BAB III Alat dan Bahan
3.2. Bahan
Papan kayu memiliki kegunaan sebagai bahan untuk membuat papan duga, sebagai penyanggah, dll.
Gambar 3.28 Papan Kayu
2. Kayu Gelam
Gelam merupakan kayu yang memiliki diameter 6-8 cm. Digunakan dalam pembuatan papan duga.
Gambar 3.29 Kayu Gelam 3. Benang
Benang digunakan untuk meluruskan dan menandai tempat yang akan dikerjakan.
Gambar 3.30 Benang
4. Paku
Paku digunakan untuk menyambung papan dengan gelam.
Gambar 3.31 Paku
5. Batu Pecah
Batu pecah digunakan lapis pondasi bawah dan pondasi bagian atas.
Gambar 3.32 Batu Pecah 6. Pasir
Pasir berfungsi sebagai agregat halus dalam campuran mortar, serta dalam campuran aspal.
Gambar 3.33 Pasir
7. Air
Air adalah suatu senyawa yang sangat penting bagi kehidupan manusia, dalam teknik sipil air digunakan dalam campurannya dengan semen.
Gambar 3.34 Air
8. Aspal
Aspal sering juga disebut bitumen merupakan bahan pengikat pada campuran beraspal yang dimanfaatkan sebagai lapis permukaan lapis perkerasan lentur.
Gambar 3.35 Aspal
9. Solar
Solar berfungsi sebagai bahan bakar stamper dan juga untuk menghilangkan bekas aspal pada alat-alat ataupun tangan.
Gambar 3.36 Solar
BAB IV URAIAN KERJA
4.1 Pekerjaan Pembersihan Lapangan A. Dasar Teori
Tahap Pertama yang dilakukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah membersihkan areal pekerjaan sesuai dengan volume yang ada dengan cara membersihkan tanaman semak belukar, bongkaran bangunan lama atau benda-benda lain yang ada disekitar lokasi agar dalam pelaksanaan pekerjaan nantinya tidak ada kendala. Dalam pelaksanaan pekerjaan pembersihan lahan tidak boleh membasmi, menebang atau merusak pohon-pohon atau pagar, kecuali telah ditentukan lain atau sebelumnya diberi tanda pada gambar-gambar yang menandakan bahwa pohon-pohon dan pagar harus disingkirkan. Jika ada sesuatu hal yang mengharuskan Kontraktor untuk melakukan penebangan, maka ia harus mendapat ijin dari pemberi tugas atai Direksi.
B. Keselamatan kerja
Tempatkan alat – alat kerja pada tempatnya
Pakailah pakaian kerja yang lengkap dengan sepatu kerja dan helm
Kosentrasi pada waktu kerja
Tempatkan bahan - bahan dan alat - alat sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu selama pekerjaan berlangsung
C. Alat
- Cangkul
- Rol meter
- Sekop
- Gerobak
D. Langkah Kerja
1. Lakukan pengecekan kesiapan dalam bekerja.
2. Tentukan lokasi tanah yang ingin kita jadikan jalan.
3. Lihatlah sekitar lokasi apabila ada bangunan atau yang mengganggu pembuatan jalan maka harus di hancurkan atau di robohkan.
4. Singkirkan puing-puing lain yang tersisa. Bebatuan, ranting-ranting, dan sampah harus disingkirkan. Membuang benda-benda tersebut akan memudahkan peralatan yang dipakai untuk menyingkirkan tanaman liar dan pepohonan. Hubungilah perusahaan penyewaan alat konstruksi, perusahaan pemasok pasir dan kerikil, atau perusahaan lain yang memiliki alat berat untuk menyewa alat penghancur puing. Alat berat berukuran besar ini dapat membantu Anda menyingkirkan puingpuing.
E. Gambar Kerja
Pekerjaan pengukuran daerah yang akan dibersihkan
Pekerjaan pembersihan lokasi pekerjaan
Pekerjaan pembersihan lokasi pekerjaan Pembuatan bowplank
4.2
Pelaksanaan Pekerjaan Tanah (Perapihan Badan Jalan dan penimbunan (sub base course))A. Dasar Teori
Tanah dasar merupakan faktor terpenting dari konstruksi jalan, karena keawetan dan kekuatan konstruksi perkerasan jalan sangat bergantung pada sifatsifat dan daya dukung tanah dasarnya (subgrade). Dalam hal ini tanah dasarlah yang mendukung seluruh konstruksi jalan dan beban muatan lalu lintas yang lewat di atasnya. Di samping itu dalam menentukan besarnya biaya pembangunan jalan ditentukan oleh kekuatan tanah dasar, karena kekuatan tanah dasar yang menentukan tebal tipisnya permukaan jalan. Fungsi sub- base course antara lain :
- Sebagai bagian dari konstruksi perkerasan jalan untuk mendukung dan menyebarkan beban.
