C.1. Pelaksana (uitvoeder), adalah seorang kuasa yang ditunjuk oleh Pemborong. Ia dipercayakan untuk melaksanakan pekerjaan setiap harinya. Ia bertanggung jawab atas lancarnya pekerjaan.
Pelaksana biasanya seorang Opseter Teknik. Penunjukan ini harus diberi tahu kepada Direksi secara tertulis.
C.2 Kewajiban Pemborong
Pemborong Harus mentaati, semua peraturan yang berhubungan dengan penyelenggaraan bangunan, kelalaian akan hal tersebut menjadi tanggung jawab pemborong yang bersangkutan.
C.3 Tidak Lancarnya Pekerjaan
Telah diberitahukan dalam peraturan bahwa apabila pemborong melakukan sesuatu yang bertentangan dengan bestek atautidak sanggup menjalankan pekerjaan,maka direksi setelah member peringatan, berhak atas biaya pemborong melanjutkan pekerjaan atau menunjuk yang lain untuk menyelesaikannya. Pemborong tidak mendapat penggantian kerugian dalam hal diatas dalam bentuk apapun.
C.4 Penjagaan
Pemborong harus mengadakan penjagaan seperlunya pada tempat pekerjaan. Dengan pertimbangan direksi kalau perlu dilingkungan pekerjaan diberi pagar yang tertutup.
C.5 Bangsal dan Tempat Pekerjaan
Pemborong harus mengadakan /menyediakan bangsal-bangsal dan tempat kerja yang cukup. Dan pula tempat kerja direksi harus diadakan.
C.6 Gambar-gambar Bestek
Pemborong harus membuat sendiri gambar-gambar penjelasan (detail) yang diperlukan dan gambar kerja dari kotak cetakan (besketing) beton bertulang.Gambar-gambar itu diperiksa dan dibubuhi tanda tangan oleh direksi.Kecuali ada persetujuan oleh direksi, maka tidak boleh mengadakan perubahan.
Bila dianggap perlu diambil “pemotretan” dari tiap termijn pekerjaan yang sedang dibangun itu guna bukti yang nyata, bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya terjadi bencana alam dsb.
C.7 Kesejahteraan Pegawai/Pekerja:
Pemborongan harus memberikan jaminan sesuai dengan peraturan perburuhan.Jam kerja dan lembut harus disesuaikan pula dengan peraturan tersebut.
C.8 Rencana Kerja:
Pelaksanaan (uitvoeder) atas nama pemborong segara mambuat rencana kerja (Word Schedule). Rencana kerja ini merupakan suatu grafik, di mana dijelaskan tentang “urutan” pekerjaan dan waktu penyelesaianya yang talah ditentukan. Dijelaskan juga cara pelaksaannya serta alat yang dipakai.
C.9 Biaya Pengawasan:
Bila pekerjaan kepunyaan pemerintah, maka biaya untuk pengawasan dipikul oleh Negara.
C.10 Permulaan Pekerjaan :
Setelah diadakan penandatanganan surat “kontrak” (perjanjian pekerjaan) maka pekerjaan dianggap telah dimulai, atau pula atas persetujuan kedua belah pihak menentukan mulai pekerjaan itu.
C.11 Penyerahan Pekerjaan :
Ditentukan pula bahwa penyerahan bangunan pekerjaan harus dilakukan dalam waktu hari, kecuali ada perubahan penambahan.
C.12 Pemeliharaan Sesudah Penyerahan :
Dalam waktu hari, segala kerusakan dan kekurangan harus diselesaikan oleh pemborong. Apabila pemborong tidak dapat memperbaikinya, maka pemeliharaan tersebut dilaksanakan oleh Direksi atas biaya pemborong. Biaya tadi dapat diambil dari termin terakhir.
C.13 Kerugian Akibat Bencana Alam atau Kesalahan Rencana :
Bila pemborong mengalami kerugian akibat bencana alam yang diluar kekuasaannya (kesalahannya) misalnya terjadi gempa bumi, banjir yang luar biasa, kebakaran dan sebagainya.., dimana pemborong tidak berdaya, tetapiia berusaha untuk memperkecil segala bahaya itu, maka kepadanya akan diberikan penggantian.
