• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk Penentapan Sompa dalam tradisi Pernikahan Bugis di

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Bentuk Penentapan Sompa dalam tradisi Pernikahan Bugis di

Sompa dalam pernikahan Bugis merupakan suatu hal yang harus ada. Hal ini diungkapkan Bapak Pandu yaituSompa dalam masyarakat di Kecamatan Gilireng adalah sebuah harga dari seorang wanita yang harus dibayar oleh laki-laki jika ingin atau hendak menikahi wanita tersebut.75Harga yang dimaksudkan dalam hal ini bukanlah harga dalam hal jual beli, melainkan sebuah makna lain dari pemberian yang wajib dibayar atau diberikan oleh calon suami kepada calon istrinya. Hal yang sama dikemukakan oleh Bapak Hamka bahwa sompa adalah permberian yang harus diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak wanita sebagai harga untuk menikahi wanita tersebut.76 Sehingga dapat di simpulkan bahwa sompa yang dimaksud dalam pernikahan Bugis di Kecamatan Gilireng adalah suatu pemberian yang harus diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak wanita yang mana pemberian tersebut merupakan harga dari seorang wanita yang hendak dinikahinya.

Sompa merupakan sebuah penghargaan dan dijadikan sebagai tanda kesungguhan dari seorang pria kepada seorang wanita yang akan dijadikannya sebagai istri. Pada penetapan besaran sompa ini telah diberikan ketetapan bagi setiap orang yang hendak menikah. Penetapannya sendiri ditetapkan berdasarkan status sosial dari masyarakat yang akan menikah.

75Pandu, Kepada Dusun, wawancara di Gilireng, 05 Sepetember 2022.

76Hamka, Tokoh Agama, wawancara di Gilireng, 17 November 2022.

Dalam pernikahan Bugis, dari pemberian sompa ini kita dapat mengetahui status wanita atau keluarga mempelai wanita yang akan menikah. Sehubungan dengan pernikahan Bugis yang tidak dipisahkan dengan strata sosial, sehingga bentuk dan nilai mahar yang diberikan menjadi indikator untuk melihat status sosial calon pengantin wanita. Besaran sompa tersebut telah ditentukan secara adat berdasarkan garis keturunan calon pengantin wanita atau berdasarkan derajat tertentu.

Bagi masyarakat umum pemberian sompa bukanlah hal yang harus begitu dipermasalahkan, namun berbeda halnya dengan masyarakat Bugis, bagi mereka pemberian sompaatau mahar ini sangat penting karena menyangkut harga diri mereka yang berada pada kalangan tertentu. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan dari narasumber Bapak Pandu yang mengatakan bahwa:

Bagi mereka yang berada pada kalangan tertentu seperti mereka yang berdarah atau memiliki keturunan bangsawan dan cendekiawan (pemangku adat) sangatlah memperhatikan pemberian besaran sompa ini, karena sompa ini merupakan simbol dari status sosial mereka dalam masyarakat. Sehingga dikarenakan hal tersebut, pada prosesi ijab kabul jumlah besaran sompa itu disebutkan dan dibayar lunas pada hari upacara pernikahan dilakukan.77

Seperti halnya yang dikemukakan oleh bapak Hamka selaku tokoh agama yaitu:

Pemberian sompa ini merupakan sebuah tanda bagi beberapa kalangan masyarakat, dimana dibalik penetapan jumlah atau besaran sompa tersebut terdapat kunci dari status sosial mereka.78

Penetapan besaran sompa telah ditetapkan dan diatur dalam adat. Adat tradisi pernikahan Bugis telah menyiapkan bagi mereka 2 bentuk yang akan mereka pakai dalam pernikahan mereka nantinya. Sehingga mereka hanya tinggal menyepakati sesuai dengan status sosial yang mereka miliki dalam masyarakat. mahar dalam

77 Pandu, Kepada Dusun, wawancara di Gilireng, 05 Sepetember 2022.

78 Hamka, Tokoh Agama, wawancara di Gilireng, 17 November 2022.

49

suku Bugis khususnya di Kecamatan Gilireng berbentuk seperangkat emas yang memiliki nilai yang tinggi.

