Kajian ini dituangkan dalam sebuah naskah akademis yang akan menjadi acuan dalam penyusunan materi isi RUU tentang Tembakau. Bahwa semangat untuk mencegah lahirnya peraturan perundang-undangan tentang tembakau merupakan bentuk pencegahan terhadap keberadaan UU No.
Tujuan dan Kegunaan A. Tujuan
Bahwa kerangka pengendalian tembakau pada kegiatan tembakau, khususnya pada aspek pertanian, bertentangan dengan semangat Undang-undang No. dalam mencapai pembangunan nasional. 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman, dimana perkembangan penelitian terhadap tanaman tembakau telah banyak melahirkan varietas baru yang dapat dimanfaatkan dalam industri farmasi.
Kegunaan dan Manfaat
Metode Penelitian
Kajian tersebut harus dilakukan secara deskriptif analitis dan dilengkapi dengan beberapa pendekatan multidisiplin agar diperoleh kajian yang komprehensif, yaitu pendekatan filosofis untuk memperoleh pemahaman tentang kerangka peraturan dasar mengenai tembakau, pendekatan sosiologis untuk memperoleh data mengenai kecenderungan masyarakat secara umum mengenai tembakau. perlunya UU Tembakau, kemudian memaparkan pendekatan komparatif untuk memperoleh penilaian terhadap kelebihan dan kelemahan peraturan perundang-undangan terkait tembakau.
KAJIAN TEORITIS
- Sejarah dan Kedudukan Pertembakauan
- Perkembangan pertembakauan di Indonesia
- Pendapatan Domestik Bruto dan Perdagangan Internasional Pendapatan Domestik Bruto (PDB) diasumsikan terdiri dari
- Penerimaan dan Pangsa Penerimaan Pajak dan Cukai
- Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT)
Perkembangan teknologi juga mendorong terjadinya modernisasi industri hasil tembakau Indonesia yang diawali dengan mekanisasi yang diprakarsai oleh PT. Penurunan penerimaan kepabeanan terutama disebabkan oleh penurunan penerimaan cukai yang sebagian besar berasal dari cukai hasil tembakau.
KAJIAN EMPIRIS
Pertanian dan Perkebunan Tembakau
Jenis tembakau terbesar di Jawa Timur adalah tembakau Jawa dengan pangsa sebesar 30,60% dari total produksi tembakau di Jawa Timur. Kabupaten yang memberikan kontribusi terbesar adalah Bondowoso sebesar 22,36% atau setara 4.984 ton dari total produksi tembakau Jawa di Jatim sebesar 22.288 ton.
Tembakau sebagai Komoditas Perekonomian Nasional
Perkembangan volume ekspor tembakau Indonesia dari tahun 1980 hingga tahun 2013 mengalami peningkatan meskipun berfluktuasi, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,00% per tahun. Ketersediaan tembakau global sangat bervariasi dari tahun 1980 hingga 2011, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 1,65% per tahun.
Peran Tembakau dalam Berbagai Aspek 1) Aspek Ekonomi
Agrobisnis tembakau mampu menarik sektor hulu dan mendorong berkembangnya sektor hilir, sedangkan industri hasil tembakau hanya mampu mendorong sektor hilir. Kandungan protein pada tembakau lebih banyak dibandingkan pada kedelai dan memiliki kualitas yang sama dengan protein pada susu mamalia.
Apek Perindustrian
Selain itu, dari segi efisiensi industri rokok ditinjau dari jenis hasil tembakau (JHT), produksi rokok putih sudah jauh melampaui nilai produksi optimal. Industri produk tembakau dan cengkeh di Indonesia sangat dinamis seiring dengan persaingan pasar produk tembakau. PT Gudang Garam Tbk memproduksi sigaret kretek tangan, sigaret kretek tangan, dan sigaret kretek mesin yang tersebar di seluruh nusantara dan diekspor ke luar negeri.
Pentingnya peran industri hasil tembakau dalam penyerapan tenaga kerja langsung dan tidak langsung, salah satu contohnya dapat dilihat di PT Gudang Garam Tbk. Perusahaan rokok yang berbasis di Kediri, Jawa Timur ini menyerap tenaga kerja yang sebagian besar bergerak di bidang produksi dan distribusi.
Aspek Ketenagakerjaan
Pada akhirnya, perusahaan asing yang tidak memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja nasional akan mendominasi Indonesia. Dari total angkatan kerja tersebut, industri hampir mendominasi angkatan kerja, yaitu mencapai 95 persen dari total angkatan kerja yang bergerak di industri hasil tembakau. Selama lima tahun terakhir, angkatan kerja terus bertambah, namun hal ini tidak diikuti dengan peningkatan output.
Meskipun mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir, produktivitas per pekerja di industri tembakau pada periode krisis tidak berbeda dengan periode sebelum krisis. Menurut BPS, industri di sektor tembakau, khususnya yang memproduksi produk tembakau, menduduki peringkat ke-48 dari 66 sektor penyumbang lapangan kerja.
