• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTEK EMPIRIS

B. Kajian Terhadap Asas/ Prinsip Yang Terkait Dengan

3. Asas-Asas dalam Pelaksanaan Reklamasi dan

66

3. Asas-Asas dalam Pelaksanaan Reklamasi dan Pasca-

67

harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara dengan tujuan untuk menciptakan kesejahteraan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

e. Asas Keseimbangan, Keserasian, dan Keselarasan Asas ini memastikan bahwa materi muatan dalam peraturan perundang-undangan ini mencerminkan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, antara lingkungan dengan kepentingan individu, kepentingan kelompok dan masyarakat serta kepentingan bangsa dan negara.

f. Asas Kelestarian dan Keberlanjutan

Asas ini menyatakan bahwa setiap orang memikul kewajiban dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang dan terhadap sesamanya dalam satu generasi dengan melakukan upaya pelestarian daya dukung ekosistem dan memperbaiki kualitas lingkungan hidup.

g. Asas Ekoregion

Asas ini menyatakan bahwa kegiatan pertambangan harus menjamin perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dengan memperhatikan karakteristik sumber daya alam, ekosistem, kondisi geografis, budaya masyarakat setempat, dan kearifan lokal.

h. Asas Partisipatif

Asas ini menyatakan bahwa dalam kegiatan pertambangan setiap anggota masyarakat didorong untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan perlindungan dan

68

pengelolaan lingkungan hidup, baik secara langsung maupun tidak langsung.

i. Asas Kearifan Lokal

Asas ini menyatakan bahwa dalam kegiatan pertambangan suatu perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat.

4. Asas-Asas dalam kajian mengenai Pasal 162 Undang- Undang Nomor 3 Tahun 2020 Terkait dengan Kepentingan Seluruh Rakyat

Kajian pasal 162 menjelaskan Asas/Prinsip penyusunan peraturan perundang-undangan, terkhususnya mengenai kepentingan bagi seluruh rakyat, maka haruslah terdapat asas. Asas merupakan dasar, ide dasar atas segala pemikiran yang akan dituangkan dalam penyusunan suatu peraturan perundang-undangan. Asas merupakan jantung daripada lahirnya suatu norma.

Mengenai asas-asas yang terdapat dalam penyusunan peraturan perundang-undangan, tercantum dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Pasal 5 dan Pasal 6 angka (1). Dalam membentuk suatu peraturan perundang-undangan harus berdasarkan asas peraturan perundang-undangan yang baik, meliputi:86

a. Asas Kejelasan Tujuan

Asas ini menyatakan setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. Bahwa pembuatan suatu peraturan perundang-undang tidak semata-mata

86 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011

69

hanya untuk formalitas, tetapi ada tujuan-tujuan yang jelas, yang tentunya harus dicapai.

b. Asas Kemanfaatan

Bahwa suatu pembentukan peraturan perundang- undangan haruslah membawa manfaat dan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat. Peraturan perundang-undangan menjadi bermanfaat ketika sesuai dengan kebutuhan masyarakat, berdasarkan pertimbangan sosiologis.

c. Asas Kelembagaan atau Pejabat Pembentuk yang Tepat

Bahwa setiap jenis peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga negara atau pejabat pembentuk peraturan perundang-undangan yang berwenang. Peraturan perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum apabila dibuat oleh lembaga negara atau pejabat yang tidak berwenang.87 Di Indonesia, peraturan perundang-undangan dibentuk oleh pejabat yang termasuk dalam badan legistlatif, seperti MPR, DPR, dan DPD. Kemudian Rancangan Undang-Undang itu disahkan oleh Presiden.

d. Asas Kesesuaian antara Jenis, Hierarki, dan Materi Muatan

Tentunya, peraturan perundang-undangan tidak boleh tumpang tindih antara satu dengan lainnya.

Maka, dibentuklah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukkan Peraturan Perundang-

87 Rendra Topan, “Asas Pembuatan Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia”, diakses 12 September 2021, dari (https://rendratopan.com /2019/07/01/asas-pembuatan-peraturan-perundang-undangan-diindonesia/#

Asas-Pembentukan-Peraturan-Perundang-Undangan).