Untuk menjaga dan melestarikan budaya lokal masyarakat Kecamatan Gilireng Kabupaten Wajo masih melaksanakan tradisi-tradisi dari nenek moyang.

Mereka berkeyakinan bahwa nilai-nilai kearifan lokal terkandung dalam tradisi- tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Sehingga mereka menganggap bahwa nilai-nilai kearifan lokal tersebut menjadi prinsip hidup dan itu dapat mempengaruhi kehidupan mereka. Masyarakat Kecamatan Gilireng memiliki keteguhan dalam menjaga kelestarian tradisi nenek moyang mereka, salah satu keteguhan mereka adalah dengan masih terlaksanakannya pemberian sompa yang telah dilakukan secara turun temurun. Sebagaimana dengan hasil wawancara penulis dengan salah satu tokoh masyarakat di Kecamatan Gilireng Bapak Pandu, ia mengatakan bahwa:

Pembagian sompa seperti ini sudah dilakukan sejak dahulu, dan masih dilaksanakan hingga sekarang. Dimana penentuan nilai dan jumlah sompa yang diterima oleh calon mempelai perempuan itu ditentukan berdasarkan keturunan si perempuan, jika dia (calon mempelai perempuan) adalah seorang bangsawan (keturunan bangsawan) maka dia akan menerima sompa yang berbeda dengan sompa yang akan diterima oleh perempuan yang bukan keturunan bangsawan.

Namun sekarang walaupun masih menggunakan strategi penentuan sompa yang sama tapi telah terjadi pergeseran dimana bagi mereka yang memiliki kekuasaan seperti mereka yang berasal dari keluarga terpandang, menduduki jabatan seperti camat, lurah, kepada desa dan kepala dusun (selaku pemangku adat) dapat menggunakan sompa yang sama dengan mereka para keturanan bangsawan, tapi kembali lagi dari indivudunya apakah akan menggunakannya atau tidak (untuk camat, lurah dan kepala desa).79

Begitu pula yang dikemukakan oleh Bapak Hamka bahwa:

Sejak dahulu pemberian sompa seperti ini telah dilaksanakan. Yang mana pembagian sompa tersebut dijadikan sebagai dasar bagi para bangsawan untuk menata status sosial masyarakat pada zaman itu dan kemudian menjadi sebuah tradisi kebiasaan masyarakat Bugis di Kecamatan Gilireng yang dilaksanakan sampai sekarang.

79 Pandu, Kepada Dusun, wawancara di Gilireng, 05 Sepetember 2022.

Dalam tradisi pernikahan Bugis khususnya di Kecamatan Gilireng sebelum terlaksananya prosesi ijab dan qobul, sebelumnya telah terjadi kesepatan antara pihak laki-laki dengan pihak perempuan tentang pemberian sompa atau lebih dikenal dengan mahar, bukan hanya penentuan mahar juga telah disepakati jumlah uang panaik dan juga seserahan yang akan di berikan oleh pihak laki-laki. Seperti yang dikatakan bapak Darmawan dalam wawancara oleh penulis. Ia mengungkapkan:

Pada saat ingin menikah dengan istri saya saat ini, awalnya salah satu keluarga datang menemui keluarga istri saya dengan maksud menyampaikan hw ―s sed ng menc ri seor ng istri untuk kem n k n p k h kelu rg s d p t d t ng melih t n k perempu n p k‖. Setel h dimemperoleh izin dari ayah mertua saya saat ini seminggu kemudian kami sekeluarga datang kembali ke rumah tersebut (proses ini disebut mammanu-manu). Pada hari itu kami hanya melakukan perkenalan dan saya diberikan nomor telepon dari wanita yang menjadi calon istri saya saat itu. setelah melakukan pendekatan beberapa minggu akhirnya kami memutuskan datang kembali dengan maksud menyampaikan bahwa kami ingin menikahi anak perempuan bapak. Pada hari itu bukan hanya penyampaian keinginan kami, disana kami juga melakukan perundingan mengenai hari pernikahan, jumlah pemberian sompa, dui menre‟ dan juga seserahan (mappettu ada). Selanjutnya pada hari penikahan, dihari pernikahan kami sebelum dilaksanakannya ijab kabul, sebelumnya dilaksanakan dulu penyerahan pemberian dari pihak laki-laki secara keseluruhan (mappaserrekeng) baru setelahnya dilaksakan ijab kabul.80

