• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berserah Diri Hanya Kepada Allah Swt)

Dalam dokumen Etika belajar - UIN Sunan Ampel Surabaya (Halaman 106-114)

ٌل ْصَف

Penyair berkata: “Tinggalkanlah, dan jangan kau memburu kemulian. Duduklah, engkau pasti mendapat sandang pangan.”

. َكْتَلَغ َ� اَهْلِغ ْشُت ْمَل ْنإا ، َك ُسْفَن َ ِه :َلاَقَف ، ِن ِصْوأ� : ِج َّلَحْلا ٍرْو ُصْنَمِل ٌلَجَر َلاَق .اَهاَوَ ِب ُه ُسْفَن َلِغَتْسشَت َل َّتَح ِ ْيَخْلا ِلاَ ْعأ�ِب ُه َسْفَن َلِغ ْشُي ْنأ� ٍدَحأ� ِّ ُكِل يِغَبْنَيَف

Ada seorang lelaki berkata kepada Mans}u>r al-Halla>j74:

“Berilah aku wasiat!” iapun berkata: “Wasiatku adalah hawa nafsumu. Kalau tidak kau tundukkan, engkaulah yang dikalahkan.”

Maka dianjurkan agar setiap orang mampu menun- dukkan nafsunya dengan cara banyak-banyak beramal salih, sehingga tidak ada lagi peluang untuk menuruti hawa nafsu.

B. Pengaruh Urusan Duniawi

ِبْلَقْل ِب ُّ ُضَي ْلَب ُعَفْنَي َلَو ،َةَبْي ِصُمْلا ُّدُرَي َل َنْزُحْلاَو َّمَهْلا َّنأ ِل اَيْنُّلا ِرْمأ ِل ُلِقاَعْلا ُّ َتَْي َلَو .ُعَفْنَي ُهَّنأ ِل ِةَرِخآلْا ِرْمأ ِل ُّ َتْ َيَو ،ِ ْيَخْلا ِلاَ ْعأ�ِب ُّلِ ُيَو ،ِلْقَعْلاَو

Bagi yang mengunakan akal, hendaknya jangan tergelisahkan oleh urusan dunia, karena merasa gelisah dan sedih di sini tidak akan bisa menolak musibah, bergunapun tidak. Bahkan akan membahayakan hati, akal dan badan serta dapat merusakan perbuatan-perbuatan yang baik. Tapi yang harus diperhatikan adalah urusan-

74 Nama lengkapnya adalah Al-Husain Ibn Mans}u>r al-Halla>j, jadi lebih tepat disebut Ibn Mans}u>r, seorang filusuf dari Persia. Al- Halla>j, juga dianggap sebagai min kiba>ri al-mutas}awwifah (tokoh besar ahli sufi), tapi karena mengikuti faham teologi Hulu>l (reinkarnasi) maka para ulama menilainya min kiba>ri al-mulh}

idi>n (tokoh besar aliran sesat) dan sepakat untuk di hukum mati. Demikianlah al-Halla>j dieksekusi hukum mati pada tahun 309H/932M.

urusan akhirat, sebab hanya urusan inilah yang akan membawa manfaat.

ِة َشْيِعَمْلا ُّ َه َّلإا اَهُرِّفَكُي َل ًبْوُنُذ ِبْوُنُّلا َنِم َّنإا : ُم َلَّسلاَو ُة َل َّصلا ِهْيَلَع ُُلْوَق اَّمأ�َو ِف ِبْلَقْلا ِرا َضْح إ ِب ُّلِ ُي ًلْغ ُ� َبْلَقْلا ِلِغ ْشُي َلَو ِ ْيَخْلا ِلاَ ْعأ�ِب ُّلِ ُي َل ٍّ َه ُرْدَق ُهْنِم ُداَرُمْلاَف

.ِةَرِخآلْا ِلاَ ْعأ� ْنِم ِد ْصَقْلاَو ِّمَهْلا َنِم َر ْدَقْلا َ ِلَذ َّنإاَف ،ِة َل َّصلا

Mengenai sabda Nabi saw. yang berbunyi

“Sesungguhnya ada diantara dosa yang tidak akan bisa dilebur kecuali dengan cara memperhatikan ma’isyah,”75 maksudnya adalah “perhatian” yang dalam batas-batas tidak merusak amal kebaikan dan tidak mempengaruhi konsentrasi dan khusuk sewaktu salat. Perhatian dan maksud dalam batas-batas tersebut, adalah termasuk amal akhirat.

