Bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran Matematika sebelum diterapkan pembelajaran berdasar masalah (PBM) di kelas V di MI Adabiyah II Palembang. Bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran Matematika setelah diterapkan pembelajaran berdasar masalah (PBM) di kelas V di MI Adabiyah II Palembang.
Kerangka Teori
Penerapan Pembelajaran Berdasar Masalah
Guru memberikan masalah kepada peserta didik dengan prosedur yang jelas untuk melibatkan peserta didik dalam kegiatan mengatasi masalah. Guru memberikan arahan kepada peserta didik untuk mengakaji ulang proses atau hasil pemecahan masalah, melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Berpikir Kritis
Guru membantu mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dan melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Guru mengorganisasikan dan membantu peserta didik dalam presentasi untuk mempublikasikan hasil karyanya, dimana peserta didik untuk memamerkan hasil karyanya untuk diamati atau dinilai oleh peserta didik lainnya.
Variabel Penelitian
Menurut Richard Paul, berpikir kritis adalah mode berpikir mengenai hal, substansi atau masalah apa saja dimana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur-sturktur yang meletak dalam pemikiran dan menerapkan standar-standar intelektual padanya.12. Berpikir kritis merupakan aktivitas mental sistematis yang dilalukan oleh orang-orang yang toleran dengan pikiran terbuka untuk memperluas pemahaman mereka.
Defenisi Operasional
Hipotesis Penelitian
Ha: Ada perbedaan sebelum dan setelah penerapan pembelajaran berdasar masalah (PBM) dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran matematika kelas V di MI Adabiyah II Palembang. Ho: Tidak ada perbedaan sebelum dan setelah penerapan pembelajaran berdasar masalah (PBM) dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran matematika kelas V di MI Adabiyah II Palembang.
Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian
- Jenis dan Sumber Data a. Jenis data
- Populasi dan Sempel
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
88 . pada mata pelajaran Matematika dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa di MI Adabiyah II Palembang. Data kuantitatif yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah jumlah guru, jumlah siswa, dan sarana prasarana di sekolah yang menjadi objek penelitian tepatnya di MI Adabiyah II Palembang.
Sistematika Pembahasan
Penerapan Pembelajaran Berdasar Masalah 1. Pengertian Pembelajaran Berdasar masalah
- Tujuan Pembelajaran Berdasar Masalah
- Karakteristik Pembelajaran Berdasar Masalah
- Langkah-langkah Pembelajaran Berdasar Masalah
- Keunggulan dan Kelamahan Pembelajaran Berdasar Masalah a. Kelunggulan Pembelajaran Berdasar Masalah
Pembelajaran berdasar masalah dimulai dengan pengajuan pertanyaan atau masalah, bukannya mengorganisasikan disekitar prinsip-prinsip atau keterampilan- keterampilan tertentu. Pembelajaran berdasar masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan atau masalah yang kedua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna bagi siswa. Model Pembelajaran berdasar masalah menghendaki siswa untuk melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata.
Pembelajaran berdasar masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Model Pembelajaran berdasar masalah dicirikan oleh siswa yang bekerjasama satu sama lain, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil.
Berpikir Kritis
Pengertian Berpikir Kritis
Berpikir kritis merupakan mengaplikasi rasional, kegiatan berpikir yang tinggi, yang meliputi kegiatan menganalisis, mensintensis, mengenal permasalahan dan pemecahannya, menyimpulkan, dan mengevaluasi.26 Sedangkan menurut Halpen menyatakan bahwa “berpikir kritis adalah memberdayakan keterampilan atau strategi dalam pemikiran dalam menentukan tujuan”.27. Menurut Chafee, yang dimaksud dengan berpikir kritis sebagai berpikir untuk menyelidiki secara sistematis proses berpikir itu sendiri, maksudnya tidak hanya memikirkan dengan sengaja, tetapi juga meneliti bagaimana kita dan orang lain menggunakan bukti dan logika.28. Menurut Paul, berpikir kritis adalah metode berpikir mengenai hal, substansi atau masalah apa saja dimana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil stuktur-struktur yang melekat dalam pemikiran dan menarapkan standar-standar intelektual padanya.29.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, berpikir kritis merupakan bentuk berpikir yang memberdayakan keterampilan dan strategi kognitif secara rasional tentang masalah-. Dengan kata lain keterampilan mensintesis menuntut siswa menyatupadukan semua informasi yang diperoleh dan memecahkan masalah.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Berpikir Kritis
Keterampilan menganalisis merupakan suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur ke dalam komponen-komponen agar mengetahui pengorganisasian struktur tersebut. Dalam keterampilan tersebut tujuan pokoknya memahami sebuah konsep global dengan cara menguraikan atau merinci globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan terperinci. Keterampilan mensintesis adalah keterampilan menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah bentukan atau susunan-susunan yang baru.