70

Undangan. Dalam Pasal 7 ayat (1) dicantumkan hierarki perundang-undangan mulai yang memiliki kedudukan paling tinggi, yakni konstitusi atau Undang-Undang Dasar Tahun 1945 sampai dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

e. Asas Dapat Dilaksanakan

Peraturan perundang-undangan yang telah dirancang, kedepannya harus dapat dilaksanakan.

Maka, rancangan peraturan perundang-undangan ini harus dapat memudahkan bagi masyarakat dalam melaksanakannya. Tidak menyulitkan serta tidak membebankan.

f. Asas Kedayagunaan dan Kehasilgunaan

Bahwa setiap pembentukan peraturan perundang- undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maka, pembentukkan perundang- undangan haruslah terdapat urgensinya, dan memang diperlukan untuk menjaga ketertiban dan kedamaian dalam berbangsa dan bernegara.

g. Asas Kejelasan Rumusan

Bahwa setiap pembentukan peraturan perundang- undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan perundang-undangan, sistematika, pilihan kata atau istilah, serta bahasa hukum yang jelas dan mudah dimengerti sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. Maka dari itu, dalam membentuk suatu peraturan perundang-undangan haruslah mengkaji secara benar dan harus

71

menggunakan kehati-hatian dalam merumuskannya.

h. Asas Keterbukaan

Bahwa dalam pembentukan peraturan perundang- undangan mulai dari perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan pengundangan bersifat transparan dan terbuka.

Dengan demikian, seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan.

Selain menggunakan Asas Formil, yakni berkaitan dengan penyusunan fisik peraturan perundang- undangan, terdapat juga Asas Materil. Asas Materil berkaitan dengan isi daripada petaruran perundang- undangan. Dalam Pasal 6 Angka (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011, terdapat beberapa Asas Materil, meliputi: (a) Pengayoman; (b) Kemanusiaan; (c) Kebangsaan; (d) Kekeluargaan; (e) Kenusantaraan; (f) Bhinneka Tuggal Ika; (g) Keadilan; (h) Kesamaan Kedudukan dalam Hukum dan Pemerintah; (i) Ketertiban dan Kepastian Hukum; dan/atau (j) Keseimbangan, Keserasian, dan keselarasan. Selain menggunakan Asas Formil dan Asas Materil, dalam menyusun suatu peraturan perundang-undangan tentunya menggunakan asas-asas lain yang sesuai dengan bidang hukum peraturan perundang-undangan yang dibahas.

5. Asas-Asas dalam Penetapan Pendapatan Negara dari Penghasilan Usaha Pertambangan Minerba

Dalam hal royalty yang dibahas dari hasil penelitian.

peraturan perundang-undangan dikenal asas formil dan

72

asas materil, sebagaimana yang dikemukakan oleh I.C.

Van der Vlies adalah sebagai berikut:

a. Asas-asas formil, meliputi: asas tujuan yang jelas, asas organ, asas perlunya pengaturan, asas dapat dilaksanakan, dan asas konsensus

b. Asas materil meliputi: asas terminology dan sistematika yang benar, asas dapat dikenali, asas perlakuan yang sama, asas kepastian, asas pelaksanaan sesuai dengan keadaan inidvidu.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang- undangan, terdapat ketentuan bahwa dalam membentuk peraturan perundang-undangan harus berdasarkan asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik yang telah dipaparkan sebelumnya. Selain menggunakan Asas Formil, yakni berkaitan dengan penyusunan fisik peraturan perundang-undangan, terdapat juga Asas Materil. Asas Materil berkaitan dengan isi daripada petaruran perundang-undangan. Dalam Pasal 6 Angka (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011, terdapat beberapa Asas Materil, meliputi:88

a Pengayoman

Bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundangundangan harus berfungsi memberikan pelindungan untuk menciptakan ketentraman masyarakat.

b Kemanusiaan

Bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang- undangan harus mencerminkan pelindungan dan penghormatan hak asasi manusia serta harkat dan

88 Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011

73

martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional.

c Kebangsaan

Bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang- undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang majemuk dengan tetap menjaga prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

d Kekeluargaan

Bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundangundangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan.

e Kenusantaraan

Bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang- undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

f Bhinneka Tuggal Ika

Bahwa Materi Muatan Peraturan Perundang- undangan harus memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku dan golongan, kondisi khusus daerah serta budaya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

g Keadilan

Bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang- undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara.