Adapun langkah-langkah atau prosesi yang dilalui dalam mempersatukan kedua insan tersebut yaitu sebagai berikut:

a. Mammanu-manu atau disebut juga dengan mabbaja laleng yang artinya membuka jalan. Dalam keadaan ini masih di tahap penjajakan dan pendekatan kepada perempuan yang akan dinikahi. Langkah awal mammanu-manu adalah orang tua yang mencarikan jodoh (pasangan) anak laki-laki yang hendak dinikahkan. Makna dari mammanu-manu adalah melakukan berlanjutan kejenjang kegiatan, terbang kesana yang tujuannya adalah kemari layaknya

80 Darmawan, masyarakat, wawancara di Gilireng, 12 September 2022.

51

burung untuk menemukan gadis yang kelak akan dilamarnya. Setelah menemukan seorang gadis yang dapat dijadikan sebagai istri anaknya maka langkah selanjutnya adalah mappettu ada.

b. Mappettu Adayaitu penyampaian kemauan atau keinginan untuk menikahi wanita yang sebelumnya menjalani pendekatan. Disini terjadi pembicaraan antara perwakilan dari pihak laki-laki dengan pihak perempuan. Dalam keadaan ini perwakilan pihak laki-laki ini menyampaikan maksud kedatangannya yaitu melamar si wanita yang dituju (yakkata‟i). Pada kesempatan ini pula mereka akan membahas mengenai masalah administrasi seperti masalah pemberian sompa, dui panaik dan seserahan yang akan diberikan oleh pihak laki-laki.

Dalam prosesi ini dihadiri oleh kedua belah pihak keluarga laki-laki dan perempuan serta kepala desa, kepala dusun, imam desa atau imam keluarahan, dan imam dusun. Saat prosesi mappettu ada, untuk penetuan mengenai sompa diserahkan kepada pihak perempuan dan ketetapannya sesuai dengan keinginan dari pihak perempuan.

c. Mappaserrekeng yakni prosesi penyerahan secara keseluruhan pemberian pihak laki-laki. Prosesi ini bisa dilaksanakan bersamaan dengan hari mappettu ada juga biasa dilaksanakan sebelum terjadinya akad atau setelah akad.

d. Esso bottingeng (hari pernikahan) yaitu hari dilaksanakannya iajb dan qobul.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Pandu dan Bapak Rasyidi yang mengatakan bahwa:

Sompa yang dipakai dalam tradisi pernikahan Bugis di Kecamatan Gilireng ini hanya ada dua yaitu sompa 44 (empat puluh empat) real dengan sompa 88 (delapan puluh delapan) real. Sedangkan untuk bentuksompa yang digunakan diwilayah sini hanya emas. Sesuai yang disebutkan tadi bahwa jika sompa-nya menggunakan sompa 44 real maka pemberiannya senilai dengan 6 gram emas.