Pemborong juga bebas dari segala kerugian oleh kurang tepatnya rencana (konstruksi) yang terdapat dalam bestek dan gambar bestek.
C.14 Penunjukan/Keterangan/Penjelasan : Pada
hari……….,tgl………bulan………..19……jam……….
WIB, akan diberikan petunjuk yang perlu secukupnya oleh Kepala………alamt kantor………Didalam hal ini akan dijelaskan daerah/tempat dimana bangunan akan didirikan.
Contoh 1. spesifikasi teknis kegiatan keteknikan dalam pelelangan
SPESIFIKASI TEKNIS Keterangan:
Spesifikasi teknis disusun oleh panitia pengadaan berdasarkan jenis pekerjaan yang akan dilelangkan, dengan ketentuan :
1. Tidak mengarah kepada merek/produk tertentu, tidak menutupkemungkinan digunakannya produk dalam negeri;
2. Semaksimal mungkin diupayakan menggunakan standar nasional;
3. Metoda pelaksanaan harus logis, realistik dan dapat dilaksanakan;
4. Jadual waktu pelaksanaan harus sesuai dengan metodapelaksanaan;
5. Harus mencantumkan macam, jenis, kapasitas dan jumlahperalatan utama minimal yang diperlukan dalam pelaksanaanpekerjaaan;
6. Harus mencantumkan syarat-syarat bahan yang dipergunakandalam pelaksanaan pekerjaan;
7. Harus mencantumkan syarat-syarat pengujian bahan dan hasilproduk;
8. Harus mencantumkan kriteria kinerja produk (output performance)yang diinginkan;
9. Harus mencantumkan tata cara pengukuran dan tata carapembayaran.
D. Contoh Bentuk Isi Tender pekerjaan keteknikan Kehutanan
Peserta Tender harus membaca dan mempelajari seluruh gambar kerja, rencana kerja dan syarat ini dengan seksama untuk memahami benar-benar maksud dan isi dokumen tersebut secara keseluruhan maupun setiap bagian. Tidak ada gugatan yang akan dipertimbangkan jika gugatan itu disebabkan karena peserta tidak membaca, tidak memahami, tidak memenuhi petunjuk , ketentuan dalam gambar, atau pernyataan kesalah-pahaman apapun mengenai arti dari isi dokumen ini.
BAGIAN I.
PEKERJAAN PERSIAPAN SEKSI 1.1
PERSYARATAN UMUM
RINGKASAN PEKERJAAN
1.1.1 URAIAN BERBAGAI PEKERJAAN YANG TERMASUK DALAM SPESIFIKASI INI
Ruang lingkup pekerjaan meliputi semua atau salah satu yang berikut ini : 1. Perbaikan jalan dan penambahan jalan ditempat yang ditunjukkan pada
gambar rencana atau yang diberi tanda dilapangan termasuk rekonstruksi dan perbaikan lapisan beton cor yang dirasakan perlu.
2. Pelapisan ulang (overlay) atau pembuatan kembali lapisan kedap permukaan lapisan beton cor, termasuk semua pekerjaan penyiapan permukaan atau perataan yang diperlukan.
3. Pelebaran lapisan beton cor dan pemindahan alinyemen yang ringan, termasuk pembersihan lapangan dan penyediaan pondasi bahu jalan yang baru seperti yang ditunjukkan pada gambar rencana kerja dan sebagaimana yang diminta oleh Direksi Teknis di lapangan.
4. Rekonstruksi perkerasan termasuk membentuk kembali dan membangun pondasi batu kali serta urugan tanah/urugan pasir dan memasang lapisan permukaan beton cor yang baru yang sesuai dengan Dokumen Kontrak.
5. Perbaikan struktur yang berat maupun yang ringan untuk struktur jalan lainnya yang sesuai dengan Dokumen Kontrak, dan menurut pertimbangan Direksi Teknis di lapangan.