74

h Kesamaan Kedudukan dalam Hukum dan Pemerintah

Bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang- undangan tidak boleh memuat hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang, antara lain, agama, suku, ras, golongan, gender, atau status sosial.

i Ketertiban dan Kepastian Hukum

Bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang- undangan harus dapat mewujudkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan kepastian hukum.

j Keseimbangan, Keserasian, dan keselarasan

Bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang- undangan harus mencerminkan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, antara kepentingan individu, masyarakat dan kepentingan bangsa dan negara.

Asas-asas yang seharusnya terkandung dalam Rancangan Undang-Undang Penetapan Royalti Kegiatan Pertambangan dan Batu bara adalah sebagai berikut:

a. Asas Manfaat

Asas manfaat merupakan asas di mana di dalam pengelolaan sumber daya mineral dan batubara dapat memberikan kegunaan bagi kesejahteraan masyarakat banyak. Asas ini sesuai dengan konsep yang dikembangkan Jeremy Bentham. Hukum harus memberikan manfaat atau kegunaan bagi orang banyak (to serve utility). Konsep utility yang dikembangkan oleh Jeremy Bentham adalah dimaksudkan untuk menjelaskan konsep kebahagiaan atau kesejahteraan. Sesuatu yang dapat

75

menimbulkan kebahagiaan ekstra adalah sesuatu yang baik. Sebaliknya sesuatu yang menimbulkan sakit adalah buruk. Aksi-aksi pemerintah harus selalu diarahkan untuk meningkatkan kebahagiaan sebanyak mungkin orang (the greatest happiness principle).

b. Keadilan

Asas keadilan merupakan asas dalam pengelolaan dan manfaat mineral dan batubara di mana didalam pemanfaatan itu harus memberikan hak yang sama rasa dan rata bagi masyarakat banyak. Masyarakat dapat diberikan hak untuk mengelola dan memanfaatkan mineral dan batu bara, dan juga dibebani kewajiban untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Selama ini, masyarakat kurang mendapat perhatian karena pemerintah selalu memberikan hak istimewa kepada perusahaan- penusahaan besar dalam mengelola sumber daya mineral dan batubara.

c. Keseimbangan

Asas keseimbangan adalah suatu asas yang menghendaki bahwa dalam pelaksanaan pertambangan mineral dan batubara harus mempunyai kedudukan hak dan kewajiban yang setara dan seimbang antara pemberi izin dengan pemegang zin. Pemberi izin dapat menuntut hak- haknya kepada pemegang izin, apakah itu IPR, RUP, maupun IUPK. Begitu juga pemegang izin dapat menuntut haknya kepada pemberi izin supaya pemberi izin dapat melaksanakan kewajibannya, seperti memberi pembinaan dan pengawasan

76

terhadap pemegang izin, Ini berarti keseimbangan dalam hak dan kewajiban.

d. Keberpihakan Kepada Kepentingan Bangsa

Asas keberpihakan kepada kepentingan bangsa adalah asas bahwa dalam pelaksaaan pertambangan mineral dan batubara, bahwa pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah harus memihak atau pro kepada kepentingan bangsa yang lebih besar. Ini berarti bahwa kepentingan bangsa yang harus diutamakan dibandingkan dengan kepentingan dari para investor. Namun, demikian permerintah juga harus memerhatikan kepentingan investor.

e. Partisipatif

Asas partisipatif merupakan asas bahwa dalam pelaksanaan pertambangan mineral dan batubara, tidak hanya peran serta pemberi dan pemegang izin semata-mata, namun masyarakat, terutama masyarakat yang berada di lingkaran tambang harus ikut berperan serta dalam pelaksanaan kegiatan tambang, Wujud peran serta masyarakat, yaitu masyarakat dapat Ikut bekerja pada perusahaan tambang, dapat menjadi pengusaha maupun distributor.

f. Transparansi

Asas transparansi, yaitu asas bahwa dalam pelaksanaan pertambangan mineral dan batubara harus dilaksanakan secara terbuka. Artinya setiap informasi yang disampaikan kepada masyarakat oleh pemberi dan pemegang izin harus disosialisasikan secara jelas dan terbuka kepada masyarakat.