Sedangkan untuk sompa 88 real itu senilai dengan 12 gram emas. Dan untuk

bentuk yang sompa yang diterima hanya dalam bentuk emas tidak ada dalam bentuk lainnya.81

Hal sama yang dikemukakan oleh Bapak Hamka selaku tokoh agama di Kecamatan Gilireng, ia mengatakan bahwa:

Sompa di Kecamatan Gilireng ini ada beberapa macam yaitu sompa 88 real (kati) yang kadarnya itu 12 gram emas dipergunakan bagi kalangan bangsawan (arung) dan sompa 44 real (real) yang kadarnya senilai dengan 6 gram emas ditujukan kepada masyarakat biasa (tau-sama). Penyerahannya tersebut dalam bentuk emas karena disamakan dengan bentuk mata uang real yang berasal dari Arab yang mana pada zaman dulu 88 real ini sama nilainya dengan 12 gram emas.82

Adapun hasil dari wawancara peneliti terhadap narasumber diperoleh bahwa bentuk penetapan sompa (mahar) dalam tradisi pernikahan Bugis terdapat dua bentuk yaitu yang pertama adalah sompa 88 (delapan puluh delapan) real dan yang kedua adalah sompa 44 (empat puluh empat) real. Bagi mereka yang menggunakan sompa 88 real maka akan membayar mahar senilai 12 gram emas kepada calon istrinya kemudian untuk mereka yang menggunakan sompa 44 real mereka hendaknya menyerahkan senilai 6 gram emas. Pembagian ini berdasarkan adanya strata sosial yang membedakan pemberian mahar kepada mereka yang merupakan keturunan bangsawan dengan masyarakat biasa. Penentuan besaran sompa ini pada zaman dahulu, digunakan oleh pemimpin saat itu untuk menata masyarakat demi mengetahui status sosial atau derajat dalam masyarakatnya.

Alasan mereka menggunakan emas sebagai bentuk penyerahan sompa karena nilai jual emas pada saat itu lebih murah, bukan hanya karena alasan itu saja masyarakat Kecamatan Gilireng menganggap bahwa emas merupakan benda yang berharga sehingga menyamakan nilainya dengan wanita yang memiliki derajat yang tinggi dan berharga.

81 Pandu, Kepada Dusun, wawancara di Gilireng, 05 Sepetember 2022.

82Hamka, Tokoh Agama, wawancara di Gilireng, 17 November 2022.

53

Indonesia merupakan negara plural dikarenakan didalamnya terdapat berbagai macan ragam suku, ras, dan agama. Suku Bugis merupakan salah satu dari keragaman yang terdapat di indonesia tepatnya di Sulawesi Selatan yang mempunyai adat cukup populer di masyarakat luar mengenai adat tradisi pernikahan yang kompleks. Banyak yang berkembang dalammasyarakat luar Sulawesi Selatan bahwa uang panaik merupakan hal utama dalam pernikahan Bugis. Sompa merupakan salah satu bagian dari tradisi pernikahan Bugis yang tidak bisa di kesampingkan. Sompa ini tidak dapat dipisahkan dari adat pernikahan.

Pada zaman dulu, penetapan sompa ditetapkan dengan sangat teliti dan terperinci, karena fatal akibatnya jika terjadi kesalahan dalam penetapannya. Ada beberapa macam sompa atau mahar yang dikenal di daerahBugis (Wajo, Bone, dan Soppeng), yaitu:

a. Sompa Bocco, yaitu sompa yang diberikan kepada raja-raja perempuan yang sedang memegang kekuasan pemerintahan. Jumlah sompanya adalah 14 kati dui‟ lama. Adapun nominal 1 kati dui‟ lama= 88 real + 8 uang dan bersama itu diserahkan pula 1 ata (sahaya) dan seekor kerbau.

b. Sompa ana‟ bocco, diberikan kepada putri (darah penuh raja dan ratu) dari raja yang sedang memegang pemerintahan. Besarnya adalah 7 kati dui‟ lama dan disertai 1 orang ata (sahaya).

c. Sompa ana mattola, diberikan kepada putri raja bawahan, atau bangsawan tinggi lainnya. Besarnya adalah 5 kati dui‟ lama dan disertai 1 orang ata (sahaya). Kecuali di daerah Wajo karena ata ditiadakan.

d. Sompa kati, diberikan kepada putri-putri bangsawan yang bukan sebagai raja- raja bawahan, besarnya adalah 3 kati dui‟ lama.

