• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan Dan Alat Dalam Proses Pembuatan Batik

Dalam dokumen PDF BUKU MONOGRAF - eprints.ubhara.ac.id (Halaman 130-141)

BAGIAN 4 AWAL MULA PERKEMBANGAN SENI BATIK

B. Bahan Dan Alat Dalam Proses Pembuatan Batik

Dalam proses pembuatan batik diperlukan bahan – bahan dan peralatan yang mempunyai spesifikasi atau kriteria khusus, serta jumlah yang cukup banyak. Berikut adalah bahan dan alat dalam pembuatan batik.

1. Bahan – Bahan untuk Membatik

Dalam proses membatik dibagi menjadi dua, yaitu bahan baku dan bahan pembantu. Bahan baku antara lain kain atau mori sebagai bahan dasar yang akan dibatik, lilin atau malam, dan pewarna. Bahan pembantu barupa obat- obatan untuk mendapatkan hasil pewarnaan yang baik.

a. Bahan Baku’

Kita dapat memilih berbagai macam kain sebagai bahan dasar yang akan dibatik, biasanya kain yang digunakan adalah kain mori / kain katun putih dan sutra. Mori (Kain Katun) yang dipilih adalah yang dapat menyerap lilin dengan baik. Berdasarkan tingkat kehalusannya, mori dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu golongan yang sangat halus (primissima), golongan kedua (prima), golongan ketiga (biru), dan golongan keempat (grey/blacu).

124

1) Mori Primisima

Mori ini mempunyai kepadatan benang untuk fungsi antara 105–125 tiap inci atau 42 – 50 tiap cm, dan mori ini mengandung sedikit kanji, yaitu lebih kurang 5%.

Kanji pada kain jenis ini mudah dihilangkan dengan cara dicuci.

(http://minatosandria.blogspot.com/2013/01/bahan -batik.html)

2) Mori Prima

Jenis kain ini mempunyai kepadatan benang untuk fungsi antara 85 – 105 tiap inci dan kandungan kanjinya kurang lebih 10%.

3) Mori Biru

Mori biru mempunyai kepadatan benang untuk fungsi antara 65 – 85 tiap incinya.

4) Mori Blacu atau Grey

Kain mori blacu/grey merupakan kain putih yang mempunyai golongan paling kasar. Kain ini mempunyai kepadatan benang 64 – 68 per incinya.

b. Lilin Batik

Lilin batik merupakan bahan yang digunakan untuk menutup bagian-bagian kain atau motif yang kita buat agar tidak terkena cairan pewarna dalam proses pewarnaan batik. Bahan-bahan pokok untuk pembuatan lilin batik antara lain sebagai berikut.

1) Malam (Lilin Tawon)

Lilin ini warnanya kuning suram, mudah meleleh pada panas 59 C, mudah melekat pada kain, mempunyai ketahanan lama dan tidak berubah

125 karena perubahan iklim, serta mudah lepas sewaktu dilorod dengan air panas. Lilin ini biasanya dipakai untuk campuran lilin klowong.

2) Gondorukem

Gondorukem berasal dari getah pohon pinus yang sudah disuling dan dipisahkan dari air yang terkandung di dalamnya. Gondorukem memiliki sifat sangat mudah menembus kain dan titik lelehnya 80 C. Gondorukem digunakan sebagai campuran lilin batik yang cukup keras dan tidak dapat membeku.

Dengan demikian, bentuk lilin pada motif batik tersebut menjadi baik dan bekasnya menjadi bersih.

3) Damar (Damar Mata Kucing)

Damar diambil dari pohon shorea spec (pohon damar) melalui penyadapan. Damar digunakan sebagai campuran lilin batik untuk mendapatkan bekas atau garis yang baik dan melekat pada kain dengan baik. Damar memiliki sifat suka meleleh, lekas membeku, dan tahan tehadap larutan alkali.