.َةَبْرُغْلا ا ْوُراَتْخا اَذَهِلَف ِع ْسُوْلا ِر ْدَقِب ِةَّيِوَيْنُّلا ِقِئ ِلَعْلا ِلْيِلْقَت ْنِم ِ ْلِعْلا ِبِلاَطِل َّدُب َلَو

Seorang pelajar juga harus meminimalkan aktifitas duniawi sesuai kemampuannya. Karena itulah, banyak pelajar yang lebih suka ghurbah (mengisolasi diri).

C. Hidup Prihatin

َس ْوُم َلاَق َ َك ُِّلَعَّتلا ِرَف َس ِف ِب َصَّنلاَو ِةَّق َشَمْلا ِلُّمَ َت ْنِم ِ ْلِعْلا ِبِلاَطِل َّدُبلَو .ِراَف ْسألْا َنِم ِهِ ْيَغ ِف َ ِلَذ ُهْنَع ْلَقْنُي ْمَلَو ُِّلَعَّتلا ِرَف َس ِف )ِهْيَلَعَو اَنِّيِبَن َلَع ِالله ُتاَوَل َص(

.اَب َصَن اَذَه َنِرَف َس ْنِم اَنْيِقَل ْدَقَل ) َلاَعَت ُ ُل ْوَق(

Seorang pelajar juga harus sanggup hidup susah dan sulit dalam perjalanannya menuntut ilmu. Sebagaimana Nabi Musa as. Waktu pergi belajar pernah berkata:

75 Hadis riwayat Abu> Nu’aim dan Ibn ‘Asa>kir dari Abu> Hurairah.

Menurut Hafidh ‘Ira>qi> al-Mughni>, sanadnya d}ai>f (Lihat dalam Abd al-Ra’u>f bin ‘Ali> al-Muna>wi>, Faid} al-Qadi>r Sharh Ja>mi’ al- S{a>ghi>r, Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002, juz II, 526).

“Benar-benar kuhadapi kesulitan dalam perjalananku ini.”76 padahal keluhan seperti itu tidak pernah terjadi dalam berbagai perjalanan Nabi Musa yang lain.

َنِم ُل َضْفأ� َوُهَو ٌ ْيم ِظَع ٌرْمأ� ِ ْلِعْلا َبَل َط َّنأ ِل ، ِبَعَّتلا ِنَع ْوُلْ َي َل ِ ْلِعْلا َرَف َس َّنأ� َْلْعُيِل . ِب َصَّنلاَو ِبَعَّتلا ِر ْدَق َلَع ُرْجألْاَو ،ِءاَمَلُعْلا ِ َثْكأ� َدْنِع ِةاَزُغْلا

Perlu disadari bahwa perjalanan menuntut itu tidak akan lepas dari kesusahan. Yang demikian itu, karena belajar adalah salah satu perbuatan yang menurut sebagian besar ulama lebih mulia dari pada berperang.

Besar kecil pahala adalah berbanding seberapa besar letih dan kesusahan dalam usahanya.