e. Sompa ana‟ rajeng, diberikan kepada putri-putri rajeng (hanya ada di daerah Wajo), besarnya adalah 2 kati dui‟ lama.

f. Sompa cera‟ sawi, di daerah Bone disebut anakarung-sipue besarnya adalah 1 kati dui‟ lama atau 88 real + 8 uang.

g. Sompa tau deceng, untuk putri-putri to-meradeka golongan tau deceng, besarnya ½ kati dui‟ lama.

h. Sompa tau-sama, untuk pruti-putri tau-maradeka golongan tau-sama, besarnya adalah ¼ kati dui‟ lama.

Jika dilihat dari ketetapan sompa tersebut dalam etnis Bugis, maka bisa dilihat dengan sangat jelas bahwa itu merupakan simbol-simbol yang mengkategori stratifikasi sosial (strata sosial) perempuan Bugis. Dalam karya Supriadi yang menyatakan bahwa Mattulada menjelaskan terkait memberi kejelasan sompa tersebut, yaitu mahar yang diberi nilai nominal menurut harga real dapat terdiri atas sebidang tanah, sawah, kebun dan atau benda-benda berharga lainnya.83 Saat ini pemberian sompa yang dilaksanakan di Kecamatan Gilireng telah terjadi penyederhanaan dalam penetapannya, dimana untuk perempuan bangsawan termasuk dalam katagori sompa 88 real dan untuk perempuan to deceng dan to sama/maradeka (perempuan biasa) menggunakan kategori sompa 44 real.

Dalam penetapan sompa di Kecamtan Gilireng ini, sompa yang berupa kati ataupun real itu sesungguhnya hanya sekedar kesepakatan dari adat saja

83Supri di K sim And Muht r ―Tinj u n Hukum Isl m Terh d p Pen elesaian Sengketa Somp D l m Perk win n Etnis Bugis.‖

55

bukan merupakan nilai kompersi dari real ataupun kati tersebut. Dengan demikian nilai dari sebutan real atau kati hanya sebatas nilai adat yang melambangkan status sosial seseorang tetapi tidak mempunyai nilai jual. Wujud dari simbol sompa yang berupa real atau kati dimplimentasikan dalam bentuk tadangengsompa.

Tadangeng sompa inilah yang mempunyai nilai jual dalam masyarakat yang nilainya bermacam-macam. Contohnya yang diterapkan pada pernikahan Bugis di Kecamatan Gilireng yaitu simbol sompa yang berupa real atau kati diimplementasikan dalam bentuk tadangengsompa senilai dengan 12 gram emas dan 6 gram emas sebagai nilai kehormatan. Yaitu untuk sompa kati atau sompa 88 real ini diimplementasikan kedalam tadangensompa yang senilai dengan 12 gram emas. Kemudian untuk sompa real atau sompa 44 real ini diimplementasikan dengan tadangensompa yang senilai dengan 6 gram emas. Tadangen sompa inilah yang memiliki nilai jual dalam masyarakat.

Namun khususnya bagi masyarakat Bugis daerah Wajo atau orang-orang yang berasal dari Kabupaten Wajo masih ada golongan yang tetap menpertahankan sompa dalam bilangan kati, rupiah dan rella (real) yang diucapkan saat akad nikah dilangsungkan dengan. Terkhusus untuk Kecamatan Gilireng, masyarakatnya tidak lagi menggunakan ketiga bilangan tersebut tetapi langsung menyebutkan jumlah emas yang diserahkan kepada calon pengantin perempuan.

