BAGIAN 5 LINGKUNGAN BISNIS BATIK PAPUA DALAM
C. UMKM Batik Papua
Salah satu faktor internal yang cukup berperan besar dalam mempengaruhi perkembangan usaha, termasuk UMKM adalah modal untuk investasi maupun modal kerja. Lembaga perbankan sebagai salah satu sumber modal secara optimal masih belum dapat membantu permasalahan yang dihadapi UMKM. Relatif tingginya tingkat bunga kredit perbankan, prosedur serta persyaratan pengajuan kredit yang relatif sulit untuk dipenuhi, serta tidak adanya jaminan merupakan alasan utama bagi sebagian besar UMKM untuk tidak mengajukan kredit kepada perbankan. Pada ada aspek lembaga keuangan tentu terkait penyaluran dana kepada dunia usaha dengan berbagai pertimbangan seperti kelayakan usaha dan kemampuan dalam mengembalikan modal. Lembaga keuangan khususnya perbankan memperhatikan capacity, colateral, condition of economy, character dan capital perusahaan dalam memberikan dana atau pinjaman kepada perusahaan. Aspek risiko dan jaminan pengembalian pinjaman juga menjadi standar bagi perbankan dalam menyalurkan dana yang mereka miliki. Kredit macet menjadi persoalan sendiri bagi perbankan karena jika kredit macet suatu bank tinggi akan meningkatkan risiko bank tersebut.
Berdasarkan pertimbangan tersebut tentu perlu upaya untuk menciptakan agar bisnis pelaku UMKM dapat bankable dan feasible sehingga dapat masuk dalam standar kelayakan untuk bisa memperoleh pembiayaan perbankan. Disinilah dibutuhkan peran lembaga perguruan tinggi yang mempunyai kapasitas keilmuan dan kajian serta studi yang mendalam terkait pengelolaan sebuah entitas bisnis yang bankable dan feasible tersebut dapat diwujudkan sekaligus bisa berperan sebagai pendamping UMKM dalam menjalankan aktivitas bisnis mereka. Di sisi lain, permasalahan UMKM yang berkaitan dengan sumber daya manusia (human resources),
164
manajemen, funding access, informasi teknologi dan market acces membuat para pengusaha UMKM umumnya memposisikan diri untuk ”apatis“ dalam membangun simbiosis yang harmonis dengan pihak intermediary. Hal ini terbukti dengan data yang menunjukkan bahwa hanya 31%
pihak UKM yang menerima kucuran kredit, sisanya sebanyak 21% ditolak (tidak visible) dan bahkan 48% pengusaha UKM tidak mengajukan kredit pembiayaan sama sekali dari pihak perbankan.
Berkenaan dengan hal itu salah satu industri memiliki potensi untuk dikembangkan adalah indusri batik. Salah satu daerah pembuat batik adalah Papua. Motif yang terdapat pada batik Papua pun berbeda dengan motif batik Jawa atau daerah lainnya. Umumnya, kain dan motif batik Papua berwarna gelap, tapi tidak sedikit pula yang berwarna cerah. Motif dan coraknya pun beragam dan memiliki kekhasan Papua, seperti burung cendrawasih, alat musik tifa, hingga ukiran kayu.
Awalnya, teknik membatik ini dikembangkan oleh pengrajin dan seniman Papua. Nah, pembuatan batik ini ternyata banyak terinspirasi dari peninggalan-peninggalan arkeologi yang tersebar di daerah Papua. Salah satunya, adalah dari lukisan- lukisan dinding gua yang ada di area kabupaten Biak dan Jayapura. Selain lukisan dinding, peninggalan sejarah lainnya seperti fosil, artefak dan benda purbakala juga mempengaruhi kreativitas seniman Papua dalam mengkreasikan motif batik.
Karena mengandung unsur sejarah dan arkeologi di dalamnya, tak heran jika batik Papua banyak disukai oleh masyarakat lokal hingga internasional. Salah satu motif batik yang terkenal adalah motif Asmat dengan simbol patung kayu suku Asmat.
Selain itu ada pula motif Kamoro atau simbol patung berdiri, Sentani, juga motif yang divariasi dengan sentuhan garis emas yang dijuluki batik Prada (Chatarina Komala dan Iveta, 2014). Namun masih banyak kendala yang dihadapi para pelaku usaha pada komoditas ini. Akhir-akhir ini kenaikan bahan baku menyebabkan tingkat keuntungan pelaku usaha semakin berkurang meski efisiensi biaya produksi telah
165 dilakukan, sementara jika harga dinaikkan dengan kondisi daya beli masyarakat yang makin lemah membuat kehidupan masyarakat kian sulit. Untuk itu perlu dilakukan kajian yang mendalam baik dari aspek produksi, pemasaran dan keuangan dalam mengukur tingkat kelayakan sekaligus melihat peluang dan hambatan pada usaha ini.
Filosofi Batik Papua
Papua adalah salah satu provinsi yang memiliki jutaan kekayaan alam dan tradisi kebudayaan menarik. Tak hanya di Pulau Jawa, salah satu pakaian khasnya yakni batik Papua. Jika dilihat dari kasat mata, motif dari batik satu ini terbilang sangat khas. Motif-motif mencolok di setiap helaian kainnya memiliki filosofis menarik dibaliknya.
