• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagian Keenam: Makna Nafsu, Ruh, Hafi,

Dalam dokumen Terjemah Rauda al-Talibin al-Ghazali (Halaman 45-57)

KETAHUILAH, EMPAT NAMA ini saling berhubungan (musytarak) dalam beberapa hal yang berbeda-beda. Dalam kesempatan ini kita akan menjelaskan makna masing-masing sejauh berkaitan dengan tema yang dimaksud.

Pertama, kata al-qalb digunakan dalam dua pengertian: (1) daging melingkar yang diletakkan di sisi kiri dada. Di dalamnya terdapat lubang berisi darah hitam. Daging ini merupakan sumber dan tambang bagi ruh kehidupan, (2) kelembutan (lathifah) rabbani-ruhaniah yang memiliki hati jasmani yang bergantung kepadanya, seperti bergantungnya aksiden pada materi dan sifat pada sesuatu yang disifati. Kelembutan ini menjadi hakikat manusia yang mampu memahami, mengetahui, disapa, dituntut, diberi pahala, serta diberi hukuman.

Kedua, ruh dalam konteks ini juga memiliki memiliki dua arti: (1) materi halus beruap yang dibawa oleh darah hitam. Bersumber dari lubang hati jasmani dan menyebar melalui otot-otot yang menancap ke seluruh bagian tubuh. Aliran kelembutan ini bersemayam di dalam tubuh beserta pancaran cahaya kehidupan, rasa, penglihatan, pendengaran, dan penciuman ke anggota- anggotanya layaknya pancaran cahaya lampu ke sudut-sudut rumah.

Jadi, perumpamaan kehidupan seperti cahaya yang terpancar di tembok, dan ruh ini laksana pelita. Aliran dan gerak ruh dalam batin ibarat gerak pelita di sisi-sisi rumah akibat gerakan penggeraknya. Karena itu, ketika para dokter menyebut kata ruh maka yang mereka maksud adalah makna ini, uap halus yang dimasak oleh suhu hati: (2) kelembutan (lathifah) yang mengetahui dan memahami yang dimiliki oleh manusia.

Inilah salah satu dari dua nama al-galb, seperti yang dimaksud dalam firman Allah swt., “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku.” (QS.

al-Isra’ (17): 85) Dengan ungkapan lain, ruh adalah urusan rabbani yang menakjubkan. Dan kebanyakan akal dan pemahaman tak mampu mencapai hakikatnya.

Ketiga, nafsu. Perihal ini juga mengandung dua arti: Arti pertama, yang merangkum dua potensi:

marah dan syahwat pada manusia. Penggunaan inilah yang populer di kalangan sufi, yaitu nafsu asal yang mencakup sifat-sifat manusia yang tercela. Mereka mengatakan, “Adalah keharusan untuk mujahadat nafs dan menghancurkan syahwatnya.” Hal ini juga disinggung dalam sabda Rasulullah saw.,

“Musuhmu yang paling keras adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu.”

Arti kedua, kelembutan, yang berarti hakikat, jiwa, dan diri manusia. Tetapi digambarkan dengan bermacam macam sifat menurut perbedaan ahwal-nya. Jika ia tenang di bawah perintah dan terhindar dari kekacauan karena melawan kehendak syahwat, ia disebut jiwa yang tenang (an- nafs al-muthma’innah). Allah swt. berfirman, “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS. al-Fajr 189): 27-28)

Nafsu dalam pengertian pertama tak bisa dibayangkan akan kembali kepada Allah karena ia dijauhkan dari-Nya sekaligus menjadi pasukan setan. Jika ketenangannya belum sempurna, tetapi melawan nafsu syahwat, ia disebut dengan nafsu lawwamah. Namun bila tidak menolak syahwat, Jalu tunduk kepada tuntutan syahwat dan ajakan-ajakan setan, maka ia disebut dengan nafsu ammarah bi as-su’.

