• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berpikir Kritis

Dalam dokumen kurang dari atau lebih dari atau (Halaman 32-37)

1. Pengertian Berpikir Kritis

Berpikir adalah kegiatan akal untuk mengolah pengetahuan yang kita terima melalui pancaindera, dan ditujukan untuk mencapai suatu kebenaran. kemampuan untuk menganalisis, mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasar pada inferensi atau pertimbangan yang seksama. Sementara itu dalam pandangan filsafat, berpikir merupakan proses dialektis yang terarah untuk menemukan sesuatu hakikat kebenaran yang integral dan universal.

Menurut Ruggiero mengatakan bahwa berpikir sebagai segala aktivitas mental yang membantu merumuskan atau memecahkan masalah, membuat keputusan, atau memenuhi keinginan untuk memahami; berpikir adalah sebuah pencarian jawaban, sebuah pencapaaian makna.25

24 Ibid, hlm. 221

25Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, (Bandung: Mizan Media Utama, 2011), hlm. 187

Dari beberapa pengertian di atas maka disimpulkan bahwa berpikir merupakan aktivitas mental dalam memecahkan atau merumuskan, membuat suatu keputusan permasalahan untuk mencapai suatu kebenaran.

Berpikir kritis adalah kemampuan untuk menyatakan sesuatu dengan penuh percaya diri. Berpikir kritis merupakan mengaplikasi rasional, kegiatan berpikir yang tinggi, yang meliputi kegiatan menganalisis, mensintensis, mengenal permasalahan dan pemecahannya, menyimpulkan, dan mengevaluasi.26 Sedangkan menurut Halpen menyatakan bahwa “berpikir kritis adalah memberdayakan keterampilan atau strategi dalam pemikiran dalam menentukan tujuan”.27

Menurut Chafee, yang dimaksud dengan berpikir kritis sebagai berpikir untuk menyelidiki secara sistematis proses berpikir itu sendiri, maksudnya tidak hanya memikirkan dengan sengaja, tetapi juga meneliti bagaimana kita dan orang lain menggunakan bukti dan logika.28

Menurut Paul, berpikir kritis adalah metode berpikir mengenai hal, substansi atau masalah apa saja dimana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil stuktur-struktur yang melekat dalam pemikiran dan menarapkan standar-standar intelektual padanya.29

Jadi dapat disimpulkan bahwa, berpikir kritis merupakan bentuk berpikir yang memberdayakan keterampilan dan strategi kognitif secara rasional tentang masalah-

26Depdiknas, Pembelajaran yang Mengembangkan Critical Thinking, (Jakarta: Depdiknas, 2009), hlm.11

27 Ibid.

28 Ibid, hlm. 12

29 Alec Fisher, Berpikir Kritis Sebuah Pengantar, (Jakarta: Erlangga, 2009), hlm.4

masalah dengan kemampuan memahami, menganalisis, mengumpulkan dan mengolah informasi, dan menyakini informasi tersebut sehingga dapat dijadikan solusi dalam memecahkan masalah.

Berdasarkan beberapa definisi yang diungkapkan di atas, terdapat beberapa kegiatan keterampilan yang sistematis dalam berpikir kritis, di antaranya:

a. Keterampilan mengenal dan memecahkan masalah

Keterampilan ini merupakan aplikatif konsep kepada beberapa pengertian baru. Keterampilan ini menuntut siswa untuk memahami soal/masalah dengan kritis sehingga setelah kegiatan memahami soal selesai siswa mampu menangkap beberapa pikiran pokok, sehingga mampu mempola konsep. Tujuan keterampilan ini agar pembaca mampu memahami dan menerapkan konsep-konsep ke dalam permasalahan atau ruang lingkup baru.

b. Keterampilan menyimpulkan

Keterampilan menyimpulkan ialah kegiatan akal pikiran manusia berdasar pengertian atau pengetahuan (kebenaran) yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai pengetahuan baru yang lain. Keterampilan ini menuntut siswa untuk mampu menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada suatu formula yang baru yaitu sebuah simpulan. Proses pemikiran manusia itu sendiri dapat menempuh dua cara yaitu: deduksi dan induksi. Jadi, kesimpulan merupakan sebuah proses berpikir yang memberdayakan pengetahuannya sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah pemikiran atau pengetahuan yang baru.