SEKSI 1.2
PELAKSANAAN PEKERJAAN 1.2.1. UMUM
1. Uraian
Untuk menjamin kualitas, ukuran-ukuran dan kinerja pekerjaan yang benar, kontraktor harus menyediakan Staf Teknis. Staf Teknis tersebut jika dan bilamana diminta harus mengatur pekerjaan lapangan,melakukan pengujian lapangan untuk pengendalian mutu bahan-bahan dan kecakapan kerja, mengendalikan dan
mengkoordinasikan tenaga kerja Kontraktor dan memelihara catatan- catatan serta dokumentasi proyek.
2. Pemeriksaan Lapangan
Sebelum pematokan dan pengukuran dilapangan (setting cut), Kontraktor harus mempelajari gambar rencana kerja dan bersama-sama dengan Direksi Teknis mengadakan pemeriksaan ke lokasi proyek, dan khususnya mengukur/memasang lebar jalan, daerah milik jalan, sinyalemen untuk setiap pelebaran atau rekonstruksi drainase tepi jalan dan gorong-gorong, serta melakukan satu pemeriksaan tersebut diatas harus dicatat pada shop drawings. Shop Drawings ini harus diserahkan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sesudah Surat Perintah Kerja ditanda tangani, serta kepada Direksi Teknis untuk persetujuannya.
3. Patok-patok kilometer dan patok stasiun harus diperiksa dan dipindahkan bila diperlukan.
4. Pada lokasi dimana pelebaran harus dilaksanakan, potongan melintang asli harus direkam dan dijadikan acuan.
5. Pada daerah-daerah pelapisan dimana satu pekerjaan perataan dan/atau lapis permukaan harus dibangun, satu profil memanjang sepanjang sumbu jalan harus diukur, serta penampang melintang diambil pada internal tertentu untuk menentukan kelandaian dan kemiringan melintang, dan untuk menentukan pengukuran ketebalan serta lebarnya konstruksi baru.
6. Setelah Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dikeluarkan, maka izin bangunan, bea pungutan resmi, dan izin lainnya akan diurus dan pembiayaannya akan ditanggung oleh Kontraktor (Nilai kontrak sudah termasuk biaya umum, pajak-pajak (PPn/PPh), keuntungan, IMB 1%
dari nilai kontrak dan bea pungutan resmi lainnya).
1.2.2 PENGENDALIAN MUTU BAHAN DAN KECAKAPAN KERJA
1. Semua bahan yang dipasok harus sesuai dengan spesifikasi dan harus disetujui oleh Direksi Teknis. Sertifikat Ujian Pabrik pembuat harus diserahkan untuk semua item-item yang dibuat pabrik termasuk aspal,
semen, kapur, baja konstruksi dan kayu. Kontaktor harus menyediakan contoh-contoh semua bahan-bahan yang diperlukan untuk pengujian dan mendapatkan persetujuan sebelum digunakan dilapangan dan bilamana Direksi Teknis meminta demikian, sertifikasi harus disediakan atau pengujian-pengujian dilaksanakan untuk menjamin kualitas sesuai.
Sesuai tabel jadwal Frekwensi Minimum Pengujian Pengendalian Mutu Dalam Prakonstruksi.
2. Semua kecakapan kerja harus memenuhi uraian persyaratan spesifikasi dokumen kontrak dan harus dilaksanakan sampai memuaskan Pengelola Teknis. Bahan harus diuji dilapangan atau di laboratorium selama konstruksi dan PHO sesuai jadwal pengujian minimum yang tercantum dalam jadwal Frekwensi Minimum. Pengujian Pengendalian Mutu atas permintaan Direksi Teknis dan Kontraktor harus membantu serta menyediakan peralatan dan tenaga untuk pemeriksaan, pengujian dan pengukuran.
3. Disain campuran untuk beton cor, pasangan pondasi dan stabilitas tanah harus disiapkan dan diuji sesuai dengan spesifikasi dan tidak ada campuran, boleh digunakan pada pekerjaan-pekerjaan proyek terkecuali ia memenuhi persyaratan spesifikasi dan memuaskan Direksi Teknis.
4. Hasil semua pengujian termasuk pemeriksaan kualitas bahan dilapangan dan disain campuran harus direkam dengan baik dan dilaporkan kepada Direksi Teknis.