“TAK MUNGKIN SEORANG HAMBA BISA SAMPAI KEPADA ALLAH SELAMA IA TIDAK MENGHUNI TUBUH DAN MELAMPAUI DUNIA UNTUK MENJADIKANNYA BEKAL MENUJU PERSINGGAHAN TERTINGGI.”

Keempat, akal. Dalam konteks ini mengandung dua pengertian: 1) Akal yang digunakan dan ditujukan sebagai ilmu tentang hakikat-hakikat persoalan. Maka ia berarti sifat ilmu yang bertempat di dalam khazanah hati, 2) terkadang digunakan dan dimaksudkan untuk mengetahui ilmu. Jadi, ia adalah hati, kelembutan yang menjadi hakikat manusia.

Karena itu, ketika kata al-galb disebutkan dalam alQuran dan Sunnah, hal tersebut berarti sesuatu yang dapat memahamkan manusia dan mengetahui hakikat segala sesuatu.

Tidak jarang pula disematkan ungkapan samar (kinayah) dengan sebutan “Hati jasmaniah” yang ada di dalam dada. Sebab, ia memiliki hubungan khusus antara bagian ini dengan kelembutan yang menjadi hakikat manusia, sekaligus karena memiliki kaitan dengan seluruh tubuh dan berada di titik tengah.

Dengan demikian, ia yang menguasai dan mengendalikan badan, serta menjadi titik pertama untuk mengurus dan mengatur badan. Dan hati jasmaniah dan dada bagi manusia layaknya Kursi Arsy bagi Allah swt.

Tenfara Hafi

Pahamilah, dalam hati, ruh, dan alam-alam lainnya, Allah memiliki tentara-tentara yang dikerahkan. Tak ada yang mengetahui hakikat dan rincian jumlah mereka selain Allah swt.

Sekarang, kita akan menyebutkan beberapa tentara hati yang berkaitan dengan tema ini.

Ketahuilah, Allah memiliki dua pasukan tentara, satu tentara bisa dilihat dengan mata, dan satu lagi hanya bisa dilihat dengan mata hati. Hati berlaku sebagai raja, sedangkan tentara-tentara tersebut berlaku sebagai pelayan dan pendukung.

Adapun tentara-tentara Allah yang bisa disaksikan dengan mata adalah tangan, kaki, telinga, mata, dan lisan. Atau secara sederhana, tentara hati bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

Kelompok pertama, pemantik yang mendorong untuk mendatangkan sesuatu yang sejalan dan bermanfaat, seperti ketenaran. Dan kadangkala mendorong untuk menolak hal yang

berseberangan dan berbahaya, seperti kemahiran. Pendorong ini disebut dengan kehendak (iradah).

Kelompok kedua, penggerak anggota-anggota tubuh untuk mencapai berbagai tujuan. Hal ini disebut dengan kekuasaan (qudrah) sekaligus merupakan tentara yang tersebar di seluruh tubuh.

Kelompok-kelompok ketiga, yang mengetahui dan memberitahu benda-benda layaknya mata- mata, seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, perasa, dan peraba. Mereka tersebar pada anggota-anggota lahir yang tersusun dari daging, lemak, syaraf, darah, dan tulang, yang dipersiapkan sebagai sarana bagi tentara-tentara tersebut.

Pekerjaan tentara kelompok ini disebut ilmu dan kesadaran (idrak). Selain itu, kelompok ketiga ini juga merupakan tentara yang mengetahui. Tentara ini terbagi menjadi dua golongan: satu golongan menempati anggota-anggota lahir, seperti panca indra, pendengaran, penglihatan, penciuman, perasa, dan peraba. Dan satu golongan lagi menghuni rumah-rumah batin, semisal rongga-rongga otak yang lima, indra musytarak (yang berkaitan), imajinasi, pemikiran, ingatan, dan memori.

Potensi pertama, indra musytarak, yaitu indra yang menjadi tempat gambaran segala hal yang dihantarkan oleh indra lahir, sebagaimana gambar yang dilukis dalam cermin. Tempat kerjanya ada di bagian depan perut otak pertama.

