• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORITIS

B. Beban Kerja

1. Pengertian Beban Kerja

Beban kerja didefinisikan sebagai jumlah pekerjaan dalam suatu unit atau departemen (Huber, 2000). Hasibuan dalam Koesmowidjojo (2021) mendefinisikan beban kerja sebagai upaya untuk merinci komponen dan tujuan beban kerja dalam sejumlah waktu dan unit keluaran tertentu. Menurut Huber

(2000), beban kerja keperawatan didefinisikan sebagai kebutuhan akan pelayanan keperawatan dari seorang pasien.

Beban kerja keperawatan adalah sekumpulan aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh perawat sebagai bagian dari tugasnya di unit pelayanan keperawatan. Beban kerja meliputi beban kerja fisik dan mental. Beban kerja yang terlalu banyak atau kapasitas fisik yang terlalu rendah dapat menjadi predisposisi pekerja terhadap penyakit atau gangguan akibat kerja (Efendy, 2009).

Beban kerja perawat dapat dilihat dari aspek-aspek seperti tugas yang dilakukan oleh fungsi primer dan fungsi sekunder yang dilakukan, jumlah pasien yang dirawat perhari, per bulan dan per tahun, kondisi pasien, rata-rata jumlah pasien. diobati, tindakan langsung dan tidak langsung yang diperlukan oleh pasien, frekuensi pengobatan, setiap tindakan yang diperlukan, dan rata-rata waktu yang diperlukan untuk melakukan tindakan (Nursalam, 2014).

Sementara itu, pengertian beban kerja menurut Haryanto 2004 (dalam adikurnia 2010) jumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh seseorang atau sekelompok orang selama periode waktu tertentu dalam keadaan normal pada kemampuan tubuh pekerja dalam menerima pekerjaan.

Dari perspektif ergonomis, setiap beban kerja yang diterima seseorang harus sesuai dan seimbang dengan kemampuan fisik dan psikologis pekerja yang menerima beban kerja tersebut. Beban kerja dapat berupa beban fisik dan beban psikologis. Beban kerja fisik dapat berupa pekerjaan berat seperti mengangkat, merawat, mendorong. Meskipun beban kerja psikologis dapat berupa sejauh mana tingkat keahlian dan kinerja individu dengan individu lain (Manuaba, 2000).

Everly dan Girdano (dalam Munandar 2001) menyatakan bahwa beban kerja adalah keadaan dimana pekerja dihadapkan pada tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Jenis beban kerja lainnya adalah kombinasi beban kerja kuantitatif dan kualitatif. Beban kerja kuantitatif terjadi karena terlalu banyak atau terlalu sedikit tugas. Meskipun beban kerjanya bersifat kualitatif, jika pekerja merasa tidak mampu melakukan tugas atau pekerjaannya, dia tidak menggunakan keterampilan atau potensi pekerja (Tulus Winarsunu, 2008).

Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa beban kerja merupakan keadaan dimana seseorang dihadapkan pada aktivitas atau kegiatan pada tugas- tugas yang harus diselesaikan dalam periode waktu tertentu.

2. Faktor – Faktor Mempengaruhi Beban Kerja

Dengan menganalisa beban kerja, sebuah organisasi bisnis tentunya dapat berharap beban kerja yang harus ditanggung oleh seorang pegawai tidak berat dan sesuai dengan kemampuan/skill pegawai pada umumnya. Untuk itu, pelaku usaha perlu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi beban kerja menurut Tarwaka (2004) dan Koesmowidjojo (2021), antara lain:

1. Faktor internal

Faktor internal yang mempengaruhi beban kerja adalah yang berasal dari dalam tubuh akibat dari reaksi beban kerja eksternal seperti berupa jenis kelamin, usia, postur tubuh, status kesehatan, dan motivasi kepuasan, keinginan atau presepsi.

a. Jenis kelamin, usia, postur tubuh dan status kesehatan adalah hal yang

dipertimbangkan oleh perusahaan dalam memberikan tanggung jawab suatu pekerjaan.

b. Motivasi sesorang akan menentukan kualitas kerjanya. Motivasi kerja yang rendah tentu dapat menyebabkan sesorang karyawan dalm melakukan pekerjaannya tiadk sesuai dengan yang telah di tetapkan oleh perusahaan.

c. Kepuasan akan bidang kerja, upah, lingkungan kerja yang mendukung juga tak kalah pentingnya dalam memberikan kontribusi untuk mempengaruhi beban kerja karyawan. Ketika karyawan merasa tidak puas akan bidang kerja yang di jalaninya, akan mempengaruhi secara psikis sehingga pekerjaan yang di jalaninya teras berat dan sulit berdampak pada kinerja karyawan.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal dunia kerja juga akan mempengaruhi beban kerja seorang karyawan. Faktor eksternal yang dimaksud adalah faktor eksternal yang berasal dari luar tubuh karyawan seperti :

a. Lingkungan kerja yang nyaman tentunya akan berpengaruh terhadap kenyamanan karyawan menyelesaikan pekerjaannya. Akan tetapi apabila lingkungan kerja tidak memberikan kenyamanan karyawan akan menyelesaikan pekerjaannya. Pada puncak karyawan akan melakukan pekerjaannya tidak sesuai dengan standart atau tidak sesuai dengan target yang telah di tetapkan sebelumnya akibat dari kondisi lingkunga yang kurang mendukung.

