Sesuatu yang diriwayatkan dari Rasu>l Alla>h biasanya diistilahkan dengan sunnah,52 hadis, khabar53 dan atha>r.54
52 Secara bahasa, kata sunnah (al-sunnat) mempunyai beberapa arti : a. jalan hidup yang baik atau buruk (al-si>rat h}asanat ka>nat aw qabi>h}at).
Muhammad ‘Ajja>j al-Khat}i>b, Us}u>l al-H{adi>th ….., 17.
b. jalan yang diridlai atau tidak (al-t}ari>qat mard}iyyat ka>nat aw ghayr mard}iyyat) dan kebiasaan (al-‘a>dat). ‘Ali> ibn Muh}ammad al-Jurja>ni>, Kita>b al- Ta’ri>fa>t (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988), 22.
Definisi sunnah secara terminologi, terdapat perbedaan antara ahli hadis, ahli usul fikih dan ahli fikih, akibat adanya asumsi dasar tentang perbedaan peran dan fungsi Nabi, apakah sebagai ima>m al-ha>di wa al-ra>’id al- na>s}ih} (pemimpin, pemberi petunjuk, pemberi nasihat, teladan, dan panutan) menurut ahli hadis atau sebagai musharri’ menurut ahli usul fikih. Sunnah menurut ulama hadis adalah :
ﺎﻣ ﻛﻞ ﺔﻴﻘُﻠُﺧ وا ﺔﻴﻘﻠَﺧ ﺔﻔﺻوا ﺮﻳﺮﻘﺗ وا ﻞﻌﻓ وا لﻮﻗ ﻦﻣ ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻠﻰﺻ ﺠا ﻦﻋ ﺮﺛُا ما ءاﺮﺣ رﻟﺬ ﻓﻰ ﻪﺜﻨﺤﺘﻛ ﺔﺜﻌﻛا ﻞﺒﻗ نﻛﺎا ءاﻮﺳ ةﻴﺮﺳ وا
ﺎﻫﺪﻌﺑ
“Segala yang berasal dari Nabi saw., baik perkataan, perbuatan, persetujuan, sifat fisik atau budi pekerti, maupun jalan hidup, baik yang terjadi sebelum diutus menjadi Nabi, sepeti tah}annuth di gua hira’ maupun setelahnya”.
Muhammad ‘Ajjaj Al-Khat}i>b, Us}u>l al-H{adi>th ...., 19.
Dengan definisi itu, sunnah identik dengan hadis dan khabar. (Ibid., 18- 19), karenanya ada hadis marfu>’, mawqu>f dan maqt}u>’. (Ibid., 27). Marfu>’
adalah hadis yang disandarkan kepada Rasul, Mawqu>f adalah hadis yang disandarkan kepada sahabat dan maqt}u>’ adalah hadis yang disandarkan kepada ta>bi’i>n).
Sedang menurut ulama Usul fikih, sunnah adalah :
ﺎﻣ ﻛﻞ
ّﻋﻲﺷﺮ ﻢﻜﻟﺤ ﻼ د نﻮﻜﻳ نا ﺢُﻠﺼﻳ ﺎﻣﻤ ﺮﻳﺮﻘﺗ وا ﻞﻌﻓ وا لﻮﻗ ﻦﻣ نآﺮﻘﻟا َﻴﺮﻏ ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻠﻰﺻ ﺠا ﻦﻋ رﺪ َﺻ
.
“Segala sesuatu yang berasal dari Nabi saw. selain al-Qur’an baik perkataan, perbuatan, maupun persetujuan yang pantas menjadi dali>l hukm shar’”. Ibid.
Pada definisi itu, Nabi dipandang sebagai penetap hukum (musharri’).
Muhammad Abu Zahrah, Us}u>l al-Fiqh, 105. Karenanya, hadis identik dengan sunnah qawliyyah, maksudnya hadis hanya sebatas pada sunnah yang bersifat perkataan. Muhammad ‘Ajjaj Al-Khat}i>b, Us}u>l al-H{adi>th ….., 27 dan Abdul Wahab Khallaf, ‘Ilm Us}u>l al-Fiqh (Kuwait: Da>r al-Qalam, tth.), 36- 37. Menurut ahli usul fikih, dalam keadaan sebagai manusia biasa, ajaran Muhammad saw. tidak mengikat. Sedang dalam keadaan sebagai rasul,
Menurut ulama hadis, hadis55 adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasul Allah setelah diutus menjadi Nabi
ajarannya mengikat. Ketika ajaran beliau tidak mengikat, maka tidak termasuk shari’ah. Namun ketika ajarannya mengikat, maka termasuk shari’ah. Ibid, 44. Sementara menurut ulama Fiqh, sunnah adalah :
ﻻو ضﺮﻔﻟا بﺎﺑ ﻦﻣ ﻦﻜﻳ ﻢﻟو ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻠﻰﺻ ﺠا ﻦﻋ ﺖﺒَﺛ ﺎﻣ ﻛﻞ
ﺐﺟاﻮﻟا .
