• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belanja Transfer

Dalam dokumen MATERI AUNTANSI KEUANGAN DAERAH KE-2 (Halaman 32-38)

STRUKTUR APBD

C. Klasifikasi dan Penjelasan unsur-unsur APBD

2. Klasifikasi Belanja Daerah

2.4 Belanja Transfer

2.4.1 Belanja Bagi Hasil xxx

2.4.2 Belanja Bantuan Keuangan xxx

1. Sumber: Permendagri No. 64 Tahun 2020

a. Belanja Operasi

Belanja operasi merupakan pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari Pemerintah Daerah yang memberi manfaat jangka pendek. Belanja Operasi dirinci atas 6 (enam) jenis yaitu Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa, Belanja Bunga, Belanja Subsidi, Belanja Hibah, dan Belanja Bantuan Sosial.

1) Belanja Pegawai.

Belanja pegawai digunakan untuk mencatat kompensasi yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang diberikan kepada kepala daerah/wakil kepala daerah, pimpinan / anggota DPRD, dan Pegawai ASN. Belanja tersebut dapat berupa:

a. belanja kompensasi dalam bentuk gaji dan tunjangan, serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan;

b. uang representasi dan tunjangan pimpinan dan anggota DPRD serta gaji dan tunjangan kepala daerah dan wakil kepala daerah serta penghasilan dan penerimaan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan peraturan per-UU-an dianggarkan dalam belanja pegawai.

c. tambahan penghasilan kepada pegawai ASN dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan memperoleh persetujuan DPRD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Tambahan penghasilan diberikan berdasarkan pertimbangan beban kerja, tempat bertugas, kondisi kerja, kelangkaan profesi, prestasi kerja dan/atau pertimbangan objektif lainnya. Kriteria pemberian tambahan penghasilan ditetapkan dengan peraturan kepala daerah dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

Kilas Balik pada Format Lama

Pada format lama (Permendagri No 13 Tahun 2006) yang berlaku sampai dengan tahun 2020, masih dibedakan antara Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung. Belanja pegawai yang dikelompokkan sebagai belanja langsung adalah belanja untuk pengeluaran honorarium/upah dalam melakanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah.

2) Belanja Barang dan Jasa

Belanja barang dan jasa digunakan untuk pengeluaran pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas) bulan, termasuk barang/jasa yang akan diserahkan atau dijual kepada masyakarat/pihak ketiga. Belanja Barang dan Jasa dapat berupa Belanja Barang, Belanja Jasa, Belanja Pemeliharaan, Belanja Perjalanan Dinas dan Belanja Barang dan/atau Jasa yang Diserahkan/Dijual/

Diberikan kepada Masyarakat/Pihak Ketiga. Tabel 12 menyajikan klasifikasi kelompok belanja barang dan jasa.

Tabel 12 Kelompok Belanja Barang dan Jasa

Kelompok Keterangan

Belanja Barang Menampung belanja pengadaan barang berupa bahan pakai habis, bahan/material, cetak/penggandaan, makanan dan minuman, pakaian dinas dan atributnya, pakaian kerja, serta pakaian khusus dan hari-hari tertentu.

Belanja Jasa Menampung belanja pengadaan jasa yang nilai manfaatnya kurang dari 12 bulan berupa jasa kantor, asuransi, sewa rumah/gedung/gudang/ parkir, sewa sarana mobilitas, sewa alat berat, sewa perlengkapan dan peralatan kantor, konsultansi, ketersediaan layanan (availibility payment), beasiswa pendidikan PNS, kursus, pelatihan, sosialisasi, dan bimbingan teknis PNS/PPPK, insentif pemungutan pajak daerah bagi pegawai non ASN, dan insentif pemungutan retribusi daerah bagi pegawai non ASN.

Belanja Pemeliharaan

Menampung belanja pemeliharaan tanah, belanja pemeliharaan peralataan dan mesin, belanja pemeliharaan gedung dan bangunan, belanja pemeliharaan jalan, jaringan, dan irigasi, belanja pemeliharaan aset tetap lainnya, dan belanja perawatan kendaraan bermotor.

Belanja

Perjalanan Dinas

Menampung belanja perjalanan dinas dalam daerah, belanja perjalanan dinas luar daerah, belanja perjalanan dinas pindah tugas, dan belanja pemulangan pegawai.

Belanja Barang dan/atau Jasa yang

Diserahkan/Dijual/

Diberikan kepada Masyarakat/Pihak

Menampung belanja barang dan/atau jasa yang diserahkan kepada masyarakat/pihak ketiga, dijual kepada masyarakat atau pihak ketiga, dan pemberian uang yang diberikan kepada pihak ketiga/masyarakat.