b. Tugas – tugas fisik yang dimaksud adalah hal – hal yang berhubunan dengan alat – alat dan sarana bantu dalam menyelesaikan pekerjaan, tanggung jawab pekerjaan, bahkan hingga tingkat kesulitan yang di hadapi ketika menyelesaikan pekerjaan.

c. Organisasi kerja hendaknya ikut berempati dan bertanggung jawab atas beban kerja yang harus di emban oleh setiap karyawan karena beban kerja yang berlebihan, baik yang berhubungan dengan psikis maupun fisik dari setiap karyawan tentu akan meningkatkan dampak tekanan saat bekerja.

Dengan demikian berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi beban kerja berdasarkan faktor internal dan faktor eksternal.

3. Aspek – Aspek Beban Kerja

Menurut Munandar (2001), ada 2 aspek beban kerja antara lain:

1. Beban kerja sebagai kebutuhan fisik

Kondisi kerja tertentu dapat menciptakan prestasi kerja yang optimal Selain berdampak pada kinerja pegawai, kondisi fisik juga berdampak pada semangat kerja pegawai. Kondisi fisik seorang pekerja berpengaruh terhadap keadaan vital dan psikologis seseorang. Artinya status kesehatan pegawai harus terjamin kesehatannya saat bekerja, selain itu istirahat yang cukup, dukungan fasilitas kerja yang nyaman dan memadai juga penting.

2. Beban kerja sebagai tuntutan kerja

Kerja shift atau kerja malam seringkali menyebabkan kelelahan bagi karyawan karena beban kerja yang berlebihan. Beban kerja yang terlalu banyak dan beban kerja yang terlalu sedikit dapat mempengaruhi kinerja seorang karyawan.

Sementara itu berdasarkan Putra, Tedy Buana (2019) aspek-aspek beban kerja meliputi:

1. Aspek fisik

Beban kerja ditentukan oleh jumlah pasien yang dirawat dan jumlah perawat yang bekerja di suatu unit atau ruangan. Tingkat ketergantungan pasien diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan, yaitu ketergantungan minimal/ringan, ketergantungan parsial atau sebagian, dan ketergantungan total/lengkap.

2. Aspek psikologis

Aspek mental/psikologis dihitung berdasarkan hubungan interpersonal, antaranya perawat dan dengan manajer dan juga antara perawat dan pasien, yang mempengaruhi tingkat efektivitas, efisiensi dan produktivitas perawat. Akibatnya sering terjadi stres kerja yang akan menurunkan motivasi kerja dan efisiensi kerja perawat.

3. Aspek waktu kerja

Waktu kerja produktif yaitu banyaknya jam kerja produktif dapat dipergunakan perawat dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya berdasarkan uraian tugas dan waktu melaksanakan tugas tambahan yang

tidak termasuk dalam tugas pokoknya. Alokasi waktu bekerja menurut Depkes RI, 2006 yakni waktu bekerja nomal per hari yaitu 8 jam/hari (5 hari bekerja/minggu), dengan waktu efektif kerja/hari 6,4 jam/hari.

Sehingga kesimpulannya waktu efektif bekerja yaitu 80% dari waktu bekerja 8 jam / hari.

Sehingga, berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek bean kerja meliputi beban kerja sebagai kebutuhan fisik, tututan kerja, aspek psikologis/mental, dan waktu kerja.

4. Indikator Beban Kerja

Indikator beban kerja ini menurut Koesomowidjojo (2021), meliputi:

a. Kondisi Pekerjaan

Kondisi kerja yang dimaksud adalah tingkat pemahaman terhadap pekerjaan seorang karyawan. Tingkat kemampuan dan pemahaman seorang pekerja sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) perusaahaan yang berlaku.

b. Penggunaan Waktu Kerja

Waktu kerja yang sesuai SOP pasti akan mengurangi beban kerja karyawan.

c. Target yang Harus Dicapai

Tujuan pekerjaan yang ditetapkan oleh perusahaan tentunya akan secara langsung mempengaruhi jumlah pekerjaan yang diterima karyawan.

Semakin terbatas waktu untuk melakukan pekerjaan tertentu atau

tujuan kinerja dan jumlah pekerjaan yang diberikan, semakin banyak pekerjaan yang diterima dan dirasakan karyawan, semakin besar. Untuk alasan ini, perlu untuk menentukan standar/waktu dasar untuk melakukan sejumlah pekerjaan di setiap organisasi, yang pasti bervariasi.

Maka dapat disimpulkan bahwa indikator beban kerja yaitu kondisi pekerjaan, penggunaan waktu kerja, dan target yang harus dicapai.

Dokumen terkait