• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asas Landreform Atau Reforma Agraria

Dalam dokumen DIKTAT HUKUM AGRARIA DWI HASTUTI (Halaman 41-44)

Asas land reform ini mejadi dasar bagi tata kelola agraria baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Asas ini ditemukan dalam pasal 7 ayat (1) UUPA, yaitu :

“Untuk tidak merugikan kepentingan umum maka pemilikan dan penguasaan tanah yang melampaui batas tidak diperkenankan”. Maksud dari ketentuan tersebut bahwa kepemilikan dan penguasaan tanah yang melampaui batas tidak diperkenanakan karena hal yang demikian dapat merugikan kepentingan umum.

Agar supaya ketentuan ini dapat dilaksanakan maka ditentukan pula tentang batas luas tanah yang harus dimiliki oleh seorang tani, supaya ia mendapatkan

37 penghasilan yang cukup untuk hidup dan ketentuan mengenai batas maksimum luas tanah yang boleh dipunyai dengan hak milik. tanah –tanah yang memiliki kelebihan batas maksimum diambil oleh pemerintah dengan ganti kerugian , untuk selanjutnya dibagikan kepada rakyat yang membutuhkan menurut ketentuan dalam peraturan pemerintah. (lihat pasal 17 UUPA)

Asas ini juga ditemukan pada pasal 10 ayat (1) UUPA, yaitu : “Setiap orang dan badan hukum yang mempunyai sesuatu hak atas tanah pertanian pada azasnya diwajibkan mengerjakan atau mengusahakannya sendiri secara aktif, dengan mencegah cara-cara pemerasan”. Tanah-tanah yang tidak diusahakan dengan baik dan menjadi tanah terlantar, maka ini akan menjadi sebab dihapuskannya hak atas tanah tersebut. Tanah yang telantar ini akan dikuasasi oleh negara dan diberikan kepada rakyat yang membutuhkan dalam menjalankan reforma agraria.

Dalam ketentuan UUPA mengatur bahwa tanah yang dimiliki harus diusahakan sendiri secara aktif, tetapi dalam susuan masyarakat pertanian Indonesia masih perlu dibuka kemungkinan penggunaan tanah pertanian oleh orang-orang yang bukan pemiliknya, misalnya secara sewa, bagi hasil, gadai. dan lain sebagainya. tetapi segala sesuatu harus diselenggarakan menurut ketentuan- ketentuan undang-undang dan peraturan – peraturan lainnya, yaitu untuk mencegah hubungan-hubungan hukum yang bersifat penindasan kelompok ekonomi lemah oleh kelompok ekonomi kuat ( pasal 24, 41 dan 53). Begitulan misalnya pemakaian tanah atas dasar sewa. Perjanjian bagi hasil, gadai, dan sebagaimana itu tidak boleh diserahkan pada persetujuan pihak-pihak yang berkepentingan sendiri atas dasar

freefight”, akan tetapi penguasa akan memberikan ketentuan ketentuan tentang cara dan syarat – syaratnya, agar dapat memenuhi pertimbangan keadilan dan dicegah cara-cara pemerasan. Misal dalam perjanjian bagi hasil, ketentuan tersebut diatur dalam UU no 2 tahun 1960 tentang perjanjian bagi hasil.

38 H. Asas Tata Guna Tanah/Penggunaan Tanah Secara Berencana

Dalam rangka mencapai apa yangdicita-citakan bangsa dan negara dalam bidang agraria, perlu adanya suatu rencana (planning) mengenai peruntukan, penggunaan dan persediaan bumi, air, dan ruang angkasa untuk berbagai kepentingan hidup rakyat. Asas ini ditemukan dalam Pasal 14 ayat (1) UUPA , yaitu :

Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 2 ayat 2 dan 3 pasal 9 ayat 2 serta pasal 10 ayat 1 dan 2 Pemerintah dalam rangka sosialisme Indonesia, membuat suatu rencana umum mengenai persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaann alam yang terkandung di dalamnya:

1) untuk keperluan Negara;

2) untuk keperluan peribadatan dan keperluan-keperluan suci lainnya, sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa;

3) untuk keperluan pusat-pusat kehidupan masyarakat, sosial kebudayaan dan lain-lain kesejahteraan;

4) untuk keperluan memperkembangkan produksi pertanian, peternakan dan perikanan serta sejalan dengan itu;

5) untuk keperluan memperkembangkan industri, transmigrasi dan pertambangan.

Berdasarkan hierarkinya, rencana umum nasional dibagi menjadi dua, yaitu pertama, rencana umum (national planning) yang meliputi seluruh wilayah Indonesia, dan kedua, rencana umum nasional diperindi menjadi rencana umum daerah (regional planning) dari tiap-tiap daerah. Dengan adanya planning itu, maka penggunaaan tanah dapat dilakukan secara terpimpin dan teratur sehingga dapat membawa berkah manfaat yang sebesar-besarnya bagi negara dan rakyat.

Asas ini bertujuan agar setiap jengkal tanah dipergunakan seefisien mungkin dengan memperhatikan asas lestari, optimal, serasi, dan seimbang (LOSS) untuk berbagai keperluan pembangunan / usaha serta mecegah kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Dengan demikian, jelas bahwa penguasaan negara atas bumi , air dan sumber daya alam yang terkandung di dalamnya itu untuk melaksanakan kebijakan mengenai rencana penataan ruang. Yang dimaksud dengan

39 penataan ruang adalah wadah meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia, dan makhluk lain hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya (pasal 1 ayat 1 UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang).

Didalam penataan ruang harus sebagai suatu sistem perencanaan tata ruang , pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang yang merupakan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya dan harus dilakukan sesuai dengan kaidah penataan ruang sehingga diharapkan dapat mewujudkan pemanfaatan ruang yang berhasil guna dan berdaya guna serta mampu mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan, tidak terjadi pemborosan pemanfaatan ruang, dan tidak menyebabkan terjadinya penurunan kualitas ruang (penjelasan pasal 1 ayat 4 UU Nomor 26 Tahun 2007).

I. Asas kesatuan hukum

Asas kepastian hukum ditemukan dalam pasal 5 UUPA, yaitu: “ hukum agraria yang masih berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa, dengan sosialisme indonesia serta dengan peranturan yang tercantum dalam undang-undang ini dan dengan peraturan perundangan lainnya, segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agraria.” Dengan dijadikan hukum adat sebagai dasar dalam pembentukan dari hukum tanah nasional, maka kesatuan hukum dapatlah diwujudkan karena mengingat hukum adat yang mengatur tentang tanah digunakans ebagian besar rakyat indonesia.

Dalam dokumen DIKTAT HUKUM AGRARIA DWI HASTUTI (Halaman 41-44)