B. KAJIAN EMPIRIS
2) Apek Perindustrian
Berdasarkan studi yang dilakukan dalam Barber, et al. (2008) menyatakan bahwa rendahnya harga rokok, pertumbuhan penduduk, kenaikan pendapatan rumah tangga, dan mekanisasi industri kretek ikut menyumbang meningkatnya konsumsi tembakau yang signifikan di Indonesia sejak tahun 1970-an. Enam perusahaan rokok terbesar di Indonesia menyumbang 88 persen penerimaan dari cukai tembakau dan sekitar 71 persen pangsa pasar dikuasai oleh tiga perusahaan. Industri pengolahan tembakau lebih merupakan kepentingan di tingkat lokal dibanding dengan tingkat nasional. Berlawanan dengan persepsi umum, industri tembakau bukanlah penyerap tenaga kerja terbesar di tingkat nasional.
Menurut BPS, industri ini hanya menduduki peringkat ke-48 dari 66 sektor yang berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja.
Kontribusi industri rokok terhadap total tenaga kerja sektor industri terus menurun secara tajam dari 28 persen pada era
43 | P a g e
1970-an menjadi kurang dari 6 persen saat ini, dan kontribusi pada total tenaga kerja tetap berada di bawah 1 persen sejak tahun 1970-an. Jumlah perusahaan rokok berfluktuasi dari waktu ke waktu, tetapi distribusi secara geografis terus terkonsentrasi di 14 kabupaten sepanjang tahun 1960 dan 1990. Mayoritas perusahaan rokok ini berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dimana diperkirakan perusahaan tembakau berkontribusi masing- masing 2 persen dan 2,9 persen dari total penyerapan tenaga kerja di daerah tersebut.
Wibowo (2004) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa industri rokok di Indonesia berada pada tingkat efisien dengan biaya rata- rata terkecil pada saat total produksi rokok yang terdiri dari rokok kretek (SKM dan SKT), rokok putih (SPM), dan rokok lainnya sebesar 198,8 miliar batang per tahun. Selain itu, dari efisiensi industri rokok dilihat dari jenis hasil tembakau (JHT), produksi rokok putih telah jauh melampaui nilai produksi optimal.
Pengelompokkan golongan industri rokok sesuai dengan surat keputusan Menteri Keuangan nomor 449/KMK.04/2002 serta Nomor 537/KMK.04/2002 perlu peninjauan kembali, berdasarkan analisis fungsi biaya per perusahaan skala pengelompokkan tersebut terlalu tinggi untuk golongan kretek (SKM dan SKT) dan terlalu rendah untuk golongan rokok putih, terutama pada golongan pengusaha pabrik (GPP) yang berskala besar.
Perindustrian produk hasil tembakau dan cengkeh di Indonesia berjalan sangat dinamis seiring dengan persaingan pasar dari produk tembakau. Dalam mengembangkan aspek produksi dalam industri produk tembakau, maka yang sangat penting diperhatikan adalah aspek pengembangan industri rokok, tenaga kerja, bahan baku, industri jasa dan industry yang terkait. Jika proses pengembangan bisa dilakukan oleh industry maka, akan menghasilkan produksi dan berdampak pada aspek pendapatan
44 | P a g e
untuk negara. Apalagi, sumbangsih pendapatan industri rokok ternyata masih jadi tulang punggung pendapatan negara sampai saat ini.
Industri produk hasil tembakau seperti PT. Gudang Garam, PT Djarum, PT Sampoerna adalah merupakan perusahan yang besar dalam memproduksi rokok kretek dan bagi perusahan rokok tersebut menyebutkan bahwa perusahan rokok tersebut memproduksi berbagai jenis produk berkualitas. PT Gudang Garam Tbk memproduksi sigaret kretek linting, sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin yang tersebar di Nusantara maupun mengeksport ke luar negeri.
Peran yang signifikan industri produk hasil tembakau dalam menyerap tenaga kerja langsung maupun tidak langsung, salah satu contohnya dapat dilihat pada PT Gudang Garam Tbk.
Perusahaan rokok yang berpusat di Kediri, Jawa timur tersebut menyerap tenaga kerja yang sebagian besar terlibat dalam produksi dan distribusi. Eksistensi perusahaan juga mendukung penghidupan petani tembakau dan cengkeh serta para pengecer maupun pedagang asongan yang tersebar di seluruh Indonesia.
Diukur dari jumlah aset, hasil penjualan produk, jumlah karyawan, pajak dan cukai, serta kontribusi lainnya, PT Gudang Garam Tbk adalah perusahaan rokok nasional yang memberikan kontribusi secara signifikan bagi Indonesia.
