O. Beban Struktur
3. Beban Angin
Beban angin adalah beban yang bekerja pada struktur bangunan akibat pengaruh struktur yang mempertahankan posisi tegaknya terhadap dorongan angin, sehingga energi kinetik angin akan berubah menjadi energi potensial memberi beban terhadap bangunan. Efek beban angin pada suatu struktur bergantung pada berat jenis dan kecepatan udara, sudut luas angin, bentuk dan kekakuan struktur bangunan.
Beban angin disebabkan oleh selisih tekanan udara. Tekanan tiup minimal harus ditentukan 25 kg/m2, dan di tepi perairan sampai sejauh 5 km dari pantai ditentukan minimum 40 kg/m2. adapun persamaan untuk menetukan tekanan tiup angin, yaitu:
π = π£2 16 Dimana:
p = tekanan tiup angin (kg/m2) v = kecepatan angin (m/s) 4. Beban Gempa
Beban gempa adalah beban yang muncul pada suatu struktur bangunan akibat pergerakan tanah yang disebabkan oleh gempa bumi (baik tektonik, maupun vulkanik). Sehingga, gempa mengakibatkan beban pada struktur karena adanya interaksi tanah terhadap karakteristik respon struktur. Baik tidaknya respon struktur bangunan terhadap beban gempa bergantung pada riwayat waktu pembebanan.
Besar kecilnya kekuatan beban gempa dipengaruhi nilai percepatan tanah dalam satu kali getaran di dalam gempa tersebut.
SNI 03-1726-2002 memaparkan perencanaan suatu nilai beban geser gempa (V) melalui persamaan berikut
Analisis Perencanaan Struktur Gedung Pusat Penelitian 26 Lantai dengan Pendekatan Monolitik dan Dialektik β50 π = πΆ. πΌ. ππ‘
π Di mana :
V = beban geser gempa C = koef. Beban gempa dasar I = faktor keutamaan
R = faktor reduksi gempa
Wt = kombinasi beban hidup dan beban mati = 1,05 (D + 0,3L)
Adapun pemetaan zonasi gempa untuk memudahkan menghitung persamaan di atas melalui gambar berikut ini.
Gambar 49 Peta Zonasi Gempa di Indonesia
Sumber : SNI 03-1726-2002
Gambar 50 Grafik Spektrum Koef. Gempa Dasar (C) Tiap-Tiap Zonasi
Sumber : SNI 03-1726-2002
Analisis Perencanaan Struktur Gedung Pusat Penelitian 26 Lantai dengan Pendekatan Monolitik dan Dialektik β51 Dalam analisis gempa dinamik, terdapat pula nilai percepatan puncak tanah berdasarkan jenis-jenis tanah untuk tiap-tiap zona wilayah gempa sebagai pembanding yang dapat dilihat melalui tabel berikut ini.
Tabel 6 Percepatan Puncak pada Batuan Dasar dan Muka Tanah untuk Tiap- Tiap Zona Gempa di Indonesia
Zona Wilayah
Gempa
Percepatan Puncak Batuan Dasar
(g)
Percepatan Puncak Muka Tanah, Ao (g) Tanah
Keras
Tanah Sedang
Tanah Lunak
Tanah Khusus
1 0,03 0,04 0,05 0,08
Diperlukan evaluasi khusus di setiap lokasi
2 0,10 0,12 0,15 0,20
3 0,15 0,18 0,23 0,30
4 0,20 0,24 0,28 0,34
5 0,25 0,28 0,32 0,36
6 0,30 0,33 0,36 0,38
Sumber : SNI 03-1726-2002
Selain itu, dari data-data ini dapat pula ditentukan persamaan waktu getar alami (T) melalui persamaan berikut.
π = 0,085 π»34 β¦ β¦ β¦ . πππ‘π’π ππππ‘ππ π΅πππ π = 0,06 π»34 β¦ β¦ β¦ . πππ‘π’π ππππ‘ππ π΅ππ‘ππ π =0,09 π»
βπ΅ β¦ β¦ β¦ . πππ‘π’π ππ‘ππ’ππ‘π’π πΏπππππ¦π Di mana :
T = waktu getar alami (s) H = tinggi bangunan (m)
B = panjang bangunan pada arah yang ditinjau (m)
Menurut SNI 1726 (2012) wilayah Indonesia meliputi peta percepatan puncak (PGA) dan respon spektra percepatan di batuan dasar (SB) untuk perioda pendek 0.2 detik (Ss) dan untuk periode 1.0 detik(S1) dengan redaman 5%
mewakili tiga level hazard gempa yaitu 500, 1000 dan 2500 tahun atau memiliki kemungkinan terlampaui 10% dalam 50 tahun, 10% dalam 100 tahun, dan 2%
dalam 50 tahun.
Analisis Perencanaan Struktur Gedung Pusat Penelitian 26 Lantai dengan Pendekatan Monolitik dan Dialektik β52 Gambar 21 Pembagian Wilayah Gempa di Indonesia Untuk S1
Sumber :Tata cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung SNI 1726:2012
Gambar 22 Pembagian Wilayah Gempa di Indonesia Untuk SS
Sumber :Tata cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung SNI 1726:2012
Adapun faktor keutamaan gempa (I) dapat diketahui melalui tabel pengelompokkan bangunan berdasarkan resiko gempa berikut ini.