“Segala sesuatu yang ditetapkan dari Nabi saw. yang tidak termasuk persoalan yang fardu atau wajib. Muhammad ‘Ajjaj Al-Khat}i>b, Us}u>l al- H{adi>th ….., 19.
Berbeda dengan uraian di atas, menurut S{ubh}i> al-S{a>lih}, walaupun hadis sinonim dengan sunnah, karena masing-masing menyandarkan perkataan, perbuatan, persetujuan atau sifat kepada Nabi saw., namun sesungguhnya terdapat perbedaan antara keduanya. Hadis secara umum mencakup perkataan dan perbuatan Nabi saw. namun secara khusus, sunnah hanya mencakup perbuatan Nabi saw. Pemaknaan itu didasarkan pada pernyataan ulama hadis, misalnya, “hadha> al-h}adi>th mukha>lif li al-qiya>s wa al-sunnah wa al-ijma>’” (hadis ini bertentangan dengan qiyas, sunnah dan ijma’), dan
“Ima>m fi> al-h}adi>th wa ima>m fi> al-sunnah wa ima>m fi>hima> ma’an” (ia sebagai imam hadis, sunnah dan keduanya). ‘Abd al-Rahman ibn Muhdi (w.198 H) berpendapat, Sufyan al-Thawri imam dalam hadis, al-Awza’i Imam dalam sunnah dan Malik ibn Anas imam hadis dan sunnah. S{ubh}i> al-S{a>lih}, ‘Ulu>m al-H{adi>th ……., 3 dan 6.
53 Secara bahasa khabar adalah sesuatu yang dikutip atau dibicarakan.
Nas}r Abu> ‘At}a>ya> (ed), Kita>b Majmu>’ah Rasa>’il fi> ‘Ulu>m al-H{adi>th, (Beirut:
Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993), 8. Menurut istilah ahli hadis, khabar adalah segala yang disandarkan kepada Nabi saw., baik perkataan, perbuatan, maupun persetujuan. Khabar dan hadis juga meliputi apa yang berasal dari sahabat atau ta>bi’i>n, sehingga khabar dan hadis mencakup hadis marfu>’, mawqu>f dan maqt}u>’. Muhammad ‘Ajjaj Al-Khat}i>b, Us}u>l al-H{adi>th ..., 27-28.
54 Secara bahasa, atha>r adalah yang tersisa dari sesuatu (al-baqiyyat min al-shay’). Ibid. Menurut sebagian ulama, atha>r adalah sesuatu yang berasal dari sahabat atau ta>bi’i>n, sehingga atha>r hanya mencakup hadis mawqu>f (berasal dari sabahat) dan maqt}u>’ (berasal dari ta>bi’i>n). ‘At}a>ya> (ed), Kita>b Majmu>’ah ..., 8.
55 Secara bahasa, kata hadis (al-h}adi>th) mempunyai beberapa arti : a. sesuatu yang baru (al-jadi>d min al-ashya>’) yang bentuk jamaknya dalam
makna ini adalah h}ida>th, h}udatha>’, dan h}udu>th yang menjadi lawan kata
(bi’that),56 baik perkataan, perbuatan, persetujuan (taqri>r)57 maupun seluruh keadaannya; yaitu sifat fisik (khalqiyyat) atau budi pekerti (khuluqiyyat).58 Pandangan itu didasarkan pada asumsi, bahwa segala hal yang berkaitan dengan pribadi Nabi harus dicontoh dan diteladani, sehingga kepribadian Nabi bersifat mengikat bagi umatnya. Menurut ulama usul fikih, hadis lebih khusus dari pada sunnah, sebab hadis merupakan sunnat qawliyyah.59 Sementara ulama fiqih membatasi ruang lingkup hadis pada persoalan-persoalan yang berkaitan dengan rincian hukum shar' menjadi wajib, sunnah, haram, makru>h dan muba>h}.60 Sebagian ulama berpendapat, bahwa hadis hanya terbatas pada ucapan dan perbuatan Nabi, sedang persetujuan dan sifat- sifatnya tidak termasuk hadis, karena keduanya merupakan ucapan dan perbuatan sahabat.61
qadi>m (sesuatu yang lama). Muhammad al-S{abba>gh, al-H{adi>th al-Nabawi>, (Riya>d}: al-Maktab al-Isla>mi>, 1972), 13.
b. sesuatu yang dekat dan belum lama terjadi (al-qari>b). Muhammad Mahfu>z} ibn ‘Abd Alla>h al-Tirmasi>, Manhaj Dhawi> al-Naz}ar, (Beirut: Dar al-Fikr, 1974), 8.
c. dan berita (al-khabar) yang sama dengan h}iddi>th, yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain (ma>
yuh}dath bih wa yunqal). Al-S{abba>gh, al-H{adi>th ..., 13.
56 Muhammad ‘Ajjaj Al-Khat}i>b, Us}u>l al-H{adi>th ..., 27.
57 Dalam istilah 'Ulu>m al-H{adi>th, taqri>r terkait dengan perbuatan sahabat Nabi saw. yang ternyata dibenarkan atau tidak dikoreksi oleh Nabi saw.
Dengan kata lain, taqri>r adalah sikap Nabi saw. yang membiarkan atau mendiamkan suatu perbuatan sahabat dengan tanpa memberikan penegasan. Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1996), 15.
58 Muhammad ‘Ajjaj Al-Khat}i>b, Al-Sunnat Qabl al-Tadwi>n (Kairo:
Maktabat Wahbah, 1963), 16 dan Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis ……, 15.
59 Muhammad ‘Ajjaj Al-Khat}i>b, Us}u>l al-H{adi>th .... ..., 27.
60 Muhammad 'Ajja>j al-Khat}i>b, Al-Sunnat ……, 16.
61 ‘At}a>ya> (ed), Kita>b Majmu>’ah ..., 8.
Para ahli usul fikih berpendapat bahwa dalam keadaan sebagai manusia biasa, ajaran Muhammad saw. tidak mengikat.
Sedang dalam keadaan sebagai rasul, ajarannya mengikat. Ketika ajaran beliau tidak mengikat, maka tidak termasuk syari’at, tetapi ketika ajarannya mengikat, maka termasuk syari’at.
Namun demikian, pemilahan seperti itu tidak serta merta menyelesaikan perbedaan pendapat, sebab orang bisa berbeda pendapat tentang kapan figur Muhammad berfungsi sebagai rasul dan kapan sebagai manusia biasa.62
Ulama menyepakati bahwa hadis merupakan sumber syari’at Islam kedua setelah al-Qur'an.63 Muhammad Abu Zahrah,64 mengemukakan alasan normatif; bahwa al-Qur'an memerintahkan umat Islam agar taat kepada Nabi Muhammad,65 al-Qur'an menjelaskan, bahwa sunnah Nabi merupakan bentuk penyampaian risa>lat dari Tuhan,66 al-Qur'an menyatakan bahwa Muhammad berbicara berdasarkan wahyu67 dan al-Qur'an dengan tegas mewajibkan umat Islam untuk beriman kepada Nabi Muhammad.
Selain pada ayat-ayat al-Qur’an di atas, juga didasarkan pada hadis-hadis Nabi, di antaranya adalah riwayat al-H{a>kim dalam al-Mustadrak ‘ala> al-S{ah}i>h}ayn,68 Malik dalam Muwat}t}a’nya69 dan
62 Abd al-Wahab Khallaf, ‘Ilm Us}u>l ……, 44. Kitab-kitab tentang af’a>l al- Rasu>l adalah Af’a>l al-Rasu>l saw. Wa Dala>latuha> ‘ala> al-Ah}ka>m karya Prof. Dr.
Muhammad al-‘Arus ‘Abd al-Qadir dan Af’a>l al-Rasu>l saw. Wa Dala>latuha>
‘ala> al-Ah}ka>m al-Shar’iyyah karya Prof. Dr. Muhammad Sulayman al-Ashqar.
63 Muhammad ‘Ajjaj Al-Khat}i>b, Us}u>l al-H{adi>th ….., 34-36 dan Ali H{asib Alla>h, Us}u>l al-Tashri>’ ……, 30-32.
64 Muhammad Abu Zahrah, Us}u>l al-Fiqh, 106-107.
65 al-Qur'an, 4 : 59.