- Mencapai effisiensi penggunaan material yang relatif murah, agar lapisan selebihnya dapat dikurangi tebalnya (penghematan biaya konstruksi).
- Untuk mencegah tanah dasar tidak masuk ke dalam lapisan pondasi.
- Sebagai lapis pertama agar pelaksanaan berjalan lancar. Hal ini sehubungan dengan lemahnya daya dukung tanah dasar terhadap roda-roda alat besar atau karena kondisi lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah dasar dari pengaruh cuaca.
Bermacam-macam tipe tanah setempat (CBR ≥ 20%, PI ≤ 20%) yang relative lebih baik dari tanah dasar (subgrade) dapat digunakan sebagai lapis pondasi bawah (sub-base course).
Campuran tanah setempat dengan kapur atau semen portland, dalam beberapa hal sangat dianjurkan, agar didapat bantuan yang efektif terhadap konstruksi perkerasan.
B. Keselamatan Kerja
Tempatkan alat – alat kerja pada tempatnya
Pakailah pakaian kerja yang lengkap dengan sepatu kerja dan helm
Kosentrasi pada waktu kerja
Tempatkan bahan - bahan dan alat - alat sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu selama pekerjaan berlangsung
C. Alat
- Cangkul - Sekop - Gerobak
Bahan
Tanah
Pasir
Batu pecah
Batu kerikil
D. Langkah Kerja
1. Persiapan alat – alat dan bahan – bahan yang hendak di gunakan.
2. Perhatikan tempat yang hendak di jadikan jalan.
3. Lakukan pembentukan badan jalan hal ini dilakukan agar bentuk, tinggi serta belokan jalan sesuai dengan yang telah dirancang sebelumnya.
4. Lakukan pemadatan pada tanah yang sudah di bersihkan yang bertujuan agar terjadi kepadatan tanah.
5. Buatlah patok pada tanah untuk membuat jalan dan badan jalan menggunakan kayu sesuai dengan ukuran yang di rencanakan.
6. Timbunlah dan padatkan badan jalan di kedua sisi jalan sesuai rencana kerja.
7. Lalu gali dan timbun tanah sesuai dengan rencana kerja.
8. Tentukan kemiringan sesuai dengan rencana kerja
9. Lakukan penghamparan pada sisi kiri dengan batu pecah dengan ketinggian yang telah di sesuaikan di rencana kerja.
10. Lakukan penghamparan pada sisi kanan dengan batu kerikil dengan ketinggian yang telah di sesuaikan di rencana kerja. Bersihkan alat – alat lalu letakkan alat – alat ke tempat semula
E. Gambar Kerja
Pengambilan agregat kasar sebagai lapisan base
Penuangan agregat kasar ke daerah yang akan dibuat jalan
Perataan agregat ke seluruh bagian jalan Perataan permukaan dengan menggunakan roller manual
4.3 Penghamparan Lapisan Base Course
A. Dasar Teori
Bahan untuk base course harus cukup kuat dan awet, sehingga dapat menerima beban roda.
Sebelum menentukan suatu bahan untuk digunakan sebagai bahan base course, hendaknya dilakukan penyelidikan dan pertimbangan sebaikbaiknya sehubungan dengan persyaratan teknik. Bermacam-macam bahan alam atau bahan setempat dengan CBR ≥ 50% dan PI ≤ 4%, dapat digunakan sebagai bahan base course, antara lain : batu pecah, sirtu, stabilisasi tanah dengan semen atau kapur. Hode Keyser dan Mc Coomb (1980) meyimpulkan bahwa perkerasan concrete block yang didesain dengan menggunakan base yang terbuat dari batubatu kecil (granular-base) tampak lebih peka terhadap drainase yang jelek, sedangkan perkerasan yang didesain dengan menggunakan base yang distabilisasi dengan semen tampak lebih peka terhadap beban titik (terkonsentrasi). Houben dan kawan-kawan (1984)
mendapatkan bahwa modulus elastis struktur bawah (sand base dan subgrade) akan meningkat seiring dengan kenaikan beban lalu lintas. Fungsi base course antara lain:
- Sebagai bagian perkerasan yang menerima beban roda.
- Sebagai perletakan bagi surface course.
Defleksi dan rutting akan jauh berkurang bila bahan base dipakai yang lebih baik (dalam hal ini base dari bahan inti beton lebih baik dari base dari bahan inti pasir). Pendapat tersebut dikemukakan oleh Working Group D3 (1984) ditambahkan bahwa dengan dipakainya base dari bahan inti beton akan meningkatkan kekakuan sambungan (joint) dan lapisan pasir alas.
Menurut Clark (1978), Barber dan Knapton (1979) yang dikutip oleh Shackel (1984) daya dukung base yang baik diperlukan jika diharapkan timbul daya pengunci antar concrete block, namun Clark mengatakan pula bahwa kekakuan base yang terlalu tinggi mungkin menghalangi adanya pengunci tersebut. Untuk saat ini umumnya digunakan sirtu alam yang dipadatkan dengan alat pemadat getar (Vibratory Roller). Persediaan sirtu alam yang memenuhi kualitas sekarang ini sudah mulai menipis sehingga perlu dicari material pengganti. Sirtu mesin dengan gradasi yang lengkap ternyata sangat tepat untuk menggantikan fungsi sirtu alam, bahkan lebih stabil bila terendam air daripada sirtu alam.
B. Keselamatan kerja
Tempatkan alat – alat kerja pada tempatnya
Pakailah pakaian kerja yang lengkap dengan sepatu kerja dan helm
Kosentrasi pada waktu kerja
Tempatkan bahan - bahan dan alat - alat sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu selama pekerjaan berlangsung
C. Alat
- Cangkul - Sekop - Gerobak Bahan
Batu kerikil
D. Langkah kerja
1. Persiapkan alat – alat dan bahan – bahan yang hendak digunakan pada tahap penghamparan sub base course.
2. Tentukan kemiringan sesuai uraian kerja
3. Ukur permukaan jalan yang hendak di hamparkan lapisan sub base couse yakni lapisan batu krikil sesuai dengan rencana kerja.
4. Lakukanlah penghamparan sesuai tempat yang di inginkan sesuai dengan rencana kerja.
5. Ratakanlah penghamparan menggunakan cangkul dan sekop agar permukaan yang di dapat sesuai dengan rencana kerja yang di inginkan.
6. Ukurlah ketingginan timbunan agar sesuai dengan rencana kerja.
7. Bersihkan alat – alat lalu letakan alat – alat ke tempat semula.
E. Gambar Kerja
Pencampuran agregat dengan pasir Penuangan sirtu di atas lapisan base
Perataan sirtu Perataan Kembali permukaan dengan roller manual
4.4 Pembuatan Drainase A. Dasar Teori
Drainase merupakan pekerjaan pembuatan saluran pembuangan. Baik air buangan hujan, air permukaan maupun air buangan dari kamar mandi, dapur dan wc (buangan domestic).
Secara umum drainase didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari usaha untuk mengalirkan air yang berlebihan dalam suatu konteks pemanfaatan tertentu.
Sedangkan drainase perkotaan adalah ilmu drainase yang mengkhususkan pengakajian pada kawasan perkotaan yang erat kaitannya dengan kondisi lingkungan fisik dan lingkungan social budaya yang ada di kawasan kota tersebut.
Drainase perkotaan / terapan merupakan sistem pengiringan dan pengaliran air dari wilayah perkotaan yang meliputi pemukiman, kawasan industri, kampus dan sekolah, rumah sakit dan fasilitas umum, lapangan olahraga lapangan parkir, pelabuhan udara. Kriteria desain drainase perkotaan memiliki kekhususan, sebab untuk perkotaan ada tambahan variable desain seperti :
1. Keterkaitan dengan tata guna lahan
2. Keterkaitan dengan masterplan drainasi kota 3. Keterkaitan dengan masalah sosial budaya B. Keselamatan Kerja
Tempatkan alat – alat kerja pada tempatnya
Pakailah pakaian kerja yang lengkap dengan sepatu kerja dan helm
Kosentrasi pada waktu kerja
C. Alat
- Cangkul - Sekop - Gerobak - Sendok spesi - Ember - Selang - Benang Bahan
Batu Bata
Semen
Pasir
D. Langkah Kerja
1. Siapkan alat – alat dan bahan – bahan yang hendak di gunakan dalam pembuatan drainase 2. Ukur permukaan tanah yang hendak di gali yang akan di jadikan drainase sesuai dengan
rencana kerja
3. Galilah tanah yang telah di ukur tadi menggunakan cangku dan sekop
4. Apabila tanah sudah di gali maka pasanglah patok untuk memudahkan saat pemasangan bata, pasanglah patok sesuai dengan rencana kerja yang ada
5. Agar ketinggian presisi maka ukurlah ketinggian patok menggunakan selang
6. Pasanglah benang di kedua sisi patok dengan presisi sesuai ukuran dari rencana kerja 7. Buatlah adukan semen sesuai rencana kerja misal dengan perbandingan 1 semen banding
4 pasir
8. Letakkan adukkan semen tadi ke dalam ember lalu bawalah ke tempat pemasangan bata 9. Pasanglah bata di mulai dari bawah, untuk merekatkan bata gunakanlah semen diambil
menggunakan sendok spesi
10. Pasanglah bata dengan zig zag agar tercipta ikatan
11. Pasanglah bata dengan ketinggian dan kelebaran sesuai dengan rencana kerja E. Gambar Kerja
Pekerjaan pembersihan lapangan Pekerjaan pengukuran 4.5 Penghamparan Coat dan Perkerasan Jalan (Aspal)
A. Dasar Teori
Perkerasan jalan adalah bagian jalan raya yang diperkeras dengan agregat dan aspal atau semen (Portland Cement) sebagai bahan ikatnya sehingga lapis konstruksi tertentu, yang memiliki ketebalan, kekuatan, dan kekakuan, serta kestabilan tertentu agar mampu menyalurkan beban lalulintas diatasnya ke tanah dasar secara aman. Fungsi utama dari perkerasan sendiri adalah untuk menyebarkan atau mendistribusikan beban roda ke area permukaan tanah-dasar (sub-grade) yang lebih luas dibandingkan luas kontak roda dengan perkerasan, sehingga mereduksi tegangan maksimum yang terjadi pada tanah-dasar.
Perkerasan harus memiliki kekuatan dalam menopang beban lalu-lintas. Permukaan pada perkerasan haruslah rata tetapi harus mempunyai kekesatan atau tahan gelincir (skid resistance) di permukaan perkerasan. Perkersasan dibuat dari berbagai pertimbangan, seperti: persyaratan struktur, ekonomis, keawetan, kemudahan, dan pengalaman (Crhistiady, 2011).
B. Keselamatan kerja
Tempatkan alat – alat kerja pada tempatnya
Pakailah pakaian kerja yang lengkap dengan sepatu kerja dan helm
Kosentrasi pada waktu kerja
Tempatkan bahan - bahan dan alat - alat sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu selama pekerjaan berlangsung
C. Alat
- Cangkul - Sekop - Gerobak - Ember - Bak besi Bahan
Aspal
Pasir
Agregat kasar
D. Langkah kerja
1. Siapkanlah alat – alat dan bahan – bahan yang ingin kita gunakan 2. Buatlah tungku pembakaran untuk memanaskan aspal
3. Tuangkan coat aspal keatas sirtu terlebih dahulu
4. Panaskan terlebih dahulu agregat halus yakni pasir hingga agregat tersebut kering 5. Lalu masukkan agregat kasar yang berupa batu pecah ke dalam adukan pasir 6. Selanjutnya masukkan aspal cair ke dalam adukan agregat tadi
7. Panaskan campuran aspal dengan suhu 160 °C di atas bak besi
8. Apabila campuran agregat dan aspal sudah merata maka angkatlah campuran aspal tersebut
9. Hamparkan campuran aspal ke atas lapisan base course
10. Ratakan campuran aspal yang di hamparkan di atas lapisan base course
11. Lalu padatkan aspal dengan tandem roller/ menggunakan cangkul agar tercipta kepadatan yang diinginkan
12. Bersihkan dan letakkan alat -alat ke tempat semula E. Gambar Kerja
Pemasakan aspal Penuangan coat diatas sirtu
Panaskan agregat pasir dan agregat kasar Pencampuran agregat dan aspal
Penghamparan aspal secara manual Perataan permukaan aspal menggunakan roller manual
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Perkerasan jalan merupakan lapisan perkerasan yang terletak diantara lapisan tanah dan roda kendaraan, yang berfungsi untuk memberikan pelayanan kepada sarana transportasi. Fungsi perkerasan adalah untuk memikul beban lalu lintas secara aman dan nyaman, serta sebelum umur rencananya tidak terjadi kerusakan yang berarti. Supaya perkerasan mempunyai daya dukung dan keawetan yang memadai, tetapi juga ekonomis, maka perkerasan jalan dibuat berlapis-lapis.
Perkerasan lentur dengan bahan pengikat aspal yang sering disebut campuran aspal panas atau hot mix. Pemakaian tipe perkerasan lentur tersebut semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pengembangan suatu daerah. Berdasarkan tempat diperolehnya, aspal dibedakan atas aspal alam dan aspal minyak. Aspal alam yaitu aspal yang didapat di suatu tempat di alam, dan dapat digunakan sebagaimana diperolehnya atau dengan sedikit pengolahan.
Pekerjaan perkerasan lentur/flexible pavement terdiri dari beberapa lapisan, yaitu subgrade (lapisan tanah dasar), subbase course (lapisan pondasi bawah), base course (lapisan pondasi atas), dan surface course (lapisan permukaan)
5.2 Saran
Dari pembahasan diatas, maka penulis dapat memberikan saran sebagai berikut : 1. Gunakanlah alat sesuai fungsinya
2. Periksa semua alat sebelum bekerja
3. Utamakan keselamatan dan kesehatan kerja
4. Patuhi semua peraturan dan ketentuan yang berlaku di bengkel 5. Pahami job yang akan dilaksanakan sebelum bekerja