• Tidak ada hasil yang ditemukan

Basis Yuridis Pendidikan Agama

Dalam dokumen Menyemai Toleransi Merawat NKRI (Halaman 48-56)

Bab 2 PENdidiKaN aGaMa aNtara Cita idEaL

B. Basis Yuridis Pendidikan Agama

manusia yang ingin dicapai dalam pendidikan agama adalah kualitas seutuhnya yang mencakup tidak saja aspek rasio, intelek atau akal budinya dan aspek isik atau jasmaninya, tetapi juga aspek psikis atau mentalnya maupun aspek sosial yaitu dalam hubungannya dengan sesama manusia dalam masyarakat dan lingkungannya, serta aspek spiritual yaitu dalam hubungannya dengan Tuhan YME, Sang Pencipta.

Kualitas manusia dalam spiritualitas (hubungan dengan Tuhan) dan dalam aspek sosial (hubungan dengan sesama dan lingkungannya), yang menjadi syarat tercapainya tujuan pembangunan, hanya dapat dicapai lewat partisipasi agama atau pendidikan agama.

bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3);

Kedua, Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama (Pasal 12 ayat (1) poin a); Ketiga, Selain pendidikan agama, di dalam sistem pendidikan nasional pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dapat menyelenggarakan pendidikan keagamaan yang berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama (Pasal 30, ayat 2).

Keempat, Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: (a) peningkatan iman dan takwa, (b) peningkatan akhlak mulia, (c) peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik, (d) keragaman potensi daerah dan lingkungan, (e) tuntutan pengembangan daerah dan nasional, (f ) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, (g) agama, (h) dinamika perkembangan global, (i) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan (Pasal 36). Kelima, Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: (a) pendidikan agama, (b) pendidikan kewarganegaraan, (c) bahasa, (d) matematika, (e) ilmu pengetahuan alam, (f ) ilmu pengetahuan sosial, (g) seni dan budaya, (h) pendidikan jasmani dan olah raga, (i) keterampilan/kejuruan, dan (j) muatan lokal (Pasal 37 ayat 1).

Selanjutnya, regulasi ini menghasilkan turunan perundangan dibawahnya, yaitu PP No 55/2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, yang secara organik menjabarkan berbagai ketentuan dalam UU 20/2003 tentang Sisdiknas terkait penyelenggaraan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan.

Beberapa kebijakan penting yang dapat digarisbawahi dalam konteks penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah yang termaktub dalam PP No 55/2007 tentang pendidikan agama, antara lain: Pertama, Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/

kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan (Pasal 1); Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama (Pasal 2 Ayat 1), Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (Pasal 2 Ayat 2).

Kedua, Setiap satuan pendidikan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan wajib menyelenggarakan pendidikan agama (Pasal 3 Ayat 1); Pendidikan agama pada pendidikan formal dan program pendidikan kesetaraan sekurang-kurangnya diselenggarakan dalam bentuk mata pelajaran atau mata kuliah agama (Pasal 4 Ayat 1); Setiap peserta didik pada pendidikan formal di semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan berhak mendapat pendidikan agama

sesuai agama yang dianutnya dan diajar oleh pendidik yang seagama (Pasal 4 Ayat 2); Kurikulum pendidikan agama dilaksanakan sesuai Standar Nasional Pendidikan (Pasal 5 Ayat 1).

Selanjutnya, PP No. 55/2007 menurunkan aturan organik berupa Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 16 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Pendidikan Agama pada Sekolah. Pada peraturan ini dijabarkan lebih terperinci bagaimana implementasi penyelenggaraan pendidikan agama pada sekolah seharusnya dilaksanakan. Termasuk di dalamnya aturan tentang implementasi kurikulum, proses pembelajaran, standar kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, pembiayaan, penilaian hasil belajar, evaluasi pengelolaan hingga sanksi- sanksi. Untuk mengetahui jalannya implementasi regulasi terhadap sasaran kebijakan (satuan pendidikan), niscaya dilihat terlebih dahulu bagaimana sekolah memenuhi serangkaian kewajiban kebijakan (policy obligation) yang diamanatkan kepadanya.

