• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Asumsi Klasik

Dalam dokumen TENAGA PEMASAR (Halaman 80-90)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.4 Hasil Analisis Data

4.4.2 Uji Asumsi Klasik

Sedangkan penilaian terendah yaitu pada indikator kelima yaitu

“Memberikan ide atau gagasan yang dipandang baik kepada atasan”, dengan nilai mean masing-masing sebesar 3.38 yang berarti responden cukup setuju.

Adapun penilaian tertinggi yaitu pada indikator pertama yaitu “Selalu berhasil menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya” dengan nilai mean sebesar 4.25 yang berarti responden sangat setuju.

4.4.2. Uji Asumsi Klasik

Pada grafik normal probability plot di atas terlihat titik-titik menyebar berhimpit di sekitar garis diagonal, serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal. Dari grafik tersebut maka dapat dinyatakan bahwa model regresi pada penelitian ini memenuhi asumsi normalitas.

Selain dengan grafik normal probability plot di atas, normalitas juga dapat diuji dengan Kolmogorov-Smirnov. Persyaratan data disebut normal jika probabilitas atau p > 0,05 pada uji normalitas dengan Kolmogorov Smirnov.

Tabel 4.5 Uji Normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 110

Normal Parametersa,b Mean 0E-7

Std. Deviation 3.82277982

Most Extreme Differences

Absolute .058

Positive .046

Negative -.058

Test Statistic .058

Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

d. This is a lower bound of the true significance.

Sumber : Data primer SPSS 22 (diolah penulis, 2018)

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) adalah 0,200, ini berarti di atas nilai signifikansi 5%. Oleh karena itu, sesuai dengan analisis grafik, analisis statistik dengan uji statistik non- parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S) juga menyatakan bahwa variabel residual berdistribusi normal.

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dilakukan untuk melihat apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Setelah dilakukan pengujian, maka diperoleh hasil seperti yang digambarkan pada tabel 4.6 berikut ini:

Tabel 4.6 Hasil Uji Multikolinearitas

Coefficientsa

Model Collinearity Statistics

Tolerance VIF

1

(Constant)

Work load .973 1.028

Role conflict .804 1.244

Inadequate monetary reward .824 1.214

a. Dependent Variable: Kinerja tenaga pemasar

Sumber : Data primer SPSS 22 (diolah penulis, 2018)

Dari hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi korelasi antar variabel independen dalam penelitian, karena memperlihatkan nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10, pada umumnya terjadi multikolonieritas apabila nilai VIF > 10.

c. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya korelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Uji yang digunakan adalah Uji Durbin – Watson (uji DW).

Hipotesis yang diajukan :

Ho : tidak ada autokorelasi (r = 0) Ha : ada autokorelasi (r≠0)

Pengambilan keputusan :

1) Jika d lebih kecil dari dL atau lebih besar dari (4-dL) maka hipotesis nol ditolak, yang berarti terdapat autokorelasi.

2) Jika d terletak antara DU dan (4-dU), maka hipotesis nol diterima, yang berarti tidak ada autokorelasi.

3) Jika d terletak antara dL dan dU atau di antara (4-dU) dan (4-dL), maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti.

Setelah dilakukan pengujian, maka diperoleh hasil seperti yang tertera pada tabel 4.7 berikut ini :

Tabel 4.7 Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

Durbin- Watson

1 .722a .522 .508 3.87650 1.901

a. Predictors: (Constant), Inadequate Monetary Reward, Work Load, Role Conflict b. Dependent Variable: Kinerja

Sumber : Data primer SPSS 22 (diolah penulis, 2018)

Dalam penelitian ini dengan df=110 dan k=3 dan  0,05 diperoleh nilai dl dan du sebagai berikut.