4) Parafin

Parafin berwarna putih bersih atau kuning muda, digunakan sebagai campuran lilin batik untuk mendapatkan jenis lilin yang mempunyai daya tidak tembus bawah yang baik, mudah lepas waktu dilorod, sebagai bahan pengisi karena harganya relatifmurah dibanding lilin lainnya (http://minatosandria.

blogspot.com/2013/01/bahan-batik.html).

126

Parafin 5) Mikorwax

Mikorwax adalah jenis lilin parafin yang mempunyai sifat halus, berwarna kuning mudah, keadaannya lemas seperti lilin kote (malam). Dengan demikian, lilin batik menjadi lebih lemas (ulet) dan mudah lepas.

6) Kendal (Vet)

Vet merupakan lemak binatang yang biasanya diambil dari daging sapi atau kerbau dan berwarna putih. Bahan ini diganakan sebagai campuran yang jumlahnya kecil dan berguna untuk menurunkan titik leleh supaya lilin batik menjadi lemas dan mudah dilorod.

c. Bahan pewarna

Bahan pewarna dalaam membatik dapat dikelompokan menjadi dua macam, yaitu bahan pewarna alam dan bahan pewarna sintetis.

Bahan Pewarna Alam.

Bahan pewarna batik zaman dahulu menggunakan bahan – bahan pewarna yang diambil dari alam. Bahan pewarna tersebut, misalnya dari rebusan

127 kulit – kulit kayu, babakan kayu, buah, bunga, dan daun- daun. Selain pewarna dari tumbuhan digunakan juga pewarna dari binatang yang berupa getah buang.

Bahan Pewarna Sintetis

Zat-zat warna batik buatan (sintetis) berasal dari negara asing yang masuk ke Indonesia melalui para pedagang, berikut contohnya :

1) Cat Indigo (Nila)

2) Cat Soga: dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu cat soga bangkitan/ soga kopel/soga garam, cat soga seranan kapur, dan cat soga chroom.

3) Cat Naphtol

4) Cat Rapid (Rapid Fast)

5) Cat Indanthren: dibagi menjadi 3 jenis, yaitu indanthern normal, panas, dan dingin.

6) Cat Basis 7) Cat Procion 8) Indigosol 9) Prada

d. Bahan Pembantu

Kualitas warna dalam batik dapat ditingkatkan dengan melakukan pewarnaan yang baik dengan obat- obat pembantu. Bahan-bahan pembantu dalam proses batik antara lain sebagai berikut.

1) Caustic soda, yaitu bahan kimia yang bersifat alkali kuat. Bahan ini digunakan untuk melarutkan cat naphtol, cat rapid, untuk mengetel mori, melarutkan lilin batik, dan membersihkan sisa-sisa lilin yang masih menempel.

2) Soda abu (soda ash),

yaitu soda yang larutannya sebagai alkali lemak.

Warnanya putih berbentuk powder/semacam batu api yang mudah pecah. Bahan ini dipergunakan sebagai campuran mengetel kain mori dan sebagai pelarut cat indigosol.

128

3) TRO (Turkish Red Oil)

TRO dipakai sebagai obat dispersi/untuk membantu melarutkan cat bintik, misalnya cat naphtol atau sebagai obat pembasah saat mencuci kain yang akan dicap.

4) Teepol, yaitu bahan yang berupa larutan agak kental dengan warna kemerah-merahan. Bahan ini digunakan sebagai obat pembasah.

5) Asam clorida

yaitu bahan asam keras (HCL) berupa cairan berwarna kekuning-kuningan. Bahan ini dipakai untuk mendapatkan warna indigosol/untuk menghilangkan kanji mori secara rebusan pada konsentrasi yang sangat encer. Asam ini disebut juga

air keras

(http://minatosandria.blogspot.com/2013/01/zat- warna-tekstil. html).

