BAB III. PERANAN IBU DALAM KEHIDUPAN ANAK (TINJAUAN
B. Arti Kehadiran Ibu dan Peranannya bagi Anak
Hal senada juga diungkapkan oleh Siti Rahayu Haditono. Menurutnya peran ibu sangat penting di dalam perkembangan jiwa, motivasi dan sosialisasi anak.110
Dengan demikian pada awal pertumbuhan dan perkembangan anak, kehadiran ibu sangat berarti bagi anak daripada ayah dalam menjamin kelangsungan hidup anak baik secara fisik maupun psikis dalam meletakkan dasar kepribadian serta dasar bersosialisasi.
Pentingnya kehadiran ibu pada masa awal kehidupan anak sebagaimana uraian di atas, tentunya membawa konsekuensi peran ibu bagi anak. Beberapa ahli pendidikan dan psikologi menjelaskan tentang peranan ibu bagi anak:
Singgih D. Gunarsa menyatakan bahwa peran ibu adalah sebagai model tingkah laku anak yang mudah diamati, pendidik yang memberikan pengarahan, dorongan, pertimbangan bagi perbuatan-perbuatan anak untuk membentuk perilaku, konsultan yang memberikan nasehat, pertimbangan, pengarahan dan bimbingan serta menjadi sumber informasi yang memberikan ilmu pengetahuan, pengertian dan penerangan.111
Adapun Fadhil al-Djamali berpendapat bahwa peran utama para ibu adalah membina warga negara yang shaleh dengan mengaktualisasikan ajaran- ajaran Islam dalam diri mereka sehingga orang lain (khususnya anak) dapat melihat kemuliaan, keindahan Islam.112 Dengan kata lain ibu menjadi teladan atau model bagi anak.
Ibu berperan sebagai mekanisator kehidupan yang sangat berperan dalam proses regenerasi. Ibu berperan dalam proses reproduksi (bapak pun berperan dalam waktu yang singkat). Allah menitipkan janin yang lembut dan lemah pada saat-saat pengembangannya pada rahim wanita selama sembilan bulan. Pada saat itulah janin dipelihara dengan zat-zat kimiawi yang masuk dari darah ibu melalui membran plasenta. Seluruh keadaan fisiologis dan psikologis ibu
110 Siti Rahayu Haditono, “Achivement Motivation Parent`s Educational Level Child Rearing Practice in Four Occupational Troups”, Disertasi, Yogyakarta : UGM, 1979, 58
111 Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis : Anak, Remaja dan Keluarga, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1995), 235
112 Fadhil al-Djamali, Menerabas Krisis Pendidikan Islam, terj. Muzayin Arifin, (Jakarta : PT Golden Terayon Press, 1993), Cet. ke-3, 20
mempengaruhinya, sampai setelah anak lahir pun peranan ibu tetap menentukan anak.
Maka dari itu, berbagai penelitian membuktikan bahwa terpisahnya ibu dari anaknya pada tahap perkembangan awal akan merusak anak baik secara intelektual, emosional, sosial serta fisik. Maternal deprivation telah terbukti menyebabkan anak menjadi terhambat dalam pengembangan inteligensinya, rapuh pertahanan mentalnya serta lemah kekuatan fisiknya.113 Pengaruh ibu sangat besar bagi anak baik secara fisik maupun psikis, oleh karena itu, dalam bahasa psikologi ibu dinamakan sebagai "attachment object" (objek yang lekat), yang dapat memainkan berbagai peran dalam membentuk diri anak.
Ibu sebagai pendidik anak bertugas untuk menanamkan nilai moral dan kehidupan yang akan menjadi landasan yang kuat bagi tumbuhnya jiwa dan pribadi anak. Keluarga merupakan wahana bagi anak untuk menimba berbagai macam ilmu pengetahuan. Melalui pola asuh orang tua, anak mengenal nilai moral, mengenal tindakan yang baik dan yang buruk sebelum ia mengembangkan interaksi sosial di luar lingkungan keluarga.
Keberhasilan orang tua dalam mengembangkan nilai-nilai moral anak bukan disebabkan karena otoritasnya, tetapi lebih pada bagaimana mengkomunikasikan nilai-nilai tersebut yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektual anak.
Ibu sebagai model anak oleh karena pada usia dini 3-5 tahun, proses identifikasi114 diri mulai timbul dan waktu kebersamaan ibu dengan anak lebih lama dan banyak dibanding ayah. Anak tidak melakukan apa yang dikatakan ibu, tetapi apa yang dilakukan ibu. Pada saat ini anak cenderung menjadikan orang tua terutama ibu sebagai model bagi sikap maupun perilakunya. Anak secara tidak sadar meniru, mengambil kemudian memiliki sikap maupun perilaku ibunya.