Prosesi ijab dan qobul dalam pernikahan bugis ini menggunakan mahar dalam bentuk emas saat penyebutan ijab dan qobulnya. Dengan penyebutan jumlah emas tersebut dalam akad nikah dapat menunjukkan status sosial yang dimiliki oleh calon pengantin wanita. Lafadz ijab (pernyataan menikahkan dari

w li mempel i w nit ) itu ― W h i ..(B co).. s nik hk n n k perempu n s ….(Becce ) deng n engk u deng n m h r 6/12 gr m tun i k ren All h.‖

Kemudi n l f dz qo uln itu ―S terim nik hn ..(Becce).. inti ..(Ambo).. dengan mahar 6/12gram dibayar tunai karena Allah.84

Sompa atau mahar dalam suku Bugis di Kecamatan Gilireng terdapat 2 (dua) macam yaitu:

a. Sompa Kati

Sompa kati adalah pemberian berupa harta dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan sebagai syarat sahnya pernikahan. Kati merupakan mata uang kuno, dalam bahasa Bugis diartikan pula dengan kata ulaweng (emas) dan timbangan. Sompa yang khusus diberikan kepada wanita yang merupakan keturunan bangsawan. Sompa kati ini berjumlah 88 (delapan puluh delapan) real yang nilainya setara dengan 12 gram emas.

b. Sompa Biasa (Real/Rella)

Sompa biasa atau real adalah sompa yang diberikan kepada wanita yang bukan termasuk keturunan bangsawan. Real atau rella ini merupakan jenis mata uang yang di gunakan pada zaman dulu. Sompa real untuk jumlahnya adalah 44 (empat puluh empat) real yang jika diemaskan senilai dengan 6 gram emas.

Berikut ini merupakan beberapan penerapan sompa kepada perempuan di Kecamatan Gilireng Kabupaten Wajo:

84Pandu, Kepada Dusun, wawancara di Gilireng, 05 Sepetember 2022.

Nama Keturunan Jumlah Sompa

Darlina Non Bangsawan 44 Real/ 6 gram emas Wanti Parawisda Non Bangsawan 44 Real/ 6 gram emas

57

Diatas ini merupakan tabel yang berisikan beberapa data yang menunjukkan bentuk dan jumlah mahar yang diterima oleh mereka. Terlihat Darlina dan Wanti Parawisda menerima 6 gram emas karena menggunakan sompa real sebab bukan merupakan keturunan bangswan. Sedangkan Besse Bungan Intan merupakan seorang bangsawan namun menerima 6 gram emas dengan sompa real yang seharusnya menerima 12 gram emas dan menggunakan sompa kati tapi karena pada saat penentuan sompanya orang tua dari Besse Bunga Intan tidak mempermasalahkan persoalan nilai dan jumlah mahar yang akan diberikan kepada dia, alasannya karena Besse Bunga Intan bukan termasuk keturunan bangsawan sepenuhnya namun jika orang tuanya menghendaki ia bisa saja menggunakan sompa kati.

Selanjutnya Andi Nirmalasari yang merupakan keturunan bangsawan sepenuhnya yang menerima 12 gram emas dengan menggunakan sompa kati sebagai maharnya. Dan Terakhir Herfiani yang menerima 12 gram emas dengan menggunakan sompa kati, Herfiani menggunakan sompa kati karena orang tua atau lebih tepatnya ayah dari Herfiani merupakan salah satu pemangku adat (tokoh adat) serta memiliki kedudukan (jabatan) dalam masyarakat di Kecamatan Gilireng sehingga ia menggunakan sompa kati sebagai mahar.

Dalam penyerahan sompa terdapat sebuah hadiah-hadiah yang mengikut dalam pemberian sompa tersebut, baik itu sompa 88 real maupun sompa 44 real.

Di kalangan suku Bugis sudah menjadi sebuah tradisi dimana mereka tidak dicukupkan dengan pemberian sompa saja akan tetapi diiringi dengan pemberian

Besse Bunga Intan Bangsawan 44 Real/ 6 gram emas Andi Nirmalasari Bangsawan 88 Real/ 12 gram emas

Herfiani Non Bangsawan 88 Real/ 12 gram emas

berbagai jenis dan macam hantaran atau hadiah. Hal tersebut sebaga simbol penghargaan dari calon suami yang diberikan kepada calon istrinya yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Pemberian hadiah-hadiah tersebut tentunya mengandung makna tersendiri. Hadiah ini biasanya ditempatkan dalam sebuah anyaman bambu yang berbentuk persegi empat. Anyaman dari bambu ini dalam istilah orang bugis disebut dengan wala suji. Wala suji yang berbentuk segi empat atau sulapa‟ eppa‟ yang dalam masyarakat Bugis di Gilireng mengandung makna dunia sebagai kesempurnaan artinya kesempurnaan disini adalah empat penjuru mata angin yaitu timur, barat, utara dan selatan.