129 6) Asam sulfat

yaitu asam keras (nitrit) yang dipakai untuk

membangkitkan warna indigosol

(http://minatosandria.blogspot.com/2013/01/ zat- warna-tekstil.html).

7) Tawas

yaitu bahan berupa kristal yang dipakai sebagai

pengikat warna soga

(https://id.wikipedia.org/wiki/Tawas).

8) Kapur

yaitu bahan untuk membuat air kapur yang jernih.

Air kapur dipakai untuk mengapur warna soga dari tumbuh–tumbuhan dan juga dipakai untuk

130

melarutkan cairan indigo secara reduksi bersama dengan tanjung atau tetes (http://aska- batik.blogspot. com/2012/02/sarenan-pengikat- pewarna-alami. html.

9) Obat hijau, yaitu bahan berupa serbuk berwarna hijau. Bahan ini merupakan senyawa dari chroom.

Senyawa chroom ini dengan soga-soga sintetis akan mengikat soga sehingga soga mempunyai ketahanan yang baik dan tahan saat proses lorodan. Obat hijau dipakai untuk membantu soga jenis ergan dengan dicampurkan larutan cat.

10) Air hijau, bahan yang berupa cairan berwarna hijau.

Bahan ini juga merupakan senyawa dari chroom. Air hijau digunakan bersama dengan soga jenis chroom untuk nyereni setelah pencelupan.

11) Minyak kacang, yaitu bahan yang digunakan untuk mengetel mori. Minyak ini dicampur dengan soda abu akan menjadi cairan putih seperti susu murni.

Cairan itu dipakai untuk mengetel kain, kain tersebut menjadi lemas dan makin baik daya serapnya.

2. Alat-Alat Batik

Kegiatan membatik meliputi pembuatan pola, membatik, memberi wedel (medel), mengerok, mencelup, memberi soga (menyoga), dan melorod.

a. Alat untuk membuat pola

Sebelum membatik, kita membuat pola lebih dahulu.

Pola dibuat pada kertas. Pola ini nantinya dicontoh atau

131 dijiplak. Pola berupa gambar atau motif. Kita membaut pola gambar menggunakan meja khusus atau meja gambar teknik, pensil gambar, dan karet penghapus dengan syarat sebagai berikut.

1) Meja gambar yang digunakan adalah yang bagian bawahnya di beri lampu

2) Pensil gambar yang digunakan adalah pensil gambar yang ulet atau tidak mudah patah dan garisnya jelas, misal pensil 2B, 3B/ 4B.

3) Karet penghapus yang lunak atau lembut untuk menghapus garis yang tidak diperlukan atau salah.

b. Alat dan Perlengkapan Membatik

Wajan yang terbuat dari besi cor dan tebal agar dapat menahan panas sehingga malam atau lilin tidak mudah membeku

1) Kompor untuk perapian atau untuk memanaskan lilin yang mudah diatur panasnya dengan mudah, misalnya kompor minyak kecil/listrik.

2) Gawangan untuk meletakkan kain yang sedang dibatik.

3) Canting batik untuk menempelkan malam pada kain.

Canting terbuat dari tembaga tipis yang tebalnya kurang dari 0.5 mm. Bentuknya dibuat agar mudah untuk mengambil atau menuangkan lilin panas.

Bentuk mulutnya dibuat bulat lonojong yang lebih sempit dari badanya. Lubang ujung canting kegunannnya dibagi sebagai berikut:

Canting Klowong:

Canting yang dipakai untuk membatik klowongan atau membatik yang tipis menggunakan lilin klowong. Canting ini mempunyai diameter lubang ujungnya antara 1 mm sampai 2 mm.

132

Canting tembokan:

Canting yang digunakan untuk membatik tembokan atau memperkuat lilin pada kain agar tidak mudah lepas oleh larutan asam. Diameter lubang ujungnya antara 1 mm sampai 3 mm. Untuk menembok biasanya digunakan kuas atau jegul.

