BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2. Aspek Prokrastinasi Akademik
Ferrari (1995) menyatakan bahwa prokrastinasi akademik terdiri atas empat aspek, yaitu:
a. Perceived time
Perceived time atau ketidakmampuan individu dalam mengatur waktu. Individu cenderung melakukan prokrastinasi hingga cenderung gagal dalam mengumpulkan tugas tepat pada waktu
yang telah ditentukan. Individu yang menunda sadar akan keharusannya untuk mengerjakan tugas yang diberikan, tetapi juga sadar bahwa ia menunda untuk mengerjakan dan menyelesaikan tugas tersebut hingga tuntas. Meskipun ia telah memiliki rencana untuk memulainya pada waktu tertentu, ia tetap tidak mulai mengerjakan tugasnya pada waktu tersebut hingga keesokan harinya ia tetap melakukan hal yang sama.
Individu dalam hal ini hanya memikirkan masa sekarang tanpa memperhitungkan dan memikirkan masa mendatang. Ketika individu tersebut tidak dapat mengatur waktu dengan baik, maka ia akan selalu terlambat mengerjakan tugasnya hingga mengumpulkannya melebihi batas deadline. Sehingga, hal tersebut mengakibatkan individu menjadi seseorang yang disebut tidak tepat waktu karena ia telah gagal mengatur waktu untuk mengerjakan tugas.
Tuckman (1990) mengemukakan bahwa individu yang melakukan prokrastinasi cenderung melakukan penundaan dalam mengerjakan dan menyelesaikan tugasnya. Individu yang melakukan prokrastinasi akan menghabiskan waktu dengan sia- sia karena melakukan hal lain yang tidak lebih penting daripada tugasnya tersebut. Seorang prokrastinator tidak menggunakan waktunya untuk mengerjakan tugas akademiknya dengan optimal.
b. Interaction-Action
Interaction-Action atau antara keinginan dan tindakan. Hal ini terlihat pada individu yang gagal dalam mengerjakan tugas
akademiknya meskipun individu tersebut memiliki keinginan untuk mengerjakannya. Ia memiliki keinginan untuk mengerjakan tugasnya dengan baik, namun karena adanya faktor lain maka ia menunda mengerjakan tugasnya tersebut.
Prokrastinator lebih memilih untuk mengerjakan tugas yang dianggap lebih mudah daripada yang sulit. Penundaan tersebut membuat ia merasa aman dan terlena dengan waktu hingga mendekati batas waktu pengumpulan tugas. Keadaan tersebut dapat menjadi semakin buruk apabila adanya tugas baru yang diberikan sehingga membuat beban prokrastinator semakin berat.
Sehingga hal tersebut dapat mengakibatkan keterlambatan dalam menyelesaikan dan tugas yang dihasilkan menjadi tidak maksimal.
Penelitian yang dilakukan oleh Sutriyono dan Prasetya (2012) menemukan bahwa mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana cenderung menunda untuk mulai mengerjakan dan menyelesaikan tugas-tugasnya. Beberapa mahasiswa menunda mengerjakan tugasnya karena melakukan aktivitas lain yang menurut mereka lebih penting daripada tugas akademiknya tersebut. Meskipun begitu, mereka sadar bahwa tugas akademik penting dan sebaiknya segera mengerjakan tugas tersebut dan mengumpulkannya sebelum deadline pengumpulan berakhir.
c. Emotional Distress
Emotional Distress atau perasaan cemas karena adanya tekanan emosional. Individu yang melakukan prokrastinasi lebih
memilih melakukan yang menyenangkan daripada mengerjakan tugasnya. Namun, meskipun aktivitas menyenangkan tersebut dapat mengalihkan pikiran mereka dari tugas-tugas, hal tersebut dapat mengakibatkan stress yang berkepanjangan dan menimbulkan perasaan bersalah karena tidak menyelesaikan tugasnya tersebut.
Perilaku menunda juga akan membawa perasaan emosional yang tidak nyaman yang dirasakan oleh individu. Dampak negatif yang ditimbulkan ialah munculnya kecemasan dalam diri individu yang melakukan prokrastinasi. Pada awalnya individu akan merasa tenang karena menganggap bahwa deadline waktu pengumpulan masih lama, terus berpikir seperti itu hingga waktu pengumpulan semakin dekat dan mengakibatkan munculnya perasaan cemas dan tertekan karena belum mengerjakan tugasnya.
d. Perceived Ability
Dalam hal ini, individu yang melakukan prokrastinasi akademik merasa ragu dan kurang percaya terhadap kemampuan yang dimilikinya. Hal tersebut yang membuat individu melakukan prokrastinasi terhadap tugas-tugas akademiknya tersebut. Selain itu, rasa takut akan kegagalan menyebabkan individu akan menyalahkan dirinya sendiri sebagai individu yang tidak mampu dalam hal apapun. Pada akhirnya, individu tersebut menghindari tugasnya karena takut gagal akibat tidak percaya dengan kemampuannya.