Motif Batik Papua
Jarang terdengar, ternyata keberadaan batik-batik di Papua ini telah menembus pasar Eropa.Hal ini pertama kali dipopulerkan oleh seorang pengrajin batik asal Papua, Jimmy Afaar. Karena kreativitasnya, aneka motif batik berhasil memiliki filosofi menarik di dalamnya. Berikut sejumlah fakta dan filosofis batik asal Papua:
1. Muncul Era 1985
Awal mulanya, warisan budaya Indonesia ini telah dikenal sejak tahun 1985. Ketika era ini, keberadaan batik masih sangat jarang ditemukan. Bahkan, hanya dapat
166
dikenakan oleh status sosial kalangan tertentu. Terutama bagi para bangsawan dan keluarga kerajaan. Melansir batiktulis.com, saat itu pemerintah Indonesia mendapatkan sorotan dari PBB untuk melestarikan budaya Indonesia bagian timur. Kebudayaan tersebut yakni diwakili oleh The United Nations Development Program (UNDP). Berkat adanya ini, pasar batik Papua semakin dikenal dan diminati wisatawan mancanegara.
2. Pakaian Khas Papua
Jika batik di Jakarta dipakai untuk acara kebudayaan tertentu, beda halnya ketika di Papua. Di Indonesia bagian Timur ini, batik menjadi salah satu pakaian khas yang dipakai sehari-hari. Untuk motifnya pun menonjolkan kekayaan alam Papua dengan perpaduan budaya lain. Batik Papua juga diberikan julukan sebagai Batik Port Numbay.
Ini memiliki keunikan tersendiri dari aspek motifnya.
Adapun ini melambangkan kekayaan budaya dan keunikan alam Papua yang eksotik.
3. Pencampuran Budaya
Diketahui, budaya batik Papua telah dicampuri oleh keunikan budaya wilayah lain. Awalnya, dipengaruhi dari gaya batik khas Pekalongan, Jawa Tengah. Tingginya minat masyarakat membuat pasar pencampuran batik ini melambung tinggi. Aneka motif yang dihasilkan membuat batik asal Papua ini memiliki karakter yang khas, dan warna di setiap helaian kainnya terbilang mencolok dan ciamik.
Motif Batik Papua
Setelah mengetahui filosofi batik asal Papua, berikut berbagai motif kain yang menjadi daya tarik. Motif-motif batik Papua tersebut meliputi:
167 1. Motif Batik Papua (Cenderawasih)
Burung cendrawasih menjadi ikon Papua yang memiliki julukan “Bird of Paradise”. Keindahan bulu dan ekornya tidak tertandingi. Motif batik ini menonjolkan kecantikan burung cendrawasih dan alat musik Tifa. Warna- warna batiknya didominasi hijau, merah, dan kuning keemasan. Batik bermotif burung cendrawasih yang gagah memberikan kesan tegas pada penampilan pemakainya.
2. Motif Asmat
Motif Asmat termasuk populer di Papua. Namanya diambil dari suku asli penghuni Bumi Cendrawasih. Batik ini umumnya didominasi corak ukiran khas suku Asmat, seperti patung-patung duduk kayu. Warna batiknya pun memiliki ciri khas tersendiri, lebih cokelat dengan campuran warna tanah dan terakota (merah kecokelat-cokelatan).
168
3. Motif Prada
Motif Prada menawarkan kemewahan dan kemegahan dengan sentuhan garis-garis emas. Batik ini biasanya juga dikombinasi warna hitam dan merah. Model yang berkelas menjadikan Batik Prada paling mahal dan indah dari Papua. Produksinya menggunakan kualitas benang terbaik yang berbahan dasar sutra. Kadang mengandalkan bahan kain santung yang sangat mirip dengan sutra dan katun.
4. Motif Tifa Honai
Batik Tifa Honai memiliki filosofi yang cukup kuat.Sesuai namanya, Honai sebagai rumah adat Papua melambangkan keluarga, sedangkan alat musik tifa menonjolkan kebahagiaan. Keduanya bermakna
169 kebersamaan keluarga yang bahagia. Motif ini juga terinspirasi kekayaan alam di Pulau Emas, seperti sumber mata air dan pemandangan yang indah.
5. Motif Sentani
Batik Sentani terkenal dengan kesederhanaannya.
Motifnya menampilkan alur batang kayu yang melingkar dengan sentuhan garis-garis emas. Batik ini memiliki filosofi yang unik, menggambarkan tanah Papua yang sangat subur dan kaya akan hasil bumi.
6. Motif Kamoro
Batik ini juga terkenal dengan nama Batik Papua Timika. Batik Kamoro terinspirasi dari suku asli Papua dengan keindahan alam dan keunikan seni
170
ukirnya.Motifnya melambangkan simbol Patung Berdiri membawa tombak.Penggunaan warnanya cenderung lebih berani, seperti kombinasi biru dan hijau, hitam dan kuning, merah dan merah muda.
7. Motif Asimetris
Batik asimetris memiliki corak yang berbeda kanan dan kiri, walaupun terlihat sama. Umumnya, batik ini perpaduan antara motif etnik khas Papua yang asimetris dan warna-warna cerah. Tersedia dalam bahan satin dan katun yang licin, jatuh, serta tidak cepat kusut. Cocok digunakan untuk sehari-hari.