66 Di antaranya, al-Qur'an, 4 : 113.
67 al-Qur'an, 53 : 3-4.
68 Pada kita>b al-‘ilm dengan redaksi berikut :
Muslim dalam S{ah}i>hnya70 dengan riwayat hadis yang panjang, bahwa Nabi saw. meninggalkan dua perkara yang harus dipegang teguh, yaitu al-Qur'an dan al-Sunnah; juga riwayat Abu> Da>wud,71 al-Tirmidhi,72 al-Da>rimi73 dan Ahmad ibn Hanbal74 dari salah seorang sahabat Mu'adh ibn Jabal tentang dialognya dengan Nabi seputar dasar penetapan hukum, yaitu al-Qur'an, hadis dan ijtihad.
Lebih khusus, Abdul Wahhab Khalaf75 mengemukakan alasan kehujjahan sunnah, di samping keharusan taat kepada Rasul di atas, adanya ijma>’ para sahabat, baik ketika Nabi saw.
masih hidup maupun setelah wafat, untuk mengikuti sunnah Nabi saw., dan bahwa syari’at al-Qur’an masih bersifat global, belum dijelaskan bagaimana cara pelaksanaannya, sehingga
ﺎﻨﺛ ﺎﻔﺳﻷا ﻞﻀﻔﻟا ﻦﺑ سﺎﺒﻌﻟا ﺄﺒﻧأ ﻪﻴﻘﻔﻟا قﺎﺤﺳإ ﻦﺑ ﺪﺣﻤأ ﺮﻜﺑ ﻮﺑأ ﺎﻨﺛﺪﺣ ﺲﻳوأ أ ﻦﺑ ﻞﻴﻋﺎﻤﺳإ
اﺮﻌﺸﻟا ﻞﻀﻔﻟا ﻦﺑ ﺪﻤﻣﺤ ﻞﻴﻋﺎﻤﺳإ ﻳﻰﺒﺮﺧأ و
سﺎﺒﻋ ﻦﺑا ﻦﻋ ﺔﻣﺮﻜﻋ ﻦﻋ ﻠﻲﻳ ا ﺪﻳز رﻮﺛ ﻦﻋ يﺪﺟ ﺎﻨﺛ :
لﺎﻘﻓ عادﻮﻟا ﺔﺠﺣ ﻓﻲ سﺎﺠا ﺐﻄﺧ ﻢﻠﺳ و ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻠﻰﺻ ﷲا لﻮﺳر نأ :
نﺎﻄﻴﺸﻟا ﺲﺌﻳ ﺪﻗ
ﺎﻤﻋأ ﻦﻣ نوﺮﻗﺎﺗﺤ ﺎﻣﻤ ﻚﻟذ ىﻮﺳ ﺎﻤﻴﻓ عﺎﻄﻳ نأ ر ﻪﻨﻜﻟ و ﻢﻜﺿرﺄﺑ ﺪﺒﻌﻳ نﺄﺑ
ﻪﺑ ﻢﺘﻤﺼﺘﻋا نإ ﺎﻣ ﻢﻜﻴﻓ ﺖﻛﺮﺗ ﺪﻗ إ سﺎﺠا ﺎﻬﻳأ ﺎﻳ اورﺬﺣﺎﻓ ﻢﻜﻟ
اﺪﺑأ اﻮﻠﻀﺗ ﻦﻠﻓ : ﻢﻠﺳ و ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻠﻰﺻ ﻪﻴﺒﻧ ﺔﻨﺳ و ﷲا بﺎﺘﻛ
...
69 Pada kita>b al-ja>mi’ ba>b al-nahy ‘an al-qawl bi al-qadr.
70 Pada kita>b al-H{ajj ba>b H{ajjat al-Naby.
71 Pada kita>b al-Aqd}iyyah ba>b Ijtiha>d al-ra’y fi> al-qad}a>’ dengan redaksi berikut :
ِﻦﺑ ذﺎﻌﻣ بﺎﺤﺻأ ﻦﻣ ﺺْ ِﺣﻤ ِﻞﻫأ ﻦﻣ ٍسﺎﻧأ ﻦﻋ ﺔﺒﻌﺷ ِﻦﺑ ةﻴﺮﻐﻟﻤا أ ِﻦﺑوِﺮْﻤﻋِﻦﺑثِرﺎﻟﺤاِﻦﻋ نﻮﻋ ﺑﻰأ ﻦﻋ ﺔﺒﻌﺷ ﻦﻋ ﺮﻤﻋ ﻦﺑ ﺺﻔﺣ ﺎﻨﺛّﺪﺣ
ّنأ ٍﻞﺒﺟ
ّﷲا لﻮﺳر - ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻠﻰﺻ -
ﺎﻌﻣ ﺚﻌﺒﻳ نأ دارأ ﺎّﻤﻟ لﺎﻗ ِﻦﻤ ا ﻟﻰإ اذ
» ءﺎﻀﻗ ﻚﻟ ضﺮﻋ اذإ ﻘﺗ ﻒﻴﻛ
« .
