di wilayah fungsional Jakarta didominasi oleh status terlampaui.

Kerentanan sumber daya air di Jakarta diperparah dengan kondisi eksisting pemanfaatan air perpipaan yang masih minim. Saat ini hanya sekitar 65% daerah teraliri jaringan perpipaan. Sementara itu pemanfaatan air tanah juga masih secara masif dilakukan. Berikut ini merupakan peta jaringan perpipaan di DKI Jakarta berdasarkan rencana struktur ruang Draft RTRW DKI Jakarta 2022-2042 per tanggal Mei 2022.

BAB 4 ANALISIS TPB

KLHS RPJMD Provinsi DKI Jakarta 2025 - 2029

170 Gambar 4-31. Jaringan Perpiaan DKI Jakarta Berdasarkan Rencana Struktur Ruang

Sumber: Draft RTRW DKI Jakarta 2022-2042 per tanggal Mei 2022

Kondisi pemanfaatan air tanah saat ini DKI Jakarta hampir menyeluruh di DKI Jakarta meskipun jaringan perpipaan telah tersedia. Hal tersebut meningkatkan risiko terjadinya land subsidence di berbagai tempat khususnya di wilayah utara Jakarta. Serangkaian upaya dalam mengendalikan pemanfaatan sumber daya air tanah telah dilakukan salah satunya yaitu penetapan zona bebas air tanah yang ditetapkan melalui Peraturan Gubernur N0. 93 tahun 2021.

Gambar 4-32. Peta Zona Bebas Air Tanah Sumber: Peraturan Gubernur 93/2021

Data lain bersumber dari Badan Geologi menunjukkan kondisi Cekungan Air Tanah DKI Jakarta mengalami kekritisan dan rusak. Sebagian besar wilayah Jakarta Utara mengalami perluasan dari kondisi Rawan menjadi Kritis dan wilayah yang Rusak relatif tetap. Kondisi Air Tanah yang rusak terjadi di Kecamatan Kalideres, Cilincing Cengkareng, Penjaringan, Grogol Petamburan, Tambora, Taman sari, Sawah Besar, Pademangan, Senen, Kemayoran Johar Baru, Cempaka Putih, Tanjung Priok, Cakung , Gambir dan Kelapa Gading.

Gambar 4-33. Kondisi degradasi Air Tanah 2013 -2017 di CAT Jakarta Sumber: BKAT

BAB 4 ANALISIS TPB

KLHS RPJMD Provinsi DKI Jakarta 2025 - 2029

172 Tabel 4-13 Klasifikasi Zona Konservasi Air Tanah DKI Jakarta Tahun 2017

Zona Keterangan Penggunaan Luas

DAERAH IMBUHAN AIR TANAH

Daerah imbuhan air tanah , dilarang melakukan kegiatan penggalian dan pengeboran air tanah, kecuali untuk keperluan pokok sehari-hari perorangan masih diizinkan.

32,004.16

ZONA AMAN Zona ini ditandai oleh penurunan muka piezometrik

<40% dari kedudukan awalnya, penggunaan air tanah

Air tanah untuk kebutuhan pokok sehari-hari perorangan dan pertanian rakyat masing2 diizinkan dengan debit maksimum 100 m3/KK

28,955.77

ZONA KRITIS zona ini ditandai oleh penurunan muka piezometrik 60-80% dari kedudukan muka piezometrik awal dan nilai dhl 1500-500 mikromhos/cm

Air tanah baru untuk berbagai keperluan selain kebutuhan pokok sehari-hari bagi perorangan dan pertanian rakyat tidak diizinkan. Untuk kebutuhan pokok maksimum 100 m3/bln/kk

38,468.74

ZONA RAWAN zona ini ditandai oleh penurunan muka piezometrik 40-60% dari kedudukan muka piezometrik awal dan nilai dhl 1000-1500 mikromhos/cm

Air tanah untuk keperluan kebutuhan pokok sehari-hari bagi perorangan dan pertanian rakyat diizinkan dengan debit maksimum 100 m3/bulan/kk.