ٌدَّمَحُم َن َك اَذَهِلَو .اَيْنُّلا ِتاَّ َل َرِئا َس ُقْوُفَت َ ْلِعْلا َةَّ َل َدَجَو ِبَعَّتلا َ ِلَذ َلَع َ َب َص ْنَمَف .؟ ِتاَّ َّللا ِهِذَه ْنِم ِكْوُلُمْلا ُءاَنْبأ� َنْيأ� :ُلْوُقَي ُت َ ِك ْشُمْلا َُل َّلَ ْنإا ْ ِلاَيَّللا َرِه َس اَذإا ِن َسَحْلا ُنْب

Barang siapa yang bersabar dalam menghadapi segala kesulitan di atas, maka akan mendapat kelezatan ilmu yang melibihi segala kelezatan yang ada di dunia. Hal ini terbukti dengan ucapan Muhammad Ibn al-Hasan setelah tidak tidur bermalam-malam lalu terpecahkan segala kesulitan yang dihadapinya, beliaupun berkata:

76 Surat al-Kahfi ayat 62. Kisah perjalanan belajar Nabi Musa sendiri dalam surat al-Kahfi ayat 60-82. Pada intinya adalah kisah itu mengambarkan betapa susah Nabi Musa dalam kelananya untuk berguru kepada Nabi Khidhir, dan kesulitan berikutnya terjadi sepanjang proses belajar-mengajar berlangsung. Kesulitan paling berat adalah karena Nabi Musa tidak pernah dapat memahami sendiri terhadap pelajaran yang diberikan Nabi Khidhir, padahal mereka berdua telah sepakat tidak boleh ada pertanyaan selama proses pelajaran berlangsung. Dalam tiga mata pelajaran Musa selalu interupsi untuk bertanya, tetapi Khidhir juga memangkasnya. Setelah semua mata pelajaran selesai dipresentasikan, Khidhir baru menjelaskan motivasi, latar belakang masalah dan substansinya, sekaligus menutup pelajaran dan menyatakan perpisahan. Nilainya, Wallahu A’lam.

“Dimanakah letak kelezatan putra-putra raja, bila dibandingkan dengan kelezatan yang saya dapati kali ini.”

D. Menggunakan Seluruh Waktu untuk Ilmu

ٌدَّمَحُم َلاَق .ِهْقِفْلا ِنَع ُضِرْعُي َلَو ِ ْلِعْلا ِ ْيَغ َرَخأ� ٍ ْيَسشِب َلِغَتْسشَي َّلأ� ِ ْلِعْلا ِبِلاَطِل يِغَبْنَيَو اَذَه اَنَمْلِع َكُ ْتَي ْنأ� َداَرأ� ْنَمَف ِدْحَّللا َلإا ِدْهَمْلا َنِم ِهِذَه اَنُتَعاَن ِص :ُالله ُهَ ِحَر ِن َسَحْلا ُنْب

.ُةَعا َّسلا ُهْكُ ْتَيْلَف ًةَعا َس

Hendaknya pula pelajar tidak terlena dengan segala apapun selain ilmu pengetahuan, dan tidak berpaling dari fikih. Muhammad berkata: “Sesungguhnya perbuatan seperti ini, adalah dilakukan sejak masih di buaian hingga masuk liang kubur. Barangsiapa meninggalkan ilmu kami ini sesaat saja, akan ia akan digilas oleh zaman.”

َوُهَو ِهِتْوَم ِضَرَم ِف ُهُدْوُعَي َف ُسْوُي ِبأ� َلَع ِحاَّرَجْلا ُنْب ُ ْيمِهاَرْبإا َوُهَو ،ٌهْيِقَف َلَخَدَو ، َباَوَجْلا ِفِرْعَي َْلَف ؟ ًلِجاَر ْمأ� ُل َضْفأ� اًبِكاَر ِراَمِجْلا ُيْمَر :َُل َف ُسْوُي ْوُبأ� َلاَقَف ،ِه ِسْفَنِب ُدْوُ َي

. ِ ْيَلَّوألْا ِف ُّبَحأ� اًيِس�اَم َيْمَّرلا َّنأ� َوُهَو ِه ِسْفَنِب َباَجأ�َف

Ada seorang ahli fikih yang bernama Ibra>hi>m Ibn al- Jarra>h}77. Beliau sempat menjenguk Abu> Yu>suf yang tengah sakit keras menjelang wafatnya. Lalu atas kehendak sendiri, Abu> Yu>suf berkata: “Manakah yang lebih utama, melempar jumrah dengan berkendara atau dengan berjalan kaki?” Setelah Ibra>hi>m tidak menjawab, maka Abu>