ّﷲا بﺎﺘﻜﺑ ﻗأ لﺎﻗ .
لﺎﻗ
» ﺪﺗﺠ ﻢﻟ نﺈﻓ
ّﷲا بﺎﺘﻛ ﻓﻰ ّﷲا لﻮﺳر ﺔّﻨﺴﺒﻓ لﺎﻗ« . -
ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻠﻰﺻ -
. لﺎﻗ
ّﷲا لﻮﺳر ﺔّﻨﺳ ﻓﻰ ﺪﺗﺠ ﻢﻟ نﺈﻓ»
- ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻠﻰﺻ
ّﷲا بﺎﺘﻛ ﻓﻰ ﻻو-
« . لﺎﻗ
ﻮُﻟآ ﻻو أر ﺪﻬﺘﺟأ ُلﻮﺳر بﻀﺮﻓ .
ّﷲا - ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻠﻰﺻ
َلﺎَﻗَو ُهَرْﺪ َﺻ-
»
ّﷲا لﻮﺳر ﺮُﻳ ﺎﻟﻤ ّﷲا ِلﻮﺳرَلﻮﺳر ﻖّﻓو ىّا ّﷲ ﺪﻤﻟﺤا
«.
72 Pada kita>b al-Ah}ka>m ‘an rasu>l Alla>h ba>b ma> ja>’a fi> al-Qa>d}i> kayfa yaqd}i>.
73 Pada kita>b al-muqaddimat ba>b al-futya> wa ma> fi>h min al-shiddah.
74 Dengan redaksi berikut :
ﻦﻣ ذﺎﻌﻣ بﺎﺤﺻأ ﻦﻣ سﺎﻧ ﻦﻋ ﺔﺒﻌﺷ ﻦﺑ ةﻴﺮﻐﻟﻤا أ ﻦﺑ وﺮﻤﻋ ﻦﺑ ثﺮﻟﺤا ﻦﻋ نﻮﻋ أ ﻦﻋ ﺔﺒﻌﺷ ﺎﻨﺛ ﺮﻔﻌﺟ ﻦﺑ ﺪﻤﻣﺤ ﺎﻨﺛ أ ﻨﻲﺛﺪﺣ ﷲا ﺪﺒﻋ ﺎﻨﺛﺪﺣ ذﺎﻌﻣ ﻦﻋ ﺺﺣﻤ ﻞﻫأ :
نا ﻊﻨﺼﺗ ﻒﻴﻛ لﺎﻘﻓ ﻦﻤ ا ﻟﻰإ ﻪﺜﻌﺑ ﻴﻦﺣ ﻢﻠﺳ و ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻠﻰﺻ ﷲا لﻮﺳر نا
لﺎﻗ ﷲا بﺎﺘﻛ ﻓﻲ ﺎﻤﺑ ﻗأ لﺎﻗ ءﺎﻀﻗ ﻚﻟ ضﺮﻋ
ﺪﻬﺘﺟا لﺎﻗ ﻢﻠﺳ و ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻠﻰﺻ ﷲا لﻮﺳر ﺔﻨﺳ ﻓﻲ ﻦﻜﻳ ﻢﻟ نﺎﻓ لﺎﻗ ﻢﻠﺳ و ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻠﻰﺻ ﷲا لﻮﺳر ﺔﻨﺴﺒﻓ لﺎﻗ ﷲا بﺎﺘﻛ ﻓﻲ ﻦﻜﻳ ﻢﻟ نﺎﻓ
ﻻ أر
ر لﻮﺳر ﻖﻓو ي ا ﷲ ﺪﻤﻟﺤا لﺎﻗ ﻢﺛ يرﺪﺻ ﻢﻠﺳ و ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻠﻰﺻ ﷲا لﻮﺳر بﻀﺮﻓ لﺎﻗ ﻮﻟآ
ﻠﻰﺻ ﷲا لﻮﺳر ﺮﻳ ﺎﻟﻤ ﻢﻠﺳ و ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻠﻰﺻ ﷲا لﻮﺳ
ﻢﻠﺳ و ﻪﻴﻠﻋ ﷲا 75 Abd al-Wahab Khallaf, ‘Ilm Us}u>l ……, 37-38..
syari’at tidak bisa dilaksanakan tanpa kehadiran sunnah Nabi saw.