32,536.51

ZONA RUSAK sub zona ini ditandai oleh penurunan muka piezometrik 80% dari kedudukan muka piezometrik awal dan nilai dhl >5000 mikromhos/cm, penurunan tanah lebih dari 100 cm/thn

Air tanah baru untuk pelbagai keperluan tidak diizinkan, kecuali untuk kebutuhan pokok sehari-hari bagi perorangan, debit pengambilan air tanah yang diizinkan <100 m3/bln/kk

13,950.94

TOTAL 145,916.11

Sumber: BKAT, ESDM 2017

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa pada zona kritis dan zona rusak pada zona konservasi air tanah, disebutkan bahwa penggunaan air tanah di wilayah tersebut sudah tidak diizinkan untuk pemanfaatan baru dan dibatasi penggunaan air ≤100 m3/bln/kk untuk keperluan sehari-hari. Hal tersebut dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi pada data zona konservasi air tanah antara tahun 2013 dan tahun 2017. Dapat dilihat pada Gambar 2-41 terjadi perubahan antara tahun 2013 dan 2017 dari zona aman menjadi zona rawan dan kritis, bahkan pada wilayah utara Jakarta pada tahun 2017 beberapa wilayah sudah masuk kedalam zona kritis dan rusak. Perubahan tersebut diindikasikan terjadi akibat perencanaan tata ruang yang belum memperhatikan kondisi air tanah.

Gambar 4-34. Pola Ruang 2012 dan Kondisi Zona Konservasi Air Tanah 2017 Sumber: BKAT dan Bappeda Provinsi DKI Jakarta

Berdasarkan peta di atas, menunjukkan bahwa rencana pola ruang di tahun 2012 memberikan dampak yang cukup signifikan terkait penurunan kondisi zona air tanah. Sebagian besar arahan ruang yang berdampak pada kondisi air tanah baik terhadap zona kritis dan zona rusak adalah kawasan permukiman. Arahan permukiman yang memberikan dampak pada penurunan kondisi zona konservasi air ke arah rusak memiliki luasan sebesar 5,584.24 Ha, sedangkan arahan kawasan permukiman yang memberikan dampak terhadap penurunan kondisi zona konservasi air tanah ke arah kritis memiliki luasan sebesar 6,795.09 Ha. Dengan kondisi seperti ini, pengembangan kawasan permukiman yang direncanakan diasumsikan masih memanfaatkan air tanah untuk memenuhi kebutuhan domestik masyarakat. Dengan asumsi penggunaan air tanah pada kawasan permukiman berdasarkan arahan rencana pola ruang tahun 2012, zona konservasi air tanah antara tahun 2013-2017 (4 tahun) berubah cukup signifikan terutama pada zona aman menjadi rawan atau kritis. Hal ini menunjukkan bahwa dalam waktu 4 tahun dengan penggunaan air tanah dapat memberikan perubahan yang cukup signifikan.

Permasalahan land subsidence dan intrusi air laut sangat terkait erat dengan pola konsumsi masyarakat serta kemampuan pemerintah dalam penyediaan air bersih. Hingga saat ini penyediaan air jaringan perpipaan di DKI Jakarta masih rendah. Berdasarkan Kementerian PUPR (2020), rumah tangga pengguna SPAM bukan jaringan perpipaan di DKI Jakarta pada tahun 2019 mencapai 56,6% dimana salah satu sumber paling banyak dimanfaatkan adalah melalui penggunaan sumur yang memanfaatkan kapasitas air tanah. Berdasarkan data BPS DKI Jakarta, penggunaan air tanah di pada Januari-September tahun 2019 telah mencapai 6.693.949 m3 (DIKPLHD, 2021). Sementara itu, Kementerian ESDM mengeluarkan peta zona konservasi Air Tanah CAT Jakarta sebagaimana gambar berikut ini:

Gambar 4-35. Zona Konservasi Air Tanah

Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa di zona kritis tidak direkomendasikan lagi adanya pengambilan air tanah.

Sebagai konsekuensi adalah penyediaan air minum jaringan perpipaan sudah menjadi suatu keharusan dan melakukan pembatasan pengambilan air tanah.

Pada tahun 2014, Dinas Perindustrian dan Energi melakukan pemetaan terhadap Muka Air Tanah Akuifer 0 – 40 DKI Jakarta. Hasil pemetaan dapat dilihat pada Gambar di bawah ini yang menunjukkan bahwa wilayah Jakarta bagian utara mengalami penurunan air tanah sehingga membentuk kerucut penurunan 5 – 10 meter di bawah permukaan air laut. Kondisi penurunan air tanah ini menyebabkan terjadinya masalah intrusi air laut. Makin ke selatan kondisi penurunan muka air tanah makin baik.