77

Misalnya, tentang tahap-tahap kegiatan pertambangan, kebutuhan tenaga kerja, dan lainnya.

g. Akuntabilitas

Asas akuntabilitas, yaitu setiap pertambangan mineral dan batubara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat degan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Asas akuntabilitas ini erat kaitannya dengan hak-hak yang akan diterima oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang bersumber dari kegiatan pertambangan mineral dan batubara. Misalnya, pemegang IUPK memberikan keuntungan kepada pemerintah daerah sebesar 1 %, maka penggunaan uang tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat, dalam hal ini adalah DPRD, baik kebupaten/kota maupun provinsi.

h. Berkelanjutan dan berwawasan lingkungan

Asas berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah asas yang secara terencana mengintegrasikan dimensi ekonomi, lingkungan, dan social budaya dalam keseluruhan usaha pertambangan mineral dan batubara untuk mewujudkan kesejahteraan masa kini dan masa yang akan datang.

6. Asas-Asas dalam Penyelenggaraan Pemerintah Yang Baik

Sistem Ketatanegaraan dan Administrasi di Indonesia, sudah mengadopsi, memakai dan menerapkan

Algemene Beginselen van Behoorlijk Bestuur” atau

General Principles of Good Governance” atau Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (AAUPB). Penerapan AAUPB Indonesia yang dipakai dalam Sistem

78

Pemerintahan di Daerah terdapat dalam beberapa peraturan perundangundangan89. Asas-asas ini kemudian muncul dan dimuat dalam suatu UndangUndang yaitu UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaran Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), Berdasarkan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan yaitu tentang Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB) (1) AUPB yang dimaksud dalam Undang-Undang ini meliputi asas: a. Kepastian hukum; b. Kemanfaatan; c. Ketidakberpihakan; d.

Kecermatan; e. Tidak menyalahgunakan kewenangan; f.

Keterbukaan; g. Kepentingan umum; dan h. Pelayanan yang baik. (2) Asasasas umum lainnya di luar AUPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterapkan sepanjang dijadikan dasar penilaian hakim yang tertuang dalam putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.90 Berdasarkan Pasal 58 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Penyelenggara Pemerintahan Daerah, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57, dalam menyelenggarakan Pemerintahan Daerah berpedoman pada asas penyelenggaraan pemerintahan negara yang terdiri atas: a. kepastian hukum; b. tertib penyelenggara negara; c. kepentingan umum; d.

keterbukaan; e. proporsionalitas; f. profesionalitas; g.

akuntabilitas; h. efisiensi; i. efektivitas; dan j. keadilan

89 Robertho Yanflor Gandaria. “Implementasi Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (Aaupb) Dalam Mewujudkan Prinsip Good Governance And Clean Government Di Pemerintahan Daerah”. Jurnal Lex Administratum, Vol.

III/No. 6.

90 Philipus M. Hadjon. Peradilan Tata Usaha Negara dalam Konteks Undang- Undang No. 30 Th. 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan. Jurnal Hukum dan Peradilan.Volume 4

79

C. Kajian Terhadap Praktik penyelenggaraan, Kondisi yang Ada, Serta Permasalahan Yang Dihadapi Masyarakat

1. Kajian Praktik Wilayah Pertambangan

Praktik wilayah pertambangan terhadap kondisi yang ada pada wilayah pertambangan dan masalah yang ada di dalamnya karena tertera bahwa wilayah pertambangan yang memiliki potensi mineral dan/atau batubara dan tidak terkait dengan batasan administrasi pemerintahan yang merupakan bagian dari tata ruang nasional.

Peraturan mengenai wilayah pertambangan sudah diatur dengan baik karena melindungi wilayah administrasi negara tapi lebih bagus lagi apabila pasal ini ditambah dengan wilayah pertambangan yang meliputi potensi mineral batubara tidak terkait wilayah adat. Jadi disini yang lebih ingin ditonjolkan adalah bagaimana pemerintah melindungi wilayah administrasi hukum adat karena dinilai dapat mengganggu aktifitas masyarakat wilayah adat apabila wilayahnya di gunakan sebagai wilayah pertambangan.

Kebijakan lingkungan dalam tataran nasional yang secara konstitusional mengandung prinsip pembangunan berkelanjutan, ditambah dengan kompleksitas penataan hukum lingkungan di dalam UU No. 32 tahun 2009 dan sejumlah UU sektoral bidang lingkungan hidup hendaknya diterjemahkan oleh para pemangku kepentingan di tingkat daerah, baik dinas kehutanan, dinas pertambangan, dinas tata kota dan dinas pariwisata sebagai kesatuan lingkungan hidup secara holistik.

