Mengganti dengan bahan atau material yang tidak berbahaya / mempunyai tingkat bahaya lebih rendah
Mengganti proses
Mengurung proses
Mengisolasi proses
Ventilasi, dsb Work practice controls
Hazards dapat dieliminasi dengan work practice controls jika pekerja dapat terhindar dari efek atau bahaya dari hazards dengan cara merubah cara atau prosedur kerja.
Contoh work practice controls:
Menggunakan metode kerja yang basah untuk menekan debu
Personal hygiene
Housekeeping dan perawatan / maintenance
Rotasi kerja, dsb
Alat Pelindung Diri (APD)
Bahaya dan ancaman (hazards) ada di setiap tempat kerja dalam berbagai bentuk seperti tepi benda yang tajam, benda jatuh, percikan, bahan kimia, kebisingan dan banyak sekali situasi lainnya yang berpotensi berbahaya. The Occupational Safety and Health Administration (OSHA) mewajibkan perusahaan untuk untuk melindungi karyawan mereka dari bahaya- bahaya (hazards) di tempat kerja yang dapat menyebabkan cedera. Mengendalikan (control) bahaya pada sumbernya adalah cara terbaik untuk melindungi karyawan. Tergantung pada kondisi hazard atau tempat kerja, OSHA merekomendasikan engineering control atau administrative / work practice control untuk mengelola atau menghilangkan bahaya semaksimal mungkin (selengkapnya tentang engineering dan work practice control klik disini).
Contoh engineering control adalah membangun penghalang antara hazard dan karyawan;
sedangkan contoh work practice control adalah mengubah cara karyawan dalam melakukan kerja
Kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD)
Penggunaan alat pelindung diri (APD) untuk mengurangi eksposur karyawan terhadap bahaya itu diperlukan ketika engineering control dan administrative control (selengkkapnta tentang control klik disini) tidak layak atau efektif dalam mengurangi eksposur tersebut ke tingkat yang dapat diterima. Perusahaan diharuskan untuk menentukan bahwa APD harus digunakan untuk melindungi pekerja dan memiliki kewajiban untuk menyediakan APD, termasuk peralatan pelindung pribadi untuk mata, wajah, kepala, dan kaki, dan pakaian pelindung dan penghalang (barrier). Perusahaan juga harus memastikan bahwa karyawan menggunakan dan memelihara APD dalam kondisi steril dan handal. Bagaimana penggunaan APD yang tepat? APD harus dikenakan dan digunakan dalam suatu cara dimana manfaat perlindungannya akan penuh. Rendahnya tingkat kepatuhan dalam mengenakan APD biasanya menunjukkan sistem manajemen keselamatan yang gagal. Hal-hal berikut dapat mengakibatkan ketidakpatuhan pemakaian [...]
Kewajiban Alat Pelindung Diri (APD)
Untuk menjamin perlindungan sebaik mungkin bagi karyawan di tempat kerja, usaha yang kooperatif antara perusahaan dan karyawan akan membantu dalam membangun dan memelihara lingkungan kerja yang aman dan sehat. Secara umum, perusahaan bertanggung jawab untuk: Melakukan "hazard assessment" di tempat kerja untuk mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya (hazards) fisik dan kesehatan Mengidentifikasi dan menyediakan APD
yang sesuai untuk karyawan Mengadakan pelatihan terhadap karyawan dalam penggunaan dan perawatan APD Memaintain APD, termasuk mengganti APD yang rusak, dan Meninjau, memperbarui dan mengevaluasi efektivitas program APD secara berkala Secara umum, karyawan harus: Memakai APD dengan benar Menghadiri sesi pelatihan tentang APD Merawat, membersihkan dan memelihara APD, dan Menginformasikan supervisor akan kebutuhan untuk memperbaiki atau mengganti APD Persyaratan khusus untuk APD disajikan dalam banyak standar yang berbeda.
Kontrol Perlindungan Pekerja dari Bahaya di Tempat Kerja
Dalam ergonomi sistem kerja harus disesuaikan dengan manusia atau pekerja (fit the job to the man / the worker). Termasuk jika dalam sistem kerja tersebut terdapat bahaya atau risiko (hazards) yang mengancam pekerja, maka sistem kerja tersebut harus didesain atau redesain agar “sesuai” dengan pekerja (tidak mungkin kan si pekerja harus dilatih atau “dievolusikan”
supaya kebal terhadap hazards tersebut). Hal tersebut perlu dilakukan karena hazards tersebut dapat mengganggu keselamatan, kesehatan, produktivitas, dan kualitas kerja. Jadi perusahaan harus melindungi pekerja dari bahaya-bahaya atau risiko-risiko (hazards) di tempat kerja tersebut seperti mesin, bahan berbahaya, dan prosedur kerja yang berbahaya.
Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan control. Perusahaan harus melakukan kontrol yakni kontrol rekayasa / keteknikan (engineering controls) dan kontrol metode kerja (work practice controls
Alat Pelindung Diri (APD)
Alat Pelindung Diri (APD) atau dalam Bahasa Inggris disebut Personal Protective Equipment (PPE) adalah seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja.