Al-Qur’an merupakan petunjuk yang global tentang syari’at Islam, ia rujukan pertama, di dalamnya terkandung kaidah- kaidah yang bersifat global (al-qawa>’id al-kulliyyah) walaupun juga terdapat banyak rinciannya. Karenanya ‘Abd Allah ibn Umar mengatakan, barang siapa mampu menghafal al-Qur’an, sesungguhnya ia membawa urusan yang besar dan mendapat derajat kenabian hanya saja tidak mendapat wahyu. Ibn Hazm juga mengatakan :
ﻟا ﻓﻰ ﻞﺻأ و ﻻا بﺎﺑ ﺎﻬﻨﻣ ﺲﻴﻟ ﻪﻴﻓ ﻪﻘﻔﻟا باﻮﺑأ ﻛﻞ ﻪﻨﻠﻌﺗ ﺔﻨﺴﻟاو بﺎﺘﻜ
Setiap persoalan fiqih pasti terdapat dasarnya dalam al- Qur’an yang kemudian diumumkan oleh al-Sunnah.
Sebagaimana firman Allah : ء ﻦﻣ بﺎﺘﻜﻟا ﻓﻰ ﺎﻨﻃﺮﻓ ﺎﻣ (QS. Al- An’a>m, 38).76
76 Muhammad Abu Zahrah, Us}u>l al-Fiqh, 90-91. Pada ayat di atas terdapat kata shay’ yang merupakan ism nakirah dalam kontek kalimat nafy (siya>q al-nafy). Dalam kajian ‘Ulu>m al-Qur’a>n, di antara bentuk lafal ‘a>m (umum) adalah ism nakirah dalam kontek kalimat nafy>, nahy> atau syarat (siya>q al-nafy wa al-nahy aw al-shart}), seperti QS. al-Baqarah 197 : قﻮﺴﻓﻻو ﺚﻓر ﻼﻓ ﺞﻟﺤا ﻓﻰ لاﺪﺟﻻو,QS. Al-Isra>’ 23 : ﺎﻤﻫﺮﻬﻨﺗﻻو فأ ﻢﻟﻬ ﻞﻘﺗ ﻼﻓ dan QS. Bara>’at 6 : ﻴﻦﻛﺸﺮﻟﻤا ﻦﻣ ﺪﺣأ ناو ﷲا مﻛﻠﺎ ﻊﻤﺴﻳ ﺣ هﺮﺟﺄﻓ كرﺎﺠﺘﺳا. Manna>’ al-Qat}t}a>n, Maba>h}ith fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n (Tt.:
Manshu>ra>t al-‘As}r al-H{adi>th, 1973), 223. Karena itu dalam Ilmu Usul fikih terdapat kaedah : ﻢﻌﺗ ﻔﻲﺠا قﺎﻴﺳ ﻓﻲ ةﺮﻜﺠا (ism nakirah dalam kontek kalimat nafy menunjukkan arti lafal ‘a>m (umum). Kata Abu> al-Ma’a>li> dalam al-Burha>n sebagaimana menjadi kesepakatan ulama’ Usul Fiqih, مﻮﻤﻌﻟا ﺪﻴﻔﺗ ﻔﻲﺠا قﺎﻴﺳ ﻓﻲ ةﺮﻜﺠا (ism nakirah dalam kontek kalimat nafy menunjukkan arti umum). Demikian juga : مﻮﻤﻌﻟا ﺪﻴﻔﺗ ﻬﻲﺠا قﺎﻴﺳ ﻓﻲ ةﺮﻜﺠا (ism nakirah dalam kontek kalimat nahy menunjukkan arti umum), bahkan dalam kontek kalimat syarat juga bisa menunjukkan arti umum. Muhammad ibn ‘Umar ibn al-H{usayn Fakhr al- Di>n al-Ra>zi> (w.606 H), al-Mah}s}u>l fi> ‘Ilm al-Us}u>l (Beirut: Da>r al-Kutub al-
‘Ilmiyyah, 1999), 307 dan Abd al-Wahab Khallaf,‘Ilm Us}u>l, 182-183, dan Muhammad Abu Zahrah “catatan kaki nomor 1”, Us}u>l al-Fiqh, 157.