Potensi kedua, imajinasi. Sebuah tempat penyimpanan indra musytarak yang berfungsi

menampung hal-hal yang terlukis pada otak untuk disimpan sampai saat diperlukan. Karena hati hanya memiliki energi penerima dan tidak mempunyai energi penyimpan. Sementara imaji memiliki energi penyimpan dan tidak mempunyai energi penerima. Tempat beroperasinya di bagian belakang perut otak.

Potensi ketiga, ilusi. Tempat beroperasinya di bagian depan perut otak belakang. Karena kerja ilusi adalah konsep-konsep partikular yang bermacam-macam dari berbagai gambaran yang tersimpan dalam imajinasi. Jadi, jaraknya jauh sebab ia terpengaruh oleh imajinasi.

Potensi keempat, memori. Tempat bekerjanya ada di bagian belakang perut otak belakang, bersebelahan dengan tempat operasi ilusi. Karena ia menjadi tempat penampun. gan ilusi tersebut.

Potensi kelima, penguasa (mutasharrifah). Tempat beroperasinya di bagian tengah otak karena merupakan potensi yang paling kuat. Di samping itu, dalam keadaan tertentu ia menerima dari imajinasi, dan dalam keadaan lain menyampaikan kepada imajinasi, baik dalam kondisi tidur maupun jaga.

Ia juga menyampaikan sekaligus mengambil dari memori saat lupa. Maka yang paling layak baginya berada di antara kedua suhu panas agar memudahkan mengambil dan memberi keduanya. Dan, Allah Mahatahu.

Hati memerlukan tentara-tentara di atas karena ia butuh kendaraan, juga untuk melakukan perjalanan menuju Allah dan melewati beberapa persinggahan guna bertemu dengan-Nya. Untuk itulah ia diciptakan.

Kendaraannya tiada lain adalah tubuh, dan bekalnya yaitu ilmu dan amal. Tak mungkin seorang hamba bisa sampai kepada Allah selama ia tidak menghuni tubuh dan melampaui dunia untuk menjadikannya bekal menuju persinggahan tertinggi.

Oleh sebab itu, ia perlu merawat tubuh dengan cara menghadirkan segala hal yang sesuai, seperti makanan dan lain-lain, serta mengusir segala sesuatu yang mengganggu dan mungkin

mengakibatkan kehancuran.

Jadi, demi memperoleh makanan, ia butuh dua tentara, (1) tentara batin, yaitu kemarahan untuk mengusir hal-hal merusak dan menuntut balas terhadap musuh:j, (2) tentara lahir, berwujud tangan, kaki, dan senjata, yang digunakan bekerjanya tentara kemarahan, kemudian memerlukan makanan.

Ketika tidak mengenali makanan, syahwat untuk mengetahuinya makanan beserta alatnya tidak berguna. Karena itu, guna mengetahui makanan ini ia memerlukan dua tentara. Pertama, tentara batin: kesadaran indra pendengaran, penglihatan, penciuman, perasa, dan peraba. Kedua, tentara lahir, mata, telinga, hidung, dan lain-lain.

Selebihnya, penjelasan detail tentang kebutuhan terhadap tentara-tentara ini beserta hikmahnya merupakan perihal yang panjang dan memerlukan berjilid-jilid kitab. Mahasuci Allah Yang Mahamurah dan Mahabijaksana.

Ketahuilah, pembagian itu ada tiga, materi, aksiden, dan substansi murni. Ruh hewani adalah materi halus layaknya pelita yang menyala. Kehidupan merupakan pelita, darah adalah minyaknya, indra dan gerak menjadi cahayanya, syahwat adalah suhunya, marah merupakan asapnya, potensi yang mencari makanan dan tinggal dalam hati berlaku sebagai penjaga dan wakilnya.

Ruh itu dimiliki oleh semua binatang karena ia merupakan sesuatu yang sama di antara semua ternak dan segala jenis binatang. Sedangkan manusia adalah materi, dan pengaruh-pengaruhnya merupakan aksiden. Ruh tidak bisa mengetahui ilmu, tidak mengetahui jalan makhluk, dan tidak mengetahui hak pencipta. Ia hanya pelayan yang tertawan oleh kematian tubuh.

Jika minyak darah bertambah, ia akan padam akibat suhunya naik. Dan, jika minyak darah berkurang, ia juga padam karena semakin dingin. Padamnya ruh disebabkan oleh matinya tubuh.

Di samping itu, sapaan Allah dan taklif Rasulullah tidak ditujukan untuk ruh ini sebab binatang ternak dan yang sejenisnya tidak diberi beban taklif dan tidak dikenai hukum-hukum syariat.

Manusia dibebani dan dikenai taklif tiada lain karena makna lain tertentu yang ada padanya.

Makna tersebut adalah jiwa yang berpikir dan ruh yang halus. Ruh ini bu. kanlah materi maupun aksiden karena ia menjadi urusan Allah swt., seperti dikabarkan dalam firman-Nya, Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku.” (QS. al-Isra”

(17): 85)

Urusan Allah itu bukan materi maupun aksiden, tetapi substansi yang kekal dan abadi, tidak bisa rusak, tidak pudar, tidak fana”, dan tidak mati. Ia meninggalkan tubuh, dan menunggu waktu untuk kembali ke tubuh pada Hari Kiamat kelak, sebagaimana dijelaskan syariat. Dari ruh ini, lahirlah kebaikan atau keburukan tubuh.

Ruh hewani dan seluruh potensi menjadi tentara ruh ini. Jika ruh hewani meninggalkan tubuh maka fungsi potensi hewaniah berhenti sehingga yang bergerak pun akan diam. Adapun diamnya sesuatu yang bergerak disebut kematian.

Walaupun demikian, meski ruh termasuk urusan Allah dan berada dalam tubuh sebagai makhluk asing, tetapi ketahuilah, ia tidak hinggap dan tinggal di suatu tempat. Tubuh bukan tempat hinggapnya ruh maupun hati, namun alat bagi ruh. Allah swt. Mahatahu.

Berikut ini penjelasan firman Allah swt.,

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, mereka jatuh tersujud kepadanya.” (QS. al-Hijr (15): 29)

Taswiyah bermakna perbuatan yang terjadi di tempat yang bisa menerima ruh, yaitu tanah dalam kaitannya dengan Adam as., dan nuthfah dalam hubungannya dengan anak-anak Adam.

Dengan pemurnian dan pelurusan watak serta berjalan melalui fase-fase penciptaan menuju puncak tujuan, hingga berakhir dalam kejernihan dan keselarasan berbagai bagian kepada tujuannya. Pada akhirnya, ia akan siap menerima dan menahan ruh, seperti kesiapan sumbu pelita setelah menyedot minyak bakar untuk menerima dan menahan api.

Adapun an-nafkhu (peniupan) berarti menyalanya cahaya ruh di tempat penerimaannya. Karena peniupan menjadi sebab yang menyalakan, dan gambaran peniupan merupakan hal yang

mustahil bagi Allah, sedangkan sebab tersebut tidak mustahil. Maka ia mengungkapkan akibat dari peniupan tersebut: menyala pada sumbu nuthfah.

Peniupan itu mengandung gambaran dan hasil (akibat). Bentuk peniupan itu sendiri dengan mengeluarkan udara dari dalam perut seseorang ke dalam perut orang yang ditiup: ke sumbu nuthfah, hingga nuthfah itu pun menyala.

Adapun sebab yang membuat cahaya ruh menyala adalah sifat Dzat yang berbuat dan tabiat tempat yang menerimanya. Sifat Dzat yang berbuat adalah kedermawanan sekaligus sebagai sumber wujud. Dia memancarkan Dzat-Nya kepada segala maujud secara nyata. Sifat tersebut

dinamakan qudrah (kekuasaan). Sebagai misal, pancaran cahaya matahari pada segala sesuatu yang bisa disinari tatkala tidak ada hijab antara keduanya.