Gambar 4.6 Untuk Menentukan ada tidaknya Autokorelasi dengan Uji Durbin Watson

Menolak H0, bukti autokorelasi

positif

Daerah keragu-

raguan

Menerima H0, tidak ada autokorelasi

Daerah keragu- raguan

Menolak H0, bukti autokorelasi

negatif

Sumber: Priyatno (2010:49)

0 dL

1,634 dU

1,746 4-dU

2.254 4-dL

2.366 4

2 DW 1.901

Berdasarkan Gambar 4.6 hasil perhitungan diperoleh nilai Durbin Watson sebesar 1.901. Karena DW berada di antara dU dan 4-dU maka disimpulkan tidak terjadi masalah autokorelasi.

d. Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas terjadi apabila tidak ada kesamaan deviasi standar nilai variabel dependen pada setiap variabel independen. Deteksi dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik berikut ini:

Gambar 4.7 Pengujian Heteroskedastisitas

Sumber : Data primer SPSS 22 (diolah penulis, 2018) Dari grafik tersebut, dapat terlihat titik-titik yang menyebar secara acak, tidak membentuk suatu pola tertentu yang jelas, serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 (nol) pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

4.3.3. Analisis Regresi Linear Berganda

Perubahan nilai suatu variabel tidak selalu terjadi dengan sendirinya, namun perubahan nilai variabel itu dapat pula disebabkan oleh berubahnya

variabel lain yang berhubungan dengan variabel tersebut. Untuk mengetahui pola perubahan nilai variabel kinerja tenaga pemasar yang disebabkan oleh variabel work load, role conflict dan inadequate monetary reward diperlukan alat analisis yang memungkinkan kita untuk membuat perkiraan atau peramalan nilai variabel tersebut pada nilai tertentu variabel yang mempengaruhinya. Dalam ilmu statistika, teknik analisis yang umum digunakan dalam penelitian yaitu analisis regresi. Pada penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dan diolah dengan program SPSS Versi 23.00.

a. Persamaan Regresi Linear Berganda

Adapun model yang digunakan adalah:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3

Analisis regresi linear berganda dalam penelitian ini menggunakan program SPSS versi 23.00 dan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.8 Analisis Regresi Linear Berganda

Coefficientsa

Model Unstandardized

Coefficients

Standardized Coefficients

B Std. Error Beta

1

(Constant) 10.461 2.780

Work Load .638 .065 .667

Role Conflict .208 .088 .177

Inadequate Monetary Reward -.202 .071 -.210

a. Dependent Variable: Kinerja

Sumber : Data primer SPSS 22 (diolah penulis, 2018)

Berdasarkan hasil pengolahan data seperti terlihat pada tabel 4.8 diperoleh persamaan regresi berganda sebagai berikut :

Y = 10,461 + 0,667X1 + 0,177X2 - 0,210X3

Berikut penjelasan berdasarkan persamaan regresi berganda yang terbentuk:

1) Konstanta sebesar 10,461 menunjukan nilai konstan, di mana jika nilai variabel work load, role conflict dan inadequate monetary reward konstan maka kinerja tenaga pemasar adalah sebesar 10,461 satuan dengan anggapan variabel bebas lain besarnya konstan.

2) Koefisien regresi work load sebesar 0.667 menunjukkan bahwa variabel work load (X1) berpengaruh positif terhadap kinerja tenaga pemasar (Y).

Dengan kata lain, jika variabel work load ditingkatkan sebesar satu satuan maka kinerja tenaga pemasar akan naik sebesar 0.667 satuan dengan anggapan variabel bebas lain besarnya konstan.

3) Koefisien regresi role conflict sebesar 0,177 menunjukkan bahwa variabel role conflict (X2) berpengaruh positif terhadap kinerja tenaga pemasar (Y). Dengan kata lain, jika variabel role conflict ditingkatkan sebesar satu satuan maka kinerja tenaga pemasar akan meningkat sebesar 0,177 satuan dengan anggapan variabel bebas lain besarnya konstan.

4) Koefisien regresi inadequate monetary reward sebesar -0,210 menunjukkan bahwa variabel inadequate monetary reward (X3) berpengaruh negatif terhadap kinerja tenaga pemasar (Y). Dengan kata lain, jika variabel inadequate monetary reward ditingkatkan sebesar satu satuan maka kinerja tenaga pemasar akan turun sebesar -0,210 dengan anggapan variabel bebas lain besarnya konstan.

b. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen. Koefisien determinasi, dalam output SPSS terletak pada tabel model summaryb.