Dalam hal ini, hendaknya orang tua dapat menjadi contoh atau teladan yang baik
113 Coleman, Abnormal Psychology and Modern Life, (Illinois : Scott, Foresman & Co, 1976), 152-156
114 Suatu usaha untuk mengambil alih watak dan perilaku orang lain atau kelompok dengan jalan meniru. Hasil proses identifikasi ini dapat berdampak positif atau negatif bergantung dari model yang ditiru.
bagi anaknya, mengingat bahwa anak tidak hanya mengambil nilai, norma yang ditanamkan secara sadar (melalui nasehat atau perintah) yang diberikan oleh orang tua tetapi juga dari mencontoh ibunya.
Peranan ibu dalam mendidik anaknya dibagi menjadi empat tugas penting yaitu: ibu sebagai pemuas kebutuhan anak, ibu sebagai teladan dan ibu sebagai pemberi stimulasi bagi perkembangan anak serta ibu sebagai figur publik.
Yang pertama, peran ibu sebagai sumber pemenuhan kebutuhan anak, fungsi ibu ini sangat besar artinya bagi anak, terutama sampai periode anak sekolah, bahkan sampai menjelang dewasa. Ibu perlu menyediakan waktu bukan saja untuk selalu bersama tetapi untuk selalu berinteraksi maupun berkomunikasi secara terbuka dengan anaknya.
Pada dasarnya kebutuhan seseorang meliputi kebutuhan fisik, psikis, sosial dan spiritual. Kebutuhan fisik merupakan kebutuhan makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan lain sebagainya. Kebutuhan psikis meliputi kebutuhan akan kasih sayang, rasa aman, diterima dan dihargai. Sedangkan kebutuhan sosial akan diperoleh anak dari kelompok di luar lingkungan keluarganya. Dalam pemenuhan kebutuhan ini, ibu hendaknya memberi kesempatan bagi anak untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya. Kebutuhan spiritual, adalah pendidikan yang menjadikan anak mengerti akan kewajibannya kepada Allah, kepada Rasul-Nya, orang tuanya dan sesama saudaranya, menjadi tanggung jawab ayah dan ibunya.
Karena memberikan pelajaran agama sejak dini merupakan kewajiban orang tua kepada anaknya dan merupakan hak untuk anak atas orang tuanya, maka jika orang tuanya tidak menjalankan kewajiban ini berarti menyia-nyiakan hak anak.
Seorang ibu harus memberikan atau memuaskan kebutuhan anak secara wajar, tidak boleh berlebihan maupun tidak kurang. Pemenuhan kebutuhan anak secara berlebihan atau kurang akan menimbulkan pribadi yang kurang sehat kelak kemudian hari. Seorang ibu yang memenuhi kebutuhan anaknya secara berlebihan akan menyebabkan anaknya cenderung memiliki sifat manja. Begitupun sebaliknya seorang ibu yang kurang memenuhi kebutuhan anaknya akan menyebabkan si anak cenderung memiliki sifat pasif yang berakibat si anak tidak bisa mengembangkan potensi yang berada di dalam dirinya.
Dalam memenuhi kebutuhan psikis anak, seorang ibu harus mampu menciptakan situasi yang aman bagi putra-putrinya, ibu diharapkan dapat membantu anaknya apabila mereka menemui kesulitan. Perasaan aman anak yang diperoleh dari rumah akan dibawa keluar rumah, artinya anak tidak akan mudah cemas dalam mehadapi masalah-masalah yang timbul.
Seorang ibu harus mampu menciptakan hubungan atau ikatan emosional dengan anaknya. Kasih sayang yang diberikan ibu terhadap anaknya akan menimbulkan berbagai perasaan yang dapat menunjang kehidupannya dengan orang lain. Cinta kasih yang diberikan ibu pada anak akan mendasari bagaimana sikap anak terhadap orang lain. Seorang ibu yang tidak mampu memberikan cinta kasih pada anak-anaknya akan menimbulkan perasaan ditolak, perasaan ditolak ini akan berkembang menjadi perasaan dimusuhi. Anak dalam perkembangannya akan menganggap bahwa oranglain pun seperti ibu atau orang tuanya. Sehingga tanggapan anak terhadap orang lain juga akan bersifat memusuhi, menentang atau agresi.
Seorang ibu yang mau mendengarkan apa yang dikemukakan anaknya, menerima pendapatnya dan mampu menciptakan komunikasi secara terbuka dengan anak, dapat mengembangkan perasaan dihargai, diterima dan diakui keberadaanya. Untuk selanjutnya anak akan mengenal apa arti hubungan di antara mereka dan akan mewarnai hubungan anak dengan lingkungannya. Anak akan tahu bagaimana cara menghargai orang lain, tenggang rasa dan komunikasi, sehingga dalam kehidupan dewasanya dia tidak akan mengalami kesulitan dalam bergaul dengan orang lain.
Yang kedua, ibu sebagai teladan atau model bagi anaknya. Dalam mendidik anak seorang ibu harus mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya.