Dan sesuatu yang menerima sinar adalah segala hal yang memiliki warna, bukan udara karena ia tak memiliki warna. Selain itu, sifat penerima adalah kesamaan dan kelurusan yang terjadi akibat keselarasan, seperti firman Allah swt., Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya.

Permisalan sifat penerima seumpama sifat-sifat cermin. Sebelum diasah hingga bening, cermin tak bisa menerima gambar meskipun gambar itu lurus di depannya. Jika ia telah bening maka di dalamnya tercetak gambar dari gambar yang lurus di depannya.

Demikian pula, bila terjadi kesejajaran pada nuthfah, muncullah ruh dari Sang Pencipta ruh, tanpa terjadi perubahan saat ini pada-Nya. Bahkan, ruh itu sudah terjadi sebelumnya akibat berubahnya tempat dan kesejajaran saat ini.

Selanjutnya, maksud dari pancaran kedermawanan bahwa kedermawanan Ilahiah menjadi sebab terciptanya cahaya wujud pada setiap esensi yang dapat menerima kedermawanan. Inilah yang disebut dengan pancaran (faidh).

Tidak sebagaimana dipahami dalam peristiwa memancarnya air dari wadah ke tangan karena hal itu berarti terpisahnya bagian air yang ada di dalam wadah dan tersambung dengan tangan.

Sungguh, Mahasuci Allah dari hal-hal sernacam ini.

Sementara itu, menyingkap makna esensi ruh dan mengetahui hakikatnya menjadi bagian rahasia. Bahkan, Rasulullah pun tak mengizinkan seseorang yang bukan ahlinya untuk

menyingkapnya. Jika engkau termasuk ahlinya maka dengarkanlah. Ketahuilah, ruh itu bukan materi yang bertempat pada tubuh layaknya air yang menempati wadah.

Bukan pula aksiden yang melekat pada hati atau otak, seperti melekatnya hitam pada sesuatu yang berwarna hitam dan ilmu pada orang yang berilmu. Akan tetapi, ruh adalah substansi yang tak dapat terbagi-bagi menurut semua orang yang memiliki mata hati.

Sebab, jika ruh bisa dibagi, tentu saja bagian tertentu bisa jadi akan ditempati ilmu tentang sesuatu, dan bagian lain ditempati kebodohan terhadap sesuatu yang sama. Sehingga secara bersamaan ia mengetahui sesuatu sekaligus tidak mengetahuinya. Dan ini mustahil. Demikian ini menunjukkan bahwa ruh tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terbagi.

Jika ditanyakan, “Mengapa Rasulullah saw. melarang manusia untuk menyebarkan rahasia ruh dan mengungkap hakikatnya?” Jawabannya, “Karena ruh itu memiliki sifat-sifat di luar kapasitas pemahaman manusia pada umumnya. Karena manusia itu ada dua kategori, awam dan khusus (khash).

Bagi orang awam, ia tidak akan percaya bahwa sifat ruh itu menjadi sifat Allah, terlebih

membenarkannya dalam sifat ruh manusia. Begitu pula kelompok Karamiyah, Hambaliyah, dan lain-lain yang tergolong awam, akan mengingkari kesucian Allah dari sifat jasmaniah dan aksiden. Karena mereka tak bisa memahami maujud kecuali memiliki tubuh yang bisa ditunjuk.

Maka, barang siapa sedikit lebih tinggi dari kelompok awam ini, ia akan menafikan unsur materi dari Allah beserta hal-hal yang dipastikan tak memiliki sifat-sifat jasmani tapi menetapkan arah.

Lebih tinggi dari kelompok awam adalah kaum Asy’ariyah dan Muktazilah. Dan mereka pun menyucikan Allah dari kejisiman dan arah.”