PT. Gudang Garam percaya bahwa tidak ada perusahaan yang dapat berdiri sendiri dan berkelanjutan tanpa menjadi bagian dari masyarakat dalam aktivitasnya. Implementasi tanggung jawab sosial merupakan investasi untuk masa depan dan kesempatan untuk tumbuh bersama masyarakat. Perusahaan menganggap perlu untuk mempertahankan hubungan ini melalui program- program kegiatan sosial dalam hal penanggulangan bencana alam, kesehatan, pendidikan, perbaikan kesejahteraan hidup
45 | P a g e
masyarakat dan aktivitas sosial lainnya. Semuanya bertujuan untuk menciptakan keharmonisan.
PT Gudang Garam dalam Tahun 2012 mengalami kenaikan pendapatan sebesar 21% di kuartal I 2012 dan saat ini kapasitas produksi Gudang Garam berkisar antara 7.000-10.000 batang per menit. Ini berarti, setiap hari produksi minimal sekitar 10.080.000 batang, atau maksimal sekitar 36 juta batang per hari. "Kapasitas mesin bisa jalan 7.000-10.000 batang per menit.
Penghasilan perusahaan rokok besar, cenderung meningkat. Salah satunya dapat dilihat dari perusahaan rokok PT. Sampoerna milik Philip Morris dari Amerika Serikat. Kini, perusahaan asing tersebut merupakan pemimpin pasar rokok Indonesia. Pada kuartal I-2012, pendapatan perusahaan ini naik sebesar 31,5%
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan Sampoerna pada kuartal I 2012 mencapai Rp 15,4 triliun, meningkat dibanding penjualan di kuartal I 2011 sebesar Rp 11,7 triliun. Pada 2011, Sampoerna mencatatkan kenaikan volume penjualan sebesar 16,4% menjadi 91,7 miliar batang dari 78,8 miliar batang pada 2010. Kenaikan volume tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan industri rokok di Indonesia, yang menurut data Nielsen, naik sekitar 8,9% pada tahun lalu.
Dalam keadaan persaingan bisnis rokok di Indonesia semakin ketat, pangsa pasar perusahaan Sampoerna naik menjadi 31,1%
pada 2011. Ini menandakan, konsumen dewasa di Indonesia lebih menyukai produk-produk Sampoerna.
Menurut data AC Nielsen, penjualan rokok sigaret kretek mesin (SKM) atau yang dikenal rokok mild milik Sampoerna, tumbuh tertinggi di 2011 dari 2010 dibanding segmen rokok lainnya.
Penjualan rokok mild tumbuh 22% menjadi 100 miliar batang di periode tersebut. Pada 2011 lalu, penjualan sigaret kretek tangan
46 | P a g e
naik 4% menjadi 85 miliar batang, sigaret kretek mesin filter naik 2% menjadi 87 miliar batang, dan penjualan sigaret putih mesin naik 5% menjadi 22 miliar batang. Total produksi Sampoerna tahun lalu diperkirakan mencapai sekitar 194 miliar batang.
Pada PT Djarum, tingkat produksi rokok perusahaan yang berbasis di Kudus, Jawa Tengah tersebut mencapai 140 juta batang setiap hari. Pada tahun 2012 Djarum membeli pita cukai rokok senilai Rp12 triliun. Nilai pembelian pita cukai rokok itu meningkat 13% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp10,6 triliun. Dari rencana pembelian pita cukai rokok sebesar itu, nilai pajak pertambahan nilai (PPN) yang dibayarkan oleh Djarum diperkirakan mencapai Rp2,5 triliun. Tahun lalu, PPN yang dibayar Djarum mencapai Rp2,2 triliun.
Berdasarkan sekilas deskripsi perkembangan industri rokok di Indonesiapangsa pasar rokok di Indonesia hanya dikuasai oleh 4 (empat) perusahaan besar yang terdiri dari 2 (dua) nasional dan 2 (dua) asing.kondisi persaingan yang ketat akan menjadi hambatan yang berarti bagi pesaing baru untuk masuk dalam industri rokok.
Pada aspek ini, industri produk hasil tembakau di luar empat perusahaan besar tersebut, terus menerus mengalami tekanan hanya sekadar untuk tetap hidup. Jika regulasi dalam permasalahan tembakau dan cengkeh tidak memberikan kesempatan luas untuk berkembang atau memperoleh perlindungan, dalam jangka waktu tertentu pasti akan tercipta oligopoli. Pada akhirnya, perusahaan asing yang tidak memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja nasional yang akan menguasai Indonesia.