1.2.3. PENGELOLA LAPANGAN DAN KONTRAKTOR
1. Kontraktor harus menunjuk seorang pemimpin lapangan untuk mengarahkan dan mengatur pekerjaan sesuai dengan Dokumen Kontrak, termasuk pengoorganisasian tenaga dan peralatan Kontraktor serta bertanggung jawab bagi pengadaan bahan-bahan yang sesuai dengan persyaratan Dokumen Kontrak. Pimpinan lapangan harus memiliki pengalaman lapangan paling sedikit selama 10 (sepuluh) tahun pada pekerjaan proyek dan harus Tenaga Ahli bidang Sipil yang
mampu. Untuk perbaikan-perbaikan ringan dan pekerjaan pemeliharaan, persyaratan ini tidak diharuskan dan tergantung kepada persetujuan tertulis dari Pejabat Pembuat Komitmen.
2. Kontraktor harus menyediakan layanan seorang Pelaksanan Lapangan yang mampu dan berpengalaman untuk mengendalikan pekerjaan lapangan dalam Dokumen Kontrak, termasuk pengawsan lapangan, kualitas dan kecakapan kerja, sesuai dengan syarat-syarat Dokumen Kontrak.
1.2.4 PENGENDALIAN LINGKUNGAN
1. Kontraktor harus menjamin bahwa akan diberikan perhatian yang penuh terhadap pengendalian pengaruh lingkungan dan bahwa semua syaratsyarat disain dan persyaratan spesifikasi yang berhubungan dengan polusi lingkungan dan perlindungan lahan serta lintasan air disekitarnya akan ditaati.
2. Kontraktor tidak boleh menggunakan kendaraan-kendaraan yang memancarkaan suara sangat keras (gaduh), dan didalam daerah permukiman suara peredam kebisingan harus dipasang serta dipelihara selalu dalam kondisi baik pada semua peralatan dengan motor yang dibawah pengendalian kontraktor.
3. Kontraktor harus juga menghindari penggunaan peralatan berat atau peralatan berisik dalam daerah-daerah tertentu sampai larut malam atau dalam daerah-daerah rawan seperti dekat rumah sakit.
4. Untuk mencegah polusi debu selama musim kering, Kontraktor harus melakukan penyiraman secara teratur terhadap jalan angkutan tanah atau jalan angkutan kerikil dan harus menutupi truk angkutan dengan terpal.
1.2.5 PEMATOKAN DAN PEMASANGAN PEKERJAAN DI LAPANGAN
1. Alinyamen jalan yang ada beserta patok kilometer yang dipasang secara benar akan dijadikan sebagai acuan untuk pematokan dan pemasangan pekerjaan-pekerjaan proyek. Bilamana tidak ada patok kilometer yang
ditemukan, patok-patok yang ditandai atau patok-patok referensi akan didirikan oleh Direksi Teknis sebelum dimulainya pekerjaan.
2. Jika dianggap perlu oleh Pengelola Teknis, kontraktor harus mengadakan survei secara cermat dan memasang patok beton (Bench Marks) pada lokasi yang tetap sepanjang proyek untuk memungkinkan disain, survei perkerasan, atau pematokan dan pemasangan pekerjaan yang harus dibuat, dan juga untuk maksud sebagai referensi dimasa depan.
3. Kontraktor harus memasang patok-patok konstruksi untuk membuat garis dan kelandaian pembetulan ujung perkerasan, lebar bahu jalan, ketinggian perkerasan, drainase samping dan gorong-gorong, sesuai dengan gambar-gambar proyek menurut perintah Direksi Teknis.
Persetujuan Direksi Teknis atas garis dan ketinggian tersebut akan diperoleh sebelum pelaksanaan pekerjaan konstruksi berikut sesuatu modifikasi (perubahan) yang mungkin diperlukan oleh Direksi Teknis yang harus dilaksanakan tanpa penundaan.
4. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan pelebaran dan pembangunan jalan baru, penampang melintang harus diambil pada setiap jarak 25 meter, atau satu jarak lain yang dianggap perlu oleh Direksi Teknik, digunakan sebagai satu dasar untuk perhitungaan volume pekerjaan yang dilaksanakan. Penampang melintang tersebut harus digambar pada profil dengan skala dan ukuran tertentu oleh Direksi Teknis, serta garis-garis dan permukaan penyelesaian yang diusulkan harus ditunjukkan. Gambar-gambar profil asli beserta tiga fotocopy harus diserahkan kepada Direksi Teknik untuk mendapatkan persetujuan dan tanda tangan, serta untuk suatu pengesahan yang diperlukan. Yang Asli dan satu fotocopi akan ditahan oleh Direksi Teknis dan dua copy yang sudah ditanda tangani dikembalikan kepada Kontraktor.
5. Pekerjaan-pekerjaan jembatan harus ditata dilapangan dibawah pengendalian dan pengaturan penuh oleh Direksi Teknis, serta dalam
satu kesesuaian yang tinggi terhadap gambar-gambar dan spesifikasi.
Setiap koreksi atau perubahan dalam alinyemen atau ketinggian harus atas dasar penyelidikan serta pengujian lapangan lebih lanjut dan harus dilaksanakan sebagaimana yang diperlukan di bawah pengawasan Direksi Teknis.
6. Jika diharuskan demikian oleh Direksi Teknis, kontraktor harus menyediakan semua instrumen yang diperlukan, personil, tenaga dan bahan yang diminta untuk pemeriksaan pematokan dilapangan atau pekerjaan lapangan yang relevan.
1.2.6 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
Semua biaya untuk pekerjaan didalam bab ini akan dimasukkan dalam harga satuan yang bersangkutan dalam daftar penawaran yang akan disediakan untuk semua alat, tenaga dan bahan-bahan yang diperlukan.
Tidak akan ada pembayaran terpisah untuk pekerjaan-pekerjaan yang dimasukkan dalam bab ini.
SEKSI 1.3
STANDAR RUJUKAN
1.3.1 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
1. Peraturan-peraturan dan standar yang dijadikan acuan dalam Dokumen Kontrak akan menetapkan persyaratan kualitas untuk berbagai jenis pekerjaan yang harus diselenggarakan beserta cara-cara yang digunakan untuk pengujian-pengujian yang memenuhi persyaratanpersyaratan.
2. Kontraktor harus bertanggung jawab untuk penyedia bahan-bahan dan kecepatan kerja yang diperlukan untuk memenuhi atau melampaui peraturan-peraturan khusus atau standar-standar yang dinyatakan demikian dalam spesifikasi-spesifikasi atau yang dikehendaki oleh Direksi Teknis.
13.2 JAMINAN KUALITAS
a. Selama pengadaan Kontraktor harus bertanggungjawab untuk melakukan pengujian dan pemeriksaan semua bahan-bahan yang
diperlukan dalam pekerjaan, dan menentukan bahwa bahan-bahan tersebut harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.
b. Selama pelaksanaan Direksi teknis mempunyai wewenang untuk menolak bahan-bahan dan pekerjaan-pekerjaan yang tidak memenuhi persyaratan minimum yang ditentukan tanpa kompensasi bagi kontraktor.
c. Tanggung Jawab Kontraktor Adalah tanggung jawab kontraktor untuk melengkapi bukti yang diperlukan mengenai bahan-bahan, kecakapan kerja atau keduaduanya sebagaimana yang diminta oleh Direksi Teknis atau yang ditentukan dalam Dokumen Kontrak yang memenuhi atau melebihi yang ditentukan dalam standar-standar yang diminta.
Bukti-bukti tersebut harus dalam bentuk yang dimintakan oleh Direksi Teknis secara tertulis, dan harus termasuk satu copy hasil-hasil pengujian yang resmi.
d. Standar-standar Standar-standar yang dipakai menjadi acuan termasuk,namun tidak terbatas pada standar yang dicantumkan dibawah:
i. BUKU-BUKU PETUNJUK PELAKSANAAN BINA MARGA ii. ii. STANDAR INDUSTRIMINDONESIA (SII)
iii. PERSYARATAN UMUM BAHAN BANGUNAN DI INDONESIA iv. (PUBI-1982)
v. PERATURAN BETON BERTULANG INDONESIA(NI2-1971) vi. AASHTO = AMERICAN ASSOCIATE OF STATE HIGHWAY AND vii. TRANSPORTATION OFFICIAL (BAGIAN 1 DAN 2)
viii. ASTM = AMERICAN SOCIETY FOR TESTING AND MATERIALS ix. BS = BRITISH STANDART INSTITUTION
x. MPBJ = MANUAL PEMERIKSAAN BAHAN JALAN SEKSI 1.4
BAHAN-BAHAN PENYIMPANAN 1.4.1 UMUM
1. Uraian
Bahan-bahan yang digunakan dakam pekerjaan harus memenuhi persyaratan berikut :
a. Mematuhi standar dan spesifikasi teknis yang digunakan.