Aspek Perdagangan
Industri tembakau merupakan industri padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar (lebih dari 6,1 juta berdasarkan data Kementerian Perindustrian) dan menciptakan berbagai rantai industri yang dijalankan oleh rakyat (pertanian, penebangan, pembibitan, dll). ), bahkan perkiraan KNPK, dari hulu hingga hilir, berkisar antara 30-35 juta orang yang bekerja di industri tembakau, cengkeh, rokok, serta perdagangan tembakau dan rokok, termasuk multiplier effect dari keberadaan produk tersebut. Oleh karena itu, dengan melihat berbagai tantangan luar negeri dan gerakan anti tembakau, nilai ekspor dan impor tembakau, kebutuhan tembakau dunia, serta hasil dan potensi produktivitas tembakau Indonesia, maka harus dirumuskan strategi nasional yang secara sistematis dapat meningkatkan pertumbuhan. mendorong. dan meningkatkan produktivitas tembakau Indonesia, sehingga dapat meningkatkan nilai perdagangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani dan pekerja di sektor tembakau, serta meningkatkan pendapatan pemerintah melalui cukai dan devisa yang dihasilkan.
Aspek Budaya
Kata 'tembakau' mungkin juga berasal dari 'tabago' (bentuk 'y'), yang berisi daun tembakau kering untuk diasapi. Sumber : Hasil penelitian Mark Hanusz, Kretek: Budaya dan Warisan Rokok Cengkih Indonesia, Jakarta: Equinox, 2000 dan Indonesia Berdikari “Kretek: Warisan Budaya dan Kemakmuran”, 2010. 29 Mark Hanusz, menyatakan bahwa: “.. Kretek bukan rokok atau cerutu!” Meski sama-sama berbahan dasar tembakau, kretek juga mengandung bahan baku lain yang tidak dihasilkan oleh tembakau jenis lain.
Sebenarnya nama kretek sendiri berasal dari jenis produk tembakau Indonesia yang menghasilkan bunyi 'kretek'. Sumber penerimaan negara berasal dari industri tembakau dan hasil tembakau berupa cukai dan devisa ekspor.
Aspek Pajak dan Cukai Tembakau
Penggolongan pajak rokok pada Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Pajak Daerah dapat dilihat pada Tabel 3. Hingga saat ini, mekanisme pemungutan pajak rokok belum ditentukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. . Pihak yang memungut pajak rokok dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Pajak Daerah adalah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Padahal, pajak rokok tergolong pajak provinsi, sedangkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merupakan lembaga pusat. Berdasarkan permasalahan tersebut, tidak tepat jika mengalokasikan minimal 50 persen penerimaan pajak rokok untuk mendanai layanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum.
PENGATURAN TEMBAKAU DI NEGARA LAIN 1). Amerika Serikat
Salah satu hal yang terjadi pada industri tembakau adalah internasionalisasi, baik dari aspek produksi maupun industri. Philip Morris, Gallaher dan Imperial sudah memiliki usaha patungan di Tiongkok dengan industri tembakau lokal. Di Uni Eropa, pemerintah menyadari bahwa industri tembakau merupakan industri yang memerlukan perhatian hulu.
Dukungan berupa subsidi dan kebijakan UE yang berpihak pada petani merupakan salah satu langkah pengembangan industri tembakau dalam negeri. Industri tembakau di Malaysia berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat pedesaan dan pertanian.
Sinkronisasi Vertikal
Sinkronisasi Horisontal
- Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman
- Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan
- Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani
- Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian
- Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39
- Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
- Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah
Oleh karena itu, dalam beberapa hal tembakau juga harus sinkron atau sesuai dengan konsep yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan. Meskipun Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan mengatur perlunya pemberdayaan perusahaan perkebunan, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani bahkan lebih konkrit lagi, yang mewajibkan adanya perlindungan dan pemberdayaan petani. Berdasarkan ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014, dalam kaitannya dengan industri tembakau juga harus mengacu atau sejalan dengan asas industri tersebut.
Berikut petikan pasal dalam UU No. 39 Tahun 2007, Perubahan Atas UU No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai: Selain urusan pemerintahan tersebut, daerah juga diberi kewenangan membentuk peraturan daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 236 UU No.
LANDASAN FILOSOFIS
Pemenuhan seluruh hak asasi manusia, sebagaimana diatur dalam konstitusi, merupakan kewajiban negara dan tanggung jawab pemerintah, sebagaimana diatur dalam Pasal 28 alinea keempat yang berbunyi: “Perlindungan, pemajuan, penegakan dan perwujudan hak asasi manusia.” hak asasi manusia merupakan tanggung jawab negara, khususnya pemerintah”. Untuk menjamin terlaksananya hak asasi manusia warga negara oleh Pemerintah sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 28 ayat 4, maka perlu ditetapkan Undang-Undang Tembakau. Potensi tembakau dan produk olahannya harus dimanfaatkan untuk menggerakkan perekonomian nasional, sosial dan budaya masyarakat yang tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat secara riil, namun juga memberikan manfaat bagi negara dalam bentuk cukai.
