• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk – Bentuk Karakter

BAB II LANDASAN TEORI

B. Karakter …

2. Bentuk – Bentuk Karakter

Bentuk -bentuk karakter pendidikan yaitu : a. Disiplin

Disiplin berasal dari kata yang sama dengan “disciple” yakni seorang yang belajar dari atau secara suka rela mengikuti seseorang pemimpin. Orang tua dan guru merupakan pemimpin dan anak merupakan murid yang belajar dari mereka cara hidup menuju kehidupan yang berguna dan bahagia. Jadi, disipin merupakan cara masyarakat mengajar anak berprilaku moral yang disetujui kelompok.

Konsep populer dari “ disiplin” adalah sama dengan “hukuman”.

Menurut konsep ini, disiplin digunakan hanya bila anak melanggar peraturan dan pemerintah yang diberikan orang tua, guru atau orang dewasa yang berwewenang mengatur kehidupan bermasyarakat di tempat anak itu tinggal.24

Disiplin adalah tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Disiplin merunjuk pada intruksisistematis yang diberikankepada murid (disciple). Untuk mendisiplinkan berati mengintruksikan orang untuk mengikuti tatanan tertentu melalui atura-aturan tertentu. Biasanya kata “disiplin”

berkonotasi negative, ini karena untuk melangsungkan tatanan melalui hukuman.Dalam arti lain, disiplin berati suatu ilmu tertentu yang di berikan kepada murid, disiplin juga menunjukan perilaku tertib dan patuh kepada berbagai ketentuan dan peraturan.25

Beralih pada prilaku biasa kepada perilaku yang bernilai membutuhkan latihan ke disiplinan. Sekarang ini tidak sedikit guru merasa kewalahan dalam menghadapi peserta didik yang sulit diatur, cenderung membanta saat dinasehati, dan sering kali membantah saat dinasehati, serta sering kali melakukan pelanggaran. Menghadapi pelanggaran semacam ini, maka tidak heran kalau di antaranya guru yang menggunakan jalan kekerasan untuk menanamkan sikap disiplin pada peserta didiknya. Menipisnya atau hilangnya sikap disiplin pada peserta didik merupakan masalah serius yang di hadapi

24Elizabeth B. Hurlock,Perkembangan Anak ( Ciracas: Erlangga) h. 82

25KH. Didin Hafidhunddin, Pendidikan Karakter Berbasis Alquran(Jakarta : Rajawali Pers, 2012) h. xi

oleh dunia pendidikan. Dengan tiadanya sikap disiplin, tentu saja sikap pendidikan tidak akan berjalan secara maksimal, sehingga keadaan itu akan menghambat tercapainya cita-cita pendidikan.

Akibat lain bakal di timbulkan oleh peserta didik yang karakter disiplinya kurang terbangun dengan baik adalah pupuknya kebiasaan dan kecendrungan untuk berani melakukan berbagai pelanggaran, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Hal ini, tentu dapat mendatangkan masalah tersendiri bagi peserta didik yang bersangkutan.

1) Bentuk- bentuk Disiplin

Disipin didefinisikan sebagi kondisi yang tercifta dan terbentuk melalui prosesdari serangkaian perilaku yang menunjukan nilai- nilai ketaatan, kepatuhan, keteraturan , dan ketertiban. Dalam hal ini bentuk- bentuk kedisiplinan dapat dirincikan sebagai berikut:

a) Kelakukan adalah perbuatan / tingkah laku seseorang dalam kehidupannya. Misalnya, perkelahian, merokok, meninggalkan kelas / sekolah dan lain-lain.

b) Kerajinan adalah suka dan giat serta selalu berusaha melakukan sesuatu. Misalnya, prestasi, tepat waktu, upacara, mengerjakan pr, dan lain-lain.

c) Kerapian adalah baik, teratur, dan semua siap dan sedia.

Misalnya, seragam, kelengkapan sekolah, cara berpakaian dan lain-lain.

