• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTEK EMPIRIS

B. Kajian Terhadap Asas/ Prinsip Yang Terkait Dengan

2. Asas-Asas dalam Pelaksanaan Perizinan dan

Pertambangan Minerba

Asas-asas yang dimaksud dalam pelaksanaan perizinan pertambangan minerba merupakan dasar atau pegangan yang dijadikan tujuan dalam pembentukan

60

peraturan dalam perizinan pertambangan minerba ialah sebagai berikut:

a. Asas kepastian hukum yaitu asas yang menghendaki dihormatinya hak yang telah di peroleh seseorang berdasar suatu badan atau pejabat administrasi negara, kepastian sendiri hakikatnya merupakan tujuan utama dari hukum. Apabila dilihat secara historis banyak perbincangan yang sudah dilakukan mengenai hukum sejak Montesque mengeluarkan gagasan pemisahan kekuasaan, kepastian hukum hal ini lebih mengutamakan norma hukum tertulis, hukum tanpa nilai kepastian akan kehilanga kati diri serta maknanya karena tidak lagi dapat digunakan sebagai pedoman perilaku setiap orang, ajaran cita hukum menyebutkan ada 3 unsur cita hukum yang harus ada secara professional salah satunya kepastian hukum. Asas adalah sesuatu yang menjadi tumpuan berfikir dan berpendapat, asas juga dapat berarti hukum dasar, Asas adalah suatu dalil umum yang dinyatakan dalam istilah umum. Asas kepastian hukum tidak dianggap berasal dari aturan aturan yang lebih umum.81

b. Asas Keseimbangan, yaitu asas yang menghendaki adanya keseimbangan antara hukuman jabatan dengan kelalaian atau kealpaan seorang pegawai, dalam perizinan para pihak yang terlibat harus diperhatikan kedudukannya perjanjian yang ada harus mencerminkan adil bagi setiap pihak yang melakukan perizinan tak terkecuali, keseimbangan dalam perjanjian merupakan satu keharusan jika

81 Wijayanta. (2017). Asas kepastian hukum, keadilan dan kemanfaatan dalam pengadilan niaga. Hlm. 003

61

ingin terciptanya perizinan yang, secara implisit bahwa dalam perizinan pihak, tetapi dalam praktik masih banyak yang ditemukan adanya kejanggalan dalam hal tertentu, asas perizinan ini meripakan dari asas persamaan, asas keseimbangan ini juga merupakan kelanjutan dari asas persamaan, kreditur mempunyai kekuatan untuk menuntut menuntut prestasi jika diperlukan, di Indonesia asas keseimbangan ini terdapat contoh dalam hukum positif yang berisi kriteria pelanggaran dan penerapan sanksinya yaitu sebagaimana terdapat dalam pasal 6 PP No. 30 Tahun 1980 tentang peraturan disiplin pegawai dalam pasal tersebut di tentukan sebagai berikut:

1) Hukum disiplin ringan;

2) Hukuman sedang;

3) Hukuman disiplin berat.82

c. Asas bertindak cermat, yaitu asas yang memperingatkan agar aparatur negara senantiasa bertindak hati hati agar tidak menumbulkan kerugian masyarakat, meneliti semua fakta penting yang relevan dalam pertimbangannya, bila fakta fakta penting kurang teliti itu berarti kurang cermat, asas kecermatan membawa seerta bahwa badan pemerintah tidak boleh dengan mudah menyimpangi nasehat yang diberikan apalagi bila dalam panitia penasihat itu duduk ahli-ahli dalam bidang tertentu.

Penyimpangan memang dibolehkan, tetapi

82 Niru Anita Sinaga dan Tiberius Zalucu. (2017). “Peranan Asas Keseimbangan Dalam Mewujudkan Tujuan Perjanjian”. Jurnal Ilmiah Hukum Dirgantara. Fakultas Hukum Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, Volume 8 No.1, Hlm. 49-50.

62

mengharuskan pemberian alasan yang tepat dan kecermatan yang tinggi.

d. Asas jangan mecampurkan kewenangan ini mewajibkan setiap badan/atau pejabat pemerintahan untuk tidak menggunakan kewenangannya untuk kepentingan pribadi atau kepentingan yang lain dan tidak sesuai dengan tujuan pemberian kewenangan tersebut, tidak melampaui tidak menyalahgunakan dan tidak mencampuradukan kewenangan. Aspek-aspek wewenang ini tidak dapat di jalankan melebihi apa yang sudah ditentukan dalam peraturan yang berlaku. Artinya asas tidak mencampuradukan kewenangan ini menghendaki agar pejabat pemerintah tidak menggunakan wewenangnya untuk tujuan lain selain yang telah ditentukan dalam peraturan yang berlaku atau menggunakan wewenang yang melampaui batas.83

Berikutnya dijelaskan hasil analisis dari hasil perundang-undangan yang ada, maka asas undang- undang yang digunakan dalam masalah perizinan, pembuatnya harus menerapkan dasar pemikiran yang melandasi pembentukan peraturan perundang- undangan, di samping asas yang bersifat umum, juga bersifat.84 Asas hukum juga dijadikan sebagai pedoman dan prinsip-prinsip dalam pengaturan pembentukan perundang-undangan.