Ketiga

Sumber: Permendagri No. 90 Tahun 2019

3) Belanja Bunga

Belanja bunga digunakan untuk belanja pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang berdasarkan perjanjian pinjaman.

4) Belanja Subsidi

Belanja subsidi digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang dihasilkan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Usaha Milik Daerah (BUMD) dan/atau badan usaha milik swasta dapat terjangkau oleh masyarakat banyak. BUMN, BUMD, dan BUMS tersebut merupakan badan yang menghasilkan produk atau jasa pelayanan dasar masyarakat. Badan usaha yang akan diberikan subsidi terlebih dahulu dilakukan audit keuangan oleh kantor akuntan publik sesuai dengan ketentuan peraturan per-UU-an; hasil audit tersebut sebagai bahan pertimbangan pemberian subsidi. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD, penerima subsidi wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penggunaan dana subsidi kepada kepala daerah.

5) Belanja Hibah

Belanja hibah digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa kepada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah lainnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Usaha Milik Daerah (BUMD), dan/atau badan dan lembaga, serta organisasi kemasyarakatan yang berbadan hukum Indonesia, yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya, bersifat tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak secara terus menerus setiap tahun anggaran, kecuali ditentukan lain sesuai dengan ketentuan peraturan per-UU-an.

Pemberian hibah ditujukan untuk menunjang pencapaian Sasaran Program dan Kegiatan Pemerintah Daerah sesuai kepentingan Daerah dalam mendukung terselenggaranya fungsi pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, rasionalitas, dan manfaat untuk masyarakat.

6) Belanja Bantuan Sosial

Bantuan sosial digunakan belanja pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada individu, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Bantuan sosial sebagaimana dimaksud diberikan tidak secara terus menerus/tidak berulamg setiap tahun anggaran, selektif dan memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya.

Bantuan kepada partai politik diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dianggarkan dalam bantuan sosial.

Belanja Bantuan Sosial digunakan untuk pemberian bantuan berupa uang dan/atau barang kepada individu, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat yang sifatnya tidak secara terus menerus dan selektif yang bertujuan untuk melindungi penerima dari kemungkinan terjadinya resiko sosial, kecuali dalam keadaan tertentu dapat berkelanjutan.

b. Belanja Modal

Belanja modal merupakan pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari 1 (satu) periode akuntansi.

Belanja modal dirinci atas jenis belanja modal.

Belanja modal dapat digunakan untuk perolehan aset tetap seperti tanah;

peralatan dan mesin; gedung dan bangunan; jalan, irigasi dan jaringan; dan aset tetap lainnya. Selain itu, belanja modal juga dapat digunakan untuk pengadaan aset lainnya, seperti: kemitraan dengan pihak ketiga dan aset tidak berwujud.

Berdasarkan pasal 53, Permendagri 59/2007 dinyatakan bahwa nilai aset tetap berwujud yang dianggarkan dalam belanja modal adalah sebesar harga beli/bangun aset ditambah seluruh belanja yang terkait dengan pengadaan/pembangunan aset sampai aset tersebut siap digunakan. Dengan demikian, belanja honor/upah (yang semula dianggarkan di dalam belanja pegawai) dan belanja belanja barang jasa (seperti ATK, perjalanan dinas) yang terkait langsung dengan pengadaan aset tetap berwujud harus dianggarkan di dalam belanja modal.

c. Belanja Tidak Terduga

Belanja tidak terduga merupakan pengeluaran anggaran atas Beban APBD untuk keperluan darurat termasuk keperluan mendesak yang tidak dapat diprediksi sebelumnya, serta pengembalian atas kelebihan pembayaran atas Penerimaan Daerah tahun-tahun sebelumnya. Belanja tidak terduga dirinci atas jenis belanja tidak terduga. Dalam PP 12 Tahun 2019 Pasal 69 diatur mengenai kondisi darurat dan keperluan mendesak sebagaimana dalam Tabel 13. Pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya yang telah ditutup sebagaimana dimaksud harus didukung dengan bukti-bukti yang sah.

Tabel 13 Kondisi Darurat dan Kondisi Mendesak

Uraian Keadaan Darurat Keadaan Mendesak

Kondisi yang memenuhi

1) bencana alam, bencana non-alam, bencana sosial dan/atau kejadian luar biasa;

1) kebutuhan daerah dalam rangka pelayanan dasar masyarakat yang anggarannya belum

Uraian Keadaan Darurat Keadaan Mendesak 2) pelaksanaan operasi

pencarian dan pertolongan; dan/atau 3) kerusakan

sarana/prasarana yang dapat mengganggu kegiatan pelayanan publik.

tersedia dalam tahun anggaran berjalan;

2) Belanja Daerah yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib;

3) Pengeluaran Daerah yang berada di luar kendali Pemerintah Daerah dan tidak dapat diprediksikan sebelumnya, serta amanat peraturan perundang- undangan; dan/atau 4) Pengeluaran Daerah

lainnya yang apabila ditunda akan menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi Pemerintah Daerah dan/atau masyarakat.