Tabel 4.9 Pengujian Determinasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .722a .522 .508 3.87650

a. Predictors: (Constant), Inadequate Monetary Reward, Work Load, Role Conflict b. Dependent Variable: Kinerja

Sumber : Data primer (diolah penulis, 2018)

Berdasarkan tabel 4.9 dapat diketahui bahwa besarnya adjusted R squareadalah 0.508, hal ini berarti 50,8% variasi dari kinerja tenaga pemasar dapat dijelaskan oleh variasi dari stres kerja yang meliputi work load, role conflict dan inadequate monetary reward, sedangkan sisanya 49.2%

dijelaskan oleh sebab-sebab lain di luar model.

4.4.4. Pengujian Hipotesis

Untuk mengetahui sejauhmana tingkat signifikansi pengaruh work load, role conflict dan inadequate monetary reward terhadap kinerja tenaga pemasar baik secara serempak maupun parsial, maka akan dilakukan pengujian statistik terhadap persamaan garis regresi tersebut.

a. Pengujian Hipotesis Secara Serempak

Pada setiap persamaan yang telah dibuat, tindakan pertama kali yang harus dilakukan adalah melakukan pengujian signifikansi secara serempak (overall significance) pada suatu persamaan regresi berdasarkan uji hipotesis.

Untuk menguji apakah role conflict regresi ini secara nyata dapat dipakai untuk meramalkan Y maka akan digunakan uji F. Hasil uji F sesuai dengan perhitungan SPSS dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 4.10 Hasil Perhitungan Uji F

ANOVAa

Model Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 1738.385 3 579.462 38.561 .000b

Residual 1592.887 106 15.027

Total 3331.273 109

a. Dependent Variable: Kinerja

b. Predictors: (Constant), Inadequate Monetary Reward, Work Load, Role Conflict

Sumber : Data primer SPSS 22 (diolah penulis, 2018)

Berdasarkan uji ANOVA atau uji statistik F didapat nilai F hitung sebesar 38,561 dengan tingkat probabilitas 0,000. Probabilitas yang jauh lebih kecil jika dibandingkan 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi kinerja tenaga pemasar atau dapat dikatakan bahwa variabel stres kerja yaitu work load, role conflict dan inadequate monetary reward secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja tenaga pemasar.

b. Pengujian Hipotesis Secara Parsial

Pengujian tingkat signifikansi yang kedua diarahkan untuk menguji masing- masing koefisien di dalam persamaan regresi secara individu atau parsial.

Pada dasarnya pengujian ini adalah untuk menentukan apakah masing-masing koefisien ini berbeda secara signifikan dari nol (0). Pengujian secara parsial variabel work load, role conflict dan inadequate monetary reward terhadap kinerja tenaga pemasar dilakukan sesuai dengan perencanaan uji hipotesis yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya.

Tabel 4.11 Hasil Uji t

Coefficientsa

Model t Sig.

1

(Constant) 3.763 .000

Work load 9.793 .000

Role conflict 2.362 .020

Inadequate monetary reward -2.842 .005

a. Dependent Variable: Kinerja

Sumber : Data primer SPSS 22 (diolah penulis, 2018)

Uji t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Berikut ini dijelaskan hasil perhitungan uji t masing-masing variabel:

1) Pengaruh Work Load terhadap Kinerja Tenaga Pemasar

Nilai thitung variabel work load (X1) adalah 9.793 > ttabel 1.659 dan nilai signifikansinya 0.000 lebih kecil dari 0.05, maka Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel work load berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja tenaga pemasar pada Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta, artinya variabel work load memberikan dampak yang signifikan terhadap meningkatnya kinerja tenaga pemasar.

2) Pengaruh Role Conflict terhadap Kinerja Tenaga Pemasar

Nilai thitung variabel role conflict (X2) adalah 2.362 > ttabel 1.659 dan nilai signifikansinya 0.020 lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel role conflict berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja tenaga pemasar pada Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta, artinya meningkatnya role conflict memberikan dampak yang signifikan pada kinerja tenaga pemasar.

3) Pengaruh Inadequate Monetary Reward terhadap Kinerja Tenaga Pemasar

Nilai thitung variabel inadequate monetary reward (X3) adalah -2.842 <

-ttabel 1.659 dan nilai signifikansinya 0.005 lebih kecil dari 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel inadequate monetary reward berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja tenaga pemasar pada Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta, artinya jika

variabel inadequate monetary reward semakin meningkat maka kinerja tenaga pemasar akan turun.