83 Rumokoy N.K (2010) “Tinjauan terhadap asas tidak mencampurkan kewenangan” Vol. XVIII/No. 3/Mei – Agustus/2010

84 Achmad Ruslan.(2013). Teori dan Panduan Praktik Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Di Indonesia. Rangkang Education:

Yogyakarta,Hlm.126

63

Pembentukan peraturan perundang-undangan parameter yang digunakan berlandaskan asas-asas yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan meliputi :

a. Asas Kejelasan Tujuan

Asas ini menyatakan bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai.

b. Asas Kelembagaan atau Pejabat Pembentuk yang Tepat

Asas ini menyatakan bahwa setiap jenis Peraturan Perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga negara atau Pejabat Pembentuk Peraturan Perundang-undangan yang berwenang.

c. Asas Kesesuaian Antara Jenis dan Materi Muatan Asas ini menyatakan bahwa dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat sesuai dengan jenis dan hierarki Peraturan Perundang- undangan.

d. Asas Dapat Dilaksanakan

Asas ini mengharuskan bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus memperhitungkan efektivitas Peraturan Perundang- undangan tersebut di dalam masyarakat, baik secara filosofis, sosiologis, maupun yuridis.

e. Asas Kedayagunaan dan Kehasilgunaan

Asas ini menginginkan bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan dibuat karena memang benar- benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam

64

mengaturkehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

f. Asas Kejelasan Rumusan

Asas ini menyatakan bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan, sistematika, pilihankata atau istilah, serta bahasa hukum yang jelas dan mudah dimengerti sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya.

g. Asas Keterbukaan

Asas ini menyatakan bahwa dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan pengundangan bersifat transparan dan terbuka.

Adapun asas-asas hukum pertambangan sebagaimana tercantum dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara. Meliputi :

a. Asas Manfaat, Keadilan dan Keseimbangan

Maksud dari asas manfaat adalah asas yang menunjukkan bahwa dalam melakukan penambangan harus mampu memberikan keuntungan dan manfaat sebesar-besarnya bagi peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Asas keadilan adalah asas yang dalam melakukan penambangan harus memberikan peluang dan kesempatan yang sama secara proporsional bagi seluruh warga Negara tanpa ada yang dikecualikan.

Sedangkan asas keseimbangan adalah asas yang dalam melakukan kegiatan penambangan wajib

65

memperhatikan bidang-bidang lain terutama yang berkaitan langsung dengan dampaknya.

b. Asas Keberpihakan kepada kepentingan bangsa Asas ini menyatakan bahwa dalam melakukan kegiatan pertambangan harus berorientasi kepada kepentingan bangsa bukan kepada kepentingan individu atau golongan.

c. Asas Partisipatif, Transparansi dan Akuntabilitas Asas partisipatif menyatakan bahwa asas ini menghendaki dalam melakukan kegiatan pertambangan dibutuhkan peran serta masyarakat dalam penyusunan kebijakan, pengelolaan, pemantauan dan pengawasan terhadap pelaksanaannya. Asas transparansi menjelaskan bahwa asas ini yang mengamanatkan adanya keterbukaan informasi yang benar, jelas dan jujur dalam penyelenggaraan kegiatan pertambangan.

Sedangkan asas akuntabilitas adalah asas yang mana dalam kegiatan pertambangan dilakukan dengan cara-cara yang benar sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

d. Berkelanjutan dan Berwawasan Lingkungan

Asas berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah asas yang secara terencana mengintegrasikan dimensi ekonomi, lingkungan dan sosial budaya dalam keseluruhan usaha pertambangan mineral dan batubara untuk mewujudkan kesejahteraan masa kini dan masa mendatang.85

85 Gatot Supramono.( 2012). Hukum Pertambangan Mineral Dan Batu Bara Di Indonesia. Rineka Cipta. Jakarta. Hlm. 7.

66

3. Asas-Asas dalam Pelaksanaan Reklamasi dan Pasca-

Dokumen terkait