Jika ditanyakan, “Mengapa rahasia ini tak boleh diungkap kepada mereka?” Jawabnya, “Sebab mereka memustahilkan jika sifat ini menjadi milik selain Allah. Karena bila engkau menyebut masalah ini, mereka akan menganggapmu kafir. Mereka berkata, “Ini adalah penyerupaan (tasybih) sebab engkau menggambarkan diri sendiri dengan sesuatu yang secara khusus menjadi sifat Allah swt. Inilah kebodohan terhadap sifat-sifat Allah yang paling khusus.”

Apabila dikatakan bahwa manusia itu hidup, mengetahui, kuasa, berkehendak, melihat, dan berbicara, sementara Allah juga demikian, hal ini tidak mengandung penyerupaan Allah dengan makhluk. Karena sifat-sifat ini bukan sifat Allah yang paling khusus. Demikian pula kebebasan dari tempat dan arah bukan sifat Allah yang paling khusus.

Sifat Allah yang paling khusus adalah Dia Berdiri Sendiri, dan selain Allah tidak. Maka, pada dirinya sendiri segala sesuatu hanyalah ketiadaan karena ia sekadar memiliki wujud pinjaman dari yang lain. Apa saja selain Allah mempunyai wujud—pinjaman—dari-Nya, sementara wujud Allah adalah wujud Dzati, bukan pinjaman. Dan sifat berdiri sendiri ini tidak ada yang memiliki kecuali Allah swt. Jika ditanyakan, “Apakah makna penisbatan ruh kepada Allah dalam firman- Nya, “Dan telah Aku tiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku.” (QS. al-Hijjr (15): 29)

Ketahuilah, ruh itu suci dari arah dan tempat. Ia memiliki potensi untuk mengetahui dan melihat segala objek yang diketahui. Hal ini sekaligus menjadi kesamaan dan kesesuaian yang tidak dimiliki seluruh materi. Karena itu, ia memperoleh keistimewaan dengan disandarkan kepada Allah swt.

“KEHIDUPAN MERUPAKAN PELITA, DARAH ADALAH MINYAKNYA, INDRA DAN GERAK MENJADI CAHAYANYA: SYAHWAT ADALAH SUHUNYA, MARAH

MERUPAKAN ASAPNYA, POTENSI YANG MENCARI MAKANAN DAN TINGGAL DALAM HATI BERLAKU SEBAGAI PENJAGA DAN WAKILNYA.”

Lantas, apabila ditanyakan, “Apakah makna firman Allah swt. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku.” (QS. al-Isra (17): 85), dan apa makna alam amar dan alam penciptaan?”

Maka jawabannya, “Segala sesuatu yang memiliki jarak dan ukuran berarti materi dan aksiden, dan ini berarti alam penciptaan.

Penciptaan di sini dalam pengertian pengukuran, bukan pengadaan atau (proses) penciptaan.

Karena di. katakan, “Penciptaan sesuatu” berarti ukurannya. Segala sesuatu yang tak memiliki kuantitas maupun ukuran, maka ia menjadi urusan rabbani. Dan perihal persamaan ini telah kami tuturkan.

Jadi, segala hal yang termasuk jenis ini, seperti ruh manusia dan malaikat disebut dengan alam amar. Dengan ungkapan lain, alam amar berarti wujud-wujud di luar jangkauan indra, imajinasi, arah, tempat, kecenderungan, jarak, dan ukuran. Karena hal-hal tersebut tidak memiliki

kuantitas.

Jika dikatakan, “Hal ini mengesankan bahwa ruh itu kadim, bukan makhluk.” Jawabnya,

“Pernyataan semacam ini adalah pemahaman orang-orang bodoh dan sesat. Barang siapa

mengatakan ruh bukan makhluk karena tidak dibatasi kuantitas, tidak bisa dibagi-bagi, serta tidak butuh termnpat maka ia benar.

Akan tetapi, ruh adalah makhluk dalam pengertian sebagai sesuatu yang baru, bukan kadim.

Sebab terjadinya ruh manusia itu tergantung pada kesiapan nuthfah, sebagaimana terjadinya gambar dalam cermin akibat jernihnya kaca, meski ia memiliki wujud yang mendahului terjadinya kejernihan kaca.”