Selain potensi pertanian tembakau yang tidak hanya membawa manfaat besar bagi kehidupan masyarakat dan pendapatan negara, keberadaan tembakau dan produk olahannya cukup mengkhawatirkan bagi para penggiat kesehatan dan lingkungan hidup. Pengaturan tembakau dan cengkeh secara terencana, terpadu dan komprehensif dengan memperhatikan seluruh aspek terkait sangat penting untuk memitigasi dampak kerugian yang belum dapat diperkirakan baik dari aspek ekonomi, politik, budaya, mengurangi aspek lingkungan hidup dan kemandirian. orang Indonesia. bangsa.
LANDASAN SOSIOLOGIS
Pertanian tembakau dan cengkeh sendiri berperan besar dalam menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat. Jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam industri tembakau dan industri hasil tembakau di Indonesia sangat besar. Industri tembakau dan industri hasil tembakau memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap penerimaan negara dari pembayaran cukai.
Jumlah tersebut belum termasuk pajak-pajak lain yang dibayarkan oleh perusahaan tembakau dan industri hasil tembakau. Dari segi budaya, tembakau dan cengkeh yang diolah menjadi salah satu produk olahan tembakau berupa kretek telah menjadi warisan budaya Indonesia75.
LANDASAN YURIDIS
Dasar kewenangan pembuatan undang-undang ini adalah ketentuan Pasal 20 dan Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, karena merupakan usul inisiatif DPR77. Dengan demikian, dasar pengaturan tembakau dan produk tembakau mempunyai landasan hukum yang kuat dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Oleh karena itu, pengaturan mengenai tembakau diperlukan dalam suatu undang-undang sebagai landasan hukum yang sangat esensial.
Pengaturan mengenai tembakau dalam undang-undang diharapkan dapat membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengatur lebih lanjut sektor-sektor perekonomian strategis di daerahnya, dalam hal ini mengenai tembakau. Agar tujuan nasional yang dimaksud dalam Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dapat terwujud.
JANGKAUAN DAN ARAH PENGATURAN
RUANG LINGKUP MATERI MUATAN
- Ketentuan Umum
- Asas, Tujuan, dan Ruang Lingkup
- Produksi
- Distribusi dan Tata Niaga
- Industri
- Harga dan Cukai
- Pengendalian Konsumsi Produk Tembakau
- Penelitian dan Pengembangan
- Ketentuan Pidana
- Ketentuan Peralihan
- KETENTUAN PENUTUP
Pelaku usaha wajib menggunakan tembakau dalam negeri paling sedikit 80% (delapan puluh persen) dan tembakau impor paling banyak 20% (dua puluh persen) dari total kapasitas produksi hasil tembakau yang dihasilkan. Pelaku usaha penghasil hasil tembakau wajib menggunakan paling sedikit 65% (enam puluh lima persen) tanaman cengkeh dan tanaman penunjang IHT dalam negeri serta tanaman cengkeh dan tanaman penunjang IHT impor, paling banyak 35% (tiga puluh lima persen) dari total tanaman cengkeh dan tanaman penunjang IHT impor. Kapasitas produksi IHT yang dihasilkan. Pelaku usaha wajib menggunakan bahasa Indonesia pada semua label produk tembakau yang beredar di Indonesia, dan setiap kemasan produk tembakau harus mencantumkan label yang memuat informasi kandungan tar dan nikotin;
Sedangkan kepemilikan usaha Hasil Tembakau oleh industri besar milik penanam modal asing dibatasi paling banyak 30% (tiga puluh persen). Pelaku usaha wajib menggunakan bahasa Indonesia pada setiap label kemasan produk tembakau yang beredar di Indonesia, dan pada setiap kemasan produk tembakau wajib mencantumkan label yang memuat informasi mengenai bahannya.
PENUTUP
Materi pemaparan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dalam RDPU di Badan Legislatif DPR RI pada tanggal 8 Maret 2011. Bagir Manan, “Kebijakan Legislasi Dalam Rangka Peramalan Liberalisasi Ekonomi”, makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional di Gedung DPR RI Fakultas Hukum Universitas Lampung, 1996. Fungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan Nasional, Lembaga Penelitian Hukum dan Kriminologi Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung, didistribusikan oleh Penerbit Binabuat, nth., hal.
Djuhaendah Hasan, “Sistem Hukum, Asas dan Norma Hukum dalam Perkembangan Hukum Indonesia”, i Rudi Rizky, dkk (redaktør), Refleksi Dinamika Hukum (Rangkaian Pemikiran Satu Dekade Terakhir), Percetakan Negara Republik Indonesia Perseroan, Jakarta, 2008 Rachmat, M. Ismanu Soemiran, “Permasalahan dan Tantangan Industri Rokok Keretek”, papir præsenteret pada Workshop Nasional Agribisnis Tembakau, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Surabaya, 7 Juni 2007.