37 Artinya
B. Batas Minimal usia Kawin di Kota Ambon
67 Pasal 8
1. Pencatatan perkawinan dilakukan setelah akad dilaksanakan.
2. Akad dilaksanakan setelah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 dan 5.
Adapun alur pendaftaran perkawinan dalam lingkup KUA Kecamatan sekota Ambon.
68 BAB V
Solusi Pencegahan Perkawinan Usia Dini
Solusi ini memerlukan keterlibatan pihak-pihak : 1. Pemerintah
a. Upaya pencegahan telah banyak dilakukan oleh pemerintah namun juga pemerintah juga tidak bisa mengurangi penyebab perkawinan anak karena perkawinan tersebut disebabkan karena hamil lebih dahulu, salah satu penyebab anak ada yang menikah dibawah batas usia minimal akibat pergaulan dalam lingkungan setelah pulang sekolah atau tidak dalam lingkungan sekolah dan pengaruh media elektronik yang terdapat dalam media sosial serta banyaknya konten yang masih berbau porno yang lolos dari pengawasan Kementerian Telekomunikasi.
b. Upaya juga dilakukan oleh BKKBN dengan melaksanakan setiap tahun pemilihan Duta GENRE.
Duta GENRE ini merupakan anak muda mewakili remaja dalam rangka mengsosialisakan Pendewasaan usia Perkawinan. BKKBN dalam hal batas usia minimal menikah yaitu 21 (duapuluh satu) tahun.
Adapun pengertian Pendewasaan Usia Perkawinan upaya untuk meningkatkan usia pada perkawinan pertama, sehingga mencapai usia ideal pada saat perkawinan. Usia ideal menikah adalah 20 (duapuluh) tahun bagi perempuan dan 25 (duapuluh lima) tahun bagi laki-laki.
Duta GENRE juga mengsosialisasikan Batas Usia Minimal Menikah sesuai dengan Undang-Undang
69
Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
Pendewasaan Usia Perkawinan bukan sekedar menunda sampai usia tertentu saja tetapi mengusahakan agar kehamilan pertama pun terjadi pada usia cukup dewasa.
Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) yang diprogramkan oleh pemerintah dan juga usaha-usaha menolak pernikahan pada usia anak yang dilakukan oleh sejumlah organisasi perlindungan anak hanya akan menjadi wacana perdebatan tak berujung. Solusi yang harus dilakukan oleh Negara dalam melindungi anak dari praktik-praktik pernikahan usia anak adalah dengan merevisi UU R.I No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan KHI. Dukungan ini juga datang dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) bersama-sama sejumlah organisasi gerakan perempuan pernah mengajukan revisi terhadap UU Perkawinan.
Beberapa permasalahan pokok yang diusulkan agar direvisi antara lain; Pendewasaan Usia Perkawinan di atas 18 tahun, dengan tidak membedakan batas minimal usia perkawinan bagi perempuan dan laki- laki. 57Selain itu, berdasarkan Deklarasi Wina, Komite CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) mempertimbangkan bahwa usia minimum untuk
57 Musdah Mulia, ”Menuju Hukum Perkawinan yang Adil:
Memberdayakan Perempuan Indonesia”, dalam Sulistyowati Irianto, Perempuan dan Hukum; Menuju Hukum yang Berperspektif Kesetaraan dan Keadilan,(Cet. I;
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006,), h. 149
70
perkawinan adalah 18 tahun untuk laki-laki dan perempuan. Sedang usulan sekurang-kurangnya 19 tahun tanpa pembedaan usia atas dasar jenis kelamin merupakan implementasi dari berbagai UU nasional yang ada, khususnya UU Perlindungan anak yang menetapkan batas usia anak-anak adalah 18 tahun (Pasal 1 Angka 1 UU R.I No. 23 Tahun 2002).
Demikian juga ketentuan internasional seperti dalam Konvensi Hak Anak yang diratifikasi pemerintah pada tahun 1990 dalam Kepres Tahun 2000 tentang Hak Anak.58 Perbedaan usia sebagaimana tuntutan tersebut, sejalan dengan pendapat Musdah Mulia bahwa perbedaan usia melahirkan subordinat bagi perempuan.59 Namun menurut Nur Fadhilah dan Khairiyati Rahmah Perbedaan usia tidak akan menyebabkan superioritas dan inferioaritas yang satu terhadap yang lain, apabila masing-masing telah dewasa dan dapat menghargai serta menyadari hak dan kewajibannya. Di samping itu, secara ilmiah anak perempuan lebih cepat memasuki usia balig, kematangan alat alat reproduksi perempuan lebih cepat dari kematangan alat reproduksi laki-laki.
58 Lihat Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islami:
Menyingkap rentang Kehidupan Manusia dari Prakelahiran hingga Pascakematian, Edisi I. (Cet. 1; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006), h. 110- 111.