Menurut ‘Ajjaj al-Khatib, al-Qur’an merupakan wahyu yang terbaca (matluww) dan dinilai ibadah ketika membacanya.
Sedang hadis merupakan wahyu yang tidak terbaca (ghayr matluww) dan tidak dinilai ibadah ketika membacanya. Karena sama-sama wahyu, maka hadis berkedudukan sama dengan al- Qur’an dan karenanya sama-sama wajib dilakukan.77 Imam Syafi’i menganggap al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai satu sumber istidla>l, sehingga keduanya saling melengkapi dalam menjelaskan syari’at. Imam al-Shatibi juga menjelaskan, bahwa dalam melakukan istinba>t} tidak cukup hanya berpedoman pada al-Qur’an tanpa melihat penjelasannya dalam al-Sunnah.78
Dari segi periwayatannya, hadis Nabi berbeda dengan al- Qur'an. Periwayatan al-Qur'an berlangsung secara mutawa>tir,79 sedang hadis Nabi sebagaian periwayatannya berlangsung secara mutawa>tir dan sebagian yang lain secara ah}a>d.80 Oleh karenanya, dilihat dari segi periwayatannya, al-Qur'an memiliki kedudukan
77 Muhammad ‘Ajjaj Al-Khat}i>b, Us}u>l al-H{adi>th… 36.
78 Muhammad Abu Zahrah, Us}u>l al-Fiqh, 105-106. Terkait dengan keberadaan al-Qur’an dan hadis sebagai sumber istidla>l di atas, Imam Shafi’i mengatakan :
َﺗ ﺖﺴﻴﻠﻓ لِﻨﺰ ﺑ ٍﺪﺣﺄ ٌﺔﻟزﺎﻧ ﷲا ﻦﻳد ﻞﻫأ ﻦﻣ
ّﻻإ ّ ا ﷲا بﺎﺘﻛ و ُﻞ
ُﻬﻟا ﻞﻴﺒﺳ ﻟﺒ ﺎﻬﻴﻓ ىﺪ
Bukankah sesuatu yang turun pada salah seorang pemeluk agama Allah melainkan sudah terdapat petunjuk (al-dali>l) dalam kitab Allah menuju jalan petunjuk padanya. Muhammad ibn Idris al-Shafi’i (150-204 H), al- Risa>lat, (Beirut: Dar al-Fikr, tth.), 20.
79Dalam terminologi 'Ulu>m al-H{adi>th, mutawa>tir adalah istilah bagi hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang pada setiap tingkatan periwayat, mulai dari tingkatan sahabat hingga mukharrij sebagai periwayat terakhir, yang menurut rasio, mustahil bersepakat untuk berdusta. Subhi al-S{a>hlih}, 'Ulu>m al-H{adi>th wa Mus}t}alah}uhu (Beirut: Da>r al-'Ilm al-Mala>yin, 1977), 146 dan Mah}mu>d al-T{ah}h}a>n, Taysi>r Mus}t}alah} al-H{adi>th (Surabaya: Shirkah Bungkul Indah, 1985), 18.
80Ah}a>d adalah istilah bagi hadis yang diriwayatkan oleh orang perorang yang tidak mencapai tingkat mutawa>tir.
sebagai qat}'i> al-wuru>d. Sedang hadis, ada sebagian yang memiliki kedudukan sebagai qat}'i> al-wuru>d dan sebagian yang lain bahkan yang terbanyak memiliki kedudukan sebagai z}anni> al-wuru>d.81
Berikut ini uraian tentang karakter syari’at yang dibawa al- Qur’an dan kaitannya dengan fungsi hadis :
1. Al-Qur’an menjelaskan secara sempurna, lalu al-sunnah menetapkannya, sebagaimana pada firman Allah : ﻢﻜﻨـﻣ ﺪﻬﺷ ﻦﻤﻓ ﻪﻤﺼﻴﻠﻓ ﺮﻬﺸﻟا,
2. Al-Qur’an menjelaskan secara global, lalu al-sunnah menjelaskan rinciannya, seperti perintah zakat,
3. Al-Qur’an menjelaskan dengan bentuk isha>rat atau ‘iba>rat, lalu al-sunnah menjelaskan secara sempurna, seperti hukuman budak perempuan (amat) setengah dari hukuman perempuan merdeka.82
Terkait dengan uraian di atas, hadis mempuyai fungsi sebagai baya>n terhadap al-Qur’an, yaitu baya>n ta’ki>d (penguat), baya>n tafsi>r atau tafs}i>l (penjelas terhadap keglobalan, pembatas terhadap kemutlakan dan pengkhusus terhadap keumuman al- Qur’an) dan baya>n tashri>’ (pembuat syari’at baru), walaupun baya>n tashri>’ ini diperselisihkan para ulama.83 Dalam pandangan Abu Zahrah, al-Sunnah mempunyai fungsi menjelaskan al- Qur’an dalam tiga hal. Pertama, menjelaskan kesamaran(mubham) al-Qur’an, menjelaskan rincian keglobalannya, dan mengkhususkan keumumannya, bahkan
81Qat}'i> al-wuru>d atau qat}'i> al-thubu>t adalah tingkat kebenaran berita yang bersifat absolut (mutlak). Sedang z}anni> al-wuru>d adalah tingkat kebenaran berita yang bersifat relatif. Al-Sha>t}ibi>, al-Muwa>faqa>t ……, 15-16.