b. Untuk kekuatan ukuran, buatan, tipe dan kualitas harus seperti yang ditentukan pada gambar rencana atau spesifikasi-spesifikasi lain yang dikeluarkan atau yang disetujui secara tertulis oleh Direksi Teknis.
c. Semua produksi harus baru, atau dalam kasus tanah, pasir dan agregat harus diperoleh dari suatu sumber yang disetujui.
2. Penyerahan
a. Sebelum mengeluarkan suaru pesanan atau sebelum perubahan suatu daerah galian untuk suatu bahan. Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknis contoh-contoh bahan untuk mendapatkan persetujuan. Contoh tersebut harus disertai informasi mengenai sumber, lokasi sumber, dan setiap klarifikasi lain yang diperlukan oleh Direksi Teknik untuk memenuhi persyaratanpersyaratan spesifikasi.
b. Kontraktor harus menyelenggarakan, menempatkan, memperoleh dan memproses bahan-bahan alam yang sesuai dengan spesifikasi spesifikasi ini serta harus memberitahu Direksi Teknis paling sedikit 30 (tiga puluh) hari sebelumnya atau suatu jangka waktu lain yang dinyatakan oleh Direksi Teknis secra tertulis bahwa bahan tersebut dapat digunakan dalam pekerjaan. Laporan ini berisi semua informasi yang diperlukan. Persetujuan sebuah sumber tidak berarti bahwa semua bahan-bahan dalam sumber tersebut disetujui.
c. Dalam kasus bahan – bahan aspal, semen , baja dan kayu struktural serta bahan-bahan buatan pabrik lainnya. Sertifikat uji pabrik pembuat diperlukan sebelum persetujuan dari Direksi Teknis diberikan. Direksi Teknis memberikan persetujuan ini secara tertulis.
1.4.2. SUMBER BAHAN –BAHAN 1. Sumber-sumber
a. Lokasi sumber bahan yang mungkin dapat digunakan yang diperlihatkan dalam dokumen-dokumen atau yang diberikan oleh Direksi Teknis, disediakan sebagai satu petunjuk saja. Adalah tanggung jawab kontraktor untuk mmengadakan identifikasi dan memeriksa kecocokan semua sumber-sumber bahan yang diperlukan untuk mendapatkan persetujuan Direksi Teknis.
b. Sumber bahan tidak boleh dipilih dari sumber alam dilindungi, hutan lindung, atau dalam daerah yang mudah terjadi longsoran atau erosi.
c. Kontraktor akan menentukan berapa banyak peralatan dan pekerjaan yang diperlukan untuk produksi bahan-bahan tersebut memenuhi spesifikasi ini. Direksi Teknis akan menolak atau menerima bahan-bahan dari sumber-sumber bahan atas dasar persyaratan kualitas yang ditentukan dalam Dokumen Kontrak.
d. Tidak boleh ada kegiatan pada lokasi sumber bahan yang akan menimbulkan erosi atau longsoran tanah, hilangnya tanah produktif atau secara lain berpengaruh negatiif dengan daerah sekelilingnya.
2. Pemesanan Bahan
a. Pemesanan bahan-bahan akan dilakukan jika Direksi Teknis telah memberikan persetujuan untuk menggunakannya. Bahan-bahan tidak boleh digunakan untuk maksud-maksud lain dari pada yang telah disetujui oleh Direksi Teknis.
b. Jika kualitas atau gradasi bahan tersebut tidak sesuai dengan kualitas yang telah disetujui Direksi Teknis, maka Direksi Teknis dapat menolak bahan tersebut dan minta diganti.