4.5 Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya, dalam mengukur pengaruh stres kerja terhadap kinerja tenaga pemasar pada Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta.

4.5.1 Pengaruh Work Load terhadap Kinerja Tenaga Pemasar

Hasil perhitungan statistik pada variabel work load didapatkan koefisien regresi 0.667 yang berarti variabel work load mempunyai pengaruh yang positif, jika variabel work load ditingkatkan maka kinerja tenaga pemasar pada Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta akan semakin meningkat pula.

Berdasarkan uji hipotesis diperoleh tingkat signifikansi penelitian pada variabel work load sebesar 0.000 < 0.05, maka dapat diketahui bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa work load berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja tenaga pemasar dapat diterima.

Hasil penelitian ini sesuai dengan temuan Shah (2011) menyatakan bahwa beban kerja berpengaruh dalam meningkatkan kinerja tenaga pemasar. Semakin meningkat beban kerja yang diberikan kepada tenaga pemasar, maka akan berdampak terhadap meningkatnya kinerja tenaga pemasar tersebut.

Pimpinan secara periodik berusaha untuk meningkatkan target dalam memperoleh nasabah asuransi yang berarti beban kerja akan semakin meningkat.

Dengan demikian tenaga pemasar akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai target dalam mendapatkan nasabah. Seiring meningkatnya perolehan nasabah, maka tenaga pemasar yang bersangkutan akan benefit berupa bonus yang

semakin meningkat pula. Sebaliknya apabila beban kerja yang diperoleh semakin sedikit, maka benefit yang akan diperoleh pun akan semakin turun.

Beban kerja yang tinggi akan membutuhkan banyak waktu untuk melakukan perencanaan terhadap tugas yang akan dilakukan maupun dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Agen akan memonitoring pekerjaan yang sedang dilakukan dan mengerahkan kemampuannya dengan teliti dalam bekerja sehingga para agen diharapkan tetap nyaman dengan pekerjannya tersebut.

4.5.2 Pengaruh Role Conflict terhadap Kinerja Tenaga Pemasar

Hasil perhitungan statistik pada variabel role conflict didapatkan koefisien regresi 0.177 yang berarti variabel role conflict mempunyai pengaruh yang positif, artinya jika role conflict semakin meningkat maka kinerja tenaga pemasar pada Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta akan semakin meningkat

Berdasarkan hasil uji hipotesis diperoleh tingkat signifikansi penelitian pada variabel role conflict didapatkan sebesar 0.020 < 0.05, maka dapat diketahui bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa role conflict berpengaruh signifikan terhadap kinerja tenaga pemasar dapat diterima, yang berarti role conflict berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja tenaga pemasar. Dengan adanya konflik dan persaingan di antara tenaga pemasar, maka akan memacu tenaga pemasar untuk meningkatkan kinerjanya dalam memperoleh nasabah.

Konflik yang terjadi di lapangan di antara agency (tenaga pemasar) pada umumnya terjadi diantara agency pada kantor yang berbeda. Karena pada umumnya masing-masing tenaga pemasar sudah mempunyai wilayah kerja tersendiri untuk meminimalisir terjadinya perebutan calon nasabah di lapangan.

Untuk meminimalisir terjadinya role conflict, maka para agen bekerja dengan dua kelompok atau lebih yang cara melakukan pekerjaannya tidak sama.

Dalam penugasan juga senantiasa didukung oleh sumber daya yang cukup, dengan aturan yang jelas sehingga dalam mencapai target pun tidak akan mengesampingkan aturan main yang ada.

4.5.3 Pengaruh Inadequate Monetary Reward terhadap Kinerja Tenaga Pemasar Hasil perhitungan statistik pada variabel inadequate monetary reward didapatkan koefisien regresi -0.210 yang berarti variabel inadequate monetary reward mempunyai pengaruh yang negatif, artinya jika inadequate monetary reward semakin meningkat maka kinerja tenaga pemasar pada Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta akan mengalami penurunan.