77 Nama lengkapnya adalah Ibra>hi>m Ibn al-Jarra>h Ibn S}a>bih al- Mazi>ni> al-Ku>fi>, ulama besar ahli fikih bermazhab Hanafi, murid langsung Shaikh Abu> Yu>suf. Beliau lama tinggal di Mesir, tahun 205H menduduki jabatan qa>d}i> di Mesir, dan disana pula wafat tahun 217H/831M. (Ibn Khallika>n, Wafaya>t al-A’ya>n).

Yu>suf menjawab sendiri: “Sesungguhnya melempar dengan berjalan kaki itu lebih disukai untuk dua jumrah yang awal.”78

. َ ِلَذ ِف ًةَمْي ِظَع ًةَّ َل ُدَِي ٍذِئَنْيِحَف ,ِهِتاَقْوأ� ِعْيِ َج ِف ِهِب َلِغَتْسشَي ْنأ� ِهْيِقَفْلِل يِغَبْنَي اَذَكَهَو ؟ِعَّْنلا ِلاَح ِف َتْنُك َفْيَك :ُ َل َلْيِقَف ِهِتاَفَو َدْعَب ِماَنَمْلا ِف ] ِن َسَحْلا ُنْب[ ٌدَّمَحُم َيِؤُر :َلْيِقَو ُهَّن

إ ا َلْيِقَو . ْ ِح ْوُر ِج ْو ُرُ ِب ْرُع ْ�أ� َْلَف ، ِبَت َكُمْلا ِلِئا َسَم ْنِم ِ َلأ� ْسَم ِف ًلِّمأ�َتُم ُتْنُك :َلاَقَف َ ِلَذ َلاَق ماَّن

إ اَو ،ِمْوَيْلا اَذَهِل ِداَدْعِتْسسإلْا ِنَع َبَتَكُمْلا َلِئا َسَم ْ ِنْتَلَغَ� :ِهِرُْع ِرِخآ� ِف َلاَق .اًع ُضاَوَت

Demikian pula, hendaknya sebagai ahli fikih kapan saja selalu fokus dengan ilmunya. Dengan begitu ia akan memperoleh kelezatan yang amat besar.

Diceritakan bahwa pernah seseorang mimpi bertemu Shaikh Muhammad Ibn al-Hasan setelah wafatnya.

Kemudian orang itu bertanya, “Bagaimana tuan rasakan pada saat nazzak?” dan jawab beliau, “Di saat itu saya tengah berfikir tentang masalah budak mukatab79, sehingga tidak merasakan lolosnya nyawaku.”

Cerita lain menyebutkan, bahwa di akhir usianya Shaikh Ibn al-Hasan berkata “Permasalahan budak mukatab menyita perhatianku hingga tidak sempat berkemas menghadapi hari ini.” (Bahwa ucapan seperti ini adalah dalam rangka sikap tawa>d}u, dalam arti merendah dan tidak suka memamerkan prestasi kesalihan yang telah beliau capai, juga tidak mentang-mentang menjadi ulama besar).

78 Maksudnya, untuk melontar jumrah ‘U<la> dan Wust}a> lebih utama dari atas kendaraan, sedang melontar jumrah ‘Aqabah lebih utama dengan berjalan kaki. (Ibra>hi>m Ibn Isma>’i>l, Syarh Ta’lim al- Muta’allim, 35).

79 Budak Muka>tab adalah budak yang telah diperjanjikan merdeka oleh tuannya, bahwa dia akan dimerdekakan setelah memenuhi persyaratan tertentu.