Dalam konteks penjabaran terhadap UU Sisdiknas dan PP 55 diatas, PMA ini menguraikan secara lebih tegas kewajiban sekolah dalam mengimplementasi penyelenggaraan pendidikan agama sebagai berikut;

Pertama, Tujuan pengelolaan pendidikan agama adalah untuk menjamin terselenggaranya pendidikan agama yang bermutu di sekolah; Pendidikan Agama terdiri dari: Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Agama Katolik, Pendidikan Agama Kristen, Pendidikan Agama Hindu, Pendidikan Agama Buddha dan Pendidikan Agama Khonghucu; Pengelolaan pendidikan agama meliputi standar isi, kurikulum, proses pembelajaran, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, penyelenggaraan,

sarana dan prasarana, pembiayaan, penilaian, dan evaluasi (Pasal 2 Ayat 1, 2 dan 3); Kedua, Setiap sekolah wajib menyelenggarakan pendidikan agama; Setiap peserta didik pada sekolah berhak memperoleh pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama (Pasal 3 Ayat 1 dan 2).

Ketiga, Dalam hal jumlah peserta didik yang seagama dalam satu kelas paling sedikit 15 (lima belas) orang wajib diberikan pendidikan agama kepada peserta didik di kelas;

Dalam hal jumlah peserta didik yang seagama dalam satu kelas kurang dari 15 (lima belas) orang, tetapi dengan cara penggabungan beberapa kelas paralel mencapai paling sedikit 15 (lima belas) orang, maka pendidikan agama pada sekolah dilaksanakan dengan mengatur jadwal tersendiri yang tidak merugikan siswa untuk mengikuti mata pelajaran lain; Dalam hal jumlah peserta didik yang seagama pada sekolah paling sedikit 15 (lima belas) orang, maka pendidikan agama wajib dilaksanakan di sekolah tersebut;

Dalam hal jumlah peserta didik yang seagama pada satu sekolah kurang dari 15 (lima belas) orang, maka pendidikan agama dilaksanakan bekerjasama dengan sekolah lain, atau lembaga keagamaan yang ada di wilayahnya (Pasal 4 Ayat 1, 2, 3, dan 4).

Keempat, Guru Pendidikan Agama minimal memiliki kualiikasi akademik Strata 1/Diploma IV, dari program studi pendidikan agama dan/atau program studi agama dari Perguruan Tinggi yang terakreditasi dan memiliki sertiikat profesi guru pendidikan agama (Pasal 13); Kelima, Pada pasal 16 secara rinci dinyatakan pada ayat (1) Guru Pendidikan Agama harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, profesional, dan kepemimpinan. Ayat (2) Kompetensi pedagogik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

(a) pemahaman karakteristik peserta didik dari aspek isik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual; (b) penguasaan teori dan prinsip belajar pendidikan agama;

(c) pengembangan kurikulum pendidikan agama; (d) penyelenggaraan kegiatan pengembangan pendidikan agama; (e) pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan agama; (f ) pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki dalam bidang pendidikan agama; (g) komunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik;

(h)penyelenggaraan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar pendidikan agama; (i)pemanfaatan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran pendidikan agama; dan (j) tindakan relektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran pendidikan agama.

Selanjutnya pada ayat (3) dinyatakan: Kompetensi kepribadian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: (a) tindakan yang sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia; (b) penampilan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat;

(c) penampilan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa; (d) kepemilikan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri; serta (e) penghormatan terhadap kode etik profesi guru. Pada ayat (4) Kompetensi Sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: (a) sikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif berdasarkan jenis kelamin, agama, ras, kondisi isik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi; (b) sikap adaptif dengan lingkungan sosial budaya tempat bertugas;

dan (c) sikap komunikatif dengan komunitas guru, warga sekolah dan warga masyarakat. Pada ayat (5) Kompetensi Profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

(a) penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran pendidikan agama; (b) penguasaan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran pendidikan agama; (c) pengembangan materi pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama secara kreatif; (d) pengembangan profesionalitas secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan relektif; dan (e) pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.