APD merupakan kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan risiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya. APD dipakai sebagai upaya terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja apabila usaha rekayasa (engineering controls) dan administratif (work practice controls) tidak dapat dilakukan dengan baik. Namun pemakaian APD bukanlah pengganti dari kedua usaha tersebut, namun sebagai usaha akhir, selengkapnya mengenai hal ini klik disini. Metode Penentuan APDMelalui pengamatan operasi, proses, dan jenis material yang dipakai Telaah data-data kecelakaan dan penyakit Belajar dari pengalaman industri sejenis lainnya
Alat Pelindung Diri (APD) atau dalam Bahasa Inggris disebut Personal Protective Equipment (PPE) adalah seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja.
APD merupakan kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan risiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya. APD dipakai sebagai upaya terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja apabila usaha rekayasa (engineering controls) dan administratif (work practice controls) tidak dapat dilakukan dengan baik. Namun pemakaian APD bukanlah pengganti dari kedua usaha tersebut, namun sebagai usaha akhir, selengkapnya mengenai hal ini klik disini.
Metode Penentuan APD
Melalui pengamatan operasi, proses, dan jenis material yang dipakai
Telaah data-data kecelakaan dan penyakit
Belajar dari pengalaman industri sejenis lainnya
Bila ada perubahan proses, mesin, dan material
Peraturan perundangan Apa Kriteria APD?
Proses penggunaan APD harus memenuhi kriteria:
Hazard telah diidentifikasi.
APD yang dipakai sesuai dengan hazard yang dituju.
Adanya bukti bahwa APD dipatuhi penggunaannya.
Dasar Hukum
1. Undang-undang No.1 tahun 1970. Pasal 3 ayat (1) butir f: Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat untuk memberikan APD. Pasal 9 ayat (1) butir c: Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang APD. Pasal 12 butir b: Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk memakai APD. Pasal 14 butir c: Pengurus diwajibkan menyediakan APD secara cuma-cuma.
2. Permenakertrans No.Per.01/MEN/1981. Pasal 4 ayat (3) menyebutkan kewajiban pengurus menyediakan alat pelindung diri dan wajib bagi tenaga kerja untuk menggunakannya untuk pencegahan penyakit akibat kerja.
3. Permenakertrans No.Per.03/MEN/1982. Pasal 2 butir I menyebutkan memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja, pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan ditempat kerja
4. Permenakertrans No.Per.03/Men/1986. Pasal 2 ayat (2) menyebutkan tenaga kerja yang mengelola pestisida harus memakai alat-alat pelindung diri yg berupa pakaian kerja, sepatu lars tinggi, sarung tangan, kacamata pelindung atau pelindung muka dan pelindung pernafasan
Jenis-jenis APD dan Penggunaannya
A.P. Kepala
A.P. Muka dan Mata
A.P. Telinga
A.P. Pernafasan
A.P. Tangan
A.P. Kaki
Pakaian Pelindung
Safety Belt
Setelah APD Dipakai, Apakah?
APD yang dipakai sesuai standar?
APD memberikan perlindungan?
APD sesuai dengan tugas yang dikerjakan?
APD nyaman dipakai terus menerus?
Manajemen APD
APD dibutuhkan untuk membatasi hazard lingkungan
Jangan membeli APD sekedar hanya memiliki jenis APD
Adanya hazard awareness dan pelatihan
Adanya SOP penggunaan APD
Perkembangan APD
Teknologi APD berkembang pesat pada APD terhadap bahaya fisik dan kimia. Namun kurang berkembang pada APD terhadap bahaya biologi.
Kelemahan Penggunaan APD
Kemampuan perlindungan yang tak sempurna karena (memakai APD yang kurang tepat, cara pemakaian APD yang salah, APD tak memenuhi persyaratan standar)
APD yang sangat sensitif terhadap perubahan tertentu.
APD yang mempunyai masa kerja tertentu seperti kanister, filter dan penyerap (cartridge).
APD dapat menularkan penyakit,bila dipakai berganti-ganti.
Mengapa APD Sering Tidak Dipakai?
1) Rendahnya kesadaran pekerja terhadap Keselamatan kerja 2) Dianggap mengurangi feminitas
3) Terbatasnya faktor stimulan pimpinan 4) Karena tidak enak / kurang nyaman.
KESIMPULAN
Bahaya-bahaya (hazards) di tempat kerja harus ditangani dengan prinsip ergonomi yakni menyesuaikan kerja dengan keterbatasan atau kapasitas manusia (fit the task to the worker).
Misalnya kebisingan harus dikontrol karena manusia mempunyai batasan paparan, zat-zat kimia korosif harus dikontrol karena tubuh manusia tidak mampu kontak dengan zat tersebut, desain control dan display mesin harus disesuaikan dengan karakteristik kognitif manusia sehingga mengurangi eror, shift kerja disesuaikan dengan kapasitas beban kerja manusia dan masih banyak lagi. Semua itu dilakukan melalui tiga cara yakni engineering control, work practice control, dan alat pelindung diri.
LATIHAN SOAL
1. Sebutkan dan jelaskan bahaya yang ada di lingkungan atau tempat kerja
2. Mengapa pekerja umumnya tidak mau menggunakan alat pelindung diri, jelaskan