c. Keterampilan menganalisis

Keterampilan menganalisis merupakan suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur ke dalam komponen-komponen agar mengetahui pengorganisasian struktur tersebut. Dalam keterampilan tersebut tujuan pokoknya memahami sebuah konsep global dengan cara menguraikan atau merinci globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan terperinci. Kata-kata operasional yang mengindikasikan keterampilan berpikir analisis, di antaranya: menguraikan, membuat diagram, mengidentifikasi, mengambarkan, menghubungkan, merinci dan sebagainya.

d. Keterampilan mensintesis

Keterampilan mensintesis merupakan keterampilan yang berlawan dengan keterampilan menganalisis. Keterampilan mensintesis adalah keterampilan menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah bentukan atau susunan-susunan yang baru. Dengan kata lain keterampilan mensintesis menuntut siswa menyatupadukan semua informasi yang diperoleh dan memecahkan masalah.

e. Keterampilan mengevaluasi atau nilai

Keterampilan ini menuntut pemikiran yang matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada. Keterampilan menilai menghendaki siswa agar memberikan penilaian tentang nilai yang diukur dengan standar tertentu.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Berpikir Kritis

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi berpikir kritis siswa, diantaranya:

a. Kondisi fisik

kondisi fisik adalah kebutuhan fisiologi yang paling dasar bagi manusia untuk menjalani kehidupan. Ketika kondisi fisik siswa terganggu, sementara ia dihadapkan pada situasi yang menuntut pemikiran yang matang untuk memecahkan suatu masalah maka kondisi seperti ini sangat mempengaruhi pikirannya. Ia tidak dapat berkonsentrasi dan berpikir cepat karena tubuhnya tidak memungkinkan untuk bereaksi terhadap respon yang ada.

b. Motivasi

Motivasi merupakan hasil faktor internal dan eksternal. Motivasi adalah upaya untuk menimbulkan rangsangan, dorongan ataupun pembangkit tenaga seseorang agar mau berbuat sesuatu atau memperlihatkan perilaku tertentu yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menciptakan minat adalah cara yang sangat baik untuk memberi motivasi pada diri demi mencapai tujuan. Motivasi yang tinggi terlihat dari kemampuan atau kapasitas atau daya serap dalam belajar, mengambil resiko, menjawab pertanyaan, menentang kondisi yang tidak mau berubah kearah yang lebih baik, mempergunakan kesalahan sebagai kesimpulan belajar, semakin cepat memperoleh tujuan dan kepuasan, memperlihatkan tekad diri, sikap kontruktif, memperlihatkan hasrat dan keingintahuan, serta kesediaan untuk menyetujui hasil perilaku.

c. Kecemasan

Keadaan emosional yang ditandai dengan kegelisahan dan ketakutan terhadap kemungkinan bahaya. Kecemasan timbul secara otomatis jika individu menerima stimulus berlebih yang melampaui untuk menanganinya (internal, eksternal). Reaksi

terhadap kecemasan dapat bersifat; a) konstruktif, memotivasi individu untuk belajar dan mengadakan perubahan terutama perubahan perasaan tidak nyaman, serta terfokus pada kelangsungan hidup; b) destruktif, menimbulkan tingkah laku maladaptif dan disfungsi yang menyangkut kecemasan berat atau panik serta dapat membatasi seseorang dalam berpikir.

d. Perkembangan intelektual

intelektual atau kecerdasan merupakan kemampuan mental seseorang untuk merespon dan menyelesaikan suatu persoalan, menghubungkan satu hal dengan yang lain dan dapat merespon dengan baik setiap stimulus. Perkembangan intelektual tiap orang berbeda-beda disesuaikan dengan usia dan tingkah perkembanganya. Semakin bertambah umur anak, semakin tampak jelas kecenderungan dalam kematangan proses pembelajaran.

C. Pembelajaran Matematika di SD/MI

Dalam dokumen kurang dari atau lebih dari atau (Halaman 32-37)

Dokumen terkait