Knaus (2010) menyatakan bahwa seseorang yang melakukan prokrastinasi dengan nyaman, tidak menyadari bahwa perilaku tersebut memiliki dampak yang buruk bagi dirinya. Kebiasaan menunda terjadi karena adanya gejala-gejala yang disadari maupun tidak disadari, seperti adanya ketakutan, keraguan akan dirinya, perfeksionis, takut akan kegagalan, tidak percaya dengan kemampuannya, hingga depresi. Hal-hal tersebut mulai terjadi ketika individu mulai beraktivitas yang dianggap sulit, menakutkan, serta membosankan.
Boice (1996) mengatakan bahwa terdapat 2 karakteristik dalam prokrastinasi, yaitu individu akan menunda tugas yang penting dan juga sulit dibandingkan tugas yang lebih mudah, hal ini yang akan menimbulkan kecemasan, dan jika hasil ingin lebih maksimal maka individu menunggu waktu yang tepat untuk menyelesaikannya.
Ferrari, Johnson, dan McCown (1995) mengatakan bahwa terdapat aspek-aspek dalam prokrastinasi, antara lain:
a. Rencana dan kinerja aktual dalam kesenjangan waktu
Seorang prokrastinator biasanya membuat rencana agar memenuhi deadline yang telah ditentukan. Namun, dengan menunda pekerjaannya maka rencana tersebut tidak berjalan dengan baik. Perencanaan tersebut biasanya dilakukan agar individu dapat memulai untuk mengerjakan tugas pada waktu yang telah dia tentukan sendiri. Sehingga dengan perencanaan tersebut yang hanya menunda pekerjaan maka akan membuat individu gagal dalam menyelesaikan tugas yang telah diberikan.
b. Menunda memulai dan menyelesaikan tugas
Individu dalam menunda untuk memulai dan menyelesaikan tugas yang dihadapinya akan segera terselesaikan, namun individu tersebut menunda hingga dapat menuntaskan apa yang ingin diselesaikan jika sudah memulai dalam mengerjakan tugas tersebut.
c. Lebih memilih aktivitas yang menyenangkan
Individu lebih memilih aktivitas yang menyenangkan dibandingkan dengan mengerjakan pekerjaan yang sulit dengan sengaja. Aktivitas yang lebih menyenangkan tersebut, seperti mendengarkan musik, nonton, ngobrol, jalan, dan sebagainya. Hal inilah yang dapat menyebabkan waktu individu tersita lebih banyak yangs seharusnya waktu tersebut dilakukan dalam menyelesaikan tugas yang penting.
d. Mengerjakan tugas dengan terlambat
Pada umumnya, individu memerlukan jangka waktu yang panjang untuk menyelesaikan tugas. Hal ini dikarenakan individu yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melakukan aktivitas yang lebih menyenangkan sehingga individu tersebut dapat mengalami kegagalan dalam penyelesaian tugas.
Millgram (dalam Ferrari, Johnson, & McCown, 1995) mengatakan bahwa terdapat beberapa aspek dalam prokrastinasi, antara lain:
a. Unsur penundaan yang terlibat
Mahasiswa yang melakukan prokrastinasi cenderung untuk menunda memulai dan mengerjakan skripsi sampai selesai karena adanya unsur-unsur tertentu yang menyebabkan ia menunda.
b. Muncul akibat-akibat dalam prokrastinasi
Mahasiswa yang melakukan prokrastinasi cenderung menunda dalam menyelesaikan skripsi hingga waktu deadline dan akibatnya individu tergesa-gesa dalam menyelesaikan skripsi sehingga menyebabkan hasil kinerjanya yang tidak maksimal dan terburu- buru.
c. Mahasiswa yang mempersepsikan suatu tugas yang penting untuk dikerjakan
Mahasiswa telah mengetahui bahwa tugas penting tersebut adalah skripsi, namun mahasiswa tersebut cenderung untuk menunda menyelesaikan skripsi dan lebih memilih untuk mengerjakan aktivitas lain yang lebih menyenangkan.
d. Mahasiswa yang dapat mengalami keadaan emosional yang tidak menyenangkan
Mahasiswa dalam melakukan prokrastinasi dengan menunda menyelesaikan skripsi akan mengalami keadaan emosional yang tidak menyenangkan, seperti perasaan cemas, perasaan bersalah, marah, panik, dan perasaan tertekan karena tuntutan dari berbagai pihak untuk segera menyelesaikan studinya.