ٌل ْصَف

ِلْي ِصْحَّتلا ِتْقَو ِف

Pasal 8 Masa Belajar

ُنْبا َوُهَو ِهُّقَفَّتلا ِف ٍد َياِز ُنْب ُن َسَحْلا َلَخَد .ِدْحَّللا َلإا ِدْهَمْلا َنِم ُِّلَعَّتلا ُتْقَو :َلْيِق .ًةَنَسس َ ْيِعَبْرأ� َ ِلَذ َدْعَب َتْفأ�َف ًةَنَسس َ ْيِعَبْرأ� ِشاَرِفْلا َلَع ْتِبَي ْمَلَو ،ًةَنَسس َ ْيِناَمَث

Dikatakan bahwa: “Masa belajar itu sejak manusia berada di buaian hingga masuk ke liang kubur.” H{asan Ibn Ziya>d80 waktu sudah berumur 80 tahun baru mulai belajar fikih, 40 tahun berjalan tidak pernah tidur di ranjangnya, lalu 40 tahun berikutnya menjadi mufti.

ْنأ� يِغَبْنَيَو . ِ ْيَئا َشِعْلا َ ْيَب اَمَو ،ِرَح َّسلا ُتْقَوَو ، ِباَبَّسشلا ُخْ َش ِتاَقْوألْا ُل َضْفأ�َو ُالله َ ِض َر ٍساَّبَع ُنْبا َن َكَو . َرَخآ� ٍ ْلِعِب ُلِغَتْسشَي ٍ ْلِع ْنَع َّلَم اَذإاَف ،ِهِتاَقْوأ� َعْيَِج َقِرْغَتْسسَي

.ِءاَرَع ُّشلا َناَوْيِد اْوُتاَه :ُلْوُقَي ِم َ َكْلا َنِم َّلَم اَذإا اَمُ ْنَع

Masa yang paling cemerlang untuk belajar adalah permulaan masa-masa jadi pemuda, waktu sahur berpuasa dan waktu di antara magrib dan isya.

Tetapi sebaiknya gunakan seluruh waktu yang ada untuk belajar, dan bila telah merasa bosan terhadap ilmu

80 Berarti waktu beliau sekitar 160 tahun. Al-Hasan Ibn Ziya>d al- Lu’lu’i> al-Ku>fi>, adalah sahabat Abu> Hani>fah. Beliau adalah seorang ulama fikih yang terkenal peka, kritis dan cerdas, pernah menjadi qad}i di Kufah, wafat tahun 204H/819M. Tidak ditemukan tahun kelahirannya, sehingga tidak diketahui pajang usianya.

yang sedang dihadapi supaya berganti kepada ilmu lain.

Sebagaiman jika Ibnu Abbas telah bosan mempelajari ilmu kalam, maka beliau berkata: “Ambilkan aku buku antologi para pujangga.”

ْنِم َّلَم اَذ ا َن َكَو ، َرِتاَفَّلا ُهَدْنِع ُع َضَي َن َكَو ،َلْيَّللا ُماَنَي َل ِن َسَحْلا ُنْب ُدَّمَحُم َن َكَو إ َنِم ُمْوَّنلا :ُلْوُقَي َن َكَو ،ِءاَمْل ِب ُهَمْوَن ُلْيِزُيَو ،َءاَلمْا هُدْنِع ُع َضَي َن َكَو ، َرَخآ� ٍعْوَن ِف ُر ُظْنَي ٍعْوَن

.ِدِراَبْلا ِءاَمْل ِب ِهِعْفَد ْنِم َّدُب َلَف ِةَراَرَحْلا

Muhammad Ibn Hasan semalam tanpa tidur dan selalu bersebelahan dengan buku-bukunya. Apabila telah merasa bosan suatu ilmu, berpindah ke ilmu yang lain. Beliau juga menyediakan air untuk menolak tidur.

Beliau berkata: “Tidur itu bersumber dari panas, maka harus dilawan dengan air dingin.”

ٌل ْصَف

ِةَحْي ِصَّنلاَو ِةَقَف َّشلا ِف

Pasal 9

Dalam dokumen Etika belajar - UIN Sunan Ampel Surabaya (Halaman 106-114)

Dokumen terkait