Semua aspek kegiatan perekonomian di sejumlah sektor hendaknya memiliki pemahaman yang utuh tentang fungsi pelestarian lingkungan dan penataan hukum lingkungan. Secara substansi, banyak peraturan sektoral

80

lingkungan hidup yang diintegrasikan ke dalam pembangunan berkelanjutan. Dalam konteks ini, secara pranata kelembagaan lingkungan hidup di daerah beserta perangkat kerja daerah, memiliki keterbatasan kapasitas dan kuantitas, dibandingkan dengan jumlah pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup daerah. Hukum progresif meletakkan faktor manusia sebagai tolok ukur keberhasilan dalam penegakan hukum lingkungan administrasi di tingkat daerah. Segala perangkat daerah pemerintah kota atau kabupaten yang menangani persoalan lingkungan hidup atau pranata hukum bidang lingkungan memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar91, khususnya sektor kehutanan dan sektor perindustrian. Selain itu, pijakan ketentuan normatif tidak menjadi satu-satunya bahan kajian untuk menegakkan hukum lingkungan melalui perizinan- perizinan, juga dilibatkan faktor budaya hukum masyarakat sekitar. Dalam konteks hukum dalam kenyataan (law in action), semangat desentralisasi yang melimpahkan kewenangan persoalan lingkungan hidup kepada pemerintah daerah, khususnya tingkat kota atau kabupaten, tidak diimbangi dengan komitmen bersama (political will) para pemangku kepentingan untuk melakukan perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup,92 justru yang terjadi adalah ketimpangan.

Pemerintah daerah memiliki hubungan harmonis dengan investor dan pengusaha dalam rangka meningkatkan investasi daerah. Menurut Arief Budiman. hal ini tidak

91 Nandang Sudrajat. (2010). Teori dan Praktik Pertambangan Indonesia Menurut Hukum. Pustaka Yustisia: Yogyakarta. Hlm. 62.

92 Arief Budiman. (1996). Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. Hlm.19.

81

lepas dari teori pendukungnya, yakni teori modernisasi oleh Harrod Domar dan W.W. Rostow, yang mendasari keyakinan para pengambil kebijakan pembangunan.

Dengan titik berat pada pertumbuhan ekonomi, maka model pembangunan ini menekankan pada sifat purposive dan aspek kekuatan dari hukum untuk mewujudkannya.

Dengan kata lain, peran hukum sebagai penunjang dan pelengkap bidang ekonomi. Hukum ditempatkan pada posisi sub ordinat terhadap ekonomi, sehingga hukum hanya memainkan peran yang konservatif sebagai alat pembenar kebijakan hukum.

2. Kajian Praktik Dalam Pengusaaan Mineral Batubara Praktik dalam pengusaaan mineral batubara yang tertera dalam pasal 4, mineral batubara adalah energi yang tidak terbarukan tetapi di pasal 4 ayat 2 UU No 3 tahun 2020 menyebutkan bahwa penguasaan pengelolaan mineral batubara seharusnya tidak hanya di urus oleh pemerintah pusat tetapi juga melibatkan pemerintah daerah karena bagaimanapun juga pemerintah daerah adalah tempat dimana lahan tambang tersebut ada atau di Kelola.

Pelaksanaan terhadap penguasaan pengelolaan mineral batubara yang hanya di Kelola oleh pemrintah pusat, setelah peraturan sudah turun mentri ESDM melarang gubernur mengeluarkan izin pertambangan. UU Minerba yang baru itu telah diundangkan pada 10 Juni 2020, menggantikan UU Nomor 4 Tahun 2009. Sekretaris Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM Heri Nurzaman mengungkapkan, permintaan untuk menunda izin pertambangan baru akan mempertimbangkan Peraturan Pemerintah (PP) sebagai aturan pelaksanaan

82

UU Minerba yang baru yang saat ini masih dalam proses penyusunan.93

3. Praktik dalam Penetapan Pendapatan Negara

Praktik royalti dan terhadap pelanggaran masalahnya di dalam masyarakat. Seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, penambangan pengelolaan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan serta kegiatan pasca tambang. Keiatan pertambangan meliputi pertambangan mineral yang berupa emas, nikel, mangan, pasir besi, dan lainnya juga pertambangan batubara.