Disiplin itu lahir, tumbuh dan berkembang dari sikap seseorang di dalam sistem nilai budaya yang telah ada di dalam masyarakat. Terdapat unsur pokok yang membentuk disiplin yakni sikap yang telah ada pada diri manusia dan sistem nilai budaya yang ada di dalam masyarakat. Sikap/ attitude tadi merupakan unsur yang hidup di dalam jiwa manusia yang mampu bereaksi terhadap lingkunganyadapat berupa tinkah laku / pemikiran.

2) Faktor- faktor yangmempengaruhi disiplin

Kedisiplinan harus di tegaskan dalam aspek, karena tanpa dukungan disiplin proses untuk mewujudkan suatu tujuan.

Proses mewujudkan suatu tujuan itu sangat sulit. Jadi kedisiplinan merupakan kunci keberhasilandalam mencapai tujuan.Untuk menanamkandisiplin pada diri manusia tidak terlepas dari factor-faktor yang mempengaruhinya.Ada dua factor yang mempengaruhi kedisiplinan, yaitu :

a) Faktor Internal

Faktor internal merupakan factor dalam diri individu sendiri dengan kata lainpembaawaan sejak lahir. Faktor ini mempunyai peran diri dalam setiap indivu, beberapa biologi dan psikologi berpendapat bahwa peluang bagi pendidik untuk memperoleh hasil pendidikannya amat sangat sedkit, untuk tidak mengatakan sama sekali. Boleh dikatakanpeluangnya sanagat kecil untuk mendidik (anak) manusia. Mereka memandang bahwa evolusi anak

seluruhnya di tentukan oleh hukum-hukum warisan. Sifat dan pembawaan orang tua dan nenek moyang mengalir sepanjang perkembangan dan membentuk kemandirian seseorang, sehinggakecil kemungkinan untuk diubah melauli pendidikan.

Dari hasil di atas dapat menggaris bawahi biasanya faktor bawaan memilki peran peran yang besar dalam membentuk kepribadian seseorang, sehingga pendidikan yang berasal dari luar di anggap memiliki peran yang sangat kecil. Terlepas dari permasalahan setuju atau tidak setuju dengan pendapat tersebut, sebagian ahli berpendapat bahwa seseorang anak tidak dapat terlepas dari pengaruh intern dan ekstern, sekecil apapun itu.

b) Faktor Eksternal

Faktor eksternalmerupakan factor yang keluar dari individu.

Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi adanya disiplin yaitu factor keluarga dan lingkungan dimana individu berientraksi.

Factor keluarga dalam hal ini merupakan pola asuh yang di berikan oleh orang tuanya dalam mendidik anaknya. Setiap orang tua memiliki ciri khas masing-masing dalam mendidik anaknya, anak yang didik oleh anaknya oleh pola asuh yang oriter dengan anak didik dengan pola asuh yang demokratis tentu akan berbeda..

Anak dengan pola asuh yang otoriter akan cenderung sangat patuh di hadapan orangtua dan agresif dalam hubungan dengan temannya. Selanjutnya factor lingkungan dimana individu sering

melakukan interaksi, seperti lingkungan sekolah (guru dan siswa, tempat bermain (teman sebaya), lingkingan masyarakat dan sebagainya. Semua lingkungan tersebut dapat memberikan konstribusi dalam pembentukan disiplin diri pada individu.

b. Tanggung Jawab

1. Pengertian Tanggung Jawab

Pam Schiller&Tamera Bryant mengemukakan bahwa tanggung jawab adalah perilaku yang menentukan bagaimana kita bereaksi terhadap situasi setiap hari, yang memerlukan beberapa jenis keputusan yang bersifat moral. Selain itu, tanggung jawab juga ditandai dengan adanya sikap yang rasa memiliki, disiplin, dan empati). Dari beberapa pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa tanggung jawab merupakan perilaku untuk melaksanakan tugas sebagaimana di wajibkan serta menerima hasil atau resikonya. Anak yang bertanggung jawab adalah yang berperilaku dengan cara yang semestinya, dalam keluarga atau sekolah tanpa harus selalu di ingatkan.26

Bertanggung jawab merupakan pelajaran yang tidak hanya perlu di perkenalkan dan diajarkan, namun juga perlu di tanamkan kepada peserta didik, baik pada masa prasekolahmaupun sekolah. Perserta didik yang terlatih atau dalam dirinya sudah tertanam nilai-nilai tanggung jawab, kelak ia akan tumbuh menjadi pribadi yang bersungguh-