Mengingat bahwa perilaku orangtua khususnya ibu akan ditiru yang kemudian akan dijadikan panduan dalam perlaku anak, maka ibu harus mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya. Seperti yang difirmankan Allah dalam Surat Al- Furqan ayat 74:
"Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa".(QS. Al-Furqan : 74)
Kalau kita perhatikan naluri orang tua seperti yang Allah firmankan dalam Al Qur’an ini, maka kita harus sadar bahwa orang tua senantiasa dituntut untuk menjadi teladan yang baik di hadapan anaknya.
Sejak anak lahir dari rahim seorang ibu, maka ibulah yang banyak mewarnai dan mempengaruhi perkembangan pribadi, perilaku dan akhlaq anak.
Untuk membentuk perilakuan anak yang baik tidak hanya melalui bil lisan tetapi juga dengan bil hal yaitu mendidik anak lewat tingkah laku. Sejak anak lahir ia akan selalu melihat dan mengamati gerak gerik atau tingkah laku ibunya. Dari tingkah laku ibunya itulah anak akan senantiasa melihat dan meniru yang kemudian diambil, dimiliki dan diterapkan dalam kehiduapnnya. Dalam perkembangan anak proses identifikasi sudah mulai timbul berusia 3 – 5 tahun.
Pada saat ini anak cenderung menjadikan ibu yang merupakan orang yang dapat memenuhi segala kebutuhannya maupun orang yang paling dekat dengan dirinya, sebagai “model” atau teladan bagi sikap maupun perilakunya. Anak akan mengambil, kemudian memiliki nilai-nilai, sikap maupun perilaku ibu. Dari sini jelas bahwa perkembangan kepribadian anak bermula dari keluarga, dengan cara anak mengambil nilai-nilai yang ditanamkan orang tua baik secara sadar maupun tidak sadar. Dalam hal ini hendaknya orang tua harus dapat menjadi contoh yang positif bagi anak-anaknya. Anak akan mengambil nilai-nilai, sikap maupun perilaku orang tua, tidak hanya apa yang secara sadar diberikan pada anaknya misal melalui nasihat-nasihat, tetapi juga dari perilaku orang tua yang tidak disadari. Sering kita lihat banyak orang tua yang menasehati anaknya tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Hal ini akan mengakibatkan anak tidak sepenuhnya mengambil nilai, norma yang ditanamkan. Jadi, untuk melakukan peran sebagai model, maka ibu sendiri harus sudah memiliki nilai-nilai itu sebagai
milik pribadinya yang tercermin dalam sikap dan perilakunya. Hal ini penting artinya bagi proses belajar anak-anak dalam usaha untuk menyerap apa yang ditanamkan.
Yang ketiga, ibu sebagai pemberi stimuli bagi perkembangan anaknya.
Perlu diketahui bahwa pada waktu kelahirannya, pertumbuhan berbagai organ belum sepenuhnya lengkap. Perkembangan dari organ-organ ini sangat ditentukan oleh rangsang yang diterima anak dari ibunya. Rangsangan yang diberikan oleh ibu, akan memperkaya pengalaman dan mempunyai pengaruh yang besar bagi perkembangan kognitif anak. Bila pada bulan-bulan pertama anak kurang mendapatkan stimulasi visual maka perhatian terhadap lingkungan sekitar kurang.
Stimulasi verbal dari ibu akan sangat memperkaya kemampuan bahasa anak.
Kesediaan ibu untuk berbicara dengan anaknya akan mengembangkan proses bicara anak. Jadi, perkembangan mental anak akan sangat ditentukan oleh seberapa besar rangsang yang diberikan ibu terhadap anaknya. Rangsangan dapat berupa cerita-cerita, macam-macam alat permainan yang edukatif maupun kesempatan untuk rekreasi yang dapat memperkaya pengalamannya.
Yang terakhir, ibu sebagai publik figur. Kita tidak bisa menghindar dari yang namanya masyarakat, seorang ibu merupakan bagian integral dari masyarakat (society), sangat penting baginya melakukan adaptasi terhadap keragaman kultur, etnis dan agama. Apapun alasannya, menjadi keharusan untuk dapat hidup rukun dan damai dalam sebuah masyarakat yang heterogen. Dalam menghadapai tantangan zaman yang sangat kompetitif diharapkan para ibu mampu bersatu menjalin tali persaudaraan yang kokoh agar tidak menjadi objek pembangunan yang sangat merugikan dirinya, menjadi pelengkap penderita pembangunan. Untuk menciptakan ranah kehidupan yang kondusif, para ibu harus memiliki jiwa kepemimpinan dan ilmu pengetahuan (leadership and knowledge) yang mapan dan keteladanan yang patut diikuti.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui dan difahami betapa penting kehadiran dan peranan ibu bagi anak pada masa awal pertumbuhan dan perkembangannya, oleh karena itu perkembangan anak pada masa kehamilan atau mengandung, masa balita termasuk masa menyusui berdasarkan hasil penelitian
psikologi perlu diketahui oleh kaum ibu agar para ibu dapat memberikan pendidikan yang optimal pada anak sesuai dengan perkembangan dan kebutuhannya.
C. Masa Ibu Mengandung, Masa Memberikan Air Susu Ibu (ASI) dan Masa