BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Penelitian Relevan
Penelitian terdahulu merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian.
Dengan penelitan terdahulu kita dapat membandingkan antara penulis dan penulis sebelumnya. Adapun beberapa penelitian terdahulu terkait dengan masalah yang diangkat oleh penulis diantaranya:
Penelitian yang dilakukan oleh Kurnia Nindi denganjudul ― Pemberian Sompa terhadap Masyarakat Bugis dalam Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Desa Sakkoli Kecamatan SajoangingKabupaten Wajo)”. Hasil dari penelitian ini yaitu mahar atau sompa pada adat pernikahan Bugis Wajo Kecamatan Sajoangin, Desa Sakkoli dijadikan sebagai ladang gengsi dan kecemburuan sosial antar sesama masyarakat setempat. Dalam masyarakat kecamatan Sakkoli mahar di patok dengan nilai tinggi yang tidak sesuai dengan syariat hukum Islam.18
Mahar atau sompamenurut adat Bugis khususnya di Desa Sakkoli di jadikan ajang persaingan sehingga setiap masyarakat atau seseorang yang mempunyai anak perempuan maka mereka akan memasang nilai sompa yang tinggi, untuk menunjukkan popularitas masyarakat itu sendiri, bahwasanya itu akan menjadi kewajiban di setiap masyarakat khususnya diadat Bugis Wajo.
Dampak dari sompa tersebut akan menimbulkan kerugian baik bagi pihak laki-laki maupun perempuan karena ada unsur penekanan atau interpensi dari pihak orang
18Kurni Nindi ―Pem eri n Somp terhadap Masyarakat Bugis Dalam Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Desa Sakkoli Kecamatan Sajoanging Kabupaten W jo)‖ (Institut Ag m Isl m Negeri (Iain Palopo), 2020).
tua dari perempuan yang memaksakan kehendaknya untuk memenuhi mahar yang sudah ditetapkan.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah keduanya sama-sama meneliti tentang tradisi pernikahan Bugis yang berfokus padasompa. Sedangkan perbedaannya adalah pada penelitian yang dilakukan oleh Kurnia Nindi berfokus pada perspektif hukum Islam terhadap pemberian sompa oleh masyarakat Bugis Kecamatan Sajoanging Kab. Wajo sedangkan penelitian ini berfokus pada analisis hukum Islam mengenai penetapan besaran sompa pada pernikahan Bugis di Kecamatan Gilireng Kab. Wajo.19
Selanjutnya, penelitian yang dilakukanoleh Hidayat Al Akbar dengan judul ‖Tinjauan Hukum Islam Terhadap Kedudukan Sompa dan Doi Balanca dalam Pernikahan di Kecamatan Sinjai”. Hasil penelitian tersebut adalah dalam masyarakat khususnya di Kecamatan Sinjai, sompa dan doi balanca tidak dapat dipisahkan. Kedua hal tersebut memiliki kedudukan yang sama dalam pernikahan dan merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh mempelai laki-laki. Tapi untuk uang panai atau doi balanca dianggap sebagai penentu lancarnya pernikahan, sehingga untuk pemberian uang panai lebih tinggi dibanding dengan mahar.20
Pemberian doi balanca yang tinggi bertujuan selain sebagai biaya untuk membuat pesta yang megah juga bertujuan sebagai penghormatan atau untuk
19Kurni Nindi ―Pem eri n Somp terhadap Masyarakat Bugis Dalam Perspektif Hukum Isl m (Studi K sus Des S kkoli Kec m t n S jo nging K up ten W jo)‖ (Institut Agama Islam Negeri (Iain Palopo), 2020).
20Hid t Al Ak r ―Tinj u n Hukum Islam Terhadap Kedudukan Sompa (Mahar) Dan Doi Balanca Dalam Pernikahan Di Kec m t n Sinj i Sel t n K up ten Sinj i ‖ (UIN Alauddin Makassar 2017).
11
menghormati pihak perempuan dan juga bertujuan untuk menunjukkan rasa cinta dari sang laki-laki kepada mempelai perempuan. Pada masyarakat Kecamatan Sinjai tingginya doi balanca sangat dipengaruhi oleh status sosial dalam masyarakat, umur, pendidikan, keturunan serta kondisi fisik. Dalam penelitian ini, menurut tinjauan hukum Islamdoi balanca tidak diatur dalam Islam namun hukumnya mubah, pelaksanaannya dikembalikan sesuai tradisi atau adat dalam masyarakat dan juga tergantung dari kesanggupan dan kemampuan.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah sama-sama meneliti tentang tradisi pernikahan Bugis yang membahas tentang sompa, namun dalam penelitian yang dilakukan oleh Hidayat Al Akbar berfokus pada tinjaun hukum Islam terhadap kedudukan sompa dan doi balanca dalam pernikahan di Kecamatan Sinjai, sedangkan pada penelitian ini berfokus pada analisis hukum Islam terhadap penetapan besaran sompa pada pernikahan Bugis di Kecamatan Gilireng Kab. Wajo.21
Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Aziz Dewanti dengan judul skripsi ―Sompa Tanah Sebagai Mahar dalam Adat Pernikahan Suku Bugis di TeladasBaru Kecamatan Dente Teladas Kabupaten Tulang Bawang Ditinjau dari Hukum Islam”. Hasil dari penelitian ini yaitu mayoritas masyarakat Teladas Baru lebih mengutamakan tanah dijadikan sebagai mahar dibandingkan menggunakan uang sebagai mahar dan mahar tanah tidak dapat digantikan dengan uang.22
21Hid t Al Ak r ―Tinj u n Hukum Islam Terhadap Kedudukan Sompa (Mahar) Dan Doi Balanca Dalam Pernikahan Di Kec m t n Sinj i Sel t n K up ten Sinj i ‖ (UIN Alauddin Makassar 2017).
22S H K Aziz Dewanti, Bahrul Ma‘ ni And R hmi Hid ti ―Somp T n h Se g i M h r Dalam Adat Pernikahan Suku Bugis Di Teladas Baru Kecamatan Dente Teladas Kabupaten Tulang Bawang Ditinjau Dari Hukum Islam ‖ (UIN Sulthan Thaha Saifuddin (UIN Jambi) 2019).
Penentuan tanah sebagai mahar (sompa) dikarenakan masyarakat Bugis di daerah tersebut sebagian besar bekerja sebagai petani sehingga sompa tanahmenjadi syarat wajib serta penentu berlangsungnya pernikahan di daerah Teladas Baru. Bukan hanya itu, luas tanah di daerah tersebut juga menjadi tolak ukur status sosial(strata) masyarakat di Teladas Baru. Pemberian mahar tanah diperbolehkan karena tidak menyalahi aturan dalam hukum Islam.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah sama-sama menggunakan metode ‘urfsebagai dalam istinbat hukumnya serta sama-sama membahas tentang sompa, namun dalam penelitian yang dilakukan oleh Aziz Dewanti berfokus pada tinjaun hukum Islam terhadap pemberian sompa tanah sebagai mahar, sedangkan dalam penelitian ini berfokus pada analisis hukum Islam terhadap penetapan besaran sompa pada pernikahan Bugis di Kecamatan Gilireng Kabupaten Wajo.23