26Said Hamid Hasan, Dkk,Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa ,(Jakarta : Kementrian Pendidikan Nasional ,2009) h. 28

sungguh dalam menjalnkan berbagai aktivitasnya. Kesungguhan dan tanggung jawab inilah yang akirnya dapat menghantarkannya dalam mencapai keberhasilan seperti yang di inginkan. Khususnya di sekolah, nilai-nilai tanggung jawab merupakan hal yang perlu di tanamkan oleh guru. Gurulah yang bertugas mengarahkan peserta didik menjadi pibadi yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang dapat di lakukan oleh guru dalam menanamkan rasa tanggung jawab yang tinggi pada diri peserta didik. 27

2. Bentuk- Bentuk Tanggung Jawab

Diantara nya bentuk- bentuk tanggung jawab di sekolah antara lain sebagai berikut :

a) Memulai dari Tugas-Tugas yang Sederhana

Di sekolah, tentu saja sudah ada peraturan-peraturan yang di tetapkan, seperti tata tertib dalam kelas, serta beberapa keentuan lainnya. Meskipun peraturan-peraturan tersebut bagi peserta didik merupakan hal yang mungkin di nilai sederhana, tetapi guru harus mendorongnya agar menaatainya dengan penuh tanggung jawab.

Sebagai contoh, jika ada peserta didik yang tidak mengikuti jadwal piket kebersihan, guru harus memberikan teguran dan menjelaskan bahwa sikap tersebut merupakan sikap tidak tanggung jawab yang harus diinginkan. Guru juga mesti menyatakan kepadanya bahwa

27Nurla Isna Aunilah , Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah, (Bangun Jogjakarta : Laksana, 2011) h.83

tugas sederhana apapun harus dikerjakan olehnya sebagai suatu bentuk tanggung jawab.

Dalam hal ini, guru juga mekibatkan semua peserta didik untuk berperan aktif dalam menyelesaikan tuigas dan kewajiban-kewajiban mereka sehingga tanggung jawab itu akan menjadi tugas bersama, bukan semata bagi peserta didik yang melanggar. Guru juga harus memberikan telaadan yang baik mengenai cara bertanggng jawab.

Nah, disiplin waktu dan mengapresiasi peserta didik merupakan sebagian dari cara guru dalam menunjukan rasa tanggung jawabnya sebagai pendidik.

b) Menembus Kesalahan saat Berbuat Salah

Cara lain untuk menumbuhkan sikap tanggung jawab dalam diri peserta didk adalah mengajarkan kepadanya agar siap menebus kesalahan ketika ia berbuat salah. Hal ini kan mendorongnya untuk meminta maaf atas kesalahan yang di buatnya sekaligus mengajarkanya mengenai nilai keadilan, yaitu bila ia melakukan kesalahan terhadap seseorang, berati ia telah merugikan orang tersebut sehingga ia harus mampu bersikap adildengan menebus dan memperbaiki kesalahannya.

c) Segala Sesutu Mempunyai Konsekuensi

d) Guru harus menjelaskan kepadaa peserta didik bahwa segala sesuatu yang dilakukan pasti memiliki konsekuensi, dan dia harus siap dengan konsuekuensinya yang ditimbulkan dari semua tindakannya.

e) Sering Berdiskusi tentang Pentingnya Tanggung Jawab

Hendaknya guru sering kali berdiskusi tentang pentingnya tanggungjawab dalam kehidupan. Tentu saja dalam hal ini, guru harus mencontohkan secara nyata kepada pesertadidik, sehingga ia dapat belajar secara langsung dari sesuatu yang ia lihat pada gurunya28.

2. Macam – Macam tanggung Jawab a. Tanggung Jawab Personal

Jika kita lihat dari kata inggrisnya,untuk bertangung jawab, (respondible) berati kita bersediah “menjawab” (respond).