Jika dikatakan, “Apakah makna sabda Rasulullah saw.

“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam seperti rupaNya. Menurut riwayat lain, seperti rupa ar- Rahman.” Maka jawabannya, rupa (shurah) adalah kata benda berkait (musytarak), yang

kadangkala digunakan untuk menyebut urutan bentuk-bentuk, penyusunan, dan komposisi yang berbeda-beda. Dan ini adalah rupa yang dapat diindra. Terkadang juga digunakan untuk

menyebut runtutan konsep-konsep yang tak terindra. Selain itu, konsep-konsep itu juga memiliki susunan, urutan, dan keserasian, yang disebut dengan shurah (rupa).

Sehingga dikatakan, “Gambaran persoalannya demikian…, gambaran peristiwanya semacam ini… dan gambaran ilmu-ilmu jasmaniah dan rasional seperti ini…”

Perihal gambaran yang disebutkan merupakan gambaran rasional dan konseptual, serta menyinggung tentang persoalan kesamaan yang telah kami jelaskan. Hal tersebut merujuk kepada Dzat, sifat-sifat, dan perbuatan.

Hakikat Dzat ruh adalah ia berdiri sendiri, bukan aksiden dan materi, bukan pula substansi yang membutuhkan tempat: tidak hinggap pada tempat maupun arah, tidak melekat pada tubuh dan alam, tidak pula terpisah, dan tidak berada di dalam atau di luar tubuh maupun alam.

Kesemuanya ini adalah sifat-sifat Allah swt., yaitu: hidup, mengetahui, kuasa, berkehendak, mendengar, melihat, dan berbicara.

Adapun perbuatan manusia bemula dari kehendak. Pertama-tama jejak-jejaknya tampak dalam hati. Menyebar melalui ruh hewani yang berupa uap lembut dalam lubang hati, lalu naik ke otak.

Dari otak, jejak-jejak tersebut mengalir ke seluruh anggota tubuh sampai jari-jari. Kemudian, jari-jari itu pun bergerak dan menyebabkan geraknya pena, dan pena pun menggerakkan tinta.

Dari tinta ini lahirlah gambar sesuatu yang ia kehendaki dalam perbendaharaan imajinasi untuk dituliskan di atas kertas.

Karena sesuatu itu tidak dibayangkan dalam imajinasi terlebih dahulu maka tidak mungkin diciptakan dari nol. Maka, barang siapa meneliti perbuatan-perbuatan Allah dan cara menciptakan berbagai binatang dan tetumbuhan di atas bumi, dengan cara menggerakkan bintang-bintang dan langit melalui perantara para malaikat, pasti mengetahui bahwa perilaku manusia di alamnya sendiri menyerupai perilaku Allah dalam makrokosmos (jagad besar).

Dengan demikian, ia akan mampu memahamisabda Rasulullah saw,.,

“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sepertirupa-Nya.”

Apabila dikatakan, “Jika arwah itu baru bersama jasad, lantas apa makna sabda Nabi Saw,

“Allah swt. menciptakan ruh dua ribu tahun sebelum menciptakan jasad.”

Dan sabda Nabi saw.

“Aku adalah Nabi yang paling pertama diciptakan dan paling akhir diutus. Aku sudah menjadi nabi, sementara Adam masih antara air dan tanah.”

Ketahuilah, sedikit pun sabda ini tidak menunjukkan kekadiman ruh, tapi sabda beliau “Aku adalah Nabi yang paling awal diciptakan” secara lahir bisa jadi menyiratkan kemendahuluan wujud ruh daripada jasad, sedangkan selainnya sudah jelas.

Maka dari itu, menakwilkan sabda ini adalah hal yang mungkin. Sementara dalil yang pasti tidak menolak petunjuk lahiriah, tetapi untuk mengendalikan penakwilan lahiriah, sebagaimana lahiriah penyerupaan berkaitan dengan Allah swt.

Dalam dokumen Terjemah Rauda al-Talibin al-Ghazali (Halaman 45-57)