Berbeda dengan wala suji ada pula yang dikenal dengan lawa suji. Lawa suji merupakan pembatas atau pagar dalam istilah Bugis dikenal dengan baruga (gerbang). Lawa suji juga terbuat dari bambu dan berbentuk segi empat (sulapa‟

eppa‟).Sul p ‘ epp ‘ d l m h l lawa suji melambangkan ke-4 unsur bumi yaitu air, tanah, api dan udara. Dilambangkan pula ke-4 penjuru mata angin yang memiliki nilai-nilai yaitu keberanian (warani), jujur (lempu), akkarungeng (bangsawan) dan kaya (sugi).Dari bentuk baruga tersebut nantinya akan terlihat strata sosial seseorang, yakni jika baruganya mattingka tellu iyare ga matingka dua timpa lajana (atapnya bertingkat tiga atapun dua tingkat) maka pernikahan tersebut adalah pernikahan dari anak bangsawan, jika hanya bertingkat satu menandakan bahwa itu hanya pernikahan orang biasa-biasa saja. Adapun wala suji dan lawa suji dibuat menggunakan bahan bambu mengandung makna yaitu dipercaya bahwa pohon bambu mempunyai makna yang dapat dijadikan sebagai pembelajar yakni akar pohon bambu yang menunjang ke dasar bumi membuat bambu menjadi sebatang pohon yang sangat kuat, lentur dan tidak patah meskipun

59

ditiup angin kencang. Hal ini mengajarkan kepada manusia bahwasahnya agar tumbuh dan berkembang mencapai kesempurnaan bergerak dari dalam lalu keluar bukan sebaliknya.

Wala suji ini digunakan sebagai tempat buah-buahan (keranjang buah- buahan). Buah-buahan disini terdiri dari berbagai jenis buah-buahan yang dipercaya memiliki arti penuh harap agar cinta pasangan suami istri menghasilkan buah kasih yang akan bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Isi dari wala suji terdiri dari, kelapa, pinang, nangka, tebu, pisang, biasanya juga ada sepasang ayam. Selanjutnya wala suji akan dibungkus dengan kaci (kain kafan).

Buah kelapa melambangkan cinta yan tidak terputus karena cintanya bersih dan bening, maksudnya mencintai istri dan anak sepanjang hayat, cinta yang tidak berubah dari awal hingga akhir, ibaratnya kelapa yang memiliki isi yang putih serta air yang manis dan jernih. Buah pinang melambangkan tanggungjawab dari suami dalam memikul resiko berkeluarga, maksudnya sebagai seorang kepala keluarga harus sanggup memimpin, membina, dan mempertanggungjawabkan atas istri dan anaknya dalam segala hal, sebagaimana halnya pinang yang mulai dari akar sampai buahnya dapat dimanfaatkan. Buah nangka melambangkan kebulatan tekad dan cita-cita yang luhur, maksudnya suami akan membahagiakan keluarganya, meskipun harus dengan kerja keras banting tulang. Buah tebu melambangkan keikhlasan dan kemurnian hati. Maskudnya adalan calon suami telah ikhlas menerima perempuan yang akan dinikahinya sebagai calon istri dan ibu dalam rumah tangganya kelak. Disini suami harus ikhlas menerima istrinya dengan apa adanya, dan baik buruknya.Sepasang ayam (jantan dan betina) memiliki maksud agar kedua mempelai memiliki keturunan yang banyak.

Dokumen terkait