1.4.3. PENYIMPANAN BAHAN 1. Umum
a. Bahan-bahan harus disimpan dalam cara sedemikian rupa sehingga bahan-bahan tersebut tidak rusak dan kualitasnya dilindungi, dan sedemikian sehingga bahan tersebut selalu siap digunakan serta dengan mudah dapat diperiksa oleh Direksi Teknis.
b. Penyimpanan di atas hak millik pribadi hanya akan diizinkan jika telah diperbolehkan secara tertulis oleh pemilik atau penyewa yang diberi kuasa.
c. Tempat penyimpanan harus bersih dan bebas dari sampah dan air, bebas pengaliran air dan kalau perlu ditinggikan. Bahan-bahan tidak boleh bercampur dengan tanah dasar, dan bila diperlukan satu lapisan alas dasar pelindung harus disediakan. Tempat penyimpangan berisi semen, kapur dan bahan-bahan sejenis harus dilindungi sepantasnya dari hujan dan banjir.
2. Penumpukan Agregat, Kerikil dan Pasir
a. Agregat batu, kerikil dan pasir harus ditumpuk dalam satu cara yang disetujui sedemikian sehingga tidak ada segresi serta menjamin gradasi yang memadai. Tinggi tumpukan maksimum adalah lima meter.
b. Masing-masing jenis berbagai agregat harus ditumpuk secara terpisah atau dipisahkan denngan partisi kayu.
c. Penempatann tumpukan material dan peralatan, harus ditempat tempat yang memadai serta tidak boleh menimbulkan kemacetan lalu lintas dan membendung lintasan air.
d. Kontraktor harus melaksanakan penyiraman yang teratur pada jalan-jalan angkutan, daerah lalu lintas berat lainnya serta penumpukkan material lainnya, khususnya selama musim kering.
3. Penanganan dan Penyimpanan Semen
a. Perlu diberikan perhatian sewaktu pengangkutan semen ketempat pekerjaan supaya semen tidak menjadi basah dan kantong semen menjadi rusak.
b. Dilapangan semen tersebut harus disimpan didalam gudang yang kedap air, dengan penumpukkan yang rapi dan secara sistimatis menurut jatuh temponya, sehingga penggunaan semen dapat diatur serta tidak berada terlalu lama dalam penyimpanan.
c. Biasanya jangka waktu akhir penyimpanan semen untuk konstruksi beton tidak boleh lebih dari 3 (tiga) bulan. Direksi Teknis secara teratur akan memeriksa semen yang disimpan dilapangan dan tidak akan mengijinkan setiap semen digunakan bila didapati dalam kondisi telah mengeras.
4. Bahan-bahan yang Ditumpuk di Pinggir Jalan Direksi Teknis akan memberikan petunjuk mengenai lokasi yang tepat untuk menumpuk bahan-bahan di pinggir jalan dan semua tempat yang di pilih harus keras tanah dengan drainase yang baik, rata dan kering serta sama sekali tidak boleh melampaui batas jalan tersebut dimana bahan-bahan tersebut dapat menimbulkan bahaya atau kemacetan lalu lintas.
Tempat penumpukan harus dibersihkan dari semak-semak dan sampah dan bila perlu tanah tersebut di ratakan dengan motor grader. Agregat dan kerikil harus ditumpuk secara rapi menurut ukuran mal, dengan sumbu memanjang tumpukan tersebut biasanya sejajar dengan garis tengah jalan.
1.4.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN 1. Royalty (Keuntungan)
Semua biaya untuk kompensasi bagi pemilik lahan atau sumber bahan, misalnya sewa royalty (pajak) daan biaya-biaya sejenis akan dimasukkan dalam harga satuan bagi bahan-bahan yang bersangkutan serta tidak ada pembayaran terpisah kepada Kontraktor untuk biaya biaya ini.
2. Pekerjaan-pekerjaan Lapangan untuk Sumber Bahan
a. Kontraktor akan menyelenggarakan semua pengaturan untuk membuka sumber bahan kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Teknis secara tertulis.
b. Semua biaya yang diperlukan untuk pembukaan sumber-sumber bahan seperti pembongkaran tanah selimut dan tanah bagian atas serta menimbun kembali lapangan tersebut setelah galian