59 Musdah Mulia, ”Menuju Hukum Perkawinan yang Adil:
Memberdayakan Perempuan Indonesia”, dalam Sulistyowati Irianto, Perempuan dan Hukum; Menuju Hukum yang Berperspektif Kesetaraan dan Keadilan,(Cet. I;
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006,), h. 149
71
60Terlepas dari perbedaan batas usia laki-laki dan perempuan dalam perkawinan, dukungan dan tuntutan tentang revisi undang-undang perkawinan merupakan perwujudan dari upaya bersama untuk menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia, karena pada dasarnya anak hanya titipan dan karunia Tuhan. Prinsip mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut anak merupakan kewajiban semua pihak.
Oleh karena itu, merekonstruksi usia perkawinan dalam Undang-undang Perkawinan merupakan langkah kongkrit sebagai upaya menuju penegakan hukum (law enforcement) di Indonesia.
c. Upaya juga diperlukan dalam lingkup jenjang pendidikan dengan mengupayakan sosialisasi pencegahan usia batas minimal kawin yang dampaknya mengalami latar belakang pendidikan rendah, selain itu berakibat juga pada kesehatan alat reproduksi bagi wanita yang belum dewasal tapi dipaksakan mengalami kehamilan. mengalami berakibat
2. Orang Tua
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut
60 Nur Fadhilah dan Khairiyati Rahmah, Rekonstruksi Batas Usia Perkawinan Anak Dalam Hukum Nasional Indonesia, Jurnal De Jure, Jurnal Syariah dan Hukum, Volume 4 No. 1 Juli 2012, h. 49-61.
72
1. Perkawinan usia dini di kota Ambon terjadi pada anak usia sekolah yaitu Sekolah Menengah Pertama sehingga anak tersebut putus sekolah karena malu. Adapula yang memang tidak melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi meskipun jenjang tersebut SMP sehingga mereka cenderung terjadi percekcokan antara suami istri diakibatkan latar belakang pendidikan rendah mengakibatkan sulit mendapatkan pekerjaan atau terbatas lapangan pekerjaan buat suami tersebut. Perkawinan usia dini yang terjadi di kota Ambon tidak tercatat atau perkawinan tidak tercatat dilakukan secara sirri, tapi perkawinan tersebut terpenuhi rukun dan syarat secara Hukum Islam
2. Upaya pencegahan perkawinan usia dini di kota Ambon telah dilaksanakan dengan adanya program Pemerintah Daerah wajib belajar 9 (sembilan) tahun, 6 (enam) tahun Sekolah Dasar 3 (tiga) tahun Sekolah Menengah Pertama dan 3 (tiga) Tahun Sekolah Menengah Atas, wajib belajar tersebut gratis atau merupakan tanggungan Pemerintah.
Upaya pencegahan lain; adanya sosialisasi dari Duta Genre tentang Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) yaitu upaya untuk meningkatkan usia pada perkawinan pertama, sehingga mencapai usia ideal pada saat perkawinan. Usia ideal menikah adalah 20 (duapuluh) tahun bagi perempuan dan 25 (duapuluh lima) tahun bagi laki-laki. Pemilihan Duta Genre dilaksanakan oleh BKKBN. Namun upaya tersebut belum maksimal terbukti adanya anak sekolah yang mengalami perkawinan usia dini pada saat masih mengenyam pendidikan.
B. Saran
Saran atau rekomendasi yang dapat diberikan oleh penelitian ini adalah sebagai berikut.
73
1. Pemerintah lebih mengintensifkan sosialisasi batas usia minimal kawin yang laksanakan oleh beberapa pihak pemerintah yang terkait dengan batas usia minimal kawin diharapkan memberikan penjelasan perkawinan usia dini di kota Ambon serta aturan-aturan batas minimal usia kawin/menikah di Indonesia khususnya di Kota Ambon serta akibat-akibat dari perkawinan usia dini yang banyak dampaknya.
2. Sosialisasi usia batas minimal kawin pada Undang-undang No. 1 Tahun 1974 perlu lebih diintensifkan karena terjadi perubahan yang telah disahkan oleh DPR
3. Bagi masyarakat akademisi dan stakeholder yang terkait berupayamelakukan pencegahan perkawinan usia dini dengan mensosialisasikan aturan batas usia minimal kawin yang baru disahkan yaitu bagi laki-laki 19 (sembilan belas) tahun dan bagi perempuan 19 (sembilan belas) tahun.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’anul Kairm
A. Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta: PT Rineka Cipta 1994
Abdullah, A. Gani dalam Mimbar Hukum, No. 23 Tahun 1995
Asrori, Ahmad “Batas Usia Perkawinan menurut fukaha dan Penerapannya dalam Undang-undang Perkawinan di Dunia Islam” Jurnal Al’Adalah Vol. XII. No. 4. Desember 2015
Badhawy, Imam al-Muhaqqiqin Qadwah al-Mudaqqiqin al-Qadhi Nashir al-din Abi Sai’id Ibdillah bin Umar bin Muhammad al-Syirazy, Tafsir al- Badhawawy (Bayrut: Dar al-Kutub al-‘ilmiyyah 2013
Bukhary, Muhammad bin Ismail Abu Abdullah , Sahih al-Bukhary Juz 7, cet. I; Beirut, 1422 H
Cammack, Mark E., Hukum Islam dalam Politik Hukum Orde Baru”,dalam Sudirman Tebba (ed), Perkembangan Mutakhir Hukum Islam di Asia Tenggara: Studi Kasus Hukum Keluarga dan Pengkodifikasiannya,,Bandung: Mizan, 1993
Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, Lajnah Pentashih al-Qur’an, Jakarta, 2008
Elkhaerati, Pembatasan Usia Perkawinan (Tinjauan Undang-undang dan Maqashidasy-Syari’ah), Jurnal Hukum Islam “Al- Istimbat” Volume 3 No. 1 Tahun 2018.