Canting cecek atau canting sawut:

Canting yang digunakan untuk membuat titik dari garis-garis yang halus. Disebut canting cecek/sawut karena digunakan untuk membuat titik dan garis halus. Canting ini memiliki diameter ujung lubangnya

mm sampai 1 mm.

Canting Ceret:

Canting yang dipakai untuk membuat garis ganda yang dikerjakan sekali jalan. Canting ini mempunyai paruh ganda yang berjajar dua samapai empat menurut garis yang akan dibuatnya. Diameter paruh canting tersebut mempunyai ukuran yang sama kurang lebih 1 mm.

Alat untuk Medel (Memberi Wedel)

1) Bak celup untuk menampung kain yang akan diwedel atau dicelup larutan nila atau air kapur. Kain yang dicelupkan ke dalam larutan nila dengan menggunakan alat seperti kayu atau penjepit. Cara inidilakukan agar tangan tidak terkena larutan nila yang susah dihilangkan.

2) Canting gayung, yaitu canting yang digunakan untuk mengambil nila atau air kapur. Gayung ini dibuat dari benda yang tidak mudah berkarat.

3) Sarung tangan dari karet yang kuat dan lembut.

133 4) Lerengan, yaitu alat yang dibuat dari kayu dengan ukuran lebih 30 cm, panjang 120 cm, bentuknya trapesium, serta diberi rol dari kayu bukat untuk menggeser kain.

Alat untuk Mengerok

Alat untuk mengerok terbuat dari plat yang fungsinya untuk mengerok lilin.

Alat untuk Pencelupan

Alat ini mempunyai dua bagian, yaitu yang pertama alat untuk menyiapkan larutan yang antara lain berupa gelas ukur, timbangan obat-obatan, cangkir, dan takaran sendok plastik. Bagian kedua antara lain sebagai berikut 1) Lerengan yang sama dengan lerengan untuk naphtol.

2) Sarung tangan dari karet.

3) Canting gayung yang tidak mudah berkarat untuk mengambil larutan pewarna.

4) Sampiran atau jemuran yang sebaiknya tidak terbuat dari kawaat.

5) Tong pembasuh untuk mencuci kain yang telah dicelup yang terbuat dari kayu atau plastik.

Alat untuk Menyoga (Memberi Soga)

Peralatan untuk menyoga hampir sama dengan alat untuk mencelup, tetapi diperlukan keceng atau alat masak dari tembaga untuk menghangatkan soga agar batikan yang dicelup lilin tidak keras dan pecah-pecah.

Alat untuk Melorod atau Alat Gebyok atau Babar

Alat ini berupa sebuah tungku untuk memasak, kenceng tembaga, dan bak air untuk mencuci kain yang sudah dilorod.

134

Alat untuk Mengecap (Memberi Cap)

Alat-alat yang diperlukan untuk mengecap antara lain sebagai berikut.

1) Meja cap dengan permukaannya miring 70 dan harus rata.

2) Kasur cap yang tidak dicuci dengan ukuran lebar 70 cm dan 110 cm.

3) Kain blacu untuk melapisi kasur.

4) Kompor cap untuk memanasi lilin.

5) Loyang cap dari tembaga atau alaumunium untuk memasak lilin yang lebarnya kurang lebih 40 cm.

6) Saringan untuk menahan lilin agar tidak menempel pada alat cap.

7) Canting cap yang betuknya disesuaikan dengan jalannya cap-capan. Ada yang berbentuk persegi dan jajaran genjang serta ceplok. Canting cap klowong mempunyai permukaan yang penuh. Sedangkan canting cap tembokan permukaannya hanya pada bagian motif yang yang ditembok. Permukaan cantik cap harus rata dan pada sudut cap ada panitis yang digunakan untuk pedoman jalannya cap.

Dalam dokumen PDF BUKU MONOGRAF - eprints.ubhara.ac.id (Halaman 130-141)