Demikiankata enrick Fromm dalam bukunya The Art of Lovingbahwa bertanggung jawabadalah disebabkan oleh seseorang ituuntuk bertindak atau berbicaraatau mengambil posisi tertentu. Untuk itulah kemudian ia harus bertanggung jawab. Jika seseorang memilih posisi untuk menjadi orang berkuasa, maka diapun mempunyai tanggung jawab berada diposisi tersebut.29

Berat atau ringanya tanggung jawab seseorang, tergantung tinggi atau rendahnya kedudukan orang itu.Apakah orang itu merasa bertanggung jawab atau tidak, tergantung pada tinggi rendahnya dan baik buruknya ahlak orang itu.

b. Tanggung Jawab Moral

28Nurla Isna Aunillah. PendidikanKarakterdi Sekolah (Jakarta : Pt Banguntapan 2011) h.

86

29Muhamad Yaumi,.Pendidikan Karakter ( Jakarta:Prenadamedia Group, 2014) h.72

Tanggung jawab moral biasanya merunjuk pada pemikirian bahwa seseorang mempunyaikewajibanmoral dalam situasi tertentu.

Tidak taat pada kewajiban-kewajiban moral, kemudian menjadi alasan untuk di berikan hukuman.Hukuman berlaku pada mereka yang mampu berlefeksi atas situasi mereka,membentuk niat tentang bagaimana mereka bertindak, dan kemudian melakukan tindakanya itu.

Kewajiban bertanggung jawab sering kali membawa pada apa yang disebut tanggung jawab hukum (legal responsibility). Seseorang itusecara hukum bertanggung jawab bagi suatu peristiwa ketikaorang itulah menyebabkan terjadinya suatu peristiwa.

Dua macam-macam tanggung jawab di atas bersifat positif yang perluada dalam setiap individu, karena sebagai manusi, mereka tidak boleh lepas dari menjalani kehidupan sosial.Kita adalah orang- orang yang bertanggung jawab terhadap kehidupankita. Maka kita pun harus belajar untuk menerima tanggung jawab total terhadap kita sendiri.

Jika kita tidak bisa mengatur diri kita sendiri, maka berate kita memberikan kepada orang lain untuk mengontrol diri kita. 30

Dengan tertibnya penggunan hak dan kewajiban timbulah rasa tanggung jawab. Di mana pun tingkat perolehan hak seseorang selalu berlangsung di dalam saling berhubungan dengan penunaian tanggung jawab seseorang selalu berlangsung di dalam saling berhubungan

30Mustari Muhamad, Nilai Karakter: Refleksi untuk Pendidikan,( Jakarta : Rajawali Pers, 2014) h. 21

dengan penuaian tanggung jawab manusia, baik secara individual maupun kolektif. Apabila tingkat perolehan hak itu melampaui penunaian tanggung jawab seseorang, maka rusaklah rasa wajib, dan kebebasan menjadi kebebesan liar. Sebaliknya, kewajiban yang melampaui wewenangnya akan mengganggu penunaian tanggung jawab seseorang. Tanggung jawab yang baik pada perimbangan yang serasi antara perolehan hak dan kewajiban. 31

Sukanto menyatakan bahwa di antara tanggung jawab yang mesti ada pada manusia :

1) Tanggung jawab kepada Tuhan yang memberikan kehidupan dengan cara takut kepada-nya, bersyukur, dan memohon petunjuk.

2) Tanggung jawab untuk membela diri dari ancaman, siksaan, penindasaan dan perlakukan kejam dari mana pun datangnya.

3) Tanggung jawab diri dari kerusakaan ekonomi yang berlebihan dalam mencari nafkah, ataupun sebaliknya, dari bersifat kekurangan ekonomi.

4) Tanggung jawabterhadap anak, suami/ istri, dan keluarga.

5) Tanggung jawab social kepada masyarakat sekitar.

6) Tanggung jawab berfikir, tidak perlu mesti meniru orang lain dan menyetujui pendapat umum atau patuh secarah membuta terhadap nilai-nilai tradisi, menyaring segala informasi untuk dipilih, mana yang berguna dan mana yang merugikan kita.

31Mohamad Mustari, , Nilai Karakter ( Jakarta:Rajawali Pers, 2014) h. 20

7) Tanggung jawab dalam memelihara hiup dan kehidupan, termasuk keletarian lingkungan hidup dari berbagai bentuk pencemaran.

Dokumen terkait