82 Muhammad Abu Zahrah, Us}u>l al-Fiqh, 90-91.
83 Muhammad ‘Ajjaj Al-Khat}i>b, Us}u>l al-H{adi>th…, 36-50, H{asib Alla>h, Us}u>l al-Tashri>’ …, 32-35, dan Muhammad Abu> Zahw, al-H{adi>th ……, 36- 45.
melakukan naskh terhadap hukum al-Qur’an. Kedua, menambahkan perbuatan fard} bagi persoalan yang telah ditetapkan dasar(us}u>l)nya dalam al-Qur’an. Ketiga, menetapkan hukum bagi persoalan yang tidak disebutkan al-Qur’an melalui nas}nya, namun tidak berarti menambahkan hukum bagi persoalan yang telah ditetapkan dasar(us}u>l)nya dalam al- Qur’an.84
Bertolak dari klasifikasi itu, otoritas hadis menempati posisi kedua sesudah al-Qur'an dalam tataran validitas kehujjahan kandungannya sekaligus hadis sebagai sumber hukum Islam.
Dari situ dapat dimengerti, bahwa pemaknaan penggunaan hadis sebagai sumber hukum Islam ternyata digunakan secara langsung (ta’s}i>li>) ketika berhadapan dengan persoalan. Namun lebih dari itu terdapat kemungkinan penggunaan hadis sebagai sumber hukum Islam secara tidak langsung, karena melalui ta’bi>r-ta’bi>r dalam kitab-kitab salaf yang diyakini sebagai hasil pemahaman dari al-Qur’an dan hadis (ta’ki>di>). Kesimpulan kedua itu didasarkan pada pendapat Ibn Hazm yang mengatakan, setiap persoalan fiqih pasti terdapat dasarnya dalam al-Qur’an yang kemudian dipublikasikan oleh al-Sunnah.85
84 Muhammad Abu Zahrah, Us}u>l al-Fiqh, 112-114. Sebagai contoh dari fungsi pertama adalah penjelasan al-sunnah terhadap salat dan zakat.
Bahkan Imam Syafi’i menganggap hadis : ﺔﻨﺑا ﻻو ﺎﻬﺘﺧأ ﺔﻨﺑا ﻟﺒ ﻻو ﺎﻬﻛﺤﺎﺧ ﻟﺒ ﻻو ﺎﻬﺘﻤﻋ ﻟﺒ ةأﺮﻟﻤا ﺢﻜﻨﺗ ﻻ ﺎﻬﻴﺧأ sebagai pengkhusus (takhs}i>s}) terhadap keumuman ayat : ﻢﻜﻟذ ءآروﺎﻣ ﻢﻜﻟ ﻞﺣاو. Untuk contoh dari fungsi kedua adalah ketetapan al-sunnah terhadap pemisahan suami istri akibat li’a>n, seperti pada riwayat Abu Dawud pada ba>b al-li’a>n dari Ibn ‘Abbas tentang peristiwa Hilal Ibn Umayyah, walaupun dasar hukumnya telah disebutkan dalam al-Qur’an pada surat al-Nur, 6-8.
Sedang contoh untuk fungsi ketiga adalah hadis tentang keharaman keledai jinak, walaupun dasarnya telah disebutkan dalam al-Qur’an pada ayat : ﻢﻟﻬ ﻞﻳﺤو ﺚﺋﺎﺒﻟﺨا ﻢﻬﻴﻠﻋ مﺮﻳﺤو تﺎﺒﻴﻄﻟا.
85 Ibid., 90-91.