Terakhir pada ayat (6) Kompetensi kepemimpinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: (a) kemampuan membuat perencanaan pembudayaan pengamalan ajaran agama dan perilaku akhlak mulia pada komunitas sekolah sebagai bagian dari proses pembelajaran agama; (b) kemampuan mengorganisasikan potensi unsur sekolah secara sistematis untuk mendukung pembudayaan pengamalan ajaran agama pada komunitas sekolah; (c) kemampuan menjadi inovator, motivator, fasilitator, pembimbing dan konselor dalam pembudayaan pengamalan ajaran agama pada komunitas sekolah; serta (d) kemampuan menjaga, mengendalikan, dan mengarahkan pembudayaan pengamalan ajaran agama pada komunitas sekolah dan menjaga keharmonisan hubungan antar pemeluk agama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Regulasi perundangan dari UU hingga PMA tersebut, dengan demikian, mewajibkan bagi setiap satuan pendidikan formal (sekolah), baik negeri, swasta umum, maupun sekolah-sekolah Indonesia yang berada di luar

negeri, untuk menyelenggarakan pendidikan agama kepada siswa sesuai dengan agama yang dianutnya oleh guru yang seagama. Dengan kata lain, nihilnya pemberian mata pelajaran pendidikan agama sesuai agama yang dianut oleh peserta didik oleh pendidik seagama di sekolah tertentu merupakan pelanggaran terhadap kebijakan perundang- undangan, dan pada gilirannya akan dijatuhkan sanksi administratif sebagaimana ketentuan yang berlaku.

Walaupun ketentuan tentang sistem pendidikan agama sudah sangat jelas, dalam praktiknya penyelenggaraan pendidikan agama berbeda-beda. Perbedaan model penyelenggaraan pendidikan agama disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: teologis, kelembagaan, sosial dan budaya, serta strategis politis. Secara umum, terdapat empat model atau praktik penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah, yakni: Pertama, Penyelenggaraan pendidikan agama sebagaimana yang terdapat dalam ketentuan sistem pendidikan nasional. Peserta didik mendapatkan pendidikan agama sesuai agamanya dan diajarkan oleh guru yang seagama. Model ini diselenggarakan di sekolah negeri/swasta yang tidak memiliki misi agama tertentu dan sebagian swasta yang berciri khas agama tertentu; Kedua, Model pendidikan religiusitas. Dalam model ini peserta didik mempelajari agama-agama secara bersama-sama di bawah bimbingan guru agama satuan pendidikan yang bersangkutan. Peserta didik yang menganut agama sesuai dengan satuan pendidikan mendapatkan pendalaman materi dari guru agama. Yang lainnya cukup mendiskusikan ajaran agama dan pengalaman beragama sesuai dengan keyakinannya. Model ini diselenggarakan di lembaga pendidikan Katolik; Ketiga, Model pendidikan agama dimana peserta didik dari semua agama hanya menerima

pendidikan agama sesuai dengan agama satuan pendidikan dan diajarkan oleh pendidikan agama satuan pendidikan.

Biasanya model ini dilakukan dengan persetujuan orang tua peserta didik sebelum diterima di satuan pendidikan yang bersangkutan. Sebagian besar satuan pendidikan swasta berciri khas agama tertentu menyelenggarakan model ini;

dan Keempat, Model pendidikan agama dimana peserta didik menerima pendidikan agama sebagaimana ketentuan pemerintah dengan pelajaran tambahan tentang ciri khusus keagamaan satuan pendidikan yang bersangkutan. Model ini antara lain dikembangkan di sekolah yang berada di bawah yayasan atau organisasi keagamaan seperti NU, NW, Muhammadiyah dan organisasi keagamaan lainnya.

Dalam dokumen Menyemai Toleransi Merawat NKRI (Halaman 48-56)