Penetapan kriteria kondisi

Melalui Perda tentang APBD tahun berkenaan

Melalui Perda tentang APBD tahun berkenaan

Pengeluaran untuk

mendanai apabila belum tersedia anggarannya

diformulasikan terlebih dahulu dalam RKA SKPD, kecuali untuk kebutuhan tanggap darurat bencana, konflik sosial, dan/atau kejadian luar biasa.

diformulasikan terlebih dahulu dalam RKA SKPD dan/atau Perubahan DPA SKPD

Sumber: PP 12 Tahun 2019 Pasal 69

d. Belanja Transfer

Belanja transfer merupakan pengeluaran uang dari Pemerintah Daerah kepada Pemerintah Daerah lainnya dan/atau dari Pemerintah Daerah kepada pemerintah desa. Belanja transfer dirinci atas jenis belanja bagi hasil dan belanja bantuan keuangan.

1) Belanja Bagi Hasil

Belanja bagi hasil digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil yang bersumber dari pendapatan pemda kepada pemerintah desa dan/atau kepada pemerintah daerah lainnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

2) Belanja Bantuan Keuangan

Belanja bantuan keuangan digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang diberikan kepada Daerah lain dalam rangka kerja sama daerah, pemerataan peningkatan kemampuan keuangan, dan/ atau tujuan tertentu lainnya. Bantuan keuangan dapat dianggarkan sesuai kemampuan Keuangan Daerah setelah memprioritaskan pemenuhan belanja Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan serta alokasi belanja yang diwajibkan

Belanja apakah yang dianggarkan oleh SKPD?

Belanja Daerah yang dianggarkan pada SKPD terdiri atas belanja operasional dabn belanja modal. Belanja operasional yang umumnya teralokasi di SKPD adalah belanja pegawai dan belanja barang dan jasa. Baik belanja operasi maupun belanja modal tersebut digunakan untuk melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah yang menjadi tugas dan fungsi SKPD berkenaan.

oleh peraturan per-UU-an, kecuali ditentukan lain sesuai dengan ketentuan peraturan per-UU-an.

Belanja Bantuan Keuangan yang dianggarkan dalam APBD dapat terdiri atas:

a) bantuan keuangan antar-Daerah provinsi;

b) bantuan keuangan antar-Daerah kabupaten/kota;

c) bantuan Keuangan Daerah provinsi ke Daerah kabupaten/kota di wilayahnya dan/atau Daerah kabupaten/ kota di luar wilayahnya;

d) bantuan Keuangan Daerah kabupaten/kota ke Daerah provinsinya danf atau Daerah provinsi lainnya; dan/atau

e) bantuan Keuangan Daerah provinsi atau f) Kabupaten/kota kepada desa.

Bantuan keuangan tersebut di atas dapat bersifat umum atau khusus.

Peruntukan dan pengelolaan bantuan keuangan yang bersifat umum, diserahkan kepada Pemerintah Daerah penerima bantuan. Peruntukan bantuan keuangan yang bersifat khusus ditetapkan oleh Pemerintah Daerah pemberi bantuan dan pengelolaannya diserahkan kepada penerima bantuan. Pemberi bantuan keuangan bersifat khusus dapat mensyaratkan penyediaan dana pendamping dalam APBD atau anggaran pendapatan dan belanja desa penerima bantuan.

Kilas Balik pada Format Lama

Pada format lama (Permendagri No 13 Tahun 2006) yang berlaku sampai dengan tahun 2020, masih dibedakan antara Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung.

Penganggaran Belanja Tidak Langsung

 Belanja tidak langsung yang dianggarkan di SKPD hanya belanja pegawai.

 Belanja tidak langsung selain belanja pegawai dianggarkan di SKPKD yaitu di RKA PPKD selaku BUD..

Penganggaran Belanja Langsung

 Kelompok belanja langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Kelompok belanja langsung dari suatu kegiatan sebagaimana dimaksud dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari:

a. belanja pegawai;

b. belanja barang dan jasa; dan c. belanja modal.

 Belanja Langsung dianggarkan pada SKPD.

Dalam dokumen MATERI AUNTANSI KEUANGAN DAERAH KE-2 (Halaman 32-38)

Dokumen terkait