Analisis Perencanaan Struktur Gedung Pusat Penelitian 26 Lantai dengan Pendekatan Monolitik dan Dialektik β53 Tabel 7 Kategori Resiko Gempa pada Bangunan
Pemanfaatan Gedung Kategori
Resiko
Gedung dan nongedung yang memiliki resiko rendah terhadap jiwa manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk, antara lain:
- Fasilitas pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan - Fasilitas sementara
- Gudang penyimpanan
- Rumah jaga dan struktur kecil lainnya
I
Semua gedung dan struktur lain, kecuali yang termasuk dalam kategori resiko I, III, dan IV, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
- Perumahan
- Rumah toko dan rumah kantor - Pasar
- Gedung perkantoran
- Gedung apartemen / rumah susun - Pusat perbelanjaan / mall - Bangunan industri - Fasilitas manufaktur - Pabrik
II
Gedung dan nongedung yang memiliki resiko tinggi terhadap jiwa manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
- Bioskop
- Gedung pertemuan - Stadion
- Fasilitas kesehatan yang tidak memiliki unit bedah dan unit gawat darurat
- Fasilitas penitipan anak - Penjara
- Bangunan untuk orang jompo
Gedung dan nongedung, tidak termasuk dalam kategori resiko IV, yang memiliki potensi untuk menyebabkan dampak ekonomi yang besar dan/atau gangguan massal terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari bila terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
- Pusat pembangkit listrik biasa - Fasilitas penanganan air - Fasilitas penanganan limbah - Pusat telekomunikasi
Gedung dan nongedung yang tidak termasuk dalam kategori resiko IV, (termasuk, tapi tidak dibatasi untuk fasilitas manufaktur, proses, penanganan, penyimpanan, penggunaan atau tempat pembuangan bahan bakar berbahaya, bahan kimia berbahaya, atau bahan yang mudah meledak) yang mengandung bahan beracun atau peledak di mana jumlah kandungan bahannya melebihi nilai batas yang diisyaratkan oleh instansi yang berwenang dan cukup menimbulkan bahaya bagi masyarakat jika terjadi kebocoran.
III
Analisis Perencanaan Struktur Gedung Pusat Penelitian 26 Lantai dengan Pendekatan Monolitik dan Dialektik β54 Gedung dan nongedung yang ditunjukkan sebagai fasilitas yang penting,
termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
- Bangunan monumental
- Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan
- Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang memiliki fasilitas bedah dan unit gawat darurat
- Fasilitas pemadam kebakaran, ambulans, dan kantor polisi, serta garasi kendaraan darurat
- Tempat perlindungan terhadap gempa bumi, angin badai, dan tempat perlindungan darurat lainnya
- Fasilitas kesiapan darurat, komunikasi, pusat operasi, dan fasilitas lainnya untuk tanggap darurat
- Pusat pembangkit energi dan fasilitas publik lainnya yang dibutuhkan saat keadaan darurat
- Struktur tambahan (termasuk menara telekomunikasi, tangki
penyimpanan bahan bakar, menara pendingin, struktur stasiun listrik, tangki air pemadam kebakaran atau struktur rumah atau struktur pendukung air atau material atau alat pemadam kebakaran) yang diisyaratkan untuk beroperasi saat keadaan darurat
- Gedung dan nongedung yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi struktur bangunan lain yang masuk ke dalam kategori resiko IV.
IV
Sumber : SNI 1726-2012
Sehingga, faktor keutamaan gempa bangunan sesuai fungsinya dapat diketahui melalui tabel faktor reduksi berikut ini.
Tabel 8 Faktor Keutamaan Gempa
Kategori Gedung Faktor Keutamaan
Gempa (Ie)
Kategori I dan II 1,0
Kategori III 1,25
Kategori IV 1,5
Sumber : SNI 1726-2012
Serta, penentuan nilai faktor reduksi gempa dipaparkan melaui tabel berikut ini.
Tabel 9 Tabel Nilai Reduksi Gempa (R)
Taraf Kinerja
Struktur Gedung Β΅ R
Elastis Penuh 1.0 1.6
Daktail Parsial
1.5 2.4
2.0 3.2
2.5 4.0
3.0 4.8
3.5 5.6
Analisis Perencanaan Struktur Gedung Pusat Penelitian 26 Lantai dengan Pendekatan Monolitik dan Dialektik β55
4.0 6.4
4.5 7.2
5.0 8.0
Daktail 5.3 8.5
Sumber : SNI 1726-2012
P. Aplikasi ETABS v16.2.1 1. Model Struktur
Pada ETABS v16.2.1, model yang digunakan dalam analisis dan desain didefinisikan oleh pengguna dengan memanfaatkan graphical user interface facility sebagai konsep dasar program berbasis Windows. Model tersebut biasanya dilengkapi dengan fitur-fitur yang mewakili struktur, antara lain:
a. Properti material.
b. Elemen frame untuk menunjukkan balok, kolom, dan rangka batang.
c. Elemen shell untuk menunjukkan dinding, lantai, dan elemen-elemen yang tipis.
d. Joints untuk menunjukkan hubungan antara elemen-elemen.
e. Restraints dan Springs untuk perletakan titik.
f. Pembebanan, termasuk berat sendiri, gempa, angin dan sebagainya.
g. Setelah menganalisis struktur, maka model juga menampilkan simpangan, gaya- gaya dalam, maupun reaksi-reaksi pada join-join tertentu sesuai dengan pembebanan yang telah ditentukan.