Sedangkan tingkat signifikansi penelitian pada variabel inadequate monetary reward didapatkan sebesar 0.005 < 0.05, maka dapat diketahui bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa inadequate monetary reward berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja tenaga pemasar dapat diterima. Hal ini berarti inadequate monetary reward berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja tenaga pemasar pada Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta.

Kompensasi yang tidak memadai akan membuat kinerja tenaga pemasar akan mengalami penurunan. Sebaliknya semakin memadai kompensasi yang diterima oleh tenaga pemasar akan berdampak pada meningkatnya tenaga pemasar.

Pada Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta mempunyai skema tersendiri dalam menentukan kompensasi bagi para tenaga pemasarnya yaitu pada tenaga pemasar yang baru akan memperoleh kompensasi dengan prosentase yang lebih besar dari tenaga pemasar yang sudah lama bekerja di Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta. Bagi tenaga pemasar

yang telah lama bekerja meskipun memperoleh prosentase yang lebih rendah, tetapi memperoleh bagian dari tenaga pemasar yang menjadi downline nya.

Kompensasi yang seharusnya diterima oleh karyawan sudah sesuai dengan besarnya tanggung jawab yang diemban. Perusahaan akan memberikan bonus bagi para karyawan yang berprestasi atau dapat mencapai target yang ditetapkan, disamping itu terdapat tunjangan rekreasi bagi karyawan dan diberi kesempatan mendapatkan promosi jabatan sebagai imbalan atas prestasi kerja yang dicapainya.

4.5.4 Pengaruh Work Load, Role Conflict dan Inadequate Monetary Reward Secara Simultan terhadap Kinerja Tenaga Pemasar

Hasil perhitungan statistik dengan uji ANOVA tingkat probabilitas sebesar 0.000. Dikarenakan probabilitas yang jauh lebih kecil jika dibandingkan 0.05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi kinerja tenaga pemasar atau dapat dikatakan bahwa variabel work load, role conflict dan inadequate monetary reward secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja tenaga pemasar.

Sedangkan adjusted R squareadalah 0.508, hal ini berarti 50,8% variasi dari kinerja tenaga pemasar dapat dijelaskan oleh variasi dari ke tiga variabel independent yaitu work load, role conflict dan inadequate monetary reward, adapun sisanya 49.2% dijelaskan oleh sebab-sebab lain di luar model.

Untuk itu sebaiknya manajemen perusahaan dapat memperhatikan ketiga faktor tersebut yaitu work load, role conflict dan inadequate monetary reward sehingga dapat berkontribusi secara positif terhadap peningkatan kinerja tenaga pemasar pada Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta.

4.6 Implikasi Manajerial

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh work load, role conflict dan inadequate monetary reward terhadap kinerja tenaga pemasar. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa workload dan role conflict memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja tenaga pemasar. Selanjutnya inadequate monetary reward memiliki pengaruh negative terhadap kinerja tenaga pemasar.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dapat diberikan implikasi manajerial untuk PT. Prudential Life Assurance ( Agency Jakarta), selaku objek pada penelitian Kinerja. Berikut beberapa implikasi yang dapat diberikan kepada pihak manajemen PT. Prudential Life Assurance ( Agency Jakarta).

1. Berdasarkan hasil pengujian data yang telah dilakukan peneliti, dapat diketahui bahwa beban kerja berpengaruh positif terhadap kinerja tenaga pemasar. Hal ini dikarenakan dibutuhkannya waktu perencanaan yang lebih terhadap tugas yang dilakukan akan sangat berdampak untuk mendukung kinerja tenaga pemasar PT.

Prudential Life Assurance. Seperti halnya kegiatan goal setting yang rutin dilakukan agensi setiap awal tahun untuk menentukan tujuan dan perencanaan 1 tahun kedepan, beserta upaya atau kegiatan apa saja yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Pihak agensi dapat mewadahi dan mengarahkan para tenaga pemasar untuk membuat perencanaan kerja yang dapat meningkatan kinerja mereka. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Ali ,2014) dikarenakan ada nya perbedaan objek penelitian yang dilakukan. Perbedaan tugas yang dilakukan oleh karyawan kantor dan karyawan lapangan ( tenaga pemasar). Tenaga pemasar adalah ujung tombak dalam perusahaan asuransi, maka dari itu beban mereka sangat lah besar untuk meningkatkan profit perusahaan.