Pelaksanaannya, secara umum terjadi permasalahan penting terkait penambangan batubara yang patut untuk diperhatikan dan dipecahkan yaitu masalah lingkungan hidup karena adanya kegiatan penambangan batubara menimbulkan pencemaran :94

a. Air, berasal dari limbah pencucian batubara yang dapat mencemari sungai sehingga air sungai menjadi keruh dan asam. Selain itu jika digunakan baik untuk dikonsumsi maupun untuk MCK dapat membahayakan kesehatan manusia serta menimbulkan penyakit kanker kulit. Aktivitas bongkar muat dan tongkang angkut batubara juga dapat mencemari air laut serta mengganggu kehidupan hutan mangrove dan biota sekitar laut.

93 Ridwan Nanda Mulyana. “UU minerba terbit, kementrian ESDM melarang gubernur terbitkan izin” diakses pada 29/09/2021 dari (https://industri .kontan.co.id/news/uu-minerba-terbit-kementerian-esdm-melarang-gubernur- menerbitkan-izin-tambang-baru)

94 Penambangan Umum Batubara, di akses pada 13 September 2021, dari (https://jdih.bpk.go.id/wpcontent/uploads/2011/03/PertambanganUmum.pdf)

83

b. Tanah, dengan adanya lubang-lubang besar yang tidak mungkin ditutup kembali, serta mempengaruhi kesuburan tanah dan PH tanah yang dampaknya akan dirasakan oleh petani di sekitar wilayah tambang.

c. Udara, berasal dari pembakaran batubara menghasilkan gas nitrogen oksida dan sebagai polutan yang menyebabkan hujan asam. Selain itu debu-debu pengangkatan batubara juga menimbulkan penyakit ISPA, kanker, bahkan dapat menyebabkan cacat pada bayi yang dikandung apabila udara yang tercemar terus menerus dihirup.

Pertambangan mineral juga terjadi di wilayah Halmahera Utara yang merupakan daerah dengan status wilayah daerah tertinggal namun memiliki potensi sumber daya mineral yang cukup tinggi. Keterdapatan potensi sumber daya mineral ini memiliki peran yang strategis untuk mempercepat laju pembangunan daerah Halmahera utara ini. Namun pengelolaan potensi sumber daya mineral tentu tidak selalu memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Untuk melakukan pengeolalaan potensi sumber daya mineral secara optimal diperlukan kajian mendalam dan aturan tegas sehingga dapat meminimalisir damapk negative yang dirasakan masyarakat sekitar.

Industri pertambangan merupakan kegiatan yang berpotensi cukup besar terhadap perubahan pada rona lingkungan di sekitar wilayah pertambangan, termasuk di Kabupaten Halmahera Utara. Daerah dengan presentase kondisi existing mencapai 87% merupakan kawasan hutan dan Areal Penggunaan Lainnya membuat praktik penyelenggaraan dari kegiatan industry pertambangan di

84

daerah ini mengalami beberapa permasalahan.95 Tumpang tindih perizinan kawasan pertambangan dengan kawasan hutan dan pertanian menjadi salah satunya.

Selain itu, pertambangan juga berdampak terhadap perikanan dan kelautan. Diantaranya dampak langsung dari kegiatan pertambangan pasir besi umunya di pesisir pantai dan di laut sehingga air didaerah tersebut akan tercemar. Dampak tidak langsung pun dirasakan oleh warga sekitar dan para nelayan dari pencemaran yang terjadi dari proses transportasi dari sungai yang masuk ke laut, terumbu karang rusak berikut ikan-ikan pun akan mati dan berdampak langsung terhadap perekonomian para nelayan sekitar pertambangan.

Kewajiban menjaga lingkungan hidup didukung dengan adanya UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang telah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku dengan adanya UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam Undang-Undang ini disebutkan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki amdal. Amdal adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.

Kajian ini mempelajari tentang kegiatan pertambangan terhadap kegiatan reklamasi dan pasca tambang yang masih menjadi permasalahan dalam

95 Aliyusra Jolo, Rudi S. Gautama. (2018). “Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber Daya Mineral Berwawasan Lingkungan (Studi Kasus Kabupaten Halmahera Utara)”, Techno: Jurnal Penelitian, Vol. 09 No.01, Hlm. 128.

Dokumen terkait