Keterampilan ini menuntut pemikiran yang matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada. Ketika kondisi fisik siswa terganggu, sementara ia dihadapkan pada situasi yang menuntut pemikiran yang matang untuk memecahkan suatu masalah maka kondisi seperti ini sangat mempengaruhi pikirannya.
Pembelajaran Matematika di SD/MI 1. Pengertian Matematika
Ruang Lingkup
Pecahan
Ada beberapa bentuk penjumlah pecahan yaitu penjumlahan penyebutnya sama, penjumlah penyebutnya berbeda, penjumlahan decimal, penjumlah persen, dan penjumlah berbagai bentuk pecahan. Sama halnya dengan penjumlahan pecahan, pengurangan pecahan juga terdiri dari pengurangan penyebutnya sama, penyebutnya berbeda, desimal, persen, dan berbagai bentuk pecahan. Ada beberapa jenis perkali pecahan yaitu perkalian penyebutnya sama, perkalian penyebutnya berbeda, perkalian desimal, perkalian persen, dan perkalian berbagai bentuk pecahan.
Sama halnya dengan perkalian pecahan, pembagian pecahan juga terdiri dari pengurangan penyebutnya sama, penyebutnya berbeda, desimal, persen, dan berbagai bentuk pecahan. Menentukan skala sama dengan membandingkan gambar dengan ukuran sebenarnya dalam bentuk paling sederhana dan skala dapat dijumpai pada peta atau denah.
Sejarah Berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Abadiyah II Palembang
Sekolah ini mulai beroperasi sejak tahun 1948 dan sekitar tahun 1960 baru diresmikan di depan notaries pada tanggal 29 Juli 1960 yang disaksikan oleh Tuan Haji Abdul Kadir bin Hasan Syhahab, Tuan Haji Hamid bin Abdurrahman Alkaf dan Tuan Haji Ahmad bin Abdurrahman Syhabab. Para siswanya pun kebanyakan dari warga keturunan Arab dan begitu pula para gurunya warga keturunan Arab dan terus berkembang sehingga maju pesat seiring majunya kebutuhan masyarakat akan tuntutan mengenyam pendidikan yang berbau Islami dan sampai sekarang ini siswa MI Adabiyah II Palembang sebanyak kurang lebih seribu siswa dari kelas nol sampai kelas 6 dan tidak semua siswa merupakan dari keluarga keturunan arab, tetapi juga warga lainnya yang merasa perlu menyekolakan anaknya untuk menuntut ilmu di MI Adabiyah II Palembang dengan jumlah tenaga guru dan karyawan sebanyak empat puluh tiga orang.
Keadaan Guru dan karyawan
POLTEK
Keadaan Siswa
Dari tabel di atas diketahui jumlah keseluruhan siswa / siswi MI Adabiyah II Palembang adalah 897 orang siswa, jumlah ini terdiri atas 453 orang laki-laki dan 444 orang perempuan. Suatu kebiasaan yang menarik yang dilakukan oleh siswa siswi MI Adabiyah II ini, setiap pagi mulai dari pukul WIB sekolah menyetel kaset Murotal Al-Qur’an juz 30 dan berdoa sebelum memulai pelajaran, kegiatan ini biasanya dilakukan secara bersamaan di lapangan yang dipimpin oleh perwakilan kelas secara bergliran.
Sarana dan Prasarana
Sarana Madrasah
Prasarana Madrasah
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) 1. Kegiatan Intrakurikuler
Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan pramuka dilaksanakan seminggu sekali yaitu setiap hari sabtu yang di mulai dari jam 14.00 s/d 16.00 WIB. Kegiatan putsal dilaksanakan seminggu sekali yaitu setiap hari sabtu yang di mulai dari jam 14.00 s/d 16.00 WIB.
Penerapan Pembelajaran Berdasar Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis pada Mata Pelajaran Matematika Kelas V di
Penerapan pembelajaran berdasar masalah dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran matematika kelas V di MI Adabiyah II Palembang dilaksanakan praktek langsung dikelas V pada tanggal 1,2,3 dan 4 Mei 2013 selama 4 kali pertemuan dengan materi pecahan. Dalam penelitian ini peneliti menerapkan pembelajaran berdasar masalah sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah peneliti buat. Adapun yang dilakukan peneliti dalam proses pembelajaran dalam menerapkan pembelajaran berdasar masalah yaitu peneliti memberikan soal tes pretes, mengadakan Apresepsi dan memotivasi siswa untuk meningkatkan ketertarikan siswa dalam belajar kelompok, guru menyampaikan tujuan pembelajaran, guru menjelaskan logistik yang dibutuhkan dan memberikan penjelasan tentang proses pembelajaran secara terperinci, guru membagi siswa ke dalam kelompok.
Untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa setelah diterapkan pembelajaran berdasar masalah diperoleh berdasarkan hasil tes yang berisiskan soal- soal yang mengarahkan pada keterampilan berpikir kritis. Untuk mengatasi hal tersebut peneliti hendaknya dalam menerapkan pembelajaran berdasar masalah lebih memperhatikan dan mengarahkan siswa ketika pembelajaran berlangsung sehingga memperkecil adanya siswa yang mendominasi pada saat kerja kelompok selain itu peneliti juga harus dapat menciptakn lingkungan belajar yang dapat mengaktifkan seluruh siswa pada saat pembelajaran berlangsung.
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa pada Mata Pelajaran Matematika di MI Adabiyah II Palembang
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sebelum Diterapkan Pembelajaran Berdasar Masalah
Distribusi Frekuensi Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sebelum Diterapkan Pembelajaran Berdasar Masalah di Kelas V di MI Adabiyah II Palembang. Sedang diukur dengan My – 1.SDy sampai My + 1.SDy ke atas Rendah diukur dengan My – 1.Sdy ke bawah. Berdasarkan kategori skor tinggi, sedang, dan rendah (TSR) yang telah dijelaskan diatas untuk langkah selanjutnya memasukkan kedalam rumus persentase, maka lebih jelasnya dapat dilihat tabel dibawah ini.
Tebel diatas menjelaskan tentang kategori kemampuan berpikir kritis sebelum diterapkan pembelajaran berdasarkan masalah pada mata pelajaran Matematika, pada tabel diatas ada tiga kategori yang dapat kita lihat yaitu; siswa yang termasuk kategori tinggi, siswa yang termasuk kategori sedang, siswa yang termasuk kategori rendah.
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Setelah Diterapkan Pembelajaran Berdasar Masalah
Sedang diukur dengan Mx – 1.SDx sampai Mx + 1.SDx ke atas Rendah diukur dengan Mx – 1.Sdx ke bawah. Tebel diatas menjelaskan tentang kategori kemampuan berpikir kritis setelah diterapkan pembelajaran berdasarkan masalah pada mata pelajaran Matematika, pada tabel diatas ada tiga kategori yang dapat kita lihat yaitu; siswa yang termasuk kategori tinggi, siswa yang termasuk kategori sedang, siswa yang termasuk kategori rendah.
Perbedaan Sebelum dan Setelah dalam Menerapkan Pembelajaran Berdasar Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Setelah diterapkan Pembelajaran Berdasar Masalah
Distribusi Frekuensi Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Setelah Diterapkan Pembelajaran Berdasar Masalah di Kelas V di MI Adabiyah II Palembang.
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sebelum Diterapkan Pembelajaran Berdasar Masalah
Dengan demikian kesimpulan yang dapat ditarik, terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis siswa sebelum dan sesudah dilaksanakannya pembelajaran berdasar masalah pada mata pelajaran Matematika di kelas V MI Adabiyah II Palembang. Ini mengandung makna, bahwa penerapan pembelajaran berdasar masalah telah berhasil dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas V MI Adabiyah II Palembang setelah diterapkan pembelajaran berdasar masalah, nilai tes mereka secara signifikan meningkat atau lebih baik jika dibandingkan sebelum diterapkan pembelajaran berdasar masalah. Setalah melakukan wawancara pada tanggal 13 Mei 2013 dengan kepala sekolah MI Adabiyah II Palembang yaitu Drs.
Zed Idrus dapat disimpulkan Madrasah ini didirikan oleh warga keturunan Arab yang berdomisili di Palembang. Para siswanya pun kebanyakan dari warga keturunan Arab dan begitu pula para gurunya warga keturunan Arab,dan terus berkembang pesat seiring majunya kebutuhan masyarakat akan tuntutan mengenyam pendidikan yang berbau Islami.
PENUTUP
Kesimpulan
Jadi kemampaun berpikir kritis siswa sebelum diterapkan pembelajaran berdasar masalah yaitu berada pada kategori sedang antara. Hasil kemampuan berpikir kritis siswa di MI Adabiyah II Palembang setelah diterapkan pembelajaran berdasar masalah yaitu 3 (9,68%) siswa kategori tinggi (nilai di atas 92 ke atas siswa termasuk dalam kategori sedang (nilai antara 73–92), dan kategori rendah 7 orang siswa (22,58%) (nilai di bawah 73). Jadi kemampuan berpikir kritis siswa setelah diterapkan pembelajaran berdasar masalah yaitu berada pada kategori sedang antara (73–92).
Berarti terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara kemampuan berpikir kritis siswa setalah dan sesudah menerepakan pembelajaran berdasar masalah pada mata pelajaran Matematika di kelas V MI Adabiyah II Palembang. Mengandung makna bahwa pembelajaran berdasar masalah telah berhasil dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas V MI Adabiyah II Palembang setelah diterapkan pembelajaran berdasar masalah, nilai.
Saran-Saran