2. Hasil pengujian data yang telah dilakukan peneliti menunjukkan bahwa role conflict berpengaruh positif terhadap kinerja tenaga pemasar di PT. Prudential Life Assurance.

Para tenaga pemasar tidak bekerja dibawah perintah / instruksi yang tidak jelas. Semua regulasi sudah tertulis pada SOP perusahaan sehingga tenaga pemasar hanya perlu mengikuti dan menjalani system untuk mencapai tujuan mereka. Disisi lain dari variable konflik peran, bekerja dengan 2 kelompok atau lebih yang cara melakukan pekerjaannya tidak sama (mencari nasabah dan merekrut agen), mendukung peningkatan kinerja dalam dunia jasa khususnya asuransi penting bagi tenaga pemasar untuk mempelajari cara kerja rekan mereka sebagai bahan referensi saat bertemu nasabah. Kegiatan seperti brainstorming atau meeting antar kelompok tenaga pemasar saat menghadapi kendala bekerja.

3. Berdasarkan hasil pengujian data yang dilakukan peneliti, diketahui bahwa Inadequate Monetary Reward berpengaruh negative terhadap kinerja tenaga pemasar di PT. Prudential Life Assurance. Perusahaan memberikan pelatihan dan pengembangan kepada tenaga pemasar guna meningkatkan kinerja. Pelatihan diberikan sejak awal tenaga pemasar bergabung dengan perusahaan, tepatnya sebelum melakukan ujian AAJI, sampai menjadi menjadi leader sekalipun selalu ada training yang menyertai para tenaga pemasar untuk membantu mereka meningkatkan penjualan. Reminder untuk para tenaga pemasar oleh pihak agensi sangat dibutuhkan ketika ada produk baru atau ketika ada tenaga pemasar yang baru bergabung. Selain pelatihan, agensi juga mewadahi tenaga pemasar dengan mendatangkan pembicara ( tenaga pemasar yang sudah sukses ) untuk memotivasi dan pengembangan diri tenaga pemasar.

4. Hasil pengujian data pada variable kinerja menunjukkan bahwa memberikan ide atau gagasan yang dipandang baik oleh tenaga pemasar kepada atasan perlu ditingkatkan.

Karna ide atau gagasan tersebut bisa jadi sangat berguna bukan hanya untuk tenaga pemasar sendiri tapi juga bagi perusahaan PT. Prudential Life Assurance. Pihak agency

dapat mewadahi ide atau gagasan para tenaga pemasar dengan melakukan kegiatan kreatif, bertukar pikiran, dan mendengarkan suara dari tiap tenaga pemasar. Selanjutnya, agency dapat menyampaikan ide atau gagasan tersebut kepada individu perwakilan PT.

Prudential Life Assurance sebagai masukan yang dapat membangun perusahaan

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis seberapa jauh pengaruh Stres Kerja terhadap Kinerja tenaga pemasar (Studi pada Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta). Pemicu stress (stressor) yang diteliti yaitu : workload, role conflict dan inadequate monetary reward. Hasil analisis data yang dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

1. Work load berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja tenaga pemasar pada Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta.

2. Role conflict berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja tenaga pemasar pada Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta.

3. Inadequate monetary reward berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja tenaga pemasar pada Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta.

4. Work load, role conflict dan inadequate monetary reward secara simultan berpengaruh positif terhadap kinerja tenaga pemasar pada Kantor Agency PT Prudential Life Assurance di Jakarta.

5.2 Saran

Penelitian ini masih memiliki kekurangan sehingga masih memerlukan penyempurnaan untuk penelitian di masa yang akan datang. Oleh karena itu, beberapa saran yang mungkin dapat diberikan untuk perusahaan dan untuk peneliti selanjutnya.

1. Sebagai salah satu perusahaan asuransi terbesar di Indonesia, PT. Prudential Life Assurance tidak hanya dituntut untuk memiliki manajemen yang baik dan

Dalam dokumen TENAGA PEMASAR (Halaman 80-90)

Dokumen terkait