Fadhilah, Nur dan Khairiyati Rahmah, Rekonstruksi Batas Usia Perkawinan Anak Dalam Hukum Nasional Indonesia, Jurnal De Jure, Jurnal Syariah dan Hukum, Volume 4 No. 1 Juli 2012 Fuad, Ahmad Masfuful, “Ketentuan Batas Minimal Usia
Kawin: Sejarah, Implikasi Penetapan Undang- undang Perkawinan” Jurnal Petita, Volume 1 Nomor 1, April 2016
H.M. Anshary MK, Hukum Perkawinan di Indonesia Masalah-masalah krusial Cet. II; Pustaka Pelajar:
Yogyakarta: 2015
Hasan, Aliah B. Purwakania, Psikologi Perkembangan Islami: Menyingkap rentang Kehidupan Manusia dari Prakelahiran hingga Pascakematian, Edisi I. Cet. 1; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006 Hasyim, Syafiq (ed), Menakar Harga Perempuan:
Ekspolarasi Lanjut Atas Hak-hak Reproduksi Perempuan dalam Islam, Cet. I. Bandung: Mizan, 1999
Helmy, Muhammad, Kedudukan Instruksi Presiden No.
1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam Menurut Peraturan Perudang-undangan di Indonesia Jurnal Mazahib, Vol. XV, No. 1 Juni 2016
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kamus versi online/dalam Jaringan)
Katsier, Al-Imam Abi Fada al-Hafidz Ibnu al-Dimasqy, Tafsir Ibnu Katsir, Bayrut: Dar al-Kutub al-
‘ilmiyyah, 2004
Khallaf, Abdul Wahab , Ilmu Ushul Fiqh, Beirut Dar al- Kuwaitiyah 1998
Marzuki, Mahmud, Penelitian Hukum, Ed. I, Cet. Ke-6, Kencana Prenada Media Group: 2010
Moleong, Lexy. J, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT.RemajaRosdakarya:Bandung:2000
Mulia, Musdah, ”Menuju Hukum Perkawinan yang Adil:
Memberdayakan Perempuan Indonesia”, dalam Sulistyowati Irianto, Perempuan dan Hukum;
Menuju Hukum yang Berperspektif Kesetaraan dan Keadilan,(Cet. I; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006
_______________, Menikah Muda Di Indonesia Suara, Hukum dan Praktek, Ed. 1; Cet. I; Yayasan Pustaka Obor Indonesia: Jakarta: 2018
Nana, Saodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Cet. I; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005.
Peter, Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Ed. I, Cet.
Ke-6, Kencana Prenada Media Group: 2010 Praja, H. Juhaya S., Teori Hukum dan Aplikasinya, Cet.
II; CV Pustaka Setia: Bandung, 2014.
Ridha, Muhammad Rasyid, Tafsir al-Manar, Juz I (Mesir: Al-Manar, 2000 M/1460 H
Sabuni Muhammad Ali Al-, Rawai’ul Bayan Tafsir fi al- Ayat al-Ahkam min Al- Qur’an, diterjemahkan oleh Saleh Mahfud, Tafsir Ayat-ayat Hukum dalam Al-Qur’an, Bandung al-Ma’arif, 1994 Soetandyo,Wignjosoebroto, Hukum Dalam Masyarakat
, Ed. II, Cet I: Graha Ilmu ; Yogyakarta, 2013.
Sudarsono, Kenakalan Remaja, Cet. Ke 2, Jakarta:
Rineka cipta, 1991
Sukmadinata, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya,2006
Sukmadinata, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya,2006.
Sukmadinata, Nana Saodih, Metode Penelitian Pendidikan, Cet. I; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005
Syarifuddin, Amir, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia antara Fiqh Munakahat dan Undang- undang Perkawinan, Ed. I, Cet. Ke-3, Kencana Prenada Media Group: 2009
Wignjosoebroto, Soetandyo, Hukum Dalam Masyarakat, Ed. II, Cet I: Graha Ilmu ; Yogyakarta, 2013 Yahya, Mukhtar & Fatchrrahman, Dasar-dasar
Pembinaan Hukum Fiqh Islam, Cet. Ke 3, Bandung: Al-Maarif, 1993
Yunus, Mahmud, Kamus Bahasa Arab Indonesia, Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsiran Al- Qur’an, 1973
Zuhaili, Wahbah, Fiqih Islam wa AdillatuhuTerjemah oleh Abdul Hayyie al-Kattani, dkk, Jilid 9 Cet. I;
Gema Insani; 2010
PERUNDANG-UNDANGAN
Republik Indonesia UU No. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak.